Jumat, 21 Agustus 2015

Tengok Tembakau Deli : Sejarah, Permasalahan dan Analisa Masa Depan

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Tembakau Deli dalam hubungannya dengan
tengok menengok dibidang Sejarah, Permasalahan dan Analisanya)
________________________________________________________________














_________________

Kata Pengantar
_________________

Ah....ah....!
Ada-ada saja anak Medan ini ba...!

Masala ada tulisan berjudul "Menengok Tembakau Deli yang Dulu di Ungulkan".
"Menegok" la pula di tulis anak medan ini, kalau tulisam tersebut di baca
suku lain apa tak bingung orang itu. "Apa itu menengok....?"

Nah...!
Bagi anda yang tidak paham dengan istilah "menengok" maka penulis
mengartikannya sama dengan melihat dan biasanya orang medan memakai
istilah ini untuk bahasa lisan dengan tetap memberi ijin untuk di
tuliskan. Ditulis pe tola...!


"Ku tengok la dulu boru Harahap ba, entah apa yang ditengoknya" itu
kalimat lainnya dari memakaian istilah "Tengkok". Artinya kita melihat
orang yang sedang melihat".

http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2015/08/150802_foto_deli_tembakau























Para kawan dimanapun berada...!

Kaluah postingan ini harus cle'an tengok pula baru clea'an baca, maka
tengoklah. Dan ingat...! Cle'an hanya boleh menengok hal-hal yang
berhubungan dengan tembakau delinya saja adapun gadis delinya, "Tak
boleh Clean tengok".

Selamat menengok...!
______________________________________________________

Sekilas Sejarah Tembakau Deli (Oleh Medan Hitrage)
http://medanheritage.com/cerita-tembakau-deli/
_____________________________________________________

Para kawan sekalian...!

Sejarah Tembakau Deli dibawah ini, penulis kutif dari situs "Medan Hitrage"
yang mana disekitar bulan Maret yang lalu gruop Medan Hitrage tersebut
membuka kelas seputar "Sejarah Tembaku Deli".

Berikut petikannya :

* Gambaran Sejarah
.......................................................................
Sejarah perkebunan Deli dimulai ketika langkah kerja Jacobus Nienhuys
dan para pionir pengusaha perkebunan pertama kali menggarap atau membuka
wilayah perkebunan di Sumatera Utara. Sejak awal dimulainya perkebunan,
menunjukkan kemajuan dan perkembangan yang sangat pesat dimana pada
tahun 1864 produksi tembakau telah meledak di pasaran Eropa.

Pada saat itu, dengan meminjam istilah Karl J. Pelzer (1976), Deli dikenal
sebagai ’Dollar Land’ dengan predikat sebagai penghasil daun pembungkus
cerutu terbaik dunia mengalahkan tembakau dari Brazil dan Cuba.

Usaha Jacobus Nienhuys terus berkembang dan pada tahun 1869, Nienhuys
mendirikan Deli Matschapaij, suatu badan usaha yang membawahi sekitar 75
daerah perkebunan di Sumatra Timur yang berasal dari usahawan mancanegara
seperti Jerman, Inggris, Swiss, Belgia dan Amerika.

Pada tahun 1870 Deli Matschapaij memindahkan kantornya dari Labuhan ke
Medan tepatnya di Jalan Tembakau Deli Sekarang.

Selanjutnya, Tahun 1871, Jacobus Nienhuys meninggalkan Medan. Empat tahun
setelah kepulangan Nienhuys itu, telah terdapat sebanyak 40 saham kesertaan
orang Eropa di perkebunan Deli seperti perkebunan Maryland (Marelan),
Arhemia, Helvetica (Helvetia), Poland (Polonia), Mariendal dan lain-lain
serta terdapat 15 proposal yang telah menyatakan ikut bergabung.

Komoditas yang mereka tanam tidak hanya Tembakau tetapi telah merembes
ke sektor lain seperti Karet, Kopi, Lada, Pala, Kelapa Sawit dan Teh.
Lain dari pada itu, wilayah perkebunan tidak lagi terkonsentrasi di Deli
tetapi telah pula menjalar ke kawasan lain seperti Langkat, Binjai, Serdang,
Padang (Tebing Tinggi), Siantar dan Simalungun.

Disekitar lapangan Merdeka, ada bangunan Harrisons & Crosfield (London Sumatra),
Jakarta Lloyd, Bank Mandiri (eks Nederlandsche Handel Maatschappij), Balai Kota,
Bank Indonesia, Hotel Dharma Deli (Hotel De Boer), Kantor Pos dan titi kereta api,
Deli Matscahapaij di jalan Tembakau Deli Sekarang.

Bangunan yang terkenal lainnya adalah dua rumah sakit di Jalan Puteri Hijau,
eks kompleks perusahaan kereta api Deli (Deli Spoorweg Maatschapij atau DSM)
dengan villa-villa bergaya Eropa, diantara Jalan Sutomo dan Jalan M. Yamin
(Jalan Serdang) di dekat Universitas Nommensen. Kompleks villa tua lainnya
yang sangat bernilai adalah eks kompleks DSM di Pulau Brayan, lokasi dimana
selama masa pendudukan Jepang orang-orang Eropa ditaruh di kamp konsentrasi.

Di kompleks kantor gubernur Sumatra Utara jalan Diponegro terdapat bangunan
Deli Proef Station, yang berhadapan dengan Gereja Protestan. Demikian pula
eks HVA di jalan Suprapto, rumah dinas yang digunakan pejabat teras di jalan
Sudirman, Princes Beatrixs School (sekolah Imanuel) dijalan Slamet Riyadi,
Gereja Protestan di jalan Sudirman, Rumah sakit St. Elisabeth di jalan Haji
Misbah, Sekolah dasar anak Eropa (lafarge school) di kompleks Hotel Danau Toba,
Jembatan kebajikan di jalan Zainul Arifin, rumah sakit Pirngadi Medan, maupun
lapangan bola Kebun Bunga dan lain sebaginya.

Disela-sela penjelasan Bapak Edy, keynote speaker lainnya yakni, Bapak
Ichwan Azhari (Kepala Pusat Studi Sejarah UNIMED) menunjukkan beberapa
contoh mata uang yang dahulu digunakan sebagai alat tukar perdagangan
Tembakau Deli. Ada berupa uang berbahan logam dan ada juga berbentuk uang
kertas. Hal ini menarik antusiasme para peserta sehingga sontak suasana
Kelas Heritage menjadi riuh. Selain itu, Bapak Ichwan juga menunjukkan
beberapa slide foto artefak peninggalan Tembakau Deli.

* Macam Photo suasana pada saat siminar Medan Hitrage

















* Macam Photo Peninggalan Tembakau Deli
   (Photonya 1 aja, tapi gambarnya macam-macam. Itu maksudnya)
























__________________________________________________

Sekilas Analisa pada hasil Tengok Tembakau Deli
___________________________________________________

* Analisa (Tanggapan dan Pemikiaran)

Para kawan....!
Inilah photo-photo yang dipertengokkan oleh situs dengan alamat :
http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2015/08/150802_foto_deli_tembakau



Pada penjelasan judulnya dikatakan :
Komoditas daun tembakau deli yang menjadi andalan Sumatra Utara kini
mulai tertinggal seiring dengan penyusutan luas tanaman setiap tahun.

Dan ini tanggapan penulis yang dalam istilah Universitasnya kita sebut
saja "Hasil Analisa Tengok Tembakau Deli" :

1. Masuk diakal penjelasan judul diatas, bahwa telah terjadi penyusutan
   komuditas Tembakau karena penyempilan lahan, apalagi seperti yang kita
   ketahui, tembakau deli ini bukalah ditanam di didaerah-daerah datran
   tinggi, tapi di daerah datran rendah dan tak jarang di tanam dekat
   dengan tempat tinggal penduduk setempat.

   Dengan tanpa perduli pada data Sumatra Utara, dapat kita pastikan
   penduduknya juga bertambah dari tahun ketahun yang dengan sendirinya
   lahan perumahan juga perlu diperluas.

2  Situs dengan alamat :
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2013/05/06/27752/tembakau_deli_sejarah_bangsa_yang_mulai_memudar/#.VdajDLJ_Oko










mengamabarkan perkembangan tanaman "Tembakau Dei ini dari tahun 2005
sampai 2013. Katanya :

Bayangkan saja, tahun 2005 penanaman dilakukan sebanyak 2.000 ladang,
tahun 2006 menurun dengan 1.000 ladang, 2007 tembakau ditanam 900
ladang dan tahun 2008 menurun lagi hanya sekitar 800 ladang.

Dan, kini untuk tanaman tahun 2013, tidak sampai 700 ladang. Bahkan
yang dulunya PTPN2 memiliki 12 kebun ditahun 1990-an, kini hanya
tingal tiga kebun saja yang bertahan yakni kebun Helvetia, Buluh
Cina dan Kelumpang.

3. Hal lainnya yang menjadi hambatan dalam pengembangan tembakau
Deli ini digambarkan situs di tas :

Wakil Manager Distrik Tembakau PTPN2, Mariadi, kepada MedanBisnis
akhir pekan lalu, menjelaskan, kelangsungan tanaman tembakau deli
semakin pudar di tengah lahan yang juga menciut. Selain faktor
permintaan dan tanah juga dipengaruhi banyaknya lahan milik PTPN2
yang digarap masyarakat. "Tahun ini tidak sampai 600 ladang kita
tanam tembakau. Kebun Helvetia lahannya banyak digarapi masyarakat,"
ujarnya.

Juga dikatakan :

Namun, anehnya, komoditas yang dijadikan pembalut cerutu bagi konsumen
Eropa itu tidak dapat terus berbangga atas keistimewaannya tersebut.
Adanya larangan merokok di Eropa, membuat PTPN2 melakukan "penyempitan"
lahan untuk mengembangkan tembakau deli yang otomatis berdampak pada
jumlah produksi yang akan dipasarkan di luar.

Para kawan sekalian....!

Mengacu pada uraian diatas, maka jelas tergambar bahwa Tembaku Deli
ini mengalami kesulitan dalam pengembangannya. Tapi kesulitan tersebut
tidaklah mutlak datang dari para masyarakat yang terlibat langsung
dalam mengolah tembakau deli ini, tapi juga dari Negara Pemakai Tembakau
Deli ini.

Dan terhadap hal ini, sesungguhnya PTPN 2 sebagai pengelola Utama Tembakau
Deli ini telah menari jalan keluar, seperti digambarkan situs ditas,
katanya :

Diakuinya, tamanan tembakau merupakan aset bangsa dan sejarah Indonesia.
Tapi manajemen sendiri masih kewalahan untuk mengembangkannya karena
modal produksi tanaman tembakau tidak terbilang kecil, sedangkan
permintaan menurun.

Kondisi itu pula yang membuat PTPN2 menghentikan pelelangan tembakau
deli di Brehmen, Jerman pada tahun 2011. Penjualan tembakau deli
langsung dilakukan di Indonesia dengan terlebih dahulu melakukan
promosi melalui agen di Jerman.

"Dengan begini, harga bisa naik karena ada nilai tawar. Kita juga
sudah memiliki gudang penyimpanan tembakau yang sesuai standar
sehingga tembakau masih aman dan berkualitas," ungkapnya.

* Hasil Analisa

Meskipun Tembakau Deli mengalami macam hambatan dalam pengembangannya
tapi penulis yakin tetap dapat mempertahankan kepopuleran namanya
pun penulis yakin "Kerja Keras banting Tulang seperti tema HUT RI ke
70 Th. 2015 ini akan tetap bersama PTPN dan para pengeloalanya.

"Dimana ada kemauan di situ ada jalan"
Hidup tembakau Deli...!

___________________

Penutup
___________________





* Kesimpulan

Demikian info hasil tengok-nya para kawan sekalian...!

Dan jika anda bertanya seperti pertanyaannya situs "Bedan Bisnis"

Lantas, di mana kesalahan dari hilangnya pamor tembakau deli ini?
maka jawabannya, seperti "Gambaran diatas". Dan jika kita ibaratkan
semuanya adalah suatu sistem, maka sistemnya menjadi rusak karena :

- Penyempitan lahan
- Permintaan pasar erofa menurun
- Biaya produksi makin tinggi
- Kuranya dukungan teknologi
- Kurangnya minat menjadi pekerja tembakau

Dan seperti kita ketahui, "Satu hal saja dalam perjalanan suatu sistem
rusak, maka akan perpengaruh pada sistem tersebut secara keseluruhan,
apalagi jika yang rusak atau tidak terkendali itu lebih dari satu hal
maka kacaubalaulah sistem itu.

* Saran

Kembali memperbaiki Sistem...!

....Dan....

Tetaplah bertahan Tembakau Deli sebagai Tembakau No. 1 di Dunia.

Hidup Tembakau Deli...!
Hidup Gadis Deli...!

...pun

Hidup goyang Deli....!

Selamat malam...!













__________________________________________________________________________
Cat :
- Posingan ini kelanjutan dari :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2015/08/tembakau-dan-seluk-beluknya.html





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar