Senin, 27 Januari 2014

Monas : Akibat mardua holong boru batak mamanjat Monas (Marboru batak 8)


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Tugu Monas dalam hubungannya
dengan gantung diri dan gantungan sepatu)
_____________________________________________________





























___________________

Kata Pengantar
___________________

Kakakakakakak...kkkk.....kkkkk....

Bagaimana tidak kakakaka...kkk...kkkk....titk dua koma,

Ada dua jenis hubungan yang populer dalam kehidupan ini.
Atau adong dua jenis hubungan napopuler di hangoluanon,
ima hubungan pada Tuhan dan hubungan pada manusia.

Hubungan pada Tuhan sepertinya tidak terlalu rumit, "Cukup
kita jalankan perintahnya dan kita jauhi larangannya" maka
Isya Allah "Syorga adalah imbalan anda".

Tapi hubungan pada manusia atau hubungan antar antar manusia
"Rumitnya bukan main....! Bukan main rumitnya...! Rumitnya
bukan main....!".

Dalam hubungannya dengan "Monas" anggia, titik dua (:)






















- Adala yang katanya siap di gantung di monas kalau beliau
  korupsi. Apakah maksudnya memberitahu bahwa beliau tidak
  korupsi atau memberitahu bahwa beliau korupsi. Ngak tahu
  awa, namun awa heran "Mengapala harus di gantung, mengapa
  pula tempat gantungannya Monas. Tidak ada apa tempat
  gantungan lain...?























- Ada pula yang akhir-akhir ini penulis dengar yang mau
  mengantungkan gas elfiji di Monas. Katanya harganya terlalu
  mahal dan dia tidak suka sama warna gas elfiji tersebut.
  Maunya warnanya "Merah Putih" agar sesuai dengan bendera
  Indonesia.

* Hebatnya...!























Ikut-ikutan pula orang batak, halak kita itu, "Mau digantungnya
pula sepatunya di Monas hanya gara-gara boru batak tak mau
sama dia. Katanya sih "Biar semua orang tahu bahwa ngak jadi
dia nikah sama boru batak itu".

Cobala kalian pikir...!
Pikirkon hamu majo anggia...!

Kalaulah setiap orang yang bermasalah di Nusantara ini
mengantungkan masalahnya, mencari sesuatu apa yang bisa
di gantung di Monas biar semua orang tahu, mau jadi apa
itu monas...? Masa mau jadi tempat gantungan...!

Ia kalau yang digantung itu adalah prestasi bangsa seperti
piala, piagam, sertifikat, dll masih enak melihatnya baik
dalam dunia nyata maupun dania maya.

Tapi kalau yang digantung sepatu, kompor gas, odol, handuk,
manusia atau jolma, apa kata dunia sama Indonesia...?

Sehubungan dengan hal tersebut...!

"Mari sama kita lihat apakah monas memang dibangun untuk
tempat gantungan atau tidak lewat postingan ini...!"

Selamat menyimak...!
dan ini musik pandonganina :

video



___________________________

Info sekilas tentang Monas
___________________________

* Data Fisik

- Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas
atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter
(433 kaki).

- Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang
melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.

- Tugu Peringatan Nasional ini dibangun di areal seluas 80 hektar.

* Tahun mulai Pembangunan dan selesai

Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di
bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada
tanggal 12 Juli 1975.

* Letak dan Waktu buka

Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka,
Jakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai
pukul 08.00 - 15.00 WIB. Pada hari Senin pekan terakhir setiap
bulannya ditutup untuk umum.

* Tujuan Didirikannya Monas

Didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat
Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial
Hindia Belanda.

__________

Sejarah
__________

- Hal Pusat pemerintahan yang dipindahkan :

Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali
ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta
pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik
Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden
Sukarno mulai memikirkan pembangunan sebuah monumen nasional
yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan
Istana Merdeka.

Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan
perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan
1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat
patriotisme generasi saat ini dan mendatang.

- Hal pelaksanaan sayembara rancangan monomen

Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk
dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada
tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya
satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi
kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan
karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-
abad. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tapi sekali
lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria.

- Hal rancangan monumen dan pemenang sayembara

Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan
rancangannya kepada Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang
menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu
berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang
monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang
diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat
besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara,
terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk.

Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan
menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia
membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono
untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka
17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu.

- Hal arsitek Friedrich Silaban dan R.M. Soedarsono

Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban
dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.

- Hal masa pembangunan 3 tahap

Pembangunan terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama, kurun
1961/1962 - 1964/1965 dimulai dengan dimulainya secara
resmi pembangunan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan
Sukarno secara seremonial menancapkan pasak beton pertama.

Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan.
Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum
sejarah nasional.

Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada bulan Maret 1962.
Dinding museum di dasar bangunan selesai pada bulan Oktober.
Pembangunan obelisk kemudian dimulai dan akhirnya rampung
pada bulan Agustus 1963. Pembangunan tahap kedua berlangsung
pada kurun 1966 hingga 1968 akibat terjadinya Gerakan 30
September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, tahap ini
sempat tertunda.

Tahap akhir berlangsung pada tahun 1969-1976 dengan menambahkan
diorama pada museum sejarah. Meskipun pembangunan telah rampung,
masalah masih saja terjadi, antara lain kebocoran air yang
menggenangi museum. Monumen secara resmi dibuka untuk umum dan
diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik
Indonesia Soeharto.

Lokasi pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka.
Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu
Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas,
dan Taman Monas.

Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa
lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur Medan
Merdeka dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan
Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.
_____________________________

Hal Rancang Bangun Monumen
_____________________________


Rancang bangun Tugu Monas berdasarkan
pada konsep pasangan universal
yang abadi; Lingga dan Yoni. Tugu obelisk
 yang menjulang tinggi adalah lingga yang
melambangkan laki-laki, elemen maskulin
yang bersifat aktif dan positif, serta
melambangkan siang hari.

Sementara pelataran cawan landasan
obelisk adalah Yoni
yang melambangkan
perempuan, elemen feminin yang pasif
dan negatif, serta melambangkan malam hari.

Lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan dan kesatuan harmonis
yang saling melengkapi sedari masa prasejarah Indonesia. Selain
itu bentuk Tugu Monas juga dapat ditafsirkan sebagai sepasang
"alu" dan "Lesung", alat penumbuk padi yang didapati dalam setiap
rumah tangga petani tradisional Indonesia.

Dengan demikian rancang bangun Monas penuh dimensi khas budaya
bangsa Indonesia. Monumen terdiri atas 117,7 meter obelisk di
atas landasan persegi setinggi The 17 meter, pelataran cawan.
Monumen ini dilapisi dengan marmer Italia.

Kolam di Taman Medan Merdeka Utara berukuran 25 x 25 meter
dirancang sebagai bagian dari sistem pendingin udara sekaligus
mempercantik penampilan Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam
air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang
kudanya, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.

* Patung

Dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan
oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario Bross di Indonesia.

Pintu masuk Monas terdapat di taman Medan Merdeka Utara dekat
patung Pangeran Diponegoro. Pintu masuk melalui terowongan yang
berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu
masuk pengunjung menuju tugu Monas.

Loket tiket berada di ujung terowongan. Ketika pengunjung
naik kembali ke permukaan tanah di sisi utara Monas, pengunjung
dapat melanjutkan berkeliling melihat relief sejarah perjuangan
Indonesia; masuk ke dalam museum sejarah nasional melalui pintu
di sudut timur laut, atau langsung naik ke tengah menuju ruang
kemerdekaan atau lift menuju pelataran puncak monumen.


* Relief Sejarah 




















Relief timbul sejarah Indonesia menampilkan Gajah Mada dan
sejarah Majapahit. Pada halaman luar mengelilingi monumen,
pada tiap sudutnya terdapat relief timbul yang menggambarkan
sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan
mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan
sejarah Singhasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara
kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya,
dan barat laut.

Secara kronologis menggambarkan masa penjajahan Belanda,
perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional
Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan
Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan
Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia
disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga
mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-
patung ini dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam,
sayang sekali beberapa patung dan arca mulai rontok dan rusak
akibat hujan dan cuaca tropis.

*Museum Sejarah Nasional

Pelajar memperhatikan diorama sejarah Indonesia
Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan
tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar
museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80
meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.

Ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat
sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama.
Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah
hingga masa Orde Baru. Diorama ini dimula dari sudut timur laut
bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan sejarah Indonesia;
mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya
dan Majapahit, disusul masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul
perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan
pemerintah Hindia Belanda. Diorama berlangsung terus hingga masa
pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang,
perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru pada
masa pemerintahan Suharto.



* Ruang kemerdekaan


















Di bagian dalam cawan monumen terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk
amphitheater. Ruangan ini dapat dicapai melalui tangga berputar di dari pintu
sisi utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan
kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang
berlapis emas, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan
Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, dan dinding
yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional ini digunakan
sebagai ruang tenang untuk mengheningkan cipta dan bermeditasi mengenang
hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia. Naskah asli proklamasi
kemerdekaan Indonesia disimpan dalam kotak kaca dalam pintu gerbang
berlapis emas.

Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas dihiasi
ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan keabadian, serta bunga
Teratai yang melambangkan kesucian.

Pintu ini terletak pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan
berlapis marmer hitam. Pintu ini dikenal dengan nama Gerbang
Kemerdekaan yang secara mekanis akan membuka seraya
memperdengarkan lagu "Padamu Negeri" diikuti kemudian oleh
rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi
pada 17 Agustus 1945.

Pada sisi selatan terdapat patung Garuda Pancasila, lambang negara
Indonesia terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas.
Pada sisi timur terdapat tulisan naskah proklamasi berhuruf perunggu,
seharusnya sisi ini menampilkan bendera yang paling suci dan dimuliakan
Sang Saka Merah Putih, yang aslinya dikibarkan pada tanggal
17 Agustus 1945. Akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua
dan rapuh, bendera suci ini tidak dipamerkan.

Sisi utara diding marmer hitam ini menampilkan kepulauan Nusantara
berlapis emas, melambangkan lokasi Negara Kesatuan Republik
Indonesia.Semua itu sangat indah.

* Pelataran Puncak dan Api Kemerdekaan

















Pelataran setinggi 115 meter tempat pengunjung dapat menikmati
panorama Jakarta dari ketinggian

Sebuah elevator (lift) pada pintu sisi selatan akan membawa
pengunjung menuju pelataran puncak berukuran 11 x 11 meter di
ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas
11 orang sekali angkut. Pelataran puncak ini dapat menampung
sekitar 50 orang, serta terdapat teropong untuk melihat panorama
Jakarta lebih dekat.

Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang
terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung
dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Bila
kondisi cuaca cerah tanpa asap kabut, di arah ke selatan terlihat
dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat,
arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil.

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang nyala
lampu perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas
35 Kilogram. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi 14 meter dan
berdiameter 6 meter terdiri dari 77 bagian yang disatukan.

Lidah api ini sebagai simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia
yang ingin meraih kemerdekaan. Awalnya nyala api perunggu ini dilapisi
lembaran emas seberat 35 kilogram akan tetapi untuk menyambut
perayaan setengah abad (50 tahun) kemerdekaan Indonesia pada
tahun 1995, lembaran emas ini dilapis ulang sehingga mencapai berat
50 kilogram lembaran emas.

Puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang bermakna
agar Bangsa Indonesia senantiasa memiliki semangat yang menyala-
nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang
masa.

Pelataran cawan memberikan pemandangan bagi pengunjung dari
ketinggian 17 meter dari permukaan tanah. Pelataran cawan dapat
dicapai melalui elevator ketika turun dari pelataran puncak, atau
melalui tangga mencapai dasar cawan. Tinggi pelataran cawan dari
dasar 17 meter, sedangkan rentang tinggi antara ruang museum sejarah
ke dasar cawan adalah 8 m (3 meter dibawah tanah ditambah 5 meter
tangga menuju dasar cawan).

Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45 x 45
meter, semuanya merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi
Kemerdekaan RI (17-8-1945).

Sebanyak 28 kg dari 38 kg emas pada obor monas tersebut 
merupakan sumbangan dari Teuku Markam, seorang pengusaha 
Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.


* Pandangan Jakarta Pusat dari puncak Monumen Nasional











* Museum Sejarah Nasional Indonesia di kaki monumen.

















* Diorama sejarah Indonesia di dalam museum.

















* Kolam pantul Monas di Taman Medan Merdeka Monas.



















* Monas di kala malam.



















* Dewi Pertiwi
























* Garuda Pancasila di dalam Ruang Kemerdekaan Monas.























* Naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia disimpan 
di Ruang Kemerdekaan Monas.



















* Peta Nusantara berlapis emas di dalam 
   Ruang Kemerdekaan.



















__________

Penutup
__________

Dengan demikian, menghubungkan pokok masalah postingan ini dengan
tujuan dibangunnya Monas maka dapat diketahui, "Monas dibangun
bukanlah untuk tempat gantungan, apakah gantungan diri, kompor gas
atau sepatu"

Tapi dibangun untuk :

untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia dalam
merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda.



















Karena itu...!

Kepada boru batak yang telah mengecewakan putra batak apakah
menikah dengan bayo sileban atau bayo batak lainnya di mohon
kehadirannya ke Jakarta untuk mengambil sepatu batak tersebut.
Naik motor Sampagul biar cepat sampainya...!

Lain kali...!

Kepada bayo dan boru batak sedunia dalam hubungannya dengan
pernikahan, "Molo na olo dokkon olo...! Natola margabus...!".

video


Jika mau menggantung sepatu, gantung ditugu masing-masing
marga, semua marga batak punya tugu dan jangan di Monas.

Ini tugunya :

* Tugu Siregar













* Tugu Simbolon















* Tugu Situmorang


* Tugu Dan lain-lain

Selamat malam...! Dan mohon maaf jika ada yang merasa
kurang berkenan dengan postingan ini. Ambil yang postifnya,
buang yang negatifnya. Mari sama belajar tentang budaya, adat
dan musik batak.

Horas...horas...horas...!





















__________________________________________
Cat.  Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Monumen_Nasional
* Situs Batak Lainnya
* Tiada yang terlalu serius (Apalagi Menggurui) pada
   postingan ini kecuali info sekitar Monas.


PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar