Rabu, 12 Maret 2014

Pemilu 2014 : Antara Kesukuan dan Kepresidenan, Diam semua...!


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak ilustrasi diskusi tentang Presiden RI dari Suku Jawa pada
masa lampau dalam hubungannya dengan Pemilu 2014 - Post.5)
_________________________________________________________








_____________

Pengantar
_____________

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA HARUS RAS JAWA ( ? )

INI ADALAH UNGKAPAN KECEWA SAYA DAN SAYA SANGAT
INGIN TAU ALASANNYA,   KENAPA SUKU ATAU RAS JAWA
ADALAH SUKU YANG HAMPIR HARUS DAN HAMPIR
SELALU MENJADI PRESIDEN DI REPUBLIK INDONESIA INI.

Tulis situs Namaku Roy lewat alamat :
http://radicalminded.blogspot.com/2013/05/presiden-republik-indonesia-harus-ras.html

Selanjutnya dikatakan :

TAHUN 2014 NANTI...SIAPA ORANG DARI SUKU JAWA
BERIKUTNYA YANG AKAN MENJADI PRESIDEN ? KENAPA
HARUS SUKU JAWA ? TIDAK BISAKAH ORANG DARI SUKU
YANG LAIN ? APAKAH HANYA SUKU JAWA YANG LAYAK
MENJADI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ? APAKAH
SUKU BALI, SUKU SUNDA, SUKU PADANG, SUKU PAPUA,
SUKU AMBON, SUKU BATAK, SUKU DAYAK DAN SUKU -
SUKU LAINNYA DI INDONESIA INI TIDAK LAYAK
MENJADI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA? APAKAH
TIDAK ADA SUKU SELAIN SUKU JAWA YANG BISA DITERIMA
OLEH SUKU LAIN SEBAGAI PRESIDEN ?

BILA HANYA SUKU JAWA YANG - BOLEH.BISA.HARUS -
MENJADI PRESIDEN DI REPUBLIK INDONESIA INI, MUNGKIN
SEBAIKNYA REPUBLIK INI BERGANTI NAMA SAJA MENJADI
REPUBLIK JAWA INDONESIA ATAU REPUBLIK INDONESIA JAWA.

Mengacu kepada uraian Roy di atas, penulis angkolafacebook.blogspot.
com sebagai suku Batak akan mengundang perwakilan dari nama-nama suku
terbutkan ke hotel Sentosa, Muara, Dano Toba - Sumatra Utara.

- Lainnya yang di undang adalah Presiden RI
- Perwakilan anggota DPR MPR RI
- Gubernur Sumatra Utara
- Para tokoh Adat dan Budaya Tano Batak

Maksud dan tujuan adalah :

Untuk membicarakan kekecewaan Roy yang mungkin saja mewakili 247
ras atau suku yang ada di Nusantara tercinta ini "atas terpilihnya
Presiden Republik Indonesia pada masalampau dari suku Jawa.

Hal yang ingin dicapai adalah :

1. Adanya kesepakatan dari 247 suku di Nusantara ini bahwa terpilihnya
   Presiden Republik Indonesia dari suku Jawa, bukanlah suatu kebetulan
   dan bukan pula suatu politik. Tetapi suatu amanat yang memang telah
   di amanatkan oleh UUD 45 dan Pancasila lewat badan pengaturan yang
   secara umum disebut Komisi Pemilihan Umum Indonesia.

2. Dengan tercapainya kesepakan pada amanat tersebut, diharapkan para
   suku-suku bangsa di Indonesia, "Tidak menciptakan issu kesukuan
   dalam pemilihan Presiden RI pada masa mendatang, khususnya untuk
   pemilihan Presiden RI 2014.

Para pembaca angkolafacebbok.blogspot.com yang saya hormati...!

Postingan ini atau tulisan ini adalah "Khayal atau tidak nyata,
seperti nyatanya dunia nyata". Tapi yang namanya belajar, belajar
untuk lebih bijak sana bersikap dan bertindak maka sesungguhnya
dunia khayal itu jauh lebih baik dari dunia nyata.

"Dalam dunia khayal (melakukan proses berpikir di pikiran) cukup
sering masalah terselesaikan tanpa adanya pertumpahan darah (timbul
saling pengertian diantara orang yang bertikai). Sedangkan dalam
dunia nyata persoalan juga cukup sering tak terselesaiakn meski
darah telah ditumpahkan".

Hidup para suku-suku bangsa di Indonesia dan Merdeka...!

Untuk menyingkat waktu, maka pertemuan atau diskusi dunia khayal ini
akan penulis susun acaranya sebagai berikut :

1. Kata sambutan dari Gubernur Sumatra Utara
2. Penyampaian pesan-pesan keluhan dari 247 suku bangsa di
   Nusantara lewat perwakilan nama-nama suku populer Nusantara
3. Jawaban suku Jawa pada macam pesan-pesandari 247 suku
   Nusatara yang diwakili Presiden RI, yaitu pak SBY
4. Penyampaian hasil diskusi pada Presiden Republik Indonesia,
   para anggota DPR/MPR RI, Gubsu dan Mayarakat Inonesia
5. Penyampaian tanggapan Presiden RI pada hasil diskusi
6. Penutup

Demikian susunan acaranya para pembaca sekalian. Dan sebelum acara
kita mulai mari sama menyanyikan, "Indonesia Raya". Dan pembawan
acara-acara selanjutnya akan diserahkan pada, "Moderator diskusi
yaitu Naga Bonar Pasaribu". Kepada pak Naga Bonar dipersilahkan...!

Moderator :

Terimakasih...!

Pada pak Presiden, anggota DPR MPR RI, Gubsu, para tokoh adat
dan budaya batak serta para saudara perwakilan suku-suku bangsa
se Nusantara di persilahkan untuk berdiri, karena kita mau
menyanyikan, "Indonesia Raya".

Para pargondang, pargotci tanah batak dipersilahkan iringan
musiknya...! 1...2...3....

Indonesia tanah airku
tanah tumpah darahku
......................











)
























Terima kasih...!
Acara selanjutnya, kita memasuki kata sambutan dari pak
Gubernur Sumatra Uatara. Waktu dan tempat di persilahkan...!
_____________________________________________

1. Kata sambutan dari Gubernur Sumatra Utara
_____________________________________________


























Horas...horas...horas....!

Assalamu'alaikumwarahmatuillahiwabarakatuh...!
Waalaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh...!

Bapak Presiden yang kami hormati, pun aggota DPR MPR RI yang
kami percayai, juga para saudara saudari sekalian yang telah
bersedia mewakili 247 sub suku bangsa Nusantara ini, "Terimakasih
semua atas kesediaannya hadir di tempat parawisata andalan kami
ini Danau Toba tercinta, dano tempat asal muasal suku bangsa
batak yang telah bertebaran di Nusantara ini.

Saya berharap diskusi ini dapat berjalan lancar dengan tetap
menjaga etika kebangsaan juga berharap sangat, kiranya apa
yang dituju dapat tercapai, hingga anda semua dapat pulang
dengan berkata puas...!.

Wassalamu'alaikumwarahmatuillahiwabarakatuh...!
Waalaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh...!

Moderator (Naga Bonar Pasaribu) :

Demikian kata sambutan dari pak Gubsu, dan untuk acara
selanjutnya kita memasuki tahap penyampaian pesan-pesan,
saran atau pendapat, kritik atau usul dari para perwakilan
247 suku bangsa Indonesia.

Dan penyampaian ini akan dipandu oleh moderator 2 yaitu
Baginda Habiaran Siregar. Kepada pak Baginda dipersilahkan...!
___________________________________________________________

2. Penyampaian pesan-pesan keluhan dari 247 suku bangsa di
   Nusantara lewat perwakilan nama-nama suku populer Nusantara
___________________________________________________________

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Tolema...!
Marsidokkon aha nai rohana be, muda nong na kaboratan
tu suku Jawa harana jot-jot halai tarpili jadi Presiden
dokkon hamu, hatahon hamuma...!

Moderator 1 (Naga Bonar Pasaribu)

Pak moderator 2...! Tidak mengerti orang itu bahasa Batak, pake
Bahasa Indonesia.

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Olo nian...! Iya nian...! Kalau begitu ku pake, para saudara sekalian
silakan menyampaikan pesan-pesannya, uneg-unegnya, ulok-ulok ni
butuhanya...silakan dari Aceh duluan...!

* Suku Aceh :

Saya bukanya tidak setuju suku Jawa jadi Presiden pada masa yang
telah berlalu karena memang telah berlalu, "Yang lalu biarlah
berlalu", tapi jika Suku Jawa juga yang jadi Presiden untuk masa
yang akan datang "Sunggu terlalu...!" Itu saja, pak moderator dua.

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Terimakasih pada Suku Aceh...! Selanjutnya pada Suku Batak,
dipersilahkan...!

* Suku Batak :

Napola beda...! Mangihutma songoni, songon nai dokkon ni par acehi...!

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Pake Bahasa Indonesia ho Katua, namangarti halai-i...?

Suku Batak :

Mengikut sajalah seperti apa yang dikatakan suku aceh itu...!

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Oke...! ditampung. Selanjutnya dari Suku Padang. Silahkan...!

* Suku Padang :

Jelas dan cukup jelas, 247 suku bangsa Indonesia punya kesempatan
yang sama untuk dijajah Belanda dan Jepang. Juga punya kesempatan
yang sama untuk mengusir penjajah Belanda dan Jepang.

Tapi mengapa setelah Belanda dan Jepang terusir dari Indonesia ini,
247 suku bangsa tersebut tidak puya kesempatan yang sama untuk
jadi Presiden...? Mengapa...! Mengapa...! Mengapa...! itu saja.

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Mengapa...! Mengapa...! Mengapa...! mana la aku tau itu,
Mengapa...! Mengapa...! Mengapa...!. Selanjutnya sian dari
suku Suku Melayu, Melayu manapun jadilah.

Suku Melayu :

Salam hormat untuk kalian Suku Jawa, "Sesungguhnyalah tidak
bijaksana, tapi mungkin bijak sini, cara kalian itu agar yang
menjadi Preseden Suku kalian sendiri. Padahal sama-sama kita
ketahui, bahwa di sila Pancasila itu ada namanya, "Kebijaksanaan
perwakilan permusyawaratan". Dan sungguh tidak bijaksana jika
kalian terus yang jadi Presiden, apalagi sampai 1000 tahun
ke depan.

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Oke...! Suku Melayu, terimaksih atas peyampaian isi hatinya.
Selanjutnya Banten dan sekitarnya...!

* Suku Banten :

Berapa memang biayanya mau jadi Presiden, biar kami bayar...?
300 triliun...! Ada yang berani janji...! 700 kami bayar.
Tidak setuju suku Jawa terus jadi Presiden.

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Alamag..! Orang banten ini, mau diatur orang itu negara ini
pakai hepeng...! Hebat..hebat...hebat...! Lanjut wong kito
galoh...!

* Suku Palembang :

Kaliankan tahu, kami suku Palembang ini agak dekat dengan Suku
Jawa, gaya kamipun dalam beberapa hal sama dengan orang Jawa.
Begitupun kami tetaplah Suku Palembang bukan suku Jawa.
Karena itu kurang setuju juga jika Suku Jawa terus-terusan
yang jadi Presiden RI. Harus diadakan perombakan...!

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Ammangale...! Suku PLembang ini, minta perombakan. Okelah...!
Salanjutna sian Suku Sunda :

* Suku Sunda :

Bagaimanalaya...! Suku Jawa ini memang siabangan kaminya ini.
Kalau mereka diprotes, entar dia bilang pula kami tak tahu
diri. Begitupun kami mengikut sajalah pada pernyataan Suku
Melayu itu.

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

O...begitunya...! Suku Dayak kalimantan. Silahkan...!

* Suku Dayak :

Sudah saya beritahu pada suku saya agar mereka belajar dengan
rajin, kelak udah pintar dan tahu politik maka bentuklah Partai
yang besar hingga suku kita bisa jadi Presiden, tapi mereka
tidakterlalu mendengar. Tapi ya sudahlah...!

Begitupun...kalau tidak salahnya diaturan main. Gantian dulula
jadi Presiden. Coba dulu dari suku kami, siapa tahu sepak terjang
kami lebih hebat dari suku lainnya.

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Ya pesan diterima dan akan dipertimbangkan. Suku berikutnya
dari NTT. Silahkan...!

Flores :

Saya tak banyak bicara. Suku apapun yang jadi Presiden tolong
daerah kami diperhatikan.

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Lanjut ke Madura...!

* Suku Madura :

Alhamdulillah...! Jangankan kami jadi Presiden. Sate madura aja bisa
masuk Istana sudah senang hati kami, karena ketatnya persaingan
sate akhir-akhir ini masuk istana. Tentu senang dan gembira pula
jika Suku Madura ada yang jadi Presiden masa-masa yang akan datang.
Botima...!

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Sate..! sate...! Lanjut ke suku di Sulawesi :

* Toraja

Takut kali...kali suku-suku di Nusatara ini, kalau suku kami yang jadi
Presiden karena kami kadang suka buat pesta dengan cara berutang.
Tentu tidak seperti itu kalau suku kami yang jadi Prersiden,
"Tidak akan kami buat negara banyak utang". "Kurang setuju jugalah
jika terus-terusan suku Jawa yang jadi Presiden".

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Suku Ambon...! sampaikan sesuatu...!

* Ambon :

Mungkin suku-suku di Nusantara ini mengira, kami hanya taunya
menyanyi. Sesungguhnya tidak, kami juga bisa memimpin, asal
ada kesempatanlah. Semoga kesempatan itu ada untuk masa-masa
mendatang. Tidak setuju jika Suku Jawa terus yang jadi orang
nomor 1 di negara ini, suku kami mau bikin nomor berapa...?

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Terakhir...! dari Ujung Nusantara, Irian Jaya atau Jaya Pura
silahkan...!

Irianjaya :

No comment...! Suku apapun yang memerintah di Negara ini, mohon
daerah kami diperhatikan. Jika suku kami tidak diperhatikan
mohon diberi kesempatan untuk menjadi Presiden. Bila perlu di
tahun 2014 ini langsung, "Lebih cepat lebih baik".

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Oke...Terimakasih semua atas, pendapat, saran atau kritik yang
telah diberikan. Semoga hal ini menjadi perhatian Pemerintah
RI pada masa-masa mendatang.

Acara selajutnya, saya serahkan ke moderator 3 Toga Siregar.
Beliau ini adalah moderator handal tanah batak yang dapat
meyelesaikan macam pertikaian, sengketa ataupun silang
pendapat di antara raja-raja tanah batak. Darinya telah
diturunkan prinsif-prinsif dasar parsiregaron yang disebut
dengan, "Siregar partangga sabolas". Dan jika prisif ini
dijalankan oleh para pemimpin bangsa ini, niscaya kedamaian
akan ter5cipta di Nusantara ini dan juga kehebatan Nusantara
ini akan sangat dipertimbangkan oleh dunia.

Pada Toga Siregar dipersilahkan...!
_____________________________________________________________

3. Jawaban suku Jawa pada macam pesan-pesan dari 247 
    suku Nusatara yang diwakili Presiden RI, yaitu pak SBY
_____________________________________________________________

Moderator 3 Toga Siregar :

Sinanggar tullo...tullo...aaaa...tulllo O..oooh....
Sinanggar tullo...tullo...aaaa...tulllo O..oooh....
Sinanggar tullo...tullo...aaaa...tulllo O..oooh....
Sinanggar tullo...tullo...aaaa...tulllo O..oooh....

Amangoe...!

Taridem.....idem...idem..idem
Taridem.....idem...idem..idem
Taridem.....idem...idem..idem
Taridem.....idem...idem..idem

Butet....tttt...dipangusian do.... ayamu ale bute...tttt
namargurilla damar darurat ale butet....
namargurilla damar darurat ale butet....tttt...

Horas...horas...horas...!
Merdeka...!

Kepada bapak Presiden Republik Indonesia dipersilahkan
memberikan tanggapannya...!

Presiden Republik Indonesia :

Horas...horas...horas....!
Assalamu'alaikumwarahmatuillahiwabarakatuh...!
Waalaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh...!

Horas...horas...horas....!




















Sengko...sengko da inang...
Sengko...sengko da inang...
Sengko...sengko da inang...
Sengko...inang sengko...sengko...

Tri...lala...tri...lala...
si rege...rege tumba...
si rege...rege tumba...
inang sengko...sengko...

Para saudara sekalian...!
senang dapat mengikuti pertemuan 247 suku bangsa Indonesia
ini, dan lebih senang lagi, ternyata pertemuan ini hanya
menghabiskan biaya Rp. 2.500,- Ini berarti APBN kita tetap
aman di tempat.

Saudara sekalian...!

Menanggapi pernyataan dari Suku Aceh, batak, madura,  toraja
ambon, irian jaya dll atas "ketidak setujuanya agar Suku Jawa
tidak menjadi suku yang terus-menerus jadi Presiden di negara
ini, sesungguhnya saya juga setuju...!

Moderator 3 Toga Siregar :

Martopap bo hamu...! Tepuk tanganlah kalian...!












Presiden Republik Indonesia :

Tetapi...!

Moderator 3 Toga Siregar :

Tak usah tepuk tangan lagi kalian, pake tetapinya bapak itu.

Presiden Republik Indonesia :

Tetapi...! Tapi kalau Suku Jawa terus yang terpilih bagaimana
mau dibilang...!

Suku Padang :

Dibilang saja pak SBY, agar mereka tidak usah ikut mencalonkan
diri jadi Presiden...!

Presiden Republik Indonesia :

Tidak bisa begitu...! Anda... perwakilan suku Padang, "Sudahkah
anda tau syarat-syarat jadi Presiden Republik Indonesia...?"

Suku Padang :

Sudah Pak, ini syaratnya biar saya bacakan :

Syarat Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia menurut
UU No 42 tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
sebagai berikut:

1. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Warga Negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah
   menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri

3. Tidak pernah mengkhianati negara, serta tidak pernah melakukan
   tindak pidana korupsi dan tindak pidana berat lainnya

4. Mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan
   kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden

5. Bertempat tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

6. Telah melaporkan kekayaannya kepada instansi yang berwenang
   memeriksa laporan kekayaan penyelenggara negara

7. Tidak sedang memiliki tanggungan utang secara perseorangan dan/
   atau secara badan hukum yang menjadi tanggung jawabnya yang
   merugikan keuangan negara

8. Tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan

9. Tidak pernah melakukan perbuatan tercela

10. Terdaftar sebagai Pemilih

11. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan telah melaksanakan
    kewajiban membayar pajak selama 5 tahun terakhir yang dibuktikan
    dengan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak
    Orang / Pribadi

12. Belum pernah menjabat sebagai Presiden atau Wakil Presiden selama
    2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama

13. Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar
    Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita Proklamasi
    17 Agustus 1945

14. Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan
    yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak
    pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih

15  Berusia sekurang-kurangnya 35 (tiga puluh lima) tahun

16. Berpendidikan paling rendah tamat Sekolah Menengah Atas (SMA),
    Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah
    Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat

17. Bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia,
    termasuk organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat
    langsung dalam G.30.S/PKI

18. Memiliki visi, misi, dan program dalam melaksanakan pemerintahan
    negara Republik Indonesia

Presiden Republik Indonesia :

Dengan demikiam jelas para saudara-saudara sekalian, "Dalam persyaratan
jadi Presiden RI yang telah kita setujui bersama tidak ada "Masalah
kesukuan" dibicarakan. Ini artinya, "Dari suku apapun tetap boleh jadi
Presiden selagi memenuhi persyaratan tersebut.

Suku Palembang :

Ya...! Benar itu pak. Dan untuk menjadi Presiden itu  tidak pula kita
datang langsung ke Istana dan berkata, "Wei...! anak buah kepresidenan,
angkat kalian dulu saya ke dalam saya mau jadi presiden. Ngak seperti
itu kan pak SBY...!

Tapi pak, kalau menurut saya semua itu bisa diatur, "Negara-negara kita,
suka-suka kitalah. buktinya UU bisa kita buat, tapi bisa juga kita
langgar, bila perlu kita ganti atau kita buang".

Berarti jadi Presiden juga begitu...!

Kita bikin saja UU Penyenang Hati, "Kita tetapkan pergantian Presiden
setiap tahun. Setiap pergantian kita ganti pula sukunya yang memimpin.
Berartikan selama 247 tahun semua suku-suku di Nusantara ini pernah
jadi Presiden.

Suku Dayak :

Kelamaan itu suku Palembang, saya uda mati duluan kalau begitu.
Bagusnya langsung aja 247 suku tersebut jadi Presiden. Kan hebat
negara kita ini 247 Presidennya.

Moderator 3 Toga Siregar :

Wei...! Ngomong apa kalian suku Palembang dan suku Dayak, sudah
marappalan (tak terarah) itu ku dengar. Kayak ngak tau aja kalian
tugas dan wewenang Presiden...!

Suku Madura :

Tau saya, ini tugas dan wewnang Presiden. Degar kalian biar saya
baca...!

Wewenang, kewajiban, dan hak Presiden antara lain:

1. Memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD

2. Memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat,
   Angkatan Laut, dan Angkatan Udara

3. Mengajukan Rancangan Undang-Undang kepada Dewan Perwakilan
   Rakyat (DPR). Presiden melakukan pembahasan dan pemberian
   persetujuan atas RUU bersama DPR serta mengesahkan RUU
   menjadi UU.

4. Menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
   (dalam kegentingan yang memaksa)

5. Menetapkan Peraturan Pemerintah

6. Mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri

7. Menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan
   negara lain dengan persetujuan DPR

8. Membuat perjanjian internasional lainnya dengan persetujuan DPR

9. Menyatakan keadaan bahaya. Mengangkat duta dan konsul. Dalam
   mengangkat duta, Presiden memperhatikan pertimbangan DPR

10. Menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan
    pertimbangan DPR.

11. Memberi grasi, rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan
    Mahkamah Agung

12. Memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR

13. Memberi gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan lainnya yang
    diatur dengan UU

14. Meresmikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang dipilih oleh
    DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah

15. Menetapkan hakim agung dari calon yang diusulkan oleh Komisi
    Yudisial dan disetujui DPR

16. Menetapkan hakim konstitusi dari calon yang diusulkan Presiden,
    DPR, dan Mahkamah Agung

17. Mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan
    persetujuan DPR.

Suku Sunda :

Kalau kita memperhatikan wewenang tersebut, berartikan Presiden
bisa saja mengeluarkan peraturan pemerintah yang intinya, "Menetapkan
keputusan agar Suku Jawa misalnya dilarang mencalonnkan diri jadi
Presiden dengan mempertimbangkan keadaan pada masa lampau yang mana
memang dari suku jawa tersebut jadi Presiden".

Dan jangankan untuk mengeluarkan peraturan pemerintah, UU yang telah
ditetapkan DPR MPR pun bisa digantinya, termasuk menyatakan porang.
Karena ngak maunya pak Presiden menyatakan perang aja kita sama
orang Malaysia. Kalau pak SBY bilang porang, maka porang jadinya...!

Presiden Republik Indonesia :




















Stop...! Apa yang dibilang oleh suku Sunda, Dayak dan Madura itu
benar. Presiden memang punya kekuasaan yang banyak dan luar biasa.
Tetapi semua itu ada dalam catatan, "Jika sesuatu itu dalam keadaan
Darurat". Apakah negara kita ini sedang dalam keadaan darurat...?
Jawab kalian dulu suku batak...!

Suku batak :

Tidak pak...! Masih makannya kami. Cuma akhir-akhir ini terpaksa
dikurangi dari 3 kali sehari jadi 2 kali noma. Maklumlah pak
sawah-sawah ditempat kami sudah banyak dibikin jadi parlasiakan,
parkaretan dan parkopian. Lama-lama kami ini suku batak sudah
ngak makan lagi pak, "Mangopi ajapun bagi kapi sudah cukup".

Presiden Republik Indonesia :

Bagus itu kalau begitu, kalau bisanya kalian konyang dibuat
kopi untuk apa kalian makan nasi...! Nongkrong ajala kalian di
kode kopi sana, nyanyi-nyanyi kalian, nanti kalau ada koran baru
kalian baca, klian proteslah, kalian bahas, "Bagaimana kalian mau
jadi Presiden kalau begitu kaya kalian".

Moderator 3 Toga Siregar :

Pak SBY...! Mohon kembali ke topik semula pak...!

Rasa-rasanya semua yang saya bilang itu sudah cukup jelas, tapi
kalau masih merasa kurang jelas, ini intinya :

1. Soekarno, Gusdur, megawati, saya  dll pada intinya bukanlah
   permintaan mereka untuk lahir menjadi Suku Jawa. Semuanya itu
   adalah rahasia Tuhan, ketika kami-kami ini telah besar dan belajar
   tentang suku, ternyata kami ini adalah Suku Jawa.

   Sekarang ini saya tidak ingin jadi Suku Jawa, "Bisakah kalian
   membuat saya menjadi tidak suku jawa agar kalian tidak protes
   bahwa suku jawa terus yang jadi Presiden...? (Diam semua...!)

2. Syarat-syarat jadi Presiden RI bukan saya yang membuatnya, tapi
   DPR MPR. Dan DPR MPR membuat syarat-syarat tersebut bukan pula
   atas kehendak mereka sendiri, tapi karena diamanatkan UUD 45
   sebagai dasar negara kita.

   Merobah syarat-syarat tersebut dengan memasukkan nama suku di
   dalamnya berarti kita telah merobah UU tersebut yang sekaligus
   telah merobah pula dasar negara kita itu.

3. Jika saja...!, sekali lagi jika saja, "Suku Batak yang kita buat
   jadi Presiden untuk periode mendatang dengan mengeluarkan UU
   misalnya, "Calon Presiden dari partai politik apapun yang
   terpilih jadi Presiden di 2014 ini, maka beliau akan digantikan
   oleh seorang utusan Suku Batak untuk menjadi Presiden".

   Dapatkah kalian memastikan suku lain tidak keberatan, partai
   politik lainnya juga tidak keberatan, negara kita tetap dalam
   keadaan aman dan damai, seperti sekarang ini...? (Diam semua...!)

5. Saudara-saudara sekalian...!
   Sungguh sudah bagus UUD 45 itu, bagus pula Pancasila itu dan
   bagus pula syarat-syarat menjadi Presiden Republik Indonesia
   itu.

   "Saya tidak bisa bayangkan apa jadinya negara kita ini, jika
   dalam syarat-syarat jadi presiden tersebut dimasukkan nama
   suku, mungkin di negara kita ini tidak akan habis-habis perang
   suku karena suku kita semua ingin jadi Presiden.

   Para saudara sekalian...!

   Para pendahulu kita, para pahlawan kita yang rela mati demi
   tegaknya negara Republik Indonesia dengan dasar Pansasila
   dan UUD 45, bukanlah orang-orang biasa saudara sekalian.

   Mereka adalah orang-orang pintar, orang-orang brilian yang
   bukan saja mampu mebaca situasi pada masa lampau juga dapat
   membaca situasi pada masa sekarang.

   Masih ingat pesan Soekarno kan...!



 














   Mereka juga tahu, akan ada suatu masa dimana masyarakat
   Indonesia akan sangat membangga-banggakan sukunya, apakah
   karena merasa pintarnya, karena merasa budayanya lengkap,
   karena merasa persenjataannya ampuh dan lain-lain. Karena
   itu para opendahulu kitapun tidak membeda-bedakannya.

Mereka tak pernah mengatakan, bahwa suku Ambon lebih hebat
dari suku batak, suku Jawa lebih hebat dari suku Padang
atau suku Irian Jaya lebih hebat dari suku Sunda. Mereka
selalu menyerukan, "Sutu nusa satu bangsa, satu bahasa kita".

Tapi bagaimana sekarang...!

Ternyata kita tak memperdulikan seruan mereka itu, kita telah
kembali memasukkan egoisme pada suku kita masing-masing dan
kita telah memulai perang antar suku itu. Iyakan...!
(Diam semua...!)



































Saudara-saudara sekalian...!

Kalian salah dalam mengartikan reformasi, kalian mengira
reformasi bebas sebebas-bebasnya, berbuat semau gua, merusak
disana merusak disini, demo disana demo disini. Menyampaikan
isi hati tidak pakai hati, menyampaikan isi pikiran tidak pakai
pikiran. Mau jadi apa negara kita ini...! (Diam semua...!)

Saudara-saudara sekalian...!

Jika saja keberanian kalian sekarang ini ditandingkan dengan
pejuan-pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, seperti dengan
Sisingamangaraja, beranikah kalian orang batak melawan Sisinga
mangaraja, melawan Sahala Muda Pakpahan, raja Goda Siregar.
Saya yakin, tak satupun diantara kalian yang berani. Berani...!
biar saya bangkitkan...! (Diam semua ...!)

Kalian orang Padang, orang Kalimantan...! Jika saja pada saat
sekarang ini ada 7 orang jepang dihadapanmu dengan pakaian
lengkap militernya berikut senapangnya, beranikah kalian
melawannya pake bambu runcing...! Matila kau dibuat orang
Jepang itu kalau kau lawan.

Teringat mengenai "Kesukuan Kepresidenan", tidakkah kalian
mengerti, bahwa sebenarnya suku kalian semua juga telah
terwakili di Istana, "Kalian beri saya gelar-gelar kesukuan,
marga kalian dan segala macamnya.

Kalian orang batak misalnya, memberi saya marga Siregar.
Orang Toraja memberi saya gelar "Anakaji to Appamonang Ri Luwu".
Orang banjar menggelar saya "Tutuha Banua Nang Batuah"
Orang Melayu menggelar saya "Masih dirahasiakan". 
Begitu juga suku-suku lainnya di Nusantara ini.

Tahukah kalian apa artinya semua itu. Apa kalian kira saya
manusia yang gila gelar...! Di kami orang Jawa juga banyak
gelar...! Biar tau kalian...! Panglima TNI ingin memberi
saya gelar, "Jenderal Besar" tapi saya tolak. Mengapa...?
(Diam semua...!)

Para saudara sekalian...!

Saya sadar betul gelar-gelar kesukuan yang kalian berikan itu
"Sungguh sangat berharga", Bahkan kalian rela mati demi gelar 
itu". Karena itu, "Sungguh tidak etis bagi saya jika menolaknya,
meskipun saya tahu dan sadar dibalik gelar itu ada sesuatu
yang harus dipertanggungjawabkan yang bukan saja pada suku yang
memberikannya juga pada Tuhan Yang Maha Esa...!

Juga saya sadar betul, "Pemberian gelar-gelar kesukuan itu
merupakan simbolis, bahwa suku kalian telah terwakili di
istana kepresidenan Republik Indonesia". 

Karena itu pula...!

"Masihkah pantas kalian 247 suku di Nusantara ini mempersoalkan
kesukuan kepresidenan...? Jawab kalian dulu...!

Suku Batak :

Wei orang Toraja...! Jawab pertanyaan pak Presiden itu...?

Suku Toraja :

Orang Padang ajala menjawabnya...!

Orang Padang :

Ambon ajalah...ambon...ambon...jawab Ambon...!

Suku Ambon :

Hehe..."ngak pantas pak...!".

Presiden Republik Indonesia :

Untuk anda yang memberi nama, "Namuku Roy". Masihkah anda merasa
kecewa atas terpilihnya suku Jawa jadi Presiden RI pada masa
lampau...? Sudahkah anda puas dengan jawaban saya...?

Namaku Roy :
......................???

Moderator 3 Toga Siregar :

Pak SBY...! Udah kelamaan ceramahnya itu. Udah siang ini,
entar mau makan lagi...!

Presiden Republik Indonesia :

Hah...! inila kalian masyarakat Indonesia ini,
taunya makan aja...!

Kerja keras tingkatkan...!
Disiplin tegakkan...!
Bantu yang lemah...!
Egoisme hilangkan...!
Kerjasama dalam semua urusan...!
Jangan saling cemburu...!
Hilangkan iri dengki...!
Saling menyayangi antar suku...!

"Begitunya kalau mau maju" biar tau kalian...!
(Diam semua...!)

Moderator 3 Toga Siregar :

Udala itu pak SBY...! Uda lapar ini...!

Presiden Republik Indonesia :

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air...!

Begini sajala ya...!

Di tahun 2014 ini negara kita ini memang akan mengadakan
pesta demograsi atau Pemilihan Umum untuk yang kesekian kalinya.
Menurut UU kita, sayapun sudah tak bisa ikut lagi. Sudah tak
bisa lagi saya jadi Presiden, dan sayapun patuh sama peraturan
yang kita sepakati bersama.

Jika kalian mau memilih kreteria calon presiden berdasarkan
kesukuan, sayapun tak bisa melarang, karena itu adalah hak
demograsi kalian, "Bebas memilih dan rahasia".

Begitupun saya berharap....! Berharap sangat...!. Sangat berharap
agar kita semua masyarakat Indonesia yang terdiri dari 247 suku ini,
saling menghargai antara suku dan saling menghormati.

"Jangan kiranya issu kesukuan pada Pemelihan Presiden 2014 ini di
besar-besarkan, baik oleh kelompok tertentu maupun oleh media
cetak atau elektronik". Sadarlah kita "Belum semua masyarakat kita
ini paham betul bagaimana pemerintahan demograsi itu dijalankan".
Begitu mudahnya mereka dikendalika oleh pihak-pihak tertetu yang
mungkin saja punya kepentingan tertentu pula.

Kita hidup ditanah yang sama, dilangit yang sama dan di negara
yang sama, karena itu sudah sepantasnya pula yang berat di negara
ini kita pikul bersama dan yang ringan kita jingjing bersama,
bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

"Mari sama kita sukseskan Pemilihan Umum 2014 ini. Kita
jaga persatuan dan kesatuan" botima anggia...!
Horas...horas...horas...!

Wassalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh...!
Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh...!

Moderator 3 Toga Siregar :

Demikianla anggia para perwakilan suku-suku di Nusantara jawaban
Suku Jawa yang diwakili oleh pak SBY. Semoga anda puas...!

Acara kita selanjutnya adalah penutupan acara, yang mana dalam
acara ini di isi dengan penutupan acara dari penutup acara hingga
acara selesai pada penutupan acara, begitula acaranya.
Mengerti kalian...?

Moderator 2 Baginda Habiaran Siregar :

Ngak mengeri kami...! Udala, ditutup aja biar makan kita...!
__________

Penutup 
__________































Yah...!

Demikianlah pertemuan acaranya para pembaca angkolafacebook.
blogspot.com. Dan pak SBY-pun makan-makan sambil menikmati
pemandangan "Danau Toba". bersama Gubernur Sumatra Utara dan
para moderator handal tanah batak.

Sementara 247 perwakilan suku bangsa lainnya sambil bersalam-
salaman berkata puas atas pertemuan ini, "Dalam hati mereka
tersimpan suatu kesimpulan, bahwa tidak terlalu pantas, pun
tidak ada alasan yang kuat untuk mempersoalkan kesukuan dalam
kepresidenan (Tujuan diskusi tercapai)".

Mereka seolah sadar bahwa kesukuan itu tak obahnya seperti
cinta, "Dia adalah anugrah Tuhan" Anugrah yang kalau kita
pelihara dengan baik akan menghasilkan "Rasa sayang".

Dan rasa sayang ini mengingatkan mereka pada salah satu firman
Allah swt yang mengatakan :












Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-
bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal
(Al-Hujurat 13)

Damailah Indonesiaku, sejahteralah nusantaraku bersama 247
suku bangsa yang menyanyangimu :

"Selamat melaksanakan Pemilu Indonesia 2014".

....dan...dan...dan...

Pemilihan umum telah memanggil kita
seluruh rakyat menyambut gembira
.................................

) )
______________________________________________________________________
Cat :

PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar