Sunday, March 31, 2013

"PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ONANG-ONANG, UNGUT-UNGUT, KIJOM-KIJOM"


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak perbedaan dan persamaan onang-onang,
ungut-ungut dan kijom-kijom dalam macam sisi tinjauan)
__________________________________________________

Para kawan berikut uraiannya, setelah terlebih dahulu
mempelajari ketiga sumber tulisan di bawah ini :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2013/03/onang-onang-angkola-mandailing-video.html
http://angkolafacebook.blogspot.com/2013/03/ungut-ungut-angkola.html
http://angkolafacebook.blogspot.com/2013/03/kijom-kijom.html
___________________

Perbedaannya
___________________

* Segi Isi Pesan

Isi pesan onang-onang cenderung bernilai positif; memberi
semangat, menciptakan rasa nyaman, memberi saran atau nasehat
pada objek onang-onang (orang yang dituju).

Jika isi pesan ini dihombarkan dengan agama, maka hampir sama
dengan menyuruh bersabar, bersyukur, bersujud dan tawakkal.

Sedangkan :

Isi pesan ungut-ungut cenderung untuk menyeimbangkan emosi
parungut-ungutnya dengan cara mengeluarkan segala unek-unek
yang ada dalam pikirannya/kehidupannya.

Jika isi pesan ini dihombarkan dengan agama, maka hampir
sama dengan mengucap astagfirullohul azim, ampuni au
Tuhan dan tunjuki hambamon dalan na tigor.

* Segi Subjek dan objek

Dalam onang-onang objeknya adalah orang lain yang dituju
paronang-onang (Panortor atau lainnya). Sedangkan dalam
ungut-ungut objeknya adalah diri sendiri (Marungut-ungut
iba sandiri).

* Alat  Musik

Oang-onang selalu diiringi gondang dan suling sebagai
alat musik utamanya.

Ungut-ungut tetap bisa dilaksanakan pake alat musik
atau tidak. Alat musiknyapun tidak punya keharusan,
apa saja yang tersedia bisa digunakan untuk mendukung
ungut-ungut tersebut. Seperti, siul, suling, pinggan
atau piring, ole-ole, takar dll.

* Pengulangan kata/kalimat

Dalam onang-onang banyak digunakan pengulangan kata atau
kalimat, sedangkan ungut-ungut lebih sedikit.

* Struktur kalimat dan sampiran

Jika kita membanding dengan pantun maka ada kecenderungan
onang-onang itu berstruktur a-a-a-a. Sdengkan ungut-ungut
tidak memilikinya / bebas.

* Efek pendengar umum (rekaman atau langsung)

Pada oang-onang selalu ada keinginan dari pendengarnya
untuk berucap "Oloda...oloda....em mada tutu...banamai...

Sedangka pada ungut-ungut pendengar bisa merasa risi,
lucu, aneh, kasihan, panyogo-nyogoon, margoyak ni roha
pada yang marungut-ungut.
_______________

Persamaannya
_______________

* Segi Struktur penyusunan kalimat dalam alinea

Onang-onang dan ungut-ungut tidak punya ketentuan berapa
jumlah kalimat dalam satu alinea. Karena itu hampir sama
dengan "Talibun" dalam karya sastra Melayu.

Terhadap hal ini situs http://edinasution.files.wordpress.com/2007/08/ende_
nyanyian-rakyat-mandailing.pdf
mengatakan : "Apabila diperhatikan pada susunan atau jumlah silabel
yang dinyanyikan untuk setiap rentangan melodi, ternyata tidak memi
liki jumlah yang sama. Keadaan ini menunjukkan bahwa jumlah silabel
untuk setiap rentangan melodi tidak mengikat secara baku.

Hal ini dapat membentuk kalimat-kalimat yang panjang atau pendek di
dalam setiap rentangan melodi. Penyesuaian kalimat panjang atau pun
pendek di dalam setiap rentangan melodi ketika menyanyikan
ende sitogol atau ungut-ungut tergantung pada ”kepiawaian” si
parende (penyanyi) itu sendiri.

* Sampiran dan isi

Pada keduanya tidak mementingkan sampiran, kecederungan
bisa isi semuanya, tanpa sampiran. Tapi terkadang ada
sampirn baru isi, seperti dalam pantun.

"Ungut-ungut maupun sitogol memiliki teks atau syair berbahasa Mandailing
dan umumnya berisi keluh-kesah (ungkapan perasaan) tentang cinta atau pun
kemelaratan. Karena itu keduanya lebih mementingkan lirik ketimbang lagunya.

Keduanya nyanyian tersebut awalnya tidak memiliki jumlah baris (bait) yang tetap
karena dinyanyikan secara spontan. Ada kalanya 4 baris (berstruktur pantun), 5 baris,
6 baris dan sebagainya, namun dalam perkembangan selanjutnya ada kecenderungan
berstruktur pantun. Untuk ungut-ungut yang bersajak ab-ab, dimana baris pertama
dan kedua adalah sampiran, sedang baris ketiga dan keempat merupakan isi. Adapun
teks sitogol yang berstruktur pantun (atau tidak) cenderung pula secara keseluruhan
merupakan isi, tanpa ada sampirannya" tulis Edi Nasution dalam situsnya "Ende
nyayian rakyat Mandailing".

* Seni Vokal

Sudah jelas, keduanya merupakan seni vokal yang merupakan
bagian dari budaya batak itu, khususnya untuk wilayah
angkola Mandailing dan sekitarnya.
___________________________________________________

Hubungan perbedaan dan persamaan keduanya dengan ijom-ijom
___________________________________________________

Ijom-ijom dari segi isi pesannya hampir sama dengan onang-onang
tapi jauh beda dengan ungut-ungut. Ijom-ijom umumnya menggunakan
struktur a-b-a-b dalam penyusunan kalimatnya.

Hal lainnya, ijom-ijom bisa juga diikutsertakan dalam kegiatan
acara adat, tapi lebih banyak memakainya dalam seni musik
sebagai hiburan, karena itu ijom-ijon juga salah satu sini vokal
dari Angkola / Mandailing.

Selamat malam dan horas....! Imajo tusi. Botul sanga inda berpulang
tu pambaca noimai.
_______________________________________________________
Cat :
 http://edinasution.files.wordpress.com/2007/08/ende_nyanyian-rakyat-mandailing.pdf


PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

No comments:

Post a Comment