“Muda mangulang rap margulu, ippal songon palu-palu. Pambangunan bisa lalu muda gogotta di padomu "SALAMAT MAMBANGUN ANGKOLAKU TU SUDE SENDI KEHIDUPAN"

Kamis, 27 November 2014

Ratu Pantai Selatan dan Legenda Nyi Roro Kidul

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Memberikan info sekitar Pelabuhan Ratu dalam Hubungannya
dengan Legenda Ratu Pantai Selatan (Ratu Laut Selatan) atau
Nyi Roro Kidul, Kanjeng Ratu Kidul, Ritual, Kepercayaan,
Pantangan dan Nama-Nama Yang bersangkut Paut dengan Ratu
Pantai Selatan)
_________________________________________________________











__________________

Kata Pengantar
__________________

Postingan ini adalah pendalaman dari link :
.............
yang mana penulis bercerita tentang "Sukabumi dalam Sejarah dan
Pemerintahannya".

Juga dari Link :
............
Yang mana penulis bercerita tentang "Macam Pilihan wisata di
Sukabumi".

pun pada link :
.......................

yang mana penulis bercerita tentang "Pelabuhan Ratu Sebagai tempat
wisata dan selukbeluknya".

Karena Pelabuhan Ratu memang lekat dengan Legenda "Ratu Pantai Selatan"
atau "Ratu Laut Selatan" yang dengan sendirinya lekat pula dengan legenda
"Nyi Roro Kidul" atau "Nyai Roro Kidul" atau "Nyai Loro Kidul" atau
"Nyi Rara Kidul"

serta...!

Kanjeng Ratu Kidul, karena itu postingan inipun berisi sekitar legenda
tersebut yang dengan sendirinya pula akan berhubungan dengan kehidupan
masyarakat khsusnya yang ada disekitar Pelabuhan Ratu Suka Bumi tersebut.

Singkat cerita...!

"Selamat menyimak...!


___________________________________________________________

Hal Nama "Ratu Pantai Selatan" atau "Ratu Laut Selatan"
____________________________________________________________

- Secara umum yang dimaksud Ratu Pantai Selatan atau Ratu Laut
  Selatan itu adalah "Nyi Roro Kidul" atau "Nyai Roro Kidul" atau
  "Nyai Loro Kidul" dan ada juga yang menyebutnya Kanjeng Ratu Kidul

- Beliau digambarkan sebagai sesosok roh atau dewi legendaris
  Indonesia yang sangat populer di kalangan masyarakat Pulau
  Jawa dan Bali tak terkecuali di Pelabuhan Ratu Sukabumi
__________________________________________________________________________

Hal Nama "Kanjeng Ratu Kidul" yang tidak sama dengan Ratu Pantai Selatan
__________________________________________________________________________

- Sesungguhnya Kanjeng Ratu Kidul tidak sama dengan "Ratu Pantai Selatan"
  atau "Ratu Laut Selatan" atau "Nyi Roro Kidul" atau "Nyai Roro Kidul"
  atau "Nyai Loro Kidul"

- Dalam mitologi Jawa, Kanjeng Ratu Kidul merupakan ciptaan dari Dewa
  Kaping Telu yang mengisi alam kehidupan sebagai Dewi Padi (Dewi Sri)
  dan dewi alam yang lain.

- Sedangkan "Ratu Pantai Selatan" atau "Ratu Laut Selatan" atau "Nyi Roro
  Kidul" atau "Nyai Roro Kidul" atau "Nyai Loro Kidul" atau "Nyi Rara Kidul"
  mulanya merupakan putri Kerajaan Sunda yang diusir ayahnya karena ulah
  ibu tirinya.

- Dalam perkembangannya, masyarakat cenderung menyamakan Nyi Rara Kidul
  dengan Kanjeng Ratu Kidul, meskipun dalam kepercayaan Kejawen, Nyi Rara
  Kidul adalah bawahan setia Kanjeng Ratu Kidul.
____________________________________________________________

Hal Kepercayaan Masyarakat Tanah Jawa Pada yang dimaksud
"Ratu Pantai Selatan" atau Ratu Laut Selatan
____________________________________________________________

* Dianggap sebagai Dewi Pelindung oleh
  pengumpul sarang walet

Nyai Loro Kidul adalah dewi pelindung pengumpul sarang
burung di selatan Jawa. Para pengumpul menuruni tebing
menggunakan tali serabut kelapa hingga sekitar ketinggian
sembilan meter (30 kaki) di atas permukaan laut.

Disana, mereka menunggu arus ombak di atas teras bambu,
kemudian terjun dan terbawa arus masuk ke gua. Dalam
kegelapan total, mereka mengambil sarang burung dan
memasukkan dalam tas mereka. Perjalanan pulang juga
sangat berbahaya dan membutuhkan waktu yang tepat,
agar tidak terbawa ombak yang ganas.

Sarang burung Jawa merupakan salah satu sarang burung
terbaik di dunia. Sup sarang burung yang dipasarkan di
China, Thailand, Malaysia, dan Singapura didedikasikan
kepada Nyai Loro Kidul, demikian menurut tulisan Sultan
Agung.

Terdapat tiga jenis panen, yaitu Unduan-Kesongo (April),
Unduan-Telor (Agustus, terbanyak), dan Unduan-Kepat
(Desember). Rongkob dan Karang Bolong yang terdapat di
pantai selatan Jawa Tengah terkenal sebagai tempat
mengumpulkan sarang burung walet (disebut Salanganen
atau Collocalia fuciphaga). Proses panen terkenal karena
juga dilakukan pertunjukan wayang serta tarian ritual yang
diiringi musik gamelan.

Setelah panen selesai, masyarakat memberikan persembahan
yang disebut "Ranjang Nyai Loro Kidul". Persembahan tersebut
digantung bersama dengan kain batik dan cermin yang diletakkan
di atas bantal berwarna hijau.
__________________________________________________________

Hal Perobahan nama dari Loro Kidul menjadi Roro Kidul
__________________________________________________________

Nyai Roro Kidul juga dikenal dengan berbagai nama yang mencerminkan
berbagai kisah berbeda dari asal-usulnya, legenda, mitologi, dan
kisah turun-temurun. Ia lazim dipanggil dengan nama Ratu Laut Selatan
dan Gusti Kanjeng Ratu Kidul.

Menurut adat-istiadat Jawa, penggunaan gelar seperti Nyai, Kanjeng, dan
Gusti untuk menyebutnya sangat penting demi kesopanan. Orang-orang juga
menyebutnya sebagai eyang (nenek). Dalam wujud sejenis putri duyung,
ia disebut sebagai Nyai Blorong.

Terkadang orang juga menyebut namanya sebagai Nyai Loro Kidul. Bahasa
Jawa loro merupakan sebuah homograf untuk "dua - 2" dan "sakit, menderita".
Sementara bahasa Jawa rara (atau roro) memiliki arti "gadis". Seorang
ortografer Belanda memperkirakan terjadinya perubahan dari bahasa Jawa
kuno roro menjadi bahasa Jawa baru loro, sehingga terjadi perubahan
arti dari "gadis cantik" menjadi "orang sakit".




__________________________________________________

Hal Legenda bentuk / Wujud Ratu Pantai Selatan
__________________________________________________

* Perempuan Cantik

* Berbaju Hijau

Sang Ratu tampil sebagai perempuan muda dan cantik pada saat
bulan muda hingga purnama, terapi berangsur-angsur menua pada saat
bulan menuju bulan mati.



______________________________________________________

Hal Analisa Perbandingan Legenda Kerjaan Pajajaran dan
Kerjaan Mataram
_______________________________________________________



Masyarakat Sunda mengenal legenda mengenai penguasa spiritual
kawasan Laut Selatan Jawa Barat yang berwujud perempuan cantik
yang disebut Nyi Rara Kidul. Legenda yang berasal dari Kerajaan
Sunda Pajajaran berumur lebih tua daripada legenda Kerajaan
Mataram Islam dari abad ke-16.

Meskipun demikian, penelitian atropologi dan kultur masyarakat
Jawa dan Sunda mengarahkan bahwa legenda Ratu Laut Selatan Jawa
kemungkinan berasal dari kepercayaan animistik prasejarah yang
jauh lebih tua lagi, dewi pra-Hindu-Buddha dari samudra selatan.

Ombak samudra Hindia yang ganas di pantai selatan Jawa, badai serta
terkadang tsunaminya, kemungkinan telah membangkitkan rasa hormat
serta takut terhadap kekuatan alam, yang kemudian dianggap sebagai
alam spiritual para dewata serta lelembut yang menghuni lautan
selatan yang dipimpin oleh ratu mereka, sesosok dewi, yang kemudian
diidentifikasikan sebagai Ratu Kidul.

______________________________________________

Macam Legenda Asal Usul Ratu Pantai Selatan
______________________________________________

Mengacu pada uraian-uraian diatas, maka jelas sudah bahwa yang
dimaksud "Ratu Pantai Selatan" atau Ratu Laut Selatan adalah :

1. "Nyi Roro Kidul" 
2. "Nyai Roro Kidul"
3. "Nyai Loro Kidul"
4. "Nyai Rara Kidul"

...dan...

5. Bukan "Kanjeng Ratu Kidul" Karena Ratu Kidul = Dwi Sri = Dwi Padi

Karena itu...!

Cerita asal usul "Ratu Pantai Selatan" atau Ratu Laut Selatan"
sama dengan cerita :

1.  Asal usul "Nyi Roro Kidul" 
2.  Asal usul "Nyai Roro Kidul"
3.  Asal usul "Nyai Loro Kidul"
4.  Asal usul "Nyai Rara Kidul"

Berikut macam asal usul tersebut :

1. Berasal dari Cerita Kerajaan Pajajara
   (Legenda Dewi Kadita dan Dewi Mutiara)
  

Begini gambaran ceritanya :

Salah satu cerita rakyat Sunda menceritakan Dewi Kadita,
putri cantik dari kerajaan Sunda Pajajaran di Jawa Barat,
yang melarikan diri ke lautan selatan setelah diguna-gunai.

Guna-guna tersebut dikeluarkan oleh seorang dukun atas perintah
saingannya di istana, dan membuat putri tersebut menderita penyakit
kulit yang menjijikkan. Ia melompat ke lautan yang berombak ganas
dan menjadi sembuh serta kembali cantik. Para lelembut kemudian
mengangkatnya menjadi Ratu-Lelembut Lautan Selatan yang legendaris.

Versi yang serupa adalah Dewi Kadita, putri tunggal Raja Munding
Wangi dari Kerajaan Pajajaran. Karena kecantikannya, ia dijuluki
Dewi Srêngéngé (lit. "Dewi Matahari"). Meskipun mempunyai seorang
putri yang cantik, Raja Munding Wangi bersedih karena ia tidak
memiliki putra yang dapat menggantikannya sebagai raja.

Raja kemudian menikah dengan Dewi Mutiara dan mendapatkan putra
dari pernikahan tersebut. Dewi Mutiara ingin putranya dapat menjadi
raja tanpa ada rintangan di kemudian hari, sehingga ia berusaha
menyingkirkan Dewi Kadita.

Dewi Mutiara menghadap Raja dan memintanya untuk menyuruh Kadita
pergi dari istana. Raja berkata bahwa ia tidak akan membiarkan
siapapun yang ingin bertindak kasar pada putrinya.

Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara tersenyum dan berkata manis
sampai Raja tidak marah lagi kepadanya.

Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus
pembantunya untuk memanggil seorang tukang tenung. Dia menyuruh
sang dukun untuk meneluh Kadita.

Pada malam harinya, tubuh Kadita gatal-gatal dipenuhi kudis,
berbau busuk dan penuh bisul. Ia menangis tak tahu harus berbuat
apa. Raja mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan Kadita serta
sadar bahwa penyakit tersebut tidak wajar, pasti berasal dari
guna-guna.

Ratu Dewi Mutiara memaksa raja mengusir puterinya karena dianggap
akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri. Karena Raja tidak
menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, ia
terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya
keluar dari negeri mereka.

Kadita pergi berkelana sendirian tanpa tujuan dan hampir tidak dapat
menangis lagi. Ia tidak dendam kepada ibu tirinya, melainkan meminta
agar Sanghyang Kersa mendampinginya dalam menanggung penderitaan.

Hampir tujuh hari dan tujuh malam, akhirnya ia tiba di Samudera
Selatan. Air samudra itu bersih dan jernih, tidak seperti samudera
lain yang berwarna biru atau hijau. Tiba-tiba ia mendengar suara gaib
yang menyuruhnya terjun ke dalam Laut Selatan. Ia melompat dan
berenang, air Samudera Selatan melenyapkan bisulnya tanpa meninggalkan
bekas, malah ia semakin cantik.

Ia memiliki kuasa atas Samudera Selatan dan menjadi seorang dewi
yang disebut Nyi Rara Kidul yang hidup abadi. Kawasan Pantai
Palabuhanratu secara khusus dikaitkan dengan legenda ini.

2. Berasal dari Kerajaan Joyo Kulon (Legenda Putri Banyu Bening
  Gelang Kencana)

Dalam salah satu cerita rakyat Sunda, Banyu Bening (lit. "Air
Jernih") menjadi ratu dari kerajaan Joyo Kulon. Ia menderita lepra
kemudian berkelana menuju selatan. Ia ditelan ombak yang besar dan
menghilang ke dalam samudra.

3. Berasal dari Kerajaan Pajajaran dan Kerjaan Maja Pahit (Legenda
   Ajar Cemara Tunggal

Sebuah cerita rakyat dari Jawa Barat menceritakan seorang penerawang
pria bernama Ajar Cemara Tunggal dari Gunung Kombang di Kerajaan
Pajajaran. Sebenarnya, ia adalah seorang wanita cantik, bibi buyut
dari Raden Jaka Suruh. Ia mengubah dirinya menjadi dukun dan
memberitahu Raden Jaka Suruh untuk menuju timur pulau Jawa dan
mendirikan kerajaan di lokasi sebuah pohon maja yang hanya memiliki
buah satu butir. Karena buah maja rasanya pahit, kerajaan yang
didirikannya bernama Majapahit.

Cemara Tunggal berjanji akan menikahi pendiri Majapahit dan setiap
penerus dari garis keturunan yang sulung untuk membantu mereka dalam
setiap permasalahan. Roh Cemara Tunggal dianggap menjadi "ratu-lelembut
dari selatan" yang menguasai seluruh lelembut.

4. Berasal dari Legenda Kesultanan Mataram (Legenda Kanjeng Ratu Kidul)

Legenda Jawa dari abad ke-16 menyatakan Kanjeng Ratu Kidul sebagai
pelindung dan pasangan spiritual para raja Kerajaan Mataram. Panembahan
Senapati (1586-1601 M), pendiri Kesultanan Mataram, dan cucunya Sultan
Agung Hanyakrakusuma (1613-1645 M) menyebut Kanjeng Ratu Kidul sebagai
mempelai mereka. Hal tersebut tertuang dalam Babad Tanah Jawi.

Menurut legenda, pangeran Panembahan Senopati berkeinginan untuk
mendirikan sebuah kerajaan yang baru, yaitu Kesultanan Mataram, untuk
melawan kekuasaan Kesultanan Pajang. Ia melakukan tapa di pantai Parang
Kusumo yang terletak di selatan kediamannya di Kota Gede.

Meditasinya menyebabkan terjadinya fenomena supernatural yang mengganggu
kerajaan di Laut Selatan. Sang Ratu datang ke pantai untuk melihat
siapa yang menyebabkan gangguan di kerajaannya. Saat melihat pangeran
yang tampan, ia jatuh cinta dan meminta Panembahan Senopati untuk
menghentikan tapanya.

Sebagai gantinya, sang Ratu penguasa alam spiritual di laut selatan
setuju untuk membantunya dalam mendirikan kerajaan yang baru.
Untuk menjadi pelindung spiritual kerajaan tersebut, sang Ratu dilamar
oleh Panembahan Senopati untuk menjadi pasangan spiritualnya serta
semua penggantinya nanti, yaitu para raja Mataram.

5. Berasal dari Cerita Kerajaan Maja Pahit (Legenda Ni Mas Ratu Anginangin)

Dalam Serat Darmogandul, sebuah karya sastra Jawa Baru yang menceritakan
jatuhnya Majapahit akibat serbuan Kerajaan Demak, Ni Mas Ratu Anginangin
adalah ratu seluruh makhluk halus di pulau Jawa dan memiliki kerajaan di
laut selatan. Hampir seluruh isi Serat Darmagandul merupakan bentuk turunan
dari cerita babad Kadhiri.

“Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu
Pagêdhongan, Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa; Ni Mas
Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa, kuthane ana sagara kidul
sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. Sakabehe lêlêmbut kang ana ing
lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa, kabeh padha sumiwi
marang Ni Mas Ratu Anginangin.
    ”
“Saat moksanya Sang Prabu Jayabaya dan putrinya yang bernama Ni Mas
Ratu Pagedhongan, Buta Locaya dan Kyai Tunggul Wulung juga sama-sama
moksa. Ni Mas Ratu Pagedhongan menjadi ratu makhluk halus pulau Jawa,
kotanya berada di laut selatan serta dijuluki Ni Mas Ratu Anginangin.
Seluruh makhluk halus yang ada di lautan daratan serta kanan-kirinya
tanah Jawa, semua sama-sama takluk kepada Ni Mas Ratu Anginangin.    ”


________________________________________________________

Hubungan Legenda Ratu Pantai Selatan dengan Para Wali
________________________________________________________


Tulisan Belanda tentang Indonesia

Istilah wali ditujukan pada para guru Islam berasal dari bahasa Arab
(berarti "orang suci"), tetapi gelar sunan berasal dari bahasa Jawa.
Sunan Kalijaga merupakan salah satu Wali Sanga yang paling populer,
dan ia memiliki hubungan yang mendalam dengan Nyai Loro Kidul
karena aspek airnya (di pantai Pemancingan di utara Jawa, kali
memiliki arti "sungai").

Panembahan Senopati Ingalaga (1584–1601), pendiri ekspansi imperial
Mataram, mencari dukungan dewi dari Samudra Selatan (Kanjeng Ratu
Kidul adan Nyai Loro Kidul) di Pemancinang di selatan Jawa.

Ia menjadi pelindung khusus keluarga bangsawan Mataram.
Ketergantungan Senopati pada Sunan Kalijaga dan Nyai Loro Kidul
menurut catatan sejarah mencerminkan ambivalen Dinasti Mataram
terhadap Islam dan kepercayaan asli Jawa.


_____________________________________________________________

Legenda Larangan berpakaian hijau dalam Hubungannya dengan
Ratu Pantai Selatan
_____________________________________________________________

Peringatan selalu diberikan kepada orang yang berkunjung ke
pantai selatan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau.
Mitosnya mereka dapat menjadi sasaran Nyai Rara Kidul untuk
dijadikan tentara atau pelayannya (budak), namun sebenarnya
itu karena air laut pada daerah pantai selatan warnanya
cenderung kehijauan, dan akan sulit ditemukan jika ada korban
tenggelam menggunakan pakaian hijau.

Terdapat kepercayan lokal bahwa jika mengenakan pakaian berwarna
hijau akan membuatnya sehingga membuat pemakainya tertimpa kesialan,
karena hijau adalah warna kesukaannya.

Warna hijau laut (gadhung m'lathi dalam bahasa Jawa) adalah warna
kesukaan Nyi Roro Kidul dan tidak boleh ada yang memakai warna
tersebut di sepanjang pantai selatan Jawa.

Nyi Roro Kidul seringkali menjadi tokoh dalam perfilman Indonesia,
seperti: Kutukan Nyai Roro Kidul, Bangunnya Nyi Roro Kidul,
Dewi Angin-Angin, Susuk Nyi Roro Kidul, dan sebagainya.
_________________________________________________________

Beda Legendara Ratu Kidul dengan Ratu Pantai Selatan
_________________________________________________________

Kanjeng Ratu Kidul adalah tokoh legenda yang sangat populer di kalangan
masyarakat Pulau Jawa dan Bali. Sosok ini secara umum sering disamakan
dengan Nyi Roro Kidul, meskipun sebenarnya beliau berdua sangatlah berbeda.

Kanjeng Ratu Kidul adalah Roh Suci yang mempunyai sifat mulia dan baik hati,
beliau berasal dari tingkat langit yang tinggi, pernah turun di berbagai
tempat di dunia dengan jati diri tokoh-tokoh suci setempat pada zaman yang
berbeda-beda pula.

Pada umumnya beliau menampakkan diri hanya untuk memberi isyarat /
peringatan akan datangnya suatu kejadian penting. Dalam mitologi Jawa,
Kanjeng Ratu Kidul merupakan ciptaan dari Dewa Kaping Telu. Ia mengisi
alam kehidupan sebagai Dewi Padi (Dewi Sri) dan dewi-dewi alam yang lain.
Sedangkan Nyi Rara Kidul awalnya merupakan putri Kerajaan Sunda yang diusir
ayahnya karena ulah ibu tirinya.

Cerita-cerita yang terkait antara "Ratu Kidul" dengan "Rara Kidul" bisa
dikatakan berbeda fase tahapan kehidupan menurut mitologi Jawa.

Kanjeng Ratu Kidul memiliki kuasa atas ombak keras samudra Hindia dari
istananya yang terletak di jantung samudra. Menurut kepercayaan Jawa,
ia merupakan pasangan spiritual para sultan dari Mataram dan Yogyakarta,
dimulai dari Panembahan Senapati hingga sekarang.

Ia juga menjadi istri spiritual Susuhunan Surakarta. Kedudukannya
berhubungan dengan Merapi-Keraton-Laut Selatan yang berpusat di
Kesultanan Solo dan Yogyakarta. Pengamat sejarah kebanyakan beranggapan,
keyakinan akan Kanjeng Ratu Kidul memang dibuat untuk melegitimasi
kekuasaan dinasti Mataram.


____________________________________________________

Macam Cerita Pertemuan dengan Ratu Pantai Selatan
____________________________________________________








1. Cerita Dari Kraton Surakarta

Keraton Surakarta menyebutnya sebagai Kanjeng Ratu Ayu Kencono Sari.
Ia dipercaya mampu untuk berubah wujud beberapa kali dalam sehari.
Sultan Hamengkubuwono IX menggambarkan pengalaman pertemuan spiritualnya
dengan sang Ratu; ia dapat berubah wujud dan penampilan, sebagai seorang
wanita muda biasanya pada saat bulan purnama, dan sebagai wanita tua di
waktu yang lain.

2. Cerita seorang spiritualis

Menurut pengalaman seorang spiritualis pada tahun 1998,
ia bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul di pantai Parang Tritis,
Yogyakarta. Saat itu, Eyang Ratu Kidul didampingi oleh Nyi Roro Kidul.

Keduanya persis tetapi Eyang Ratu Kidul kulitnya kuning langsat,
sementara Nyi Roro Kidul agak coklat. Selain itu, Eyang ratu Kidul
mempunyai aura putih jernih dan gemerlapan seperti berlian, bulat
mengelilingi seluruh tubuhnya. Sedangkan aura Nyi Roro Kidul berwarna
putih susu seperti cahaya lampu neon, tipis putih mengikuti postur
tubuhnya.

Ia diberi penjelasan bahwa Nyi Roro Kidul adalah patih atau kepala
pengawalnya. Nyi Roro Kidul adalah makhluk halus jenis jin yang mengabdi
dan berguru kepada Eyang ratu. Nyi Roro Kidul ditugaskan untuk mengontrol
dan meredam angkara murka dari makhluk-makhluk gaib jenis jin dan
kekuatan gaib serta ilmu gaib yang berada disepanjang pantai selatan
Pulau Jawa.

________________________________________

Awal Mula Legenda Ratu Pantai Selatan
________________________________________

Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan legenda mengenai penguasa
laut selatan dimulai. Namun, legenda mengenai penguasa mistik pantai
selatan mencapai puncak tertinggi karena pengaruh kalangan penguasa
keraton dinasti Mataram Islam (Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan
Surakarta). Dalam kepercayaan tersebut, Kanjeng Ratu Kidul merupakan
"istri spiritual" bagi raja-raja kedua keraton tersebut.

Pada saat tertentu, keraton memberikan persembahan di Pantai
Parangkusuma, Bantul, dan di Pantai Paranggupita, Wonogiri.
Panggung Sanggabuwana di komplek kraton Surakarta dipercaya merupakan
tempat bercengkerama antara Sunan (raja) dengan Kanjeng Ratu.

Konon, Sang Ratu tampil sebagai perempuan muda dan cantik pada saat
bulan muda hingga purnama, terapi berangsur-angsur menua pada saat
bulan menuju bulan mati.

Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul

Dalam keyakinan orang Jawa, Kanjeng Ratu Kidul memiliki pembantu
setia bernama Nyai atau Nyi Rara Kidul. Nyi Rara Kidul menyukai
warna hijau dan dipercaya suka mengambil orang-orang yang mengenakan
pakaian hijau yang berada di pantai wilayahnya untuk dijadikan
pelayan atau pasukannya. Karena itu, pengunjung pantai wisata di
selatan Pulau Jawa, baik di Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Cilacap,
pantai-pantai di selatan Yogyakarta, hingga Semenanjung Purwa di
ujung timur, selalu diingatkan untuk tidak mengenakan pakaian
berwarna hijau.

Di kalangan masyarakat Sunda berkembang anggapan bahwa Ratu Kidul
merupakan titisan dari seorang putri Pajajaran yang bunuh diri di
laut selatan karena diusir oleh keluarganya karena ia menderita
penyakit yang membuat anggota keluarga lainnya malu. Dalam kepercayaan
Jawa, tokoh ini dianggap bukanlah Ratu Laut Selatan yang sesungguhnya,
melainkan diidentikkan dengan Nyi Rara Kidul, pembantu setia Kanjeng
Ratu Kidul. Hal ini berdasarkan kepercayaan bahwa Ratu Kidul berusia
jauh lebih tua dan menguasai Laut Selatan jauh lebih lama sebelum
sejarah Kerajaan Pajajaran

____________________________________________________________________

Macam acara Ritual masyarakat pada keberadaan Ratu Pantai Selatan
____________________________________________________________________


* Melaksanakan Tari Bedaya Ketawang

Naskah tertua yang menyebut-nyebut tentang tokoh mistik ini adalah
Babad Tanah Jawi. Panembahan Senopati adalah orang pertama yang disebut
sebagai Raja yang menyunting Sang Ratu Kidul. Dari kepercayaan ini
diciptakan Tari Bedaya Ketawang dari kraton Kasunanan Surakarta
(pada masa Sunan Pakubuwana I), yang digelar setiap tahun, yang dipercaya
sebagai persembahan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Sunan duduk di samping
kursi kosong yang disediakan bagi Sang Ratu Kidul.

* Melaksanakan Sedekah Laut (Pelabuhan Ratu)

Pelabuhan Ratu adalah sebuah kota nelayan di Jawa Barat. Masyarakat
setempat menyelenggarakan hari suci khusus untuk Kanjeng Ratu Kidul
setiap tanggal 6 April. Hari tersebut merupakan hari peringatan bagi
penduduk lokal dan mereka memberikan banyak persembahan untuk menyenangkan
sang Ratu.

Para nelayan lokal juga menyelenggarakan ritual sedekah laut setiap
tahunnya, memberikan persembahan seperti nasi, sayuran, dan berbagai
produk pertanian, hingga ayam, tenunan batik, dan kosmetik. Persembahan
tersebut dilarungkan ke laut sebagai persembahan untuk Ratu.

Para nelayan lokal percaya persembahan mereka akan menyenangkan Ratu
Laut Selatan sehingga ia akan memberkahi mereka dengan hasil tangkapan
yang berlimpah serta memberikan cuaca yang bagus, tidak terlalu banyak
badai serta ombak.

Di sekitar lokasi pantai Palabuhan Ratu, tepatnya di Karang Hawu,
terdapat petilasan (persinggahan) Ratu Pantai Selatan yang dapat
dikunjungi untuk melakukan ritual tertentu ataupun hanya sekedar
melihat-lihat.

Di komplek keramat ini terdapat sekurangnya dua ruangan besar yang
didalamnya terdapat beberapa makam yang dipercaya penduduk sebagai
makam Eyang Sanca Manggala, Eyang Jalah Mata Makuta, dan Eyang Syeh
Husni Ali. Di beberapa ruangan juga terpampang gambar penguasa
Laut Selatan.

Kanjeng Ratu Kidul juga diasosiasikan dengan Parangtritis, Parangkusumo,
Pangandaran, Karang Bolong, Ngliyep, Puger, Banyuwangi, dan berbagai
tempat di sepanjang pantai selatan Jawa seperti Tulungagung.

Pantai Parangkusumo dan Parangtritis di Yogyakarta sangat berhubungan
dengan legenda Kanjeng Ratu Kidul. Parangkusumo merupakan tempat Panembahan
Senapati bertemu Kanjeng Ratu Kidul. Saat Sri Sultan Hamengkubuwono IX
meninggal tanggal 3 Oktober 1988, majalah Tempo menulis bahwa para
pelayan keraton melihat penampakan Kanjeng Ratu Kidul untuk menyampaikan
penghormatan terakhirnya kepada sri sultan.


Masyarakat nelayan pantai selatan Jawa setiap tahun melakukan sedekah
laut sebagai persembahan kepada sang Ratu agar menjaga keselamatan
para nelayan dan membantu perbaikan penghasilan. Upacara ini dilakukan
nelayan di pantai Pelabuhan Ratu, Ujung Genteng, Pangandaran, Cilacap,
Sakawayana dan sebagainya.

Sebagian besar para wisatawan yang berkunjung baik itu lokal maupun
manca negara datang ke Pelabuhan Ratu karena keindahan panoramanya
sekaligus tradisi ritual ini. Disaat-saat tertentu banyak acara ritual
yang sering digelar penduduk setempat sebagai rasa terima kasih mereka
terhadap sang penguasa laut selatan.

* Menyiapkan Ruang khusus di hotel

Pemilik hotel yang berada di pantai selatan Jawa dan Bali menyediakan
ruang khusus bagi Sang Ratu. Yang terkenal adalah Kamar 327 dan 2401
di Hotel Grand Bali Beach. Kamar 327 adalah satu-satunya kamar yang
tidak terbakar pada peristiwa kebakaran besar Januari 1993. Setelah
pemugaran, Kamar 327 dan 2401 selalu dirawat, diberi hiasan ruangan
dengan warna hijau, diberi suguhan (sesaji) setiap hari, tidak untuk
dihuni dan khusus dipersembahkan bagi Ratu Kidul.

Hal yang sama juga dilakukan di Hotel Samudra Beach di Pelabuhan Ratu.
Kamar 308 disiapkan khusus bagi Ratu Kidul. Di Yogyakarta, Hotel Queen
of The South di dekat Parangtritis mereservasi Kamar 33 bagi Sang
Kanjeng Ratu.

Hotel Samudra Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, menyediakan
kamar 308 yang dicat berwarna hijau untuk Kanjeng Ratu Kidul. Setidaknya
pada awal tahun 1966, presiden pertama Indonesia, Sukarno, terlibat
dalam penentuan lokasi serta ide Hotel Samudra Beach Hotel.

Di depan kamar 308 terdapat pohon Ketapang tempat Sukarno memperoleh
inspirasi spiritualnya. Di dalam kamar tersebut juga dipasang lukisan
terkenal "Nyai Rara Kidul" oleh Basuki Abdullah.

_________________

Penutup
_________________

1. Yang dimaksud Ratu Pantai Selatan atau Ratu Lut Selatan adalah
   "Nyi Roro Kidul" atau "Nyai Roro Kidul" atau "Nyai Loro Kidul" atau
   "Nyi Rara Kidul"

Tapi...!

Ada juga yang memaksudkannya "Kanjeng Ratu Kidul" sementara yang
lain tidak memaksudkannya, karena Nyi RoroKidul adalah bahawannya
Kanjeng Ratu Kidul

2. Lewat versi Kerajaan Pajajaran, Nyi Roro Kidul itu adalah Dewi
   Kadita. Juga ada yang berpendapat Putri Banyu Bening Gelang Kencana

3. Lewat versi cerita Kerajaan Majapahit Nyi Roro Kidul itu adalah
   Ajar Cemara Tunggal juga Ni Mas Ratu Anginangin

4. Lewat Versi ceritaKerajaan Mataram Nyiroro Kidul itu adalah
   Kanjeng Ratu Kidul

Selamat malam...!




________________________________________________________________________________
Cat :

http://archive.kaskus.co.id/thread/4925594/8660#8665
____________________