Jumat, 27 September 2013

Sejarah Pekan Baru : Dari Senapelan masa lalu sampai Pekan baru masa kini


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak Sejarah Pekan Baru  dari sejak disebut Senapelan sampai
pada Pekan Baharu dan lanjut ke Pekan Baru Mertopolitan)
________________________________________________________









______________

Pendahuluan
______________














Oh...nonaku Azizah...adinda tersayang...!
Dengan membaca postingan ini adik akan tahu apa itu Senepalen
dan Payung Sekaki.

Olo...!

Oh... nonaku Azizah...! Senyum-mu manis...matamu bulat. Hidung-
mu mancung...rambutmu kriting.

Oisdah...!

Dengan membaca postingan ini adik juga akan tahu, bagaimana
Pekan Baru itu pada masa berdirinya Kerajaan Siak Indrapura,
pada masa sebelum merdeka dan sesudah merdeka.

Nim-muda...!

Azizah...nonaku cantik rupa dipandang mata...! Banyak pemuda
bergembira atas kehadiranmu. Kau bagaikan biduan dari sorga...!

Ah...huss...!

Postingan ini juga memberikan jawaban bagaimana Kota Pekanbaru
ini pada masa sekarang, masa dimana terasa pantas Kota Pekan Baru
ini untuk disebut sebagai kota Metropolintan.

Torus...!

Oh...nonaku Azizah...! Tidur malam terbayang...teringatkamu
seorang...membikin hati pemuda jadi bimbang. Oh...azizah...

Ombus angin...Porkon udan...!

Pun...postingan ini dapat memberikan jawaban tempat-tempat apa
saja yang perlu kita kunjungi jika kita ingin berwista kesana.
Oh Azizah...!


Baen roha-rohamu...ulang paihut-ihut au da...!

Azizah...! Oh azizah...got tudia deho anggi...
Naggo jadi hita namar sambal tarumaon...
Azizah....azizah...!
Azizah...hhhhhh....hhhhhhhhhhh.....hhhhh....


Rupa kamu yang cantik
mata kamu yang bulat
membikin pemuda jadilah gembira

Senyumanmu yang manis
gigi kamu yang putih

Oh...nonaku azizah
oh ...nonaku Azizah

video


Selamat menyimak...!
_______________________________

Sekilas Sejarah Kota Pekanbaru 
_______________________________

















Sumber photo :
http://ceritasondha.wordpress.com/2008/11/09/pekanbaru-dalam-kenangan/

*Hal gambaran Pekan Baru sebagai salah satu desa pada masa
 Kesultanan Siak sampai disebut Pekan Baharu

Nama Pekanbaru dahulunya dikenal dengan nama "Senapelan" yang pada
saat itu dipimpin oleh seorang Kepala Suku disebut Batin. Daerah
yang mulanya sebagai ladang, lambat laun menjadi perkampungan.
Kemudian perkampungan Senapelan berpindah ke tempat pemukiman
baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki yang terletak
di tepi muara sungai Siak.

Nama Payung Sekaki tidak begitu dikenal pada masanya melainkan
Senapelan. Perkembangan Senapelan berhubungan erat dengan perkembangan
Kerajaan Siak Sri Indrapura.

Semenjak Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah menetap di Senapelan,
beliau membangun istananya di Kampung Bukit berdekatan dengan
perkampungan Senapelan. Diperkirakan istana tersebut terletak
di sekitar Mesjid Raya sekarang.

Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah mempunyai inisiatif untuk membuat
Pekan di Senapelan tetapi tidak berkembang. Usaha yang telah dirintis
tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya Raja Muda Muhammad Ali
di tempat baru yaitu disekitar pelabuhan sekarang.

Selanjutnya pada hari Selasa tanggal 21 Rajah 1204 H atau tanggal
23 Juni 1784 M berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku
(Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar dan Kampar), negeri Senapelan
diganti namanya menjadi "Pekan Baharu" selanjutnya diperingati
sebagai hari lahir Kota Pekanbaru.

Mulai saat itu sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai
populer sebutan "PEKAN BAHARU", yang dalam bahasa sehari-hari
disebut PEKANBARU.

* Gambaran Pekan Baru Sebelum Merdeka

Sultan Siak beserta Dewan Menteri serta Kadi Siak tahun 1888
Perkembangan kota ini pada awalnya tidak terlepas dari fungsi
Sungai Siak sebagai sarana transportasi dalam mendistribusikan
hasil bumi dari pedalaman dan dataran tinggi Minangkabau ke
wilayah pesisir Selat Malaka.

Pada abad ke-18, wilayah Senapelan di tepi Sungai Siak, menjadi
pasar (pekan) bagi para pedagang dari dataran tinggi Minangkabau.
Seiring dengan berjalannya waktu, daerah ini berkembang menjadi
tempat pemukiman yang ramai.

Pada tanggal 23 Juni 1784, berdasarkan musyawarah "Dewan Menteri"
dari Kesultanan Siak, yang terdiri dari datuk empat suku Minangkabau
(Pesisir, Limapuluh, Tanah Datar, dan Kampar), kawasan ini dinamai
dengan Pekanbaru, dan dikemudian hari diperingati sebagai hari
jadi kota ini.

Berdasarkan Besluit van Het Inlandsch Zelfbestuur van Siak No.1
tanggal 19 Oktober 1919, Pekanbaru menjadi bagian distrik dari
Kesultanan Siak. Namun pada tahun 1931, Pekanbaru dimasukkan ke
dalam wilayah Kampar Kiri yang dikepalai oleh seorang controleur
yang berkedudukan di Pekanbaru dan berstatus landschap sampai
tahun 1940. Kemudian menjadi ibukota Onderafdeling Kampar Kiri
sampai tahun 1942.

Setelah pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, Pekanbaru
dikepalai oleh seorang gubernur militer yang disebut gokung.

* Gambaran Pekan Baru Sesudah Merdeka

Selepas kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Ketetapan Gubernur
Sumatera di Medan tanggal 17 Mei 1946 Nomor 103, Pekanbaru dijadikan
daerah otonom yang disebut Haminte atau Kotapraja.

Kemudian pada tanggal 19 Maret 1956, berdasarkan Undang-undang
Nomor 8 Tahun 1956 Republik Indonesia, Pekanbaru (Pakanbaru) menjadi
daerah otonom kota kecil dalam lingkungan Provinsi Sumatera Tengah.

Selanjutnya sejak tanggal 9 Agustus 1957 berdasarkan Undang-undang
Darurat Nomor 19 Tahun 1957 Republik Indonesia, Pekanbaru masuk ke
dalam wilayah Provinsi Riau yang baru terbentuk.

Kota Pekanbaru resmi menjadi ibu kota Provinsi Riau pada tanggal
20 Januari 1959 berdasarkan Kepmendagri nomor Desember 52/I/44-25
sebelumnya yang menjadi ibu kota adalah Tanjungpinang
(kini menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau).

*Hal Pekan Baru Masa Sekarang

Kota Pekanbaru adalah ibu kota dan kota terbesar di provinsi Riau,
Indonesia. Kota ini merupakan kota perdagangan dan jasa,termasuk sebagai
kota dengan tingkat pertumbuhan, migrasi dan urbanisasi yang tinggi.

Saat ini Kota Pekanbaru sedang berkembang pesat menjadi kota dagang
yang multi-etnik, keberagaman ini telah menjadi modal sosial dalam
mencapai kepentingan bersama untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan

Sebelum tahun 1960 Pekanbaru hanyalah kota dengan luas 16 km² yang
kemudian bertambah menjadi 62.96 km² dengan 2 kecamatan yaitu
kecamatan Senapelan dan kecamatan Limapuluh.

Selanjutnya pada tahun 1965 menjadi 6 kecamatan, dan tahun 1987 menjadi
8 kecamatan dengan luas wilayah 446,50 km², setelah Pemerintah daerah
Kampar menyetujui untuk menyerahkan sebagian dari wilayahnya untuk
keperluan perluasan wilayah Kota Pekanbaru, yang kemudian ditetapkan
melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1987.

Kemudian pada tahun 2003 jumlah kecamatan pada kota ini dimekarkan
menjadi 12 kecamatan.

*Hal Bandar Udara, terminal bus dan pelabuhan

Pekanbaru mempunyai satu bandar udara internasional, yaitu Bandar Udara
Sultan Syarif Kasim II,dan terminal bus terminal antar kota dan antar
provinsi Bandar Raya Payung Sekaki, serta dua pelabuhan di Sungai Siak,
yaitu Pelita Pantai dan Sungai Duku.

*Hal posisi strategis dan administratif

Secara geografis kota Pekanbaru memiliki posisi strategis berada
pada jalur Lintas Timur Sumatera, terhubung dengan beberapa kota
seperti Medan, Padang dan Jambi, dengan wilayah administratif,
diapit oleh Kabupaten Siak pada bagian utara dan timur, sementara
bagian barat dan selatan oleh Kabupaten Kampar.

Kota ini dibelah oleh Sungai Siak yang mengalir dari barat ke timur
dan berada pada ketinggian berkisar antara 5 - 50 meter di atas
permukaan laut.

* Hal Iklim

Kota ini termasuk beriklim tropis dengan suhu udara maksimum berkisar
antara 34.1 °C hingga 35.6 °C, dan suhu minimum antara 20.2 °C hingga
23.0 °C.

*Hal Kota ketiga terbesar dan etnis

Sejak tahun 2010, Pekanbaru telah menjadi kota ketiga berpenduduk
terbanyak di Pulau Sumatera, setelah Medan dan Palembang. Laju
pertumbuhan ekonomi Pekanbaru yang cukup pesat, menjadi pendorong
laju pertumbuhan penduduknya.

Etnis Minangkabau merupakan masyarakat terbesar dengan jumlah sekitar
37,96% dari total penduduk kota. Mereka umumnya bekerja sebagai
profesional dan pedagang. Jumlah mereka yang cukup besar, telah
mengantarkan Bahasa Minang sebagai salah satu bahasa pergaulan yang
digunakan oleh penduduk kota Pekanbaru selain Bahasa Melayu atau
Bahasa Indonesia.

Selain itu, etnis yang memiliki proporsi cukup besar adalah Melayu,
Jawa, Batak, dan Tionghoa. Perpindahan ibu kota Provinsi Riau dari
Tanjungpinang ke Pekanbaru tahun 1959, memiliki andil besar menempatkan
Suku Melayu mendominasi struktur birokrasi pemerintahan kota, namun
sejak tahun 2002 hegemoni mereka berkurang seiring dengan berdirinya
Provinsi Kepulauan Riau dari pemekaran Provinsi Riau.

Masyarakat Jawa awalnya banyak didatangkan sebagai petani pada masa
pendudukan tentara Jepang, sebagian mereka juga sekaligus sebagai
pekerja romusha dalam proyek pembangunan rel kereta api.

Sampai tahun 1950 kelompok etnik ini telah menjadi pemilik lahan yang
signifikan di Kota Pekanbaru. Namun perkembangan kota yang mengubah
fungsi lahan menjadi kawasan perkantoran dan bisnis, mendorong kelompok
masyarakat ini mencari lahan penganti di luar kota namun banyak juga
yang beralih okupasi.

*Hal gambaran asal muasal etnis batak merantau ke Pekan Baru

Berkembangnya industri terutama yang berkaitan dengan minyak bumi,
membuka banyak peluang pekerjaan, hal ini juga menjadi pendorong
berdatangannya masyarakat Batak. Kelompok etnik ini umumnya bekerja
sebagai karyawan, dan memiliki ikatan emosional yang kuat terutama
jika semarga dibandingkan kelompok etnis lain yang ada di Kota
Pekanbaru.

Pasca PRRI eksistensi kelompok etnis ini menguat setelah beberapa
tokoh masyarakatnya memiliki jabatan penting di pemerintahan, terutama
pada masa Kaharuddin Nasution menjadi Penguasa Perang Riau Daratan.

Sementara masyarakat Tionghoa dengan rata-rata bakat entrepreneur
yang kuat menguasai perdagangan skala besar di Kota Pekanbaru.
Kopi Kim Teng saat ini menjadi trademark kopi asal Pekanbaru,
yang dirintis oleh Kim Teng, seorang veteran pejuang Tionghoa masa
kemerdekaan di Pekanbaru.

*Hal Agama

Agama Islam merupakan salah satu agama yang dominan dianut oleh
masyarakat Kota Pekanbaru, sementara pemeluk agama Kristen, Buddha,
Katolik, Khonghucu dan Hindu juga terdapat di kota ini.

Sebagai bagian dalam pembangunan kehidupan beragama, Kota Pekanbaru
tahun 1994, ditunjuk untuk pertama kalinya menyelenggarakan Musabaqah
Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat nasional yang ke-17. Pada perlombaan
membaca Al-quran ini, jika sebelumnya diikuti oleh satu orang utusan,
untuk setiap wilayah provinsi, maka pada MTQ ini setiap provinsi
mengirimkan 6 orang utusan.
Pemerintahan[sunting]

*Hal sebagai kota Metropolitan























Saat ini Pekanbaru telah menjadi kota metropolitan, yaitu
dengan nama Pekansekawan, (Pekanbaru, Siak, & Pelalawan).
Perkembangan perekonomian Pekanbaru, sangat dipengaruhi oleh
kehadiran perusahaan minyak, pabrik pulp dan kertas, serta
perkebunan kelapa sawit beserta pabrik pengolahannya.

Kota Pekanbaru pada triwulan I 2010 mengalami peningkatan inflasi
sebesar 0.79%, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang
mencapai 0.30%. Berdasarkan kelompoknya, inflasi terjadi hampir
pada semua kelompok barang dan jasa kecuali kelompok sandang dan
kelompok kesehatan yang pada triwulan laporan tercatat mengalami
deflasi masing-masing sebesar 0.88% dan 0.02%.

Secara tahunan inflasi kota Pekanbaru pada bulan Maret 2010 tercatat
sebesar 2.26%, terus mengalami peningkatan sejak awal tahun 2010
yaitu 2.07% pada bulan Januari 2010 dan 2.14% pada bulan Februari 2010.

Posisi Sungai Siak sebagai jalur perdagangan Pekanbaru, telah memegang
peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekomoni kota ini.
Penemuan cadangan minyak bumi pada tahun 1939 memberi andil besar bagi
perkembangan dan migrasi penduduk dari kawasan lain.

Sektor perdagangan dan jasa saat ini menjadi andalan Kota Pekanbaru,
yang terlihat dengan menjamurnya pembangunan ruko pada jalan-jalan
utama kota ini. Selain itu, muncul beberapa pusat perbelanjaan
modern, diantaranya: Plaza Senapelan, Plaza Citra, Plaza Sukaramai,
Mal Pekanbaru, Mal SKA, Mal Ciputra Seraya,Lotte Mart, Metropolitan
Trade Center, The Central, Ramayana dan Giant.

Walau di tengah perkembangan pusat perbelanjaan modern ini, pemerintah
kota terus berusaha untuk tetap menjadikan pasar tradisional yang ada
dapat bertahan, di antaranya dengan melakukan peremajaan, memperbaiki
infrastruktur dan fasilitas pendukungnya.

Beberapa pasar tradisional yang masih berdiri, antara lain Pasar Bawah,
Pasar Raya Senapelan (Pasar Kodim), Pasar Andil, Pasar Rumbai, Pasar
Limapuluh dan Pasar Cik Puan.

*Hal Industri

Sementara dalam pertumbuhan bidang industri di Kota Pekanbaru terus
mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan pertahun sebesar
3,82 %, dengan kelompok industri terbesar pada sektor industri logam,
mesin, elektronika dan aneka, kemudian disusul industri pertanian dan
kehutanan. Selain itu beberapa investasi yang ditanamkan di kota ini
sebagian besar digunakan untuk penambahan bahan baku, penambahan
peralatan dan perluasan bangunan, sebagian kecil lainnya digunakan
untuk industri baru.

*Hal Kesehatan

Kota Pekanbaru memiliki beberapa rumah sakit yang dikelola oleh
pemerintah maupun swasta. Dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi
masyarakat, pemerintah Pekanbaru mencoba melengkapi sarana dan prasarana
yang ada saat ini diantaranya akan membangun gedung baru untuk Rumah
Sakit Umum Daerah Arifin Achmad yang saat ini baru memiliki 264 kamar
untuk rawat inap.

Dengan selesainya bangunan tersebut, kapasitas rawat inap RSUD Arifin
Achmad, akan bertambah menjadi 400 kamar. Sementara kehadiran rumah
sakit yang dikelola oleh pihak swasta di kota ini cukup signifikan
antara lain Rumah Sakit Santa Maria yang sebelumnya bernama Balai
Pengobatan Santa Maria, Rumah Sakit Ibnu Sina yang didirikan oleh
YARSI Riau kemudian dikelola oleh PT. Syifa Utama,Rumah Sakit Awal
Bros,Rumah Sakit Bina Kasih, Pekanbaru Medical Centre (PMC) dan
Eka Hospital.

Sampai tahun 2006 penyebaran dan pelayanan puskesmas di kota Pekanbaru
masih belum merata terhadap masyarakatnya yaitu dengan ratio 1,99.
Sementara persentase kunjungan penduduk memanfaatkan puskesmas baru
sekitar 19 %. Hal ini dimungkinkan telah banyaknya rumah sakit swasta
yang memberikan pelayanan yang lebih baik.

*Pendidikan


















Gedung Perpustakaan Soeman HS milik Provinsi Riau, di pusat kota
Pekanbaru. Beberapa perguruan tinggi juga terdapat di kota ini, di
antaranya adalah Politeknik Caltex Riau, Universitas Riau, UIN Suska,
Universitas Muhammadiyah Riau, Universitas Islam Riau, dan Universitas
Lancang Kuning.

Sampai tahun 2008, di Kota Pekanbaru baru sekitar 13,87 % masyarakatnya
dengan pendidikan tamatan perguruan tinggi, dan masih didominasi oleh
tamatan SLTA sekitar 37,32 %. Sedangkan tidak memiliki ijazah sama
sekali sebanyak 12,94 % dari penduduk Kota Pekanbaru yang berumur
10 tahun ke atas.

Perpustakaan Soeman Hs merupakan perpustakaan pemerintah provinsi Riau,
didirikan untuk penunjang pendidikan masyarakat Pekanbaru khususnya dan
Riau umumnya. Perpustakaan ini terletak di jantung Kota Pekanbaru,
termasuk salah satu perpustakaan "termegah di Indonesia", dengan
arsitektur yang unik serta telah memiliki koleksi 300 ribu buku sampai
tahun 2008.

Nama perpustakaan ini diabadikan dari nama seorang guru dan sastrawan
Riau, Soeman Hasibuan.

Anjung Seni Idrus Tintin di Kompleks MTQ
Untuk mengantisipasi kebutuhan energi listrik dimasa mendatang,
pemerintah kota Pekanbaru telah mengusahakan pembebasan lahan seluas
40 ha untuk pembangunan PLTU Tenayan Raya.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Pemerintah kota melalui
PDAM memanfaatkan air permukaan dari Sungai Siak yang mempunyai kapasitas
5000 liter/detik sebagai sumber air baku bagi Instalasi Pengolah Air Bersih,
yang terpasang dengan kapasitas 380 liter/detik.

Selanjutnya sistem pengolahan penuh dan chlorinasi digunakan untuk
memproduksi air bersih dengan kapasitas 350 liter/detik. Dari kapasitas
produksi yang ada, telah terdistribusi dalam 18.660 unit Sambungan
Rumah (SR) dan 45 Hidran Umum (HU).

Setiap SR rata-rata digunakan 5 – 6 orang dan HU dapat digunakan 100
orang. Fasilitas ini memang belum mencukupi kebutuhan keseluruhan
masyarakat kota ini, sehingga sebagian besar masyarakat masih
memanfaatkan secara langsung air permukaan dari sungai Siak tersebut.

Saat ini pemerintah kota telah menetapkan tempat pembuangan akhir
(TPA) sampah di 2 lokasi dengan metode open dumping, yaitu kawasan
Limbungan seluas 5 Ha dengan jarak dari kawasan pemukiman 19 km dan
Kulim seluas 3 Ha dengan jarak dari kawasan pemukiman 8 km.

Selain itu gerobak sampah masih digunakan untuk pengumpulan tak langsung,
jumlah total gerobak yang ada saat ini adalah 305 buah dengan kapasitas
rata-rata 1 m³ untuk melayani pengumpulan individual pada 5 wilayah
pengumpulan. Sarana pemindahan yang ada berupa bak sampah pasangan
batu-bata dan pelat baja sebanyak 32 buah dengan daya tampung 157.5 m³.

Saat ini kapasitas penampungan TPS baru mencapai 8 % terhadap total
timbunan yang ada. Untuk armada angkutan pengambilan sampah langsung
digunakan truk bak terbuka, jumlah pengangkutan yang dilakukan adalah
2 – 3 kali per harinya, sehingga kapasitas pengangkutan baru mencapai
20 %. Sedangkan setiap harinya terdapat 170 m³ timbunan sampah, sehingga
jumlah sampah yang telah dikelola dan terangkut sampai ke TPA baru
mencapai 120 m³/hari atau sekitar 60 %.

Daerah kota Pekanbaru yang memiliki ketinggian antara 1 sampai 20
meter dengan curah hujan dalam klasifikasi sedang, yaitu antara
100-200 per bulan. Secara umum permasalahan banjir di kota ini adalah
masalah genangan air, baik akibat adanya limpasan dari saluran drainase
yang ada maupun akibat terhambatnya pengaliran air.

Saluran drainase yang ada saat ini baru mencakup 13.930 Ha, yang terdiri
dari sistem drainase besar sepanjang 10.123 meter, sistem drainase kecil
sepanjang 15.456 m dan sistem drainase tersier sepanjang 7.789 m.[50]
Pemerintah kota saat menetapkan pengembangkan kawasan permukiman perkotaan
ke arah ke selatan, timur dan barat kota (kecamatan Tampan, kecamatan
Marpoyan Damai, kecamatan Bukit Raya, kecamatan Tenayan Raya, dan kecamatan
Payung Sekaki). Sedangkan Kecamatan Senapelan, Kecamatan Sukajadi,
Kecamatan Sail dan Kecamatan Limapuluh sebagai kawasan perdagangan dan
jasa dengan skala pelayanan regional dan internasional, perumahan perkotaan
(town house dan apartemen), yang diintegasikan dengan sistem jaringan
transportasi massal dan sistem jaringan transportasi regional melalui
jalan tol, akses ke bandara dan pelabuhan di Sungai Siak.

*Hal Terminal

Pekanbaru dihubungkan oleh jaringan jalan yang tersambung dari arah Padang
di sebelah barat, Medan di sebelah utara, dan Jambi di sebelah selatan.
Terminal Bandar Raya Payung Sekaki merupakan pusat pelayanan transportasi
antar kota dan antar provinsi, yang telah direncanakan pemerintah setempat
menjadi sarana orientasi dan perpindahan antar moda transportasi dengan
akses ke sistem jaringan transportasi regional, bandara, dan pelabuhan.

*Hal Bandar Udara




















Bandara Sultan Syarif Kasim II menjadi salah satu bandar udara tersibuk
di Sumatera dan dicanangkan akan menjadi salah satu bandara internasional
di pulau Sumatera. Berdasarkan data yang diperoleh dari Angkasa Pura II
pada tahun 2011 penumpang yang melalui bandara ini mencapai angka
1.259.993 penumpang per tahun.

*Hal Pelabuhan

Pelabuhan Pekanbaru yang terletak di tepi Sungai Siak dan berjarak
96 mil ke muara sungai, menjadi sarana transportasi untuk komoditi
ekspor seperti kelapa sawit. Selain itu, pelabuhan ini juga
menghubungkan Pekanbaru dengan kawasan di Kepulauan Riau, seperti
Tanjungpinang dan Batam.

Selain itu, Transmetro Pekanbaru merupakan sarana transportasi massal
jalur darat di Kota Pekanbaru, sekaligus sebagai salah satu alternatif
untuk mengurangi tingkat kemacetan di kota ini.

* Hal Kereta api

Pada masa pendudukan tentara Jepang, dilakukan pembangunan rel kereta api
yang menghubungkan Pekanbaru menuju Padang melalui Sawahlunto. Proyek
ini sebelumnya telah direncanakan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda
dan diselesai pada 15 Agustus 1945, walau sampai sekarang jalur ini
tidak pernah diaktifkan lagi.

* Hal Bagunan Melayu dan anjungan

Kota Pekanbaru memiliki beberapa bangunan dengan ciri khas
arsitektur Melayu diantaranya bangunan Balai Adat Melayu Riau
yang terletak di jalan Diponegoro, Bangunan ini terdiri dari
dua lantai, di lantai atasnya terpampang beberapa ungkapan adat
dan pasal-pasal Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji sastrawan
keturunan Bugis.

Pada bagian kiri dan kanan pintu masuk ruangan utama dapat dibaca
pasal 1 - 4, sedangkan pasal 5 – 12 terdapat di bagian dinding
sebelah dalam ruangan utama. Kemudian di jalan Sudirman terdapat
Gedung Taman Budaya Riau, gedung ini berfungsi sebagai tempat
untuk pagelaran berbagai kegiatan budaya dan seni Melayu Riau dan
kegiatan-kegiatan lainnya.

Sementara bersebelahan dengan gedung ini terdapat Museum Sang Nila
Utama, merupakan museum daerah Riau yang memiliki berbagai koleksi
benda bersejarah, seni, dan budaya. Museum ini menyandang nama
seorang tokoh legenda dalam Sulalatus Salatin, pendiri Singapura.

Selanjutnya Anjung Seni Idrus Tintin salah satu ikon budaya di Kota
Pekanbaru, merupakan bangunan dengan arsitektur tradisional,
menggunakan nama seorang seniman Riau, Idrus Tintin, dibangun
pada kawasan yang dahulunya menjadi tempat penyelengaraan MTQ ke-17.

Pada kawasan Senapelan terdapat Masjid Raya Pekanbaru yang sebelumnya
dikenal dengan nama Masjid Alam, dibangun sekitar abad ke-18 dengan
gaya arsitektur tradisional dan merupakan masjid tertua di Kota
Pekanbaru. Sementara Tradisi Petang Megang disaat memasuki bulan
Ramadhan telah dilakukan sejak masa Kesultanan Siak masih tetap
diselenggarakan oleh masyarakat Kota Pekanbaru.

* Hal Tabuik dan Perayaan Imlek



















Pada tahun 2011, masyarakat Pariaman untuk pertama kalinya
mengadakan pesta budaya Tabuik di Pekanbaru. Seperti hal di
daerah asalnya, perayaan ini diselenggarakan pada bulan Muharram,
untuk memperingati peristiwa Pertempuran Karbala. Meski bukan
tradisi lokal, hal ini menunjukkan keanekaragaman sekaligus salah
satu iven untuk pengembangan sektor pariwisata.

Sementara setiap tahunnya, komunitas Tionghoa di Pekanbaru juga
menyelenggarakan perayaan Tahun Baru Imlek, kemudian ditutup dengan
perayaan Cap Go Meh. Pesta ini umumnya dipusatkan di kawasan Senapelan
terutama pada beberapa vihara di antaranya Vihara Dharma Loka atau
Vihara Tridharma Dewi Sakti.

*Hal Olahraga



















PSPS Pekanbaru merupakan klub utama sepak bola yang dimiliki
oleh kota ini, dan bermarkas di Stadion Kaharudin Nasution
Rumbai. Namun pada tahun 2010 stadion ini direnovasi, karena
stadion ini juga persiapkan sebagai salah satu venue pada Pekan
Olahraga Nasional XVIII 2012 Riau.

Sehingga pada kompetisi LSI, PSPS untuk sementara waktu pada
pertandingan kandang menggunakan Stadion Agus Salim dan Stadion
Kuansing.

Sejak tahun 2009 kota ini mulai membenahi berbagai fasilitas olahraga
setelah provinsi Riau terpilih sebagai tuan rumah penyelenggara
Pekan Olahraga Nasional XVIII dan kualifikasi Piala Asia U-22
tahun 2012, serta Islamic Solidarity Games 2013. Untuk menyambut
perhelatan akbar tersebut, Pekanbaru membangun Stadion Utama Riau
dengan kapasitas 43.923 kursi.

Selain itu, Lapangan Golf tersebar di beberapa tempat pada kawasan
kota ini, antara lain Pekanbaru Golf Course Country Club di Kubang
Kulim, Simpang Tiga Golf Course di Kompleks AURI, Rumbai Golf Course
di Kompleks IKSORA Rumbai, dan Lapangan Golf Labersa di Kompleks
Labersa. Pers dan Media.

Di Kota Pekanbaru telah berdiri TVRI Riau sejak tahun 1997, sementara
Pekanbaru TV merupakan stasiun televisi swasta pertama di kota ini,
walau sempat mengudara pada tahun 2000, namun beberapa tahun kemudian
ditutup karena masalah keuangan. Riau TV yang berada dalam konsorsium
Group Jawa Post, mengudara sejak tahun 2001, beberapa tahun kemudian
berafiliasi dengan RTM-1 milik Malaysia.

RRI Pekanbaru merupakan stasiun radio penyiaran milik pemerintah
yang didirikan tahun 1959, dan memainkan peranan penting selepas
berakhirnya PRRI. Sementara beberapa stasiun radio swasta juga terdapat
di kota ini yang tergabung dalam PRSSNI Riau.

Genta merupakan surat kabar lokal pertama yang terbit di Pekanbaru
tahun 1979, surat kabar ini beroplah 2 ribuan dan disponsori oleh
pemerintah provinsi Riau waktu itu. Saat ini beberapa media cetak
jenis surat kabar yang cukup banyak dikenal masyarakat Kota Pekanbaru
antara lain: Haluan Riau, Riau Pos, Tribun Pekanbaru, Pekanbaru Pos,
Pekanbaru MX dan Koran Riau.

Selain itu di Pekanbaru juga banyak hadir media-media online salah
satunya adalah  : Gotoriau.com yang menampilkan info-info populer
seputar Pekanbaru pada khususnya dan Riau pada umumnya.
_____________________________________________________

Pengalaman dan Pendapat Penulis mengenai Pekan Baru
_____________________________________________________


















Sekitar 5 tahun yang silam penulis pernah ke Pekan Baru ini menemui
seorang adik pun sekalian ziarah Kubur pada pemakaman ibunda
Ramada hutasuhut asal Anturmangan Sipirok yang berpulang ke rahmatulloh
di Pakan Baru dan juga di  makamkan disana beberapa tahun silam.

Dari hasil berkunjung ini penulis mengetahui :

1. Pekan Baru memang cukup pantas dikatakan sebagai kota Metropolitan
   untuk saat ini, gedung-gedung bertingkat dan tersedianya macam
   cabang dari perusahaan pusat di Jakarta membuat kota ini menjadi
   semakin ramai.

















2. Toko Gramedia yang pernah penulis kunjungi sungguh sangat besar
   da isinyapun cukup lengkap, hingga tujuan penulis untuk membeli
   buku pertanian guna dibawa ke Sipirok tercapai.

3. Macam etnis memang terdapat disana dan sangat terasa etnis Padang
   sangat banyak jumlahnya. Begitupun etnis Batak cukup pantas di
   perhitungkan keberadaannya. Mereka bukan  hanya ada di kota-kota
   besarnya seperti pasar dan terminal juga cukup banyak yang
   memilih untuk masuk keperkebunan-perkebunan kelapa sawit di
   Pekan Baru ini.

4. Perkebunan disekitar Perawang dekat sungai Siak adalah tempat
   bekerja adik penulis pada saat itu. Dan ketika saya ketempat
   ini sungguh sangat mengejutkan. Penulis yang mengira hamparan
   kelapa sawit yang terlihat dari pinggiran jalan raya ternyata
   di dalamnya sungguh sangat banyak kelompok-kelompok perumahan.
   Banyak orang dan nyaris kelengkapannya seperti suatu kampung.

5. Setelah pulang dari sana terpikir olehku, bahwa yang seperti
   inilah yang disebut "penduduk yang terhitung tetapi tidak
   terlihat karena lebatnya kelapa sawit".

4. Sepintas penulis lihat para karyawan perusahaan ini sepertinya
   berkelompok berdasarkan asal muasal mereka. Karena itu jangan
   heran jika anda orang Sipirok dan kesana maka bisa ketemu sama
   halak Sipirok yang bisa berasal dari macam desa di Sipirok.

5. Dan jangan lupa, jika anda ingin menemui saudara di tempat
   perkebunan ini, maka sebaiknya anda di jemput saja. Jangan
   memaksanakan diri mencari sendiri alamatnya karena anda bisa
   "Lilu" disebabkan banyaknya simpang jalan di dalam perkebunan
   ini yang nyaris terlihat sama karena ke beradaan batang
   kalapo tersebut.



















6. Jikasaudara anda ada di Perawang dan ingin kesalah satu Perkebunan
    maka besar kemungkinan anda akan menyeberang sungai siak.

7. Dan bagi para saudara yang saat ini sedang berada di perkebunan
   tersebut penulis mengucapkan tetap semangat dan horas.
_________

Penutup
_________

Demikian info yang dapat disajikan lewat postingan ini. Dan jika
anda bertanya apakah Pekan Baru saat ini dapat menjadi salah satu
pilihan alternatif dalam memilih tano parjalangan, maka penulis
menjawan "Ya" dan cukup punya peluang berhasil karena Pekan Baru
ini memiliki pertumbuhan dibidang perindustrian 3.28% per tahun.

Dan jika anda mengalami kesulitan ekonomi dan ingin pinjaman, maka
pinjamlah sama saudara anda yang ada di Pekan Baru karena menurut
penulis sekarang ini mereka lagi banyak duit karena pertumbuhan
ekonomi dibidang lainnya juga sangat pesat.

Jangan malu-malu kawan pinjam aja...! Jika mereka bilang  tidak
ada, jangan percaya...!

Dan kalau bisa gunakan bahasa yang cantik pada saat meminjam,
karena bahasa yang cantk juga kata yang baik.

Selamat meminjam para kawan dan horas...! Kakakakaka...kkk...kkkk...

Tiada kata secantik bahasa
untuk kupuji adinda
tiada gambar secantik lukisan
untuk ku unjuk perasaan

Oh...dinda puspa gemala...

video


______________________________________________________________
Cat. Sumber :
http://www.pekanbaruriau.com/2009/05/istana-siak-sri-indrapura.html
https://www.facebook.com/notes/pekanbaru/sejarah-kota-pekanbaru/120205755323


PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar