Selasa, 10 Juni 2014

Suku Palembang dan Batak Angkola :


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar suku Palembang dalam hubungannya dengan
Pemerintahan, budaya atau adat, agama, dll sebagai landasan atau
dasar untuk mengetahui perbedaan bahasa Palembang dan Batak Angkola)
____________________________________________________________












_________________

Kata Pengantar
_________________

Begini...!

Postingan ini pada intinya hanyalah dasar atau landasan penulis
untuk mengetahui "Apa dan Mengapa Bahasa Palembang tidak sama
dengan bahasa Batak Angkola...? Dan hal ini akan penulis ungkapkan
pada tulisan "Kamus Palembang dan Kamus Batak Angkola"
alamat link di :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2014/06/kamus-bahasa-palembang-dengan-bahasa.html

Pengetahuan mengenai suku Palembang ini, khususnya bagi "Halak Hita
sude " atau "Wong kito galo" tentu sangat penting mengingat suku
Batak jauh lebih banyak di Palembang daripada orang Palembang ada
di Medan atau Sumatra Utara.

Dengan pengetahuan ini...!

"Kiranya anda atau kawan atau saudara yang khususnya yang baru
tinggal di wilayah Palembang sekitarnya lebih dapat nian memahami, 
mengerti atau mengenal tentang apa dan bagaimana suku Palembang itu"

"Lain lubuk lain ikannya". atau "Lain karopuk lain rasona".
Demikian kata sebagian orang akan pentingnya pengenalan antar
suku-suku di Nusantara ini.

Sementara yang lain bilang...!

"Maka kenal maka sayang" katanya pula.

Selamat menyimak...!
______________________________________________________

Sekilas Palembang dalam hubunganny Wilayah dan Sejarah
_____________________________________________________


















Kota Palembang adalah ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Palembang merupakan
kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan. Kota Palembang memiliki
luas wilayah 358,55 km²[yang dihuni 1,7 juta orang dengan kepadatan
penduduk 4.800 per km². Kota ini akan diwacanakan akan menjadi ibukota
Indonesia. Diprediksikan pada tahun 2030 mendatang Kota ini akan
dihuni 2,5 Juta orang.

Sejarah Palembang yang pernah menjadi ibu kota kerajaan bahari Buddha terbesar
di Asia Tenggara pada saat itu, Kerajaan Sriwijaya, yang mendominasi
Nusantara dan Semenanjung Malaya pada abad ke-9 juga membuat kota ini
dikenal dengan julukan "Bumi Sriwijaya". Berdasarkan prasasti Kedukan Bukit
yang ditemukan di Bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang, yang
menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota pada
tanggal 16 Juni 682 Masehi, menjadikan kota Palembang sebagai kota tertua
di Indonesia. Di dunia Barat, kota Palembang juga dijuluki Venice of the East 
("Venesia dari Timur").





















Kota ini dianggap sebagai salah satu pusat dari kerajaan Sriwijaya,
Serangan Rajendra Chola dari Kerajaan Chola pada tahun 1025, menyebabkan 
kota ini hanya menjadi pelabuhan sederhana yang tidak berarti lagi bagi para 
pedagang asing. (Kata Angkola berasal dari Chola-pen)

Selanjutnya berdasarkan kronik Tiongkok nama Pa-lin-fong yang terdapat
pada buku Chu-fan-chi yang ditulis pada tahun 1178 oleh Chou-Ju-Kua dirujuk
kepada Palembang.

Berdasarkan kisah Kidung Pamacangah dan Babad Arya Tabanan disebutkan seorang
tokoh dari Kediri yang bernama Arya Damar sebagai bupati Palembang turut
serta menaklukan Bali bersama dengan Gajah Mada Mahapatih Majapahit pada
tahun 1343.

Kemudian sekitar tahun 1513, Tomé Pires seorang apoteker Portugis menyebutkan
Palembang,telah dipimpin oleh seorang patih yang ditunjuk dari Jawa yang
kemudian dirujuk kepada kesultanan Demak serta turut serta menyerang Malaka
yang waktu itu telah dikuasai oleh Portugis.

Palembang muncul sebagai kesultanan pada tahun 1659 dengan Sri Susuhunan 
Abdurrahman sebagai raja pertamanya. Namun pada tahun 1823 kesultanan
Palembang dihapus oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Setelah itu Palembang dibagi menjadi dua keresidenan besar dan pemukiman di
Palembang dibagi menjadi daerah Ilir dan Ulu.

Pada tanggal 27 September 2005, Kota Palembang telah dicanangkan oleh
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai "Kota Wisata Air" seperti
Bangkok di Thailand dan Phnom Penh di Kamboja. Tahun 2008 Kota Palembang
menyambut kunjungan wisata dengan nama "Visit Musi 2008".

Palembang baru saja menjadi salah satu kota pelaksana pesta olahraga
olahraga dua tahunan se-Asia Tenggara yaitu SEA Games XXVII Tahun 2011.
____________________________________________________

Sekilas Palembang dalam hubungannya dengan bahasa
_____________________________________________________

* Hal Tingkatan Bahasa

Bahasa Palembang mempunyai dua tingkatan, yaitu baso Pelembang
alus atau bebaso dan baso Pelembang sehari-hari. Baso Pelembang
alus dipergunakan dalam percakapan dengan pemuka masyarakat,
orang-orang tua, atau orang-orang yang dihormati, terutama dalam
upacara adat.

* Hal Persamaan bahasa

Bahasa ini berakar pada bahasa Jawa karena raja-raja Palembang
berasal dari Kerajaan Majapahit, Kerajaan Demak, dan Kerajaan Pajang.
Itulah sebabnya perbendaharaan kata Baso Pelembang Alus banyak
persamaannya dengan perbendaharaan kata dalam bahasa Jawa.

* Hal Bahasa Sehari-hari

Sementara itu, baso sehari-hari dipergunakan oleh wong Palembang
dan berakar pada bahasa Melayu. Dalam praktiknya sehari-hari,
orang Palembang biasanya mencampurkan bahasa ini dan bahasa
Indonesia (pemilihan kata berdasarkan kondisi dan koherensi)
sehingga penggunaan bahasa Palembang menjadi suatu seni tersendiri.

Bahasa Palembang memiliki kemiripan dengan bahasa daerah di
provinsi sekitarnya, seperti Jambi, Bengkulu bahkan provinsi
di Jawa (dengan intonasi berbeda).

Di Jambi dan Bengkulu, akhiran 'a' pada kosakata bahasa Indonesia
biasanya diubah menjadi 'o'.

* Hal Perbedaan bahasa diantara suku Melayu

Dalam kesehariannya, suku Palembang berbicara dalam bahasa Palembang.
Bahasa Palembang sendiri merupakan bagian atau varian dari bahasa
Melayu atau sering disebut sebagai bahasa Melayu Palembang.

Bahasa Palembang menggunakan dialek “o” pada akhir setiap kata. Inilah
yang membedakan bahasa Melayu Riau dan Melayu Malaysia dengan bahasa
Melayu Palembang. Adapun dialek bahasa Melayu Palembang ini memiliki
dua dialek bahasa, yaitu baso Palembang Alus dan baso Palembang Sari-Sari.

Cat :
Subjudul ini dikembangkan ke link :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2014/06/kamus-bahasa-palembang-dengan-bahasa.html
_________________________________________________________

Sekilas suku Palembang dalam hubungannya dengan Suku Melayu
_________________________________________________________




















Suku Melayu Palembang atau yang lebih dikenal dengan Suku Palembang
adalah salah satu suku Melayu yang terletak di wilayah Kota Palembang
dan sekitarnya.

Suku Palembang juga merupakan salah satu kelompok etnis terdekat dari 
Suku Komering. Suku Palembang di Palembang semakin lama semakin berkurang,
tetapi di Tepian Sungai Musi masih banyak ditemukan suku Palembang.

Suku Palembang bahasanya mirip dengan Bahasa Melayu Jambi dengan
Suku Melayu Bengkulu yang kata-katanya berakhiran dengan kata o.

Suku Melayu Palembang umumnya bermata pencaharian Sebagai Petani.
Suku Palembang juga tidak mendiami wilayah Kota Palembang saja,
tetapi juga mendiami wilayah Kabupaten Ogan Ilir (Seperti Kecamatan
Tanjung Raja, Kecamatan Pemulutan, dan Kecamatan Indralaya).
Dan wlayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (Seperti Kecamatan Kota
Kayu Agung, dan Kecamatan Jejawi).

Kebanyakan keturunan suku Palembang ini juga banyak menyebar di wilayah 
Bengkulu, dan Jambi. Suku Melayu Palembang banyak menganut Agama Islam,
sisanya beragama Buddha. Tetapi masih ada juga yang beragama animisme,
mereka juga hidup secara berdamping-dampingan dan damai.
__________________________________________________________

Sekilas suku Palembang dalam hubungannya dengan Kebudayaan 
__________________________________________________________



















Kalau bicara kota dengan pendapatan perkapita paling tinggi di Indonesia,
maka semua akan tertuju pada kota Palembang. Kota Palembang merupakan
salah satu kota di provinsi Sumatera Selatan sekaligus ibu kotanya.
Lokasinya di tepi Sungai Musi.

* Hal asal muasal

Beberapa kalangan berpendapat bahwa suku Palembang merupakan hasil
dari peleburan bangsa Arab, Cina, suku Jawa dan kelompok-kelompok
suku lainnya di Indonesia.

* Hal Pembagian Suku

Dari 12 juta penduduk kota Palembang, 40-50% adalah suku Palembang.
Suku Palembang dibagi dalam dua kelompok, yaitu Wong Jeroo dan Wong
Jabo. Wong Jeroo merupakan keturunan bangsawan/hartawan dan sedikit
lebih rendah dari orang-orang istana dari kerajaan zaman dulu yang
berpusat di Palembang. Sementara Wong Jabo adalah rakyat biasa.

* Hal Mata Pencaharian

Banyak orang Palembang banyak menjadi pegawai pemerintahan. Namun
ada pula yang berkeja sebagai pedagang di pasar, buruh, nelayan, guru,
atau sebagai pengrajin kerajinan tangan Luasnya ladang minyak di
Palembangn menjadi kekayaan tersendiri kota Palembang.

Tradisi yang telah mengakar dalam budaya suku Palembang dan telah
dijalankan selama beberapa abad sebagai pedagang, ialah sebagian
kecil pedagang menjajakan dagangannya di atas permukaan air sungai 
Musi dengan menggunakan perahu. 

Selain menjadi pedagang, orang Palembang juga banyak yang berhasil
menduduki sektor penting di pemerintahan Sumatera Selatan, dan juga
tidak sedikit yang berhasil di perantauan dalam segala bidang, termasuk
menjadi pejabat pemerintahan Indonesia dan beberapa sukses menjadi
artis, sedangkan yang lain juga banyak bekerja di sektor swasta dan
lain-lain.

* Hal tempat tinggal



















Banyak orang Palembang yang masih tinggal di rumah yang didirikan
di atas air. Rumah limas menjadi model arsitektur rumah khas
Palembang yang kebanyakan didirikan di atas panggung di atas air untuk
melindungi dari banjir.

* Hal aturan adat dalam keluarga























Suami atau ayah berfungsi sebagai pelindung rumah tangga dengan tugas
pokok mencari nafkah dalam sistem kekeluargaan suku Palembang.
Sedangkan istri bertanggung jawab menjaga ketertiban dan keharmonisan
rumah tangga.

Keberhasilan seorang istri ditentukan oleh ungkapan para suami yang
berkata “rumah tanggaku adalah surgaku”. Sebuah keluarga lebih
mengharapkan anak laki-laki dari pada anak perempuan. Para kakek-kakek
dari kedua belah pihak menganggap cucu lelaki sebagai jaminan dan bakal
negeri (memperkuat kekuatan mereka)

* Hal Agama




















Islam menjadi agama yang dianut sebagaina besar orang Palembang. Sondok
piyogo atau dalam bahasa Indonesia berarti “Adat dipangku, syari'at
dijunjung” merupakan semboyan yang dipegang teguh oleh suku Palembang.
Semboyan tersebut bermakna bahwa meskipun mereka sudah mengecap pendidikan
tinggi, mereka tetap mempertahankan adat kebiasaan suku Palembang.

* Hal Lapangan Kerja

Lapangan pekerjaan merupakan masalah sosial suku ...
pengangguran menjadi masalah bagi orang Palembang. Orang Palembang dikenal
sebagai orang yang sulit atau bahkan tidak mau melakukan pekerjaan kasar. 
Modernisasi merupakan momok bagi suku Palembang di mana kebudayaan
mereka akan mengalami perubahan hingga kemerosotan.
__________

Penutup
__________

Demikian info sajiannya para kawan...!

Dan ini video musik penutupnya untuk anda Halak Hita Sude Batak Angkola,
"Ayam Jago"  Judulnya  :



dan ini pempek-nya :

















Dan ini video musik penutupnya untuk anda Wong Kito Galoh ,
"Boru Lubis" Judulnya :



dan ini penutupnya :














Selamat malam...!
________________________________________________________________________
Cat :
http://adrian10fajri.wordpress.com/2012/08/09/hut-kota-palembang/



PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar