Minggu, 02 Maret 2014

Marboru Jerman 2 : Beda tradisi masa pacaran di Jerman dan Tanah Batak serta tradisi mencari jodoh



#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak perbedaan tradisi masa pacaran di Jerman
dan Tanah Batak serta tradisi perjodohannya)
____________________________________________________

_________________

Kata Pengantar
_________________

Postingan ini adalah pendalaman dari link :

yang mana pada link tersebut, penulis berilustrasi tentang
seorang putra batak bernama Tigor menikah dengan boru Jerman 
bernama Martina.

Untuk tambahan pengetahuan khsusnya dibidang "Perbedaan masa 
pacaran dan tatacara pernikahan serta tradisi perjodohan" antara 
tanah Batak dan Jerman berikut infonya.

Selamat menyimak...!

_____________________________________________________

Beda pernikahan di Jerman dengan tanah batak dalam
hubungannya dengan masa pacaran dan main catur 
_____________________________________________________

* Dalam hubunganya dengan Masa pacaran (margandak/martandang)

Cara markusif adalah cara umum di tanah batak dalam 
menyampaikan pesan cinta laki-laki pada lawan jenisnya
dan cara ini adalah cara satu-satunya yang diketahui
orang batak pada masa lampau khsusnya.

Jika si gadis merasa suka pada orang yang mangkusifnya
maka tak jarang sang gadis batak tersebutpun akan 
memberikan salendang atau ulos atau abit sebagai tanda
rasa sukanya.

Di Jerman, khsusnya utuk masyarakat yang masih menerapkan
cara-cara pacaran tradisional, jika seorang pemuda merasa
suka dengan lawan jenisnya maka beliau akan meletakkan
bunga di halaman sang gadis tersebut.

Jika sang gadis merasa suka, maka bunga itu akan diambil
sang gadis untuk kemudian diletakkan diruan tamu rumahnya.

Situs lewat alamat :
mengatakan :

"Bangsa Jerman adalah sebuah bangsa yang mau bekerja keras, 
berpikir realistis, memandang penting hal praktis dan bangsa 
yang tidak suka membual, kelebihan-kelebihan tersebut juga 
terefleksikan dengan gamblang dari adat istiadat pernikahan 
mereka

Dalam memilih pasangannya orang Jerman memiliki cara unik. 
Sebagai contoh di daerah Bonn, anak muda menaksir seorang 
gadis, maka pada tanggal 30 April atau 1 Mei meletakkan 
sebatang pohon white oak di depan rumah si gadis. 

Jikalau sang gadis merasa tertarik dengan pemuda itu, dia 
akan meletakkannya di dalam ruang tamu rumahnya. Si pemuda 
setelah mengetahuinya, dengan segera menghadiahi sebuah 
cincin permata, sang gadis menerima cincin tersebut dan 
mencium mesra si jejaka, untuk menyatakan rasa terima 
kasihnya dan menerima cintanya. 

Ketika kedua belah pihak merasa cocok satu sama lain dan 
merasa tak dapat dipisahkan satu sama lain, maka mereka 
saling menghadiahi sebuah cincin perak sebagai pertanda 
pertunangan. 

Sewaktu melangsungkan pesta pernikahan, kedua pihak saling 
memberi cincin emas, menandakan cinta kasih mereka murni 
bagai emas untuk selamanya". tulisnya.

* Dalam hubungannya dengan catur

Tanah batak memang populer dengan permainan caturnya, 
nyaris semua laki-laki batak tau bagimana caranya main catur. 
Begitupun sungguh jarang atau mungkin tidak pernah para
lelaki batak belajar serius main catur agar beliau di
cintai para boru batak.

Kecendrungannya malah lelaki batak yang bisa main catur
tersebut akan tidak terlalu disukai boru batak karena
alasan-alasan tertentu. Dan para tulang atau nantulang
batakpun sepertinya tidak ada yang memilih berenya 
(Suami dari anak prempuannya) menjadi menantu atau suami
dari borunya.

Sedangkan di Jerman sebaliknya, mereka para kaum lelaki
yang pintar main catur sepertinya lebih berpeluan besar
pula untuk mendapatkan para gadis-gadisnya, karena adanya
dukungan dari orang tua yang suka pada menantunya yang
pintar main catur.

Lebis jelasnya situs Selvy.blogspot.com  sampai mati  
mengatakan :

Di arah barat laut kota Berlin terdapat sebuah kota kecil 
bernama: Hirschberg, karena seluruh penduduk menggandrungi 
kompetisi catur, mendapat julukan sebagai “Kota Catur”. 
Di tempat tersebut, bagi yang ulung dalam bermain catur, 
sangat dihormati orang. 

Para pemuda ketika hendak menyatakan cinta kepada seorang 
gadis, mereka berupaya membekali dirinya dengan seni catur, 
dengan harapan akan memperoleh perhatian dari sang gadis. 
Jika seorang jejaka hendak menyatakan cinta kepada seseorang, 
maka dikirimnya surat kepada nona tersebut, berharap bisa 
diberi peluang bertanding catur dengan ayah si gadis. 

Jikalau sang gadis bereaksi positif terhadap si pemuda, 
disepakatilah waktu bagi si pemuda untuk bertandang ke 
rumahnya. Pada saat si jejaka bertanding dengan calon 
“Juragan mertua”, si gadis dengan seluruh keluarganya 
pada menyaksikan dari samping. 

Si jejaka mengeluarkan seluruh jurus simpanannya dan 
“Juragan mertua” menghadapinya dengan serius. Setelah 
melalui beberapa gebrakan, akhirnya si jejaka yang menang, 
si “Juragan mertua” selain tidak akan marah, malah 
mengucapkan selamat. Maka sang perjaka akan menerima 
pelayanan istimewa dari seluruh anggota keluarga, 
urusan percintaanpun dengan demikian telah berhasil 
dengan sukses besar.
_________________________________________

Lain-lain seputar Perjodohan di Jerman
_________________________________________

* Hal mencari jodoh selama 40 hari

Di atas pulau Fuhr, terdapat sebuah hotel dengan fasilitas 
nan mewah, khusus bagi muda-mudi lajang, terdapat fasilitas 
dengan tujuan menyediakan peluang kebersamaan bagi mereka 
yang malu membuka mulut, orang yang mendaftarkan dirinya 
pada hotel tersebut diharuskan memiliki persyaratan kepribadian 
setia, jujur dan terkenal reputasi baiknya serta masih membujang, 
waktu menginap maksimal 40 hari. 

Dalam rentang waktu tersebut, petugas hotel menggunakan 
berbagai peluang agar muda-mudi bisa saling bertemu dan saling 
berkenalan. Pengguna hotel juga bisa melalui telepon dalam 
kamarnya menyatakan cintanya kepada si orang asing, agar terhindar 
dari situasi salah tingkah jikalau ditolak apabila bertatapan 
muka langsung. Banyak orang selama menginap di hotel tersebut, 
berhasil mencapai tujuan memperoleh jodohnya.

* Hal mencari jodoh dengan membuat video Clips

Memilih pasangan melalui video sangat digemari oleh putri-putri 
Jerman. Sebagian gadis itu karena berbagai sebab dalam masalah 
penyelesaian perkawinan eksis kesulitan, maka mereka mengeluarkan 
biaya untuk membuat sebuah video clips pelamaran. 

Di bawah pengarahan cermat sutradara dan kameraman, kelebihan si 
gadis dalam hal memasak, menjahit, tempat tinggalnya, paras dan 
bentuk tubuh serta ketrampilan ditampilkan secara hidup di atas 
layar. Meski adalah seorang gadis yang biasa-biasa saja, di atas 
layar bisa diubah menjadi gadis yang cantik dan menyenangkan. 
Sedangkan apa saja kekurangan si gadis, hanya suaminya yang 
paling jelas, sesudah menikah tentunya.

______________________________________________________

Hal memecahkan piring/botol untuk mengusir kegundahan 
masa lampau sebagai salah satu tradisi pernikah di Jerman
______________________________________________________

Pada daerah-daerah tertentu di Jerman, hingga sekarang masih 
mewarisi kebiasaan ritual pernikahan kuno tertentu, misalkan 
sebuah contoh di daerah Bonn yang masih nge-trend yakni ritual 
“Bude Abend” yang sebelum pernikahan membanting ember dan memecah 
piring.

Sama halnya dengan situasi di negara Eropa lainnya, pemuda-pemudi 
Jerman kebanyakan di dalam gereja melangsungkan ritual pernikahan 
dan di rumah melangsungkan pestanya. Pihak lelaki menutup biaya 
untuk acara di gereja, daftar nama para tamu peserta pesta 
pernikahan kebanyakan ditentukan oleh mempelai wanita. Akan 
tetapi, pada kebanyakan situasi, orang tua pihak mempelai selalu 
berunding dengan besan mereka, masing-masing mengusulkan separo 
nama tamu, dengan begitu bisa menghindari munculnya hal tidak 
menyenangkan pada saat pesta berlangsung. 

Pesta pernikahan pada umumnya, daftar nama tamu biasanya 
termasuk anggota keluarga kedua keluarga, kawan kedua belah pihak 
orang tua, para teman mempelai pria dan wanita, secara garis besar 
ditentukan berdasarkan perbandingan yang setara.

Di dalam suasana pesta yang khidmad, mempelai pria yang berbusana 
pakaian kebesaran yang keren dan bergandengan tangan dengan 
mempelai wanita yang bergaun putih, di bawah kawalan dari pengapit 
pengantin laki-perempuan, memasuki arena pesta pernikahan, para 
undangan menyatakan selamat kepada pengantin baru, kedua mempelai 
menyatakan rasa terima kasih kepada hadirin satu persatu. 

Secara tiba-tiba, suara “Ting ting tang tang” pecahan piring dan 
bunyi gaduh bantingan mangkuk, selain itu juga tiada henti, persis 
bagaikan suara petasan pada saat malam tahun baru Imlek. Ternyata, 
dengan mengikuti kebiasaan tradisional setempat, sebelum resmi 
nikah harus melangsungkan ritual membuang yang lama (sial) – 
menyongsong yang baru. 

Para undangan yang mengikuti acara pesta, setiap orang pada membawa 
aneka macam mangkuk pecah, piring retak, botol rusak dlsb. Di dalam 
ritual, orang-orang pada berlomba membanting piring dan memecah botol, 
silih berganti, suara gaduh tidak berhenti.

Benda-benda rombeng yang dibawa dan dibanting para tamu berserakan 
di lantai, orang tua pengantin wanita dengan tersenyum simpul 
mengumpulkan pecahan benda-benda tersebut dan disapu menjadi satu 
dan dimasukkan ke dalam sebuah koper kulit-besi butut serta 
disulut dengan api di tengah halaman, para hadirin mengelilinginya 
sembari menyanyi dan menari, bersorak sorai dan berlompatan.

Di dalam konseosi tradisional orang Tionghoa, pada masa pesta 
berpantangan memecahkan barang, konsepsi tradisional orang Jerman 
justru terbalik.

Mereka menganggap dengan membanting dan melempar keras-keras, bisa 
membantu memperlai berdua menghapus kegundahan masa lampau dan 
menyongsong permulaan yang indah, di dalam perjalanan kehidupan 
yang panjang, sang suami-isteri bisa selalu mempertahankan asmara 
yang hangat, selama hidup tak berpisah hingga rambut memutih. 

Yang lebih menarik ialah, suami isteri pengantin baru tidak 
boleh menikmati malam pertama dengan tenangnya, melainkan 
berkonsentrasi penuh, dengan seksama memperhatikan keadaan 
sekeliling. Selalu saja ada tetangga kiri kanan yang secara 
berkala memecahkan seperangkat porselen, sesudah kedua mempelai 
itu mendengarnya, sebagai reaksinya diharuskan dengan segera 
memecah juga sebuah benda. Seolah-olah pihak lain memecah sebuah 
benda pecah-belah adalah mengucapkan selamat kepada mereka, 
maka mereka juga membanting sebuah porselin untuk menunjukkan 
rasa terima kasih.

Sumber :
___________

Penutup
___________

Demikian infonya, semoga memberi manfaat khsusnyadalam 
perluasan pengetahuan, "Lain padang lain belalangnya".

Selamat malam ...dan ....horas...!

____________________________________________________
Cat : 
PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar