Monday, February 6, 2017

Pestisida : Pengertian, Sejarah, dampak negatif dan Perlatan Semprotannnya


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak infosekitar Pestisida dengan fokus pada
pestisida untuk Tumbuhan / Tanaman)
___________________________________________________












_________________

Kata Pengantar
_________________

para kawan sekalian...!

kita sama tahu, bahwa tidak mungkin menghindari pestisida
dalam dunia pertanian. Apalagi saat ini, macam-macam hama
pertanian ada dimana-mana, hingga tak heran jika bertani
tnpa pestisida hasilnya akan sangat minim.

"1 Dolar pestisida akan menyelamatkan 4 dolar hasil pertanian"


Demikian pendapat para petani Amerika tentang pentingnnnya
penggunaan pestisida ini.

...dan...

Berikut info lengkapnya.

Selamat menyimak bersama macam peralatan dan cara penyemprokan
pestisida.
__________________________________

Sekilas info tentang Pestisida
__________________________________










* Pengertian

Pestisida atau pembasmi hama adalah bahan yang digunakan
untuk mengendalikan, menolak, atau membasmi organisme pengganggu.

Nama ini berasal dari pest ("hama") yang diberi akhiran -cide
("pembasmi"). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga,
tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang
dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tetapi tak selalu,
beracun.

Penggunaan pestisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan
membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, serta juga
dapat merusak ekosistem. Berdasarkan Konvensi Stockholm mengenai
Polutan Organik Persisten, 9 dari 12 senyawa kimia organik
berbahaya adalah pestisida.


* Sejarah










Sebelum tahun 2000 SM, manusia telah menggunakan pestisida
untuk melindungi tanaman pertanian. Pestisida pertama berupa
sulfur dalam bentuk unsur yang ditebarkan di atas lahan pertanian
di Sumeria sekitar 4500 tahun yang lalu.

Rig Veda yang berusia 4000 tahun menyebutkan penggunaan tanaman
beracun untuk mengendalikan hama.

Sejak abad ke 15, senyawa berbahaya seperti arsenik, raksa, dan
timbal diterapkan di lahan pertanian untuk membunuh hama.

Pada abad ke 17, nikotin sulfat diekstraksi dari daun tembakau
untuk dijadikan insektisida. Abad ke 19, piretrum dari bunga
krisan dan rotenon dari akar sayuran mulai dikembangkan.

Hingga tahun 1950an, pestisida berbahan dasar arsenik masih
dominan. Paul Herman Müller menemukan DDT yang sangat efektif
sebagai insektisida. Organoklorin menjadi dominan, namun segera
digantikan oleh organofosfat dan karbamat pada tahun 1975 di
negara maju.

Senyawa piretrin menjadi insektisida dominan.Herbisida berkembang
dan mulai digunakan secara luas pada tahun 1960an dengan triazin
dan senyawa berbasis nitrogen lainnya, asam karboksilat, dan
glifosat.

Pada tahun 1960an, ditemukan bahwa DDT menyebabkan berbagai
burung pemakan ikan tidak bereproduksi, yang menjadi masalah
serius bagi keanekaragaman hayati.

Penggunaan DDT dalam pertanian kini dilarang dalam Konvensi Stockholm,
namun masih digunakan di beberapa negara berkembang untuk mencegah
malaria dan penyakit tropis lainnya dengan menyemportkannya ke
dinding untuk mencegah kehadiran nyamuk.

* Definisi










Jenis pestisida Sasaran

Herbisida Gulma
Arborisida Semak dan Belukar
Algisida atau Algasida Alga
Avisida Burung
Bakterisida Bakteri
Fungisida Fungi
Insektisida Serangga
Mitisida atau Akarisida Tungau
Molluskisida Siput
Nematisida Nematoda
Rodentisida Rodent
Virusida Virus
Larvisida Ulat
Silvisida Pohon Hutan
Ovisida Telur
Pisisida Ikan Mujahir
Termisida Rayap
Predasida Predator atau Hewan Vertebrata

FAO mendefinisi pestisa sebagai "zat atau campuran zat yang
bertujuan untuk mencegah, membunuh, atau mengendalikan hama
tertentu, termasuk vektor penyakit bagi manusia dan hewan,
spesies tanaman atau hewan yang tidak diinginkan yang dapat
menyebabkan kerusakan selama produksi, pemrosesan, penyimpanan,
transportasi, atau pemasaran bahan pertanian (termasuk hasil
hutan, hasil perikanan, dan hasil peternakan).

Istilah ini juga mencakup zat yang mengendalikan pertumbuhan
tanaman, merontokkan daun, mengeringkan tanaman, mencegah
kerontokkan buah, dan sebagainya yang berguna untuk mengendalikan
hama dan memitigasi efek dari keberadaan hama, baik sebelum
maupun setelah panen."

Pestisida dapat diklasifikasikan berdasarkan target organisme
yang menjadi sasarannya,struktur senyawanya bahan bakunya (misal
organik, inorganik, sintetis, biopestisida),dan wujud fisiknya
serta cara penerapannya (misal fumigasi pada pestisida berwujud
gas).

Biopestisida mencakup pestisida mikrobiologi dan biokimia.
Pestisida berbahan dasar tumbuhan saat ini telah berkembang,
yaitu piretrum, rotenon, nikotin, strychnine, dan scillirosida.

Berbagai pestisida dapat dikelompokan menjadi famili senyawa
kimianya. Famili senyawa kimia pestisida yang terkenal yaitu
organoklorin, organofosfat, dan karbamat.

Famili hidrokarbon organoklorin dapat dibagi menjadi diklorodi-
feniletana (DDT), senyawa siklodiena, dan lainnya. Organoklorin
bekerja dengan mengganggu keseimbangan ion kalium-natrium di dalam
jaringan syaraf.

Tingkat keracunan senyawa ini dapat bervariasi, namun seluruh
senyawa organoklorin bersifat persisten dan dapat terakumulasi
secara biologi:Organofosfat dan karbamat telah menggantikan
organoklorin.








Keduanya menghambat kerja enzim asetilkolinesterase yang mengirimkan
asetilkolin ke jaringan syaraf, mampu menyebabkan kelumpuhan.
Organofosfat secara umum beracun bagi vertebrata.

Herbisida seperti fenoksi bekerja secara selektif dan hanya mengincar
gulma berdaun lebar dan tidak mengincar rerumputan. Fenoksi dan
asam benzoat berfungsi mirip seperti hormon pertumbuhan tanaman,
dan menumbuhkan sel secara tidak terkendali, sehingga memaksa
kerja sistem transportasi tanaman (floem dan xylem) dan merusaknya.

Triazin mengganggu fotosintesis.Glifosat yang kini banyak digunakan,
belum dikategorikan dalam famili senyawa herbisida manapun.

Pestisida juga dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme
biologisnya dan metode penerapannya. Kebanyakan pestisida bekerja
dengan meracuni hama.

Pestisida sistemik diserap oleh tanaman dan bergerak di dalam
tanaman sehingga meracuni hama yang menghisap nutrisi tanaman.
Insektisida dan fungisida bergerak melalui xylem. Insektisida
sistemik dapat membahayakan serangga non target, bahkan serangga
yang menguntungkan seperti lebah dan polinator lainnya, karena
sinsektisida sistemik juga bergerak dari dalam tubuh tumbuhan
ke bunga.

Pada tahun 2009, fungisida paldoksin diperkenalkan dan bekerja
dengan memanfaatkan senyawa yang dilepaskan oleh tumbuhan,
fitoaleksin. Secara alami, fungi melakukan detoksifikasi melawan
fitoaleksin. Paldoksin menghambat enzim yang berperan dalam
detoksifikasi tersebut. Fungisida ini dipercaya lebih aman.

Pestisida juga bisa diklasifikasikan berdasarkan kemampuan
terurainya (biodegradable dan persisten) yang dapat berlangsung
selama beberapa detik hingga tahunan. DDT membutuhkan waktu tahunan
untuk terurai di alam, dan akan terakumulasi dalam rantai makanan.

* Organofosfat










Pestisida organofosfat mempengaruhi sistem syaraf dengan mengganggu
enzim yang mengatur asetilkolin, zat penghantar sinyal syaraf.
Ditemukan pada awal abad ke 19, namun efeknya pada serangga dan
manusia baru diketahui pada tahun 1932: organofosfat sama
berbahayanya bagi serangga dan manusia. Beberapa sangat beracun
dan digunakan di Perang Dunia II sebagai senjata. Namun biasanya
tidak bersifat persisten di alam.

* Karbamat

Sama seperti organofosfat, namun efeknya bersifat reversible
dan dapat disembuhkan.

* Organoklorin

Organoklorin bekerja dengan mengganggu keseimbangan ion kalium-
natrium di dalam jaringan syaraf. Organoklorin telah dilarang
penggunaannya di berbagai negara karena membahayakan lingkungan
dan kesehatan serta bersifat sangat persisten.

* Piretroid

Dikembangkan sebagai versi sintetik dari senyawa alami piretrin yang
ditemukan di bunga krisan. Namun senyawa piretroid sintetik berbahaya
bagi kesehatan sistem syaraf.

* Sulfonilurea

Pestisida ini membunuh tanaman dengan menghambat enzim asetolaktat
sintase.

* Biopestisida

Biopestisida dikembangkan dari bahan alami, dari hewan, tumbuhan,
bakteri, dan bahan tambang mineral. Contohnya adalah minyak kanola
dan baking soda memiliki kemampuan sebagai pestisida. Klasifikasi
biopestisida yaitu:

Biopestisida mikroba yang merupakan sekumpulan mikroba (bakteri, fungi,
virus) sebagai bahan aktifnya. Biopestisida ini bersifat selektif dan
mengincar target tertentu saja.

Telah terdapat fungi yang didayagunakan sebagai penghambat pertumbuhan
gulma tertentu. Beberapa jenis fungi juga menjadi parasit bagi serangga
dan dapat digunakan untuk membunuh serangga tersebut.

Bacillus thuringiensis adalah contoh bakteri biopestisida. Bakteri
ini memproduksi protein yang membunuh larva serangga. Protein ini
mengganggu saluran pencernaan sehingga menyebabkan larva serangga
kelaparan.

Tanaman juga dapat dimodifikasi secara genetika untuk menghasilkan
senyawa yang mampu melindungi tanaman.

Pestisida biokimia yang secara alami terdapat di alam dapat
mengendalikan hama secara non-toksik. Contohnya adalah feromon
yang mempengaruhi siklus perkembang biakan serangga sehingga rantai
keturunan serangga terputus. Feromon juga bisa berfungsi sebagai
pemikat serangga untuk menuju ke jebakan serangga.

Contoh pestisida lainnya yaitu:

Jenis Efek
Atraktan Menarik Serangga pada lokasi yg mendapat perlakuan
Antifouling Membunuh organisme yang menempel di badan kapal penangkap ikan
Defoliant Merontokkan daun (foliage: daun)
Dessicant Mengeringkan jaringan tumbuhan
Disinfektan Membunuh atau menon-aktifkan mikroorganisme penyebab penyakit
Kemosterilan Memandulkan Serangga atau Hewan Vertebrata
Repellent Menolak atau mencegah kehadiran serangga
Sterilan Tanah Pensterilasi Tanah dari Mikroorganisma dan organisma
                pengganggu lainnya
Stimulan Di gunakan sbg Perangsang
Inhibitor Penghambat
Pengawet Kayu Misalnya Penta Kloro Phenol (PKP)
Anti-feedan Berkerja untuk menghalangi Hama makan ,
                namun tetap tinggal sehingga mati kelaparan

* Pemanfaatan









Pestisida digunakan untuk mengendalikan keberadaan hama yang diyakini
membahayakan. Misal nyamuk yang dapat membawa berbagai penyakit mematikan
seperti virus Nil Barat, demam kuning, dan malaria. Pestisida juga
ditujukan kepada hewan yang mampu menyebabkan alergi seperti lebah,
tawon, semut, dan sebagainya.

Insektisida pun digunakan di peternakan dalam mencegah kehadiran serangga
yang mampu menularkan penyakit dan menjadi parasit.Pestisida pun digunakan
dalam pengawetan makanan, seperti mencegah tumbuhnya jamur pada bahan
pertanian dan mencegah serta membunuh tikus yang biasa memakan hasil
pertanian yang disimpan.

Herbisida juga digunakan dalam transportasi seperti membunuh gulma
di pinggir jalan dan trotoar. Tumbuhan dan hewan invasif juga dapat
ditanggulangi dan dicegah dengan pestisida. Herbisida dan algasida
telah digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan alga dan tumbuhan
air di perairan.[18] Hama seperti rayap dan jamur dapat merusak
struktur bangunan yang terbuat dari kayu.

Pestisida dapat menyelamatkan usaha pertanian dengan mencegah hilangnya
hasil pertanian akibat serangga dan hama lainnya. Di Amerika Serikat,
diperkirakan setiap dolar yang dikeluarkan untuk pestisida menyelamatkan
empat dolar uang yang dapat hilang karena hama.

Studi lainnya menemukan bahwa tanpa penggunaan pestisida, hasil pertanian
dapat turun sekitar 10%.Studi lainnya yang dilakukan pada tahun 1999
menemukan bahwa pelarangan pestisida di Amerika Serikat dapat menyebabkan
kenaikan harga pangan, hilangnya lapangan pekerjaan, dan meningkatnya
penderita kelaparan.

DDT yang disemprotkan di tembok rumah dapat melawan malaria dan digunakan
pada tahun 1950an dan WHO mendukung hal tersebut Namun pada
tahun 2007, sebuah studi mengkaitkan kanker payudara dengan paparan
DDT pra-pubertas.

Gejala keracunan juga dapat terjadi ketika DDT dan senyawa hidrokarbon
berklorin masuk ke makanan manusia. Meski begitu, para ilmuwan
memperkirakan DDR dan bahan kimia organofosfat lainnya telah
menyelamatkan 7 juta jiwa sejak tahun 1945 dengan mencegah penyebaran
penyakit malaria, wabah bubonik, tripanosomiasis Afrika, dan typhus.

Meski demikian, penggunaan DDT tidak selalu efektif karena resistansi
terhadap DDT telah ditemukan sejak tahun 1955, dan pada tahun 1972 19
spesies nyamuk dinyatakan telah tahan terhadap DDT.

Sebuah studi oleh WHO pada tahun 2000 di Vietnam menemukan bahwa
pengendalian malaria tanpa DDT dapat lebih efektif dibandingkan DDT.

Pada tahun 2006 dan 2007, dunia telah menggunakan setidaknya 5.2 miliar
pon pestisida dengan herbisida merupakan porsi terbesar, mencapai 40%,
diikuti insektisida 17%, dan fungisida 10%.

Pada tahun yang sama, Amerika Serikat menggunakan 1.1 miliar pon
pestisida. Saat ini terdapat 155 juta bahan aktif yang terdaftar
sebagai pestisida yang dapat digunakan bersama-sama untuk membentuk
20000 jenis produk pestisida.Diperkirakan pasar ini akan mendapatkan
keuntungan sebesar US$ 52 miliar pada tahun 2019.

*  Alternatif









Berbagai metode dapat digunakan untuk mengendalikan hama, termasuk
modifikasi metode budi daya, penggunaan pengendalian hama biologis
seperti feromon dan protein mikroba, rekayasa genetika, dan metode
penghalangan perkembang biakan serangga.[24] Penerapan kompos dari
sampah kebun juga dapat digunakan untuk mengendalikan nematoda.
Metode ini menjadi semakin populer karena lebih aman
dibandingkan penggunaan bahan kimia konvensional.

Modifikasi praktik budi daya mencakup praktik polikultur, rotasi
tanaman, penanaman di lahan yang tidak dapat ditumbuhi hama, penanaman
berdasarkan musim di mana hama tidak banyak muncul, dan penggunaan
tanaman jebakan yang memikat hama dari tanaman yang diproduksi.
Penyiraman air panas juga sama efektifnya dengan pestisida dengan
biaya yang sama dengan penyemprotan pestisida.

Pelepasan organisme yang melawan hama juga dapat menjadi alternatif
dari penanggulangan hama. Organisme tersebut adalah predator atau
parasit dari hama target.

Intervensi siklus reproduksi serangga dapat dicapai dengan
sterilisasi serangga jantan sehingga betina tidak menghasilkan telur.
Metode ini pertama digunakan pada serangga Cochliomyia hominivorax
pada tahun 1958.Namun metode ini dapat memakan banyak biaya dan
waktu, serta hanya efektif pada serangga jenis tertentu.

Alternatif lainnya adalah perlakuan panas pada tanah (sterilisasi)
menggunakan uap untuk membunuh hama yang hidup atau dorman di
dalam tanah.

* Efektivitas

Berbagai bukti menunjukan bahwa metode pengendalian hama alternatif
memiliki efektivitas yang setara dengan pestisida kimia. Swedia telah
mengurangi setengah pestisida berbahaya tanpa mengurangi hasil
pertaniannya.

Di Indonesia, petani telah mengurangi pestisida pada sawah sebanyak
65% dan hanya mengalami penurunan prduksi 15%.Di Florida penanaman
jagung yang diikuti dengan penerapan kompos sampah kebun dengan
rasio C/N yang tinggi dapat mengurangi parasit nematoda dan
meningkatkan hasil produksi.

Resistansi pestisida secara umum meningkat sehingga peningkatan
penggunaan pestisida kimia cenderung tidak berarti. Pada tahun
1940an di Amerika Serikat, petani kehilangan 7% dari hasil pertanian
akibat hama. Peningkatan penggunaan pestisida meningkat, namun
pada tahun 1980an petani kehilangan 13% hasil pertanian
akibat hama. Sejak tahun 1945, diperkirakan antara 500 hingga 1000 spesies
serangga dan gulma telah mengembangkan ketahanan terhadap pestisida.

* Kerugian

Pestisida secara umum membawa kerugian bagi lingkungan dan
kesehatan manusia.

* Bahaya bagi kesehatan

Pestisida dapat menyebabkan efek akut dan jangka panjang bagi pekerja
pertanian yang terpapar.Paparan pestisida dapat menyebabkan efek
yang bervariasi, mulai dari iritasi pada kulit dan mata hingga efek
yang lebih mematikan yang mempengaruhi kerja syaraf, mengganggu
sistem hormon reproduksi, dan menyebabkan kanker.

Sebuah studi pada tahun 2007 pada limfoma non-Hodgkin dan leukimia
menunjukan hubungan positif dengan paparan pestisida.Bukti yang kuat
juga menunjukan bahwa dampak negatif dari paparan pestisida mencakup
kerusakan syaraf, kelainan bawaan, kematian janin, dan gangguan
perkembangan sistem syaraf.

American Medical Association merekomendasikan pembatasan paparan
pestisida dan mulai menggunakan alternatif yang lebih aman.

WHO dan UNEP memperkirakan bahwa setiap tahunnya 3 juta pekerja
pertanian mengalami keracunan pestisida, dan 18000 diantaranya
meninggal.Dan kemungkinan 25 juta orang mengalami gejala keracunan
pestisida ringan setiap tahunnya.

Bunuh diri dengan meracuni diri sendiri dengan pestisida merupakan
cara bunuh diri paling populer ketiga di dunia.Wanita pada usia
kehamilan 8 minggu yang hidup dekat dengan ladang yang disemprot
pestisida organoklorin jenis dikofol dan endosulfan memiliki
kemungkinan mendapatkan anak yang lahir dalam kondisi
autis.

* Efek bagi lingkungan










Penggunaan pestisida meningkatkan jumlah permasalahan pada lingkungan.
Lebih dari 90% insektisida dan 95% herbisida yang disemprotkan
menuju ke tempat yang bukan merupakan target.Arus pestisida terjadi
ketika pestisida yang tersuspensi di udara sebagai partikel terbawa
oleh angin ke wilayah lain, sehingga berpotensi menimbulkan
pencemaran. Pestisida merupakan masalah utama polusi air
dan beberapa pestisida merupakan polutan organik persisten yang
menyebabkan kontaminasi tanah.

Pestisida juga mengurangi keanekaragaman hayati pertanian di tanah
sehingga mengurangi laju pengikatan nitrogen.hilangnya polinator,
menghancurkan habitat (terutama habitat burung),[49] dan membahayakan
satwa terancam.[24] Seiring waktu, spesies hama dapat mengembangkan
ketahanan terhadap pestisida sehingga dibutuhkan penelitian
untuk mengembangkan pestisida jenis baru.

Karena pestisida hidrokarbon terklorinasi larut di dalam jaringan
lemak dan tidak diekskresikan, organisme yang terpapar akan mempertahankan
senyawa tersebut sepanjang hidupnya. Akumulasi akan terjadi pada rantai
makanan, di mana pestisida akan terkonsentrasi pada pemuncak rantai
makanan.

Di habitat laut, konsentrasi pestisida ada pada ikan karnivora,
terutama ikan pemangsa burung dan mamalia.Distilasi global adalah
proses di mana pestisida yang menguap mengalir dari lingkungan yang
lebih panas ke lingkungan yang lebih dingin, terutama kutub dan puncak gunung.
Pestisida ini dapat terbawa oleh angin dan terkondensasi, kembali ke
tanah sebagai hujan atau salju.

Dalam mengurangi dampak negatif ini, pestisida diharapkan mampu
terdegradasi atau setidaknya tidak menjadi aktif setelah masuk ke
lingkungan di luar lahan target penyemprotan.

Inaktivasi dapat dilakukan dengan mendayagunakan sifat kimia dari
senyawa atau memanfaatkan proses yang terjadi di lingkungan.
Adsorpsi pestisida oleh tanah juga dapat menghambat pergerakan
pestisida, namun membahayakan keanekaragaman hayati di dalam tanah.

* Keekonomian

Di Amerika Serikat, kerugian biaya akibat dampak pestisida bagi
kesehatan dan lingkungan diperkirakan mencapai US$ 9.6 miliar.Biaya
tambahan mencakup proses registrasi dan pembelian pestisida.

Proses registrasi zat atau produk pestisida baru membutuhkan waktu
beberapa tahun hingga selesai karena membutuhkan lebih dari 70
jenis uji lapang dan memakan biaya sebesar US$ 50 - 70 juta untuk
satu pestisida.

__________

Penutup
__________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

...dan...

Selamat malam...!































______________________________________________________________________
Cat :
Alat semprot pertanian kreatif
MORI KNAPSACK POWER SPRAYER - THP-250 (Mochila Pulverizadora de Gasolina)
Petani Berbasis Drone
versi terbaru penyembur racun padi HD
Pak Susanto Penemu Alat Semprot Pestisida Praktis Untuk Petani Asal Nganjuk


No comments:

Post a Comment