Rabu, 09 November 2016

Musang Luwak dan Kopi Luwak


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Musang Luwak dan Kopi Luwak)
____________________________________________________________





___________________

Kata Pengantar
___________________

Lewat link :
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2016/11/kopi-luwak-pengertian-sejarah-daerah.html
penulis mengurai mengenai Kopi Luwak.

Nsh...!

Untuk pendalaman infonya tentu tak ada salahnya lebih
dipahami pula tentang Luwak atau Musang Luwak ini.

...dan...

Berikut infonya selamat menyimak...!


_______________________________________

Sekilas info tetang Musang luwak
_______________________________________









* Pengertian


Musang luwak adalah hewan menyusu (mamalia) yang termasuk
suku musang dan garangan (Viverridae). Nama ilmiahnya
adalah Paradoxurus hermaphroditus dan di Malaysia
dikenal sebagai musang pulut.

Hewan ini juga dipanggil dengan berbagai sebutan lain
seperti musang (nama umum, Betawi), careuh bulan (Sunda),
luak atau luwak (Jawa), serta common palm civet, common
musang, house musang atau toddy cat dalam bahasa Inggris.


* Ciri-ciri









Musang bertubuh sedang, dengan panjang total sekitar 90 cm
(termasuk ekor, sekitar 40 cm atau kurang). Abu-abu kecoklatan
dengan ekor hitam-coklat mulus.

Sisi atas tubuh abu-abu kecoklatan, dengan variasi dari warna
tengguli (coklat merah tua) sampai kehijauan. Jalur di
punggung lebih gelap, biasanya berupa tiga atau lima garis
gelap yang tidak begitu jelas dan terputus-putus,
atau membentuk deretan bintik-bintik besar. Sisi samping dan
bagian perut lebih pucat. Terdapat beberapa bintik samar
di sebelah tubuhnya.

Wajah, kaki dan ekor coklat gelap sampai hitam. Dahi dan sisi
samping wajah hingga di bawah telinga berwarna keputih-putihan,
seperti beruban. Satu garis hitam samar-samar lewat di tengah
dahi, dari arah hidung ke atas kepala.

Posisi kelamin musang betina dekat dengan anus dan memiliki
tiga pasang puting susu, sedangkan posisi kelamin musang
jantan dekat dengan pusar.

* Kebiasaan








Musang luwak adalah salah satu jenis mamalia liar yang
kerap ditemui di sekitar pemukiman dan bahkan perkotaan.
Hewan ini amat pandai memanjat dan bersifat arboreal,
lebih kerap berkeliaran di atas pepohonan, meskipun tidak
segan pula untuk turun ke tanah. Musang juga bersifat
nokturnal, aktif di malam hari untuk mencari makanan
dan aktivitas lainnya.

Di alam liar, musang kerap dijumpai di atas pohon aren
atau pohon kawung, rumpun bambu, dan pohon kelapa,
jika di perkotaan biasanya musang bersarang di atap
rumah warga, karena habitat alaminya sudah terganti
oleh rumah-rumah manusia.

Dalam gelap malam tidak jarang musang luwak terlihat
berjalan di atas atap rumah, meniti kabel listrik untuk
berpindah dari satu bangunan ke lain bangunan, atau
bahkan juga turun ke tanah di dekat dapur rumah. Musang
luwak juga menyukai hutan-hutan sekunder.

Musang ini kerap dituduh sebagai pencuri ayam, walaupun
tampaknya lebih sering memakan aneka buah-buahan di
kebun dan pekarangan. Termasuk di antaranya pepaya,
pisang, dan buah pohon kayu afrika (Maesopsis eminii).

Mangsa yang lain adalah aneka serangga, moluska, cacing
tanah, kadal serta bermacam-macam hewan kecil lain yang
bisa ditangkapnya, termasuk mamalia kecil seperti tikus.

Di tempat-tempat yang biasa dilaluinya, di atas batu
atau tanah yang keras, seringkali didapati tumpukan
kotoran musang dengan aneka biji-bijian yang tidak
tercerna di dalamnya.

Agaknya pencernaan musang ini begitu singkat dan
sederhana, sehingga biji-biji itu keluar lagi dengan
utuh.








Karena itu pulalah, konon musang luwak memilih buah
yang betul-betul masak untuk menjadi santapannya.
Maka terkenal istilah kopi luwak dari Jawa, yang menurut
cerita dari mulut ke mulut diperoleh dari biji kopi
hasil pilihan musang luwak, dan telah mengalami ‘proses’
melalui pencernaannya!


Akan tetapi sesungguhnya ada implikasi ekologis yang penting
dari kebiasaan musang tersebut. Jenis-jenis musang lalu
dikenal sebagai pemencar biji yang baik dan sangat penting
peranannya dalam ekosistem hutan.

Pada siang hari musang luwak tidur di lubang-lubang kayu,
atau jika di perkotaan, di ruang-ruang gelap di bawah atap.
Hewan ini melahirkan 2-4 anak, yang diasuh induk betina
hingga mampu mencari makanan sendiri.

Sebagaimana aneka kerabatnya dari Viverridae, musang luwak
(jantan) mengeluarkan semacam bau dari kelenjar di dekat
anusnya.

Samar-samar bau ini menyerupai harum daun pandan, namun
dapat pula menjadi pekat dan memualkan. Kemungkinan bau
ini digunakan untuk menandai batas-batas teritorinya,
dan pada pihak lain untuk mengetahui kehadiran hewan
sejenisnya di wilayah jelajahnya.

* Jenis yang berkerabat dan penyebaran










Ada empat spesies musang dari marga Paradoxurus, yalah:

Paradoxurus hermaphroditus, musang luwak, yang menyebar
luas mulai dari India dan bagian utara Pakistan di barat,
Sri Lanka, Bangladesh, Burma, Asia Tenggara, Tiongkok selatan,
Semenanjung Malaya hingga ke Filipina.

Di Indonesia didapati di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa
Tenggara, Sulawesi bagian selatan, serta Taliabu dan Seram
di Maluku.

Paradoxurus zeylonensis, menyebar terbatas di Sri Lanka.
Paradoxurus jerdoni, menyebar terbatas di negara bagian
Kerala, India selatan.

Paradoxurus lignicolor, menyebar terbatas di Kepulauan
Mentawai.

* Jenis yang serupa

Musang akar (Arctogalidia trivirgata), dengan ekor yang
umumnya lebih panjang dari kepala dan tubuhnya, tiga garis
punggung yang tanpa atau hampir tidak terputus, dan tidak
memiliki bintik-bintik di sisi tubuhnya. Musang akar hidup
di hutan.

Musang galing (Paguma larvata), biasanya lebih kemerahan
(tengguli), tanpa bintik-bintik di sisi tubuh, wajah putih
kekuningan dengan ‘topeng’ gelap kehitaman di sekitar mata.
Musang rase (Viverricula indica), ekor berbelang-belang
sempurna, hitam putih, 6-9 buah.

_____________

Penutup
_____________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

...dan...

Selamat malam...!









_____________________________________________________________
Cat :






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar