Senin, 18 November 2013

Sastra Lampung : Sajak Mak Dakwah Madibingi Vs Tasbih Tahmid Tahlil Takbir


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Memahami buku "Mak Dawah Mak Dibingi" sebagai oleh-oleh
silaturrahmi penulis dari Budi P Hatees)
_______________________________________________________









_________________

Kata Pengantar
_________________

Tulisan ini adalah kelengkapan dari link :

http://angkolafacebook.blogspot.com/2013/11/sastra-lampung-gebyar-3-putra-batak.htmlhttp://angkolafacebook.blogspot.com/2013/11/lampung-dalam-hubungannya-dengan.html

Begini para kawan...!

Di tahun 2011 yang telah berlalu, Budi P. Hatees memberikan
oleh-oleh silaturrahmi pada penulis ketika bertemu di Depok.
Beliau bilang, sebenarnya ingin member ikan buku hasil karya
beliau, tapi karena tidak lagi dibawa maka diberikanya
buku pengganti dengan judul, "Mak Dakwah Madibingi".
Sekali lagi biar jelas, judulnya "Mak Dakwah Madibingi".

"Mak Dakwah Madibingi itu artinya apa...?". begitu mungkin
para putra-putri tanah batak bertanya. Dan terhadap hal ini
penulis menjawab, "artinya Tidak tahu..! Bukan maksudnya
artinya tidak tahu Mak Dakwah Madibingi. Tapi Mak Dakwah
Madibingi penulis tidak tahu artinya.

"Kalaulah Mak Dakwah Madibingi penulis tidak tahu artinya,
mengapa harus ditulis...?" Bisa jadi demikian kelanjutan
pertanyaanya.

Dan terhadap hal ini penulis menjawab, "Karena tidak tahulah
artinya Mak Dakwah Madibingi makanya ditulis agar penulis
dan pembaca yang tidak tahu menjadi tahu.

"Tahu adalah asal mula pengetahuan" demikian salah satu judul
buku yang menjadi salah satu topik bahasan pada saat penulis
belajar Filsafat Komunikasi di IISIP Jakarta Tempoedoloe.

Nah...!

Untuk menjadi pengetahuan, "Mari sama-sama mencari tahu apa
dan bagaimana itu buku atau arti dari Mak Dawah Mak Dibingi"

Selamat menyimak...!

_____________________________________________

Tentang data fisik Buku dan pendapat penulis
serta analisisnya
_____________________________________________


















Ket :

1. Gambar diatas adalah caver depan buku dengan dominasi
   warna merah serta photo seorang gadis dalam sorotan
   mata tajam. Sekilas terkesan sang gadis sedang berada
   dalam kegelisahan dan sangat terasa pada mimik muka
   serta gigitannya pada sesuatu yang terkesan seperti
   kain. Bagi penulis  caver buku ini cukup bagus sebagai
   pemancing naluri ingin tahu pembacanya

2. Tebal 70 Halaman dan beberapa sajak diberi ilustrasi
   gambar. Bagi penulis jumlah sajak dan jumlah halaman
   memberi gambaran bahwa sajak-sajak dalam buku ini
   tidaklah terlalu panjang.

3. Penerbit BE Press 2007 dengan alamat Lampung

4. Bahasa yang digunakan Bahasa Lampung termasuk kata
   pengantar dan otobiografi penulis pada caver belakang.

5. Mak Dawah Mak Dibingi (2007) meraih Hadiah Sastera
   Rancagé 2008 untuk kategori sastra Lampung.

6. Pengarang Udo Z. Karzi

Analisis :

Analisis Nilai-nilai Budaya Lampung dalam Kumpulan
Sajak Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi dan Implikasinya dalam
Pembelajaran di Sekolah Menengah Atas. (skripsi STKIP Muhammadiyah
Kotabumi Lampung, 2010)
______________________________________________________

Sekilas tentang Udo Z. Karzi sebagai pengarang 50 sajak
Bahasa Lampung, Mak Dawah Mak Dibingi
______________________________________________________

Udo Z. Karzi (lahir di Liwa, Lampung Barat, 12 Juni 1970; umur
43 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Ia lulusan Jurusan
Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
Universitas Lampung (1996).

*Pengalaman organisasi

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mahasiswa Teknokra
(1993-1994), Pemimpin Umum Majalah Republica (1994-1996), dan
Pembimbing Majalah Ijtihad (1995-1998).

Banyak menimba pengalaman dari berbagai kelompok/kegiatan
diskusi: Kelompok Studi Merah Putih, Forum for Information and
Regional Development Studies (FIRDES), dan Pergerakan Mahasiswa
Islam Indonesia (PMII).

Anggota dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung
sejak berdirinya pada 31 Maret 2001.

*Kerja jurnalistik

Terjun ke dunia jurnalistik sebagai wartawan lepas Harian Umum
Lampung Post, Bandar Lampung (1995-1996) dan reporter Majalah
Berita Mingguan Sinar, Jakarta (1997-1998).

Sempat mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar Ekonomi-Akuntansi
SMA Negeri dan MAN di kota kelahirannya (1998) sebelum menjadi
jurnalis Surat Kabar Umum Sumatera Post, Bandar Lampung (1998-2000),
harian Lampung Post, Bandar Lampung (2000-2006), dan harian
Borneonews, Pangkalan Bun (2006-2008), dan sejak 2009 kembali
bekerja di Lampung Post.

*Kerja budaya

Sastrawan bernama asli Zulkarnain Zubairi ini menulis puisi,
cerpen, dan esai di berbagai media lokal dan nasional sejak 1987.
Sempat menjadi Ketua Penelitian dan Pengembangan Dewan Kesenian
Lampung (Litbang DKL) (2005-2006). Tahun 2010, bersama Y. Wibowo
dan Nugroho Este mendirikan Penerbit Pustaka Labrak, selain
menjadi editor Penerbit BE Press, Bandar Lampung sejak 2007.

Dinilai membawa pembaruan dalam tradisi perpuisian berbahasa
Lampung sebagaimana terlihat dalam buku sajak dwibahasa Lampung-
Indonesianya: Momentum (2002), dia disebut "bapak puisi modern
(berbahasa) Lampung".

*Penghargaan

Buku puisinya, Mak Dawah Mak Dibingi (2007) meraih Hadiah
Sastera Rancagé 2008 untuk kategori sastra Lampung.

*Karyanya yang lain

Etos Kita, Moralitas Kaum Intelektual (editor, 2002),
Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa (editor bersama
Budisantoso Budiman, 2010)
Mamak Kenut, Orang Lampung Punya Celoteh (2012).
Feodalisme Modern, Wacana Kritis tentang Lampung dan
Kelampungan (2013)

*Studi mengenai karya Udo Z. Karzi

Kuswinarto. Udo Z. Karzi dalam Peta Puisi (Berbahasa) Lampung.
(2003)Ritanti Aji Cahyaningrum. Zulkarnain Zubairi dan
Kelampungannya. (2006) Melsa Hendralia. Analisis Nilai-nilai Budaya
Lampung dalam Kumpulan Sajak Mak Dawah Mak Dibingi karya
Udo Z. Karzi dan Implikasinya dalam Pembelajaran di Sekolah
Menengah Atas. (skripsi STKIP Muhammadiyah Kotabumi Lampung, 2010)
___________________________________________

Sekilas tentang Buku Mak Dawah Mak Dibingi
___________________________________________

Mengenai buku ini, situs
http://ulunlampung.blogspot.com/2009/05/atmosfer-mak-dawah-mak-dibingi-dalam.html
mengatakan :
Maka, dalam koridor yang lain, Mak Dawah Mak Dibingi mengajak kita
beringsut pada pakem-pakem kesusasteraan yang tidak terlalu gamblang,
tapi berisi. Mungkin, itulah diskursus ke-Lampungan yang terlihat
dalam buku spektakuler ini. Saya katakan spektakuler, karena selain
penulisnya masih muda, Lampung yang dijuluki Indonesia mini, pun
terwakili dalam buku ini.

Ada semangat filsafat Auf Klarung, ketika kita membaca Rik Renglaya
Maseh Mekejung. Dalam Rik Renglaya Maseh Mekejung terdapat anasir-
anasir interelasi antara keinginan untuk bervisi besar tapi dijegal
misi kebudayaan daerah itu sendiri. Bukankah, fraksis filsafat Auf
Klarung membuat paradoksnya tersendiri ketika Turki ingin memperkenalkan
sekulerisme, Eropa ingin memperkenalkan human material dan spiritualitas
yang tak kunjung padam dari para funding father kita.

Sedangkan situs lewat alamat :
http://www.blackgerry.me/2008/07/mak-dawah-mak-dibingi.html
mengatakan :

Tak siang tak malam Udo Z karzi resah akan kelanjutan hidupnya.
Dalam resahnya, Udo Z Karzi ciptakan puisi yang menjelma dalam
50 puisi berbahasa Lampung.

Mak Dawah Mak Dibingi, sebuah kumpulan puisi yang menurut
penulisnya termasuk puisi modern dengan menggunakan bahasa
Lampung. Hebatnya, buku ini mendapat anugrah kebudayaan rancage,
sebuah penghargaan atas kreatifitas seseorang dalam memelihara
kebudayaan, dalam hal ini upaya udo z Karzi dalam memelihara
bahasa Lampung sebagai Bahasa Ibu.

Mak Dawah Mak Dibingi ini bagi saya sendiri seperti oase
ditengah kekeringan karya berbahasa Lampung, yang menurut
saya seharusnya lebih mewarnai kehidupan di Provinsi Lampung.

"Tidak diragukan lagi, buku Udo Z. Karzi merupakan pelopor
lahirnya sastra Lampung modern, sehingga sangat pantas memperoleh
Hadiah Sastera “Rancagé” tahun 2008 bagi sastra Lampung untuk
pertama kalinya.

Diharapkan buku ini mampu merangsang para sastrawan Lampung lainnya
untuk menulis karya-karya sastra dalam bahasa ibunya, bahasa Lampung".
Tulis situs :
http://irfananshory.blogspot.com/2008/02/hadiah-rancage-untuk-sastra-lampung.html
________________________________

Isi sajak Mak Dawah Mak Dibingi
________________________________

"MAK DAWAH MAK DIBINGI"

mak dawah mak dibingi
kuran maseh riya ngewarahkon
banjer kukuk tupan
bencana di lamon rang

-- musim tambah panas, kidang kekala terai

bakas sai mekik-mekik
cak lading cutik lagi nembus tenai
nyak tekesima
tehejong
ah, nyatani sai jahat nyebar
delom setiap detakni sai urik

nyusori negarabatin sai bingi
bingi mak seangi sai tipikerkon
bingi nyegokkon resiani tenggalan
kidang bingi jujor ngakui risok sareh
cutik sungsai nyembul jak kebelah bingi
lampu keliwat ridap nyusori kelomni

mak dawah mak dibingi
nyak resah
neram ingkah nunggu lanjutanni urik
neram nyatani ingkah ngejalani
induh api sai bakal tejadi

ngebelah angini negara batin
redio maseh ngedendangkon
: mak dawah mak dibingi

2004

Arti sajak ini dapat anda peroleh gambarannya dari :
http://books.google.co.id/books/about/Kamus_bahasa_Lampung_Indonesia.html?id=-BA6kyw2ImMC&redir_esc=y
__________________________________________________________

Penutup (Mak Dakwah Madibingi Vs Tasbih Tahmid Tahlil Takbir 
__________________________________________________________

*Kesimpulan

Setelah mempelajari macam hal yang berhubungan dengan buku
oleh-oleh silaturrahmi penulis dari Budi P Hatees, maka ini
yang dapat penulis sampaikan pada pembaca angkolafacebook.blogspot.
con dan khsusnya pada Budi P Hatees :

1. Buku dengan judul "Mak Dawah Mak Dibingi" adalah salah satu buku
   yang berbahasa lampung yang merupakan kumpulan dari 50 sajak karangan
   Udo Z karzi.

2. "Mak Dawah Mak Dibingi" ini juga merupakan salah satu judul sajak
   dari 50 sajak tersebut.

3. Sajak-sajak buku ini semuanya memakai bahasa Lampung, karena itu
   penulis tidak terlalu memahami seluruh isi sajak.

4. Begitupun hasil tangkap penulis pada sajak dengan judul "Mak Dawah
   Mak Dibingi" Hampir sama maknanya dengan "Ngak Siang Ngak Malam".
 
   Yah...ngak siang ngak malam banyak munusia ini selalu mengalami
   keresahan ngak terkecuali penulisnya. Resah karena ada kejadian
   yang tak terelakkan oleh manusia. Resah karena tidak tahu kapan
   waktu terjadinya. Resah karena kita tak tahu apakah kita akan
   akan jadi korbannya.

   Mak Dawah Mak Dibingi, Ngak siang Ngak malam...! Manusia itu akan
   tetap resah karena suatu kejadian bukan akhir dari suatu keresahan.
   Keresahan jiwa kan tetap melanda manusia selagi manusia itu
   bertanya entah apa lagi yang akan terjadi. Mak Dawah Mak Dibingi,
   ngak siang ngak malam.

*Saran

Pada postingan Sastra Lampung lewat link :
....
penulis memberitahu, bahwa Sastra selain sebagai penyampaian isi
hati penulisnya, sastra juga bisa merupakan solusi bagi pembacanya,
solusi untuk membuatnya lebih bijaksana dalam menjalani hidup
atau solusi agar diri kita lebih dekat pada sang pencipta.

Khusus untuk sajak "Mak Dawah Mak Dibingi" sebagai gambaran  keresahan
jiwa penulisnya yang bukan tidak mungkin sebagai gambaran keresahan
jiwa dari sebagaian masyarakat Lampung, maka penulis merespon sajak
Udo Z Karzi ini dengan mengutif  salah satu Firman Allah Swt yang
berbunyi :

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingati Allah hati menjadi tenteram."Ar-Ra’d ayat 28.

"Mak Dawah mak Dibingi" ngak siang ngak malam hati kita
juga bisa tentram hanya dengan mengingat Allah Swt.

"Mak dawah mak dibingi" ngak siang ngak malam hati juga bisa
lebih damai dengan :



Demikian yang dapat penulis sampaikan lewat postingan ini dan "Majulah
Sastra Lampung" serta salam horas untuk Udo Z Karzi pun Budi P Hatees.

Horas...horas...horas...!
______________________________________________________________________
Cat :


PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar