Sabtu, 29 Juni 2013

"BATUBARO TANAH BERTUAH CANTIK MOLEKMU : Melacak Jejak Endar Bongsu Hutasuhut

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Melacak jejak suku batak dengan perwakilan nama Endar Bongsu
Hutasuhut di Tanah Bertuah "Batu Bara" Dan menyimak sejarahnya)
Oleh : Rahmat Parlindungan dan Megawati Hutasuhut
_______________________________________________________









Para kawan...!

Bukan hal yang mengherankan jika orang batak mememberi nama atau goar anaknya
si "Parlindungan" karena nama ini adalah nama umum dan artinya cukup bagus
serta bukan milik satu marga, marga apapun boleh memikinya. Iyakan...! ya
iyalah...! Marga apapun boleh memilikinya karena nama ini tak pernah di
"Hak Patenkan di Patenkan Hak".

Begitu juga dengan nama Endar Bongsu, bisa jadi banyak marga batak
menggunakan nama ini pada anaknya. Tapi yang penulis maksud Endar
Bongsu dalam tulisan ini adalah Endar Bongsu Hutasuhut dari garis
keturunan marga Hutasuhut di Anturmangan Sipirok.

Mengacu pada situs "Hutasuhut Sedunia" lewat alamat
http://hutasuhutsedunia.blogspot.com/2011_04_01_archive.html
maka kita mengetahui, bahwa keturunan dari Tuan Soripada Diatje III ada
dua orang yaitu 1.Mangaradja Soambangon 2.Sutan Guru Lembang Gunung
(Ompu ni Gende) :

"Ia anak ni Patuan Soripada Diattje III 2 halak ima :
1.Mangaradja Soambangon, ima naumpompar marga Hutasuhut di
Hutapadang, Sitandiang, Purbatua, Silangge, Anturmangan,
Bulumario, Sungelaut, Batusatail, Pansur Pangke, Siloung, Binanga.

2.Sutan Guru Lembang Gunung (Ompu ni Gende).
On ma naditaban asa dioban tu tambatan Gadja (Lobu Handis) asa
mambuat boru ni Ompu Ni Hatunggal, boru Regar. On ma naumpompar
Marga Hutasuhut di Sipirok". Tulis  situs tersebut.

Nah...! Dalam hubungannya dengan tulisan, maka tulisan ini ingin menjawab
"Benar bahwa suku batak, lewat perwakilan nama Endar Bongsu Hutasuhut
telah ada di Batu Bara atau di Kesultanan Limalaras jauh sebelum Indonesia
Merdeka".

Penjelasan jawaban akan diberikan setelah mengurai sedikit banyak mengenai
Melayu Batu Bara  dan Kesultanan Lima Laras.

Berikut video pembuka tulisan "Batubara Tanah bertuah Cantik Molekmu.
Musik...!

_____________________________________

Sekilas Tentang Kabupaten Batu Bara
_____________________________________

Peta Kab. Batubara
Kabupaten Batu Bara adalah
salah satu kabupaten di Provinsi
Sumatera Utara, Indonesia.
DPR menyetujui Rancangan
Undang-Undang pembentukannya
tanggal 8 Desember 2006. Kabupaten
ini diresmikan pada tanggal 15 Juni 2007, bersamaan dengan dilantiknya Penjabat
Bupati Batubara, Drs. H. Sofyan
Nasution, S.H.

Kabupaten ini merupakan hasil
pemekaran dari Kabupaten Asahan
dan beribukota di Kecamatan Limapuluh.

Kabupaten ini terletak di tepi pantai
Selat Malaka, sekitar 175 km
selatan ibu kota Medan. Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda,
Kabupaten Batubara termasuk ke dalam Karesidenan Sumatera Timur.

* Hal Penduduk

Penduduk Kabupaten Batubara didominasi oleh etnis Jawa, kemudian
diikuti oleh orang-orang Melayu, dan Suku Batak. Orang Mandailing
merupakan sub-etnis Batak yang paling banyak bermukim disini.
Pada masa kolonial, untuk memperoleh prestise serta jabatan dari
sultan-sultan Melayu, banyak di antara orang-orang Mandailing
yang mengubah identitasnya dan memilih menjadi seorang Melayu.

Etnis Jawa atau yang dikenal dengan Pujakesuma (Putra Jawa Keturunan
Sumatra) mencapai 43% dari keseluruhan penduduk Batubara

________________________________________________________

Sekilas Sejarah Melayu Batubara dalam hubungannya dengan
Istana Lima Laras
________________________________________________________

Istana Lima Laras
"Mari bicara sisi lain sebuah
istana raja. Tentang kisah
kerajaan Melayu yang tak
pernah tertulis di buku sejarah
sekolah. Tentang sebuah
kemegahan masa lalu, yang bahkan
tak terdengar selalu.

Istana Lima Laras adalah
sejarah yang terlupakan. Namanya
kalah tenar ketimbang Istana
Maimun di Medan. Walau tidak
kokoh benar, Istana Lima Laras
masih berdiri di Desa Lima Laras,
Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Asahan. Sekitar 136 kilometer
sebelah tenggara kota Medan"

Tulis situs "Melayu Nusantara" lewat alamat
http://melayunusantara1.blogspot.com/2009/06/semenanjung-melayu-batu-bara.html
selanjutnya dikatakan :

Sepintas dari depan terlihat warna hijau bangunan istana sudah kusam.
Istana berlantai empat yang dibangun tahun 1912 itu sudah lapuk
dimakan zaman dan tak menarik lagi dikunjungi. Mungkin karena
kondisinya itu Juga maka dalam brosur pariwisata Sumatera Utara,
istana Lima Laras tidak tercantum lagi sebagai salah satu objek
wisata.

Istana yang berada di atas tanah seluas 102 x 98 meter ini
dibangun Datuk Matyoeda, Raja Kerajaan Lima Laras XII, putra
tertua raja sebelumnya, Datuk H Djafar gelar Raja Sri Indra.

Semula istana ini bernama istana Niat, karena rencana pembangunannya
berdasarkan niat Matyoeda untuk mendirikan sebuah istana untuk
kerajaan itu.

Sebelumnya pusat pemerintahan kerajaan Lima Laras yang tunduk
pada Kesultanan Siak di Riau dan diperkirakan sudah ada sejak
abad XVI, sering berpindah pindah karena belum punya istana
permanen....

Matyoeda bersama keluarga dan unsur pemerintahannya mendiami
istana sejak tahun 1917, walaupun pada saat itu istana masih
belum rampung. Waktu wafatnya pada 7 Juni 1919, sekaligus
penanda berakhirnya masa kejayaan kerajaan Lima Laras.

Tahun 1942 tentara Jepang masuk Asahan dan menguasai istana.
Baru pada masa Agresi Militer II, istana kembali ke tangan
Republik dan ditempati Angkatan Laut Republik Indonesia di
bawah pimpinan Mayor Dahrif Nasution.

* Hal Istana Lima Laras dengan keberadaan lima suku / klan

"Di negeri yang sudah ada sejak 1720 M ini, berdiam lima suku atau klan,
yakni Lima Laras, Tanah Datar, Pesisir, Lima Puluh, dan Bogak yang
dipimpin oleh seorang datuk [semacam kepala suku yang kedudukannya di
bawah sultan atau raja]. Dahulu kala, Batu Bara adalah bagian dari
Kerajaan Siak dan Johor".

Tulis situs Lentera Timur lewat alamat
http://www.lenteratimur.com/100-tahun-istana-lima-laras/

* Hal Istana Niat sebagai nama lain dari Istana Lima Laras

Para kawan...!

Banyak kejadian atau peristiwa memang selalu diawali dengan "Niat",
tetapi niat ini biasanya akan menjadi tidak begitu di ingat jika perisitiwanya
sudah terjadi.

Tidak demikian halnya dengan Istana Lima Laras, situs Literatur Timur
di atas mengatakan :

Di zamannya, bangunan yang didirikan oleh Datuk Matyoeda Sridiraja ini
disebut ‘Istana Niat Lima Laras’. Nama ini lebih didasarkan pada sebuah
niat, itikad, dan nazar dari Datuk Matyoeda Sridiraja manakala
perniagaannya “selamat” sekembalinya dari Malaka (Penang) menuju Asahan,
tepatnya Batu Bara.

Perniagaan Datuk Matyoeda adalah berupa kopra, damar, dan rotan.
Hasil alam ini dibawa dengan kapal besar sampai ke Malaka, Singapura,
Thailand.

Perniagaan yang “selamat” di sini maksudnya adalah lolos dari ancaman
Perserikatan Dagang Kerajaan Belanda untuk Hindia Timur (Vereenigde
Oost Indische Compagnie, VOC). Pada masa itu, terjadi rivalitas
perdagangan antara VOC dan Kerajaan Lima Laras. Pemerintah negara
Kerajaan Belanda secara terang-terangan mengeluarkan maklumat agar
Kerajaan Lima Laras menghentikan seluruh perniagaannya.

Karena niat dan nazarnya terpenuhi, maka didirikanlah Istana Lima
Laras, yang pengerjaannya dimulai pada 1907 dan selesai pada 1912.
Istana ini memiliki empat koridor utama yang masing-masing mengarah
ke utara, timur, selatan, dan barat.
__________________________________

Keberadaan Suku Batak di Batu Bara
__________________________________

Situs "Tak Bernama" dengan alamat
http://batak-people.blogspot.com/2013/04/melayu-pesisir-batubara-
english-version.html
mengatakan :

Suku Melayu Pesisir Asahan, berbaur dengan suku-suku Toba, Mandailing,
Minang. Kebanyakan suku ini terdapat di kotamadya Tanjung Balai, Kisaran,
desa Simpang Tiga kecamatan Labuhan Ruku, desa Lima Laras dan desa Ujung
Kubu kecamatan Tanjung Tiram. Berbicara menggunakan bahasa Melayu dialek "o".

Sedangkan situs http://www.lenteratimur.com/100-tahun-istana-lima-laras/
mengatakan :

"Di negeri yang sudah ada sejak 1720 M ini, berdiam lima suku atau klan,
yakni Lima Laras, Tanah Datar, Pesisir, Lima Puluh, dan Bogak yang
dipimpin oleh seorang datuk [semacam kepala suku yang kedudukannya di
bawah sultan atau raja]. Dahulu kala, Batu Bara adalah bagian dari
Kerajaan Siak dan Johor".

Mengacu pada uraian diatas, maka jauh sebelum Indonesia Merdeka suku
Batak sudah ada di Batu Bara atau Pesisir Batubara. Dan dalam hal ini
bukan saja sub suku batak toba, Simalungun, karo, Mandailing tapi
juga suku Angkola.

Adapun mengenai suku melayu pesisir Batubara menggunakan di "O"
memang benar adanya. Karena itu, ananda penulis (anak penulis / Rino
Ino vasi Siregar) meskipun oppungnya marga Hutasuhut tapi tetap saja
dipanggilnya "AtoK". Ya..."Atok" memang sinonim dari panggilan "Oppung".
Begitu juga dengan, istilah "Unde" cukup sering digunakan istri penulis
yaitu Megawati Hutasuhut pada adi-adik ayahnya yang perempuan.

Adapun mengenai penggunaan dialek "o" berikut sebagian istilah / kata :

1. Batu Bara - Batu Baro
2. Kelapa - Kalapo
3. Bertenun - Batonun
4. Disapa - Disapo
5. Karena - Karono
6. Tegur - Togur
7. Apalah daya - Apolah dayo, dll
____________________________________________________

Sekilas tentang karya seni musik dari Batubara sebagai gambaran
keadaan masyarakatnya
____________________________________________________

* Hal keberadaan anak daronya

Berikut video pendukungnya :



*  Hal mengikuti perkembangan jaman

Oi sadaro semuo bolehnyo kito balagak
penampilan jangan norak
jangan di b ilang takbarutak

Tak barutak itu maksudnya tak berotak....begitu mungkin.
Musik...!



* Hal tukang kombur

Jika di Tapsel kita mengenal lagu dengan judul "Manukkek di kode kopi"
sebagai gambaran bahwa orang Tapsel itu suka mangecet, maka
orang Batubara juga punya, namanya "Markombur".

"Orang Batubara umumnya 'ngeteh' dalam markombur" kata si Boru Hts
dalam tulisan ini dan tentunya berbeda dengan orang Tapsel yang justru
lebih suka minum kopi".

Mainkan komburnya wak Uteh :

_________________________________

Macam Tempat Wisata di Kab. Bara
_________________________________

1. Pulo Pandang





















"Pulau Pandang terletak di sebelah utara Kecamatan Tanjung Tiram.
Pulau Pandang memiliki keindahan panorama yang luar biasa. Banyak
wisatawan dari luar daerah Kabupaten Batu Bara datang mengunjungi
pulau ini. Di pulau ini juga dapat ditemui penangkaran penyu.
Namun belum adanya dermaga untuk tempat kapal berlabuh menyebabkan
para wisatawan yang datang dengan menggunakan kapal besar terpaksa
harus transit ke kapal kecil agar bisa mendarat di Pulau ini.
Selain itu kendala yang ditemui yakni tidak adanya
tempat penginapan bagi para wisatawan yang hendak bermalam"

Tulis situs "Kabupaten Batu Bara" dengan alamat
http://bappeda.batubarakab.go.id/info-wisata/blog-info/297-pulau-pandang

2. Pulau Salah Nama



















Pemerintah Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara,
mempromosikan Pulau Salah Nama dan Pulau Pandang ke
berbagai daerah di Tanah Air dan juga ke luar negeri.

"Pulau yang tidak berapa jauh dari Batubara itu, tidak
hanya diperkenalkan secara lusa di wilayah Provinsi
Sumatera Utara, Pulau Jawa, tetapi juga ke negara
tetangga Malaysia dan Thailand," kata salah seorang
warga Ruslan (48) di Kecamatan Talawi, Minggu (14/4/2013).

Tulis http://wartakota.tribunnews.com/detil/berita/133228/Pulau-
Salah-Nama-Dipromosikan-ke-Luar-Negeri atau Warta Kota.
_____________________

Endar Bongsu Hutasuhut
_____________________

Dari segi tutur jelas Endar Bongsu Hutasuhut
adalah oppung dari penulis dan juga oppung
dari istri penulis  (Megawati Hutasuhut) dan
orangtua dari Megawati Hutasuhut ini adalah
Parlindungan Hutasuhut (Tulang Penulis).

Dalam musyawarah kecil antara penulis
dengan istri, kami memperkirakan
Endar Bongsu Hutasuhut telah ada di  Batu Bara
sekitar Tahun 1915. Hal ini kami ketahui dari
dasar penjumlahan umur tulang penulis saat ini
yang sudah mencapai 80 Tahun dan
beliau adalah anak pertama yang
lahir di Batubara dari  ibunya Marga Ritonga.

Jika uraian penulis diatas dihubungkan dengan sejarah Batu Bara atau
sejarah Kesultanan Lima Laras, maka cukup logis bagi penulis bahwa
di Batubara sudah dari dulunya (Bisajadi  Tahun 1700 telah ada halak
Batak apakah dari Toba, Karo, Simalungun, Mandailing atau Angkola.

Sebagai tambahan, berpindahnya Tulang Penulis atau ayahanda dari
Megawati Hutasuhut ke Medan karena pada masa yang telah lampau
(Perkiraan sekitar tahun 1973-an ) terjadi kebakaran besar di
Kota Batu Bara, sehingga mau tak mau sebagian penduduknya harus
pindah tempat seiring dengan jenis pekerjaan dari orang-orang yang
rumahnya terbakar pada masa itu.

Mengacu pada hasil komunikasi antara penulis dengan istri, maka penulis
punya gambaran, dipilihnya Batubara dan sekitarnya oleh halak hita sebagai
tempat perantauan karena diwilayah ini memang sudah dari dulunya termasuk
wilayah dagang.

Dan hal ini sangat relevam karena ditempat ini dan tempat lainnya sekitar
batubara ada dua atau tiga pelabuhan yang terkenal pada masa lampau.
Dan salah satunya disebut Pelabuhan "Bom".

"Disebut pelabuhan Bom, karena tempat ini dulunya di  bom sama Belanda"
demikian kata si boru angin sekaligus ibunda dari Rino Siregar ini. Oya...!
Ditahun 2011 si boru Hutasuhut ini pergi berkunjung ke Batu Bara bersama
keluarganya bersama keluarga besarnya. Katanya sudah jauh berobah.
"Batubara di Tahun 2011 sungguh berbeda dengan Batubara di tahun 1980"
Ini artinya pembangunan di Batubara ini juga terus berjalan.

Dan sebagai putri daerah dengan wilayah kelahiran Tanjung Tiram, beliau
berharap kiranya Pemda Kab. Batubara kemasa depanya lebih maju. Dan
dari hasil pengamatan penulis, beliau cukup menyukai juga lagu-lagu dari
Batu Baro.










Ananda pulang kekampung halaman
lama tiada pesan dan tiada datang
dimanakah di kau kini
dimanakah di kau kini
rindu hati ingin bertemu....

Batu bara tanah bertuah
cantik molekmu
semua pun tau.....uuu...


__________

Penutup
__________

Demikian yang dapat disampaikan lewat tulisan ini, dan jelas sudah terjawab
"Benar adanya suku batak itu lewat nama Endar Bongsu Hutasuhut telah ada
di Batu Bara jauh sebelum Indonesia Merdeka.

Semoga info lainya seputar Kab. Batu Baro, Kesultanan Lima Laras dan
video musik pendukung dapat menambah wawsan kita. Botima.

Dan Horas Batu Baro, serta selamat malam para kawan...!

________________________________________________________
Cat :
Kepada semua pemilik photo dan  video di atas, penulis minta
ijin untuk di posting di blog ini. Trims.
Sampai 9 Januari 2014 dilihat 142 kali.
PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar