Sunday, April 21, 2013

"KARTINI-KARTINI TANAH BATAK"

"SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak Sekilas Hari Kartini dan Kartini-kartini Tanah Batak
Dalam Macam profesi dan macam persoalan hidup emansifasi)
_____________________________________________________









Para kawan...!

Yang saya maksud dengan Kartini-Kartini Tanah Batak seperti
tertulis dalam judul di atas adalah sinonim dari "Boru
Halak Kita".. Dan hal ini ditulis sehubungan dengan peringatan
Hari Kartini pada hari ini, 21 April 2013.

Adapun sistematika tulisan sbb :

*Sekilas mengenai Ibu Kartini
*Dasar Penetapan hari kartini
*Sekilas mengenai Kartini Batak
*Wanita Batak Dalam macam profesi
* Efek negatif wanita batak yang sukses
*Penutup (Kesimpulan & Saran)
_______________________________

Sekilas mengenai Ibu Kartini
_______________________________

*Hal Peringatan

Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara,
Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal
di Rembang, Jawa Tengah, 17 September
1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya
lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini
adalah seorang tokoh suku Jawa dan
Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal
sebagai pelopor kebangkitan perempuan
pribumi.

Tanggal 21 April ini, rakyat Indonesia, khususnya kaum
perempuan, memperingati Hari Kartini 2013. Hari Kartini
memang ditetapkan sebagai hari besar nasional sejak era
pemerintahan Presiden Soekarno untuk menghormati jasa
dan perjuangan yang telah dilakukan Raden Ajeng Kartini
untuk kemajuan perempuan Indonesia.

Hal Dasar Penetapan hari kartini

Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik
Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang
menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional
sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April,
untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang
kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
____________________________________________________

Sekilas Kartini Tanah Batak masa lalu dan Sekarang
____________________________________________________

Para kawan dari hasil menyimak tulisan yang berhubungan
dengan "Wanita Batak di dunia maya ini", penulis melihat
ada 2 pendapat.

1. Mengatakan masih cukup teringgal dibandingkan laki-laki



"DI berbagai hal, seperti dalam hukum adat, kesetaraan,
warisan dan lain-lain, kedudukan kaum wanita   Bangso Batak,
masih sangat lemah bila dibandingkan dengan laki-laki.

Hakekatnya,  dilihat dari sisi hukum nasional, ketentuannya
sangat jauh berbeda  terutama soal warisan. Anak perempuan
bukan sebagai ahli waris tetapi dapat menerima bagian
harta warisan sebagai pemberian.

Demikian tersaji lewat situs
http://batakmedia.com/opini/item/37-batak-masih-diskriminatif-
pada-perempuan.html

2. Mengatakan sudah cukup maju

"Perempuan saat ini semakin berdaya, dan mampu bersaing dalam karier.
Perusahaan tak ragu menempatkan perempuan di level manajerial dengan
gaji yang tinggi.

Sayangnya, tak banyak dari kaum perempuan masa kini yang mampu
melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak atau bersih-bersih.
Para peneliti mengatakan, hanya 51 persen perempuan di bawah 30 tahun
yang bisa memasak sesuatu yang dipanggang, dan hanya 82 persen dari
perempuan yang lahir dari era baby boomer yang tahu pasti cara
memasaknya."

Demikian tersaji lewat link :
http://www.tobatabo.com/shownews.php?cat=9&news_id=348

Terhadap urian pertama di atas penulis ingin berkata, semoga
kedepannya prempuan batak ini lebih dalam pengetahuannya,
lebih tinggi pendidkannya hingga bisa mendapatkan keseimbangan
kehidupan sosial dalam  penerapan adat dan hak azasi manusia.
(Lebih bisa menem patkan dirinya dalam kesetaraan dengan
laki-laki batak).

Dan kepada laki-laki batak, penulis juga ingin berkata, berikan
peluang pada iboto, anggi atau kakak perempuan untuk mengembangkan
dirinya lewat pembagian warisan dengan cara agama dengan tetap
menghargai cara pembagian warisan menurut adat.

Sedangkan pada uraian kedua, penulis ingin memberi saran bagaimana
majunyapun seorang putri batak masa sekarang atau yang akan
datang kalau bisa, bisa jugalah memasak, karena memasak juga
salah satu identitas ni boru halak hita. Dan tentunya hal ini
sangat terasa pada istilah "Parsonduk bolunku". baik dalam arti
yang sebenarnya / denotatif (pandai memasak) maupun dalam arti
konotatifnya (Mengerti dan paham akan hak dan taggungjawab).

________________________________________________________________

Wanita Batak Dalam Macam Profesi (Masa 1964 / sejak ditetapkan
Hari Kartini sampai sekarang)
________________________________________________________________

Secara umum, untuk sekarang ini kartini-kartini batak bisa dibilang untuk banyak
hal telah memenuhi apa yang diharapkan oleh Ibu Kartini. Bidang-bidang profesi
secara umum baik swasta maupun pemerintahan telah mereka terjuni. Mereka
para boru halak hita ada didalamnya.

Dan semuanya itu tentu tak lepas pula dari dorongan apa yang kita sebut dengan
"Holong mangalap holong". sebagai motivator untuk menciptakan atau mencapai
tujuan seperti yang diharapkan Ibu Kartini.




_____________________________________________________

Wanita Batak dalam standard emansifasi yang keliru (Persaingan
putra batak dengan putri batak - efek negatif emansifasi)
______________________________________________________

Kesuksesan tentunya idaman setiap orang. Jika wanita batak sangat
menginginkannya maka putra batak itu jauh lebih menginginkannya
apalagi mengingat tanggungjawab setelah berkeluarga dan harga diri.
dalam persahabatan.

Tapi kesuksesan tidak hanya timbul karena kerja keras, karena relasi
atau karena pendidikan. Hal yang tak dapat dipungkiri campur tangan
Tuhan juga cukup besar dalam menentukan sukses tidaknya seseorang.
karena itupun kita mengenal, "Nasib ni badan / gurat-gurat ni tangan"
Dan nasib di Badan ini tidak sama pula di buat yang kuasa pada setiap
orang,  wanita atau pria.



Karena itu pula , jika dalam satu keluarga tak jarang istrinya justru
lebih sukses dari suaminya dengan gambaran, " istri anggota dewan,
suaminya hanya parlopo. Istri Kepala Kepala Bidang, suaminya
hanya parloppong. Istri pendapatannya 25 juta sebulan, suami cuma
25 juta seumur hidup" Hahahaha...

Dan effek dari hal ini, maka tak jarang pula sang suami menjadi tak
berdaya, permainan bukan lagi 3 banding 2 tapi justru sang suami
KO di buatnya. Dan dalam persaingan  KO ini, maka tak jarang pula
sang istri berakata :

- "Giling lasiaki aya ni si Utcok loja hulala" katanya, padahal yang sama-
    sama capenya.
-  "Ngak malu kau apa, 7 tahun kau kerja sepedapun ngak mampu kau
    membelinya" kata istri pula.
- "Besok saya ada rapat penting," jangan kau telepon-telepon dulu aku
   kata sang istri pula.
- "Kukirimpun duit sama keluargaku, itukan hasil pencarianku aya ni
   si utcok, jadi apa keberatanmu". Kau aja ngak pernah ngirim sesenpun
   tuk keluargaku.
-  "Udahlah berhenti aja kau kerja, dirumah aja, semua keperluanmu saya
   yang bayar" sambungnya pula.
- "Kalu mau cerai-cerai pun jadi". Kukira menikah sama kau semua
   kebutuhanku terpenuhi, ngak taunya akunya memenuhi kebutuhanmu.
" Tak usahlah kita pulang kampung, ngabis-ngabisin duit aja. Namboru
   juga nanti minta inilah minta itulah" sahut sang istri pula.

Semoga efek ini terhindar dari para putri batak yang telah mencapai
emansifasi  hingga  para putra batak  tak perlu kedepan untuk berkata
"Marboru dayak nama au, boru sunda nama hulului, dll" padahal
putri halak hita banyak yang sukses tapi para prianya menjadi takut
dan minder karenanya.

Dan menurut hemat penulis, bukan emansifasi seperti ini yang diharapkan
penggagasnya yaitu ibu Kartini putri sejati, putri Indonesia, harum namanya.
Musik...!


____________

Penutup
____________

Para kawan...!

1. Tak dapat dipungkiri, sejak sebelum adanya hari Kartini (1964
sampai kebawah), kedudukan wanita Batak memang masih sangat lemah
dan hal ini sangat tergambar lewat cerita para orang tua dan
beberapa karya seni batak baik dalam lagu maupun opera.

"Opera Siboru Tumbaga" sangat jelas mengambarkan kedudukan wanita
batak lemah dalam pembagian warisan. Sedangkan "Natarjolung do
damang" menunjukkan lemah dalam perjodohan.



2. Wanita Batak dari hasil pengamatan penulis pun beberapa cerita
keluarga juga berita-berita media, wanita Batak sejak lahir hari
Kartini sudah mulai menunjukkan perobahan yang signifikan di
bidang emansifasi.

Dan bisa dibilang untuk tahun 2000 ke atas wanita Batak sudah
banyak yang bisa bersaing / setara dengan laki-laki batak lainnya
yang sukses baik dalam dunia bisnis / wirausaha maupun dalam
pemerintahan.

Saran dan harapan  :

Semomoga kedepan, lebih banyak lagi kartini-kartini batak / wanita-
wanita Batak yang dapat menunjukkan prestasinya dan bukan saja
dalam wilayah nusantaratara tapi juga manca negara.

Dan tentunya dengan harapan pula, dengan adanya "Emansifasi"
kiranya kartini-kartini Batak itu tidak pula menjadi orang-orang
yang lupa tano hatubuan nya, lupa pada keluarganya, lupa pada
adat bataknya dan lupa pada nili-nilai habatakon-nya.

Dan jika semua itu terjaga, tentunya para putra batak itupun
akan ikut merasa bangga. Dan jika tidak terjaga, bukan tidak
mungkin putra batak itu juga akan berkata, "Mulak maho butet
tu jaman najolo". Hahahahahaha....butet-butet...rauli-rauli...
tumbaga-tumbaga, rosmery-rosmery, efrida-efrida,
duma...duma...maria-maria...jamila-jamila, lady...lady....
rosita...rosita....o...ooo...rosita...rosita...rosita....o...ooo...rosita...
tralalala....aaaa...



Selamat malam dan Horas...!
__________________________________________________________
Cat :
*Sampai 21 April 2014 dilihat 126 kali.
* Link untuk bukti kartini tanah batak dalam emansifasi :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2013/06/ratna-sarumpaet-dan-taruli-artha.html

PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

No comments:

Post a Comment