Friday, September 18, 2015

Tokoh Pers : Parada Harahap - Sabam Pandapotan Siagian - Dja Endar Moeda Harahap - Mochtar Lubis - A. M. Hoeta Soehoet - A.M. Sipahoentar

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Tokoh Pers yang pUnya hubungan dengan
Tanah Batak : Parada Harahap - Sabam Pandapotan Siagian -
Dja Endar Moeda Harahap - Mochtar Lubis - A. M. Hoeta Soehoet -
A.M. Sipahoentar)
_________________________________________________________________













________________

Kata Pengantar
________________

"tokoh 1/to·koh / n 1 rupa (wujud dan keadaan); macam atau jenis: --
bulat spt uang ringgit; pesawat terbang yg baru dibeli itu sama --
nya dng B-25; 2 bentuk badan; perawakan: melihat -- badannya,
banyak orang menyangka ia adalah seorang pegulat; 3 ki orang yg
terkemuka dan kenamaan (dl bidang politik, kebudayaan, dsb): ia
adalah seorang -- politik yg disegani;

4 Sas pemegang peran (peran utama) dl roman atau drama;
-- bulat Sas tokoh dl karya susastra yg diperikan segi-segi
   wataknya sehingga dapat dibedakan dr tokoh yg lain;
-- datar Sas tokoh dl karya susastra yg hanya diungkapkan
   satu segi wataknya, tidak dikembangkan secara maksimal,
   dan apa yg dilakukan atau dikatakannya tidak menimbulkan
   kejutan pd pembaca;
-- keteladanan pemimpin yg baik yg dapat dijadikan contoh dan
   dapat diteladani sifat-sifat baiknya;
-- kritis tokoh yg tajam dl menganalisis persoalan;
-- pipih Sas tokoh datar;
-- utama Sas peran utama dl cerita rekaan atau drama;"
  
Demikian KBBI mengartikan Tokoh, sedangkan Pers diartikan
Dalam UU pers no 40 tahun 1999 :

Pers adalah lembaga sosial dan wahana
komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi
mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan meyampaikan
informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar,
serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan
media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia.

Para kawan dimanpun berada...!

Berikut info Tokoh Pers yang penulis maksud,

"Selamat menyimak....!"
_________________________________

Parada Harahap (Tokoh Pers)
_________________________________

Parada Harahap (lahir di Pargarutan, Sipirok, Tapanuli Selatan,
Sumatera Utara, 15 Desember 1899 – meninggal di Jakarta,
11 Mei 1959 pada umur 59 tahun) adalah seorang jurnalis Indonesia
yang lahir di Pargarutan, Sipirok, Tapanuli Selatan.

Ia dijuluki King of the Java Press karena kemauannya yang keras dan
semangat belajarnya yang tinggi, baik secara otodidak maupun mengikuti
kursus-kursus. Sejak bulan Juli 1914, ia bekerja sebagai leerling
schryver pada Rubber Cultur My Amasterdam di Sungai Karang, Asahan.

Karena kecerdasan dan daya ingatnya yang sangat baik Parada Harahap
kemudian dapat menggantikan juru buku berkebangsaan Jerman. Selama
bekerja di perkebunan itu Parada Harahap terus belajar supaya dapat
berbicara bahasa Belanda membaca surat kabar De Sumatera Post dan
surat kabar berbahasa Melayu seperti Benih Merdeka dan Pewarta Deli
serta mempelajari tulisan-tulisan yang dimuat dalam surat kabar itu.

Pada tahun 1917 dan 1918 Parada Harahap telah menulis dan membongkar
kekejaman Poenale Sanctie dan perlakuan di luar batas perikemanusiaan
terhadap kuli-kuli kontrak yang dilakukan baik oleh tuan kebun
maupun bawahannya.

Karier

Karier jurnalisnya dimulai ketika ia menjadi staf redaksi surat kabar
Benih Merdeka. Kemudian dia kembali ke kampung halamannya dan memimpin
surat kabar Sinar Merdeka (1919) dan memimpin majalah Poestaha.
Surat kabarnya sebagian besar mengkritik kebijakan pemerintahan
kolonial Belanda akibat kesewenang-wenangan mereka selama di Hindia
Belanda.

Selama dua tahun di Padangsidempuan, ia telah 12 kali terkena
delik pers serta berulangkalu keluar masuk penjara.

Pada tahun 1922, ia pindah ke Jakarta menerbitkan mingguan Bintang
Hindia, Bintang Timur dan Sinar Pasundan. Pada saat itu ia mulai
memakai nama samaran Oom Baron Matturepeck yang diambil dari bahasa
Batak (berarti suara dari kertas).

Selain itu, ia adalah satu-satunya orang pertama yang mendirikan
Akademi Wartawan di Jakarta. pada masa pendudukan Jepang, dia
dipercaya menjadi pemimpin redaksi Surat Kabar Sinar Baroe.

Menjelang masa kemerdekaan pada tahun 1945 , ia masuk dalam susunan
anggota BPUPKI yang dibentuk oleh Jepang di Jakarta. Dalam hal ini,
dia adalah satu-satunya anggota BPUPKI yang berasal dari etnis Batak.
Pranala luar
__________________________________________________

Sabam Pandapotan Siagian (Tokoh Pers)
__________________________________________________




















Sabam Pandapotan Siagian (lahir di Jakarta, 4 Mei 1932; umur 83 tahun)
adalah wartawan Indonesia dan Duta Besar RI di Australia periode 1967-1973.

Karena orangtuanya menginginkan dia menjadi sarjana hukum – selain pendeta –
ia masuk ke Fakultas Hukum dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia.
Karena tidak terlalu tertarik ia memutuskan untuk pindah ke Akademi
Dinas Luar Negeri (ADLN) yang akhirnya tidak selesai juga.

Sempat mengikuti pendidikan ilmu politik di Vanderbilt University,
Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, namun itu pun tidak ia selesaikan.
Kemudian pada 1978, ia mengikuti program Nieman Fellow for Journalism
dari Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.

Sepulang dari New York, Amerika Serikat, ia ingin terjun ke bisnis,
karena Sabam merasa sudah memiliki koneksi di Amerika. Tetapi waktu itu,
Sinar Harapan sedang melakukan reorganisasi besar-besaran. Kebetulan,
ayahnya, Pendeta Siagian, salah satu pemegang sahamnya sehingga akhirnya
untuk pertama kalinya ia terjun ke dunia jurnalisme yang sesungguhnya.

Selain itu pada tahun 1950-an, ia pernah mengelola majalah milik Gerakan
Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Kemudian bersama beberapa teman,
antara lain Wicaksono dan Alwi Dahlan, ia ikut menggagaskan penndirian
Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia.

Pada pertengahan tahun 1960-an, ia bekerja di bagian riset perwakilan
Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ia juga menyandang tanda kehormatan bintang jasa utama. Setelah usai
dari karier diplomat-nya ia kembali ke dunia pers dan berkutat di Suara
Pembaruan sebagai presiden komisaris dan The Jakarta Post dan termasuk
dalam Dewan Tajuk Rencana. Ia juga menjadi ketua Indonesia-Australia
Business Council selama nenerapa waktu.

Pada 1983, ia kerap mengupas masalah internasional di The Jakarta Post,
koran berbahasa Inggris yang turut didirikannya. Sebagai jurnalis senior,
ia tentunya banyak bergaul dengan kalangan diplomat di Jakarta.
________________________________________

Dja Endar Moeda Harahap (Tokoh Pers)
________________________________________

Dja Endar Moeda atau lengkapnya Dja Endar Moeda Harahap adalah perintis
pers berbahasa Melayu kelahiran Padang Sidempuan, 1861. Dididik sebagai
guru di sekolah pengajaran guru di Padang Sidempuan, kariernya di dunia
pers dimulai sebagai redaktur untuk jurnal bulanan Soeloeh Pengadjar pada 1887.

Sepulangnya dari naik haji tahun 1893 Dja Endar Moeda memutuskan untuk
bermukim di Kota Padang. Di sana selain mendirikan sekolah swasta dia
menjadi redaktur Pertja Barat, yang didirikan oleh Lie Bian Goan.
Pada tahun 1905, Dja Endar Moeda membeli Pertja Barat.

Dja Endar Moeda juga mendirikan beberapa media cetak lain di Medan dan
Kutaraja (sekarang Banda Aceh. Pemberita Atjeh didirikan pada 1906.
Dengan rekan-rekannya di Sjarikat Tapanuli dia menerbitkan Pewarta Deli,
dengan dirinya sebagai pemimpin redaksi. Pada 1911 setelah keluar dari
Pewarta Deli, Dja Endar Moeda menerbitkan Bintang Atjeh.
_______________________________________________

A. M. Hoeta Soehoet (Tokoh Pers)
_______________________________________________

A. M. Hoeta Soehoet, tokoh pers dan pendiri IISIP Jakarta, lahir
di Sipirok, Tapanuli Selatan 11 November 1928. A. M. Hoeta Soehoet
yang nama lengkapnya Ali Mochtar Hoeta Soehoet meninggal pada
tanggal 23 Februari 2010 dan dimakamkan  di Taman Makam Pahlawan
Kalibata, Jakarta Selatan.

Sebelum pensiun, sebagai Rektor IISIP (Kampus Tercinta) hingga 2001.
A.M. Hoeta Soehoet yang mendirikan  IISIP Jakarta pada 5 Desember 1953
dengan nama Perguruan Tinggi Djurnalistik (PTD) oleh Himpunan Mahasiswa
Akademi Wartawan yang kala itu A.M. Hoeta Soehoet sebagai ketua umumnya.

Pada tanggal 27 Juli 1985 dengan SK Mendikbud, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi/
Sekolah Tinggi Publisistik dikembangkan menjadi instititut dengan nama
Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Semasa mudanya,
A. M. Hoeta Soehoet awalnya adalah seorang wartawan di beberapa surat
kabar antara lain Indonesia Raya dan  Abadi bersama dengan Mochtar Lubis,
Rosihan Anwar, Amir Daud dan Jaffar Assegaf.
___________________________

Mochtar Lubis (Tokoh Pers)
___________________________



























Mochtar Lubis (lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922 –
meninggal di Jakarta, 2 Juli 2004 pada umur 82 tahun) adalah seorang
jurnalis dan pengarang ternama asal Indonesia.

Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan.
Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan
memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit.

Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya.
Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam
penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada
tahun 1966. Pemikirannya selama di penjara, ia tuangkan dalam buku
Catatan Subversif (1980).

Pernah menjadi Presiden Press Foundation of Asia, anggota Dewan
Pimpinan International Association for Cultural Freedom (organisasi
CIA), dan anggota World Futures Studies Federation.

Novelnya, Jalan Tak Ada Ujung (1952 diterjemahkan ke bahasa Inggris
oleh A.H. John menjadi A Road With No End, London, 1968), mendapat
Hadiah Sastra BMKN 1952; cerpennya Musim Gugur menggondol hadiah
majalah Kisah tahun 1953; kumpulan cerpennya Perempuan (1956)
mendapatkan Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-1956;

novelnya, Harimau! Harimau! (1975), meraih hadiah Yayasan Buku
Utama Departeman P & K; dan novelnya Maut dan Cinta (1977) meraih
Hadiah Sastra Yayasan Jaya Raya tahun 1979. Selain itu, Mochtar
juga menerima Anugerah Sastra Chairil Anwar (1992).

Bibliografi

- Tidak Ada Esok (novel, 1951)
- Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain (kumpulan cerpen, 1950)
- Teknik Mengarang (1951)
- Teknik Menulis Skenario Film (1952)
- Harta Karun (cerita anak, 1964)
- Tanah Gersang (novel, 1966)
-Senja di Jakarta (novel, 1970; diinggriskan Claire Holt dengan judul
 Twilight in Jakarta, 1963)

- Judar Bersaudara (cerita anak, 1971)
- Penyamun dalam Rimba (cerita anak, 1972)
- Harimau! Harimau! (novel, 1975)
- Manusia Indonesia (1977)
- Berkelana dalam Rimba (cerita anak, 1980)
- Kuli Kontrak (kumpulan cerpen, 1982)
- Bromocorah (kumpulan cerpen, 1983)

Karya jurnalistiknya:

- Perlawatan ke Amerika Serikat (1951)
- Perkenalan di Asia Tenggara (1951)
- Catatan Korea (1951)
- Indonesia di Mata Dunia (1955)

Mochtar Lubis juga menjadi editor:
- Pelangi: 70 Tahun Sutan Takdir Alisyahbana (1979)
- Bunga Rampai Korupsi (bersama James C. Scott, 1984)
- Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta
  kepada Presiden Soekarno (1986)

Terjemahannya:

-Tiga Cerita dari Negeri Dollar (kumpulan cerpen, John Steinbeck,
 Upton Sinclair, dan John Russel, 1950)

-Orang Kaya (novel F. Scott Fitgerald, 1950)
-Yakin (karya Irwin Shaw, 1950)
-Kisah-kisah dari Eropa (kumpulan cerpen, 1952)
-Cerita dari Tiongkok (terjemahan bersama Beb Vuyk dan S. Mundingsari, 1953)

Studi mengenai Mochtar Lubis:
- M.S. Hutagalung, Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis (1963)
  Henri Chambert-Loir, Mochtar Lubis, une vision de l'Indonésie
  Contemporaine (diseertasi, Paris, 1974)

- David T. Hill, Mochtar Lubis: Author, Editor, and Political Actor
  (disertasi, Canberra, 1989)

- David T. Hil, ‘Mochtar Lubis’, Inside Indonesia, Vol. 83,
  July-September 2005, p.23.
   
- David T. Hill, Journalism and Politics in Indonesia: A Critical
  Biography of Mochtar Lubis (1922-2004) as Editor and Author,
  (Routledge, London & New York, 2010).

Pers Indonesia dimulai Sejak dibentuknya Kantor berita ANTARA
didirikan tanggal 13 Desember 1937 sebagai kantor berita perjuangan
dalam rangka perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia, yang mencapai
puncaknya dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.
_____________________________________

A.M. Sipahoentar (Tokoh Pers)
_____________________________________

Kantor berita Antara didirikan oleh Soemanang saat usia 29 tahun,
A.M. Sipahoentar saat usia 23 tahun, Adam Malik saat berusia 20 tahun
an Pandu Kartawiguna. Adam Malik pada usia 21 tahun diminta untuk
mengambil alih sebagai

pimpinan ANTARA, dikemudian hari Ia menjadi orang penting dalam
memberitakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Karena kredibilitasnya, Adam Malik setelah menduduki jabatan semula
sebagai ketua Kantor berita Antara, ia diangkat sebagai Menteri
Perdagangan, Duta Besar, Menteri Utama Bidang Politik, Menteri Luar
Negeri, Presiden Sidang Majelis Umum PBB, Ketua DPR/MPR dan Wakil
Presiden.
_________________

Penutup
_________________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

Semoga dapat memperluas wawsan kita dibidang Pers Nasional, khususnya
dibidang "Tokoh-nya". Dan bagi anda mungkin yang saat ini sedang
menggeluti dunia pers, semoga pula macam gambaran karir para
tokoh diatas dapat menginspirasi anda untuk lebih giat berkarya
dibidang perkembangan Pers Nasional ini.

Selamat malam...!
http://instrument72.blogspot.co.id/2015/09/beatiful-chinese-music-instrument.html 


__________________________________________________________________
Cat : 
Wikipedia Ind
http://koranpublikasi.blogspot.co.id/

cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar

No comments:

Post a Comment