Jumat, 18 Desember 2015

Natal : Pengertian, Etimologi, Sejarah, Tradisi, Kartu Natal, Lilin, Pohon Natal, ekonomi dan Kegiatan Sosial

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Natal dalam hubungannya dengan
________________________________________________________________













___________________

Kata Pengantar
___________________

Penulis adalah muslim dan tidak terlalu banyak tahu mengenai Natal ini.
Karena itu, di malam ini penulis mempelajarinya. Dan tentunya ini ditulis
sehubungan dengan datang-nya Hari Natal 25 Desember 2015.

Jika anda muslim atau Non Muslim dan ingin tahu juga tetang macam hal
yang berhubungan dengan Natal ini, maka berikut infonya...dan...

Selamat menyimak...!
______________________________________

Sekilas info tentang natal
______________________________________

* Pengertian

Natal (dari bahasa Portugis yang berarti "kelahiran") adalah hari raya
umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal
25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Natal dirayakan
dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal
25 Desember. Beberapa gereja Ortodoks merayakan Natal pada tanggal
6 Januari

Dalam tradisi barat, peringatan Natal juga mengandung aspek non-agamawi.
Beberapa tradisi Natal yang berasal dari Barat antara lain adalah pohon
Natal, kartu Natal, bertukar hadiah antara teman dan anggota keluarga
serta kisah tentang Santa Klaus atau Sinterklas.

* Etimologi

Kata “natal” berasal dari ungkapan bahasa Latin Dies Natalis
(Hari Lahir).Dalam bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas,
dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse (1038) atau Cristes-messe (1131),
yang berarti Misa Kristus.

Christmas biasa pula ditulis ?'mas, suatu penyingkatan yang cocok dengan
tradisi Kristen, karena huruf X dalam bahasa Yunani merupakan singkatan
dari Kristus atau dalam bahasa Yunani Chi-Rho.

Dalam Alkitab bahasa Indonesia sendiri tidak dijumpai kata "Natal",
yang ada hanya kelahiran Yesus.

* Kelahiran Yesus menurut Alkitab

Tahun Liturgi
Gereja Ritus Barat
Adven
Natal
Epifani
Masa Biasa
Masa Pra-Paskah
Rabu Abu
Pekan Suci
Minggu Palma
Trihari Suci/
Masa Sengsara
Kamis Putih
Jumat Agung
Sabtu Suci
Paskah
Asensi
Pentakosta
Gereja Ritus Timur
Eksaltasi Salib
Puasa Natal
Natal
Teofani
Puasa Besar
Paskah
Pentakosta
Transfigurasi
Tertidurnya Theotokos
Perlindungan Bunda Allah
Kotak ini: lihat bicara sunting

Orang majus mengunjungi Yesus, diperingati pada Malam Kedua Belas setelah
kelahirannya pada hari Natal. (Epifani)

Cerita kelahiran Yesus dalam Injil Perjanjian Baru ditulis dalam
kitab Matius (Matius 1:18-2:23) dan Lukas (Lukas 2:1-21).

Menurut Lukas, Maria mengetahui dari seorang malaikat bahwa dia telah
mengandung dari Roh Kudus tanpa persetubuhan. Setelah itu dia dan
suaminya Yusuf meninggalkan rumah mereka di Nazaret untuk berjalan ke
kota Betlehem untuk mendaftar dalam sensus yang diperintahkan oleh
Agustus, Kaisar Romawi pada saat itu. Karena mereka tidak mendapat
tempat untuk menginap di kota itu, bayi Yesus dibaringkan di sebuah
palungan (malaf)[1][2]. Kelahiran Kristus di Betlehem Efrata, Yudea,
di kampung halaman Daud, nenek moyang Yusuf, memenuhi nubuat nabi
Mikha (Mikha 5:1-2). (Di Israel purba mereka mengenal ada dua kota
Betlehem, kota Betlehem satunya lagi berada di tanah Zebulon.)

Matius mencatat silsilah dan kelahiran Yesus dari seorang perawan,
dan kemudian beralih ke kedatangan orang-orang majus dari Timur—yang
diduga adalah Arabia atau Persia—untuk melihat Yesus yang baru
dilahirkan. Orang-orang bijak tersebut mula-mula tiba di Yerusalem
dan melaporkan kepada raja Yudea, Herodes Agung, bahwa mereka telah
melihat sebuah bintang—yang sekarang disebut Bintang Betlehem—
menyambut kelahiran seorang raja. Penelitian lebih lanjut memandu
mereka ke Betlehem Yudea dan rumah Maria dan Yusuf. Mereka
mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur kepada bayi Yesus.

Ketika bermalam, orang-orang majus itu mendapatkan mimpi yang berisi
peringatan bahwa Raja Herodes merencanakan pembunuhan terhadap anak
tersebut. Karena itu mereka memutuskan untuk langsung pulang tanpa
memberitahu Herodes suksesnya misi mereka. Matius kemudian melaporkan
bahwa keluarga Yesus kabur ke Mesir untuk menghindari tindakan Raja
Herodes yang memutuskan untuk membunuh semua anak di bawah dua tahun
di Betlehem untuk menghilangkan saingan terhadap kekuasaannya.

Setelah kematian Herodes, Yesus dan keluarga kembali dari Mesir,
tetapi untuk menghindar dari raja Yudea baru (anak Herodes Agung,
yakni Herodes Arkhelaus) mereka pergi ke Galilea dan tinggal di Nazaret.

Sisi lain dari cerita kelahiran Yesus yang disampaikan oleh kitab
Injil Lukas adalah penyampaian berita itu oleh para malaikat kepada
para gembala. Dalam Injil Matius dicatat bahwa ada orang-orang Majus
dari Timur datang ke Yudea karena melihat sebuah bintang yang besar
bersinar di atas wilayah Yerusalem. Mereka mengikuti bintang itu
hingga ke kota Betlehem, tempat kelahiran Yesus. Beberapa astronom
dan sejarawan telah berusaha menjelaskan gabungan sejumlah peristiwa
angkasa yang dapat ditelusuri yang mungkin dapat menerangkan
penampakan bintang raksasa yang tidak pernah dilihat sebelumnya
itu, pendapat yang paling kuat adalah dari Johannes Kepler, yang
menerangkan bahwa Bintang Natal atau Bintang Betlehem itu secara
astronomik adalah konjungsi planet Jupiter dan Saturnus pada konstalasi
Pisces. Dan konjungsi ini memang benar terjadi pada bulan Desember
tahun 7 SM. Mula-mula orang-orang Majus itu bertanya-tanya kepada
penduduk Yerusalem, kemudian mereka dibawa menghadap raja Herodes.

Raja Herodes bertanya kepada ahli kitab, di mana Mesias akan dilahirkan.
Berdasarkan Alkitab, Mesias akan dilahirkan di Betlehem dan informasi
ini dipakai untuk membantu para orang majus mengetahui letak di mana
Yesus dilahirkan.

Herodes minta akan setelah bertemu bayi itu agar mereka kemudian dapat
melaporkan kepada Herodes. Tetapi karena mengetahui niat Herodes yang
jahat , para orang majus tidak kembali melaporkan kepada Herodes.

* Asal-mula peringatan Natal

Peringatan hari kelahiran Yesus tidak pernah menjadi perintah Kristus
untuk dilakukan. Cerita dari Perjanjian Baru tidak pernah menyebutkan
adanya perayaan hari kelahiran Yesus dilakukan oleh gereja awal.

Klemens dari Aleksandria mengejek orang-orang yang berusaha menghitung
dan menentukan hari kelahiran Yesus. Dalam abad-abad pertama, hidup
kerohanian anggota-anggota jemaat lebih diarahkan kepada kebangkitan
Yesus. Natal tidak mendapat perhatian. Perayaan hari ulang tahun
umumnya – terutama oleh Origenes – dianggap sebagai suatu kebiasaan
kafir: orang orang seperti Firaun dan Herodes yang merayakan hari
ulang tahun mereka. Orang Kristen tidak berbuat demikian: orang
Kristen merayakan hari kematiannya sebagai hari ulang tahunnya.

Tetapi di sebelah Timur orang telah sejak dahulu memikirkan mukjizat
pemunculan Allah dalam rupa manusia. Menurut tulisan-tulisan lama suatu
sekte Kristen di Mesir telah merayakan "pesta Epifania" (pesta Pemunculan
Tuhan) pada tanggal 4 Januari.

Tetapi yang dimaksudkan oleh sekte ini dengan pesta Epifania ialah
munculnya Yesus sebagai Anak Allah – yaitu pada waktu Ia dibaptis di
sungai Yordan. Gereja sebagai keseluruhan bukan saja menganggap baptisan
Yesus sebagai Epifania, tetapi terutama kelahiran-Nya di dunia. Sesuai
dengan anggapan ini, Gereja Timur merayakan pesta Epifania pada tanggal
6 Januari sebagai pesta kelahiran dan pesta baptisan Yesus.

Perayaan kedua pesta ini berlangsung pada tanggal 5 Januari malam
(menjelang tanggal 6 Januari) dengan suatu tata ibadah yang indah,
yang terdiri dari Pembacaan Alkitab dan puji pujian. Ephraim dari Syria
menganggap Epifania sebagai pesta yang paling indah. Ia katakan:

“Malam perayaan Epifania ialah malam yang membawa damai sejahtera
dalam dunia. Siapakah yang mau tidur pada malam, ketika seluruh dunia
sedang berjaga jaga?” Pada malam perayaan Epifania, semua gedung
gereja dihiasi dengan karangan bunga. Pesta ini khususnya dirayakan
dengan gembira di gua Betlehem, tempat Yesus dilahirkan.

* Sejarah

Perayaan Natal baru dimulai pada sekitar tahun 200 M di Aleksandria (Mesir).
Para teolog Mesir menunjuk tanggal 20 Mei tetapi ada pula pada 19 atau 20
April. Di tempat-tempat lain perayaan dilakukan pada tangal 5 atau 6
Januari; ada pula pada bulan Desember. Perayaan pada tanggal 25 Desember
dimulai pada tahun 221 oleh Sextus Julius Africanus, dan baru diterima
secara luas pada abad ke-5.

Ada berbagai perayaan keagamaan dalam masyarakat non-Kristen pada bulan
Desember. Dewasa ini umum diterima bahwa perayaan Natal pada tanggal
25 Desember adalah penerimaan ke dalam gereja tradisi perayaan non-
Kristen terhadap (dewa) matahari: Solar Invicti (Surya tak Terkalahkan),
dengan menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Surya Agung itu sesuai
berita Alkitab (lihat Maleakhi 4:2; Lukas 1:78; Kidung Agung 6:10).

* Tanggal

Ada pendapat yang berkata bahwa tanggal 25 Desember bukanlah tanggal
hari kelahiran Yesus.[butuh rujukan] Pendapat ini diperkuat berdasarkan
kenyataan bahwa pada malam tersebut para gembala masih menjaga dombanya
di padang rumput. (Lukas 2:8). Pada bulan Desember tidak mungkin para
gembala masih bisa menjaga domba-dombanya di padang rumput sebab musim
dingin pada saat tersebut telah tiba jadi sudah tidak ada rumput yang
tumbuh lagi. Para pendukung tanggal kelahiran bulan Desember berpendapat
meski musim dingin, domba-domba tetap tinggal di kandangnya di padang
rumput dan tetap dijaga oleh gembala, dan meski tidak ada rumput,
padang rumput tetaplah disebut padang rumput.

Ada juga pendapat yang berkata bahwa perayaan Natal bersumber dari
tradisi Romawi pra-Kristen, peringatan bagi dewa pertanian Saturnus
jatuh pada suatu pekan di bulan Desember dengan puncak peringatannya
pada hari titik balik musim dingin (winter solstice) yang jatuh pada
tanggal 25 Desember dalam kalender Julian.

Peringatan yang disebut Saturnalia tersebut merupakan tradisi sosial
utama bagi bangsa Romawi. Agar orang-orang Romawi dapat menganut agama
Kristen tanpa meninggalkan tradisi mereka sendiri, atas dorongan dari
kaisar Kristen pertama Romawi, Konstantin I, Paus Julius I memutuskan
pada tahun 350 bahwa kelahiran Yesus diperingati pada tanggal yang sama.

Namun pandangan ini disanggah oleh Gereja Ritus Timur, karena Gereja
Ritus Timur sudah merayakan kelahiran Yesus sejak abad ke-2, sebelum
Gereja di Roma menyatakan perayaan Natal pada tanggal 25 Desember.

Oleh karena itu, ada beberapa aliran Kristen yang tidak merayakan
tradisi Natal karena dianggap berasal dari tradisi kafir Romawi,
yaitu aliran Gereja Yesus Sejati, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh,
Gereja Baptis Hari Ketujuh, Perserikatan Gereja Tuhan, kaum Yahudi
Mesianik, dan Gereja Jemaat Allah Global Indonesia. Saksi-Saksi
Yehuwa juga tidak merayakan Natal.

Ada sejumlah naskah kuno yang mencatat bahwa Yesus ditempatkan di
rahim Maria tanggal 25 Desember.Penafsiran Kitab Hagai mengindikasikan
tanggal itu merupakan tanggal datangnya Yesus ke dalam rahim Maria,
yaitu Hagai 2:18-20:

“Perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya--mulai dari hari
yang kedua puluh empat bulan kesembilan. Mulai dari hari diletakkannya
dasar bait TUHAN perhatikanlah apakah benih masih tinggal tersimpan
dalam lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan
pohon zaitun belum berbuah? Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!
Tanggal 24 bulan ke-9 (Kislev) dalam kalender Yahudi jatuh sekitar
tanggal 25 Desember dalam kalender Gregorian.


Meskipun kapan Hari Natal jatuh masih menjadi perdebatan, agama Kristen
pada umumnya sepakat untuk menetapkan Hari Natal jatuh setiap tanggal
25 Desember dalam Kalender Gregorian ini didasari atas kesadaran bahwa
penetapan hari raya liturgis lain seperti Paskah dan Jumat Agung tidak
didapat dengan pendekatan tanggal pasti namun hanya berupa penyelenggaraan
kembali acara-acara tersebut dalam satu tahun liturgi, yang bukan
mementingkan ketepatan tanggalnya namun esensi atau inti dari setiap
peringatan tersebut untuk dapat diwujudkan dari hari ke hari.

* Tahun

Tahun kalender Masehi diciptakan pada abad ke-6 oleh seorang biarawan
yang bernama Dionysius Exignus. Tahun Masehi yang kita gunakan sekarang
ini disebut juga anno Domini (Tahun Tuhan).

Bagaimana ia bisa mengetahui bahwa Tuhan Yesus dilahirkan pada tahun 1 SM?
Ia mengambil data dari catatan sejarah yang menyatakan bahwa pada tahun
754 kalender Romawi itu adalah tahun ke 15 dari pemerintahan Kaisar
Tiberius seperti yang tercantum di Lukas 3:1-2. Data inilah yang
dijadikan patokan olehnya untuk mengawali tahun 1 SM.

Di samping itu ia juga mengambil data dari Lukas 2:1-2 yang menyatakan
bahwa Kirenius (Gubenur dari Siria) pertama kali menjalankan program sensus.

Walaupun demikian masih juga orang yang meragukannya, sebab menurut
sejarahwan Yahudi yang bernama Flavius Yosefus, raja Herodes meninggal
dunia pada tahun 4 SM sehingga konsekuensinya tanggal lahir Yesus harus
dimundurkan sebanyak empat tahun. Tapi teori ini pun tidak benar,
sebab ia menganalisa tahun tersebut berdasaran adanya gerhana bulan
pada tahun saat Herodes meninggal dunia yang terjadi di Yerusalem
pada tanggal 13 Maret tahun 4 SM.

* Tradisi

Banyak tradisi perayaan Natal di barat yang merupakan pengembangan
kemudian dengan menyerap unsur berbagai kebudayaan.

* Pohon Natal

Pohon natal di gereja atau di rumah-rumah mungkin berhubungan dengan
tradisi Mesir, atau Ibrani kuno. Ada pula yang menghubungkannya dengan
pohon khusus di taman Eden (lihat Kejadian 2:9). Tetapi dalam kehidupan
pra-Kristen Eropa memang ada tradisi menghias pohon dan menempatkannya
dalam rumah pada perayaan tertentu. Tradisi “Pohon Terang” modern
berkembang dari Jerman pada abad ke-18.[4]

* Kartu Natal

Terdapat pula tradisi mengirim Kartu Natal, yang dimulai pada tahun
1843 oleh John Callcott Horsley dari Inggris. Biasanya dengan gambar
yang berhubungan dengan kisah kelahiran Yesus Kristus dan disertai
tulisan: Selamat Hari Natal dan Tahun Baru. Dewasa ini orang memakai
teknologi informasi (email) berkirim kartu Natal elektronik.

* Sinterklas

Juga dalam rangka perayaan Natal dikenal di Indonesia tradisi
Sinterklaas, yang berasal dari Belanda. Tradisi yang dirayakan
pada tanggal 6 Desember ini, sekarang dikenal dengan Santa Claus
(atau Sint Nikolas), seorang tokoh legenda, yang mengunjungi rumah
anak-anak pada malam dengan kereta salju terbang ditarik beberapa
ekor rusa kutub membagi-bagi hadiah. Santo Nikolas yang sebenarnya
berasal dari kota Myra dan diyakini hidup pada abad ke-4 Masehi.

Dia terkenal karena kebaikannya memberi hadiah kepada orang miskin.
Di Eropa (lebih tepatnya di Belanda, Belgia, Austria dan Jerman)
dia digambarkan sebagai seorang uskup yang berjanggut dengan
jubah keuskupan resmi, tetapi kemudian gambaran ini menjalar ke
seluruh dunia dengan penambahan sejumlah atribut, seperti topi
dan sebagainya. Ada pengamat agama yang menyatakan Sinterklas
justru merupakan simbol-simbol sekuler dalam Kristen yang memang
tidak ada Referensinya Alkitab, dan dikomersialkan sedemikian
rupa sehingga simbol Sinterklas diusahakan lebih populer daripada
hal-hal yang berkaitan langsung dengan Natal yang sesunggunya,
misalnya gambar bayi Yesus, dalam setiap perayaan Natal.

Dalam dunia modern, perayaan Natal secara sekuler lebih menekankan
aspek saling memberi hadiah Natal, sehingga ada yang beranggapan
Santa Nikolas makin lebih penting daripada Yesus Kristus. Tradisi
Sinterklaas Belanda menjadi bagian dari acara keluarga (untuk
mendisiplin anak-anak) dengan mengunjungi rumah-rumah disertai
pembantu berkulit hitam (Zwarte Pit) yang memikul karung berisi
hadiah untuk anak yang baik; tetapi karung itu juga tempat anak-
anak nakal dimasukkan untuk dibawa pergi. Di Amerika Serika tokoh
ini disebut "Santa Claus" dan digambarkan pertama kali oleh suatu
iklan minuman Amerika sejak tahun 1931 sebagai seorang tua gendut,
bercambang putih dan berpakain merah dengan sepatu bot, ikat
pinggang hitam, dan topi runcing lembut. Yang sering kita lihat
juga Natal dimeriahkan dengan banyak cahaya lampu berkelap-kelip.

Selain untuk menambah semarak perayaan, ini juga memiliki pemahaman
cahaya yang ada, maksudnya adalah Kristus akan mengusir kuasa kegelapan.

* Kelompok Puritan

Wajah sekuler Natal ini pernah mendapat tentangan dari orang Kristen
Puritan di Inggris pada 1647. Demi menghapus elemen-elemen yang tidak
alkitabiah, Inggris yang ketika itu dikuasai oleh Parlemen Puritan
bahkan pernah melarang perayaan Natal.[5]

Mereka menganggap perayaan Natal hanyalah festival kepausan (popish)
yang tidak punya pembenarannya dalam Alkitab. Akhirnya, kaum Puritan
di Inggris menggantinya dengan satu hari puasa. Akibat larangan
perayaan Natal ini, kerusuhan meledak di sejumlah kota di Inggris.

Bahkan, Canterbury dikuasai oleh massa pemrotes selama berminggu-minggu.
Kerusuhan akhirnya reda dengan pencabutan larangan lewat Restorasi
Raja Charles II pada 1660, kendati sejumlah pendeta tetap tidak
menyetujuinya.

* Ritus timur

Berbeda dengan tradisi perayaan Natal di barat, perayaan Natal
ritus timur banyak mengandung aspek rohani seperti puasa, bermazmur,
membaca Alkitab, dan puji-pujian. Di Gereja-gereja Arab, boleh
dibilang tidak ada perayaan Natal tanpa didahului puasa. Gereja
Ortodoks Syria melakukan persiapan Natal dengan berpuasa selama
10 hari. Sementara di Gereja Ortodoks Koptik puasanya lebih lama
lagi, yaitu sejak minggu terakhir November. Jadi, sekitar 40 hari.

Waktu iftar (buka puasa) pada tanggal 7 Januari pagi. Puasa pra-Natal
ini disebut dengan puasa kecil (Shaum el-Shagir). Meskipun agak
berbeda dalam tradisi, secara prinsip cara ini tidak jauh berbeda
dengan cara berpuasa Gereja-gereja Orthodoks lain.

Makna Lilin Dalam Natal

* Lilin

Dalam masa Natal, Lilin menggambarkan atau memberikan gambaran tentang
Kristus.[8] Kristus dilambangkan sebagai terang bagi dunia yang gelap.
Di dalam Alkitabpun tertulis tentang terang, di dalam Perjanjian Lama,
Yesaya 9 : 1-6, “terang yang besar”, sedangkan di dalam Perjanjian Baru,
Yohanes 1 : 1-18,” terang manusia”.

Bukan hanya di dalam peribadahan saja, di rumah-rumah dan di toko-
toko kerap di hias dengan lampu-lampu yang kelap-kelip, hal ini muncul
sejak zaman patristik sebagai gambaran akan terang yang mengalahkan
kegelapan.[8] Penggunaan lilin dan lampu-lampu kelap-kelip merupakan
pengaruh dari pesta cahaya Yahudi atau Hanukah.

Hari raya Hanukkah dirayakan sekitar masa Adven dan Natal, dan
terkadang sering diplesetkan dengan istilah Natal Yahudi.

* Ekonomi

Natal biasanya merupakan stimulus ekonomi tahunan terbesar di berbagai
negara di dunia. Penjualan barang-barang meningkat tajam di berbagai
area retail, dan pada musim Natal orang-orang membeli berbagai hadiah,
dekorasi, dan persediaan Natal. Industri yang bergantung pada penjualan
di musim Natal antara lain kartu Natal, pohon Natal, dan lain-lain.

Selain kegiatan ekonomi terbesar, Hari Natal di berbagai negara Barat
merupakan hari paling sepi bagi dunia bisnis; hampir semua toko retail,
institusi bisnis dan komersial tutup, dan hampir semua industri
berhenti beroperasi. Studio-studio film merilis berbagai film berbiaya
tinggi pada musim Natal untuk menghibur orang-orang, yang sedang berlibur.

* Kegiatan sosial

Selama puasa, jemaat gereja-gereja Koptik, seperti Gereja Koptik Sayidah
el-Adzra’ (Santa Maria), di Madinat al-Tahrir, Imbaba, Kairo mempunyai
kebiasaan hanya makan sekali sehari dengan menu makanan semacam tempe
(dari kacang-kacangan), namanya tamiya atau falafel yang dimakan dengan
sepotong roti dan air putih.

Karena itu, uang belanja yang biasanya mereka belikan daging dan menu
lumayan mewah lainnya dikumpulkan dan diserahkan langsung kepada orang
orang miskin yang dikoordinasi oleh Gereja.

* Galeri :






















____________

Penutup
____________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

...dan...

Selamat malam...!



























________________________________________________________________
Cat :

http://amzn.to/1VW0ktU
cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork cara membuat link pada gambar
cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar