Thursday, February 16, 2017

Jakarta City in Wonderful Indonesia


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Meyimak info sekitar Kota Jakarta - Indonesia)
_________________________________________________________________
















__________________

Kata Pengantar
__________________

Para kawan sekalian...!

Lewat beberapa link dibawah ini, penuls mengurai mengenai
beberapa Kota di dunia, al :
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2017/02/tokyo-city-japan-and-animation.html
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2017/02/beautiful-place-of-moscow-russia.html
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2017/02/berlin-city-amazing-berlin-city-in.html
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2017/02/beautiful-places-city-of-kiev-ukraine.html
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2017/02/chicago-35-things-to-do-in-chicago-top.html
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2017/02/beautiful-paris-city-in-france.html
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2017/02/rio-de-janeiro-brazil.html

Bagaimna dengan Jakarta...?

Berikut infonya.

Selamat menyimak...!

_______________________________________________________________

Sekilas info tentang Kota Jakarta - Indonesia (Wikipedia)
_______________________________________________________________









* Pengertian

Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah ibu kota negara 
Republik Indonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia 
yang memiliki status setingkat provinsi. 

Jakarta terletak di pesisir bagian barat laut Pulau Jawa. Dahulu pernah 
dikenal dengan nama Sunda Kelapa (sebelum 1527), Jayakarta (1527-1619), 
Batavia/Batauia, atau Jaccatra (1619-1942), Jakarta Tokubetsu Shi 
(1942-1945) dan Djakarta (1945-1972). Di dunia internasional Jakarta 
juga mempunyai julukan seperti J-Town, atau lebih populer lagi The 
Big Durian karena dianggap kota yang sebanding New York City 
(Big Apple) di Indonesia.

Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km² (lautan: 6.977,5 km²), dengan 
penduduk berjumlah 10.187.595 jiwa (2011).[10] Wilayah metropolitan 
Jakarta (Jabodetabek) yang berpenduduk sekitar 28 juta jiwa,
merupakan metropolitan terbesar di Asia Tenggara atau urutan 
kedua di dunia.

Sebagai pusat bisnis, politik, dan kebudayaan, Jakarta merupakan 
tempat berdirinya kantor-kantor pusat BUMN, perusahaan swasta, dan 
perusahaan asing. 

Kota ini juga menjadi tempat kedudukan lembaga-lembaga pemerintahan 
dan kantor sekretariat ASEAN. Jakarta dilayani oleh dua bandar udara, 
yakni Bandara Soekarno–Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma, serta 
tiga pelabuhan laut di Tanjung Priok, Sunda Kelapa, dan Ancol.


* Etimologi

Nama Jakarta sudah digunakan sejak masa pendudukan Jepang tahun 
1942, untuk menyebut wilayah bekas Gemeente Batavia yang diresmikan 
pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905.[11] Nama ini dianggap 
sebagai kependekan dari kata Jayakarta (Dewanagari ?????), yang 
diberikan oleh orang-orang Demak dan Cirebon di bawah pimpinan 
Fatahillah (Faletehan) setelah menyerang dan menduduki pelabuhan 
Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1527. Nama ini biasanya 
diterjemahkan sebagai "kota kemenangan" atau "kota kejayaan", 
namun sejatinya artinya ialah "kemenangan yang diraih oleh sebuah 
perbuatan atau usaha".

Bentuk lain ejaan nama kota ini telah sejak lama digunakan. 
Sejarawan Portugis, João de Barros, dalam Décadas da Ásia (1553) 
menyebutkan keberadaan "Xacatara dengan nama lain Caravam 
(Karawang)".[12] Sebuah dokumen (piagam) dari Banten (k. 1600) 
yang dibaca ahli epigrafi Van der Tuuk juga telah menyebut istilah 
wong Jaketra, demikian pula nama Jaketra juga disebutkan dalam 
surat-surat Sultan Banten[14] dan Sajarah Banten (pupuh 45 dan 47)
sebagaimana diteliti Hoessein Djajadiningrat.[16] Laporan Cornelis 
de Houtman tahun 1596 menyebut Pangeran Wijayakrama sebagai 
koning van Jacatra (raja Jakarta).

* Sunda Kelapa (397–1527)








Jakarta pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan 
Sunda yang bernama Sunda Kalapa (Aksara Sunda: ????? ???), berlokasi 
di muara Sungai Ciliwung. Ibu kota Kerajaan Sunda yang dikenal 
sebagai Dayeuh Pakuan Padjadjaran atau Pajajaran (sekarang Bogor) 
dapat ditempuh dari pelabuhan Sunda Kalapa selama dua hari perjalanan. 

Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah satu pelabuhan 
yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, 
Tamgara dan Cimanuk. Sunda Kalapa yang dalam teks ini disebut Kalapa 
dianggap pelabuhan yang terpenting karena dapat ditempuh dari ibu 
kota kerajaan yang disebut dengan nama Dayo (dalam bahasa Sunda 
modern: dayeuh yang berarti "ibu kota") dalam tempo dua hari. 

Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari Kerajaan 
Tarumanagara pada abad ke-5 sehingga pelabuhan ini diperkirakan 
telah ada sejak abad ke-5 dan diperkirakan merupakan ibu kota 
Tarumanagara yang disebut Sundapura.

Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang 
sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepang, India 
Selatan, dan Timur Tengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa 
barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, 
kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah 
yang menjadi komoditas dagang saat itu.

* Jayakarta (1527–1619)


Bangsa Portugis merupakan Bangsa Eropa pertama yang datang ke Jakarta. 
Pada abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang 
ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai 
perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan 
diri dari Kerajaan Sunda. Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada 
Portugis di Malaka tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam cerita 
pantun seloka Mundinglaya Dikusumah, di mana Surawisesa diselokakan 
dengan nama gelarnya yaitu Mundinglaya. 

Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana, Cirebon yang 
dibantu Demak langsung menyerang pelabuhan tersebut. Orang Sunda 
menyebut peristiwa ini tragedi, karena penyerangan tersebut 
membungihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak 
rakyat Sunda di sana termasuk syahbandar pelabuhan. Penetapan 
hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni oleh Sudiro, wali kota Jakarta, 
pada tahun 1956 adalah berdasarkan tragedi pendudukan pelabuhan 
Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527. Fatahillah mengganti 
nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang berarti "kota kemenangan". 

Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan 
pemerintahan di Jayakarta kepada putranya yaitu Maulana Hasanuddin 
dari Banten yang menjadi sultan di Kesultanan Banten.

* Batavia (1619–1942)








Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah 
di Banten pada tahun 1596. Jayakarta pada awal abad ke-17 diperintah 
oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten. 

Pada 1619, VOC dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen menduduki Jayakarta 
setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten dan kemudian mengubah 
namanya menjadi Batavia. Selama kolonialisasi Belanda, Batavia 
berkembang menjadi kota yang besar dan penting. (Lihat Batavia). 

Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai 
pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, 
Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa 
mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal 
dengan nama suku Betawi. Waktu itu luas Batavia hanya mencakup 
daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua di Jakarta Utara. 

Sebelum kedatangan para budak tersebut, sudah ada masyarakat Sunda 
yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. 

Sedangkan suku-suku dari etnis pendatang, pada zaman kolinialisme 
Belanda, membentuk wilayah komunitasnya masing-masing. Maka di 
Jakarta ada wilayah-wilayah bekas komunitas itu seperti Pecinan, 
Pekojan, Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, 
Kampung Bali, dan Manggarai.

Pada tanggal 9 Oktober 1740, terjadi kerusuhan di Batavia dengan 
terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. Dengan terjadinya kerusuhan ini, 
banyak orang Tionghoa yang lari ke luar kota dan melakukan perlawanan 
terhadap Belanda.[18] Dengan selesainya Koningsplein (Gambir) pada 
tahun 1818, Batavia berkembang ke arah selatan. Tanggal 1 April 1905 
di Ibukota Batavia dibentuk dua kotapraja atau gemeente, yakni 
Gemeente Batavia dan Meester Cornelis. Tahun 1920, Belanda membangun 
kota taman Menteng, dan wilayah ini menjadi tempat baru bagi petinggi 
Belanda menggantikan Molenvliet di utara. Pada tahun 1935, Batavia 
dan Meester Cornelis (Jatinegara) telah terintegrasi menjadi 
sebuah wilayah Jakarta Raya.

Pada 1 Januari 1926 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan 
untuk pembaharuan sistem desentralisasi dan dekonsentrasi yang lebih 
luas. Di Pulau Jawa dibentuk pemerintahan otonom provinsi. 

Provincie West Java adalah provinsi pertama yang dibentuk di 
wilayah Jawa yang diresmikan dengan surat keputusan tanggal 1 
Januari 1926, dan diundangkan dalam Staatsblad (Lembaran Negara) 
1926 No. 326, 1928 No. 27 jo No. 28, 1928 No. 438, dan 1932 
No. 507. Batavia menjadi salah satu keresidenan dalam Provincie 
West Java disamping Banten, Buitenzorg (Bogor), 
Priangan, dan Cirebon.

* Jakarta (1942–sekarang)

Pendudukan oleh Jepang dimulai pada tahun 1942 dan mengganti 
nama Batavia menjadi Djakarta untuk menarik hati penduduk pada 
Perang Dunia II. Kota ini juga merupakan tempat dilangsungkannya 
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 
dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan tahun 1949.

* Jakarta (1945-sekarang)









Sebelum tahun 1959, Djakarta merupakan bagian dari Provinsi 
Jawa Barat. Pada tahun 1959, status Kota Djakarta mengalami 
perubahan dari sebuah kotapraja di bawah wali kota ditingkatkan 
menjadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipimpin oleh gubernur. 

Yang menjadi gubernur pertama ialah Soemarno Sosroatmodjo, 
seorang dokter tentara. Pengangkatan Gubernur DKI waktu itu 
dilakukan langsung oleh Presiden Sukarno. Pada tahun 1961, 
status Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah 
Khusus Ibukota (DKI) dan gubernurnya tetap dijabat oleh Sumarno.

Semenjak dinyatakan sebagai ibu kota, penduduk Jakarta melonjak 
sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang 
hampir semua terpusat di Jakarta. Dalam waktu 5 tahun penduduknya 
berlipat lebih dari dua kali. Berbagai kantung permukiman kelas 
menengah baru kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, 
Cempaka Putih, Pulo Mas, Tebet, dan Pejompongan. Pusat-pusat 
permukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai 
kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas.

Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan 
proyek besar, antara lain Gelora Bung Karno, Masjid Istiqlal, 
dan Monumen Nasional. Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-
Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota, 
menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara. 

Pusat permukiman besar pertama yang dibuat oleh pihak pengembang 
swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangunan Jaya) pada akhir 
dekade 1970-an di wilayah Jakarta Selatan.

Laju perkembangan penduduk ini pernah coba ditekan oleh gubernur 
Ali Sadikin pada awal 1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai 
"kota tertutup" bagi pendatang. 
Kebijakan ini tidak bisa berjalan dan dilupakan pada masa-masa 
kepemimpinan gubernur selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta masih 
harus bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat 
kepadatan penduduk, seperti banjir, kemacetan, serta kekurangan 
alat transportasi umum yang memadai.

Pada Mei 1998, terjadi kerusuhan di Jakarta yang memakan korban 
banyak etnis Tionghoa. Gedung MPR/DPR diduduki oleh para mahasiswa 
yang menginginkan reformasi. Buntut kerusuhan ini adalah 
turunnya Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan. (Lihat 
Kerusuhan Mei 1998).

* Ekonomi








Jakarta merupakan kota dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang 
cukup pesat. Saat ini, lebih dari 70% uang negara beredar di 
Jakarta. Perekonomian Jakarta terutama ditunjang oleh sektor 
perdagangan, jasa, properti, industri kreatif, dan keuangan. 

Beberapa sentra perdagangan di Jakarta yang menjadi tempat 
perputaran uang cukup besar adalah kawasan Tanah Abang dan 
Glodok. Kedua kawasan ini masing-masing menjadi pusat perdagangan 
tekstil serta dengan sirkulasi ke seluruh Indonesia. Bahkan untuk 
barang tekstil dari Tanah Abang, banyak pula yang menjadi 
komoditi ekspor. Sedangkan untuk sektor keuangan, yang memberikan 
kontribusi cukup besar terhadap perekonomian Jakarta adalah 
industri perbankan dan pasar modal. Untuk industri pasar modal, 
pada bulan Mei 2013 Bursa Efek Indonesia tercatat sebagai bursa 
yang memberikan keuntungan terbesar, setelah Bursa Efek Tokyo.Pada 
bulan yang sama, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia telah 
mencapai USD 510,98 miliar atau nomor dua tertinggi di kawasan ASEAN.

Pada tahun 2012, pendapatan per kapita masyarakat Jakarta sebesar 
Rp 110,46 juta per tahun (USD 12,270).[24] Sedangkan untuk kalangan 
menengah atas dengan penghasilan Rp 240,62 juta per tahun 
(USD 26,735), mencapai 20% dari jumlah penduduk. Di sini juga 
bermukim lebih dari separuh orang-orang kaya di Indonesia dengan 
penghasilan minimal USD 100,000 per tahun. Kekayaan mereka 
terutama ditopang oleh kenaikan harga saham serta properti yang 
cukup signifikan. Saat ini Jakarta merupakan kota dengan tingkat 
pertumbuhan harga properti mewah yang tertinggi di dunia, 
yakni mencapai 38,1%.[25] Selain hunian mewah, pertumbuhan properti 
Jakarta juga ditopang oleh penjualan dan penyewaan ruang kantor. 

Pada periode 2009-2012, pembangunan gedung-gedung pencakar langit 
(di atas 150 meter) di Jakarta mencapai 87,5%. Hal ini telah 
menempatkan Jakarta sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan 
pencakar langit tercepat di dunia.[26] Pada tahun 2020, 
diperkirakan jumlah pencakar langit di Jakarta akan mencapai 
250 unit. Dan pada saat itu Jakarta telah memiliki 
gedung tertinggi di Asia Tenggara dengan ketinggian mencapai 
638 meter (The Signature Tower).

* Transportasi










Di DKI Jakarta, tersedia jaringan jalan raya dan jalan tol yang 
melayani seluruh kota, namun perkembangan jumlah mobil dengan jumlah 
jalan sangatlah timpang (5-10% dengan 4-5%).

Menurut data dari Dinas Perhubungan DKI, tercatat 46 kawasan dengan 
100 titik simpang rawan macet di Jakarta. Definisi rawan macet adalah 
arus tidak stabil, kecepatan rendah serta antrean panjang. 

Selain oleh warga Jakarta, kemacetan juga diperparah oleh para 
pelaju dari kota-kota di sekitar Jakarta seperti Depok, Bekasi, 
Tangerang, dan Bogor yang bekerja di Jakarta. Untuk di dalam kota, 
kemacetan dapat dilihat di Jalan Sudirman, Jalan Thamrin, Jalan 
Rasuna Said, Jalan Satrio, dan Jalan Gatot Subroto. Kemacetan 
sering terjadi pada pagi dan sore hari, yakni di saat jam pergi 
dan pulang kantor.


Untuk melayani mobilitas penduduk Jakarta, pemerintah menyediakan 
sarana bus PPD. Selain itu terdapat pula bus kota yang dikelola 
oleh pihak swasta, seperti Mayasari Bhakti, Metro Mini, Kopaja, 
dan Bianglala. Bus-bus ini melayani rute yang menghubungkan 
terminal-terminal dalam kota, antara lain Pulogadung, Kampung 
Rambutan, Blok M, Kalideres, Grogol, Tanjung Priok, Lebak Bulus, 
Rawamangun, dan Kampung Melayu. Untuk angkutan lingkungan, terdapat 
angkutan kota seperti Mikrolet dan KWK, dengan rute dari terminal 
ke lingkungan sekitar terminal. Selain itu ada pula ojek, bajaj, 
dan bemo untuk angkutan jarak pendek. Tidak seperti wilayah 
lainnya di Jakarta yang menggunakan sepeda motor, di kawasan 
Tanjung Priok dan Jakarta Kota, pengendara ojek menggunakan 
sepeda ontel. Angkutan becak masih banyak dijumpai di wilayah 
pinggiran Jakarta seperti di Bekasi, Tangerang, dan Depok.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memulai pembangunan kereta 
bawah tanah (subway) dan MRT Jakarta pada Tahun 2013. Subway jalur 
Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia sepanjang 15 km 
ditargetkan beroperasi pada 2017. Jalur kereta monorel juga 
sedang dipersiapkan melayani jalur Semanggi - Roxy yang dibiayai 
swasta dan jalur Kuningan - Cawang - Bekasi - Bandara Soekarno 
Hatta yang dibiayai pemerintah pusat. Untuk lintasan kereta api, 
pemerintah pusat sedang menyiapkan double track pada jalur lintasan 
kereta api Manggarai Cikarang. Selain itu juga, saat ini sedang 
dibangun jalur kereta api dari Manggarai menuju Bandara 
Soekarno-Hatta di Cengkareng.

* Transjakarta









Bus Transjakarta.Sejak tahun 2004, Pemerintah DKI Jakarta telah 
menghadirkan layanan transportasi umum yang dikenal dengan 
TransJakarta. Layanan ini menggunakan bus AC dan halte yang berada 
di jalur khusus. Saat ini dua belas koridor Transjakarta yang 
telah beroperasi, yaitu:

Koridor 1 Blok M - Kota
Koridor 2 Pulogadung - Harmoni
Koridor 3 Kalideres - Pasar Baru
Koridor 4 Pulogadung - Dukuh Atas
Koridor 5 Kampung Melayu - Ancol
Koridor 6 Ragunan - Latuharhary - Dukuh Atas
Koridor 7 Kampung Rambutan - Kampung Melayu
Koridor 8 Lebak Bulus - Harmoni
Koridor 9 Pluit - Pinang Ranti
Koridor 10 Cililitan - Tanjung Priok
Koridor 11 Kampung Melayu - Pulo Gebang
Koridor 12 Pluit - Tanjung Priok

* Kereta listrik

Selain bus kota, angkutan kota, becak dan bus Transjakarta, sarana 
transportasi andalan masyarakat Jakarta adalah kereta rel listrik 
atau yang biasa dikenal dengan KRL Jabotabek. Kereta listrik ini 
beroperasi dari pagi hari hingga malam hari, melayani masyrakat 
penglaju yang bertempat tinggal di seputaran Jabodetabek. Ada 
beberapa jalur kereta rel listrik, yakni

Jalur Merah Jakarta Kota - Bogor, lewat Gambir, Manggarai, 
Pasar Minggu, dan Depok.

Jalur Jingga Bogor - Jatinegara / Nambo - Duri, lewat Manggarai, 
Tanah Abang, Kampung Bandan dan Pasar Senen.

Jalur Biru Jakarta Kota - Bekasi, lewat Gambir, Manggarai, 
dan Jatinegara.

Jalur Hijau Tanah Abang - Maja, lewat Kebayoran Lama dan Serpong.
Jalur Coklat Duri - Tangerang, lewat Rawa Buaya.
Jalur Pink Jakarta Kota - Pelabuhan Tanjung Priok. Saat ini sudah 
bisa dipergunakan untuk jalur Commuter Line dan angkutan Barang.

* Angkutan sungai


Angkutan Sungai, atau lebih populer dengan sebutan "Waterways", 
adalah sebuah sistem transportasi alternatif melalui sungai di 
Jakarta, Indonesia. Sistem transportasi ini diresmikan penggunaannya 
oleh Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada tanggal 6 Juni 2007. 

Sistem ini merupakan bagian dari penataan sistem transportasi di 
Jakarta yang disebut Pola Transportasi Makro (PTM). Dalam PTM 
disebutkan bahwa arah penataan sistem transportasi merupakan 
integrasi beberapa model transportasi yang meliputi Bus Rapid 
Transit (BRT), Light Rapid Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT), 
dan Angkutan Sungai (Waterways).

Waterways mulai dioperasikan dan diintegrasikan dalam transportasi 
makro Jakarta setelah peresmian rute Halimun-Karet sepanjang 1,7 
kilometer oleh Gubernur Sutiyoso pada 6 Juni 2007. Rute ini 
merupakan bagian dari perencanaan rute Manggarai-Karet sepanjang 
3,6 kilometer. Waterways merupakan kelanjutan dari pengoperasian 
sistem transportasi TransJakarta. Untuk mengawali Waterways, Dinas 
Perhubungan Provinsi DKI Jakarta mengoperasikan dua unit kapal 
yang masing-masing berkapasitas 28 orang yang disebut KM 
Kerapu III dan KM Kerapu IV yang berkecepatan maksimal 8 knot.

* Infrastruktur








Sebagai salah satu kota metropolitan dunia, Jakarta telah memiliki 
infrastruktur penunjang berupa jalan, listrik, telekomunikasi, air 
bersih, gas, serat optik, bandara, dan pelabuhan. Saat ini rasio 
jalan di Jakarta mencapai 6,2% dari luas wilayahnya.[27] Selain 
jalan protokol, jalan ekonomi, dan jalan lingkungan, Jakarta 
juga didukung oleh jaringan Jalan Tol Lingkar Dalam, Jalan Tol 
Lingkar Luar, Jalan Tol Jagorawi, dan Jalan Tol Ulujami-Serpong. 

Pemerintah juga berencana akan membangun Tol Lingkar Luar tahap 
kedua yang mengelilingi kota Jakarta dari Bandara Soekarno 
Hatta-Tangerang-Serpong-Cinere-Cimanggis-Cibitung-Tanjung Priok.

Untuk ke kota-kota lain di Pulau Jawa, Jakarta terhubung dengan 
Jalan Tol Jakarta-Cikampek yang bersambung dengan Jalan Tol Cipularang 
ke Bandung dan Jalan Tol Cipali ke Cirebon. Selain itu juga tersedia 
layanan kereta api yang berangkat dari enam stasiun pemberangkatan 
di Jakarta. Untuk ke Pulau Sumatera, tersedia ruas Jalan Tol 
Jakarta-Merak yang kemudian dilanjutkan dengan layanan 
penyeberangan dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni.

Untuk ke luar pulau dan luar negeri, Jakarta memiliki satu pelabuhan 
laut di Tanjung Priok dan bandar udara yaitu:

Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tanggerang,Banten yang 
melayani penerbangan internasional dan domestik.

Bandara Halim Perdanakusuma yang banyak berfungsi untuk melayani 
penerbangan kenegaraan serta penerbangan domestik

Untuk pengadaan air bersih, saat ini Jakarta dilayani oleh dua 
perusahaan, yakni PT. Aetra Air Jakarta untuk wilayah sebelah timur 
Sungai Ciliwung, dan PT. PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) untuk wilayah 
sebelah barat Sungai Ciliwung. Pada tahun 2015, kedua perusahaan ini 
mampu menyuplai air bersih kepada 60% penduduk Jakarta.[28]

* Agama

Agama yang dianut oleh penduduk DKI Jakarta beragam. Menurut data 
pemerintah DKI pada tahun 2005, komposisi penganut agama di kota 
ini adalah Islam (84,4%), Kristen Protestan (6,2 %), Katolik (5,7 %), 
Hindu (1,2 %), dan Buddha (3,5 %)[29] Jumlah umat Buddha terlihat 
lebih banyak karena umat Konghucu juga ikut tercakup di dalamnya. 
Angka ini tidak jauh berbeda dengan keadaan pada tahun 1980, di mana 
umat Islam berjumlah 84,4%, diikuti oleh Protestan (6,3%), Katolik 
(2,9%), Hindu dan Buddha (5,7%), serta Tidak beragama (0,3%)Menurut 
Cribb, pada tahun 1971 penganut agama Kong Hu Cu secara relatif 
adalah 1,7%. Pada tahun 1980 dan 2005, sensus penduduk tidak 
mencatat agama yang dianut selain keenam agama yang diakui 
pemerintah.

Berbagai tempat peribadatan agama-agama dunia dapat dijumpai di Jakarta. 
Masjid dan mushala, sebagai rumah ibadah umat Islam, tersebar di 
seluruh penjuru kota, bahkan hampir di setiap lingkungan. Masjid 
terbesar adalah masjid nasional, Masjid Istiqlal, yang terletak di 
Gambir. Sejumlah masjid penting lain adalah Masjid Agung Al-Azhar 
di Kebayoran Baru, Masjid At Tin di Taman Mini, dan Masjid 
Sunda Kelapa di Menteng.

Sedangkan gereja besar yang terdapat di Jakarta antara lain, Gereja 
Katedral Jakarta, Gereja Santa Theresia di Menteng, dan Gereja Santo 
Yakobus di Kelapa Gading untuk umat Katolik. Masih dalam lingkungan 
di dekatnya, terdapat bangunan Gereja Immanuel yang terletak di 
seberang Stasiun Gambir bagi umat Kristen Protestan. Selain itu, 
ada Gereja Koinonia di Jatinegara, Gereja Sion di Jakarta Kota, Gereja 
Kristen Toraja di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Bagi umat Hindu yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya, terdapat Pura 
Adhitya Jaya yang berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, dan Pura 
Segara di Cilincing, Jakarta Utara. Rumah ibadah umat Buddha antara 
lain Vihara Dhammacakka Jaya di Sunter, Vihara Theravada Buddha 
Sasana di Kelapa Gading, dan Vihara Silaparamitha di Cipinang Jaya. 
Sedangkan bagi penganut Konghucu terdapat Kelenteng Jin 
Tek Yin. Jakarta juga memiliki satu sinagoga yang digunakan oleh 
pekerja asing Yahudi.

* Etnis

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, tercatat bahwa penduduk Jakarta 
berjumlah 8,3 juta jiwa yang terdiri dari orang Jawa sebanyak 35,16%, 
Betawi (27,65%), Sunda (15,27%), Tionghoa (5,53%), Batak (3,61%), 
Minangkabau (3,18%), Melayu (1,62%), Bugis (0,59%), Madura (0,57%), 
Banten (0,25%), dan Banjar (0,1%)[31]

Jumlah penduduk dan komposisi etnis di Jakarta, selalu berubah dari 
tahun ke tahun. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, tercatat bahwa 
setidaknya terdapat tujuh etnis besar yang mendiami Jakarta. Suku 
Jawa merupakan etnis terbesar dengan populasi 35,16% penduduk kota. 

Etnis Betawi berjumlah 27,65% dari penduduk kota. Pembangunan 
Jakarta yang cukup pesat sejak awal tahun 1970-an, telah 
banyak menggusur perkampungan etnis Betawi ke pinggiran kota. Pada 
tahun 1961, orang Betawi masih membentuk persentase terbesar di 
wilayah pinggiran seperti Cengkareng, Kebon Jeruk, Pasar Minggu, 
dan Pulo Gadung

Jumlah orang Jawa banyak di Jakarta karena ketimpangan pembangunan 
antara daerah dan Jakarta. Sehingga orang Jawa mencari pekerjaan di 
Jakarta. Hal ini memunculkan tradisi mudik setiap tahun saat 
menjelang Lebaran yaitu orang daerah di Jakarta pulang secara 
bersamaan ke daerah asalnya. Jumlah mudik lebaran yang terbesar 
dari Jakarta adalah menuju Jawa Tengah. Secara rinci prediksi jumlah 
pemudik tahun 2104 ke Jawa Tengah mencapai 7.893.681 orang. 

Dari jumlah itu didasarkan beberapa kategori, yakni 2.023.451 
orang pemudik sepeda motor, 2.136.138 orang naik mobil, 3.426.702 
orang naik bus, 192.219 orang naik kereta api, 26.836 orang naik 
kapal laut, dan 88.335 orang naik pesawat.[33] Bahkan menurut data 
Kementerian Perhubungan Indonesia menunjukkan tujuan pemudik dari 
Jakarta adalah 61% Jateng, 39% Jatim dan 10% daerah lain. Ditinjau 
dari profesinya, 28% pemudik adalah karyawan swasta, 27% wiraswasta, 
17% PNS/TNI/POLRI, 10% pelajar/mahasiswa, 9% ibu rumah tangga 
dan 9% profesi lainnya. Diperinci menurut pendapatan pemudik, 44% 
berpendapatanRp. 3-5 Juta, 42% berpendapatan Rp. 1-3 Juta, 10% 
berpendapatan Rp. 5-10 Juta, 3% berpendapatan di bawah Rp. 1 Juta 
dan 1% berpendapatan 
di atas Rp. 10 Juta.

Orang Tionghoa telah hadir di Jakarta sejak abad ke-17. Mereka 
biasa tinggal mengelompok di daerah-daerah permukiman yang dikenal 
dengan istilah Pecinan. Pecinan atau Cina dapat dijumpai di Glodok, 
Pinangsia, dan Jatinegara, selain perumahan-perumahan baru di 
wilayah Kelapa Gading, Pluit, dan Sunter. Orang Tionghoa 
banyak yang berprofesi sebagai pengusaha atau pedagang. Disamping 
etnis Tionghoa, etnis Minangkabau juga banyak yang berdagang, 
di antaranya perdagangan grosir dan eceran di pasar-pasar tradisional 
kota Jakarta.

Masyarakat dari Indonesia Timur, terutama etnis Bugis, Makassar, 
dan Ambon, terkonsentrasi di wilayah Tanjung Priok. Di wilayah ini 
pula, masih banyak terdapat masyarakat keturunan Portugis, serta 
orang-orang yang berasal dari Luzon, Filipina.


* Geografi

Jakarta berlokasi di sebelah utara Pulau Jawa, di muara Ciliwung, 
Teluk Jakarta. Jakarta terletak di dataran rendah pada ketinggian 
rata-rata 8 meter dpl. Hal ini mengakibatkan Jakarta sering dilanda 
banjir. Sebelah selatan Jakarta merupakan daerah pegunungan dengan 
curah hujan tinggi. Jakarta dilewati oleh 13 sungai yang semuanya 
bermuara ke Teluk Jakarta. Sungai yang terpenting ialah 
Ciliwung, yang membelah kota menjadi dua. Sebelah timur dan selatan 
Jakarta berbatasan dengan provinsi Jawa Barat dan di sebelah barat 
berbatasan dengan provinsi Banten.

Kepulauan Seribu merupakan kabupaten administratif yang terletak 
di Teluk Jakarta. Sekitar 105 pulau terletak sejauh 45 km (28 mil) 
sebelah utara kota.


* Iklim

Jakarta memiliki suhu udara yang panas dan kering atau beriklim tropis. 
Terletak di bagian barat Indonesia, Jakarta mengalami puncak musim 
penghujan pada bulan Januari dan Februari dengan rata-rata curah 
hujan 350 milimeter dengan suhu rata-rata 27 °C. Curah hujan antara 
bulan Januari dan awal Februari sangat tinggi, pada saat itulah 
Jakarta dilanda banjir setiap tahunnya, dan puncak musim kemarau 
pada bulan Agustus dengan rata-rata curah hujan 60 milimeter . 

Bulan September dan awal oktober adalah hari-hari yang sangat panas 
di Jakata, suhu udara dapat mencapai 40 °C .[38]. Suhu rata-rata 
tahunan berkisar antara 25°-38 °C (77°-100 °F).



* Lingkungan

Taman Suropati di Menteng, Jakarta Pusat.
Jakarta merupakan salah satu kota dengan udara terbersih di 
Indonesia. Salah satu faktor penentu keberhasilan tersebut 
adalah keberadaan kawasan Menteng dan Kebayoran Baru 
yang asri dan bersih.

Selain Menteng dan Kebayoran Baru, banyak wilayah lain di 
Jakarta yang sudah bersih dan teratur. Permukiman ini biasanya 
dikembangkan oleh pengembang swasta, dan menjadi tempat tinggal 
masyarakat kelas menengah. Pondok Indah, Kelapa Gading, Pulo Mas, 
dan Cempaka Putih, adalah beberapa wilayah permukiman yang bersih 
dan teratur. 
Namun di beberapa wilayah lain Jakarta, masih tampak permukiman 
kumuh yang belum teratur. Permukiman kumuh ini berupa perkampungan 
dengan tingkat kepadatan penduduk cukup tinggi, serta banyaknya 
rumah yang dibangun secara berhimpitan di dalam gang-gang sempit. 

Beberapa wilayah di Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk
 cukup tinggi antara lain, Tanjung Priok, Johar Baru, Pademangan, Sawah 
Besar, dan Tambora.

* Taman kota









Jakarta memiliki banyak taman kota yang berfungsi sebagai daerah 
resapan air. Taman Monas atau Taman Medan Merdeka merupakan taman 
terluas yang terletak di jantung Jakarta. 

Di tengah taman berdiri Monumen Nasional yang dibangun pada tahun 1963. 
Taman terbuka ini dibuat oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels 
(1870) dan selesai pada tahun 1910 dengan nama Koningsplein. 

Di taman ini terdapat beberapa ekor kijang dan 33 pohon yang 
melambangkan 33 provinsi di Indonesia.

Taman Suropati terletak di kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Taman 
berbentuk oval dengan luas 16,322 m2 ini, dikelilingi oleh beberapa 
bangunan Belanda kuno. Di taman tersebut terdapat beberapa patung 
modern karya artis-artis ASEAN, yang memberikan sebutan lain bagi 
taman tersebut, yaitu "Taman persahabatan seniman ASEAN".

Taman Lapangan Banteng merupakan taman lain yang terletak di Gambir, 
Jakarta Pusat. Luasnya sekitar 4,5 ha. Di sini terdapat Monumen 
Pembebasan Irian Barat. Pada tahun 1970-an, taman ini digunakan 
sebagai terminal bus. Kemudian pada tahun 1993, taman ini kembali 
diubah menjadi ruang publik, tempat rekreasi, dan juga kadang-
kadang sebagai tempat pertunjukan seni.[44]



* Pendidikan

DKI Jakarta menyediakan sarana pendidikan dari taman kanak-kanak 
sampai perguruan tinggi. Kualitas dari pendidikan pun juga sangat 
bervariasi dari gedung mewah dengan pendingin udara sampai 
yang sederhana.

Belakangan ini mulai muncul berbagai sekolah dengan kurikulum 
yang diserap dari negara lain seperti Singapura dan Australia. 

Sekolah lain dengan kurikulum Indonesia pun juga muncul 
dengan metode pengajaran yang berbeda, seperti 
Sekolah Dasar Islam Terpadu. Selain sekolah yang didirikan oleh 
pemerintah, banyak pula sekolah yang dikembangkan oleh pihak 
swasta, seperti Al-Azhar, Muhammadiyah, BPK Penabur, Kolese 
Kanisius, Don Bosco, Tarakanita, Pangudi Luhur, Santa Ursula, 
Regina Pacis dan Marsudirini.


* Wisata belanja








Dalam rangka menciptakan Jakarta sebagai kota tujuan wisata 
belanja, setiap bulan Juni-Juli pemerintah mengadakan program 
"Jakarta Great Sale". Program ini diadakan di pusat-pusat 
perbelanjaan yang terdapat di Jakarta. 

Untuk mewujudkan Jakarta sebagai tujuan wisata belanja yang 
unggul, pemerintah saat ini sedang mengembangkan poros 
Casablanca-Satrio sebagai poros wisata belanja. 

Di poros ini, terdapat beberapa pusat perbelanjaan untuk 
berbagai segmen, yaitu Mal Ambassador, ITC Kuningan, Ciputra 
World Jakarta, Kuningan City, dan Kota Kasablanka. Tak jauh 
dari situ berdiri pula Plaza Festival, salah satu pusat kuliner 
yang menawarkan makanan-makanan khas Jakarta.

* Pasar dan pusat perbelanjaan

Jakarta memiliki nama-nama pasar sesuai dengan nama hari dalam 
sepekan. Namun dari nama-nama hari itu termasuk Pasar Minggu, 
Pasar Senen, Pasar Rebo, dan Pasar Jumat, dan kini menjadi 
nama sebuah daerah. Sementara, Pasar Selasa, Pasar Kamis, dan 
Pasar Sabtu, tidak terdengar lagi, konon karena terkalahkan 
oleh nama daerah. Nama pasar dikaitkan dengan nama hari karena 
dalam riwayatnya, aktivitas di pasar itu dilakukan pada hari 
tertentu. 

Misalnya, disebut Pasar Senen karena aktivitas di pasar tersebut 
dulunya selalu dilakukan setiap hari Senin. Kini 
nama tersebut menjadi sebuah kecamatan di wilayah Jakarta Pusat.

Dalam arsip Kolonial, pasar pertama kali didirikan oleh seorang 
tuan tanah berdarah Belanda bernama Yustinus Vinck di bagian 
selatan Castle Batavia pada tahun 1730an. 
Pasar itu bernama "Vincke Passer" yang saat ini dikenal dengan 
nama Pasar Senen. Vincke Passer merupakan pasar pertama yang 
menerapkan sistem jual beli dengan menggunakan uang sebagai 
alat jual beli yang sah.

Kemudian masuk pada abad ke-19 atau pada tahun 1801, pemerintah 
VOC memberikan kebijakan dalam perizinan membangun pasar kepada 
tuan tanah. Namun dengan peraturan pasar yang didirikan dibedakan 
menurut harinya. Vincke Passer buka setiap hari Senin, sehingga 
orang pribumi sering menyebut Vincke Passer sebagai "Pasar Senen" 
dan hingga saat ini nama tersebut masih melekat hingga diabadikan 
menjadi sebuah nama daerah.







Selain Vincke Passer yang buka hari Senin, ada juga pasar yang 
buka hari Selasa yakni "Pasar Koja", pasar yang buka setiap hari 
Rabu adalah Pasar Rebo yang kini menjadi "Pasar Induk Kramat Jati". 

Kemudian pasar yang buka setiap hari Kamis adalah Mester Passer 
yang kini disebut "Pasar Jatinegara". Selanjutnya ada beberapa 
pasar yang buka pada hari Jumat, seperti "Pasar Lebakbulus", "Pasar 
Klender", dan "Pasar Cimanggis".

Untuk Pasar Sabtu, atau pasar yang bukanya setiap hari Sabtu 
adalah "Pasar Tanah Abang". Sedangkan Pasar Minggu atau yang 
dulu dikenal dengan sebutan "Tanjung Oost Passer" buka pada 
hari Minggu. 

Perbedaan pengoperasian pasar ini dilakukan VOC dengan alasan 
keamanan serta faktor untuk mempermudah orang dalam berkunjung 
dan lebih mengenal suatu pasar. Namun kebijakan berlakunya hari 
kerja pasar tak berlangsung lama. Sebab sejak VOC bangkrut akibat 
banyak pejabat yang korupsi, pemerintahan 
Belanda di Batavia diambil alih oleh Kerajaan Hindia Belanda. 
Sejak zaman Hindia Belanda, peraturan hari kerja pasar pun tak 
berlaku lagi, hingga sebagian besar pasar buka setiap hari, 
meski telanjur menyandang nama hari sebagai nama pasar.

Di zaman Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 inilah banyak 
bermunculan pasar-pasar baru yang lebih modern, seperti Pasar 
Baru dan Pasar Glodok. Pasar-pasar yang muncul di era abad 
ke-19 akhir hingga awal abad ke-20 menjadi inspirasi lahirnya 
supermarket dan juga mal.

Sejak awal tahun 1980, Pemerintah DKI Jakarta gencar membangun 
pusat-pusat perbelanjaan modern, atau biasa yang dikenal dengan 
mal dan plaza. Saat ini Jakarta merupakan salah satu kota di 
Asia yang banyak memiliki pusat perbelanjaan.[50] Beberapa pusat 
perbelanjaan modern di Jakarta memiliki luas yang cukup besar 
(lebih dari 100.000 m2). Di pusat-pusat perbelanjaan tersebut 
hadir berbagai waralaba internasional seperti Starbucks, Sogo, 
jaringan restoran siap saji McDonalds. Selain itu, perusahaan-
perusahaan waralaba nasional juga memenuhi ruang 
pusat-pusat perbelanjaan tersebut, seperti Es Teler 77, J.Co 
dan Bakmie Gajah Mada.

Di samping pusat-pusat perbelanjaan mewah, Jakarta juga memiliki 
banyak pasar-pasar tradisional dan pusat perdagangan grosir antara 
lain ITC Cempaka Mas, ITC Mangga Dua, ITC Roxy Mas, Pasar Senen 
dan Pasar Tanah Abang. Selain itu, terdapat pula hypermarket 
yang menjadi tren belanja kalangan menengah di Jakarta, antara 
lain Carrefour, Hypermart, Giant, Lotte Mart, dan Ranch Market. Untuk 
lingkungan yang lebih kecil, tersedia pula pusat belanja kebutuhan 
sehari-hari dengan harga yang terjangkau, seperti Indomaret dan 
Alfamart. Di Jakarta terdapat pula pasar yang menjual barang-
barang unik dan antik, seperti di Pasar Surabaya dan Pasar 
Rawabening.


* Kebudayaan







Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo, atau sebuah campuran 
budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Belanda, Jakarta merupakan 
ibu kota Indonesia yang menarik pendatang dari dalam dan luar 
Nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, 
Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, 
budaya Jakarta juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti 
budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.

Jakarta merupakan daerah tujuan urbanisasi berbagai ras di dunia 
dan berbagai suku bangsa di Indonesia, untuk itu diperlukan 
bahasa komunikasi yang biasa digunakan dalam perdagangan yaitu 
Bahasa Melayu. Penduduk asli yang berbahasa Sunda pun akhirnya 
menggunakan bahasa Melayu tersebut.

Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang 
masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, 
Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng, dan lain-lain yang masih 
sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno 
Bujangga Manik yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, 
Oxford, Inggris.

Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa 
Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari 
adalah Bahasa Melayu dialek Betawi. Untuk penduduk asli di 
Kampung Jatinegara Kaum, mereka masih kukuh menggunakan bahasa 
leluhur mereka yaitu bahasa Sunda.

Bahasa daerah juga digunakan oleh para penduduk yang berasal 
dari daerah lain, seperti Jawa, Sunda, Minang, Batak, Madura, 
Bugis, Inggris dan Tionghoa. Hal demikian terjadi karena 
Jakarta adalah tempat berbagai suku bangsa bertemu. Untuk 
berkomunikasi antar berbagai suku bangsa, digunakan Bahasa 
Indonesia.

Selain itu, muncul juga bahasa gaul yang tumbuh di kalangan 
anak muda dengan kata-kata yang kadang-kadang dicampur dengan 
bahasa asing. Bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang paling 
banyak digunakan, terutama untuk kepentingan diplomatik, pendidikan, 
dan bisnis. Bahasa Mandarin juga menjadi bahasa asing yang banyak 
digunakan, terutama di kalangan pebisnis Tionghoa.

* Makanan








Jakarta merupakan kota internasional yang banyak menyajikan 
makanan khas dari seluruh dunia. Di wilayah-wilayah yang banyak 
didiami oleh para ekspatriat asing, seperti di daerah Menteng, 
Kemang, Pondok Indah, dan daerah pusat bisnis Jakarta, tidak sulit 
untuk menjumpai makanan-makanan khas asal Eropa, China, Jepang 
dan Korea. Makanan-makanan ini biasanya dijual dalam restoran-
restoran mewah.

Di Jakarta, dan seperti kota-kota lainnya di Indonesia, Rumah 
Makan Padang merupakan restoran yang paling banyak dijumpai. 
Hampir di setiap sudut kota, dengan mudahnya dijumpai rumah 
makan yang manyajikan masakan asal Minangkabau ini. 

Selain Masakan Minang, Jakarta juga memiliki makanan khasnya. 
Yang paling terkenal adalah Kerak Telor, Soto Betawi, Kue Ape, 
Roti Buaya, Combro, dan Nasi Uduk. Sebagai tempat bermukimnya 
berbagai etnis di Indonesia, di sini juga bisa ditemukan berbagai 
macam makanan tradisional dari daerah lainnya, seperti Rawon, Rujak 
Cingur, dan Kupang Lontong. Di Jakarta juga terdapat Warung Tegal 
jumlahnya ada lebih dari 34.000 warung di Jabodetabek.

* Olahraga







Sejak masa Presiden Soekarno hingga saat ini, Jakarta sering menjadi 
tempat penyelenggaraan event-event olahraga berskala internasional, 
di antaranya pernah menjadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1962, 
serta Asian Games 2018 mendatang, bersama dengan Palembang. 

Piala Asia pada tahun 2007 dan beberapa kali menjadi tuan rumah 
Pesta Olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara atau yang lebih dikenal 
dengan Sea Games. Mayoritas masyarakat Jakarta gemar berolahraga. 

Sepak bola merupakan cabang permainan yang banyak diminati masyarakat, 
di samping bulu tangkis, bola voli, dan bola basket. Jakarta memiliki 
beberapa klub sepak bola profesional. Diantaranya Persija Jakarta 
yang saat ini berkompetisi di Liga Super Indonesia 2015 dan Persitara 
Jakarta Utara, yang saat ini ikut berlaga di kompetisi Liga 
Nusantara 2015.

Tempat-tempat olahraga di Jakarta antara lain: Gelora Bung Karno 
Senayan di Jakarta Pusat; Stadion Lebak Bulus, GOR Bulungan, 
Lapangan Golf Pondok Indah, Lapangan Golf Matoa, dan GOR Soemantri 
Brodjonegoro Kuningan di Jakarta Selatan; Stadion Tugu, Stadion 
Kamal, Gedung Basket Kelapa Gading, Lapangan Golf Ancol, dan Sports 
Mall Kelapa Gading di Jakarta Utara; Stadion Bea Cukai Rawa Mangun, 
Lapangan Golf Rawa Mangun, Pacuan Kuda Pulo Mas, dan Gedung 
Senam DKI Radin Inten di Jakarta Timur.


* Musik dan Hiburan








Jakarta banyak melahirkan penyanyi dan grup musik besar di tanah air. 
Sejumlah grup musik besar yang dibentuk di Jakarta antara lain Elovii, 
Vierratale, Cherrybelle, Teenebelle, Duo Anggrek, Be5t, Blink, JKT48 
dan Gamaliel, Audrey, Cantika. 

Penyanyi dari Jakarta antara lain: Devy Berlian, Mikha Tambayong, 
Raisa Andriana, Widy Soediro Nichlany, Angelica Martha Pieters, 
Djenar Maesa Ayu, Gita Gutawa, Agnes Monica, Anggun Cipta Sasmi, 
Nikita Willy, Shireen Sungkar, Marsha Aruan, Maudy Ayunda, Dhea 
Annisa, Kesha Ratuliu, Dhea Ananda, Kamasean Matthews, Nia Daniati, 
Rachel Amanda, Christine Panjaitan, Ria Irawan, Audy Item, Terryana 
Fatiah, Ardina Rasti, Andania Suri, Tasya Kamila, Amara, Novita 
Dewi Marpaung, Fatin Shidqia Lubis, Melinda, Shena Malsiana, 
Ashanty, Anggie Rassly, Michelle Meriem, Sherin Nindi Putri 
dan Yunita Siregar.

____________

Penutup
____________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

...dan...

Selamat malam...!












_______________________________________________________________
Cat :



No comments:

Post a Comment