Selasa, 26 April 2016

Tari Jaipongan dalam Keceriaan, erotis, humoris, spontanitas semangat, kesederhanaan dan animasi


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Tari Jaipongan - Jawa Barat)
______________________________________________________________











____________________

Kata Pengantar
____________________

"Ciri khas Jaiponganyakni keceriaan, erotis, humoris, semangat,
spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya)." Demikian
wikipedia memberi penjelasan.

Dikatakan juga :

"Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan
Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan
dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut
dengan pertunjukan tari Jaipongan".


Berikut info lenkapnya

...dan...

Selamat menyimak...!

______________________________________

Sekilas info tentang Jaipongan
______________________________________












* Pengertian

Jaipongan adalah sebuah jenis tari pergaulan tradisional masyarakat
Sunda, Karawang,Jawa Barat, yang sangat populer di Indonesia.


* Sejarah




Jaipongan terlahir melalui proses kreatif dari tangan dingin H Suanda
sekitar tahun 1976 di Karawang, jaipongan merupakan garapan yang
menggabungkan beberapa elemen seni tradisi karawang seperti pencak
silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu dan lain-lain.

Jaipongan di karawang pesat pertumbuhannya di mulai tahun 1976, di
tandai dengan munculnya rekaman jaipongan SUANDA GROUP dengan
instrument sederhana yang terdiri dari gendang, ketuk, kecrek,
goong, rebab dan sinden atau juru kawih.

Dengan media kaset rekaman tanpa label tersebut (indie label)
jaipongan mulai didistribusikan secara swadaya oleh H Suanda di
wilayah karawang dan sekitarnya.

Tak disangka Jaipongan mendapat sambutan hangat, selanjutnya jaipongan
menjadi sarana hiburan masyarakat karawang dan mendapatkan apresiasi
yang cukup besar dari segenap masyarakat karawang dan menjadi fenomena
baru dalam ruang seni budaya karawang, khususnya seni pertunjukan
hiburan rakyat.

Posisi Jaipongan pada saat itu menjadi seni pertunjukan hiburan
alternative dari seni tradisi yang sudah tumbuh dan berkembang lebih
dulu di karawang seperti penca silat, topeng banjet, ketuk tilu,
tarling dan wayang golek.

Keberadaan jaipong memberikan warna dan corak yang baru dan berbeda
dalam bentuk pengkemasannya, mulai dari penataan pada komposisi
musikalnya hingga dalam bentuk komposisi tariannya.

Mungkin diantara kita hanya tahu asal tari jaipong dari Bandung
ataupun malah belum mengetahui dari mana asalnya. Dikutip dari ucapan
kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ( Disbudpar ) Karawang, Acep
Jamhuri “Jaipong itu asli Karawang.









Lahir sejak tahun 1979 yang berasal dari tepak Topeng. Kemudian
dibawa ke Bandung oleh seniman di sana, Gugum Gumilar. Akhirnya
dikemas dengan membuat rekaman.

Seniman-seniman Karawang dibawa bersama Suwanda. Ketika sukses,
yang bagus malah Bandung. Karawang hanya dikenal gendangnya atau
nayaga (pemain musik). Makanya sekarang kami di Disbudpar akan mencoba
menggali kembali seni tari Jaipong bahwa ini seni yang sesungguhnya
berasal dari Karawang”.

Tari ini dibawa ke kota Bandung oleh Gugum Gumbira, sekitar tahun
1960-an, dengan tujuan untuk mengembangkan tarian asal karawang
dikota bandung yang menciptakan suatu jenis musik dan tarian pergaulan
yang digali dari kekayaan seni tradisi rakyat Nusantara, khususnya
Jawa Barat.

Meskipun termasuk seni tari kreasi yang relatif baru, jaipongan
dikembangkan berdasarkan kesenian rakyat yang sudah berkembang
sebelumnya, seperti Ketuk Tilu, Kliningan, serta Ronggeng.

Perhatian Gumbira pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk
Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-
pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk
Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak
mincid dari beberapa kesenian menjadi inspirasi untuk mengembangkan
kesenian jaipongan.

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh
yang melatarbelakangi terbentuknya tari pergaulan ini. Di kawasan
perkotaan Priangan misalnya, pada masyarakat elite, tari pergaulan
dipengaruhi dansa Ball Room dari Barat.

Sementara pada kesenian rakyat, tari pergaulan dipengaruhi tradisi lokal.
Pertunjukan tari-tari pergaulan tradisional tak lepas dari keberadaan
ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi
berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara bergaul.

Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang
mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang
begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer
sekitar tahun 1916.

Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh
unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang,
dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan
gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum
penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.



\




Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran
(penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/
Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di
daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu,
dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya
maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian
sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub).

Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari,
khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil
dari tarian dalam Topeng Banjet ini.

Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu)
yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa
ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari
Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk
Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Tarian ini mulai dikenal luas sejak 1970-an. Kemunculan tarian karya Gugum
Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena
dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu.

Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk
Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian
itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.

* Perkembangan









Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari
"Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan
jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri).

Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal
seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi.
Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu
sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar.

Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai
dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980
dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran
tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi,
hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak
swasta dan pemerintah.

Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap
para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian
rakyat yang sebelumnya kurang perhatian.

Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni
tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan
pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana
perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para
penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari
atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang
dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).








Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris,
semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu
tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi
pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga
ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni
Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada
Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya,
Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut:

1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan
(Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan
(serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru
kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika
para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel.
Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden
dan penonton (bajidor).

Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an,
di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra
Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan,
dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari
Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming
Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah,
Aa Suryabrata, dan Asep.









Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan
Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan
dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut
dengan pertunjukan tari Jaipongan.

Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi
dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak memengaruhi kesenian-kesenian
lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang,
degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan
rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong
menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni.

_________________

Penutup
_________________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

Dan berikut link lainnya yang berhubungan dengan tari di blog ini :

http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2016/02/tanya-jawab-tortor-batak-dalam-musik.html



Selamat malam...!














____________________________________________________________________
Cat :
Jaipongan Sunda - Gaplek - YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=jHOmU_ryJ_Y
tari jaipong - YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=gcnmy22ZZE8
Jaipongan Heboh di Majalaya Bandung ¦ Penari Joget Bersamaan
https://www.youtube.com/watch?v=NWwRaGHhDQ8
Goyang Tari Jaipong Heboh - Goyang Karawang (Tari Jaipong Sunda)
https://www.youtube.com/watch?v=U1U1XNqXOpA


cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork cara membuat link pada gambar
cara membuat link pada gambar cara cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar