Jumat, 17 Agustus 2012

"PARHUTA-HUTA"

#SELAMAT PAGI PARA DONGAN"
(Mangaligi holong ni parhuta-huta dohot parkota)
~ Ditulis dalam rangka menyambut datangnya 1 Syawal 1433 H) _______________________________________________________________

"Au anak ni par huta-huta , ho anakni parkota. Au margulu hodok ia ho margulu harto....Birong do bohikki, bottar ias do bohimi Bajukku sian monja sian butik pakeanmi.... Manat rimang-rimangi, denggan jolo pikkiri molo naeng rapkon au ho ito, unang sumolsol bagi ho di pudi" Syair Timbul Siahaan dalam lagu yang berjudul
"Parhuta-Huta"

"Porkon siakko udan...mayupmaho pangitean. Hudok hian do tuho baya...
parhuta-huta do au...hudok hian do tuho baya...parhuta-huta do au..."
Syair bung Lubis pula dalam lagu yang berjudul, "Parhuta-Huta". kepada
istrinya yang saya asumsi sebagai orang kota yang tidak mau
mardalan pat tu huta ni namboruna.

Para kawan...! Meskipun kedua lagu tersebut diciptakan oleh orang
yang berbeda dan penyanyi yang berbeda pula, tapi meteri pesannya
cukup jelas, seolah memberi gambaran "Betapa malangnya nasib
parhuta-huta dalam urusan kasih sayang"

"Ada apa dengan  parhuta-huta, mengapa kesan yang timbul begitu
negatif dan mengapa malang nasib cintanya parhuta-huta ini sesuai
dengan isi lagu tersebut" adalah hal yang mau saya gambarkan
lewat tulisan ini

Para kawan...! Mohon waktu dan tempat untuk memberikan pendapat.
"Jika anda tidak suka dengan istilah "Parhuta-huta" ini, sesungguh-
nya saya juga tidak menyukainya".
_____________________________________

Pemahaman Umum Istilah Parhuta-Huta
_____________________________________

Para kawan...! Saya yakin dengan tanpa perlu memperinci kita yang
tinggal di kota-kota kecamatan mapun yang tinggal di huta-huta
Tapanuli sepengertian mengenai hal ini khususnya mengenai gambaran
seberapa sulitnya/rumitnya untuk sampai ke huta-huta tersebut.

Tentang istilah parhuta-huta dihubungkan dengan kepribadian, sungguh
tak mampu saya memberi penilaian. Kalaupun ada hubungannya dengan
materi, itu adalah isi dari lagu tersebut yang saya coba analisis.
________________________________
Beda Parhuta-Huta Dohot Parkota
________________________________

Para kawan...! Bedanya dalam hal ini tidaklah saya liat secara
universal. Andai dilihatpun sungguh sangat sulit. Karena itu saya
hanya memberi gambarannya saja dalam hubungannya dengan "kasih
sayang naposo bulung pemuda parhuta-huta dengan nauli bulung parkota"

Begini kata pemuda parhuta-huta itu kawan :

Au anak ni par huta-huta
ho anakni parkota
au margulu hodok
ia ho margulu harto

Birong do bohikki
bottar ias do bohimi
bajukku sian monja
sian butik pakeanmi

Hal lainnya yang dikatakan :

Ulang pola mobil
kareta pe soada
lereng pe ito
dang na boi tartuhor au

Demkian sekilas gambarannya kawan, dengan alinea penutup :
Manat rimang-rimangi, denggan jolo pikkiri molo naeng rapkon au ho ito,
unang su molsolbagi ho di pudi"

__________________________________________

Parhuta-huta dan Parkota Pada Masa Pacaran
__________________________________________

Para kawan...! Kalau kita melihat secara umum, baik dalam kehidupan 
nyata maupun lewat beberapa sinetron atau film sungguh banyak hal
yang indah dari "Percintaan seorang anak parhuta-huta dengan parkota"

Dan percintaan ini, tak jarang pula  menunjukkan "betapa butanya cinta"
dan "betapa tidak rasionalnya cinta". Meskipun seorang pemuda kampung
atau desa secara jujur mengakui kekurangannya dalam segi peampilan
atau segi materi tapi tak jarang sang gadis tetap saja mencintainya.

"Au anak ni par huta-huta , ho anakni parkota. Au margulu hodok
ia ho margulu harto....Birong do bohikki, bottar ias do bohimi
Bajukku sian monja sian butik pakeanmi. Manat rimang-rimangi,
denggan jolo pikkiri molo naeng rapkon au ho ito, unang su molsol
bagi ho di pudi" Syair Timbul Siahaan dalam lagu yang berjudul
"Parhuta-Huta"

Dan tak jarang sang gadispun rela berkorban, asal cintanya kesampaian.
Apakah berkorban untuk siap dibawa kawin "Marlojong" atau bahkan
siap pula untuk"Kawin sirih" dengan tampak menyesal sedikitpun/
"inda sumolsol bagi" Katanya.
______________________________________________

Parhuta-huta dan Parkota Setelah Berkeluarga
______________________________________________

Para kawan...! Waktu berputar, masa remajapun pada akhirnya berakhir
dalam satu titik. Titik memasuki masa berkeluarga. Masa dimana hidup
terkadang tidak semudah masa remaja. Tanggung jawab kedua insanpun
menjadi lebih besar, apalagi dengan lahirnya atau bertambahnya anak.
Pun sarana dan prasarana yang harus dipenuhi guna tetap bertahannya
suatu keluarga.
Untuk alasan demi bertahannya suatu keluarga ini mungkin, maka rasa
cinta dari seorang istripun menjadi terkesan berkurang. Yang sebelum
memakai cinta buta, sekarang menjadi "cinta yang terang" dan tak
jarang "terang gelapnya cinta" seorang istri pada suaminya dipengaruhi
pula "Setebal apa hepeng suami dapat menerangi" hahahahaha....
Mereka bilang, "Abang marhepeng abang disayang, abang tak marhepeng
abang di sipak" Ah...hhhh...sedih kali nasib cinta parhuta-huta ini.

Para kawan...! Dalam kenyataan hidup, terkadang seorang istripun bisa
menyudutkan sang suami dengan istilah Parhuta-huta. "Ho kan halak
parhutra-huta, aha muse mehe nabinotomu" katanya. Atau "Patukdo
susa hita maruba, gayamupe attong parhuta-huta do". Ninna muse.

Pendek hata, cinta sang istri yang pada saat remajanya tidak memakai
logika, karena terkalah kan perasaan kasih sayang, setelah berkeluarga
sebaliknya, logika menjadi menjadi lebih jalan hingga tak jarang duit
satu senpen menjadi masalah besar. Istirahat 1 jampun terkadang dianggap
sebagai pemalas.

Bahkan untuk menjalin silaturrahmipun kepada sang bou yang hanya di
lakukan sekali dalam setahun tepatnya di  Hari Raya menjadi sangat
diperhitungkan, bukan saja materinya tapi juga "lojanya" dan tak
jarang menim bulkan prustasi pada sang suami.

"Ulang be sapai au, ulang be jalaki au. Baen ma anggi hagiotmu, anso
sonang rohamu....hudok kian do tuho, parhuta-huta do au. Sannari di
sosali ho, sannnari disosali ho" sahut sang suami dalam keprustasiannya.

Para kawan...! "Porkon siakko udan...mayupmaho pangitean. Hudok hian
do tuho baya...parhuta-huta do au...hudok hian do tuho baya...parhuta-
huta do au..." Bagi saya sudah cukup memberi gambaran betapa menyakit-
kannya cinta "ketika logika yang menjadi penilaiannya".

_______________________

Kesimpulan dan Saran
_______________________

Para kawan...! Inti pesan yang mau saya sampaikan adalah :

- Janganlah suka menekan/me-mop seseorang dengan istilah "parhuta-huta"
karena sesugguhnya artinya dalam bagi mereka yang suka mencari makna.

- Andai saja kita manusia dapat menentukan, siapa yang menjadi ibu kita
atau bapak kita pada saat kita lahir dan dimana kita lahir maka agama
islam itupun menjadi tidak benar kawan. Bukankah kita sama tahu rezeki,
kematian dan "kelahiran" adalah urusan sang pencipta.

- Khusus tuk bara iboto, anggi ataupun kakak atapun para borutulang
yang punya nasib lahir jadi anak kota dan mendapat jodoh sang suami
yang ornagtuannya/mertua tinggal jauh di huta-huta sana kiranya tetap
lah ikhlas menjalin silaturrah mi pada sang bou meskipun harus
"mardalan pat". 

- Para kawan, ito atapun borutulang, "Mari sama kita sambut lebaran/
Idulfitri 1 Syawal 1433 H ini dengan hati yang penuh ikhlas dan
gembira. Kiranya amal ibadah kita di bulan ramadhan ini mendapat
ridho dari Allah Swt.

- Saya a.n Rizki Fattah Siregar mengucapkan, " Taqobbal minna waminkum
syiyamanna wasyiamakum..... Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1433 H,
mohon maaf lahir dan  bathin". Sekalian manarohakku...Merdeka...!(rfs)
_____________________________________________________________
Yoesoef Kardawi Ritonga, Siti Aja dan 9 orang lainnya menyukai ini.

PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar