Showing posts with label Hal Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Hal Keluarga. Show all posts

Wednesday, September 12, 2012

"ANAKKIDO HAMORAON DI AU Vs MAPULTAK SIAN BULU"

#SELAMAT PETANG PARA KAWAN#
(Menyimak 10 Lirik Lagu Batak yang berhubungan dengan tanggung jawab orang
tua pada anaknya-marinang panggotti/marinang panoroni/beribu tiri atau ayah tiri)
~Bagian satu~
_______________________________________________________________

Para kawan...! Berikut hata patujolona :

"Anakki do hamoraon di au" adalah salah satu lagu ni halak hita
yang menurut hematnya saya bermaterikan/inti pesan, "Betapa
bertanggung jawabnya orang tua nihalak hita pada anaknya".
Mengapa tidak ... !

"...nang so tarihutkon, aupe akka dongan, nada pola marsak au disi.
Alai anakon hida dang jadi hatinggalan, sian dongan mangodang nai"
ninna anggia. selanjutnya ninna muse :

"..Ai tung so boi pe au inangda, marnilam marjom tangan. Tarsongon
dongan-dongan hida marsedan marberlian. Alai sudena gelleng hida
ikkon sahat tu tujuan, anakkonki....do maraon di...a u....".
begitu kawan kelanjutannya. Dan jika memang demikian pade attong.
Amin...! amin ya robbal alamin. Inomnotu si anggia. Hahahahaha...

Para kawan...! Jika saya bertanya, "apakah demikian semua orang
tua nihalak hita pada anaknya" Ah...neondottong...! Tidak adakah
yang sebaliknya...? Hahahaha...bisa bikin anak, tapi setelah
punya justru ditinggalkannya atau tidak diperdulikannya karena
sudah menjadi bang toyib yang tak mau pulang-pulang.

Atau sang suami istri yang memilih jalan cerai karena  tingginya
egoisme tanpa perduli pada keadaan anak. Atau...atau...atau....
ah....sungguh rumit urusannya.

Para kawan...!

Berikut materi pesan/inti pesan dari 10 lirik lagu batak sebagai
"gambaran penderitaan seorang anak akibat ulah orang tuanya yang
telah dibuat dalam bentuk tabel". Hal ini dibuat sebagai
pembanding dengan lagu "Anakkido hamora on di au" .

Berikut tabelnya :

______________

KESIMPULAN
______________

Para kawan...!

10 lagu di atas, jelas merupakan lawan dari lagu anakido
hamora on di au. Gambaran perderitaan anak cukup jelas
terlihat akibat ulah orang tuanya.

Semoga kedepannya kita semua para orang tua lebih bijaksana
dalam menyikapi semua persoalan keluarga kita masing-
masing hingga kita terhindar dari 10 tragedi kehidupan keluarga
nihalak hita ini.

Sebagai catatan : Lirik lagu hanyalah sebagai gambaran kawan.
Dalam kenyataannya tidaklah separah apa yang digambarkan oleh
lagu baik yang postifnya maupun negatifnya.

"Mapultak sian bulu" bisa jadi istilah ni para oppung-oppungta
najolo tu para generasina aso tetap bertanggungjawab iba tu
anak niba, "Ulang sanga dakdanak nai boto iya, ise aya niya,
songon namapultak sian bulu" ninna.

Selamat petang para kawan, semoga info menambah wawasan kita
bersama. Botima.(rfs)....Dison Lirik laguna
________________________________________
Cat :
PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

Tuesday, February 21, 2012

"BAHAT DIHO AMANG/INANG"

#SELAMAT PAGI TAPANULI#
(Satu Lagi Yang Indah Dari Pendidikan Anak Non Formal Tapsel) _______________________________________________________________
Dongan ale dongan...! Ale-ale dongan...! Saya ingin berkata, "Sungguh hebat FB ini dalam menguncang naluri ingin tahu". Macam status yang berkeluaran, bagaikan magnet yang siap menarik isi pikiran hingga macam memori yang sudah terlupakanpun muncul kembali kepermukaan dan minta dicari tahu apa maknanya.

Pagi ini saya tertarik pada pengistilahan ni orang tua tu anakna dalam kalimat "Bahat diho Amang/inang". Sepintas terlihat sepele, tapi jika ditelusur lewat unsur "Etika Kesusastraan" sungguh sesuatu yang memberi arti dan pantas untuk dipelajari.

Belum lagi tinjauan agamanya yang dipadu dengan adat, rasa-rasanya tulisan ini pantas untuk di muat di koran "Radar Angkola" Kakakaka...kkk...udah ada belum ya..!

Dongan ale dongan...! Tulisan ini akan mencari jawabannya, ada apa dibalik pengistilahan "Bahat Diho Amang/Inang". Kakakakaka...kkk.. "Mencari Jawaban..." Keren kali rasanya ketika ditulis. Padahal dulunya awa justru menghindari jawabannya. Okelah Cs. Selanjutnya "tup" masuk majo patujolona tu "Sub Judul Baru". _____________________________________
PUTIH BAGAIKAN KAROTES NABOTTAR
_____________________________________
Tentang seorang anak yang baru lahir, sering di umpamakan bagaikan karotes nabottar. Orang tualah yang menulisnya/melukisnya untuk mejadi nasrani atau majusi. Sungguh suatu perumpamaan yang bagus. Dan salah satu cara melukis/menulis itu digambarkan lewat tulisan sederhana ini.
__________________________
KARUPUK DOPE - SADIA SUDE
__________________________
Para boru tulang...! kalau saya ingat kalian dopak menek, jadi "Sim" do roha. Masih pahamkan artinya "Sim roha kan ?"...kakakakak...kkk... macam mana tidak, kadang kala mereka ini suka masak bersama yang dalam bahasa hitana "Mardakan-dakan" sangape "mardahan-dahan".

Dikala masak bersama ini, kadang kala satu orang beli krupuk. Terus dimakannya sendiri tanpa menawarkan sama kawannya. Kawannya inipun ingin, maka beliaupun meminta, "Sotik Peda Kele ?" katanya dengan sedikit mengenas. Tapi. entah bagaimana perkalian si borutulang ini, mengasih saotik itupun susahnya bukan main. Hahahaha...natola siar da kele.

Beda dengan para dongan lainnya, yang dalam bahasa hitana para bayo-bayo. Sikap mereka kadang terkesan seperti pahlawan, malu jika bemberi kesan pada kawan lainnya tidak mampu, "Sadia Sude" adalah kalimat yang paling disukainya pada setiap kunjungan ke lopo. Padahal, beliau tak punya uangnya. Hahahaha...halak hita, "Modal pergaulan boi do mangolu au, Tarlobi dipenampilan aksi doi doau, ada harga diri mengantisipasi" katanya pula.
_________________________________________
BAHAT DIHO SIAN ORANG TUA TU ANAKNA __________________________________________
Dongan ale dongan...! kejadian diataskan sepertinya memberi kesan bahwa orang yang terlalu pelit itu tidak bagus, begitupun orang yang terlalu baik. Dan hal ini sering kita rumuskan dengan"Unang isi TU nai" ninna.

Mengetaui hal ini tentulah para orang tuatta tidak membiarkannya. Mereka merasa perlu menciptakan suatu pendidikan/pengajaran agar anaknya khususnya dibidang pemberian dan menerimaan makanan lebih bijak sana, menawarkan pada oranglain apakah mau atau tidak.

Dongan ale dongan...! pengajaran ini, tidak mereka berikan pada saat anak sudah mengerti makan, tapi justru sebelum tahu rasa makanan. Dan bagi saya pribadi, justru disinilah etika dan estetika sastra tapanuli itu terasa. Hebat bukan...? "Bahat diho amang, bahat diho inang". kata para orang tua. "Ea...ea...ea...ea" jawab sianak pula. ______________________________________________________________
AISYAH ABDURRAHMAN AL JALAL, AL MUATSTSIRAT AS SALBIYAH ______________________________________________________________
Dongan ale dongan...! jolma namar goar nai ginjangi, seorang ahli psikologi anak islam mandokkon, "Periode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama) merupakan periode yang amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak pada periede ini, nanti akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengan nyata pada kepribadiannya ketika menjadi dewasa.

Ahli lainnya berkata mandokkon pun jadi :

Memberikan kasih sayang yang diperlukan anak dari pihak kedua orangtua, terutama ibu. Ini perlu sekali, agar anak belajar mencintai orang lain. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini,maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. “Seorang ibu yang muslimah harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan.
_____________
KESIMPULAN
_____________
Terkadang seorang anak menimpakan kesalahan pada orang tuanya tentang suatu etika atau estetika dengan alasan belum pernah di ajarkan. Jika kita amati baik-baik kadang pula bukan pengajaran yang tidak diberikan tapi cara kita dalam memaknainya yang kurang tepat/benar.

 "Bahat Diho" adalah suatu pengajaran etika tentang bagaimana seharusnya kita menghargai seseorang khususnya dibidang konsumsi makanan. Semoga pula cara ini
tetap sama kita laksanakan diluat manapun kita berada. Bukankah kita semua mengingkan anak yang bisa menghargai orang lain. Tanda tanya (?)

Sungguh nilai kesusastraan ni halak hitai tinggi/tio bagaikan danau toba.

Tio do tao toba jonokhon ni Tuktuk Parapat
na jarang do luluan songon aturan ni adat batak
Dipuji do na burju dipodai do namarsak
di upai do naloja diingotkon do na lupa

Selamat pagi dan Selamat Beraktivitas. Jika para dongan lupa istilah "Bahat Diho" maka tulisan ini telah mengingatkannya.Enter...(rfs).

Thursday, January 19, 2012

"DARSAT-DURSAT SONGON JELOK ROBA"

#SELAMAT SIANG TAPANULI#
(Sekilas Pendapat Pada Prilaku)
____________________________
"Nabia bia doma, nagot bia doho lakna. Maruba so maruba taridaho ari-ari ho manyada. Halak matudia-tudia tai ho palnat sajo huida. Songon jelok roba Darsat - Dursat sibuk borat, mambaen hita malarat" Ning si Masdani pada suaminya Odang S pada lagu yang marjudul "Jelok Roba" Kakakakaka...Hahahahaha....hehehhehehe...hihihihi...!.

Dongan ale dongan...! Memang kalau dingat-ingat parange ni ama-ama dihitaan kadang mau mikim-mikimnya awa. Bagaimana tidak, awa berangkat sekolah jam 7 si ama-ama sudah darsat di kode kopian, pulang awa jam 2 masih disitu juga. Entah apa yang dibahas tak tahu awa. Sementara sang istri sitirip ina-ina sudah marjabar jebur tujae-tujulu puntang-panting majegeskon ngolu.

Dongan-dongan...! memang tidaklah semua seperti itu ama-ama dihitaan, tapi saya agak yakin cukup banyak yang seperti itu, apalagi mengingat sekarang ini musim nonat. Ngobrol ngarol ngidul, membahas parange ni pamaretta dengan modal secangkir kopi dan beberapa batang rokok paling mengasikkan.

Para dongan kele atau ito khususnya naung ina-ina jika menghadapi suami seperti ini, yang suka darsat-dursat di kode kopi apakah masa sekarang atau yang akan datang, maka saya menyarankan agar ama-ama seperti ini di "Jungkit" di bikin bergerak margeser, marpikir keras, berbuat situtu agar kehidupan rumah tangga lebih baik lebih sejahtera.

Berikut hata-hata panjungkitnya para ito atau iboto :
 - Bagaimananya suami tercinta, mau kita perpanjangnya ke melaratan ini sampai titik darah penghabisan.
- Si Maradong saja yang sudah jelas-jelas maradong masih tetap kerja keras memperbaiki hidup, bapak sudah jelas-jelas tidak maradong masih juguk-juguk saja.
- Bapak kalau malas cari duit, lama-lama kumis bapak yang saya jual, mau apa.
- Si Aha-an sudah punya mobil 27 masih ngak mau dia tidur siang. Bapak rodanya ajapun tak punya sudah nyantai- nyantai tidur siang. Usaha dong pak.
- Dst, dengan mengucapkan perkataan kritis tapi memotivasi.

Dongan ale dongan...! kehidupan setiap keluarga memang tidaklah bisa sama sejahteranya, tapi saya yakin tujuannya bisa sama semua yaitu untuk mendapatkan kesejahteraan. Dan kesejahteraan satu keluarga sungguh banyak dipengaruhi oleh perbuatan sang suami.

Karena itu, jika anda dongan adalah doli-doli, yang jika sudah tiba waktunya jadi ama-ama, maka hindarilah malas. Begitu juga dengan anda dongan yang sudah ama-ama sekarang. Hindari jugalah rasa malas. Dan bagi anda kele yang masih bujing-bujing, carilah calon suami yang tidak pemalas agar puntang-panting anda tidak terlalu banyak jika sudah menikah.

Dan yang terakhir, bagi dongan yang sudah ina-ina, jika mendapatkan suami yang suka darsar-dursat ini seperti jelok roba, maka jungkitlah kele. Itu Tugas anda sebagai istri yang baik. Botima. (rfs) Enter...!
_______________________________________________________________
Suka · · Bagikan · 13 Januari pukul 17:30 Intan Sari, Nur Kholiza Hutasuhut dan 2 orang lainnya menyukai ini.

Tuesday, January 17, 2012

"AMANG PARLAGU DA NALAGU"

#SELAMAT SIANG MARGA'S FAMILLY COMMUNTY#
(Sekilas Pendapat Pada Masalah Keluarga)
_________________________________________________________________

       Kakakakaka.....kkkk..... Dongan...! O...dongan ! dongan nadua tolu, para pemilik marga's, khususon dongan naung mamiliki "Parsonduk Bolon" manang nadidiape di tano ni tuhanon, hahahaha...horas...!

Seiring dengan berjalannya waktu dalam dunia FB, dunia naso tarida mata halakna tai di ida roha jolmana, saya tertarik ingin mengetahui bagaimana seharusnya kehidupan berumah tangga ditinjau dari sisi sastra batak/Tapanuli.

Secara umum tentunya kita sepakat, kehidupan rumah tangga itu seharusnya songon siala sappagul, rap tuginjang rap tu toru muda magulang rap margulu. Atau seharusnya sapangambe sapana- ili, saparranggutan sarahasia sangape 1 + 1 unang gabe dua, tai 1 + 1 sai tong ma nian sada, kata si Odang S pada parsonduk bolonnya si Masdani.

Para paragat, maksud saya para pemilik marga di adat yang sudah diadat diparsaripeonna, yang mau saya sampaikan lewat tulisan ini bukanlah pernyataan diatas, tapi pernyataan dari Maestro Sastara batak khusunya pada bidang seni musik dan opera yaitu Tilhang Gultom (alm).

Belia memberi gambaran bagaimana kehidupan yang harmonis dalam satu keluarga antara suami dan istri lewat satu lagu yang berjudul "Tumba Sisir".

Dongan naung jadi ipar sangape lae...! Jika dongan sudah berkeluarga tentunya sering terjadi dialog antara anda dengan istrinya bukan ? Dialog pada saat bersisir inilah atau saat marsuri inilah terjadi komunikasi antara suami dan istrinya yang meberitahu "Didalam keluarga ini ada persoalan tapi tetap harmonis".

Bagimana harmonisnya, bagaimna bahagianya kehidupan rumah tangga tersebut...! berikut dongan ale dongan kutipan lagunya dohot saotik komentar :

Sang suami berkata pada istrinya ketika melihat istrinya bersisir atau marsolek : ________________________________________________________
BEGE MAJOLO DA HATAKKON INANG PARSONDUK BOLONKHU HATAHANONKHU MANA TUTU PABOAONONKHU MA NA TOHO
Para dongan...! mendegar pernyataan ini, tetulah sang istri dengan senyum manis+lesung pipi yang naik turun dan rambut yang sudah mulai digulung berkata pula : _______________________________________________________
ALE AMANG SIADOPAN UNANG INGOTBE NAUNG SALPUI
AITUNG SOBOI DO MANANG SUMAN SONGON BINAENNI AMATTAI Kakakakaka...kkkk...belum disampaikan si suami maksudnya sudah terlebih dahulu ditangkap sang istri maksudnya, sehingga keluh kesah kehidupanpun menjadi lebih terkendali, sang suami berkata lagi : ______________________________________________________________ HUINGOTMA NAUNG DUNG NAHU ULAHON NAUNG SALPUI
GABE TARSUNGGUL MANA LUNGUN DIBAGASAN ROHAKKI
Dongan...! nalungun dibidang si ulaon bisa jadi semua kita pernah mengalaminya, apakah gaji yang tak dibayar, tak cukup atau hilang. Atau bahkan jadi pengangguran hingga mangan pe sala, so mangan pe sala. Terhadap hal ini sang istri menjawab dengan santunnya hingga kesan si istri sebagai parumaen naburju parumaen sitiruon lebih terasa. Kata sang istri kawan : __________________________________________________________
NUNGA SUDEBE DI BERENGAN AKKA DONGAN NAMARIBOTO
ASA OLO MARLEAN-LEAN NADI ETONGDO LAHO MANGOMO Hahahaha...mantap bukan jawabannya dongan, bukan seperti sebagian istri dongan yang lain, awa belum ngomong dongan parsaripean sudah matu bek-bek, listriklah katanya belum dibayar, uang sikola dakdanak tertunda, kerja siang malam tapi gaji ngak kelihatan, katanya. Kan pusing awa jadinya. Tapi tidak demikian halnya kawan dengan istri pada lagu ini, beliau cukup pengertian hingga suaminya berkata : __________________________________________________________
AHAPE DANG ADONG NAHURANG DI AU DI TIKKION
HOLAN MARMEAM DO AU TONGTONG DOHOT SIGODANG MAGODANGKON
Alagleh...! sang suami, kadang karena baiknya sang istri tidak jarang pula membuat suami jadi lupa diri. Istri pontang panting manjalahi ngolu malah suami manukkek di kode kopi, darsat dursat sasadari songon jelok roba. Terhadap hal ini, siparumaen naburju membandingkan : ________________________________________________________
AMA DO NATUTU LAO MANGURUS AKKA BORUNA
MANANG DIA PANGIDOANNA AITUNG SO OLO DOI MANJUA
Yah...! kalau dipikir dongan, memang ama do natutu dalam mangurus borunya, manang aha dipangido, ai tong so olo doi manjua. Kakakakaka...dongan...! bukan berarti suami tidak tutu, tutu doda kongsi. Suami juga banyak yang ber tife pekerja keras, dan kerja keras ini untuk siapa lagi kalau bukan untuk istri dan anak. Suami berkata :
__________________________________________________________________
SIPANGANON PETUNG TABO PARABITON PETUNG ULI
GONOP ARI HAMI KAREJO ASALMA SONANG DA ROHAMI
Oloda...oloda...! suami memang sering meberikan alasan kilat bahwa kerja itu dilaksanakan demi sang istri. Semoga alasan ini dongan tidak dibikin-bikin, hingga sang istri merasa senang : _______________________________________________________
ULOS SURI-SURI...! MATOMBUK HO DI TONGAN-TONGA
AMANG PARLAGU DA NALAGU AITUNG SONANG DO AU TUTU Hahahaha...sonang mada rohamu dongan parsaripean, dongan sarahasia inang parsanduk bolonkhu. Semoga sai tibu nian dapot nai rohatta, nauli do hagiotta : ____________________________________________________
TAOI DATARA BUNGA TU TAONI DA SILALAHI
MOLO SADA DO ROHATTA SAI HATOP DO RO NA ULI
Semoga...para dongan naung marsaripe. Dengan kerjasama yang baik antara istri dengan suami mengapa tidak. Bukankah kita hidup untuk mendapatkan nauli ini, untuk mendapatkan hagabean. Terhadap hal ini sang istri meminta : ______________________________________________________
SAHAT SAHAT NI SOLU SAI SAHATMA TU BATTEAN
LELENG HITA MANGOLU SAI SAHATMA TU PANGGABEAN
Dongan ale dongan...! Amang parlagu da na lagu, jika dalam kehidupan rumah tangga kita dapat saling marsada ni roha dibidang parkarejoan sangape barabiton, pasonang roha disipanganon, marposniroha dipangalaho bope pakataion, apa tidak gampang ro nauli itu dapot hamoraon hagambeon itu. Dan jika ingin dapat, mengapa tidak kita harmoniskan saja keluarga kita. Ataukah memang sudah harmonis ? hahahaha.... Semoga para dongan...! Amang parlagu da na lagu ni inang ni si utcok sangape butet. Enter...! (rfs)
__________________________________________________________________
Herawati Siregar, Sondak Hasibuan, Zulhan Es dan 4 lainnya menyukai ini.

PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork