“Muda mangulang rap margulu, ippal songon palu-palu. Pambangunan bisa lalu muda gogotta di padomu "SALAMAT MAMBANGUN ANGKOLAKU TU SUDE SENDI KEHIDUPAN"

Jumat, 15 Februari 2013

"Bahasa Batak Angkola"

#SELAMAT SIANG PARA KAWAN#
(Melihat penggunaan Bahasa lisan pada suku Batak Angkola)
_____________________________________________________

Horas para pembaca blog dimanapun berada...!

"135 juta penduduk Indonesia...terdiri dari banyak suku bangsa
itulah Indonesia....ada Jawa, Aceh, Padang, Batak dan  banyak
lagi yang lainnya..." Lantun Rhoma Irama dalam lagu lamanya
tentang macam ragam suku di Indonesia. Ini alamat lagu
lamanya kawan http://youtu.be/A-CeSFldw48

Ehem...!

Orang Batak bilang "Beta hita martumba.
Orang Jawa  bilang "Monggo dansa renggae".
Orang  Padang bilang, "Ayo kita manari".
Orang Sunda bilang, "Ayo Urang ngibing".

Orang Ambon bilang, "Mari katong manari".
Orang Manado bilang, "E mari jo manari".
Orang Batawi bilang, "Nyo kita ajojing"
Orang Irian bilang, "Mari sobat  manarimo..."

lantun Trio Lantama pula pada lagu "Dansa Renggae" yang
sekaligus memberi gambaran pada kita bahwa salah satu ciri
khas suku itu adalah Perbedaan dalam Penggunaan
"Bahasa/Lisannya".Ison musikna  http://youtu.be/2tLjMPtz3a8

Para dongan...!

* Apakah perbedaan bahasa lisan itu hanya terjadi antar
suku...?
* Bagaiman bahasa lisan pada suku Batak angkola...?
* Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perbedaan
bahasa lisan ...?

Adalah hal-hal yang merupakan isi dari tulisan ini. Semoga
memberi manfaat dan...dan...dan.. selamat menyimak.
___________________________

Bahasa Lisan Batak Angkola
___________________________

Pada situs http://hurapu.blogspot.com/2010/07/bahasa-angkola.html
dikatakan :

"Bahasa Angkola merupakan salah satu bahasa yang terdapat di daerah
Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Daerah-daerah yang menggunakan bahasa
ini di antaranya adalah Marancar, Angkola Sipirok, Padangbolak/
Padanglawas, Barumun-Sosa, dan dapat juga dimengerti oleh masyarakat
yang tinggal di daerah Mandailing Natal..."

Sedangkan pada Wikipedia Bahasa Indonesia dikatakan :

Bahasa Batak Angkola adalah bahasa yang paling mirip dengan
bahasa Batak Toba, di samping letak geografis yang berdekatan...
Bahasa Batak Angkola meliputi daerah Padangsidempuan, Batang Toru,
Sipirok, dan seluruh bagian kabupaten Tapanuli Selatan.

Berdasarkan uraian - uraian di atas, saya berpendapat ternyata
bahasa itu bukan saja berbeda antar suku, tapi dalam satu
sukupun bisa terjadi beredaan bahasa (Ada perbedaan bahasa
antara suku batak. Sub Suku Toba, Karo, Simalungun, Angkola dan
Mandailing masing-masing dengan bahasanya tersendiri/berbeda
tapi sama-pen).

Hebatnya (kayanya-pen) dalam satu Sub Suku itu masih tetap terjadi
perbedaan (Ada perbedaan bahasa antara Sipirok, Padang Bolak,
Padang Sidempuan dan Barumun meskipun dalam satu sub suku/
Angkola/tidak banyak beda tapi tetap ada-pen).

Dan hal ini sangat terasa, seperti apa yang dikatakan Odang S
dalam lagunya yang berjudul, "Bujing Nauli". Katanya (sebutan/
istilah ketika melihat wanita cantik :

Halak Arab mangidaho pasti mandok :
Ya habibi...!

India mangidaho pasti mandok :
"Ya...muhabbati...!

Mandailing mangidaho pasti mandok :
"Ongkang... mate mauleng kang...!"

Sibuhuan  mangidaho pasti mandok :
"Ondee osa ma ulalai......!"

Sipirok mangidaho pasti mandok :
"Onang joginai...!"

Padang Bolak mangidaho pasti mandok :
"Aa bujak...onde joginai...!"

Halakminang nang malirik :
"Iko gadih nan rancak...!
____________________________________________________

Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan bahasa lisan
dalam satu sub suku Batak (Angkola)
____________________________________________________

* Ragam Bahasa Batak Angkola (Sasaran Penggunna) :




Menurut Tinggibarani (2008), bahasa Angkola ini memiliki beberapa ragam
bahasa yaitu bahasa Hasomalon, bahasa Adat, bahasa Andung, bahasa Bura/
Jampolak, bahasa Parkapur, bahasa Turi-turian, bahasa Aling-alingan,
bahasa Kulum-kuluman, dan marhata balik.

Bahasa Hasomalon, bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa Adat digunakan sewaktu upacara adat. Bahasa Andung digunakan
sewaktu menangis. Bahasa Bura/Jampolak digunakan waktu marah. Bahasa
Parkapur digunakan sewaktu berada di hutan rimba. Bahasa Turi-turian
digunakan pada saat menceritakan legenda.

Bahasa Aling-alingan digunakan untuk menyampaikan maksud yang tersirat.
Bahasa Kulum-kuluman digunakan dengan suatu benda seperti sirih
sebagai simbolisasinya.

Marhata balik digunakan dengan membalikkan kata-kata yang ingin
diucapkan dengan tujuan agar orang yang mendengar tidak mengerti
apa maksud dari pembicaraan tersebut.

Para dongan...!

Penulis blog setuju dengan uraian Tinggibarani ini, bahwa bahasa
Angkola itu memiliki banyak jenis bahasa (Dilihat dari penggunaan
bahasanya-pen) dan banyak jenis bahasa/kata inilah salah satu
yang menyebab kan terjadinya perpedaan bahasa di antara sub suku
Batak Angkola.

* Letak wilayah (Pengaruh Toba dan Mandailing)

Jika kita melihat letak wilayah Angkola maka bisa dibilang secara
umum ada di antara sub Batak Toba dan Sub Batak Mandailing.

Dan Angkola itu sendiri di bagi dua yaitu Angkola Jae dan Angkola
Julu. Jika hal ini dihubungkan dengan letak wilayah maka Angkola
Jae yang berbatasan dengan toba lebih dipengaruhi bahasa Toba
dan An gkola Julu yang berbatasan dengan Mandailing lebih di
pengaruhi oleh Mandailing pula.

Dengan demikian, letak wilayah juga salah satu menyebab terjadinya
perbedaan bahasa tersebut.

* Pengaruh Bahasa Indonesia pada Bahasa Angkola

Para dongan...!

Di internet ini cukup sering saya membaca "Tidak ada situs
terpercaya" dan saya percaya itu. Tapi situs "Tapanuli Selatan dalam
Angka" saya percaya adalah situs terpercaya dan saya percaya itu.
Kakakakaka...kkk....seriunsyada.

Pada situs http://akhirmh.blogspot.com/2012/12/
bahasa-angkola-vs-bahasa-mandailing-di.html   dikatakan :

Penggunaan bahasa Angkola sebagai bahasa sehari-hari di rumah
sebanyak 87.93 persen untuk etnik Angkola dan 7.52 persen untuk
etnik Mandailing.

Sementara bahasa Mandailing digunakan etnik Mandailing sebanyak
84.79 persen untuk etnik Angkola sebanyak 5.81 persen.

Ini menunjukkan adanya pertukaran penggunaan bahasa di dalam dua
subetnik serumpun. Selain kedua etnik ini bertukar tempat dalam
pengguna bahasa serumpun, dalam kenyatannya masing-masing etnik
Angkola dan etnik Mandailing juga mengadopsi bahasa Indonesia
sebagai bahasa sehari-hari di rumah.

Dengan demikian, jelas bahwa bahasa indonesia itu (Melayu) juga
berperan sebagai penyebab terjadinya perbedaan bahasa dalam
satu sub suku.
____________

Kesimpulan
____________

Demikian gambaran sekilasnya kawan, dan uraian-uraian diatas
tentu sudah cukup jelas untuk memberikan jawaban sekilas pula
mengenai penggunaan bahasa di Angkola.

Kiranya info memberi manfaat dan horas...!
___________________________________________________
Cat :
* Image/gambar adalah stelan blogger blog
* Video musik "Bujing Nauli" dapat dongan lihat pada
link "Bujing nauli ra deho di au...?" di youtube. Atau di blog
Angkola Facebook ini pada link "Nara au diho bayo regar...!" 
Kakakakaka...kkk...kkk.....nangkon datusi...!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar