Sabtu, 08 Februari 2014

Tugu Batak : Tugu marga-marga batak dan selukbeluknya


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar tugu-tugu di tanah batak khsusnya
tugu marga-marga batak dengan fokus Tugu Toga Siregar)
____________________________________________________









Penjelasan :

Postingan ini adalah pendalaman dari tulisan sebelumnya :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2014/01/monas-akibat-mardua-holong-boru-batak.html
____________

Pengantar
____________

Berikut Pengantar dari situs
http://daulatossaragios.blogspot.com/2011/02/tugu-marga-seni-penyadaran-bagi-orang.html
yang penulis kutif sebagai pengantar pula pada postingan ini  :

"Tugu merupakan bagian penting bagi kebudayaan Batak.
Berbagai upaya dilakukan kelompok marga untuk dapat
mendirikannya. Semakin mewah bentuknya dan semakin besar
ukurannya, maka semakin bangga  kelompok yang memilikinya...".

Demikian sealinea kilasan kutipannya. Dan terhadap hal ini
penulis ingin tahu :

~ Apa itu Tugu dan tugu batak
~ Apa pula kegunaan tugu bagi orang batak
~ Jenis tugu apa saja yang ada di tanah batak
~ Bagaima pendapat orang batak itu sendiri terhadap
   tugu-tugu batak ini
- Bagaima dengan tugu-tugu marga batak
- Tugu marga apa saja yang sudah dibangun di tanah batak
- Bagaimana pula dengan tugu Toga Siregar dan Siregar Susanya

Yah...! Seperti biasa keinginan tahuan ini, akan penulis
hadapkan pada pembaca yang ingin tahu juga.

Selamat menyimak...!
_______________________________

Pengertian Tugu dan tugu batak
_______________________________

Kamus besar Bahasa Indonesia mengartikan "Tugu" sebagai berikut :
tugu tu.gu
[n] tiang besar dan tinggi yg dibuat dr batu, bata, dsb

"Tugu adalah sebuah tiang besar dan tinggi yang terbuat
dari batu, bata, dsb. Tugu peringatan biasanya dibuat
untuk memperingati suatu peristiwa bersejarah".
tulis situs wikipedia pula.

Sedangkan situs:
http://ronnie-hidupku.blogspot.com/2011/06/tugu-dalam-agama-batak.html
mengenai "Tugu Batak / tugu marga-marga batak" mengatakan :

Pembangunan tugu sungguh tidak asing di kalangan masyarakat
Batak, dan banyak pihak telah mencoba mendefinisikan dan
mengartikan pembangunan tugu dengan menganalisis serta
mengartikan hal-hal yang melatar belakangi, hal-hal yang
memotivasi, serta tujuan yang diharapkan dari usaha pembangunan
tugu. ....

Istilah tugu sendiri sama dengan monument (momentum/monere) yaitu
suatu peringatan atau memorial yang bisa berbentuk bangunan,
menara, tiang, patung yang didirikan guna memperingati suatu
kejadian besar dan penting dalam sejarah atau menghidupan serta
memelihara peringatan kepada seseorang yang sudah meninggal.

Dikalangan orang Batak, istilah tugu atau momument tidak ada, 
tetapi pengertian tugu dalam bahasa Batak yaitu suman atau 
sumansuman. Sumansuman ini diperbuat dari batu yang dipahat atau
yang digana dan harus ada sumannya atau miripnya dengan nenek moyang
yang dimaksud.

Pendirian tugu sangat penting, karena sebagian orang Batak
masih mempercayai adanya hubungan manusia dengan roh si mati.
Makna tugu sebenarnya adalah jauh daripada fungsi bangunan itu
sendiri.

Bagi sebagian orang Batak selalu memesankan kepada keturunannya
agar kelak ia tua dan meninggal, jenazahnya dikuburkan ke kampung
halamannya, walaupun ia berada jauh di tanah rantau seperti pulau
Jawa. Hal ini terdapat dalam filosofi Arga do bona ni pinasa
(betapa pentingnya kampung halaman), kampung halaman, tempat
leluhur merupakan suatu hubungan sosial agar keturunannya tidak
lupa pada leluhurnya.

Tugu adalah sebuah karya seni  yang mengandung makna untuk
peringatan suatu peristiwa, atau untuk menghormati orang atau
kelompok yang berjasa. Tugu boleh saja hanya berupa tiang besar
terbuat dari batu, atau sebuah patung atau bangunan.

Dahulu di India disebut Stamba, sebuah tiang besar sebagai tanda
peringatan pertama sekali suatu suku mendirikan kampung. Di
Palestina,  Yakub mendirikan batu yang dibuat sebagai alas kepala
ketika ia tidur, ia namai tempat itu Betel sebagai peringatan bahwa
tempat itu merupakan pintu gerbang surga. Bagi suku Indian, mereka
menyusun beberapa batu  sampai tinggi, sebagai tanda sebuah
perkampungan dan kuburan kepala suku.

Dalam istilah Batak, Tugu disebut juga Simin (maksudnya bangunan
terbuat dari semen, dibedakan dari makam biasa). Tambak disebut pada
bangunan makam yang agak tinggi tempat dikumpulnya tulang-belulang
nenak moyang beberapa generasi. Tugu hanyalah disebut untuk bangunan
tanda peringatan atau perkumpulan suatu marga. Diharapkan dapat
mempersatu marga yang telah berkembang bercabang-cabang, dan sekaligus
dapat mengatahui histori nenak moyangnya.
________________________________________________

Macam pendapat pada pembangunan tugu-tugu batak
________________________________________________

* Hal Prokontra

Situs
http://daulatossaragios.blogspot.com/2011/02/tugu-marga-seni-penyadaran-bagi-orang.html
dalam tulisannya yang berjudul "Pro-Kontra Mendirikan Tugu"
mengatakan :

"Sejak lama sudah terjadi pro-kontra pembangunan tugu,
namun tetap saja muncul tugu-tugu baru yang biayanya
cukup mahal. Bangunan tugu bisa sampai menelan biaya ratusan
juta, apalagi dilengkapi dengan relief dan patung-patung yang
indah.

Hal senada juga diungkapkan oleh situs :
http://ronnie-hidupku.blogspot.com/2011/06/tugu-dalam-agama-batak.html
Katanya :

"Banyak pendapat yang pro dan kontra tentang pembangunan
tugu, tentu hal itu disebabkan oleh karena adanya perbedaan-
perbedaan motivasi serta tujuan dari pembangunan tugu itu sendiri.
sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang membawa perubahan dan pergeseran nilai-nilai agama maupun
nilai-nilai budaya.

* Hal pencetus pembangunan tugu-tugu batak 

Situs diatas mengatakan juga :

"Harus diakui bahwa pemrakarsa pendirian Tugu bukanlah warga
setempat, melainkan orang-orang perantau yang sukses. Namun
demikian warga setempat selalu turut berpartisipasi, karena
membawa nama marga leluhur.

* Pembagunan tugu dan gengsi

"Yang patut diperhatikan, mendirikan tugu jangan menjadi
ajang gengsi, ingin lebih hebat dari marga lain. Dalam setiap
kehidupan, Tugu sangat diperlukan sebagai simbol peringatan suatu
peristiwa, agar peristiwa sejarah itu tidak gampang dilupakan.
____________________________

Fungsi atau kegunaan tugu
____________________________

"Sama dengan nama diri adalah tugu dari segala prilaku raga dan
jiwa. Mendengar atau mengingat nama, orang dapat teringat akan
sesuatu peristiwa yang mengagumkan, menjengkelkan, menggelikan
dari laku hidup yang punya nama. Tidak mudah menjadikan nama diri
menjadi tugu, dan tidak mudah menjadikan tugu untuk selalu dikenang.

Prilaku yang peduli kepada lingkungan sekitar, prilaku yang peduli
pada kemiskinan, prilaku yang menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan, justru inilah merupakan tugu yang bermakna bagi orang
lain.

Melihat tugu sama dengan membuka kesadaran bahwa kita belum apa-apa
walau sudah berbuat. Bahwa kita sadar masih miskin rasa, walau kita
sudah kaya harta. Dan justru kita masih cerai berai walau kita
berusaha satu.
_____________________________________________________

Hasil penelitian terhadap tugu-tugu di tanah batak
_____________________________________________________

Berikut info mengenai "Penelitian yang pernah dilaksanakan terhadap
tugu-tugu di tanah batak". :

Penelitian ini mengungkapkan bagaimana hubungan pendirian
tugu dengan sistem kepercayaan tradisional orang Batak Toba
yang masih percaya akan eksistenssi roh nenek moyang mereka.
Aktualisasi kepercayaan itu terwujud dalam pembangunan tugu
leluhur yang dianggap merupakan perwujudan penghormatan dari
keturunan marga yang mendirikannya.

Untuk mengungkapkan data tersebut, maka dalam penelitian ini
penulis menggunakan jenis penelitian kulaitatif. Data di lapangan
diperoleh melalui teknik observasi partisipasi, wawancara, dan
studi literatur.

Tujuan penelitian ini ingin mengungkapkan latar belakang pendirian
tugu pada kelompok-kelompok marga di Kecamatan Balige Kabupaten
Toba Samosir yang merepresentasikan fungsi dan makna pendirian
tugu marga-marga yang ada di Kecamatan Balige Kabupaten Toba
Samosir selain itu menguraikan pengorganisasian dan pelaksanaan
kasus pendirian tugu marga Panjaitan di Kecamatan Balige Kabupaten
Toba Samosir dan menganalisa konsepsi pendirian tugu pada masyarakat
Batak Toba.

Dan penelitian ini diperoleh hasil bahwa kelompok etnik Batak
Toba mendirikan tugu pada awalnya berdasarkan kosepsi kepercayaan
tradisonal yang mempercayai adanya eksistensi roh leluhur mereka
dalam kehidupan masyarakat. Pemujaan roh nenek moyang itu
termanifestasikan dalam pembangunan tugu. Secara simbolis tugu
tersebut mengekspresikan suatu pemujaan terhadap arwah nenek
moyang yang muncul akan adanya pengharapan akan ditambahnya
hasil?hasil pertanian dalam kegiatan ekonomi mereka dan keberkahan
para leleuhur dalam memperoleh keturunan dan juga ternak.

Semua menurut mereka akan terwujud jika ada berkat dari para
leluhur mereka. Tugu yang dibangun oleh setiap marga dari kelompok
Batak Toba sebenamya menggambarkan bahwa dalam setiap pendirian
tugu tersebut mereka berusaha mencari dirinya sendiri, identitasnva.
dan dengan demikian juga berlaku untuk nenek moyangnya.

Selain itu juga memiliki fungsi dan makna yang mencerminkan
tingginya harapan orang Batak akan berkat yang hendak dilimpahkan
oleh roh bapa leluhurnya.

Sumber :
http://digilib.unimed.ac.id/makna-dan-fungsi-pendirian-tugu-leluhur-pada-masyarakat-batak-toba-di-kecamatan-balige-kabupaten-toba-samosir-studi-kasus-tugu-marga-panjaitan-1042.html
____________________________________________________

Pembangunan tugu di Tanah Batak tahun 50-an sampai
sekarang
____________________________________________________

Lothar Schrainer mengatakan bahwa pembangunan tugu di tanah
Batak sekitar tahun 50-an di mana ditahbiskan Mousoleum
(Kuburan Mewah) yang mengah bagi raja/datu yang terakhir,
Sisingamangaraja XII. Bangunan makam itu berisi tulang-benulang
raja/datu. Suku Batak dengan kesadarannya segera mengganggap
Mousoleum sebagai tempat kudus nasional.

Hal senada dikatakan oleh A.A. Sitompul, bahwa pembangunan
tugu berdiri di Sumatera Utara pada tahun 50-an yang makin
bertambah. Pada tugu-tugu dicantumkan nama ompu parsadaan
dan semua bapak leluhur dan mungkin tulang-tulangnya didasar
tugu tersebut. tidak semua seperti yang terbuat di atas bahwa
tugu menjadi tempat penyimpanan tulang benulang. Namun demikian,
pengaruh tulang itu sebagai jejak penghubung pemujaan bagi nenek
moyang di samping pembangunan tambak.

Amudi Pasaribu juga mengatakan bahwa, sebelum perang dunia II,
hampit tidak ada tugu di tanah Batak. Yang ada hanyalah kuburang-
kuburang yang ditinggikan dengan semen berbentuk manusia atau
berbentuk lain lain dibangun diatas kuburan yang sudah ditinggikan.

Sesudah kemerdekaan negara kita, tugu-tugu kemerdekaan di bangun
dimana-mana, seperti tugu Sisingamangaraja di Tarutung. pembangunan
tersebut memberi inspirasi kepada orang-orang Batak untuk membangun
tugu nenek moyang di luar peninggian kuburan.
_________________________

Tujuan pembangunan tugu
_________________________

Berikut kutipan yang memberi gambaran tentang tujuan pembangunan
tugu-tugu di tanah batak :

*  Hal mengangkat status sosial

Keinginan untuk mengangkat status sosial, pribadi, keluarga
dikampung halaman. Hal ini dikarenakan kemampuan dibidang materi
yang dianggap sudah mapan. dalam hal ini unsur toal muncul
(persaingan congkak).

Di kalangan orang Batak sendiri ada suatu pemikiran bahwa
keberhasilan selama ini atas berkat atau pasu-pasu arwah/ sumangot
dari nenek moyang, sehingga timbullah keinginan untuk menggali
tulang benulang nenek moyang dan memasukkannya ke dalam tugu dengan
mengadakan pesta yang meriah.

* Hal dalam hubungannya dengan Identitas (Pemersatu Marga)

Pendukung pembangunan tugu adalah kelompok marga yang disebut
saompu, yang mempunyai nenek, datuk bersama tetapi juga satu
marga kecil. Nenek moyang asali dinamai ompu parsadaan.
Prakarsa ini timbul karena melihat bahwa di tengah-tengah
masyarakat kota besar orang tidak lagi dibedakan menurut suku
bangsa atau menurut kehidupan mereka di kalangan suku bangsa itu,
dan hal ini menimbulkan kebutuhan untuk memastikan identitas
sendiri. Oleh karena itu, kelompok saompu melalui pembangunan
tugu dengan pengaturan suatu pesta penggalian tulang benulang
mencoba melawan berseraknya dan runtuhnya persekutuan itu.

Di samping sebagai lambang identitas marga, pembangunan tugu
dapat menyelesaikan persengketaan yang bersaudara. pemikiran
ini biasanya diungkapkan oleh seorang penengah.

* Hal dalam hubungannya dengan kepercayaan orang batak
   masa lalu

Kepercayaan orang Batak (khususnya Toba) tentang manusia
bahwa manusia itu terdiri dari tubuh (daging) atau sibuk, nafas
(hosa) dan roh (tondi). Jika manusia itu meninggal dunia, maka
tubuhnya kembali kepada tanah, nafas (hosa) kembali kepada angin
(alogo) dan roh (tondi) menjadi begu (arwah, begu, dll).

Begu orang yang meninggal bagi orang Batak mempunyai tingkat
sesuai dengan umur dan kedudukan sosial pada masa hidupnya.
Begu dari orang tua yang sudak banyak keturunan menjadi sumangot
ataupun sombaon. somangot ataupun sombaon ini mempunyai kuasa untuk
mengutuk dan memberkati keturunannya yang masih hidup.

Di dorong oleh keyakinan inilah maka orang Batak Toba untuk
meninggikan makan orangtuanya sebagai pernyataan kehormatan
tertinggi seperti mendirikana tambak, batu napir dan tugu.
Dalam pengalaman religi suku Batak Toba tradisional selain
tentang konsep tondi yakni sahala, begu sumangot dan sombaon,
A.B. Sinaga melihat sahala itu sebagai pelaksanaan, atau pengesahan
dari daya dan kekuatan tondi. sahala adalah perwujudan dari kuasa
tondi. Orang-orang menjalankan sahala akan memperoleh penghormatan
dan penghargaan dari orang yang menerima sahala. sedangkan sumangot
merupakan sebutan untuk status begu yang lebih tinggi dari tingkat
begu. dengan kata lain, sumangot adalah juga begu tetapi lebih tinggi
statusnya.

Roh leluhur ini ingin di hormati dengan sesajen (sombaon), agar
terus bergiat memajukan kesejahteraan keturunannya, tetapi jika
sumangot ini dilalaikan, bencana akan menimpa keturunannya.

Maka jelaslah bahwa pembangunan tugu nenek moyang dilatar belakangi
oleh roh nenek moyang yang sudah meninggal. jika di hormati dengan
cara apapun baik dengan pembangunan tugu, akan memberikan berkat
kepada keturunannya dan sebaliknya jika di abaikan akan mendatangkan
bencana kepada keturunannya.

Dengan demikian bahwa pembangunan tugu menyangkut kepada dewata
nenek moyang karena nenek moyang dianggap sebagai illahi, sehingga
perlu penghormatan.

Sumber :
http://ronnie-hidupku.blogspot.com/2011/06/tugu-dalam-agama-batak.html

Tujuan pembangunan tugu ini juga dilengkapi situs diatas,
dikatakan :

* Hal tugu sebagai Meterai Kepemilikan Wilayah

Salah satu fungsi tugu adalah secara sosial dan politis
sebagai pemberitahuan pemilik tanah atau huta (kampung).
Nama kampung sesuai dengan nama marga penghuninya, dalam
arti marga itulah yang membuka kampung itu dahulunya.

Kampung A adalah dihuni marga A. Sifat patrialkal orang Batak
membuat marga istri tidak masuk marga tanah. Tidak heran di
setiap kampung selalu didirikan tambak (bangunan tempat
tulang-belulang leluhur) dari beberapa generasi satu marga,
atau tugu peringatan kesatuan marga tanah.

Pentingnya mendirikan tugu bagi masyarakat Batak disebabkan
sifat orang Batak suka merantau dan terbuka, tidak heran sekarang
ini banyak kampung telah dihuni marga-marga lain di luar marga
tanah bahkan suku-suku lain.

Oleh sebab itu  berdirinya tugu dan patung merupakan suatu
pemberitahuan dan meterai hak kepemilikan tanah suatu marga.
Fungsi tugu dan tambak jauh melebihi seperti apa yang diketahui
orang, ada dimensi lain yang mampu menembus spasial-temporal dan
pemersatu marga, serta menjunjung tinggi filosofi Argado bona
ni pinasa.

Setiap orang Batak sangat mencintai kampung halamannya, setiap
orang yang mencantumkan nama marga di belakang namanya, pasti
tahu asal marganya atau kampung halamannya.  Kembali ke kampung
halaman dalam arti kembali ke haribaan ibu, kembali pada kesucian
“rahim” ibu yang melahirkan. Merenungkan kembali segala perjalanan
hidup di rantau orang. Kampung halaman adalah “rahim” tempat ia
dikandung, dilahirkan dan dibesarkan, refleksi pengenalan pada diri
sendiri. Kembali ke makam leluhur sebagai membangunkan kesadaran
bahwa semakin dekat pada kematian, dan setiap orang pasti mati,
oleh sebab itu amal dan sumbangsihnya pada kampung halaman harus
merupakan suatu “tugu” hidup yang bermanfaat pada masyarakatnya.

Orang Sukses tidak pernah melupakan kampung halamannya, kampung
halaman adalah hulu dari segala detak nadi aktivitas, menyadarkan
kembali siapa ia sebenarnya, apa yang sudah ia perbuat. Hilir
segala aktivitas ternyata menghantarkan ia pada hulu atau awal
kehidupan yang bermakna. Apalah arti sebuah tugu kalau hanya
sebuah pelipur mata dan penopang wibawa. Tugu akan lebih bermakna
jika ia bisa hidup dalam hati masyarakat sekelilingnya, seperti
bangunan sekolah, kesehatan, dan bea siswa sampai S2 dan S3.
Bukankah kelak seorang anak bangga apabila ia meraih gelar Doktor
dari bea siswa kumpulan marga kampungnya sendiri?. Inilah Tugu
yang benar-benar tangguh. Tugu sebagai tanda peringatan bahwa
kampung halaman sebagai hulu aliran air akan mencapai hilir
pada hulu semula.
_____________________________

Macam Tugu Marga-marga Batak
_____________________________

Berikut sebagian dari macam tugu marga-marga batak yang
sengaja penulis kutif guna kemudahan perolehan informasi
khsusnya bagi anda para kawan yang ada di Angkola.

Begitupun...!

Ada baiknya nikmati dulu musik yang satu ini sebelum
melanjut. Silakan ...!








*Marga Siregar :


















 
Tempat :
Kec.MUARA, Kab.Taput, Prov.Sumut.

Kutipan :

Toga Siregar, merupakan keturunan Raja Batak ke empat
dengan garis keturunan dari Guru Tatea Bulan, Saribu
Raja, dan Raja Lontung.

Toga Siregar bersaudara dengan 6 toga lainnnya dari
batak yaitu Toga [[Sinaga]], Toga [[Situmorang]],
Toga [[Pandiangan]], Toga [[Nainggolan]], Toga
[Simatupang]], dan Toga [[Aritonang]]. Toga Siregar
merupakan yang termuda diantara yang lainnya.{{br}}
Toga Siregar memiliki 4 keturunan laki-laki yaitu Silo,
Dongoran, Silali, dan Siagian.

Sedangkan marga Sormin dan Ritonga adalah marga yang
berasal dari keturunan Toga Siregar, dimana, Sormin dan
Baumi dari anak turunan Siregar Silo, dan Ritonga dari
anak turunan Siregar Silali. Kampung asli ''(Huta'
'berada di pinggir danau toba tepatnya di kecamatan
Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, dimana berdiri
"Tugu Siregar" yang dibangun oleh Keturunan Marga
Siregar, tetapi karena kondisi alam yang kurang subur
 banyak anak-anak keturunan marga siregar yang merantau
ke daerah lain seperti Sipirok, Sidempuan, Bahal Batu,
Kota cane dan Selanjutnya keturunan-keturunan Toga
Siregar tersebar ke seluruh tanah.

Sumber :
http://okaoliviasiregar.blogspot.com/

* Simbolon





















Tempat :
Lumban Hariara Kecamatan Pangururan,
Kabupaten Samosir

Kutipan :

.Didalamnya tersimpan sebuah Mutiha
yang diperoleh dari dalam Perut se ekor Ikan yang
mengkristal berisikan Air dan telah berusia  kira-kira
350 tahun dan dianggap Sakral oleh Simbolon Sirimbang.
Diatas Tugu ini terletak Sebuah Patung Tuan Rimbang
yang terbuat dari Perunggu dengan berat 500 kg.
Hasil pahatan Seniman terkenal dari Bandung bernama
Nyornan.

Berada di Lumban Hariara Kecamatan Pangururan, Kabupaten
Samosir. Didalamnya tersimpan sebuah Mutiha yang
diperoleh dari dalam Perut se ekor Ikan yang mengkristal
berisikan Air dan telah berusia  kira-kira 350 tahun dan
dianggap Sakral oleh Simbolon Sirimbang. Diatas Tugu ini
terletak Sebuah Patung Tuan Rimbang yang terbuat dari
Perunggu dengan berat 500 kg. Hasil pahatan Seniman
terkenal dari Bandung bernama Nyornan.

Sumber :
http://tuansirimbang.wordpress.com/tugu-sirimbang/

* Situmorang 
























Tempat :
Desa Urat Palipi Kabupaten Samosir.

Kutipan :

Tugu Ompu Tuan Situmorang, leluhur dari keturunan marga-marga
Situmorang, Siringoringo, Rumapea dan Sitohang.

Sumber :
http://sitohanguntuktapanuli.wordpress.com/tugu-op-tuan-situmorang/

* Sitohang :






















Tempat :
di Bona Ture Urat Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir


Kutipan :
Keluarga besar SITOHANG di seluruh Indonesia menyadari
pentingnya pelestarian budaya daerah  sebagai alat pemersatu
sekaligus merupakan menifestasi dari pelaksanaan falsafah
Dalihan Na Tolu. Untuk mengkongkritkan dasar pemikiran di
atas disepakatilah pendirian tugu yang merupakan monumen
dan melambangkan persatuan dan kesatuan seluruh keturunan
SITOHANG di jagad raya ini.

Sumber :
http://sitohanguntuktapanuli.wordpress.com/tugu-persatuan-sitohang-di-bona-ture-palipi/

* Sipahutar :
























Tempat :
di Desa Sipahutar – Tapanuli Utara,

Kutipan :

Kalau beberapa waktu yang silam saya hanya bisa
mendengar dan melihat Tugu Sipahutar dari gambar,
namun pada minggu yang lalu saya dengan keluargaku
berkunjung ke lokasi Tugu Sipahutar, tepatnya di
Desa Sipahutar – Tapanuli Utara, dan saya bertemu
dengan salah satu keturunan oppung kami Op. Bela
dengan nomor kelahiran 14 yang memiliki sebuah warung
persis disebelah Tugu Sipahutar tersebut dan bagi
keturunan oppui yang mau berkunjung ketugu tersebut
bisa meminjam kunci gerbang tugu kepada keluarga ini
dan jangan lupa untuk minum kopi atau minuman dan
makanan ringan pada kedai milik mereka.

Sumber :
http://rajasipahutar.wordpress.com/2009/10/24/sejarah-sipahutar/tugu-sipahutar-1/
http://habinsaran.wordpress.com/2009/07/14/tugu-sipahutar/

* Toga Pandiangan 

















Tempat :
di Huta Godang Pandiangan Urat Samosir

Kutipan :
Tugu Parsadaan Pomparan Toga Pandiangan dgn Istrinya Pintaran
Titi Br Sagala.Toga Pandiangan Anak Ketiga Si Raja Lontung.

*Silahi Sabungan


















 

Tempat :

Kutipan :
Sumber :
http://parlinggomansinurat.wordpress.com/

* Nababan




















Tempat :
Kutipan :
Sumber :
http://nababan.wordpress.com/2007/03/08/gambar-tugu-tuan-nahoda/comment-page-1/

* Silitonga 






















Tempat :

Kutipan
Tugu Raja Silitonga di Sipahutar, saat kami liburan di bulan
apa ya.... yang pasti perjalanan ini bukan pake biaya dinas..

Sumber :
https://picasaweb.google.com/lh/photo/Dv_eLSNO-wsmhOPkFZO9sNMTjNZETYmyPJy0liipFm0

* Panjaitan

















 


Tempat :
Balige Kab.Tobasa.

Kutipan :
Diawali dengan keberangkatan dengan Xenia all new,
menuju Balige Kab.Tobasa. Menempuh perjalanan
selama hampir 4 jam dengan lelahnya sampai di
Monumen Opung D.I Panjaitan.

Sumber :
http://tripanjaitanantropolog.blogspot.com/2012_07_01_archive.html

* Siagian
















Tempat :
Porlak, Sihobuk - Balige

Kutipan :
(Tak bisa bisa dikutipba...! Polit kali yang punya situs. Siagian itu
yang posting. apa memang Siagian polit-polit...? Kalau betul, tak usahlah
kalian ambil boru agian. Bisa repot urusannya nanti...kakakakak...hanya
canda dunia maya)


Sumber :
http://www.globalsumut.com/2013/07/gubsu-h-gatot-pujo-nugroho-resmikan.html?m=1


* Manihuiruk


Tempat :
Desa Lumban Suhi, Kecamatan Pangururan, Kab Samosir,

Kutipan :

Diresmikan Kamis, Jumat, Sabtu (27, 28, 29 Desember 2012). Tugu dibangun dengan
luas 1.800 M2 ,  ketinggian 24 meter, diameter 12 meter. Didirikan di tanah wakaf
Manihuruk.  Di puncak tugu, Replika dari Tembaga, Oppung Raja Simanihuruk yang
pertama, naik kuda dan Oppung Boru di sampingnya, Kuda dianggap sebagai alat
transportasi zaman dulu.                                                                                                                                        
(Foto Oleh : Pengurus Parsadaan Manihuruk-Boru-Bere-Ibebere Se-Kota Jambi Periode 2013-2016)

Sumber :
http://rosenmanmanihuruk.blogspot.com/2013/01/foto-tugu-raja-simanihuruk-siap-cetak.html

* Sinaga :
http://rumahalam12.blogspot.com/2013/09/awal-mulanya-marga-sinaga-menurut-orang.html













* Purba Tanjung
http://www.panoramio.com/photo/93126820





















* Simaremare

Inilah Tugu Tuan Simare atau yang lebih di sebut org Simaremare
Walaupun gue belum pernah ke tugu ini,,, berharap suatu saat gue bisa b'foto di tugu... hehhehe

http://journeyandsmile.blogspot.com/























* Pandiangan
http://parjalangnaserep.blogspot.com/2013/07/parjalangnaserep.html






















___________________________

Pembangunan Tugu Berikutnya
___________________________

























Tempat :

Di Desa Raja Hutagalung

Kutipan :

Gambar di atas masih merupakan konsep gambar tugu Si
Raja Hutagalung, hal ini dibuat mengingat belum adanya
tugu Si Raja Hutagalung (secara keseluruhan marga
Hutagalung), yang ada hanya adalah tugu keturunan
marga Hutagalung tertentu, salah satunya Tugu Si
Raja Anggoli Hutagalung (No. V, anak dari Op. Ujung
Oloan dan Cucu dari Tuan Napitu), di Desa Lobusingkam,
Kec. Sipoholon, Kab. Tapanuli Utara.

Sumber :
http://hutagalung-cyber.blogspot.com/2013/05/KonsepTuguSiRajaHutagalung.html


______________________________________________________

Penutup (Tanggapan umum penulis pada kutipan yang melihat
tugu batak sebagai sesuatu yang perlu di somba atau begu
yang punya kekuatan mengutuk)
______________________________________________________

Setelah mempelajari macam kutipan dan photo-photo diatas
penulis ingin berkata :

1. Tanah batak adalah tanahnya orang batak yang secara umum
   dapat disinonimkan dengan, "Tanah suka-sukanya orang batak".
   Maudia buat jadi sawah, jadi ladang, lapangan bola, jadi
   kuburan atau jadi tugu terserah orang batak itu sendiri.

2. Terlepas dari rasa "Suka-suka orang batak" pada tanah
   kelahirannya, pada tanah hatubuannya maka kitapun mengenal
   budaya batak dan kepercayaan orang batak.

3. Kenyataan di lapangan, pemahaman orang batak terhadap budaya
   dan kepercayaan inipun cukup sering menunjukkan adanya
   perbedaan pendapat terhadap suatu persoalan.

4. Dalam hubungannya dengan, "Pembangunan tugu-tugu ditanah
   batak" maka penulis ingin berkata, "Bangga dengan adanya
   tugu-tugu tersebut" karena dapat mencerminkan jati diri
   dari generasi penerus marga yang bersangkutan, jika memang
   tugunya adalah "tugu marga-marga batak".

5. Kebanggan lainya, sebagai "bukti sejarah" karena setiap
   tugu ada sejarahnya, ada ceritanya yang memang perlu di
   ceritakan pada generasi-generasi tanah batak masa depan.

6. Dalam hubungannya dengan religi atau kepercayaan, maka
   penulis yang beragama islam ini tidaklah melihatnya sebagai
   sesuatu yang sifatnya sama dengan berhala atau patung atau
   tugu yang harus dipuja-puji.

7. Penulis adalah marga Siregar punya tugu yang namanya "Tugu
   Toga Siregar". Tidak berarti kalau suatu saat penulis kesana
   (Penulis belum pernah ke tugu tersebut ) berkata, "Oh..oppungku
   Toga Siregar...! Susado hurasa namangoluon tolong majo oppung.
   Tidak seperti itu, meskipun penulis tahu ada cerita ada kisah
   ada mitos yang menggambarkan, bahwa, "Sebagian marga siregar
   bagaimanpun kerja kerasnya dalam hidup, beliau akan tetap susah
   karena adanya sumpah dari para oppung-oppung siregar parjolo
   atau terdahulu".

8. Bahkan penulis tidak percaya pada kisah, cerita atau mitos
   itu. Pengetahuan budaya, pendidikan keagamaan, pengalaman
   hidup rasa-rasanya mampu mengontrol mana peristiwa-peristiwa
   ditanah batak yang seharusnya ditinjau dari segi budaya dan
   dari segi agama.

9. Tentang tulang belulang yang ada dalam tugu, "Memang begitulah
   seharusnya" karena tugu sesungguhnyalah ajaran budaya batak
   yang mungkin lebih dekat pula pelaksanaannya pada kepercayaan
   masyarakat batak masa sebelum masuk agama kristen dan Islam.
 
10. Secara logika, "Sungguh tak masuk diakal didirikan suatu
    tugu marga tanpa ada tulang-belulang dari marga yang
    bersangkutan di tugu tersebut.

11. Singkat kata, bagi penulis "Tugu marga adalah identititas".
      Tidaklebih dan tidak kurang. Dan penulis bangga dengan
      "Tugu Toga Siregar". Semoga rezeki, kesehatan dan umur yang
      panjang memungkinkan untuk suatu saat dapat melihat langsung,
      menginjak langsung tano asal mula parmarga siregar di Muara
      tano batak.

Jika tidak berkesempatan, "Jangan pula anda mengatakan bahwa
penulis bukan Siregar Dongoran atau Siregar Salak".  Jika anda
katakan, maka penulis akan membacakan, prinsif dasar parsiregar
pada anda yang telah terangkum dalam istilah "Siregar partangga
sabolas...!"

Dan sepertinya prinsif dasar ini telah membentuk siregar seperti
apa yang anda lihat sekarang ini dan snyaris ada pada setiap
pasangan-pasangan di hangaluan. Ada yang lumayan maradong,
tapi ada juga yang lumayan malarat. Ada yang ustat tapi ada juga
yang tukang co..., ada yang jadi doktor lenong tapi ada juga yang
lenong, dll.

Mau dibacakan...?
Hahahahaha....

Dan terhadap para kahanggi yang telah berpartisifasi dalam
pembagunan, perawatan "Tugu Siregar" ini, baik dalam bentuk
materi maupun jasa penulis ucapkan, "Terimakasih...! Mauli ate...!"
























Begitupun ada beberapa hal bagi penulis yang terpikir
mengenai Kecamatan Muara dan Tugu Toga Siregar ima :

1 muse :

Tentunya kita masyarakat batak dengan macam marga sepakat dan
sependapat bahwa "Muara atau kecamatan Muara atau tanah Muara
di Pinggiran Danau Toba" adalah tanah "Asal Muasal Parmarga
Siregar" dimanapun berada.

2 muse :

Jika kalimat "Asal Muasal" kita hilangkan maka akan menjadi,
"Tanah Muara adalah Tanahnya Siregar".

3 muse :

Dari informasi yang berkembang ternyata "Tanah Muara ini tidaklah
dihuni oleh parmarga Siregar", atau mungkin dihuni oleh satu atau
dua orang, padahal tanah itu sedemikian luasnya, 1 kecamatan
dengan sekian  kelurahan atau desa.

4 muse :

Berdasarkan sejarah, logika dan kebiasaan masyarakat Nusantara,
"Tanah yang sudah tidak dihuni oleh pemiliknya, tidak berarti
tanah tersebut tidak dibutuhkan pemiliknya. Tapi mungkin
terlupakan pemiliknya untuk jangka waktu tertentu karena
sesuatu hal.

5 muse :

Sekarang "Yang terlupakan sesaat itu, ternyata teringat kembali
dan ternyata tanah tersebut telah dihuni oleh orang-orang batak
di luar marga Siregar".

6 muse :

Karena itu, kami atas nama 3S (Siregar Nasusa Sedunia) meminta
kepada Camat Muara berikut masyarakatnya, untuk memberikan sewa
tanah kami, tanah oppung kami kepada kami, guna penambahan modal
generasi penerus "Toga Siregar" pada masa sekarang dan yang akan
datang.

7 muse :

Uang yang kami tuntut untuk pembayaran tahun 2014 ini sebesar
Rp. 7.000.000,- per rumah tangga dan mohon setiap rumah tangga
mencari Siregar Nasusa tersebut dan memberikan uangnya secara
langsung. Dan mohon kwitansi pembayaran uang sewa tanah tersebut
disimpan agar tidak terjadi penagihan berulang. Adapun uang sewa
tanah kami, tahaun 2014 kebawah, "Ya sudahlah" kami anggap lunas,
karena kita sama kitanya ini.

8 muse :

Bagi yang belum mampu membayar uang sewa tersebut, maka kami
para Siregar Nasusa Sedunia, meminta kepada Camat Muara berikut
jajarannya, serta masyarakat setempat, agar turut serta
berpartisifasi mengawasi tugu oppung kami, "Toga Siregar".

Jangan kiranya, batu-batu yang ada di tugu oppung kami ini
diambili marga lainnya, hanya karena mereka ingin mendirikan
tugu pula.

Bentuk dan gaya arsitektur tugu kamipun kalau bisa jangan
di tiru-tiru. "Bikin kalian gaya kalian, kami bikin gaya kami".

Ini dia gambar tugunya :








Selamat malam para kawan...! Dan horas Siregar Sedunia...!

Ulang lupa anggia...!

Pangido hamu uang sewa ni tano Muara, tanotta doi...!
Unang hamu mabiar...!

Bila porlu margottijop nimmu, suru halak Muara pinda tu
Angkola, so hita jo tu Muara.

Bia lakna...?
kakakakakakaka...kkkk....kkkk....

Musik...!



______________________________________________________
Cat :
PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

2 komentar: