Monday, April 20, 2015

Masjid Pintu Saribu : Mematikan Diri Sebelum Mati (Hub. Tasawuf - Suluk)

#SELAMAT MALAM PARA KAUM MULIMIN MUSLIMAT#
(Menyimak info sekitar Masjid Pintu Saribu atau Masjid
Nurul Yakin khsusnya pada kegiatan Zikir di Ruang Masjid
Pintu Sribu tersebut = Mematikan Diri Sebelum Mati / Suluk)
* Tulisan ke - 1; Masjid Pintu Saribu
_____________________________________________________________














________________

Kata Pengantar
________________

Assalamu'alaikumwarahmatullahi wabarakatuh...!

Al kisah...!

Di hari Minggu tanngal 22 April 2015, niat yang selama ini belum
terlaksana atau terealisasi untuk berwisata religi ke Masjid
Pintu Saribu Tangerang, penulis laksanakanlah.
Dan Alhamdulillah....sampai juga di pas waktu
Sholat Zuhur :

Allahu Akbar...Allahu Akbar
Alla...aaa huAkbar...Allaaaa...huAkbar



Dan setelah selesai azan, penulis pun sholat untuk kemudian
melakukan Zikir sesaat :



Para kaum mulimin muslimat dimanapun berada...!

Yang maupenulis sampaikan lewat postingan ini adalah :

1. Masjid Pintu Saribu atau Masjid Nurul Yakin dalam hubungannya
   dengan tempat atau lokasi, interiornya pun mengenai macam
   gambaran kegiatannya

2. Masjid Pintu Saribu atau Masjid Nurul Yakin dalam hubungannya
   dengan "Mematikan Diri Sebelum Mati" dalam bentuk ilustrasi
   tanya jawab antara Rizki Fattah Siregar dengan Rahmat
   Parlindungan Siregar

Selamat menyimak...!
_____________________________________________________

Sekilas Masjid Pintu Saribu atau Masjid Nurul Yakin
_____________________________________________________

* Nama Masjid  :

Masjid Agung Nurul Yaqin = Masjid Pintu Saribu

* Lokasi :

Jl. Raya Bayur, Kampung Bayur Masjid, Kelurahan Bayur,
Periuk Jaya, Kota Tangerang.

Gambaran Peta Lokasi :







Ket :
Dari gambar ini ke arah kiri anda kurang lebih
2 Km lagi.





















Ket :
Setelah dari Pintu Air Cisadane di atas, anda akan sampai ke
suatu tempat yang masih termasuk lingkungan Masjid Pintu
Saribu yaitu "Masjid Nurul Yakin".

Disekitar tempat inilah biasanya para wisatawan religi memarkirkan
kenderannya atau istirahat sejenak, makan-makan atau ngopi-ngopi
sebelum ke lingkungan Masjid Pintu Saribu atau mungkin
Sholat dulu.

Dari samping Masjid ini ada jalan setapak menuju lingkungu
Masjid Pintu Saribu yang jaraknya kurang lebih 500 meter.












Ket :
Anda dinyatakan telah memasuki wilayah Masjid Pintu Saribu
jika telah melihat gambar di atas.








Ket :
Masjid ini ada diantara lingkungan rumah penduduk stempat
sehinga wisata anda-pun akan berbaur di luar dengan penduduk
setempat.

Berdiri :

Tahun 1978

Luas :

Seluas 1 hektar

ID Masjid :

Pendiri :

Almarhum Syekh al Bakhir mahdi,
yang meninggal pada 1 Ramadhan 2012 lalu.
Alamrhum Syekh al Bakhir Mahdi adalah salah satu santri dari
Syekh Hami Abas dari Rawa Bokor.

* Gelar Mahdi Hasan Al-Qudratillah Al Muqoddam. Al-Faqir

Warga sekitar pun untuk menghormatinya lantas memberikannya
gelar Mahdi Hasan Al-Qudratillah Al Muqoddam. Al-Faqir ini
kabarnya tidak membangun majis di Tangerang saja melainkan
juga membangun masjid serupa di Karawang, Madiun, dan beberapa
kota lain di Indonesia.

* Sejarah berdirinya :

Memulai pembangunan masjid itu dengan membuat Majelis Ta’lim
terlebih dahulu di daerah tersebut. Ia pun membangun masjid
ini dengan merogoh koncek kantongnya dari sendiri.

* Kelanjutan Kepengurusan

Selanjutnya, kepengurusan masjid berpintu seribu ini dilanjutkan
oleh keempat putra almarhum, yakni Khairul Zaman, Khainul Yakin,
Fatwa Paku Alam, dan  Khairullah.

* Hal Arsitekstur

~ Gambaran  Eksterior (Tampilan Luar)

1. Tampilan luar (Dingding) dari macam sudut Masjid



2. Kubah Luar

3. Dingding dan Pintu Masjid

4. Tempat Parkir

 ~ Gambaran Interior ~

1. Macam Photo bagian dari bagunan dalam Masjid

















Masjid ini memiliki banyak ruang yang mana untuk dapat masuk ke
ruang tersebut kita harus melewati beberapa lorong. Dan untuk
menghindari "salah Jalan", maka DKM masjid tersebutpun memberi
tanda penunjuk jalan.

2. Macam Photo di Lingkungan Pemakaman Masjid
    (Tempat umum berziarah)














3. Ruang Tasbih

Adalah ruang yang bisa dikatakan termasuk ruang bawah tanah dimana
kita ditempat ini dapat bertasbih atau beristiqomah.

4. Mushollah

Di ujung lorong ada beberapa ruang  bersekat-sekat hingga membentuk
ruangan seperti mushola. Setiap ruangan (mushola) yang luasnya
adalah sekitar 4X3 meter diberikan nama. Ada mushola Fathulqorib,
Tanbihul-Alqofilin, Durojatun Annasikin, Safinatu-Jannah, Fatimah
hingga mushola Ratu Ayu.

6. Tasbih ukuran Besar

Tasbih berukuran besar (1 butir tasbih kurang lebih sebesar bola/
dia meter 45 Cm) ada di masjid ini dan bertuliskan Asmaul Khusna.

* Hal Macam Kegiatan Masjid

1. Berziarah










Banten Hits.com, mengatakan :

Masjid pintu seribu atau masjid Nurul Yaqin yang terletak di
Kampung Bayur, Kelurahan Uwung Jaya, Kecamatan Jatiuwung,
Kota Tangerang, selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai
wilayah di Indonesia. Para peziarah terutama akan datang pada
saat hari-hari kebesaran Islam, atau saat menjelang bulan
Ramadan.

Seperti pantauan Banten Hits.com di lokasi pada Minggu (19/5/2013),
ratusan warga yang melakukan ziarah terlihat memadati masjid yang
terbilang unik ini.

Ratusan peziarah yang terlihat ini, pada umumnya berasal dari
Bandung, Kerawang, Jakarta. Selain itu, ada juga berbagai peziarah
dari Kalimantan dan Aceh.

H. Abdul Karim, salah seorang pengurus di masjid tersebut mengungkapkan,
kebanyakan para peziarah memilih untuk datang ke masjid Nurul Yaqin ini
pada saat hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Isra dan Miraj, juga
saat menjelang puasa Ramadan.

"Banyak juga para peziarah yang datang pas acara hari besar islam
untuk mengikuti acara tersebut," ungkapnya.

"Konon katanya dalam berjiarah kita tidak boleh menerangkan
cahaya sedikit pun. Jadi seolah-olah kita berada di dalam
kubur dengan keadaan gelap gulita," tuturnya.

2. Peringatan Isra Miraj

H. Abdul Karim menjelaskan, dalam acara hari besar yang akan digelar
Jum'at tanggal (31/5/2013) mendatang, pihaknya akan mengadakan
peringatan Isra Miraj yang akan digelar selama sembilan hari
berturut-turut.

"Dilaksanakan selama sembilan hari dengan berbagai macam acara,
salah satunya lomba marawis, mengaji, memberikan santunan, dan
kegiatan lainnya," jelasnya.
___________________________________________________

Ilustrasi Tanya Jawab antara Rizki Fattah Siregar dan Rahmat 
Parlindungan Siregar seputar Wisata Religi ke Masjid Pintu
Saribu - Tangerang dengan fokus pada istilah Mematikan
diri Sebelum Mati".
____________________________________________________









~ Hal Mematikan diri Sebelum Mati (Marsuluk) ~

Rizki Fattah Siregar :
Abang bilang, sebelum masuk ke ruang tasbih dan Zikir juga ruang
renungan dari Masjid Pintu Saribu ini, abang masih dalam keadan
hidup. Begitu abang ada di dalam ruang tasbih tersebut, abang
menjadi mati. Tapi kemudaian hidup lagi, setelah keluar dari
ruangan zikir dan tasbih tersebut.

Dipikiran saya, berarti abang melakukan suatu ajaran Islam yang
namnaya, "Mematikan Diri Sebelum Mati". Seperti yang banyak di
lakukan para oma-oma atau ina-ina di Tapsel Angkola ke wilayah
Bunga Bondar Sipirok dan mereka menyebutnya "Parsulukan".

Apakah yang seperti ini yang abang lakukan...?
Ceritakan duluba abang...!

Rahmat Parlindungan Siregar :
Tentang parsulukan yang kau maksud di Bunga Bondar Tapsel itu,
tak pala paham aku ba. Begitupun di tempat lainnya di wilayah
Tanah Batak Angkola sana.

Namun yang aku tahu, bahwa yang paling banyak melakukan suluk di
Tapsel atau Angkola, sepertinya para kaum ibunya. Sedangkan kaum
Bapak-nya jarang sekali.

Ini artinya, "Ada kecenderungan bahwa para kaum ibu atau ina-inalah
di tapsel sana yang lebih meyakini bahwa "Marsuluk" dapat lebih
meningkatkan keiman dan ketakwaan dibandingkan para kaum bapaknya.

Rizki Fattah Siregar :
Ngak...! Macam mananya abang ini, maksudku cerita marsuluk-nya
abangnya maksudku. Bunga cerita Parsulukan Bunga Bondar.

Rahmat Parlindungan Siregar :
O..oooo...! Jadi, ikutlah saya masuk kesuatu Ruangan bersama para
rombongan Wisata Religi dari Rangkas Bitung, seperti anda lihat
pada gambar di bawah ini :










Dari pintu diataslah tempat masuknya ke Ruangan Tasbih tersebut.
Karena ruangan ini cukup sempit dan yang masuk ada kaum ibu-ibu
dan Bapak-bapak maka masuk keruangan ini dibagi dua kelompok.

Setelah kelompok pertama ibu-ibu masuk dengan dibimbing oleh
para pengurus masjid-nya, maka masuk pulalah kaum bapak-bapak
yang di bimbing pula.

Baru dalam jarak 2 meter masuk ke dalam, tiba-tiba saja kita
sudah merasa seperti ada dalam kuburan yang gelap gulita.
Kepala kita tak dapat tegak karena terhalang tembok yang
menyerupai tanah ditas-nya, juga terbalang oleh ding-ding
tembok kiri kanan kita.

Seperti terlihat pada gambar di bawah ini (Gambar sebelum
masuk ruangan gelap gulita (Ruang kubur) :






















Karena pada saat masuk ada juga yang membawa Hp, maka di
senter/ diterangilah jalan masuk tersebut agar tidak tersesat
oleh sebagian orang.

Dan ternyata :

Dijalan masuk keruangan Tasbih ini, yang sedemikian gelap gulitanya
terdapat banyak pintu-pintu, hingga jika kita tidak merapat atau
berpengangan pada badan atau baju dari orang yang didepan kita,
kitapun bisa tersesat di jalan tersebut.

Dan untuk menghindari-nya sepertinya pihak pendiri masjid didengan
jalan yang gelap gulita tersebut menyediakan cahaya dari salah
satu pintu yang penulis tidak tahu dari mana sumber cahaya
tersebut. Ini cahaya yang penulis maksud setelah berjalan di
terowongan gelap gulita ini sekitar 10 minit dengan jumlah
tikungan yang tak penulis hitung (Sudah jalannya banyak pintu-
pintu, menikung-nikung pula-pen).

Singkat cerita sampai jugalah penulis, bersama rombongan dari
Rangkas bitung ini ke ruang Tasbih atau Zikir atau ruang renungan
tersebut.







Ket :
Ruangan Tasbih / Zikir

Rizki Fattah Siregar :
Terus abang...! Setelah sampai di ruang tasbih tersebut apa
selanjutnya...?

Rahmat Parlindungan Siregar :
Selanjutnya para kaum ibu dan Bapaknya ditempatkan pada ruang
atau tempatnya masing-masing. Dan untuk mengetahui posisi duduk
masing-masing maka diberikanlah sama pihak pengelola masjid
cahaya seperlunya.

Dan setelah semuanya duduk, maka acara tasbih /zikir pun di
mulai sama pembawa acaranya. Cahaya yang sebelumnya ada di
tiadakan kembali, hingga keadannyapun kembali gelap, sama
sekali tak ada cahaya sedikitpun.

"Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh..." demikian acar di
mulai Kiki untuk kemudian dikasih ceramah tentang manfaat dan
kegunaan dari acara ini dalam hubungannya dengan kematian.

Macam perbandingan keadaan dunia dan akhiratpun disampaikan.
Beberapa Firman dan Hadits-pun disampikan. Hingga tak heran
suasana tersebut membuat para jemaah yang mengikuti renungan
ini menjadi menangis / tangis terisak-isak dalam kegelapan
ruangan. Karena suasananya sedemikian sunyi pula, maka tangis
itupun cukup terdengar. Tak terkecuali penulis. Ikut juga
dalam tangis ini. Karena memang tak dapat di bendung.

Setelah selesai acara dilaksanakan maka, para jemaah-pun
keluar dan beberap orang diantanya banyak yang menghapus
air matanya.

~ Hal Air Mata Renungan Tasbih / Zikir ~

Rizki Fattah Siregar :
Apa yang ingin abang sampaikan dengan air matanya para kaum ibu
atau kaum bapak yang mengikuti renungan ini...?

Rahmat Parlindungan Siregar :
Saya pikir, "Air mata setiap orang sangat pribadi sifatnya dan
umumnya akan keluar ketika suatu keadaan atau situasi sangat
menyentuh perasaan"

Karena keadaannya sedemikian rupa, maka penulis menafsir air
mata tersebut artinya :

- Ada niat bagi setiap orang untuk lebih meningkatkan keimannya
  atau ketaqwaannya pada Allah Swt.

- Kematian bisa jadi menjadi sesuatu yang menakutkan atau sesuatu
  yang tidak ditakuti sangat bepengaruh pada keimanan dan
  tetaqwaan orang yang bersangkutan.

Begitupun...!

Air mata hanyalah saatu petunjuk yang dapat merobah prilaku kepada
hal yang lebih baik. Dan perobahan itu sendiri sangat tergantung pada
banyak faktor dalam diri manusia

~ Hal Suluk / Marsuluk ~

Rizki Fattah Siregar :
Bagaimana menurut abang, "Apakah acara Tasbih atau Zikir atau renungan
yang dilaksanakan pihak pengelola Masjid Pintu Saribu ini merupakan
bagian dari Ilmu Islam yang namanya "Ilmu Suluk...?" atau "Ilmu
mematikan diri sebelum mati".

Rahmat Parlindungan Siregar :
Istilak "Suluk" anggia, bersal dari terminologi Al-Qur'an, Fasluki.
Dalam Surat An-Nahl [16] ayat 69 disebutkan :

Fasluki subula rabbiki zululan, yang artinya Dan tempuhlah
jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Seseorang yang
menempuh jalan suluk disebut salik.

Karena itu...!

Suluk secara harfiah berarti menempuh (jalan). Dalam kaitannya dengan agama
Islam dan sufisme, kata suluk berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju
Allah.

Menempuh jalan suluk (bersuluk) mencakup sebuah disiplin seumur hidup
dalam melaksanakan aturan-aturan eksoteris agama Islam (syariat) sekaligus
aturan-aturan esoteris agama Islam (hakikat).

Ber-suluk juga mencakup hasrat untuk :

1. Mengenal Diri,
2. Memahami Esensi Kehidupan,
3. Pencarian Tuhan, dan
4. Pencarian Kebenaran Sejati (ilahiyyah),

Melalui...!

Penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syariat lahiriah sekaligus
syariat batiniah demi mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan.

...dan...

Kata suluk dan salik biasanya berhubungan dengan tasawuf, tarekat dan sufisme.

Karena itu pula...!

Penyediaan ruangan Tasbih atau Zikir atau ruangan perenungan diri yang
ada di Masjid Pintu Saribu adalah bagian dari penerapan Ilmu Suluk
dalam agama Islam dan merupakan salah satu cabang dari Ilmu Tasawuf.

Rizki Fattah Siregar :
Bagiman sebenarnya tahapan pelaksanaan Tawuf ini bang...?

Rahmat Parlindungan Siregar :
Dalam ilmu Tasawwuf ada istilah ‘al-Maqamat’ atau tahapan /
tingkatan yang akan dilalui oleh seseorang untuk mencapai
‘makrifat’ atau mengenal Allah. Perjalanan panjang menuju
tujuan tersebut disebut dengan ‘suluk’.

Maqamat tersebut menurut al-Ghazali adalah:

Taubat → Sabar → Fakir → Zuhud → Tawakkal → Mahabbah (cinta) →
Makrifat → Ridla.

Sedangkan menurut ath-Thusi adalah:

Taubat → Wara’ (menjauhi syubhat dab haram) → Zuhud → Fakir →
Sabar → Ridla → Tawakkal → Makrifat.

Jenjang Tasawuf menurut al-Kalabadzi adalah:

Taubat → Zuhud → Sabar → Fakir → Tawadlu’ →Takwa → Tawakkal → Ridla →
Mahabbah (cinta) → Makrifat.

Dan dalam metode Syaikh al-Qusyairi adalah: 

Taubat → Wara’ → Zuhud →Tawakkal → Ridla.

- Hal Penulisan Angka 999 di Masjid Pintu Saribu














Rizki Fattah Siregar :
Bagimana dengan angka "999" yang ada di Masjid Pintu Saribu ini
bang. Apa maksud...? Ada ngak hubungannya dengan Zikir yang
99 itu, dengan ashmaul Husnah atau dengan lainnya.

Rahmat Parlindungan Siregar :
Angka ini menurut pengurus masjid, merupakan penggabungan jumlah nama
Allah dan nama sembilan wali (wali songo).

Ini gambarannya biar jelas :





















Fatah Siregar :
Apa hubungan angka 999 ini dengan masjid Pintu Saibu ini
abangda...?

Rahmat Parlindungan Siregar :
Karena guna dan fungsi Masjid ini, selain sebagai tempat Sholat
juga sebagai tempat pendalam Ilu-Ilmu Tasawuf. Dan Tasawuf ini
jelas dengan para wali

Rasulullah Saw bersabda :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ (البخارى 6502)
“Sesungguhnya Allah berfirman (Hadis Qudsi) : Barangsiapa yang
memusuhi seorang wali maka Aku mengizinkan berperang. Tidak ada
yang seorang hamba yang mendekatkan diri kepadaKu yang lebih Aku
cintai daripada hal-hal yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan
hambaku tiada berhenti mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah
sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku
menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangan yang dipukulnya,
langkah kakinya. dan jika ia meminta maka sunggu Aku kabulkan,
dan jika ia berlindung kepadaKu, niscaya Aku lindungi”
(HR al-Bukhari)

Juga dikatakan al-Hafidz Ibnu Hajar  :
قَالَ الطُّوفِيُّ : هَذَا الْحَدِيثُ أَصْلٌ فِي السُّلُوكِ إِلَى اللَّه وَالْوُصُول إِلَى مَعْرِفَتِهِ وَمَحَبَّتِهِ وَطَرِيقِهِ ، إِذْ الْمُفْتَرَضَاتُ الْبَاطِنَةُ وَهِيَ الْإِيمَان وَالظَّاهِرَة وَهِيَ الْإِسْلَام وَالْمُرَكَّبُ مِنْهُمَا وَهُوَ الْإِحْسَانُ فِيهِمَا كَمَا تَضَمَّنَهُ حَدِيثُ جِبْرِيل ، وَالْإِحْسَان يَتَضَمَّنُ مَقَامَاتِ السَّالِكِينَ مِنْ الزُّهْد وَالْإِخْلَاص وَالْمُرَاقَبَة وَغَيْرهَا ، وَفِي الْحَدِيث أَيْضًا أَنَّ مَنْ أَتَى بِمَا وَجَبَ عَلَيْهِ وَتَقَرَّبَ بِالنَّوَافِلِ لَمْ يُرَدَّ دُعَاؤُهُ لِوُجُودِ هَذَا الْوَعْد الصَّادِق الْمُؤَكَّد بِالْقَسَمِ (فتح الباري لابن حجر - ج 18 / ص 342)

“ath-Thufi berkata: Hadis ini adalah dalil dasar dalam melakukan
suluk (tahapan / jenjang) menuju Allah dan sampai pada makrifat
(mengenal) Allah dan mencintainya. Sebab kewajiban-kewajiban batin
seperti iman, dan kewajiban-kewajiban fisik yaitu Islam, dan yang
tersusun dari keduanya, yaitu Ihsan sebagaimana dalam hadis yang
disampaikan dalam kisah Malaikat Jibril. Sementara Ihsan mengandung
tahapan-tahapan yang dilalui oleh pelaksana, seperti zuhud, ikhlas,
 diawasi oleh Allah dan lainnya. Dalam hadis ini juga dijelaskan bahwa
orang yang melakukan ibadah wajib dan mendekatkan diri dengan ibadah
sunah donya tidak akan ditolak, sebab telah ada janji yang dikuatkan
dengan sumpah” (Fathul Bari 18/342)

~ Hal Istilah pintu Saribu ~












Rizki Fattah Siregar :
Apa yang ingin Abang sampaikan dengan istilah "Seribu Pintu"
apakah "jumlah pintunya memang ada seribu...?"

Rahmat Parlindungan Siregar :
Ini yang ingin saya sampaikan setelah berwisata ke tempat
tersebut :

Tak ada seorangpun yang dapat memastikan apakah jumlah pintu-
pintu di masjid tersebut ada seribu, abaik dari hasil ngobrol
dengan para pengurus masjid tersebut, dengan masyarakat sekitar
dengan para pengunjung maupun dengan info-info yang tersaji
lewat internet ini.

Karena :

























__________________________________

Penutup (Kesimpulan dan Saran)
__________________________________

~ Kesimpulan ~

Masjid Pintu Saribu atau Masjid Nurul Yakin Tangerang adalah salah satu
masjid ummat Islam yang konsep pengeloaannya mengacu pada Tasawuf dengan
fokus pada Ilmu Tasawuf dan lebih mengarah pada ajaran-ajaran mazhab Syafi'i
lewat organisasi Islamnya sunnih atau Sunnah atau Sunnah wal Jamaah.

~ Saran ~

Karena memang Masjid ini cukup memberi manfaat bukan saja sebagai gambaran
sejarah agama Islam Indonesia masa lampau juga sebagai tempat penerapan
Ilmu Suluk, maka penulis menyarakan :

1. Pada pihak pengelola / penerus Masjid Pintu Saribu

Kiranya Masjid ini tetap dapat dipertahankan, dan jika memungkinkan
bangunan-bangunan yang memberi kesan masih dalam pembangunan dapat
terealisasi secepatnya. Amin ya robbal alamin.

2. Pemda Tangerang

Karena memang wilayah Kp. Bayur bagian dari Pemda-nya, apa salahnya
turut serta juga dalam pengelolaan Masjid Pintu Saribu ini. Karena
pendapat umum mayarakat berkata, "Masjid Pintu Saribu" adalah salah
satu pilihan wisata religi Masyarakat Nusantara (Bukan hanya
masyarakat Tangerang-pen).

Para kaum uslimin muslimat sekalian...!

Selamat malam....dan...
Wassalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh...!



______________________________________________________
Cat :
Sebaiknya anda pembaca postingan ini datang dari kalangan
Iman Syafi'i - Sunni / sunnah , NU, Islamiyah (Sunnah wal Jamah)
- Assalafiyah,

Ralat :
Jika diatas ada tertulis 22 April 2015, maka yang benar adalah
19 April 2015.

Sambungan ke :
http://galeri1msad.blogspot.com/2015/04/tasbih-zikir-sejarah-pendapat-bacaan.html

No comments:

Post a Comment