Friday, January 30, 2015

Legenda Putri Hijau : Simbolisme Perlunya Rasa Hormat Anak Boru (Masyarakat Aceh) pada Moranya (Masyara Melayu Deli & Batak Karo)


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak cerita Putri Hijau dengan tanpa melihat
versi cerita  Melayu Deli atau Batak Karo)
_______________________________________________________________












_________________

Kata Pengantar
_________________

Seperti kita ketahui, sungguh banyak peristiwa masa lalu dalam
kisah ceritanya terdiri dari macam versi cerita atau sisi
tinjauan.

Tak terkecuali...!

Cerita Putri Hijau yang mana satu mengatakan berasal dari Karo
dan satu lagi berasal dari Melayu Deli (Isi cerita saling
berhubungan)

Postingan ini tidak lah menceritakan bagaimana cerita putri Hijau
Melayu Deli, tapi justru merangkumnya dengan harapan, isi rangkuman
inilah nantinya yang akan jadi bahan cerita bagi pembaca jika ingin
bercerita mengenai putri hijau ini.

Oya...!

Pada masa yang telah berlalu Kisah legenda "Putri Hijau" ini sekitar
tahun 70-an ketika "Opera" atau "Ludruk" mengenai Putri ini di
pentaskan di daerah Melayu tepatnya daerah Batu Bara atau Batu Baro
telah menyebabkan perang antara warga Aceh dengan warga Melayu yang
mana warga Batak sendiri berpihak pada warga Melayu.

Demikian yang penulis tangkap dari hasil cerita istri penulis atau
Megawati Hutasuhut yang memang lahir di daerah paling suka mengganti
huruf "a" jadi "O" yaitu Batu Baro. Perang tersebut menyebabkan
kurang lebih 10 orang meninggal dunia.



















Ket :
Megawati Hutasuhut

Dan itulah sebabnya...!

Postingan ini berjudul seperti tertulis di atas sehingga dapat
dipahami oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat
Aceh - Melayu pada khusunya, "Bahwa Legenda bukanlah alasan
yang tepat untuk menciptakan perang saudara apalagi dimasa
sekarang ini". Legenda belum tentu benar, tapi nyawa sudah
melayang duluan. Alangkah serunya hidup ini...!

Selamat menyimak...!
___________________________________________________________________

Putri Hijau dalam hubungannya dengan waktu kejadian dan kejadi
perang 4 Kerajaan di Selat Malaka
___________________________________________________________________











Ket :
Putri Hijau (Wiki)

- Diperkirakan kejadian ini terjadi sekitar abad 15 dan 16

- Pada masa ini 4 Kerajaan yaitu di  zona dataran rendah Aceh,
Sumatera Timur, dan semenanjung Malaysia. Empat kerajaan saling
bantai, berkonspirasi, dan saling menaklukkan untuk memperebutkan
kekuasaan pada zona perdagangan internasional.






















Ket :
Wilayah Melayu Batu Baro (Selat Malaka)

- Mereka memperebutkan kekuasaan ini diwilayah yang kita sebut
sekarang ini Selat Malaka.
___________________________________________________________________

Putri Hijau dalam hubungannya kelahirannya di Tepi Sungai Deli
___________________________________________________________________

- Di tengah kecamuk perebutan kue ekonomi itu, pada tepian sungai
Deli–tepatnya sekitar 9 km dari Labuhan Deli–lahirlah sebuah
legenda klasik bernama Puteri Hijau.

- Ia kemudian dinamai Puteri Hijau.

- Dalam hikayatnya, Sang Puteri memiliki dua saudara kembar yang
dipercaya adalah seekor naga bernama Ular Simangombus dan sebuah
meriam bernama Meriam Puntung.
___________________________________________________________________

Putri Hijau dalam gambaran wajah dan adanya  istilah hijau
___________________________________________________________________








- Legenda Sang Puteri yang selalu digambarkan dengan segala kosa
kata kecantikan, bertahan hingga kini dalam dua versi. Versi
pertama berasal dari catatan sejarah yang mirip cerita lisan
yang berkembang di masyarakat Melayu Deli. Versi kedua adalah
hikayat dari masyarakat Karo. Keduanya bertentangan dan kelihatan
sekali saling berlomba menonjolkan identitas dan ego suku
masing-masing.





















- Kecantikannya memancarkan warna kehijauan yang
berkilau dan menjadi kesohor ke berbagai pelosok negeri, mulai
dari Aceh, Malaka, hingga bagian utara pulau Jawa.
________________________________

Putri Hijau dan 2 adiknya
_________________________________













Alkisah, Ular Simangombus memiliki selera makan yang luar biasa.
Ia digambarkan seakan tidak pernah kenyang. Rakyat akhirnya tidak
sanggup lagi menyediakan makanan untuk naga ini,
sehingga Sang Puteri bersama kedua saudaranya memutuskan pindah
ke hilir sungai dan menetap di sebuah perkampungan baru yang
sekarang dikenal dengan nama Deli Tua. Di sini, para pengikutnya
membangun benteng yang kuat. Dengan demikian, negeri itu cepat
makmur.
_________________________________________________________

Hubungan Putri Hijau dan Raja Aceh serta Meriam Puntung
dan Ular Simangombus
_________________________________________________________























Ket :
Raja Aceh (Ilustrasi)

Kecantikan Sang Puteri yang menyebar seperti kabar burung ke
segala penjuru, suatu ketika mendarat di telinga Raja Aceh.
Ia lantas kepincut dan mengirim bala tentara untuk meminang
Puteri Hijau. Utusan langsung dikirim. Pantun bersahut-sahutan.
Tapi pinangan ini ditolak dan membuat Raja Aceh betul-betul
dilanda murka. Ia merasa diri dan kerajaannya dihina sehingga
jatuhlah perintah untuk segera menyerang benteng Puteri Hijau.
Tapi karena bentengnya sangat kokoh, pasukan Aceh gagal
menembusnya.

Menyadari jumlah pasukannya makin menyusut setelah banyak yang
terbunuh, panglima-panglima perang Aceh memakai siasat baru.
Mereka menyuruh prajuritnya menembakkan ribuan uang emas ke
arah prajurit benteng yang bertahan di balik pintu gerbang.
Suasana menjadi tidak terkendali karena para penjaga benteng
itu berebutan uang emas dan meninggalkan posnya. Ketika mereka
tengah sibuk memunguti uang logam, tentara Aceh menerobos masuk
dan dengan mudah menguasai benteng.

Pertahanan terakhir yang dimiliki orang dalam adalah salah seorang
saudara Puteri Hijau, yaitu Meriam Puntung. Tapi karena
ditembakkan terus-menerus, meriam ini menjadi panas, meledak,
terlontar, dan terputus dua. Bagian moncongnya tercampak ke
Desa Sukanalu Simbelang, Kecamatan Barusjahe. Sedangkan bagian
sisanya terlontar ke Labuhan Deli, dan kini ada di halaman
Istana Maimoon Medan.

Melihat situasi yang tak menguntungkan, Ular Simangombus,
saudara Sang Puteri lainnya, menaikkan Puteri Hijau ke atas
punggungnya dan menyelamatkan diri melalui sebuah terusan
(Jalan Puteri Hijau), memasuki sungai Deli, dan langsung ke
Selat Malaka.
___________________________________________________________

Putri Hijau yanng tetangkap dan tidak tertangkap
___________________________________________________________





















Ket :
Pulau Berhala - Selat Malaka

- Dan hingga sekarang kedua kakak beradik ini
dipercaya menghuni sebuah negeri dasar laut di sekitar
Pulau Berhala Selat Malaka

- Namun sebuah anak legenda menyebutkan bahwa Puteri Hijau
sebenarnya sempat tertangkap. Ia ditawan dan dimasukkan dalam
sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya
dibawa ke Aceh. Ketika kapal sampai di Ujung Jambo Aye, Putri
Hijau memohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti
diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, ia diberikan
berkarung-karung beras dan beribu-ribu telur.

Tetapi baru saja upacara dimulai, tiba-tiba berhembuslah angin
ribut yang maha dahsyat, disusul gelombang yang tinggi dan
ganas. Dari perut laut muncul jelmaan saudaranya, Ular
Simangombus, yang dengan rahangnya mengambil peti tempat
adiknya dikurung. Lalu Puteri Hijau dilarikan ke dalam laut
dan mereka bersemayam di perairan pulau Berhala.

Menurut cerita ini, saudara-saudara Puteri Hijau adalah manusia-
manusia sakti yang masing-masing bisa menjelma menjadi meriam
dan naga. Memang, cerita lisan selalu mewariskan banyak versi
sesuai selera masing-masing penceritanya.




















Ket :
Putri Hijau dan Naga simangombus (Ilustrasi)

Kabarnya, setelah di bawa pergi oleh Saudaranya, Ulat Simangombus.
Sang raja Aceh membawa sebagian hartanya dan orang orang
kepercayaannya. Namun, saat sang Raja pulang. Sang Raja
Aceh tidak membawa harta dan para prajurit pilihannya.
___________

Penutup
____________

Demikian rangkupan ceritanya para kawan...!

Dan jika penulis menangkap pesan moralnya, maka penulis ingin
berkata pada masyarakat Aceh, "Sungguh kisah ini merupakan
pelajaran bagi para pemudanya atau orang-orang tuannya orang
Aceh agar berlaku baiklah pada putri-putri Melayu Deli (Mora)
baik sekarang ini yang lagi pacaran maupun yang sudah 
berkeluarga.


Hidup cuma sekali tapi belajar berkali-kali...!

"Jika hidup ingin menjadi orang baik, maka legendapun dapat
menjadi bahan pelajaran untuk menjadi baik".

Jayalah masyarakat Aceh...!
Makmurlah masyarakt Deli...!
...dan...
Damailah masyakat Batak...!

"Kiranya Legenda Putri Hijau jangan menjadi alat perpecahan
diantara masyarkat Aceh, Melayu dan Batak Karo, tapi justru
menjadi alat pemersatu".



















Horas...horas...horas...!
_____________________________________________________________
Cat :
* Penulis punya ito Br. Regar yang menikah sama Putra Aceh
  dan katanya, "Sebagian besar Putra Aceh itu telah menempatkan
  harganya dirinya melebihi harga Cabe, hingga si Boru Regar
  cukup sering berkata, "Cabe-deh pedas-deh. Suami Ace-deh
  harus tahan Cape-deh".
* Mangombus = Meniup
* Salam hormat penulis  untuk masyarkat Melayu Deli

* Oya jangan lupa baca do'a ini sebelum tidur, mimpi pula
kalian nanti gara-gara baca cerita ini. Iya kalau mimpinya
ketemu sama Putri Hijau mungkin masih enak, tapi kalau
ketemu sama Ulok Simangombusnya, apa ngak troktokon
anda / mangombus ombus. Ini do'anya :









PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

No comments:

Post a Comment