Selasa, 11 Agustus 2015

Sejarah Asal muasal Istilah Pematang Siantar dan Preman Siantar

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Pematang Siantar dalam hubungannya dengan
asal usul istilah-nya dan info sekitar Sejarah pupulernya istilah
Preman Siantar)
____________________________________________________________________













____________________

Kata Pengantar
____________________

Horas...horas...horas...!

Postingan ini adalahpendalaman dari link :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2015/08/pematang-siantar-dalam-sejarah.html

yang mana penulis mengurai sejarah Pematang Siantar Semasa menjadi Kerajaan
(Sebelum Belanda Masuk Siantar) sampai pada sejarahnya setelah Indonesia
Merdeka.

Dari hasil mengurai tersebut, timbul tanda tanda dalam diri penulis yang
dalam hal ini bentuknya tanda tanya. Meskipun bentuknya tanda tanya, tapi
penulis mengharapkan jawabannya menjadi tanda seru, sehingga postingan
inipun menjadi seru, seperti serunya istilah "Poreman Siantar" dan serunya
istilah "Becak Siantar".

Tanda tanya yang penulis maksud adalah :

1. Mengapa Siantar ada yang menyebut-nya Siattar
2. Mengapa pula, ada yang menyebutnya "Pematang Siantar=Siantar Pemasak"
   dan bukannya "Siantar Pematang=Siantar Pengantar Tubuh"
3. Apa pula yang menjadi alasannya mengapa istilah "Poreman Siantar"
   sedemikian populernya, hingga lebih populer dari Poreman Medan


....dan lain-lain....
Yang intinya mempertanyakan pada 2 hal, yaitu yang berhuungan dengan
Istilah Pematang Siantar" dan istilah "Preman Siantar.

Para kawan sekalian dimanapun berada...!

Berikut ilustrasi tanya Jawab mengenai kedua hal di atas yang penulis
kompilasi dari macam sumber.

Selamat menyimak bersama lagu Rege ni  Parmitu.

Musik.....!




___________________________________________________________________________

Ilustrasi Tanya Jawab sekitar Asal Usul Istilah Pematang Siantar yang
penulis ramu dari Sumber :
http://www.becaksiantar.com/2012/07/inilah-asal-usul-kota-pematangsiantar.html
_____________________________________________________________________________

* Tanya Jawab Antara si Saragih dan si Damanik


Saragih :
Bah Hoaras Damanik...! Saya tengok kau membawa-bawa parang, buka baju lagi,
untuk apamu itu, apakah ada yang mau kau potong atau kau hanya bermaksud
menakut-nakuti kami...

Damanik :
Ah....ngak Saragih...!
Saya cuma mau mencari batu asahannya, biar saya asah dulu parang ini.
Soalnya besok saya mau pasang Portal di depan rumah saa, biar siapa yang
masuk bayar.

Saragih :
Oh...itunya maksudmu....! Okelah...okelah...! Duduk dulu kau, biar ngobrol-
ngobrol kita seputar Kota Pematang Siantar ini, akhir-akhir ini saya
merasakan agak kurangbah rasa cinta saya pada Siantar ini.

Teringatnya Damanik...!
Bagimana-nya ceritanya sehingga tempat kelahiran kita ini disebut
Pematang Santtar. Ceritakan dulubah. Kubayarpun kopimu ini da...!

Damanik :
Begini-nya ceritanya itu Saragih :

- Pada zaman dahuu Kala berdirilah dua Kerjaan diwilayah kita ini atau
  diwilayah Koata Pematang Siantar ini.

- Satu Rajanya bernama "Jumorlang" dan satu lagi Bernama "Datu Bolon".
  Tapi tak asulah kita sebut apa marganya ya, agar kita terhindar dari
  perasaan "merasahebat". karena semua marga itu hebat-nya.

- Di suatu masa dengan tanpa diketahui apa alasan sesunguhnya diadakanlah
  adu tanding kesaktian antara "Raja Jumorlang" dengan "Raja Datu Bolon".

- Aturan main mereka dalam adu kesaktian ini adalah, "Bagi siapa yang menang
  maka yang kalah akan memberikan sebidang tanah dan juga akan memberikan
  istrinya kepada sang pemenang. (Sudah kayak budaya Cina Tempoedoloe-pen).

- Pas di hari "H-Nya" maka kedua raja tersebutpun mengadu kesaktiannya.
  Macam jurus dan macam jampi-jampi-pun dikeluarkan kedua belah pihak,
  setelah keduanya terlebih dahulu mengeluarkan jurus motcaknya masing-
  masing. Sesekali keduanya terlihat saling menjepit leher, menjepit kaki
  sekaligus berusaha sebisa mungkin untuk ""Mengunci mati" sang lawannya.

