Rabu, 02 Desember 2015

Dasi dan Seluk Beluknya

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak infosekitar dasi)
_____________________________________________________________________










___________________

Kata Pengantar
___________________

Kalau kita perhatikan jolma-jolma atau manusia-manusia yang pakai
dasi itu, tambah ganteng-nya kalau dia laki-laki, juga tampab cantik
kalau dia bukan laki-laki atau perempuan.

Begitupun...!

Jika saya menyimak keberadaan Dasi ini di Tanah Batak, ada kesan
punya hubungan dengan agama yang di anut para penduduk Tanah Batak.

Agama Islam misalnya, "Jarang sekali mereka memakai dasi ini di
kehidupan sehari-hari maupun di acara-acara adat. Macam-macam
alasan mereka mengapa tidak begitu menyukai-nya.

Ada yang bilang...!

- Pakai Dasi menjadi susah bernapas
- Pakai Dasi kayak Pendeta
- Pakai Dasi kayak Agama Kristen

Ehem...!

Wlayah Tanah Batak itu dapat di kata cukup kecil, tapi prilaku
penduduknya macam-macam. Sungguh sangat susah menyatukan satu
pendapat, apalagi dalam gelar pendapat tersebut beliau bukan
ketua-nya.

Makanya di Tanah Batak populer istilah, "Maradu Katua". Apakah di
bikinnya masalah menjadi beres setlah dia jadi katua, urusan
belakangan, yang penting itu target katua harus di dapat.

Dan ketika beliau menjadi Katua, maka setiap perintahnya harus
di jawab dengan, "Jadima Katua...!".

Kembali ke masalah Dasi, maka ada kecenderungan para saudara yang
beragama kristen-lah di Tanah Batak yang paling banyak memakai
dasi ini dari jaman dahulu sampai sekarang.

Para kawan dimana-pun berada...!

Berikut info sekitar dasi yang mungkin anda butuhkan jika anda,
anak anda atau istri anda ingin memakai dasi.

Selamat menyimak...!

________________________________________

Sekilas info tentang Dasi Dunia
________________________________________

Dasi, menurut Asosiasi Aksesori Leher Amerika, punya sejarah panjang
yang melilit perkembangannya. Sejak zaman batu pun aksesori di leher
dan dada sudah ada, khususnya untuk memberi ciri pada kelompok pria
dari strata tinggi.

Malah, pada masa Romawi Kuno sudah dipakai kain untuk melindungi leher
dan tenggorokan, khususnya oleh para juru bicara. Pada perkembangannya
prajurit militer Romawi pun memakainya. Bukti dipakainya aksesori
kain leher tampak pada patung batu di makam kuno, Xian, Tiongkok.

Aksesori leher terkenal lainnya muncul pada masa Shakespeare (1564 - 1616),
yakni "ruff". Kerah kaku dari kain putih itu bentuknya serupa piringan
besar yang melingkari leher. Untuk mempertahankan bentuk, ruff sering
dikanji. Lambat laun orang merasa ruff yang bertumpuk-tumpuk hingga
mencapai ketebalan beberapa sentimeter mengakibatkan iritasi.

Lahirlah "cravat" pada masa pemerintahan Louis XIV tahun 1660-an.
Namun, Kroasia lebih tepat disebut sebagai tanah asal dasi. Bahkan
konon kata ini berasal dari nama negara Kroasia dalam bahasa
setempat Hrvatska.

Ini sesuai penuturan Francoise Chaile dalam buku La Grande Historie
de la Cravate (Flamarion, Paris, 1994). "... Sekitar tahun 1635, sekitar
enam ribu prajurit dan ksatria datang ke Paris, yang disewa oleh Louis
XIII dan Richelieu.

Pakaian tradisional mereka amat menarik. Sehelai sapu tangan diikatkan
di leher dengan cara khusus. Sapu tangan itu terbuat dari berbagai
kain, dari yang serupa seragam, katun halus, hingga sutra. Gaya unik
ini segera 'menaklukkan Perancis'.

Apalagi cara ini lebih praktis ketimbang kerah kaku. Sapu tangan
itu cuma diikat, dengan ujung-ujungnya dibiarkan lepas."

Maka disebutlah sapu tangan itu cravat, artinya "penduduk dari Kroasia".

Sebagaimana aksesori leher pada zaman batu, keindahan cravat dan cara
mengikatnya menunjukkan kelas si pemakai. Konon Beau Brummell (1778 - 1840),
yang banyak memengaruhi perkembangan mode, perlu waktu berjam-jam untuk
mengikat cravat-nya.

Banyak buku teknik mengikat cravat diterbitkan. Salah satunya menampilkan
32 cara, meski kenyataannya ada lebih dari 100 cara yang resmi dikenal
saat itu. Begitupun, ada saja orang yang ingin mengekspresikan
kepribadian mereka dengan kreasi sendiri.

Selanjutnya muncul adab mengenakan cravat. Seseorang pantang menyentuh
cravat orang lain. Kalau sampai terjadi, tindakan itu bisa berakibat
fatal, yakni duel.

Bahkan takhayul pun berkembang di seputaran cravat. Konon saat Napoleon
Bonaparte mengenakan cravat hitam yang dililitkan dua kali memutari
leher, ia selalu menang perang. Celakanya, saat terjun di Waterloo
ia memakai cravat putih. Akibatnya? Ia pun "jatuh".

Tahun 1860-an cravat dengan ujung yang panjang mulai menyerupai
aksesori leher modern alias dasi. Ketika muncul mode kemeja berkerah,
dasi disimpulkan di bawah dagu, ujung panjangnya terjuntai di depan
kemeja. Sementara dasi berbentuk kupu-kupu baru populer tahun 1890-an.

Dengan kemajuan teknologi, kini dasi jadi makin beragam warna, desain,
dan teksturnya. Alhasil, lebih dari 100 juta dasi menyerbu berbagai
gerai dasi setiap tahun.

Pada tahun 2002 penyanyi asal Kanada, Avril Lavigne memopulerkan
pemakaian dasi secara casual bagi para remaja wanita.

* Galeri Dasi





















____________

Penutup
____________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

- Dasi itu punya sejarah yang panjang dan dari dulu ke dulu-dulu

- Dasi ini dipakai sebagai pembeda a orang kaya dan orang melarat.

Artinya...!

Jika ada orang yang memakai dasi, maka orang kaya-lah orang-nya itu.
Dan jika tidak pakai dasi maka dengan sendirinya menjadi orang
melarat.

Nah...!

Apakah para pembaca sekalian, ingin menjadi orang kaya atau orang
melarat...? Tanda tanya.

Jika anda ingin disebut orang kaya, maka pakai dasilah kawan...!

Selamat malam...!
____________________________________________________________________
Cat :

cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork cara membuat link pada gambar
cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar