Sunday, October 11, 2015

Asoka : Raja Agung, Raja Kejam, Raja Bijak dan Raja Taat

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Raja Asoka sebagai Raja yang Agung,
Raja yang Kejam, Raja yang Bijak dan Raja yang taat Agama
dalam hubungannya dengan Raja Chola/Angkola dan Pemimpin
Indonesia)
_________________________________________________________________









____________________

Kata Pengantar
____________________

Entah bagaimanlah para sejarawan Dunia menafsir atau menterjemahkan
suatu kejadian di India yang berlangsung dari tahun  269–232 SM yang
mana pada masa ini India sekarang ini dikuasai oleh yang namnya Raja
Asoka (Penulis bukan ahli sejarah).

Begitupun...!

Sebagai orang yang pernah belajar sejarah, penulis yakin apapun hasil
tafsirnya semuanya itu menjadi benar sesuai prinsif-prinsif sejarah.
Dan itulah sebabnya mengapa "Sejarah disebut sebagai Ilmu" dan "Bukan
Sebagai Pengetahuan". (Pengetahuan belum tentu Ilmu, tapi Ilmu sudah
pasti pengetahuan-pen).

Ehem...!

Berikut info sekitar Kerajaan Asoka dan di penutup postingan akan coba
penulis jawab pertanyaan :

- Apa yang dimaksud Raja Asoka sebagai Raja yang Agung,
- Apa yang dimaksud Raja Asoka sebagai Raja yang Kejam,
- Apa yang dimaksud Raja Asoka sebagai Raja yang Bijak,
- Apa yang dimaksud Raja Asoka sebagai Raja yang taat Agama

...dan...

Berapa lama selisih kejadian antara masa kekuasaan Raja Asoka dengan
masa kekuasaan Raja Chola. Hal ini mengingat ada postingan penulis
di alamat :
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2015/10/dinasty-cholaangkola-dari-india-selatan.html

....juga...

- Apa yang dapat diambil jadi manfaat, khsusnya bagi para Pemimpin di
  Indonesia sehubungan dengan kepemimpinan Raja Asoka ini. Titik.

Para kawan...!
_____________________________________

Sekilas Raja Asoka - India
_____________________________________























* Pemahaman Umum

Asoka yang Agung (juga Ashoka, Asoka, dilafazkan sebagai Asyoka)
adalah penguasa Kekaisaran Gupta dari 273 SM sampai 232 SM.
Seorang penganut agama Buddha, Asoka menguasai sebagian besar
anak benua India, dari apa yang sekarang disebut Afganistan
sampai Bangladesh dan di selatan sampai sejauh Mysore.

Nama "Asoka" berarti 'tanpa duka' dalam bahasa Sanskerta
(a – tanpa, soka – duka). Asoka adalah pemimpin pertama Bharata
(India) Kuno, setelah para pemimpin Mahabharata yang termasyhur,
yang menyatukan wilayah yang sangat luas ini di bawah kekaisarannya,
yang bahkan melampaui batas-batas wilayah kedaulatan negara India
dewasa ini.

Sang penulis Britania H. G. Wells menulis tentang Asoka: "Dalam
sejarah dunia, ada ribuan raja dan kaisar yang menyebut diri
mereka sendiri ‘Yang Agung’, ‘Yang Mulia’ dan ‘Yang Sangat Mulia’
dan sebagainya.

Mereka bersinar selama suatu waktu singkat, dan kemudian cepat
menghilang. Tetapi Asoka tetap bersinar dan bersinar cemerlang
seperti sebuah bintang cemerlang bahkan sampai hari ini"
(Aslinya dalam bahasa Inggris: "In the history of the world there
have been thousands of kings and emperors who called themselves
'Their Highnesses', 'Their Majesties' and 'Their Exalted Majesties'
and so on. They shone for a brief moment, and as quickly
disappeared. But Ashoka shines and shines brightly like a
bright star, even unto this day").

* Kehidupan awal

Asoka adalah putra maharaja Maurya, maharaja Bindusara dari seorang
selir yang pangkatnya agak rendah dan bernama Dharma. Asoka memiliki
beberapa kakak dan hanya satu adik, Witthasoka.

Karena kepandaian yang meneladani dan kemampuannya berperang, ia
dikatakan merupakan cucu kesayangan kakeknya, maharaja Candragupta
Maurya.

Maka seperti diceritakan dalam bentuk legenda, ketika Candragupta
Maurya meninggalkan kerajaannya untuk hidup sebagai seorang Jain,
ia membuang pedangnya. Asoka menemukan pedangnya dan menyimpannya.

* Jalan menuju kekuasaan

Maka sementara ia berkembang menjadi seorang prajurit ulung yang
sempurna dan seorang negarawan lihai, Asoka memimpin beberapa regimen
tentara Maurya. Popularitasnya yang naik di seluruh wilayah kekaisaran
membuat kakak-kakaknya menjadi cemburu karena mereka cemas ia bisa
dipilih Bindusara menjadi maharaja selanjutnya.

Kakaknya yang tertua, pangeran Susima, putra mahkota pertama, membujuk
Bindusara untuk mengirim Asoka mengatasi sebuah pemberontakan di kota
Taxila, di provinsi barat laut Sindhu, di mana pangeran Susima adalah
gubernurnya.

Taxila adalah sebuah daerah yang bergejolak karena penduduknya adalah
sukubangsa Yunani-India yang suka berperang dan juga karena pemerintahan
kakaknya, pangeran Susima kacau.

Oleh karena itu dalam daerah ini banyak terbentuk milisi-milisi yang
mengacau keamanan. Asoka setuju dan bertolak ke daerah yang sedang
dilanda huru-hara.

Maka ketika berita bahwa Asoka akan datang menjenguk mereka dengan pasukannya,
ia disambut dengan hormat oleh para milisi yang memberontak dan pemberontakan
bisa diakhiri tanpa pertumpahan darah. (Provinsi ini di kemudian hari
memberontak labUgi ketika Asoka memerintah, namun kemudian ditumpas
dengan tangan besi).

Keberhasilan Asoka membuat kakak-kakaknya semakin cemas akan maksudnya
menjadi maharaja penerus, maka hasutan-hasutan Susima kepada Bindusara
membuatnya membuang Asoka. Asoka kemudian pergi ke Kalinga dan
menyembunyikan jatidirinya.

Di sana ia bertemu dengan seorang nelayan wanita bernama Karubaki,
dan ia jatuh cinta. Prasasti-prasasti yang baru ditemukan menunjukkan
bahwa ia kelak menjadi permaisuri selirnya yang kedua atau ketiga.

Sementara itu, ada sebuah pemberontakan lagi, kali ini di Ujjayani
(Ujjain). Maharaja Bindusara mengundang Asoka kembali setelah dibuang
selama dua tahun.

Asoka pergi ke Ujjayani dan pada pertempuran di sana terluka, tetapi
para hulubalangnya berhasil menumpas pemberontakan. Asoka kemudian
diobati secara diam-diam sehingga para pengikut setia pangeran Susima
tidak bisa melukainya.

Ia diurusi oleh para bhiksu dan bhiksuni beragama Buddha. Di sinilah ia
pertama kalinya berkenalan dengan ajaran Buddha, dan di sini pula ia
berjumpa dengan Dewi, yang merupakan perawat pribadinya dan putri
seorang saudagar bernama Widisha.

Maka setelah pulih, ia menikahinya. Hal ini tidak bisa diterima oleh
Bindusara bahwa salah seorang putranya menikah dengan seorang penganut
Buddha, maka dia tidak memperbolehkannya tinggal di Pataliputra, tetapi
mengirimnya kembali ke Ujjayani dan membuat menjadi seorang gubernur.

Tahun selanjutnya berjalan cukup tenang untuknya dan Dewi akan melahirkan
putranya yang pertama. Sementara itu maharaja Bindusara mangkat. Sementara
berita putra mahkota yang belum lahir menyebar, Pangeran Susima berniat
untuk membunuhnya; namun si pembunuh justru membunuh ibunya.

Menurut legenda, dalam keadaan murka, pangeran Asoka menyerang Pataliputra
(sekarang Patna), dan memenggal kepala kakak-kakaknya semua termasuk Susima,
dan membuangnya di sebuah sumur di Pataliputra.

Pada saat tersebut banyak orang yang menyebutnya Canda Asoka yang
artinya adalah Asoka si pembunuh dan tak kenal kasih.

Sementara Asoka naik takhta, ia memperluas wilayah kekaisarannya dalam
kurun waktu delapan tahun kemudian dari perbatasan daerah yang sekarang
disebut Bangladesh dan Assam di India di timur sampai daerah-daerah di
Iran dan Afganistan di barat; dari Palmir Knots sampai hampir di ujung
jazirah India di sebelah selatan India.

* Penaklukkan Kalingga






















Ket :
Ashokan empire.gif

Sementara tahap-tahap awal kepemimpinan Asoka terbukti cukup haus darah,
ia kemudian menjadi pengikut ajaran Buddha setelah menaklukkan Kalingga,
daerah yang sekarang adalah negeri bagian India Orissa.

Kalingga adalah sebuah negeri yang bangga akan kemerdekaan dan demokrasinya;
dengan demokrasi monarki dan parlementernya, negeri ini bisa dikatakan
sebuah pengecualian di Bharata Kuna, karena di sana ada konsep Rajadharma,
yang berarti kewajiban para pemimpin, yang secara dasar bersatu-padu
dengan konsep keberanian dan Ksatriyadharma.

Asal mula Perang Kalingga (265 SM atau 263 SM) tidak jelas. Salah satu
saudara Susima kemungkinan melarikan diri ke Kalingga dan mendapat suaka
secara resmi di sana.

Hal ini sangat membuat murka Asoka. Ia diberi saran oleh para menterinya
menyerang Kalingga untuk tindakan pengkhianatan ini. Asoka kemudian
meminta Kalingga untuk tunduk kepada kekuasaannya. Ketika mereka menolak
diktatnya, Asoka mengirimkan salah seorang panglima perangnya supaya
mereka tunduk.

Sang panglima perang dan pasukannya kalah dan melarikan diri berkat
kepandaian panglima perang Kalingga. Asoka yang tercengang akan kekalahan
ini, menyerang dengan sebuah pasukan terbesar yang belum pernah ada
dalam sejarah India sampai saat itu.

Kalingga melawan dengan sengit tetapi mereka bukan padanan pasukan perang
Asoka yang sangat kuat. Seluruh wilayah Kalingga dijarah dan dihancurkan:
piagam-piagam Asoka di kemudian hari menyebutkan bahwa di sisi Kalingga
kurang lebih 100.000 jiwa tewas sedangkan jumlah prajurit Asoka yang tewas
kurang lebih 10.000. Ribuan pria dan wanita dibuang pula.

* Asoka masuk Buddha

Menurut cerita legenda, satu hari setelah peperangan usai, Asoka menjelajah
kota dan yang bisa dilihat hanyalah rumah-rumah yang terbakar dan mayat-mayat
yang bergelimpangan di mana-mana.

Hal ini membuatnya muak dan ia berteriak dengan kata-kata yang menjadi
termasyhur: "Apakah yang telah kuperbuat?" Kekejian penaklukan ini akhirnya
membuatnya memeluk agama Buddha dan ia memakai jabatannya untuk mempromosikan
falsafah yang masih relatif baru ini sampai dikenal di mana-mana, sejauh
Roma dan Mesir.

Sejak saat itu Asoka, yang sebelumnya dikenal sebagai “Asoka yang kejam”
(Canda Asoka) mulai dikenal sebagai sang “Asoka yang Saleh” (Dharmâsoka).

Ia lalu mempromosikan aliran Buddha Wibhajyawada dan menyebarkannnya di
dalam wilayahnya dan di seluruh dunia yang dikenal mulai dari 250 SM.
Maharaja Asoka bisa dikatakan adalah yang pertama dengan serius
mengusahakan pembentukan satuan politik Buddha.

Dalam usahanya ini, ia dibantu oleh putranya Mahinda yang mulia dan
putrinya Sanghamitta (yang berarti “mitra Sangha”) dan yang membawa
agama Buddha ke Sri Lanka. Asoka membangun ribuan stupa dan vihara bagi
penganut Buddha.

Stupa-stupa di Sanchi sangat termasyhur dan stupa bernama Sanchi Stupa I
didirikan oleh Maharaja Asoka. Selama sisa masa pemerintahannya, ia
menganut kebijakan resmi anti-kekerasan ahingsa.

Bahkan penyembelihan dan penyiksaan sia-sia terhadap hewan pun dilarang.
Margasatwa dilindungi dengan undang-undang sang maharaja yang melarang
pemburuan untuk olahraga dan pengisian waktu luang. Pemburuan secara
terbatas diperbolehkan untuk maksud konsumsi namun Asoka juga mempromosikan
konsep vegetarianisme.

Asoka juga menaruh belas kasihan kepada para narapidana di penjara.
Mereka diperbolehkan mengambil cuti, sehari dalam waktu setahun. Ia
berusaha meningkatkan ambisi profesional rakyat jelata dengan membangun
pusat-pusat studi yang mungkin bisa disebut universitas.

Ia juga mengupayakan system irigasi bagi pertanian. Rakyatnya diperlakukan
secara sama, apapun derajat, agama, haluan politik, ras, sukubangsa dan
kasta mereka. Kerajaan-kerajaan di sekeliling wilayahnya yang sebenarnya
mudah ditaklukkan ia buat sebagai sekutu yang terhormat.

Asoka juga dipercayai membangun rumah-sakit untuk hewan dan merenovasi
jalan-jalan utama yang menghubungkan daerah-daerah di India. Setelah
perubahan dirinya, Asoka dikenal sebagai Dhammashoka (bahasa Pali), artinya
Asoka, penganut Dhamma, atau Asoka yang Soleh.

Bentuknya dalam bahasa Sanskerta adalah Dharmâsoka. Asoka kemudian
mendefiniskan prinsip-prinsip dasar dharma (dhamma) sebagai tindakan
anti-kekerasan, toleransi terhadap semua sekte atau aliran agama, dan
segala pendapat, mematuhii orang tua, menghormati para Brahmana, guru-
guru agama dan pandita, baik hati terhadap kawan, perlakuan manusiawi
terahadap para pembantu, dan murah hati terhadap semua orang.

Prinsip-prinsip ini menyinggung haluan umum etika berkelakuan terhadap
sesama di mana tidak ada kelompok agama atau sosial yang bisa menentang.























Ket :
AshokaColumn.jpg

Beberapa pengkritik perpendapat bahwa Asoka takut akan adanya lebih
banyak peperangan. Namun sebenarnya negara-negara tetangganya, termasuk
kekaisaran Seleukus dan kerajaan-kerajaan Baktria-Yunani yang didirikan
oleh Diodotus I, tidak ada yang bisa menyamai kekuatan Asoka.

Asoka hidup pada masa yang sama dengan Antiochus I Soter dan penerusnya
Antiochus II Theos dari dinasti Seleukus seperti begitu pula Diodotus I
dan putranya Diodotus II dari kerajaan Baktria-Yunani.

Jika prasasti-prasasti dan piagam-piagamnya dipelajari dengan teliti,
maka bisa disimpulkan bahwa ia mengenal Dunia Helenistik tetapi tidak
pernah kagum.

Piagam-piagamnya yang membicarakan hubungan persahabatan, memberikan
Antiochus dari kekaisaran Seleukus dan Ptolemeus III dari Mesir. Tetapi
kemasyhuran kekaisaran Maurya sudah tersebar semenjak kakek Asoka,
Candragupta Maurya mengalahkan Seleucus Nicator, pendiri dinasti Seleukus.

Sumber banyak pengetahuan kita akan Asoka adalah prasasti-prasasti yang
banyak ditinggalkannya dan dipahatkannya di pilar-pilar dan batu-batu di
seluruh wilayah kekaisarannya.

Maharaja Asoka juga dikenal sebagai Piyadasi (dalam bahasa Pali) atau
Priyadarsi (dalam bahasa Sanskerta) yang berarti "berparas baik" atau
"dikaruniai Dewa-Dewa dengan berkah baik". Semua prasastinya memiliki
sentuhan kekaisaran dan menunjukkan rasa kasih sesama yang mendalam;
ia menyapa rakyatnya dengan kata "anak-anakku".

Prasasti-prasasti ini mempromosikan moral sesuai agama Buddha dan memberi
semangat pada tindakan non-kekerasan serta keteguhan dalam melaksanan
Dharma (kewajiban atau tindakan yang bajik).

Prasasti-prasasti ini juga membicarakan ketenarannya dan negara-negara
taklukkan serta juga negara-negara tetangga yang berusaha menghancurkannya.
Informasi tentang peperangan Kalinga juga bisa didapatkan dan juga tentang
sekutu-sekutu Asoka.

Lalu informasi mengenai pemerintahan sipil juga ada. Pilar-pilar Asoka
di Sarnath adalah peninggalan Asoka yang paling dikenal. Mereka dibuat
dari batu granit dan merekam kunjungan Asoka kepada maharaja Sarnath
pada abad ke-3 SM. Pilar ini memiliki pucuk berbentuk empat kepala singa
yang berdiri membelakangi satu sama lain. Lambang India modern adalah
keempat singa ini.

Singa selain melambangkan kekuasaan Asoka, juga melambangkan sifat
kerajaan sang Buddha (singa dianggap raja hutan yang merajai semua
margasatwa dan Buddha adalah seorang pangeran mahkota). Dalam
menerjamahkan teks-teks yang berada pada prasasti di pilar-pilar ini,
para sejarawan bisa mempelajari banyak tentang Kekaisaran Maurya.

Namun sulit apakah yang tertulis di situ benar semua atau tidak. Yang
jelas ialah teks-teks ini menunjukkan kepada kita bagaimana maharaja Asoka
ingin dikenang.












Ket :
Prasasti batu pertama Asoka di Girnar

Kata-kata Asoka sendiri seperti diketahui dari piagam-piagamnya adalah:
"Semua orang adalah anakku. Aku seperti ayah mereka. Seperti seorang ayah
menginginkan kebaikan dan kebahagian untuk anaknya, aku ingin supaya semua
orang selalu bahagia."

Edward D'Cruz mentafsirkan dharma maharaja Ashoka sebagai "agama yang
dipakai sebagai lambang dari sebuah persatuan kekaisaran dan sebuah
semen perekat untuk mempersatupadukan unsur-unsur heterogen dan
berbeda-beda kekaisaran ini".


* Kematian dan warisannya

Maharaja Asoka memerintah selama 41 tahun, dan setelah mangkatnya, dinasti
Maurya masih bertahan selama lebih dari 50 tahun. Asoka memiliki banyak selir
dan anak, namun nama-nama mereka tidaklah diketahui.

Mahinda dan Sanghamitta adalah anak kembar yang dilahirkan istri pertamanya,
Dewi di kota Ujjayini. Ia mempercayai mereka untuk menyebarkan agama Buddha
di dunia yang dikenal dan tak dikenal.

Mahinda dan Sanghamitta pergi ke Sri Lanka dan memasukkan Raja, Ratu dan
rakyatnya agama Buddha. Mereka lalu berkeliling dunia sampai ke Mesir
dunia Helenistik (Yunani).

Sehingga mereka tidak bisa melaksanakan kewajiban pemerintahan.
Beberapa arsip langka membicarakan penerus Asoka bernama Kunal,
yang merupakan putra Asoka dari istri terakhirnya.


Ket :
Asokaemblem.jpg

Masa kepemimpinan maharaja Asoka bisa saja mudah menghilang dalam sejarah,
dengan berselangnya abad, jika ia tidak meninggalkan arsip sejarah apa-apa.
Kesaksian maharaja ini ditemukan dalam bentuk pilar-pilar dan batu-batu karang
besar yang dipahati secara megah menjadi prasasti.

Isinya adalah ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan yang ingin ia sebar luaskan.
Selain itu Asoka juga mewariskan kita bahasa tertulis pertama di India
setelah kota kuna Harrapa.

Namun berbeda dengan di Harrapa, teks-teks Asoka bisa kita pahami.
Bahasa yang dipakai Asoka dalam menuliskan teks-teks prasastinya adalah
sebuah bentuk bahasa rakyat atau bahasa Prakerta/Prakrit dan bukan bahasa
Sanskerta.

Pada tahun 185 SM, kurang lebih 50 tahun setelah mangkatnya Asoka, penguasa
Maurya terakhir, Brhadrata, dibunuh secara keji oleh panglima perang Maurya,
Pusyamitra Sunga, saat ia sedang menginspeksi pasukannya.

Pusyamitra Sunga lalu mendirikan dinasti Sunga (185 SM-78 SM) dan hanya
memerintah sebagian wilayah Kekaisaran Maurya yang telah runtuh.

Baru hampir 2.000 tahun kemudian di bawah kepemimpinan Akbar yang Agung dan
cicitnya (buyutnya) Aurangzeb, sebuah bagian besar anak benua India yang pernah
diperintah Asoka, dipersatukan lagi di bawah satu kepemimpinan.

Tetapi akhirnya, orang Inggris di bawah Kekaisaran Britania Indialah yang
menyatukan anak benua yang terpecah-belah ini menjadi sebuah satuan politik
dan merintis jalan menuju munculnya kembali negara Bharata modern yang sembari
memakai lambang Asoka, diilhami oleh ajarannya yang penuh dengan rasa
kepemimpinan kuat dan rasa kasih sesama.

* Ringkasan

Asoka
Samraat Chakravartin
Asoka yang agung
Asoka yang agung
Kekaisaran Maurya
Memerintah : 269–232 SM
Koronasi : 269 SM
Pendahulu : Bindusara
Pengganti : Dasaratha
Istri : Asandhimitra

* Anak

Mahendra
Sanghamitra
Tivala
Kunala
Jaluka
Charumati

Wangsa Maurya
Ayah Bindusara
Ibu Dharma/Shubhadrangi
Lahir 304 SM
Pataliputra, Patna
Meninggal 232 SM (umur 72)
Pataliputra, Patna
Agama Hindu, kemudian Agama Buddha
_____________

Penutup
_____________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

Dan jika penulis mau menyimpul, atas uraian diatas dalam hubungannya dengan
penjelasan judul, maka inilah :

1. Asoka Raja yang Agung

   Adalah hasil penarikan kesimpulan atas semua hal yang pernah diperbuatnya
   selama menjadi Raja di India yang mana pada suatu masa belia pernah menjadi
   Raja yang Saleh, Raja yang Kejam, Raja yang bijak dan Raja yang taat pada
   ajaran Agama.

2. Asoka Raja yang Kejam

   Adalah sebutan umum masyarakat pada Raja Asoka karena perbuatan-nya yang
   - Menyerang  Pataliputra (sekarang Patna), dan memenggal kepala kakak-
     kakaknya semua termasuk Susima, dan membuangnya di sebuah sumur di
     Pataliputra.
   - Menghancurkan Kerajaan Kalingga dengan cara menewaskan 100.000 lebih
     Prajurit dan masyarakat.

3. Asoka Raja yang Bijak

   Adalah efek lain atau tindakan lain dari Raja Asoka setelah menjadi
   penganut Agama Budha, dimana pada masa ini beliau :
   - Menetapkan aturan-aturan untuk tidak melakukan kekerasan-kekerasan
     antara manusia
   - Juga menetapkan aturan-aturan untuk tidak sembarangan membunuh hewan
   - Memberikan waktu cuti pada para narapidana
   - Membangun jalan-jalan dilingkungan masyarakatnya

4. Asoka Raja yang Taat Beragama
 
   Adalah Raja Asoka yang diakhir masa kekuasaannya menjadi penganut
   agama Budha yang taat, ajaran-ajarannya, falsafah-falsafahnya di
   sebarkannya keseluruh daerah kekuasaannya, juga ratusan candi sebagai
   tempat bersembahyang dibangunnya.

Para kawan sekalian...!

Adapun jarak tahun antara Kejadian masa Raja Asoka dengan Raja Chola di
India sekitar( Asokas : 269–232 SM - Chola  848 - 1070 M. Artinya,
Kerajaan Asoka dulu ada, baru kemudian Kerajaan Chola.

Ehem...!

Soal kepemimpinan Asoka yang harus diambil manfaatnya bagi para pemimpin
di Indonesia, maka penulis ingin berkata :

- Jadi jugalah Pemimpin yang Agung, artinya kita semua sadar tak ada
  manusia yang sempurna dan hukum sebab akibat tetap ada. Menjadi
  pemimpin memang perlu modal. Dan untuk mengembalikan modal bisa jadi
  harus menipu pula, menjadi kroptur pula, menjadi tikus-tikus kantor
  pula.

- Setelah menjadi penipu, menjadi koruptor, menjadi tikus-tikus kantor,
  menjadi biangnya kong kali kong, jangan pula lupa Sholat, bersadaqoh,
  dan bila perlu naik haji.

Dan dari semua itu...!

- Dalam hubungannya dengan manusia, tetaplah berusaha untuk tetap tidak
  terlihat ketidak baikan kita, ketidak beresan kita. hingga orang lain
  tetap tertipu karena mereka selalu mengira kita orang baik, orang Agung.

- Dalam hubungannya dengan Allah Swt, maka setiap kepemimpinan itu ada
  tanggungjawabnya. Dan silahkan pertanggungjawabkan kelak kepemimpinanya
  masing-masing.

Raja Asoka hanyalah salah satu pinpinan di India pada suatu masa yang
bisa saja sejarahnya menjadi pelajaran bagi kita, khsusnya bagi para
pimpinan di Nusantara ini.


Para kawan...!

Selamat malam...!




_______________________________________________________________________
Cat :




cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar

No comments:

Post a Comment