  Sementara disekeliling mereka terlihat para pendukungnnya para kaum
  kerabatnya bersorak-sorak untuk mendukung rajanya masing--masing.

  Adapun sang istri dari kedua Raja tersebut, "diam Seribu Bahasa" tanpa
  berkata sepatah aau dua patah-pun. Mereka juga tidak berani melawan
  sang suaminya masing-masing yang sekaligus menjadi rajanya pula.

  Pendek cerita Saragih...!

  Perang tanding ini di menangkan oleh Raja Datu Bolon. Sekali lagi
  Damanik, perang tanding ini dimenangkan oleh Raja Datu Bolon.
  Udah paham kau...?

Damanik :
Yah paham...!
Itu artinya Damanik, Raja Jumorlang harus memberikan sebidang Tanah
pada Raja Datu Bolon dan Juga harus memberikan Istrinya, sesuai dengan
aturan main perang tanding tersebut. Iyakan...?

Saragih :
Yah betul Saragih...!
Bahkan wilayah kerajaan Jumorlangpun diminta oleh Raja Datu Bolon,
sehingga wilayah kekuasaannya menjadi lebih luas. merasa belum puas
Saragih, maka Raja Datu Bolon-pun kemudian mengganti gelarnya menjadi
"Raja Namartua".

Damanik :
Oh...begitunya...! Terus saragih, Bagimana dengan istri-nya sang Raja
Jumorlang ini...? Berarti pindah dapur dan tempat tidurlah si boru
permaisuri ini ya...??. Bisa ngak sang boru permaisuri ini masak ya,
dan bagiman pula sepak terjangnya sang permasuri ini di tempat tidur
sang Raja Namartua itu Saragih. Dikasihnya apa ngak...?

Saragih :
Kalau soal sepakterjangnya sang boru permaisuri ini di dapur dan tempat
tidur tak taula pula aku Damnik. Itukan termasuk urusan dalam Kerajaan.
Begitupun kalau soal mau tidaknya atau dikasih tidaknya jatah sang Raja,
perkiraan saya dikasih...! Soalnya sang boru itu tetapnya jadi permaisuri.
Dengan sendirinya anaknya tetap pula anak Raja. Iyakan Saragih...?

Saragih :
Iyalah...!
Da perkiraan saya Damanik, inilah salah satu alasan mengapa di Siatar
ini banyak para pura itu dengan tanpa menyeut apa marganya adaborunya
atau istrinya ada dua. Soalnya mereka mencontoh sang Raja Namartuah ini.

Dengan kata lain Damanik...!
Siapa saja putra Siantar ini yang dua istrinya maka dia ilulah yang
"Martua". Kalau cuma satu istrinya belum bisa disebut martua. bagaimana
pendapatmu Saragih...?

Saragih :
Ah...! Itu lain soal la pula itu, mau disambung ngak cerita ini...?

Damanik :
Sambung-lah-sambung...!

Saragih :
adikan sudah saya bilang, bagi yang menang akan diberikan sebidang tanah.
Maka diberikan si Raja Jumorlang inilah sebidang tanah di Pulau Holong,
yang mana tanah sebidang tersebut disebut "Tanah di Attaran". Paham kau
Damanik...?

Damanik :
kurang paham aku ba...!

Saragih :
Begini Damanik...! Ketahuan kali-la perbendahaan Bahasamu sedikit ba...!
"Attaran" itukan sama atinya dengan "Sebidang Tanah". Dalam hubungannya
dengan masalah kita ini, attaran yang dimaksudlah sebidang tanah itu
yang adanya di Pulau Holong tersebut.

Damanik :
Terus...! Apa hubungannya dengan Siattar Saragih...?

Saragih :
Hubungannya, sebidang tanah yang dimaksudlah yang lama kelamaan menjadi
nama panggilan yang digunakan untuk wilayah kita ini yaitu Siattar ini.

Adapun yang menjadi alasan mengapa disebut Siattar daerah kita ini padahal
dulunya disebut "Attaran=Sebidang Tanah" karena sudah sifatnya manusia
mencari kemudahan dalam pengucapan bahasa. Secara tidak sadar masyarakat
yang dulunya ada di Attran tersebut, menyebut tempatnya menjadi Siattar
dengan cara menambah huruf "SI" untuk kemudahan pengucapan.

Karena...!

Kemudahan pengucapan hal yang disukai manusia dengan tanpa merusak makna
ucapan tersebut maka timbullah Pendapat Umum masyarakat bahwa "Attaran
itu sama dengan Siantar". Titik.

Terserah kaula itu Saragih...!
Paham tak paham kau urusanmu la itu, mari rokok mu itu dulu, biar saya
nikmati dulu kopi buatannya boru simalungun ini.

Damanik :
Ini Saragih...! Tapi, bagimana dengan istilah "Pematag-nya" Saragih.
Darimana datsnya istilah "Pematang" itu, untuk kemudian digabung menjadi
"Pematang Siattar". Jelaskan dulu ba...! Siapa tahu suatu saat hal ini
ditanyakan anak awak pula sama awak....?

Saragih :
Oh...begitunya...!
Kembali ke cerita "Sebidang Tanah yang dalam istilah Simalungun disebut
juga attaran", pada kahirnya-kan didirikan oleh Raja Datu Bolon atau Raja
Namartua juga kerjaannya di tempat ini. Dengan kata lain dibangunnya juga
rumah atau tempat tinggal di Attaran ini.

Masyarakat tempoedoeloe Damanik, menyebut tempat tinggal raja Datu Bolon
ini atau Raja Namartua ini dengan sebutan "Pematang". yang kalau kita
sinonomkan sama dengan "Kampung atau Huta atau Desa".

Nah...!

Ketika masyarakat tempoe doloe ini mau berkunjung ketempat raja tersebut,
atau ketika masyarakat ini membicarakan masalah tempat tinggal raja, maka
mereka menyebutnya "Pematang Siattar".

Maksudnya Damanik....!

Pematang Siattar itu=Tempat Tingga Raja. Dan Raja yang dimaksud adalah
Raja datu Bolon atau Raja Namartua.

Dengan demikian dapat disimpulkan Damanik :

- Istilah Siattar atau Siantar itu berasal dari Istilah Attaran yang
  artinya sebidang tanah.

- Istilah Pematang itu berasal dari tempat tinggalnya atau rumahnya
  atau desanya atau hutanya Raja Datu Bolon atau Taja namartua.

Oke Damanik....!
Apakah sudah cukup jelas dan dapat kau pahami...? Soal-nya tujuan saya
mau mencari batu asahan parang ini belum ketemu ini. Saya mau pergi
dulu ini...!

Damanik :
Oke...! Oke...Oke...!
Jadima...jadima...jadima...! Sudah paham saya.
Terimakasih atas carito-nyaba.

Sebenarnya, masih ada yang mau saya tanya ini Saragih, tapi takut pula
nanti kau ngak jadi kerja. lain kali ajala, saya juga mau kepasar
Malanthon Siregar aku ini. Mau ketemu dulu sama Preman itu...!

Saragih :
Oya... Damanik...?
Sudah taunya kau bagaimana sejarahnya, Mengapa Preman di Siattar ini
sedemikian pupulernya....? Aapakah ada kejadian khusus yang perlu di
ketahui dari Siattar ini....?

Damanik :
Tidak tau aku ba....!

Saragih :
Kalau begitu Saragih, "Sama kita...! Sama-sama tak tahu bagaimana
sejarahnya. Kalau begitu...! saya tinggal la dulu kau ya, jangan lupa
bayar kopi ku itu, jangan pula nanti dia tagih sama saya.
______________________________________________________________

Sekilas Sejarah Lahir dan Populernya Istilah Preman Siantar
______________________________________________________________

?????????!!!!!!########......&&&&%%%###@@@@@@......!!!!!!

Penulis tidak punya sumber dan tak mungkin pula dikarang-karang
cerinya. Tapi jika boleh menganalisa lewat logika,lewat mencarian
ubungan "Sebab Akibat", maka penulis berpendapat :

- Istilah Preman Siattar" tidak lepas dari gambaran cerita "Pernang
  tanding antara "Raja Jumorlang dengan Raja Datu Bolon" sebagimana
  digambarkan pada ilusrtrasi tanya jawab di atas.

- Perang tanding ini sedemikian pupulernya, ceritanya dilingkungan
  masyarakat pematang Siantar, sehingga sadar atau tidak sadar
  mereka terpangaruh oleh cerita tersebut untuk melambangkan
  kepahlawanan dengan adu perang tanding secara terbuka.

- Jiwa kepahlawanan ini terbawa-bawa pada prilaku mereka untuk selalu
  mencari lawan tandigannya, baik dilingkungannya maupun diluar
  lingkungannya.

- Pada saat jiwa kepahlawan ini menonjol dalam diri mereka, datang
  pula istilah dari luar yang namanya "Preman" sebagi suatu istilah
  yang ditafsir atau dipahami sebagai "Tanda kehebatan/tanda kejagoan/
  tanda keberanian".

- Istilah ini kemudian; oleh masyarakat di luar masyarakat Siantar
  digunakan untuk masyarakat siantar yang menurut penilaian orang
  batak secara umum mereka-mereka itu berlaku seperti Preman.

- Mengetahui diri mereka (Pemuda Siantar Secara Umum-pen) disebut
  Preman Siantar, mereka semakin menjadi-jadi. Motor atau bus yang
  lewat dari wilayah mereka selalu diwajibkan setoran, jika tidak
  mereka akan mengajaknya duel (Sebelum ada DLLAJ).























- Setoran-setoran bus yang lewat dari wilayah mereka ini, semakin
  di populerkan pula oleh supir-supir bus di wilayah Suamtra Utara.

- Karena pada saat itu masyarakat batak tidak terlalu paham dengan
  istilah palag, tapi paham dengan istilah Preman, maka merekapun
  menyebutnya Preman, untuk tidak kita samakan dengan "Tukang Palag"
  (Marah mereka nanti/Bangkit jiwa keperemannaya nanti kalau mereka
  kita sebut tukang palag).










































Ehem...!

Pada kenyataannya...!

Jika kita melihat tafsir orang batak secara umum (Th.1980-an)
Preman di tanah Batak sama dengan "Tukang Palag=Tukang Kompas=
Tukang Ancam) dan prakteknya tidak lagi hanya sebatas di Pematang
Siantar, tapi sampai juga kepelosok-pelosok Tanah Batak.

Karena itu...!

Disikitar tahun 80-an di Tanah Batak setiap desa bisa dikatakan punya
preman yaitu orang atau pemuda yang harus didekati jika kita ingin
martandang/marhallet ke kampungnya atau mungkin akan kita beli-in
rokok atau mungkin hepeng bagi orang batak yang terlalu takut dengan
preman ini.

Hebatnya Preman Kampung atau preman Parhuta-Huta ini menyebut
dirinya "Preman Siantar Juga..."

Bagaimana...?
Para pembaca angkolafacebook sekalian....?

a. Analisa mu ini jauh melenceng Regar
b. Analisamu ini cukup masuk di akal Regar
c. Analisamu ini perlu data-data pendukung regar
d. Entahlah...! Tak terkaji-kaji aku itu da

Apapun alasan Clean, situs dengan alamat :
mengambarkan keseraman Preman Siantar ini di suatumasa.
https://anzoes.wordpress.com/2008/08/21/preman-siantar-atau-siantar-man/
Katanya :

Di kota mana juga pasti ada premannya tapi tidak ada yang punya brand
spesific seperti Preman Siantar. Di Medan pasti ada preman tapi tidak
ada istilah Preman Medan (huruf besar). Preman Siantar dulu memang
sangat populer bukan hanya di Siantar bahkan di Medan dan sampai di
Jakarta.

Konon kota Siantar dianggap sebagai “sekolah preman”, kalau lulus dari
Siantar baru bisa jadi preman di kota lain . Akibatnya dimana ada
terminal atau pasar maka disitu muncul dan merajalela Preman Siantar,
katanya seperti itu—karena tidak pernah ada yang melakukan survey
kebenarannya khan ? Tapi kenyataannya memang mendengar nama Siantar
bisa membuat rasa takut, sampai-sampai ada tempat kost di Padangbulan
Medan membuat papan bertuliskan “Menerima kost kecuali anak Siantar”,
di depan rumahnya–dulu tahun 80-an.

Ise songon au sude do mananda au
sian Kota medan saat tu Siattar katanya pula :






 _____________

Penutup
_____________

















Demikian ilustrasi tanya jawab sekitar asal muasal istilah Pematang
Siantar para kawan sekalian. Semoga memberi manfaat dalam perluasan
wawasan kita khsusnya mengenai asal muasal timbulnya istilah nama-nama
kota di Sumatra Utara.

Adapun mengenai masalah Preman Siattar ini dalam hubungannya dengan
Kota Pematang Siantar, mungkita semua perlu menyimak pernyataan dari
situs :
http://www.gobatak.com/pematangsiantar-oh-pematangsiantar/

Hal yang kita mesti tangkap adalah, kota yang katanya “sarang kriminil” ini,
sejatinya adalah kota yang tertib yang mempunyai seabrek keunggulan yang
orang terkadang tidak sadari. Jadi, tak perlu malu untuk mengakui
keberadaan dan identitas Siantar sebagai kota asal, Siantar Men harus
benar-benar menuntut orang luar untuk segera menghapus citra ‘kriminil’
dari jejak Pematangsiantar.

Para pembaca angkolafacebook.blogspot.com yang penulis hormati...!
Selamat malam dan Horas Horas Simalungun dan Horas juga Pematang
Siantar-nya.

Musik "Preman" untuk anda :




_____________________________________________________________________
Cat :

PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork
PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar