Friday, April 24, 2015

Sembilan (99+9) = 999 : Walisongo - Asmaul Husna - Tasbih, Tahmid dan Tahbir

#SELAMAT MALAM PARA KAUM MUSLIMIN MUSLIMAT#
(Menyimak info sekitar Angka Sembilan (9) dalam hubungannya dengan
Wali Songo - Asmaul Husna - Tasbih, Tahmid dan Takbir)
* Tulisan Ke-3 : Masjid Pintu Saribu
______________________________________________________________











________________

Kata Pengantar
________________

Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh...!

Postingan ini masih merupakan bagian dari Wisata Religi penulis ke
"Masjid Pintu Saribu" Tangerang. Pada postingan pertamanya, penulis
bercerita tentang bagimana wisata religi itu dilaksanakan lewat link :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2015/04/masjid-pintu-saribu-mematikan-diri.html

Pada tulisan ke duanya, penulis memperdalam mengenai "Tasbih", karena
di masjid ini juga terdapat ruangan tasbih lewat link :
http://galeri1msad.blogspot.com/2015/04/tasbih-zikir-sejarah-pendapat-bacaan.html

Adapun tulisan ini sendiri sebagai postingan ketiganya, akan coba
memperdalam masalah angka "999" yang dapat dikatakan merupakan salah
satu ciri khas dari Arsitektur Masjid tersebut.

"Apa dan mengapa arsitektur masjid tersebut banyak memakai angka 999"
adalah isi dari postingan tersebut.

Selamat menyimak...!



____________________________________________________

Sekilas angka 9 dalam hubungannya dengan Walisongo
____________________________________________________






* Pemahaman umum

Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa
pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau
Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur, Demak-
Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya
Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol
penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain
yang juga berperan.

Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam
di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas
serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak
disebut dibanding yang lain.

* Pemahaman Khusus

1. wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada sembilan,
   atau sanga dalam bahasa Jawa.

2. kata songo/sanga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab
   berarti mulia. Pendapat lainnya lagi menyebut kata sana berasal dari
   bahasa Jawa, yang berarti tempat.


3. Masjid Agung Demak, diyakini sebagai salah satu tempat berkumpulnya
   para wali yang paling awal. Ada beberapa pendapat mengenai arti
   Walisongo.

4. Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang pertama kali didirikan
  oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi
  (808 Hijriah).[1] Para Walisongo adalah pembaharu masyarakat pada
  masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi
  peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam,
  perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.

* Nama para Walisongo




















Dari nama para Walisongo tersebut, pada umumnya terdapat sembilan nama
yang dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkenal, yaitu:

1.Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
2.Sunan Ampel atau Raden Rahmat
3.Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim
4.Sunan Drajat atau Raden Qasim
5.Sunan Kudus atau Ja'far Shadiq
6.Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
7.Sunan Kalijaga atau Raden Said
8.Sunan Muria atau Raden Umar Said
9.Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah

* Gambaran Otobiografi / Silsilah para wali songo dalam 
    hubungannya dengan Nabi Muhammad SAW


1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)




















Ket ;
Makam Maulana Malik Ibrahim, desa Gapura, Gresik, Jawa Timur

Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia
disebut juga Sunan Gresik, atau Sunan Tandhes, atau Mursyid Akbar
Thariqat Wali Songo . Nasab As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim Nasab
Maulana Malik Ibrahim menurut catatan Dari As-Sayyid Bahruddin
Ba'alawi Al-Husaini yang kumpulan catatannya kemudian dibukukan dalam
Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang terdiri dari beberapa volume (jilid).

Dalam Catatan itu tertulis:

As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim bin As-Sayyid Barakat Zainal Alam bin
As-Sayyid Husain Jamaluddin bin As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin As-Sayyid
Abdullah bin As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin As-Sayyid Alwi Ammil
Faqih bin As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin As-Sayyid Ali Khali’
Qasam bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alwi bin
As-Sayyid Ubaidillah bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Al-Imam Isa bin
Al-Imam Muhammad bin Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin Al-Imam Ja’far Shadiq
bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Ali Zainal Abidin bin
Al-Imam Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib,
binti Nabi Muhammad Rasulullah

Ia diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal
abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi,
mengikuti pengucapan lidah orang Jawa terhadap As-Samarqandy.
Dalam cerita rakyat, ada yang memanggilnya Kakek Bantal.

Isteri Maulana Malik Ibrahim















Maulana Malik Ibrahim memiliki, 3 isteri bernama: 1. Siti Fathimah
binti Ali Nurul Alam Maulana Israil (Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1),
memiliki 2 anak, bernama: Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah
2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, memiliki 4 anak, yaitu:
Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad 3. Wan Jamilah binti
Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak yaitu:
Abbas dan Yusuf. Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik
Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid Fadhal Ali Murtadha [Sunan Santri/
Raden Santri] dan melahirkan dua putera yaitu Haji Utsman (Sunan Manyuran)
dan Utsman Haji (Sunan Ngudung). Selanjutnya Sayyid Utsman Haji
(Sunan Ngudung) berputera Sayyid Ja’far Shadiq [Sunan Kudus].

Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang
mendakwahkan Islam di Jawa. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam
dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa
yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit.

Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda
krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun pondokan tempat
belajar agama di Leran, Gresik. Pada tahun 1419, Malik Ibrahim
wafat. Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.

2, Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad,
menurut riwayat ia adalah putra Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dan seorang putri
Champa yang bernama Dewi Condro Wulan binti Raja Champa Terakhir Dari
Dinasti Ming.

Nasab lengkapnya sebagai berikut:

Sunan Ampel bin Sayyid Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Sayyid Jamaluddin
Al-Husain bin Sayyid Ahmad Jalaluddin bin Sayyid Abdullah bin Sayyid
Abdul Malik Azmatkhan bin Sayyid Alwi Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad
Shahib Mirbath bin Sayyid Ali Khali’ Qasam bin Sayyid Alwi bin Sayyid
Muhammad bin Sayyid Alwi bin Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir
bin Sayyid Isa bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Ali Al-Uraidhi bin Imam
Ja’far Shadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin
Imam Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah.

Sunan Ampel umumnya dianggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya.
Pesantrennya bertempat di Ampel Denta, Surabaya, dan merupakan salah
satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Ia menikah dengan Dewi
Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama
Arya Teja dan menikah juga dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning.

Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila
binti Aryo Tejo, berputera: Sunan Bonang,Siti Syari’ah,Sunan Derajat,
Sunan Sedayu,Siti Muthmainnah dan Siti Hafsah. Pernikahan Sunan Ampel
dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera: Dewi Murtasiyah,
Asyiqah,Raden Husamuddin (Sunan Lamongan,Raden Zainal Abidin (Sunan Demak),
Pangeran Tumapel dan Raden Faqih (Sunan Ampel 2. Makam Sunan Ampel teletak
di dekat Masjid Ampel, Surabaya.

3. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)

Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23
dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila,
putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Bonang banyak berdakwah
melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam.
Ia dikatakan sebagai penggubah suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang
masih sering dinyanyikan orang.

Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah dengan memasukkan rebab dan bonang,
yang sering dihubungkan dengan namanya. Universitas Leiden menyimpan
sebuah karya sastra bahasa Jawa bernama Het Boek van Bonang atau Buku
Bonang. Menurut G.W.J. Drewes, itu bukan karya Sunan Bonang namun mungkin
saja mengandung ajarannya. Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun
1525. Ia dimakamkan di daerah Tuban, Jawa Timur.

4. Sunan Drajat

Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari
Nabi Muhammad. Nama asli dari sunan drajat adalah masih munat. masih
munat nantinya terkenal dengan nama sunan drajat. Nama sewaktu masih
kecil adalah Raden Qasim. Sunan drajat terkenal juga dengan kegiatan
sosialnya. Dialah wali yang memelopori penyatuan anak-anak yatim dan
orang sakit. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila,
putri adipati Tuban bernama Arya Teja.

Sunan Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat kebanyakan. Ia menekankan
kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat,
sebagai pengamalan dari agama Islam. Pesantren Sunan Drajat dijalankan
secara mandiri sebagai wilayah perdikan, bertempat di Desa Drajat,
Kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang macapat Pangkur disebutkan sebagai
ciptaannya. Gamelan Singomengkok peninggalannya terdapat di Musium
Daerah Sunan Drajat, Lamongan. Sunan Drajat diperkirakan wafat pada 1522.

5. Sunan Kudus

Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan
Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti
Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24
dari Nabi Muhammad.

Sunan Kudus bin Sunan Ngudung bin Fadhal Ali Murtadha
bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad
Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil
Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin
Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin
Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir
bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra
binti Nabi Muhammad Rasulullah.

Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam
pemerintahan Kesultanan Demak, yaitu sebagai panglima perang, penasehat
Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan hakim peradilan negara. Ia banyak
berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Di antara yang
pernah menjadi muridnya, ialah Sunan Prawoto penguasa Demak, dan Arya
Penangsang adipati Jipang Panolan.

Salah satu peninggalannya yang terkenal ialah Mesjid Menara Kudus,
yang arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus
diperkirakan wafat pada tahun 1550.

6. Sunan Giri

Sunan Giri adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah keturunan
ke-23 dari Nabi Muhammad, merupakan murid dari Sunan Ampel dan saudara
seperguruan dari Sunan Bonang. Ia mendirikan pemerintahan mandiri di
Giri Kedaton, Gresik; yang selanjutnya berperan sebagai pusat dakwah
Islam di wilayah Jawa dan Indonesia timur, bahkan sampai ke kepulauan
Maluku. Salah satu keturunannya yang terkenal ialah Sunan Giri Prapen,
yang menyebarkan agama Islam ke wilayah Lombok dan Bima.

7. Sunan Kalijaga



















Ket :
Lukisan Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung
Wilatikta atau Raden Sahur atau Sayyid Ahmad bin Mansur (Syekh Subakir).
Ia adalah murid Sunan Bonang. Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan
kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, antara lain kesenian wayang
kulit dan tembang suluk. Tembang suluk lir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul
umumnya dianggap sebagai hasil karyanya.

Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh
binti Maulana Ishaq, menikahi juga Syarifah Zainab binti Syekh Siti
Jenar dan Ratu Kano Kediri binti Raja Kediri.

8. Sunan Muria (Raden Umar Said)

Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga. Ia adalah
putra dari Sunan Kalijaga dari isterinya yang bernama Dewi Sarah binti
Maulana Ishaq. Sunan Muria menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung.
Jadi Sunan Muria adalah adik ipar dari Sunan Kudus.

9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)


















Ket :
Lukisan Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah
Umdatuddin putra Ali Nurul Alam putra Syekh Husain Jamaluddin Akbar.
Dari pihak ibu, ia masih keturunan keraton Pajajaran melalui Nyai Rara
Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja. Sunan Gunung Jati
mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan pemerintahannya, yang
sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan Cirebon.


















Ket :
Gapura Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat

Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan
kekuasaan dan menyebarkan agama Islam di Banten, sehingga kemudian menjadi
cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten.



* Tokoh pendahulu Walisongo

Syekh Jumadil Qubro

Syekh Jumadil Qubro adalah Maulana Ahmad Jumadil Kubra / Husain Jamaluddin
al akbar bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin
Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin
Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa
bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir
bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti
Nabi Muhammad Rasulullah.

Syekh Jumadil Qubro adalah putra Husain Jamaluddin dari isterinya yang
bernama Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II/ Putri Kelantan Tua).
Tokoh ini sering disebutkan dalam berbagai babad dan cerita rakyat sebagai
salah seorang pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa.

Makamnya terdapat di beberapa tempat yaitu di Semarang, Trowulan, atau di
desa Turgo (dekat Pelawangan), Yogyakarta. Belum diketahui yang mana
yang betul-betul merupakan kuburnya.

* Hal Asal usul Walisongo

1. Teori keturunan Hadramaut

Walaupun masih ada pendapat yang menyebut Walisongo adalah keturunan
Samarkand (Asia Tengah), Champa atau tempat lainnya, namun tampaknya
tempat-tampat tersebut lebih merupakan jalur penyebaran para mubaligh
daripada merupakan asal-muasal mereka yang sebagian besar adalah kaum
Sayyid atau Syarif.

Beberapa argumentasi yang diberikan oleh Muhammad Al Baqir, dalam bukunya
Thariqah Menuju Kebahagiaan, mendukung bahwa Walisongo adalah keturunan
Hadramaut (Yaman):

L.W.C van den Berg, Islamolog dan ahli hukum Belanda yang mengadakan
riset pada 1884-1886, dalam bukunya Le Hadhramout et les colonies arabes
dans l'archipel Indien (1886)[5] mengatakan:

”Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam (ke Indonesia) adalah
dari orang-orang Sayyid Syarif. Dengan perantaraan mereka agama Islam
tersiar di antara raja-raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari
mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain Hadramaut (yang bukan golongan
Sayyid Syarif), tetapi mereka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu.

Hal ini disebabkan mereka (kaum Sayyid Syarif) adalah keturunan dari
tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad SAW).”

van den Berg juga menulis dalam buku yang sama (hal 192-204):

”Pada abad ke-15, di Jawa sudah terdapat penduduk bangsa Arab atau keturunannya,
yaitu sesudah masa kerajaan Majapahit yang kuat itu. Orang-orang Arab bercampul-
gaul dengan penduduk, dan sebagian mereka mempuyai jabatan-jabatan tinggi.

Mereka terikat dengan pergaulan dan kekeluargaan tingkat atasan. Rupanya
pembesar-pembesar Hindu di kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat-
sifat keahlian Arab, oleh karena sebagian besar mereka berketurunan pendiri
Islam (Nabi Muhammad SAW).

Orang-orang Arab Hadramawt (Hadramaut) membawa kepada orang-orang Hindu
pikiran baru yang diteruskan oleh peranakan-peranakan Arab, mengikuti
jejak nenek moyangnya."

Pernyataan van den Berg spesifik menyebut abad ke-15, yang merupakan abad
spesifik kedatangan atau kelahiran sebagian besar Walisongo di pulau Jawa.
Abad ke-15 ini jauh lebih awal dari abad ke-18 yang merupakan saat kedatangan
gelombang berikutnya, yaitu kaum Hadramaut yang bermarga Assegaf, Al Habsyi,
Al Hadad, Alaydrus, Alatas, Al Jufri, Syihab, Syahab dan banyak marga
Hadramaut lainnya.

Hingga saat ini umat Islam di Hadramaut sebagian besar bermadzhab Syafi’i,
sama seperti mayoritas di Srilangka, pesisir India Barat (Gujarat dan Malabar),
Malaysia dan Indonesia. Bandingkan dengan umat Islam di Uzbekistan dan
seluruh Asia Tengah, Pakistan dan India pedalaman (non-pesisir) yang
sebagian besar bermadzhab Hanafi.

Kesamaan dalam pengamalan madzhab Syafi'i bercorak tasawuf dan mengutamakan
Ahlul Bait; seperti mengadakan Maulid, membaca Diba & Barzanji, beragam
Shalawat Nabi, doa Nur Nubuwwah dan banyak amalan lainnya hanya terdapat
di Hadramaut, Mesir, Gujarat, Malabar, Srilangka, Sulu & Mindanao, Malaysia
dan Indonesia.

Kitab fiqh Syafi’i Fathul Muin yang populer di Indonesia dikarang oleh
Zainuddin Al Malabary dari Malabar, isinya memasukkan pendapat-pendapat
baik kaum Fuqaha maupun kaum Sufi. Hal tersebut mengindikasikan kesamaan
sumber yaitu Hadramaut, karena Hadramaut adalah sumber pertama dalam sejarah
Islam yang menggabungkan fiqh Syafi'i dengan pengamalan tasawuf dan
pengutamaan Ahlul Bait.

Di abad ke-15, raja-raja Jawa yang berkerabat dengan Walisongo seperti
Raden Patah dan Pati Unus sama-sama menggunakan gelar Alam Akbar. Gelar
tersebut juga merupakan gelar yang sering dikenakan oleh keluarga besar
Jamaluddin Akbar di Gujarat pada abad ke-14, yaitu cucu keluarga besar
Azhamat Khan (atau Abdullah Khan) bin Abdul Malik bin Alwi, seorang anak
dari Muhammad Shahib Mirbath ulama besar Hadramaut abad ke-13.

Keluarga besar ini terkenal sebagai mubaligh musafir yang berdakwah jauh
hingga pelosok Asia Tenggara, dan mempunyai putra-putra dan cucu-cucu
yang banyak menggunakan nama Akbar, seperti Zainal Akbar, Ibrahim Akbar,
Ali Akbar, Nuralam Akbar dan banyak lainnya.

2. Teori keturunan Cina (Hui)

Sejarawan Slamet Muljana mengundang kontroversi dalam buku Runtuhnya Kerajaan
Hindu Jawa (1968), dengan menyatakan bahwa Walisongo adalah keturunan
Tionghoa Muslim.

Pendapat tersebut mengundang reaksi keras masyarakat yang berpendapat
bahwa Walisongo adalah keturunan Arab-Indonesia. Pemerintah Orde Baru
sempat melarang terbitnya buku tersebut.

Referensi-referensi yang menyatakan dugaan bahwa Walisongo berasal dari
atau keturunan Tionghoa sampai saat ini masih merupakan hal yang
kontroversial. Referensi yang dimaksud hanya dapat diuji melalui sumber
akademik yang berasal dari Slamet Muljana, yang merujuk kepada tulisan
Mangaraja Onggang Parlindungan, yang kemudian merujuk kepada seseorang
yang bernama Resident Poortman. Namun, Resident Poortman hingga sekarang
belum bisa diketahui identitasnya serta kredibilitasnya sebagai sejarawan,
misalnya bila dibandingkan dengan Snouck Hurgronje dan L.W.C. van den Berg.

Sejarawan Belanda masa kini yang banyak mengkaji sejarah Islam di
Indonesia yaitu Martin van Bruinessen, bahkan tak pernah sekalipun
menyebut nama Poortman dalam buku-bukunya yang diakui sangat detail
dan banyak dijadikan referensi.

Salah satu ulasan atas tulisan H.J. de Graaf, Th.G.Th. Pigeaud, M.C. Ricklefs
berjudul Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centuries adalah
yang ditulis oleh Russell Jones. Di sana, ia meragukan pula tentang
keberadaan seorang Poortman. Bila orang itu ada dan bukan bernama lain,
seharusnya dapat dengan mudah dibuktikan mengingat ceritanya yang cukup
lengkap dalam tulisan Parlindungan.

* Hal Sumber tertulis tentang Walisongo

Terdapat beberapa sumber tertulis masyarakat Jawa tentang Walisongo,
antara lain Serat Walisanga karya Ranggawarsita pada abad ke-19, Kitab
Walisongo karya Sunan Dalem (Sunan Giri II) yang merupakan anak dari Sunan
Giri, dan juga diceritakan cukup banyak dalam Babad Tanah Jawi.

Mantan Mufti Johor Sayyid `Alwî b. Tâhir b. `Abdallâh al-Haddâd (meninggal
tahun 1962) juga meninggalkan tulisan yang berjudul Sejarah perkembangan
Islam di Timur Jauh (Jakarta: Al-Maktab ad-Daimi, 1957). Ia menukil keterangan
diantaranya dari Haji `Ali bin Khairuddin, dalam karyanya Ketrangan
kedatangan bungsu (sic!) Arab ke tanah Jawi sangking Hadramaut.

Dalam penulisan sejarah para keturunan Bani Alawi seperti al-Jawahir al-
Saniyyah oleh Sayyid Ali bin Abu Bakar Sakran, 'Umdat al-Talib oleh al-Dawudi,
dan Syams al-Zahirah oleh Sayyid Abdul Rahman Al-Masyhur; juga terdapat
pembahasan mengenai leluhur Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Giri,
Sunan Kudus, Sunan Bonang dan Sunan Gresik.
___________________________________________________________

Sekilas angka 99 dalam hubungannya dengan Asma'ul husna
___________________________________________________________

* Hal Pengertian dan asal kata

Dalam agama Islam, Asmaa'ul husna (bahasa Arab: أسماء الله الحسنى, asmāʾ allāh al-ḥusnā)
adalah nama-nama Allah yang indah dan baik. Asma berarti
nama dan husna berarti yang baik atau yang indah, jadi asma'ul husna adalah
nama nama milik Allah yang baik lagi indah.

* Hal Penafsiran Asma'ul husna

Sejak dulu para ulama telah banyak membahas dan menafsirkan nama-nama ini,
karena nama-nama Allah adalah alamat kepada Dzat yang mesti kita ibadahi
dengan sebenarnya. Meskipun timbul perbedaan pendapat tentang arti, makna,
dan penafsirannya akan tetapi yang jelas adalah kita tidak boleh musyrik
dalam mempergunakan atau menyebut nama-nama Allah ta'ala.

* Hal Jumlah Asma'ul husna

Selain perbedaaan dalam mengartikan dan menafsirkan suatu nama terdapat
pula perbedaan jumlah nama, ada yang menyebut 99, 100, 200, bahkan 1.000
bahkan 4.000 nama, namun menurut mereka, yang terpenting adalah hakikat
Dzat Allah SWT yang harus dipahami dan dimengerti oleh orang-orang yang
beriman seperti Nabi Muhammad.

* Hal Asma'ul husna satu kesatuan

Asma'ul husna secara harfiah adalah nama-nama, sebutan, gelar Allah yang
baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah yang agung
dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan
kehebatan milik Allah.

Para ulama berpendapat bahwa kebenaran adalah konsistensi dengan kebenaran
yang lain. Dengan cara ini, umat Muslim tidak akan mudah menulis "Allah
adalah ...", karena tidak ada satu hal pun yang dapat disetarakan dengan Allah,
akan tetapi harus dapat mengerti dengan hati dan keteranga Al-Qur'an tentang
Allah ta'ala. Pembahasan berikut hanyalah pendekatan yang disesuaikan dengan
konsep akal kita yang sangat terbatas ini.

Semua kata yang ditujukan pada Allah harus dipahami keberbedaannya dengan
penggunaan wajar kata-kata itu. Allah itu tidak dapat dimisalkan atau
dimiripkan dengan segala sesuatu, seperti tercantum dalam surat Al-Ikhlas.

"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung
kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia". (Al-Ikhlas 112:1-4)

Para ulama menekankan bahwa Allah adalah sebuah nama kepada Dzat yang pasti
ada namanya. Semua nilai kebenaran mutlak hanya ada (dan bergantung) pada-Nya.
Dengan demikian, Allah Yang Memiliki Maha Tinggi. Tapi juga Allah Yang Memiliki
Maha Dekat. Allah Memiliki Maha Kuasa dan juga Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Sifat-sifat Allah dijelaskan dengan istilah Asmaaul Husna, yaitu nama-nama,
sebutan atau gelar yang baik.

* Hal Dalil tentang keberadaan Asma'ul husna dalam Qur'an

Berikut adalah beberapa terjemahan dalil yang terkandung di dalam Al-Qur'an
dan Hadits tentang asmaa'ul husna:

"Dialah Allah, tidak ada Tuhan/Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia,
Dia mempunyai asmaa'ul husna (nama-nama yang baik)." (Thaa-Haa 20:8)

Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana
saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa'ul husna (nama-nama yang terbaik)
dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula
merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" (Al-Israa' 17:110)

"Allah memiliki Asmaa' ulHusna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut
nama-nama yang baik itu..." (Al-A'raaf :180)[1]

* Hal Asmaul Husna sebagai nama orang

Berikut ini contoh nama orang yang diambil dari Asmaul Husna:

Rahmaan, seperti Abdurrahman As-Sudais.
Salaam, seperti Salam Fayyad.
Jabbaar, seperti Kareem Abdul-Jabbar.
Hakiim, seperti Abdul Hakim Garuda Nusantara.
Ra'oof, seperti Ra'ouf Mus'ad.
Malik, seperti Zayn Malik.





























_______________________________________________________________

Sekilas angka 99 dalam hubungannya dengan Tasbih, tahmid dan Tahbir
_______________________________________________________________






_______________

Penutup
_______________

Demikian yang dapat penulis sampaikan lewat postingan ini para kaum
muslimin muslimat dimanapun berada...!

Semoga info-info yang tersaji dapat lebih meningkatkan kecintaan
kita pada sang pencipta alam semesta ini yaitu Allah Swt yang memiliki
99 nama dan telah di rangkum dalam sebutan "Asma'ul Husna".

Begitupun pada para wali, khsusnya "Wali Songo" yang memang berjumlah
9 orang, mudah-mudahan segala pengajarannya dapat kita contoh.

...pun...pada tasbih atau zikir;

"Tasbih, Tahmid dan Takbir" yang memang berjumlah 99 juga ketika kita
tambahkan, mudah-mudahan dapat lebih kita amalkan dalam kehidupan
sehari-hari. Amin ya robbal alamin.

Dan sebagai tambahan, mohon ijin menyampaikan sesuatu yang penulis
dapatkan dari hasil postingan ini yaitu mengenai, "Perbedaan sekaligus
hubungan antara kesukuan dan keagamaan".

Ini maksud penulis :

Jika kita melihat kehidupan dari segi "Kesukuan" khsusnya antara suku
batak dan "Suku Jawa", maka ada kesan bahwa "Kedua suku memang
berbeda".

Dan atas perbedaan ini maka Allah Swt-pun ber firman :
Allah swt berfirman di dalam Q.S Al Hujurat 49 : 13 yaitu

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
 ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [٤٩:١٣]

Artinya yaitu , " Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan 
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal ".


Tapi...!

Jika kita melihat kehidupan dari segi "Keagama-an" maka masalah
ke-suku-an bukan lagi sesuatu yang membedakan, "Suku apapun akan
menjadi sama di mata Allah Swt :

11 - وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. 
“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali 
supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56).

Ini artinya...!

"Wali Songo yang ada di tanah Jawa dan menyebarkan agama Islam di
Tanah Jawa pun meninggal di Tanah Jawa bisa jadi menjadi milik
suku Jawa.

...tapi....

Dari sisi Agama Islam, "Walisongo" adalah milik Agama Islam tanpa
melihat dari suku apapun asal muasal-nya.

Bagaimana para wali-wali tanah Batak, para Ustat dan kiyai-nya
yang mungkin tak pernah tercatat di buku Sejarah Islam Nusantara
atau di buku Sejarah Islam Tanah Batak.

Setuju...?

Bagaimana pula dengan pawa Walisongo, para generasinya, para penerusnya
yang mungkin sekarang ini telah menjadi Ustat atau Kyai juga.

Setuju...?

Wabilahi taufik walhidayah...!
Wassalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh...!

















______________________________________________________________
Cat :




















http://galeri1msad.blogspot.com/2015/04/angka-666-hub-ke-misteri-setan-dajjal.html

PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

No comments:

Post a Comment