Jumat, 18 November 2016

Sejarah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) dan Hubungannya dengan Batak


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Sejarah Gereja Batak Karo Protestan
atau GBKP dan Hubungannya dengan Batak)
___________________________________________________










________________

Kata Pengantar
________________

Para kawan sekalian...!

Ini beberapa postingan, sebelum penulis berkunjung ke Tanah
Karo di Bulan Nopember 2016 1ni :
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2013/11/gunung-sibayak-dan-sinabung-dalam.html
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2013/11/gunung-sinabung-doa-bersama-untuk-tanah.html
http://galeri7msad.blogspot.co.id/2016/05/sejarah-jagung-dan-manfaatnya.html
http://galeri7msad.blogspot.co.id/2016/05/jeruk-dan-seluk-beluknya.html

Dan ini pula beberapa link setelah berkunjung :

https://tengokmuseum.blogspot.co.id/2016/11/museum-pusaka-karo-kenapa-rupanya-setuju.html
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2016/11/tanya-jawab-seputar-perjalanan-bus-karo.html
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2016/11/sejarah-gereja-batak-karo-protestan.html


Kawan-kawan sekalian...!

Salah satu yang manarik bagi penulis pada saat berkunjung
ke Tanah karo ini adalah istilah GBPK yang tercantum pada
setiap Gereja di Tanah karo.

Sebagai masyarakat Angkola, tentu istilah ini tidak
sepopuler istilah HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) dan
GKPA (Gereja Kristen Protestan Angkola).

Dipikiran penulis yang muslim ini, GKPA itu adalah pecahan
dari HKBP. Bagaimana dengan GBKP atau Gereja batak karo
Protestan...?

- Apakah pecahan dari HKBP juga...?

...dan...

Mengapa pula menggunakan istilah Batak pada nama Gerejanya,
bukankah menurut sebagian masyarakat karo, Suku Karo itu
bukan Batak...?

Dan lain-lain...dan...lain-lain.

Nah...!
Untuk menjawabnya, maka berikut info sejarahnnya para
kawan sekalian...?

_________________________________________________________

Sekilas info tentang Gereja Batak Karo Protestan
_________________________________________________________










* Pengertian

Gereja Batak Karo Protestan (disingkat GBKP) adalah sebuah
kelompok gereja Protestan di Indonesia yang berdiri di
Tanah Karo, Sumatera Utara dan melayani masyarakat Karo.
GBKP adalah gereja Kristen Protestan yang beraliran
Calvinis.


* Latar Belakang


Pada 18 April 1890, Nederlands Zendelingenootschap (NZG),
mengutus Pdt. H.C. Kruyt dari Tomohon, Minahasa, ke Tanah
Karo.

Kruyt tinggal di Buluh Awar yang menjadi pos penginjilan
yang pertama di Tanah Karo. Tahun berikutnya dia menjemput
empat orang Guru Injil yaitu B. Wenas, J. Pinontoan,
R. Tampenawas, dan H. Pesik.

Keempat orang inilah yang menjadi rekan Kruyt melakukan
penginjilan di Karo. Sebelumnya, keempat orang ini juga
bekerja di daerah Minahasa, Sulawesi Utara.

Tanah Karo terletak di kaki Gunung Sinabung (foto diambil
sekitar tahun 1917).

Pada tahun 1892, Pdt. H.C. Kruyt pulang ke negerinya tanpa
berhasil membaptis seorang pun dari suku Karo. Ia kemudian
digantikan Pdt. J.K. Wijngaarden, yang sebelumnya telah
bekerja di Pulau Sawu dekat Pulau Timor.










Pendeta inilah yang melakukan pembaptisan pertama pada
suku Karo pada tanggal 20 Agustus 1893. Pada saat itu
ada enam orang yang dibabtis, yaitu: Sampe, Ngurupi,
Pengarapen, Nuah, Tala, dan Tabar.

Pada tanggal 21 September 1894 Pendeta Wijngarden meninggal
tanggal karena serangan disentri.

Wijgaarden digantikan oleh Pdt. Joustra. Dialah yang
menerjemahkan 104 cerita-cerita Alkitab dari Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Karo (104 turi-turian).
Wijgaarden juga tinggal di Buluh Awar.

Kemudian datang pula Pdt. Henri Guillaume (utusan RMG dari
Jerman) dari Saribudolok yang sebelumnya tinggal di Tapanuli.

Pada saat itu, Saribudolok merupakan daerah pelayanan gereja
Batak (cikal-bakal HKBP-Huria Kristen Batak Protestan).

Bersama dengan Pdt. Henri Guillaume, datang pula seorang
guru injil, bernama Martin Siregar.

Sampai tahun 1900, orang Karo yang sudah dibaptis hanya
25 orang. Dalam kurun waktu 10 tahun pertama tidak banyak
orang Karo yang dibabtis.

Ini disebabkan oleh kegigihan suku Karo dalam mempertahankan
tradisi dan adat istiadatnya Mereka merasa aman hidup dalam
kebudayaan yang bersifat magis, mistis, dan animistis.

Selain itu, perkembangan Islam di Sumetera juga turut
mempengaruhnya kurangnya penduduk lokal Karo yang mau
dibabtis.

Tahun 1903, datang pula Pdt. E.J. van den Berg dan
J.H. Neumann yang kemudian membuka pos baru (Pos Keempat)
dan menetap di Kabanjahe.

Keduanya merupakan teman sekerja yang baik. Mereka membuka
Rumah Sakit Zending di Sibolangit dan di KabanJahe.

Mereka juga bekerjasama dengan pihak pemerintah. Pdt. E.J.Van
den Berg membuka Rumah Sakit Kusta di Lau Simomo. Sementara
itu, J.H. Neumann aktif membuka pekan-pekan (sejenis pasar
di desa-desa) di daerah Deli Hulu.

* GBKP Berdiri Sendiri (Karo-Njayo)


Tahun 1906 datang Pdt. G. Smith dan membuka Kweekschool
(Sekolah Guru) di Berastagi. Sekolah ini kemudian dipindahkan
ke Raya. Pada tahun 1920 sekolah tersebut ditutup dan guru-
guru sekolah yang telah terdidik ditempatkan di desa-desa
menjadi guru untuk mengabarkan Injil.

Prof. Dr. H. Kraemer yang meninjau tempat-tempat zending
di daerah Karo pada tahun 1939 mengusulkan agar dalam waktu
sesingkat-singkatnya Jemaat Karo dipersiapkan berdiri sendiri.








Dalam rangka kemandirian ini, tenaga-tenaga pribumi
disekolahkan untuk menjadi pendeta. Selain itu, ditunjuk
majelis-majelis Jemaat yang sudah mampu. Pada tahun 1940,
dua Guru Injil P. Sitepu dan Th. Sibero dikirim ke sekolah
pendeta di seminari HKBP, Sipoholon.

Pada periode ini, berkembang pula pergerakan muda-mudi di
tengah-tengah Gereja dengan nama Christelijke Meisjes Club
Maju (CMCM) untuk kaum perempuan dan Bond Kristen Dilaki
Karo (BKDK) untuk kaum laki-laki di kalangan pemuda Kristen
Karo.

Kedua pergerakan ini dapat dikatakan sebagai embrio lahirnya
perkumpulan pemuda-pemudi GBKP, yang disebut Persadan Man
Anak Gerejanta (PERMATA).

Pengesahan dan peresmian PERMATA dilaksanakan oleh Moderamen
GBKP pada tanggal 12 September 1948, yang diperingati
sebagai hari jadi PERMATA GBKP (Rapat Permata yang pertama
tanggal 25 Mei 1947 ; kedua tanggal 18 Juli 1948 ).

Guru Injil yang disekolahkan ke Seminari Sipoholon (Tarutung)
menyelesaikan studinya pada pertengahan sidang Sinode Pertama,
yang menetapkan nama Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di
Sibolangit tanggal 23 Juli 1941.

Pada saat yang sama, ada penahbisan dua orang pendeta pertama
dari suku Karo, yaitu Pdt. Palem Sitepu dan Pdt. Thomas
Sibero.

Pada sinode pertama ini juga, Tata Gereja GBKP yang pertama
dan ketua Moderamen GBKP, Pdt. J. van Muylwijk ditetapkan.

Sekretaris Moderamen adalah Guru Lucius Tambun (periode
1941-1943 ). Pdt. P. Sitepu ditempatkan di Tiga Nderket,
sebagai wakil ketua Klasis untuk daerah Karo Gugung
(Dataran Tinggi) serta Pdt. Th. Sibero di Peria-ria,
sebagai Wakil Ketua Klasis daerah Karo Jahe.

* Statistik Jemaat

Menurut Statistik tahun 2000, GBKP mempunyai 22 Klasis,
434 gereja,327 Bakal Jemaat(Gereja), dan sekitar 285.041
anggota.

Anggota gerejanya tersebar di seluruh Sumatra, Jawa, dan
Kalimantan, yang memiliki wilayah pelayanan di Sanggau
sekitarnya dan Ngabang sekitarnya, serta satu calon gereja
di Simpang Tanjung (di tepi jalan antarnegara Indonesia -
Malaysia).

Gereja ini dilayani oleh 252 orang pendeta penuh waktu,
32 calon pendeta (vikaris), 3 guru agama, dan 50 guru
injil serta 7789 Pertua & Diakon.

* Kepengurusan Pusat GBKP

Kepengurusan Pusat GBKP disebut Moderamen, atau yang
lebih familiar sebagai Sinode, GBKP berjumlah 11 (sebelas)
orang (masa periode 2015-2020) dengan susunan sebagai
berikut :

Ketua Umum : Pdt. Agustinus Pengarapen Purba, S.Th, M.A.
Kabid Marturia : Pdt. Kongsi Kaban, S.Th.
Kabid Koinonia : Pdt. Krismas Imanta Barus, M.Th.
Kabid Diakonia : Pdt. Rosmali br Barus, S.Th.
Kabid Dana & Usaha : Dk. Khristiani br Ginting
Kabid SDM : Pdt. Sarianto Purba, S.Th, M.Min.
Kabid Pembinaan : Pdt. Yunus Bangun , M.Th.
Sekretaris Umum : Pdt. Rehpelita Ginting, S.Th., M.Min.
Wak. Sekretaris Umum : Pt. Jetra Sembiring, S.T.
Bendahara Umum : Pt. Mulia Perangin-angin, S.E.

Sejumlah yayasan yang dikelola oleh GBKP, antara lain:

Yayasan Pendidikan Kristen:
Yayasan Taman Kanak-kanak GBKP
Badan Pengembangan Ibadah dan Musik Gereja (BPIMG)
Retreat Center
Yayasan Gelora Kasih di Suka Makmur, Kabupaten Karo
Yayasan Panti Asuhan Kristen GBKP Alpha Omega
Yayasan Sosial GBKP
Yayasan Ate Keleng
Yayasan Wisata Rohani GBKP
Asrama Pemuda GBKP Maranatha.

Selain itu, Kategorial Pelayanan Gerejani
dalam GBKP ada 5 (lima), yaitu:

Kategorial Kaum Ibu, yang disebut MORIA GBKP
Kategorial Kaum Bapak, yang disebut MAMRE GBKP
Kategorial Kaum Pemuda-pemudi, yang disebut PERMATA GBKP
Kategorial Anak-anak & Remaja yang disebut KAKR GBKP

* Sekretariat

Kantor Moderamen GBKP terletak di Jl. Kapten Pala Bangun
No. 66, Kabanjahe, Sumatera Utara.
Telp. 0628-20466; Fax. 20392.
E-mail: synode@gbkp.or.id

* Gereja Mitra

GBKP adalah gereja anggota Persekutuan Gereja-gereja di
Indonesia (sejak 25 Mei 1950), Dewan Gereja-gereja
Asia, Aliansi Gereja-gereja Reformasi se-Dunia, dan
Dewan Gereja-gereja se-Dunia (WCC).

Selain itu GBKP bermitra dengan Nederlanse Hervormde Kerk
di Belanda , Evangelical Lutheran Church in America (ELCA),
dan United Evanglism Misson (UEM) dari Jerman.

__________

Penutup
__________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

Dan jika penulis yang harus menjawab beberapa pertanyaan
pada kata pengantar di atas, maka ini-lah yang dapat
penulis sampaikan :

1. Ada hubungan sejarah HKBP (Toba) dengan Sejarah GBKP
   (Karo) dalam proses pembabtisan masyarakat Karo pada
   masa lampau (Sejarah sebagai Peristiwa).

2. Jika GBPA (Angkola) sebagai bagian dari HKBP karena
   HKBP memberi wewenang dalam hal penamaan Kelompok
   Gereja, maka GBKP dapat dikatakan tidak demikian
   (Sejarah istilah / penamaan)

3. GBKP lahir dari terlebih dahulunya lahir istilah
   Christelijke Meisjes Club Maju (CMCM) untuk kaum
   perempuan dan Bond Kristen Dilaki Karo (BKDK) untuk
   kaum laki-laki di kalangan pemuda Kristen Karo.

4. Dari kedua kelompok atau organisasi tersebut lahir
   pula istilah Persadan Man Anak Gerejanta (PERMATA).

5. Istilah GBKP ditetapkan di Sibolangit tanggal
   23 Juli 1941 setelah Guru Injil dari karo yang
   disekolahkan ke Seminari Sipoholon (Tarutung)
   menyelesaikan studinya.

Dengan demikian...!

6. Istilah "Batak" pada GBKP bukanlah istilah yang timbul
   berdasarkan tararombo atau silsilah atau faktor darah
   atau keturunan. tapi istilah yang timbul seiring dengan
   berjalannya sejarah di Toba dan Tanah karo.

Karena itu pula...!

Tidak terlalu kuat alasan istilah GBKP sebagai alasan
Karo itu sama dengan Batak (Alasan yang seharusnnya
adalah silsilah).

...dan,..

Hanya pendapat pribadi.

...dan...

Selamat malam pula...!

____________________________________________________________
Cat :
Wikipedia






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar