Minggu, 05 Juli 2015

Kisah Sedih tentang turunnya Surah Terakhir Al Qur'an dan Kisah Kesal akan mau dipukulnya Nabi Muhammad SAW oleh Ukasyah






Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh...!

Postingan ini adalah kelanjutan dari halaman 1-nya yang ada pada Link :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2015/07/nuzulul-quran-2015-pengertian-alasan.html

Selamat menyimak...!
__________________________________________________________________________

Kisah Sedih Tentang Ayat terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
Sallahu Allaihi Wassalam dalam hubungannya dengan berpulangnya beliau
kerahmatulloh dan Kisah Kesal karena ada ummat di masa ke nabian yang
ingin balas dendam pada Rasululloh
___________________________________________________________________________
























Diriwayatkan bahwa surah Al-Maidah ayat 3 diturunkan pada waktu sesudah
ashar yaitu pada hari Jum'at di Padang Arafah pada musim haji terakhir [Wada].


















Pada masa itu Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. berada di Arafah di
atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam.
tidak begitu jelas menangkap isi dan makna yang terkandung dalam ayat
tersebut. Kemudian Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. bersandar pada
unta dia, dan unta dia pun duduk perlahan-lahan.*

Setelah itu turun malaikat Jibril a.s. dan berkata: “Wahai Muhammad,
sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka
terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla.dan demikian
juga apa yang terlarang olehnya. Karena itu kamu kumpulkan para sahabatmu
dan beritahu kepada mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu
denganmu.”

Setelah itu Malaikat Jibril a.s. pergi, maka Rasulullah Sallalahu Allaihi
Wassalam. pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah.Setelah Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. mengumpulkan para sahabat dia, maka Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh
malaikat Jibril a.s.

Ketika para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira
sambil berkata: “Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempuna.”

Namun ketika Abu Bakar Radiyallahu Anha. mendengar keterangan Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya
maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis dengan kuat.
Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga malam.

Kisah tentang Abu Bakar Radiyallahu Anha. menangis telah sampai kepada para
sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di hadapan rumah Abu Bakar
Radiyallahu Anha. dan mereka berkata: “Wahai Abu Bakar, apakah yang telah
membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu
berasa gembira sebab agama kita telah sempurna.”

Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar Radiyallahu Anha.
pun berkata: “Wahai para sahabatku, kalian semua tidak tahu tentang musibah
yang menimpa kamu, tidakkah kalian tahu bahwa apabila sesuatu perkara itu
telah sempurna menunjukkan bahwa perpisahan kita dengan Rasulullah Sallalahu
Allaihi Wassalam telah dekat. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri
nabi menjadi janda.”

Setelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar Radiyallahu Anha. maka
sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar Radiyallahu Anha., lalu
mereka menangis. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain,
maka mereka pun terus beritahu Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam.
tentang apa yang mereka lihat itu.

Berkata salah seorang dari para sahabat: “Ya Rasulullah Sallalahu Allaihi
Wassalam., kami baru kembali dari rumah Abu Bakar Radiyallahu Anha. dan kami
mendapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di hadapan rumah dia.”
Ketika Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. mendengar keterangan dari para
sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. dan
dengan bergegas dia menuju ke rumah Abu Bakar Radiyallahu Anha..

Sesampainya Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. di rumah Abu Bakar
Radiyallahu Anha., maka Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. melihat para
sahabatnya sedang menangis dan bertanya: “Wahai para sahabatku, mengapa kamu
semua menangis?.”

Kemudian Ali Radiyallahu Anha. berkata: “Ya Rasulullah Sallalahu Allaihi
Wassalam., Abu Bakar Radiyallahu Anha. mengatakan dengan turunnya ayat ini
membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Benarkah ini ya Rasulullah?.”
Lalu Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. berkata: “Semua yang dikatakan
oleh Abu Bakar Radiyallahu Anha. adalah benar, dan sesungguhnya masa untuk
aku meninggalkan kamu semua telah hampir dekat.”

Abu Bakar Radiyallahu Anha. mendengar pengakuan Rasulullah Sallalahu Allaihi
Wassalam., maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan,
sementara Ali Radiyallahu Anha. pula gemetar seluruh tubuhnya. Dan para
sahabat yang lain menangis dengan sekuat-kuatnya yang mereka mampu..

















Pada saat sudah dekat ajal Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam., dia menyuruh
Bilal azan untuk mengerjakan shalat, lalu berkumpul para Muhajirin dan Anshar
di masjid Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam.. Kemudian Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. menunaikan shalat dua raka’at bersama semua yang
hadir. Setelah selesai mengerjakan shalat dia bangun dan naik ke atas mimbar
dan berkata:

“Alhamdulillah, wahai para muslimin, sesungguhnya saya adalah seorang nabi
yang diutus dan mengajak orang kepada jalan Allah dengan izinnya. Dan saya
ini adalah sebagai saudara kandung kalian, yang kasih sayang pada kalian
semua seperti seorang ayah. Oleh karena itu kalau ada yang mempunyai hak
untuk menuntutku, maka hendaklah ia bangun dan balaslah saya sebelum saya
dituntut di hari kiamat.”

Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. berkata demikian sebanyak 3 kali
kemudian bangunlah seorang lelaki yang bernama ‘Ukasyah bin Muhshan dan berkata:

“Demi ayahku dan ibuku ya Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam, kalau
anda tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali sudah tentu saya tidak
mau melakukan hal ini.”

Lalu ‘Ukasyah berkata lagi:

“Sesungguhnya dalam Perang Badar saya bersamamu ya Rasulullah, pada masa
itu saya mengikuti unta anda dari belakang, setelah dekat saya pun turun
menghampiri anda dengan tujuan supaya saya dapat mencium paha anda, tetapi
anda telah mengambil tongkat dan memukul unta anda untuk berjalan cepat,
yang mana pada masa itu saya pun anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh
itu saya ingin tahu sama anda sengaja memukul saya atau hendak memukul
unta tersebut.”

Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. berkata: “Wahai ‘Ukasyah, Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. sengaja memukul kamu.” [Rasulullah Sallalahu
Allaihi Wassalam melakukan pemukulan tersebut karena dia tidak ingin
dikultuskan oleh manusia termasuk sahabatnya itu. pen] Kemudian Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. berkata kepada Bilal Radiyallahu Anha.: “Wahai
Bilal, kamu pergi ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkatku ke mari.” Bilal
keluar dari masjid menuju ke rumah Fatimah sambil meletakkan tangannya di
atas kepala dengan berkata: “Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk
dibalas [diqishash].”

Setelah Bilal sampai di rumah Fatimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk
pintu. Kemudian Fatimah Radiyallahu Anha. menyahut dengan berkata: “Siapakah
di pintu?.” Lalu Bilal Radiyallahu Anha. berkata: “Saya Bilal, saya telah
diperintahkan oleh Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. untuk mengambil
tongkat dia.” Kemudian Fatimah Radiyallahu Anha. berkata: “Wahai Bilal, untuk
apa ayahku minta tongkatnya.” Berkata Bilal Radiyallahu Anha.: “Wahai Fatimah,
Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. telah menyediakan dirinya untuk
diqishash.” Bertanya Fatimah. Radiyallahu Anha. lagi: “Wahai Bilal, siapakah
manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah Sallalahu Allaihi
Wassalam.?.” Bilal Radiyallahu Anha. tidak menjawab pertanyaan Fatimah
Radiyallahu Anha., segeralah Fatimah Radiyallahu Anha. memberikan tongkat
tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah Sallalahu
Allaihi Wassalam.

Setelah Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. menerima tongkat tersebut
dari Bilal Radiyallahu Anha. maka dia pun menyerahkan kepada ‘Ukasyah.
Bilal masuk sambil membawa cambuk dan memberikannya kepada Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. Setelah itu, Bilal kembali ke tempat duduknya
sambil menatap tajam Ukasyah bin Muhsin.

Namun, yang ditatap tetap tampak tenang dan tetap bergeming oleh kegelisahan
di sekelilingnya. Orang seperti apakah Ukasyah ini? Bagaimana ia bisa sampai
hati menuntut Rasul Sallalahu Allaihi Wassalam. untuk menerima cambukannya?
Bukankah Ukasyah juga tahu bahwa dia Sallalahu Allaihi Wassalam. tidak
sengaja? Bukankah Ukasyah juga tahu bahwa memaafkan itu jauh lebih mulia?
Bukankah Ukasyah juga melihat bahwa Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam.

saat itu sudah berusia enam puluh tiga tahun? Bukankah keimanan Ukasyah
kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai pejuang Badar sudah tidak diragukan lagi?
Kenapa bisa begini ya, Ukasyah? Kenapa? dipenuhi pikiran seperti itu, para
sahabat Anshar dan Muhajirin menatap bolak-balik antara Rasulullah Sallalahu
Allaihi Wassalam. dan Ukasyah dengan perasaan tegang.

Ketegangan itu berubah menjadi keheningan yang mencekam ketika Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. memberikan cambuknya kepada Ukasyah. Begitu
tangan Ukasyah bin Muhsin meraih cambuk dan menguraikannya dengan tenang
dan perlahan, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab berdiri serempak.

Sorot mata keduanya yang biasa tenang kini menyala seperti sedang berhadapan
dengan musuh di medan tempur. Mereka berdua berkata, “Hai Ukasyah! Kami
sekarang berada di hadapanmu! Pukul dan qisaslah kami berdua sepuasmu dan
jangan sekali-kali engkau pukul Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam.!”

Suasana jadi mencekam sejenak karena Ukasyah tampak tidak mempedulikan
mereka. Sementara Abu Bakar dan Umar tetap berdiri menantang. Namun, dengan
lembut, Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. berkata kepada kedua sahabat
terkasihnya itu, “Duduklah kalian berdua. Allah telah mengetahui kedudukan
kalian.” Hanya karena Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam yang berkatalah,
maka Abu Bakar dan Umar duduk. Namun, mata mereka tetap menatap Ukasyah.

Tiba-tiba, seseorang kemudian berdiri pula dan kembali menatap Ukasyah
dengan pandangan menantang. Orang ini juga sangat dikasihi Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam, lelaki gagah itu adalah Ali bin Abi Thalib
yang langsung berkata, “Hai Ukasyah! Aku ini sekarang masih hidup di
hadapan Nabi Sallalahu Allaihi Wassalam. Aku tidak sampai hati melihat
kalau engkau akan mengambil kesempatan qisas memukul Rasulullah.

Inilah punggungku, maka qisaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku
semaumu dengan tangan engkau sendiri!” Namun, Ukasyah seolah tidak mendengar
apa yang dikatakan Ali Radiyallahu Anha. Tangannya terlihat semakin erat
menggenggam cambuk. Setelah Ali berkata begitu, Rasulullah Sallalahu Allaihi
Wassalam. cepat-cepat menukasnya dan meminta Ali kembali duduk, “Allah
Azza wa Jalla. telah tahu kedudukanmu dan niatmu, wahai Ali!”

Setelah itu cucu Rasulullah Hasan dan Husin bangun dengan berkata: “Wahai
‘Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam., kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu
menqishash Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam.” Mendengar kata-kata
cucunya Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. pun berkata: “Wahai buah
hatiku, duduklah kalian berdua.” Berkata Rasulullah Sallalahu Allaihi
Wassalam. “Wahai ‘Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul.”

Kemudian ‘Ukasyah berkata: “Ya Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam., anda
telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.” Maka Rasulullah Sallalahu
Allaihi Wassalam. pun membuka baju, terlihatlah kulit baginda yang putih
dan halus maka menangislah semua yang hadir.

seketika ‘Ukasyah melihat tubuh badan Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam.
maka ia pun memeluk dia dan berkata; “Saya tebus anda dengan jiwa saya,
ya Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. siapakah yang sanggup memukul
anda. Saya melakukan begini karena saya hendak menyentuh badan anda yang
dimuliakan oleh Allah Azza wa Jalla dengan badan saya.

Dan Allah Azza wa Jalla. menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu.”
Kemudian Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. berkata: “Dengarlah kamu
sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya.”

Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap
peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata:
“Wahai ‘Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah
memperolehi derajat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah Sallalahu Allaihi
Wassalam. di dalam syurga.”

Ketika ajal Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam hampir dekat maka dia
pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah Radiyallahu Anha. dan dia
berkata: “Selamat datang kamu semua semoga Allah Azza wa Jalla. mengasihi
kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada
Allah Azza wa Jalla. dan mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari
perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula
saat kembalinya seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla dan menempatkannya
di syurga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku,
Fadhl bin Abas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah
menolong keduanya.

Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua
menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain yaman yang putih. Apabila
kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat
tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar
meninggalkan aku. Pertama yang akan menshalatkan aku ialah Allah Azza wa
Jalla [bahasa kiasan. pen], kemudian yang akan menshalati aku ialah Jibril
a.s, kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang
terakhir malaikat lzrail berserta dengan semua para pembantunya.Setelah
itu baru kamu semua masuk bersama-sama mensholati aku.”

Manakala para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka
mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata: “Ya Rasulullah Sallalahu
Allaihi Wassalam. anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk
semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam memimpin kami dan
sebagai Rasul yang meluruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti
kepada siapakah yang akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?.”

Kemudian Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. berkata: “Dengarlah para
sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan
yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasehat yang
satu pandai bicara dan yang satu diam. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran
dan yang diam itu ialah maut.

Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu
semua kembali kepada Al-Quran dan Hadis-ku dan apabila hati kamu keras maka
lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”

Setelah Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. berkata demikian, maka sakit
Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. berawal. Dalam bulan safar Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. sakit selama 18 hari dan sering dikunjungi oleh
para sahabat.

Menurut riwayat bahwa Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. diutus pada
hari Senin dan wafat pada hari Senin. Pada hari Senin penyakit Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. bertambah berat, setelah Bilal Radiyallahu Anha.
selesaikan azan subuh, maka Bilal Radiyallahu Anha. pun pergi ke rumah Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam.. Sesampainya Bilal Radiyallahu Anha. di rumah Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. maka Bilal Radiyallahu Anha. pun memberi salam:

“Assalaarnualaika ya rasulullah.” Lalu dijawab oleh Fatimah Radiyallahu Anha.:
“Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. masih sibuk dengan urusan dia.” Setelah
Bilal Radiyallahu Anha. mendengar penjelasan dari Fatimah Radiyallahu Anha. maka
Bilal Radiyallahu Anha. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah
Radiyallahu Anha. itu.

Ketika waktu subuh datang, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah Sallalahu
Allaihi Wassalam. dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal
Radiyallahu Anha. telah di dengar oleh Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. dan
baginda berkata; “Masuklah wahai bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat,
oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar menjadi imam shalat subuh berjamaah dengan mereka
yang hadir.”

Setelah mendengar kata-kata Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. maka Bilal
Radiyallahu Anha. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di
atas kepala dengan berkata: “Aduh musibah.” Sesampai di masjid maka Bilal
Radiyallahu Anha. pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. katakan kepadanya.

Abu Bakar Radiyallahu Anha. tidak dapat menahan dirinya apabila ia melihat mimbar
kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar Radiyallahu Anha. menangis sehingga
ia jatuh pengsan. Melihat peristiwa ini maka riuh rendah dalam masjid, sehingga
Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. bertanya kepada Fatimah Radiyallahu Anha.;

“Wahai Fatimah apakah yang telah terjadi?.” Maka Fatimah Radiyallahu Anha. pun
berkata: “Kekacauan kaum muslimin, sebab anda tidak pergi ke masjid.” Kemudian
Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. memanggil Ali Radiyallahu Anha. dan Fadhl
bin Abas, lalu Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. bersandar kepada keduanya
untuk pergi ke masjid. Setelah Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. sampai di
masjid maka dia pun bershalat subuh bersama dengan para jamaah.

Setelah selesai shalat subuh maka Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. pun
berkata: “Wahai kaum muslimin, kamu semua sentiasa dalam pertolongan dan
pemeliharaan Allah, karena itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah Azza
wa Jalla. dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan
dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan
hari terakhir aku di dunia.”

Setelah berkala demikian maka Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. pun pulang
ke rumah dia. Bunda Aisyah memandang Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam.
dengan penuh sayang. Biasanya, hati Bunda Aisyah dipenuhi kekaguman akan
kegagahan suaminya tercinta itu. Sekarang, hati Bunda Aisyah dipenuhi rasa
iba melihat suaminya itu dalam keadaan lemah dan sakit. Ingin rasanya Bunda
Aisyah mencurahkan segala apa yang ada dalam dirinya untuk mengembalikan tenaga
dan hidup suaminya. Namun, setelah kembali dari masjid, Rasulullah merasa bahwa
setiap saat, badan dia menjadi bertambah lemah.

Hari itu tanggal 8 Juni tahun 632 M. Dia meminta sebuah bejana berisi air dingin.
Kemudian, meletakkan tangan dia ke dalam air itu dan mengusapkan air ke wajahnya.
Ada seorang laki-laki anggota keluarga Abu Bakar yang berkunjung dan membawa
siwak. Dia Sallalahu Allaihi Wassalam. memandang siwak itu demikian rupa yang
menunjukkan bahwa dia ingin bersiwak. Maka, Bunda Aisyah melunakkan ujung siwak
itu dengan giginya, dan Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. pun menggosok
dan membersihkan gigi dia [Ini yang di maksud dalam Hadits bahwa ludah Bunda
Aisyah bertemu dengan ludah Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam].

Kemudian Allah Azza wa Jalla. mewahyukan kepada malaikat lzrail: “Wahai lzrail,
pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak
mencabut rohnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut.
Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah terlebih dahulu, kalau ia
izinkan kamu masuk, maka masuklah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak izinkan
kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku.”

sesudah malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah Azza wa Jalla. maka malaikal
lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badui. Setelah malaikat lzrail
sampai di depan rumah Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. maka ia pun memberi
salam,Tiba-tiba dari luar pintu terdengar suara orang berseru mengucapkan salam,
”Bolehkah aku masuk?”Tanya si tetamu itu, ketika puteri Rasulullah,Fatimah az-zahra
membuka pintu.

Tapi Fatimah tidak mengizinkannya.”maafkanlah,ayahku sedang deman” kata Fatimah.
Pintu di tutup dan dia kembali menemani ayahnya yang sedang berbaring di
pembaringan. Kemudian malaikat lzrail mengulangi lagi salamnya, dan kali
ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam

Rasululullah memandang puterinya itu dan bertanya,”siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah ayah,baru sekali ini saya melihatnya.” tutur Fatimah lembut.
Lalu,Rasulullah menatap wajah puterinya itu dengan padangan yang menggetarkan.
Renungannya cukup sayu seolah-olah bahagian demi bahagian wajah putrinya itu
hendak dikenang. Bertanda bahwa dia akan segera berpisah dengan putri
kesayanganya itu.

“Ketahuilah anakku bahwa dialah yang mehapuskan kenikmatan sementara dialah
yang memisahkan pertemuan di dunia.Dialah malaikat maut.” Kata-kata Rasulullah
menyebabkan Fatimah ditimpa kesedihan yang amat sangat.

Ketika Rasullullah Sallalahu Allaihi Wassalam. mendengar tangisan Fatimah
Radiyallahu Anha. maka dia pun berkata: “Janganlah kamu menangis wahai anakku,
engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu denganku.”
Fatimah-pun tersenyum. Kemudian Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. pun
menjemput malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap:
“Assalamuaalaikum ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam.
menjawab: “Wa alaikas saalamu, wahai lzrail engkau datang mengunjungiku atau
untuk mencabut rohku?” Maka berkata malaikat lzrail:

“Kedatangan saya adalah untuk mengunjungimu dan untuk mencabut rohmu, itupun
kalau anda izinkan, kalau anda tidak izinkan maka aku akan kembali.”
Berkata Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam.: “Wahai lzrail, di manakah
kamu tinggalkan Jibril?” Berkata lzrail: “Saya tinggalkan Jibril di langit
dunia, semua para malaikat sedang memuliakan dia.” [Malaikat Jibril adalah
salah satu malaikat yang memiliki kedudukan paling utama].”Bolehkah aku minta
Jibril untuk turun?” Kata Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam pada Izrail.

Tidak beberapa saat kemudian Jibril a.s. pun turun dan duduk dekat kepala Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. Melihat kedatangan Jibril a.s. maka Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. pun berkata: “Wahai Jibril, tahukah engkau bahwa
ajalku sudah dekat” Berkata Jibril a.s.: “Ya aku memang tahu.” Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. bertanya lagi: “Wahai Jibril, beritahu kepadaku
kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah Azza wa Jalla.”

Berkata Jibril a.s.: “Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para
malaikat bersusun rapi menanti rohmu dilangit. Semua pintu-pintu syurga telah
dibuka, dan Semua bidadari sudah berhias menanti kehadiran rohmu.”

Berkata Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam.: “Alhamdulillah, Namun
sesungguhnya, bukan itu yang kutanyakan. wahai Jibril, gembirakanlah aku
dengan keadaan umatku pada hari Kiamat nanti.” [Inilah orang yang begitu mulia.
Pada saat ajalnya telah menjelang dan diberi kabar gembira tentang kehormatan
yang akan diterimanya di langit, justru ia baru akan bisa gembira jika telah
mendengar kabar tentang nasib umatnya nanti,betapa besarnya kasih sayang
Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam.

kepada kita] Kemudian Jibril berkata lembut menghibur dan menenangkan,
“Aku beri engkau kabar gembira bahwa Allah Azza wa Jalla. telah berfirman,
‘Sesungguhnya, Aku telah mengharamkan surga bagi semua Nabi sebelum engkau
memasukinya terlebih dahulu. Allah mengharamkan pula surga itu kepada sekalian
umat manusia sebelum umatmu terlebih dahulu memasukinya.” [Betapa ruginya manusia
yang dilahirkan sebagai umat Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam namun tidak
taat pada risalahnya].

Maka, menarik napas legalah Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. Dia bersabda,
“Sekarang, barulah senang hatiku dan hilang susahku.” Kemudian, Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. menoleh kepada Malaikat Maut dan bersabda:
“Wahai lzrail, dekatlah kamu kepadaku.”

Setelah itu Malaikat lzrail pun memulai tugasnya, ketika roh nya sampai di
dada, maka Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. pun berkata: “Wahai Jibril,
alangkah dahsyatnya rasa mati” Jibril a.s. memalingkan pandangan dari Rasulullah
Sallalahu Allaihi Wassalam. ketika mendengar kata-kata dia itu. Melihat tingkah
laku Jibril a.s tersebut .maka Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. pun berkata:
“Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?” Jibril a.s. berkata:
“Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu
dalam sakaratul maut?”

Anas bin Malik Radiyallahu Anha. berkata: “Ketika roh Rasulullah Sallalahu
Allaihi Wassalam. telah sampai di dada dia telah bersabda: “Aku wasiatkan kepada
kamu agar kamu semua menjaga shalat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke
atasmu.” Ali Radiyallahu Anha. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Sallalahu
Allaihi Wassalam. ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan
kedua bibir dia sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan
Rasulullah Sallalahu Allaihi Wassalam. berkata: “Umatku, umatku.”

Hikmah dari kisah :

- Rasulullah adalah pemimpin yang bertanggung jawab dan tidak dzolim sehingga dia
merelakan tubuhnya untuk di qisash (di hukum balas),karena dia takut pernah
mendzolimi orang lain.

- Rasulullah adalah pemimpin yang sangat di cintai umat dan para sahabatnya
sehingga ketika mengetahui ajal Rasul sudah dekat menangislah semua sahabat.

- Rasulullah sangat mencintai kita sebagai umatnya sehingga detik-detik
terakhir menjelang wafat dia berkata ummati,ummati sampai tiga kali,bukan
keluarga dia ataupun Istri-istri dia.

- Kematian adalah peristiwa yang dahsyat,sampai-sampai malaikat maut dengan
lembut mencabut Roh baginda Rasulullah pun masih terasa sakit.
____________

Penutup
____________

Demikian infonya para kaum muslimin muslimat sekalian...!

Semoga dapat memperluas wawasan ke-Isliman kita khsusnya dibidang pemahaman
Nuzulul Qur'an dengan segala macam seluk beluknya atau hubungannya baik
pada manusia itu sendiri maupun pada Allah Swt.

Wassalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh...!
_______________________________________________________________________
Cat :
PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar