Sabtu, 23 November 2013

Gasing Batak : Dari gasing Angkola sampai Gasing Dunia

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar gasing batak, nusantara dan dunia)
_________________________________________________________

























_______________

Kata Pengantar
_______________

Salah satu nilai lebih yang penulis rasakan sehubungan dengan macam
kegiatan budaya batak adalah sifatnya yang dinamis, tak terkecuali
budaya dibidang kegiatan permainan hiburan.

Hiburan permainan gasing misalnya, meski tidak terlalu populer seperti
di daerah Melayu sampai sekarang, tapi di tanah batak sekitar tahun
70-an dan 80-an masih cukup populer.

Untuk mengenang kepopuleran permainan gasing tersebut, berikut info
sekitar gasing. Selamat menyimak.
________________________

Sekilas tentang gasing
________________________

*Pengertian

Gasing / Gangsing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan
berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua
yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali.

*Jenis mainan

Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga
digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib.

*Bahan umum

Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari
plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi
bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan
tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon.

*Panjang tali gasing

Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang
yang memainkan.
Gasing dari Jepang

Gerakan gasing berdasarkan efek giroskopik. Gasing biasanya berputar
terhuyung-huyung untuk beberapa saat hingga interaksi bagian kaki
(paksi) dengan permukaan tanah membuatnya tegak.

*Proses perputaran gasing

Setelah gasing berputar tegak untuk sementara waktu, momentum sudut
dan efek giroskopik berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya
bagian badan terjatuh secara kasar ke permukaan tanah.

*Macam nama gasing

Sejumlah daerah memiliki istilah berbeda untuk menyebut gasing.
Masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta menyebutnya gangsing atau
panggal. Masyarakat Lampung menamaninya pukang, warga Kalimantan
Timur menyebutnya begasing, sedangkan di Maluku disebut Apiong dan
di Nusatenggara Barat dinamai Maggasing.

Hanya masyarakat Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat, Tanjungpinang dan
Kepulauan Riau yang menyebut gasing. Nama maggasing atau aggasing juga
dikenal masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Sedangkan masyarakat
Bolaang Mongondow di daerah Sulawesi Utara mengenal gasing dengan
nama Paki. Orang Jawa Timur menyebut gasing sebagai kekehan.
Sedangkan di Yogyakarta, gasing disebut dengan dua nama berbeda.
Jika terbuat dari bambu disebut gangsingan, dan jika terbuat dari
kayu dinamai pathon.

*Bentuk gasing

Gasing memiliki beragam bentuk, tergantung daerahnya. Ada yang bulat
lonjong, ada yang berbentuk seperti jantung, kerucut, silinder, juga
ada yang berbentuk seperti piring terbang. Gasing terdiri dari bagian
kepala, bagian badan dan bagian kaki (paksi). Namun, bentuk, ukuran
dan bagian gasing berbeda-beda menurut daerah masing-masing.

*Gasing bambu

Gasing di Ambon (apiong) memiliki kepala dan leher. Namun umumnya,
gasing di Jakarta dan Jawa Barat hanya memiliki bagian kepala dan
paksi yang tampak jelas, terbuat dari paku atau logam. Sementara
paksi gasing natuna, tidak nampak.
  
*Jenis gasing

Gasing dapat dibedakan menjadi gasing adu bunyi, adu putar dan adu pukul
Permainan gasing

Cara memainkan gasing, tidaklah sulit. Yang penting, pemain gasing
tidak boleh ragu-ragu saat melempar gasing ke tanah.

Cara:

Gasing di pegang di tangan kiri, sedangkan tangan kanan memegang tali.
Lilitkan tali pada gasing, mulai dari bagian paksi sampai bagian
badan gasing. lilit kuat sambil berputar.
________________________

Gasing Batak (Angkola)
________________________


















*Gasing dan Permainan anak-anak

Tidak terlalui banyak yang penulis ketahui mengenai gasing di Tanah Batak,
begitupun seingat penulis permainan ini cukup sering dimainkan oleh anak-
anak muda khsusnya di Angkola.

* Tempat permainan

Mereka biasanya memainkannya di jalan-jalan besar beraspal, tanah-tanah
berpasir dan cukup sering juga diteras-teras sekolah SD.

* Musim main gasing

Permainan ini jika dilihat dari musim, maka lebih sering dimainkan pada
musim lagi menunggu panen padi. Pada musim ini para naposo bulung
juga cukup sering diikutsertakan dalam pengambilan kayu ke hutan-
hutan. Untuk menghindari kebosanan pada saat diperjalanan maka
permainan gasing inipun dimainkan.

*Asumsi menghilangnya permainan gasing dari Tanah Batak

Seperti diketahui gasing pada umumnya terbuat dari kayu yang empuk
sehingga mudah di bentuk. Kenyataannya di tanah batak justru lebih
banyak kayu yang keras sehingga besar kemungkinan hal ini mempengaru
minat banyak orang dalam memainkan gasing ini.

Hal lainnya, permainan gasing hanyalah salah satu permainan di tanah
batak, permainan lainnya masih banyak yang mungkin saja lebih menarik
bagi sebagian anak-anak.

*Gasing dan Animisme

Sepengetahuan penulis tidak ada hubungan gasing dengan animisme di
tanah batak, seperti cerita gasing diwilayah lainnya di Nusantara. Gasing
tanah batak murni permainan.

*Cara Memainkan

Setelah kayu dibentuk, selanjutnya gasing tersebut akan dililit tali yang
ukuran umumnya lebih tebal atau kuat dibanding benang secara umum.
Setelah itu gasing ini kemudian akan dilemparkan untuk kemudian
berputar dalam jangka waktu tertentu.
Untuk menghasilkan pitaran yang kuat maka tak jarang pula para
anak-anak menggunakan tutup botol atau "kinco-kinco" yang akan
disepilpkan antara jari tengah dan jari telunjuk.
__________________________
Sejarah gasing Nusantara
___________________________

Gasing merupakan salah satu permainan tradisional Nusantara, walaupun
sejarah penyebarannya belum diketahui secara pasti.

Di wilayah Pulau Tujuh (Natuna), Kepulauan Riau, permainan gasing telah
ada jauh sebelum penjajahan Belanda. Sedangkan di Sulawesi Utara, gasing
mulai dikenal sejak 1930-an.

Permainan ini dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa. Biasanya,
dilakukan di pekarangan rumah yang kondisi tanahnya keras dan datar.
Permainan gasing dapat dilakukan secara perorangan ataupun beregu
dengan jumlah pemain yang bervariasi, menurut kebiasaan di daerah
masing-masing.

Hingga kini, gasing masih sangat populer dilakukan di sejumlah daerah
di Indonesia. Bahkan warga di kepulauan Rian rutin menyelenggarakan
kompetisi. Sementara di Demak, biasanya gasing dimainkan saat pergantian
musim hujan ke musim kemarau. Masyarakat Bengkulu ramai-ramai memainkan
gasing saat perayaan Tahun Baru Islam, 1 Muharram.

1. Gasing Melayu (Tanjung Pinang)


















Masyarakat Tanjungpinang tepatnya di Manisa, Baranti Sidrap, memiliki
beberapa bentuk gasing diantaranya ; made’pak ( Gemuk ) dan Malongke
( Kurus ) dengan tinggi 9 – 10,5 cm, diameter badan : 6 – 6,5 cm,
keliling badan 18 – 20,7 cm dan berat : 147 – 200 gram.

Bahan / jenis kayu yang digunkan untuk membuat gasing adalah Ace – Ace.

Arena permainan gasing biasanya di tanah padat, halus, tidak retak,
dan tidak berumput dengan ukuran + seluas lapangan tenis berbentuk
persegi panjang.

Permainan gasing di Tanjungpinang dimainkan oleh anak-anak / remaja /
orang tua dengan jumlah pemain sesuai kesepakatan. Sistem pertandingan
bisa secara beregu maupun perorangan. Aturan permainan pertandingan
yaitu sistem pukul mati dan sistem diputar. tj pinang

Waktu pemain sesuai kesepakatn bersama diantara pemain. Peralatan
pendukung bermain gasing adalah tali yang panjangnya 157 – 185 cm
dengan diameter pangkal 4 mm, ujung 2 mm. Bahan tali umumnya berasal
dari serat awaru. Teknik pembuatan tali gasing : ambil dua lembar
serat Awaru, dibuat tali pada pertengahan + 4 cm, kemudian dibuat
tali + 4 mm (pangkal ) ke ujung + mm ( makin keujung makin kecil )

Cara bermain dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : pertama,
Regu 1 memukul mati semua gasing, regu 2 manade’ ( melempar ) dengan
jarak Gasing Tj. Pinangtertentu, contoh 10 meter dipasang semua gasing
lawan kemudian dilempar, kalau ada dikena, dapat point, dilanjutkan
lagi dengan pukul mati. Kalau tidak ada dikena pada waktu mangade’
atau tidak habis mati diadakan pertukaran pemain. Kedua, pemain
bersama memutar gasing ( sistem gugur ).
http://gasingindonesia.wordpress.com/2009/02/28/gasing-tanjung-pinang/

2. Gasing Lampung





















Di Propinsi Lampung, tepatnya di daerah Panengahan Kalianda Lampung
Selatan, permainan gasing disebut Pukang. Permainan Pukang ini
sering dilakukan secara berkelompok dengan jumlah pemain antara 3
hingga 6 orang atau lebih. Tempat bermain pukang merupakan tanah
lapang yang luasnya memungkinkan untuk leluasa memukul gasing,
karena itu sedapat mungkin jaraknya jauh dari rumah penduduk.
Misalnya, di lapangan tempat penjemuran kopi atau lada. Hal ini
guna mengantisipasi terjadinya kerusakan rumah (kaca pecah) yang
disebabkan benturan gasing yang melenceng liar tanpa tujuan.

Waktu bermain biasanya sore hari setelah anak-anak pulang mengaji
dan sering pula diadakan untuk meramaikan perayaan HUT Kemerdekaan
RI atau juga sewaktu hajatan resepsi pernikahan. Para pelaku
didominasi kaum lelaki dari berbagai usia baik anak-anak, remaja,
maupun orang tua.

3. Gasing Jawa Barat
























Bahasa daerah yang digunakan masyarakat Jawa Barat untuk menyebut
gasing adalah Panggal. Dalam lingkup terbatas, ulin panggal,
demikian masyarakat Jawa Barat menyebutnya, masih hidup. Namun
di beberapa daerah (perkotaan) engetahuan tentang panggal didominasi
oleh kalangan generasi tua. Nyaris generasi muda (baca : anak-anak)
tidak lagi mengenalnya.

Di daerah kabupaten Garut kita dapat menjumpai beberapa anak muda
sering bermain ulin panggal, bahkan diantaranya terampil membuat
alat permainan yang dimaksud. Adapun pengrajin yang masih memproduksi
panggal dalam jumlah terbatas sering dilakukan oleh Saudara Aris
Fachrudin yang beralamat di Jl. H Hasan Arif, kampung Bojong salam,
desa Sukaseneng Kec. Banyuresmi Kab. Garut.

Lebih lanjut di :
http://gasingindonesia.wordpress.com/2009/02/23/gasing-jabar/

 4. Gasing Kalimantan


















Dua suku asli dan terbesar yang menghuni Kalimantan Barat yaitu
Dayak dan Melayu. Kedua suku ini memang mempunyai banyak kesamaan-
kesamaan budayanya diantaranya adalah permainan gasing. Yang berbeda
hanyalah dalam penyebutan atau bahasa yang digunakan. Tidaklah heran
bila dalam penuturan asal usul permainan gasing ini dibuat dalam
dua bahasa atau penyebutan, tidak lain agar para pembaca sedikit
dapat memahami inilah kultur sebagian kecil bangsa ini.Gasing
Syuku Dayak Kalimantan

Konon Gasing pada masyarakat Dayak Kanayatn lebih dikenal dengan
Pangka atau Bapangka’ dan sebaliknya Bepangkak menurut melayu dalam
hal inilah maka sengaja penulis hanya menuturkan menurut versi dayak
karena menurut legenda dan ceritanya banyak kesamaannya.

Menurut cerita yang terdapat pada orang Dayak Kanayatn, gasing
adalah Manusia ?Talino? jelmaan jubata ?Tuhan? yang disebut
NEK GASIKNG bernama ? NEK ABAKNG SAJINTE JUBATA TAPAKNG,
juga sebagai penguasa pohon-pohon kayu yang tumbuh dihutan.
Sehingga Janis kayu yang dibuat sebagai bahan gasing yang
terbaik adalah urat/bandir ?akar? dari kayu Tapakng.

Lebih lanjut di :
http://gasingindonesia.wordpress.com/2009/02/28/gasing-kalimantan-barat/

5. Gasing Sulawesi
























Makgasing adalah penamaan dalam bahasa Bugis sedangkan orang
Makassar g-makassarmenamainya akgasing yang dalam bahasa
Indonesia umumnya dikenal dengan bermain gasing.Penamaan
permainan ini bersumber dari peralatan pokok yang digunakan
dalam bermain yaitru gasing.

B. Peristiwa, Suasana dan Waktu Bermain
Permainan gasing dapat dilakukan dipagi atau sore hari sebagai
pengisi waktu senggang, juga diikut sertakan pada upacara-upacara
pesta panen.

Selain berfungsi sebagai sekedar permainan juga biasanya bersifat
kompetitif dan dijadikan sarana pertaruhan. Menimbulkan suasana
kegemberiaan dan juga senantiasa tegang, karena masing-masing
pemain berusaha untuk memenangkan permainan.

Lebih lanjut di :
http://gasingindonesia.wordpress.com/2009/02/28/gasing-makassar/

6. Gasing Ambon





















Apiong AmbonBerbeda dengan daerah lain, masyarakat Ambon menyebut
gasing dengan “Apiong”. Jenis gasing yang terdapat di Ambon pada
dasarnya dapat dibagi menjadi dua yaitu gasing atraksi dan gasing
pakal. Sedangkan bentuk gasingnya berbentuk jantung pisang,
tempayan/kendi, persegi panjang, buah bintanggur, bulat lonjong
dan lain sebagainya.

Secara umum ukuran gasing Ambon dapat dibagi menjadi dua, yaitu
ukuran besar dan ukuran kecil. A. Ukuran Besar : Tinggi + 17 Cm,
Diameter Badan : lebih kurang 27 Cm, Keliling Badan : lebih kurang
44 Cm, Berat Badan : lebih kurang 3 – 6 Ons B.Ukuran Kecil : Tinggi
lebih kurang 7 Cm, Diameter Badan lebih kurang 11 Cm, Keliling Badan:
lebih kurang 18 Cm Berat Badan : lebih kurang 1 Ons

Lebih lanjut di :
http://gasingindonesia.wordpress.com/2009/02/23/gasing-ambon-apiong-2/
______________

Gasing Dunia
______________

















Kaedah bermain gasing dahulu dan sekarang tidak banyak perbezaannya.
Sebelum tahun 1970, permainan gasing di Malaysia tidak teratur dan
berlainan antara satu daerah dengan daerah yang lain. Pelbagai bentuk,
saiz dan kegunaan gasing membezakan sifat gasing dan membentuk sistem
permainan yang turut berbeza. Dalam permainan gasing, semua pemain
mesti mempunyai kemahiran memusing, memangkah, mengangkat, menegak
dan membela uri gasing.

Lebih lanjut di :
http://ms.wikipedia.org/wiki/Gasing

Video pendukung :





________

Penutup
________

Demikian info yang dapat disajikan malam ini. Semoga dapat memperluas
wawasan khsusnya baga para putra Batak yang belum pernah memainkan
permainan gasing ini.

Sedang bagi anda yang telah pernah memainkannya, semoga pula dapat
mengungkit memori yang telah berlalu. Dan kiranya kita sepakat bahwa
permainan ini pernah populer di tanah batak  untuk kemudian terlupakan
karena....karena...karena...anda yang memberi lasannya.

Selamat malam para kawan...!
______________________________________________________
Cat :

1 komentar: