“Muda mangulang rap margulu, ippal songon palu-palu. Pambangunan bisa lalu muda gogotta di padomu "SALAMAT MAMBANGUN ANGKOLAKU TU SUDE SENDI KEHIDUPAN"

Senin, 20 Oktober 2014

Tanku Rao : Dari Danau Toba sampai ke Lagu Boti untuk kemudian ke Sipirok dan lutcat ke Lubuk Sikaping terus ke Agam

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info perjalanan Pongki nagolngolan Dari Danau Toba sampai
ke Agam sebelum belia disebut Tuanku Rao lewat ilustrusi kunjungan
sang Anak Namboru di Padang Sidimpuan  menemui Boru Tulangnya di
Batang Toru)
* Tulisan ke-3 dari Buku Tuanku Rao
______________________________________________________________












___________________

Kata Pengantar
___________________

Horas...horas...horas...!

Horas para Anak Namboru dan Boru Tulang se Tano Batak dimanapun berada...!

Alkisah...!

Tiga (3) Tahun yang lalu yang mana tahunnya anda tetapkan sendiri, seorang
Anak Namboru di Padang Sidippuan menikahlah sama Boru Jawa, karena rasa
sayangnnya. Selama pernikahan mereka punya anak satu dengan nama si Horas.

Dan ini gambaran sayang-nya,

Musik...!


Sekitar setahun yang lalu, boru Tulangnya di Batu Nadua menikah pula
sama seorang pemuda asal Batang Toru untuk kemudian tinggal di sana
bersama suaminya yang profesinya menjadi supir ALS Medan - Jakarta
dan merekapun belum punya anak.

Sehari-harinya sang Boru Tulang ini berjualan Sembako sekaligus membuka
lopo kopi disamping warungnya.

Suatu hari berkunjunglah sang Anak Namboru ini ke Warung sang Boru Tulang
ini di Batang Toru karena dia merasakan ada sedikit kerinduan setelah
3 tahun tidak bertemu.

Setelah ketemu dan marsijalangan untuk kemudian saling menanya kabar diri
dan keluarga masing-masing maka berkatalah sang boru Tulang.

Boru Tulang :

Kan uda kubacanya tulisanmu yang di angkolafacebook.blogspot.com itu Anak
Namboru. Tulisan mengenai Resensi dan Saran buku Tuanku Rao itu. Karena
itu saya sudah punya gambaran bagaimana bentuk dan isi buku tersebut
meskipun saya tidak pernah melihatnya dan manjamana (memegangnya) secara
langsung.

Juga sudah saya baca tulisan dengan judul "Letleti". yang berada di alamat
......
sehingga saya juga sudah Paham bahwa yang namanya Tuanku Rao = Pongki
Nangolngolan Sinambela = Umar Khatab = Umar Batak = Wali Susuhunan = Panglima
Perang Padri = Haji Tuanku Rao

Pertanyaannya Anak Namboru...!

"Bagaimna ceritanya si Pongki Nangolngolan bisa sampai ke-Padang setelah
beliau dibenamkan Sisingamangaraja X ke Danau Toba dalam usiannya yang
masih 9 Tahun itu...?

Anak Namboru :

Okela Boru Tulang...! Tapi sebelum saya ceritakan bikinla dulu Kopi, kalau
ada kopi Sipirok, kopi yang sodap yang nomor satu di dunia itu.

Boru Tulang :

Ngak ada kopi Sipirok Anak Namboru...! Yang ada "Kopi Kapal Api-nya...!"

Anak Namboru :

Bungkus kopi Sipirok-nya ada Boru Tulang...?

Boru Tulang :

Ada, Anak Namboru...!

Anak Namboru :

Kalau begitu tuangkan dulu Boru Tulang Kopi Kapal Api itu ke bungkus Kopi
Sipirok-nya, setelah itu baru tuangkan kegelasnya, biar seperti kopi Sipirok
rasanya. Pahamkan Boru Tulang....?

Boru Tulang :

Paham Anak Namboru...!

...........................................................................
...........................................................................
.....beberapa saat kemudian :

Ini Anak Namboru...!
Dan silahkan lanjutkan ceritanya...!

Tolado di catatkan Anak Boru...?























Anak Namboru :

Oke Boru Tulang...! Tola.

Cerita ini akan saya susun dengan urutan proses kejadian :

1. Proses Penuntutan 3 orang Datu pada Sisingamangaraja X agar
   Pongki Nangolngolan di Hukum Mati di Danau Toba

2. Proses Kejadian Pembenaman si Pongki Nangolngolan di Danau Toba
   pada Usia sembilan Tahun oleh Sisingamangaraja X setelah menerima
   saran dari 3 orang Datu

3. Proses kejadian Pongki Nangolngolan menyelamatkan diri dari Hukuman
   penenggelaman dirinya di Danau Toba

4. Pongki Nangolngolan Sinambela berganti Marga jadi Pongki
   Nangolngolan Marpaung sebelum berangkat ke Lagu Boti untuk kemudian
   ke Sipirok

5. Pongki nangolngolan Sinambela = Pongki Nangolngolan Marpaung sampai
   di Sipirok
___________________________________________________________________

1. Proses Penuntutan 3 orang Datu pada Sisingamangaraja X agar
   Pongki Nangolngolan di Hukum Mati di Danau Toba
___________________________________________________________________

Anak Namboru :

Alkisah Boru Tulang...!

Setelah si Pongki ini diketahui sebagai hasil hubungan gelap antara Ibotonya
si Putri Ganan Sinambela dengan uwanya Sisingamangaraja VIII, maka 3 orang Datu
besar di kerajaan Sisingamangaraja ini menuntut pada Sisingamangaraja X agar
si Pongki Nangolngolan ini di Hukum mati.

Alasannya Boru Tulang...!

Para datu ini takut, kalau-kalau kejadian seperti ini akan ditiru pula oleh
masyarakat Tanah Batak pada masa itu. Padahal hal ini terlarang karena
melanggar prinsif Dalihan na Tolu atau adat batak.

Untuk menguatkan pendapat para Datu ini Boru Tulang,,,! Disuatu saat merekapun
menendung atau dalam bahasa angkola "mangaligi lewat kepintaran hadatuonnya"
lewat se ekor ayam di depan si Pongki dan Sisingamangaraja ke X.

Dari hasil menendung/mangaligi ini boru tulang mereka mengatakan bahwa suatu
saat si Pongki nangolngolan ini akan membunuh Sisingamangaraja X ini. Padahal
pada saat itu Sisingamangaraja sangat menyayangi si Pongki ini yang sekaligus
keponakannya/bere-nya.

Singkat cerita boru Tulang...!

Tuntutan ke 3 datu inipun dituruti oleh Sisingamangaraja X. Meski dia sayang
pada berenya ini tapi tetap harus dihukum matinya.

Sampai disitula dulu boru Tulang...!
Mangopi dulu la ya...!
Ngak ngopi kau Boru Tulang...?

Boru Tulang :

Ngak Anak Namboru...! Penasaran saya. Lanjutlah ceritanya.
________________________________________________________________

2. Proses Kejadian Pembenaman si Pongki Nangolngolan di Danau Toba 
   pada Usia sembilan Tahun oleh Sisingamangaraja X setelah menerima
   saran dari 3 orang Datu
_________________________________________________________________





















Anak Namboru :

Lanjut cerita Boru Tulang...!

Disuatu hari di ikatlah si Pongki ini di sebatang kayu. Tapi karena kayu pada
umumnya tidak tenggelam, maka dikasihlah pemberatnya batu-batu sehingga pada
saat diceburkan ke danau toba kayu, si Pongki dan batu pemberatnya sama-sama
tenggelam.

Boru tulang naso jadi Parumaen ni dainang...!

Pada saat proses pengikatan ini sebenarnya disaksikan juga oleh ibunya si
Pongki yaitu Putri Gonan dan ibunya inipun memakai baju putih-putih untuk
kemudian siap mati juga bersama si Pongki ini jika jadi di hukum mati.

Begitupun...!

Pada saat proses pengikatan terjadi ibunya ini, memberontak juga dan berusaha
untuk menghalang-halanginya. Juga Sisingamangaraja berusaha untuk menghindari
hukuman mati ini, tap tetap tidak berhasil.

Selanjutnya Boru Tulang...!

Setelah di ikat maka dibawa para Algojo inilah Si Pongki Nangolngolan ini
ketengah Danau Toba dengan tujuan untuk ditenggelamkan. Sisingamangarajapun
ikut dalam perahu yang membawanya.

Nah Boru tulang...!

Lewat Kris doppaknya Sisingamangaraja X ini mengelabui para Algojonya. Dia
berhasil Boru Tulang melonggarkan ikatan tali itu sebelum ditenggelamkan
di danau Toba.














Singkat cerita Boru Tulang...!

Ditenggelamkanlah beliau dan ketiga datu inipun melihat kejadiannya dari
pinggir danau toba, untuk kemudian mereka para Algojo dan Sisingamangaraja X
kembali kedarat.

Macam mana Boru Tulang...!
Hebatkan ceritanya...?

Boru Tulang :

Hebat Anak Namboru...!
Jadi ingin tahu pula saya, apakah si Pongki ini berhasil meloloskan diri.

Anak Namboru :

Hahahaha....hehehe...!
Teringatnya Boru Tulang...!
Masihnya kau ingat waktu berduaan kita di Si Mago-mago ito...!
Terpijak boru tulang te ni horbo, untuk kemudian sipatunya boru tulang
tertinggal di te ni horbo tersebut...?

Boru Tulang :

Ulang beda ingot-ingoti Anak Namboru...! Ma ina-ina doda au. Nasa jodoh hita.
Hope tai madung adongdo adaborumu...!

















Anak Namboru :

Olo nian...!
Kalau begitu kita lanjut sajalah cerita ini...!

______________________________________________________________

3. Proses kejadian Pongki Nangolngolan menyelamatkan diri dari Hukuman
   penenggelaman dirinya di Danau Toba
______________________________________________________________

Boru Tulang :

Bagaimana...! Berhasil ngak si Pongki Nagolngolan ini menyelamatkan diri,
jadi ngolngolan iba mangihonna.

Anak Namboru :

Berhasil Boru Tulang. Tali pengikat tangannya atau badannya terlepat untuk
kemudian dia pingsan dan terhanyut kepinggiran danau tersebut, yang pada
akhirnya ditolong oleh si Lintong Marpaung di Rumonda yaitu permulaan dari
mengalirnya sungai Asahan.

Boru Tulang :

Torus...!

Anak Namboru :

Si Lintong ini sebenarnya merasa takut juga menolongnnya, karena dia tahu
resiko yang dihadapinya. Maka untuk mengatasinya dibawanyalah si Pongki
ini kerumahnya tengah malam.

____________________________________________________________________

4. Pongki Nangolngolan Sinambela berganti Marga jadi Pongki
   Nangolngolan Marpaung sebelum berangkat ke Lagu Boti untuk kemudian 
   ke Sipirok
____________________________________________________________________

Lanjut Boru Tulang e...eee...! Lanjut...e...eee. E...boru tulang...e...!

Al hasil setelah menimbang macam hal, maka si Lintong Marpaung inipun
berinisiatif untuk mengganti marga si Pongki jadi Marpaung. Dan ini akan
sangat aman mengingat beliau merencanakan untuk membawa si Pongki ini
ke Lagu Boti.

Boru Tulang :

Dan akhirnya Anak Namboru...?





















Anak Namboru :

Maka dibawalah sama si Lintong Marpaung ini si Pongki Nangolngolan
Sinambela ini ke Laguboti dengan nama si Pongki Nangolngolan Marpaung.

Di Lagu Boti ini, si Lintong Marpaung dan si Pongki menjual burung pada
si Sahala Simatupang seharga 3 ringgit untuk kemudian menjadi modal mereka
berangkat ke Sipirok Angkola bersama Rombongan Sahala Simatupang.

Boru Tulang :

Mau ngapain orang toba itu ke Sipirok Anak Namboru. Mengapa tidak ke
daerah lain, seperti ke arah Si Bolga...?

Anak Namboru :

Seperti kita kehui boru tulang, sudah dari jaman baholak, bahkan sampai
awal tahun 70'an masih terasa dan cukup sering terlihat orang-orang Toba
bekerja disawah-sawahnya orang Sipirok dan ini sering terjadi pada saat
Panen.

Begitupun pada masa itu, rombongan Sahala Simatupang ini datang ke
Sipirok dengan maksud mencari hepeng pada masa sekarang atau mungkin
ringgit pada masa lampau.

Mereka ingin ikut mardege (Manginjak padi) atau manyabi dengan harapan
dapat diberikan imbalan, untuk kemudian mereka bawa pulang lagi ke
hutanya di Lagu Boti. (baca hal.64-pen).

Singkat cerita Boru Tulang, maka si Pongki Nangolngolan inipun yang
mungkin dipikiran rombongan pada masa itu adalah marga Marpaung
akhirnya ikut juga ke Sipirok.
_____________________________________________________________________

5. Pongki nangolngolan Sinambela = Pongki Nangolngolan Marpaung sampai
   di Sipirok
______________________________________________________________________








http://angkolafacebook.blogspot.com/2013/08/silsilah-tarombo-siregar-bagasnagodang.html

Boru Tulang :

Bagaimana ceritanya si Pongki ini Anak Namboru di Sipirok...?

Anak Namboru :

Karena dia ikut bersama rombongan yang sudah dewasa, maka beliapun
dengan sendirinya tidak ikut mangomo (Mardege/panen). Beliau memisahkan
diri dari rombongan untuk kemudian ikut keluarga Ja Baun atau Raja Baun
Siregar jadi pemelihara kudanya. Dan ini tidak sulit baginya karena sudah
punya pengalaman selama di Bakkara.

Selainnya pemelihara kuda Boru Tulang, ternyata si Pongki ini juga di
bikin Marorot sama ja Baun dan istrinya. Mereka rupanya punya anak
dengan panggilan si Utcok.

Beliau sangat dekat dengan keluarga ini. Si Utcok yang diparorot (ditemani/
disayangi/dijaga) sangat menykai si Pongki ini, hingga beliau betah
tinggal di keluarga Ja Baun ini selama 6 Tahun.

Cat :
(Si Utcok ini adalah Patuan Soripada Siregar yang kemudian menjadi kawannya
setelah 20 tahun kemudian menyerang Batak Toba-hal.65)

Boru Tulang :

Kenapa cuma 6 Tahun Anak Namboru di Sipirok...?

Anak Namboru :

Si Pongki ini merasa takut, suatu saat keberadaanya akan diketahui oleh
3 datu yang mengusulkannya untuk dibunuh, karena beliau diramalkan akan
membunuh Sisingamangaraja X setelah dewasa.

Dia takut Boru Tulang, orang-orang Toba yang datang ke Sipirok itu setiap
masa Panen akan membunuhnya dengan cara di racuni atas perintah si 3 Datu
tersebut.

Dan akhirnya beliapun keluar dari keluarga Jabaun ini untuk kemudian
berangkat ke Parau Sorat.

Boru Tulang :

Terus...! Ikut siapa pula dia di Parau Sorat ini Anak Namboru...?

Anak Namboru :

Beliau ikut Ja Mangarait Nasution. Ya Jamangarait Nasution Boru Tulang.
Belia saat itu memiliki 24 kuda beban untuk dijual ke Datuk Bendaharo
di Lubuk Sikaping guna dipakai untuk berperang


















Setelah mengetahui keahlian si Pongki Nangolngolan Sinambela ini, pada
akhirnya diajaklah beliau keLubuk Sikaping oleh Ja Mangarait Nasution.

Boru Tulang :

Berarti markudo ma halai tu sadu ate Anak Namboru. Dan tentunya lewat
Padang Sidempuan pula. Manekong (Belok kanan) orang itu kali di
Parsobolas ya Anak Namboru.

Anak Boru :

Iya kali Boru Tulang...! Kalau belok kiri pula tentu mereka lutcat
(tembus) ke Pakanbaru, sedangkan Datuk Bendaharo adanya di Padang.

Boru Tulang :

Terus Anak Namboru, bagaimana ceritanya setelah sampai di Lubuk si
Kaping, ketemu sama datuk Bendaharo ini...?






















Anak Namboru :

Ala Boru Tulang, keluarkanlah dulu makanan yang enak-enak itu.
Masa cerita terus, "Ne adong dope kiriman lomang panggelong kue
lapani...?

Boru Tulang :

Olo tehe...! Oisdah Anak Namboru malupa au haran ni tabo ni caritomon.
Paitte  sattokinda aso hubuat.

maka attong dibuat si Boru Tulang itulah..................................
..........................................................................
untuk kemudian :

Indon Anak Namboru...!
Pangan mada. Makanlah...!





















Anak Namboru :

...ngaup...ngaup...ngaup...tabo do tai boru tulang. Pangan mada di ho
sebagian.

Boru Tulang :

Na pola beda, sudah kumakan itu sabagian napotangin...!

Anak Namboru :

Potong cerita boru Tulang...!
Mur jeges doho huidada nung ina-ina on, mabottar muse. Pas songon boru
Jerman ho ida sannari Boru Tulang ba...! Biasi ma attong ra ho kawin
tu Supir. Nama itingal-tinggalkon ia hobo...! Bi noto ho aha karejo nia
di luatan. Setia dope narohamu ia-i sanga inda boru Tulang...? Cubo rap
hita, tottu nai rasoi ho ditingal-tinggal.

Boru Tulang :

Ulang ho mamanas-manasi Anak Namboru...! Hu paorot ho annon sian lopo on.
Hu paboa annon tu Uma ni si Horas so i rasoi ho...! Palanjut caritomi
gonan.

Anak Namboru :

Berpelukanlah dulu kita Boru Tulang, biar saya lanjutkan cerita ini.
Kalau kau ngak mau, ngak mau saya melanjutkannya...! kayak
gambar kelender yang itu  boru tulang...!


















Boru Tulang :

Inda naberes beho hurasa anak namboru. Ma-adong adaborumu, aupe ma
adong haklahikku, got mangido berpelukan dopeho. Oh...Tuhanku...!
Pahapalda keimanan ni Anak Namborukkon. Nanggo nai boto ia da Tuhan
nabahaya namangaluon.

Mulak noma abang gonan. Tak usah disambung ceritanya lagi. Jadi
mabiar au. Mulak ho gonan Anak Namboru. Oban lomangi muda got
obanonmu. Unang sanga bikkas hurasa mangida hamu sude hak lahion.
Molo adong giot munu namalo-maloan hamu. Mulak de abang sanga inda.
Aso hupaboa tu Uma ni si Horas sannari.

Anak Namboru :

Mulak pe au Boru Tulang...!
Sala ma au disi...! Unang paboa tu Uma nisi Horas, mate au naron...!

Anggo songoni ke ma au...!

Assalamu'alaikum...!

Boru Tulang :

Waalaikumsalam...!

Isi pikiran Sang Boru Tulang setelah berpisah :

Setelah dia mengusir sang Anak Namboru, dia menjadi bingung. Hatinya
seolah berperang dengan perasaannya. Sudah dua bulan dia ditinggal
sumainya padahal perjalanan Medan Jakarta paling lama cuma 4 Hari.
Nasib...nasib..! Songonon mahape muda kawin tu Supir. "Mudah-mudahan
unang songon nai rasoion irasai halak" kata hatinya untuk kemudian manutup
warungnya. Sementara dari rumah tetangganya tarbege :

Ulang ho manyosal anggi Parmotor do au...!

Musik...!





Isi pikiran Sang Anak Namboru setelah berpisah :

"Yang macam mananya aku ini ya, bagaimana aku bisa berkata seperti itu.
Masa aku minta berpelukan sama boru tulangku yang sudah menikah. Bagaimana
kalau tahu suaminya dan tahu pula istri saya. "Ahgh...hhh....nasusama
namnagoluon...! "Nabiado perasakon Tuhanku...!" kata hatinya untuk kemudian
mengontrol dirinya dengan berkata, "Sumbayang majoda...".























______________

Penutup
______________

Demikian kisahnya si Pongki nangolngolan Sinambela para kawan dalam
perjalanannya dari Danau Toba sampai ke Lubuk Sikaping untuk kemudian ketemu
sama Datuk Bendaharo.

Dan mohon maaf, "Bagaimana ceritanya si Pongki Nangolngolan ini ketemu sama
datu Bendaharo untuk kemudian di bawa ke Agam tak dapat diceritakan, karena
si Boru Tulang pendengar cerita mengamuk gara-gara situkang cerita minta
berpelukan".

Selamat malam...!
__________________________________________________________________
Cat :
* Tentang sambungan cerita ini dapat diketahui lewat link (...menyusul)

* Kisah tentang si Anak Namboru dan Si Boru Tulang di atas jelas adalah hayal.

Bagaimana dengan isi ceritanya apakah hayal...?

1. Apakah nama wialyah Danau Toba, Lagu Boti, Sipirok, Parau Sorat, Lubuk
   Sikaping dan Agam adalah hayal.

2. Apakah nama Ja Baun di Sipirok adalah hayal...?

3. Apakah Marga Marpaung dan Simatupang di Sipirok adalah hayalan...?

4. Apakah Marga Nasution ada di Parau Sorat adalah hayalan...?

5. Apakah orang-orang Toba masa lampau yang datang berbondong-bondong
   ke Sipirok pada saat panen adalah hayalan...?

6. Apakah Marga Sinambela adalah hayalan...?

7. Apakah orang yang hidup kalau ditenggelamkan pasti mati...?

8. Apakah kuda ada di Tanah Batak adalah hayalan...?

9. Apakah Sisingamangaraja adalah hayalan...?

...dan...

mana yang hayalan untuk sampai ke Agam (Padang) kalau kita dari Danau
Toba atau Tapanuli Utara :

a. Kita terlebih dahulu melewati Lagu Boti terus ke Sipirok terus ke
   Parau Sorat lanjut ke Padang Sidempuan tembus ke Panyabungan dan
   Panti untuk kemudian ke agam.

...atau...

b. kita dari Danau Toba terus ke singkil tembus ke Barus baru ke Batang Toru
   untuk kemudian ke Sipirok dan melanjut ke Tarutung baru ke Gunung Tua
   terus ke Panyabungan baru ke Si Bolga untuk kemudian sampai ke Agam.

Sudahkah anda membaca buku "Antara Fakta dan Hayal Tuanku Rao"
Jika belum...! Maka penulis juga belum.