Rabu, 29 April 2015

Wisata Candi : 4 Komplek Candi Pilihan Wisata Pulau Sumatra



#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Agama Budha dan macam Kompleks Candi-nya
di Pulau Sumatra dan mengusulkan agar Candi Bahal dicalonkan untuk
menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.)
__________________________________________________________________








___________________

Kata Pengantar
___________________

Ini macam pertanyaan yang bisa anda atau pembaca jawab jika
membaca postingan ini :

1. apa itu Candi dalam hubungannya dengan agama Budha....?
2. Mengapa candi ada di Pulau Sumatra khususnya di Palas...?
3. Samakah sruktur candi yang ada di pulau Jawa dan Sumatra...?
4. Kemana perginya para pemeluk agama Budha yang ada di...?
   Pulau Sumtra...?
5. Candi apa saja yang ada di pulau Sumatra...?
6. Apa seharusnya yang harus di perbuat masyarakat setempat
   terhadap candi-candi ini...?

Jika tidak membacanya...!

Dan tidak pula punya pengetahuan sebelumnya mengenai hal ini,
maka anda pembaca tetap tak dapat menjawabnya. Inginkah pembaca
menjawab pertanyaan di atas...?

Jika ingin, tetaplah daalam postingan ini dan simak baris-baris
uraiannya secara deteil dan terkonsentrasi.

Selamat menyimak...!
_______________________

Sekilas Agama Budha
_______________________

* Pemahaman Umum

Agama Buddha adalah sebuah agama dan filsafat yang berasal dari anak
benua India dan meliputi beragam tradisi kepercayaan, dan praktik
yang sebagian besar berdasarkan pada ajaran yang dikaitkan dengan
Siddhartha Gautama, yang secara umum dikenal sebagai Sang Buddha
(berarti “yang telah sadar” dalam bahasa Sanskerta dan Pali).

Sang Buddha hidup dan mengajar di bagian timur anak benua India
dalam beberapa waktu antara abad ke-6 sampai ke-4 SEU (Sebelum Era
Umum). Dia dikenal oleh para umat Buddha sebagai seorang guru yang
telah sadar atau tercerahkan yang membagikan wawasan-Nya untuk
membantu makhluk hidup mengakhiri ketidaktahuan/kebodohan (avidya),
kehausan/napsu rendah (ta?ha), dan penderitaan (dukkha), dengan
menyadari sebab musabab saling bergantungan dan sunyatam dan mencapai
Nirvana (Pali: Nibbana).

Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tripitaka sebagai Referensi
utama karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran Buddha Gautama.
Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan
ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Pi?aka (kotbah-kotbah Sang Buddha),
 Vinaya Pi?aka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) dan Abhidhamma
Pi?aka (ajaran hukum metafisika dan psikologi).

* Aliran Buddha

Ada beberapa aliran dalam agama Buddha:

Buddha Theravada
Buddha Mahayana: Zen
Buddha Vajrayana

* Asal Agama Budha dan Penyebaran Agama Budha di Asia

Ket :
Peta penyebaran ajaran Buddha

Agama Buddha mulai berkembang di India, yaitu tempat dimana Buddha
Gautama mengajarkan ajarannya. Setelah wafatnya Buddha Gautama,
ajaran tersebut tidak lenyap begitu saja, melainkan disebarkan
oleh para pemuka agama sehingga bertahan sampai sekarang di
berbagai belahan dunia, khususnya di Asia.

* Penyebaran Agama Budha di Nusantara








Ket :
Sebaran candi Hindu dan Buddha di Indonesia




Ket :
Candi Borobudur, monumen Dinasti Syailendra yang dibangun
di Magelang, Jawa Tengah.

Pada akhir abad ke-5, seorang biksu Buddha dari India mendarat di
sebuah kerajaan di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Tengah sekarang.

Pada akhir abad ke-7, I Tsing, seorang peziarah Buddha dari Tiongkok,
berkunjung ke Pulau Sumatera (kala itu disebut Swarnabhumi), yang kala
itu merupakan bagian dari kerajaan Sriwijaya. Ia menemukan bahwa
Buddhisme diterima secara luas oleh rakyat, dan ibukota Sriwijaya
(sekarang Palembang), merupakan pusat penting untuk pembelajaran
Buddhisme (kala itu Buddha Vajrayana). I Tsing belajar di Sriwijaya
selama beberapa waktu sebelum melanjutkan perjalanannya ke India.

Pada pertengahan abad ke-8, Jawa Tengah berada di bawah kekuasaan
raja-raja Dinasti Syailendra yang merupakan penganut Buddhisme.
Mereka membangun berbagai monumen Buddha di Jawa, yang paling
terkenal yaitu Candi Borobudur. Monumen ini selesai di bagian
awal abad ke-9.

Di pertengahan abad ke-9, Sriwijaya berada di puncak kejayaan
dalam kekayaan dan kekuasaan. Pada saat itu, kerajaan Sriwijaya
telah menguasai Pulau Sumatera, Pulau Jawa dan Semenanjung Malaya.

Akhir zaman kerajaan Hindu-Buddha

Pada akhir abad ke-13 seiring berkembang pesatnya pengaruh Islam
dari Timur Tengah, kerajaan-kerajaan Islam mulai berdiri di Sumatera,
dan agama Islam segera menyebar ke Jawa dan Semenanjung Malaya lewat
penaklukan dan penyebaran sistematis oleh sekelompok ulama yang
dikenal dengan sebutan Wali Sanga.

Akibatnya Buddhisme mengalami penurunan popularitas dan pada akhir
abad ke-15 Islam adalah agama yang dominan di Nusantara dan
Semenanjung Malaya. Buddhisme diperkenalkan kembali ke Nusantara
hanya pada abad ke-19, dengan kedatangan pedagang dan orang-orang
Tionghoa, Srilanka dan imigran Buddhis lainnya.
_____________________________

Sekilas Istilah Candi
_____________________________

Candi adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang merujuk kepada sebuah
bangunan keagamaan tempat ibadah peninggalan purbakala yang berasal
dari peradaban Hindu-Buddha.

Bangunan ini digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewi ataupun
memuliakan Buddha. Akan tetapi, istilah 'candi' tidak hanya digunakan
oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja, banyak situs-situs
purbakala non-religius dari masa Hindu-Buddha Indonesia klasik,
baik sebagai istana (kraton), pemandian (petirtaan), gapura, dan
sebagainya, juga disebut dengan istilah candi.

Candi merupakan bangunan replika tempat tinggal para dewa yang
sebenarnya, yaitu Gunung Mahameru. Karena itu, seni arsitekturnya
dihias dengan berbagai macam ukiran dan pahatan berupa pola hias
yang disesuaikan dengan alam Gunung Mahameru.

Candi-candi dan pesan yang disampaikan lewat arsitektur, relief,
serta arca-arcanya tak pernah lepas dari unsur spiritualitas,
daya cipta, dan keterampilan para pembuatnya.

Beberapa candi seperti Candi Borobudur dan Prambanan dibangun
amat megah, detil, kaya akan hiasan yang mewah, bercitarasa estetika
yang luhur, dengan menggunakan teknologi arsitektur yang maju pada
zamannya. Bangunan-bangunan ini hingga kini menjadi bukti betapa
tingginya kebudayaan dan peradaban nenek moyang bangsa Indonesia.

* Terminologi

"Antara abad ke-7 dan ke-15 masehi, ratusan bangunan keagamaan dibangun
dari bahan bata merah atau batu andesit di pulau Jawa, Sumatera,
dan Bali. Bangunan ini disebut candi. Istilah ini juga merujuk kepada
berbagai bangunan pra-Islam termasuk gerbang, dan bahkan pemandian,
akan tetapi manifestasi utamanya tetap adalah bangunan suci keagamaan."
— Soekmono, R. "Candi:Symbol of the Universe".

Istilah "Candi" diduga berasal dari kata “Candika” yang berarti
nama salah satu perwujudan Dewi Durga sebagai dewi kematian.[6]
Karenanya candi selalu dihubungkan dengan monumen tempat pedharmaan
untuk memuliakan raja anumerta (yang sudah meninggal) contohnya
candi Kidal untuk memuliakan Raja Anusapati.

Penafsiran yang berkembang di luar negeri — terutama di antara
penutur bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya — adalah; istilah
candi hanya merujuk kepada bangunan peninggalan era Hindu-Buddha
di Nusantara, yaitu di Indonesia dan Malaysia saja (contoh: Candi
Lembah Bujang di Kedah). Sama halnya dengan istilah wat yang
dikaitkan dengan candi di Kamboja dan Thailand. Akan tetapi dari
sudut pandang Bahasa Indonesia, istilah 'candi' juga merujuk
kepada semua bangunan bersejarah Hindu-Buddha di seluruh dunia;
tidak hanya di Nusantara, tetapi juga Kamboja, Myanmar, Thailand,
Laos, Vietnam, Sri Lanka, India, dan Nepal; seperti candi Angkor
Wat di Kamboja dan candi Khajuraho di India. Istilah candi juga
terdengar mirip dengan istilah chedi dalam bahasa Thailand
yang berarti 'stupa'.
_______________________________________________________

Sekilas Macam Candi Bahal di Padang Lawas, Sumatera Utara.
_______________________________________________________
















* Pemahaman Umum

Candi Bahal, Biaro Bahal, atau Candi Portibi adalah kompleks candi
Buddha aliran Vajrayana yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang
Bolak, Portibi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yaitu
sekitar 3 jam perjalanan dari Padangsidempuan atau berjarak sekitar
400 km dari Kota Medan.

Candi ini terbuat dari bahan bata merah dan diduga berasal dari
sekitar abad ke-11 dan dikaitkan dengan Kerajaan Pannai, salah
satu pelabuhan di pesisir Selat Malaka yang ditaklukan dan menjadi
bagian dari mandala Sriwijaya.

Candi ini diberi nama berdasarkan nama desa tempat bangunan ini
berdiri. Selain itu nama Portibi dalam bahasa Batak berarti 'dunia'
atau 'bumi' istilah serapan yang berasal dari bahasa sansekerta:
Pertiwi (dewi Bumi).

Arsitektur bangunan candi ini hampir serupa dengan Candi Jabung yang
ada Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

* Kompleks candi

Candi ini merupakan kompleks candi (dalam istilah setempat disebut biaro)
yang terluas di provinsi Sumatera Utara, karena arealnya melingkupi
kompleks Candi Bahal I, Bahal II dan Bahal III. Seluruh bangunan di
ketiga kompleks candi dibuat dari bata merah, kecuali arca-arcanya
yang terbuat dari batu keras.

Masing-masing kompleks candi dikelilingi oleh pagar setinggi dan
setebal sekitar 1 m yang juga terbuat dari susunan bata merah. Di
sisi timur terdapat gerbang yang menjorok keluar dan di kanan-
kirinya diapit oleh dinding setinggi sekitar 60 cm. Di setiap
kompleks candi terdapat bangunan utama yang terletak di tengah
halaman dengan pintu masuk tepat menghadap ke gerbang. Berikut
adalah deskripsi kompleks candi ini.

* Candi Bahal dalam perhatian Agama Budha

Para kawan...!

Khsusnya untuk anda yang berada di Wilayah Padang Lawas
Tanah Angkola saat ini,...!

Di tahun 2009 ada sekelompok agama Budha berkunjung ke
Candi bahal ini.

Lewat link :
http://buddhakkhetta.com/User/Kat436/Art443/baca.php?com=1&id=443

Dikatakan :

Keesokan harinya setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke
kota Gunung Tua. Candi yang pertama kita kunjungi adalah Candi
Portibi di Tapanuli Selatan ( Bahal 1 dan Bahal 2 ), kemudian
kita melanjutkan perjalanan lagi mengunjungi Candi Tandihat.

Berikut beberapa photo hasil kunjungannya :







Ket :

Pembacaan Paritta bersama Bhante Bhuripayo di Candi Bahal I, view 1


Ket :
Pembacaan Paritta bersama Bhante Bhuripayo di Candi Bahal I, view 2










Ket :
Melakukan meditasi di Candi Bahal II









Ket :
Tidak terawat, Candi Tandihat I (help me!!!)
______________________________________________________

Sekilas Candi Muara Takus, candi stupa Buddha di Riau
______________________________________________________















Situs Candi Muara Takus adalah sebuah situs candi Buddha yang
terletak di di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar,
Riau, Indonesia. Situs ini berjarak kurang lebih 135 kilometer dari
Kota Pekanbaru.

Situs Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter,
yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm, di luar
arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer,
mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir Sungai Kampar Kanan.
Di dalam kompleks ini terdapat beberapa bangunan candi yang disebut
dengan Candi sulung /tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka.

Para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan situs
candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad keempat, ada yang
mengatakan abad ketujuh, abad kesembilan bahkan pada abad kesebelas.

Namun candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya,
sehingga beberapa sejarahwan menganggap kawasan ini merupakan salah
satu pusat pemerintahan dari kerajaan Sriwijaya.

Pada tahun 2009 Candi Muara Takus dicalonkan untuk menjadi salah
satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

* Deskripsi situs

Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di Sumatera, merupakan
satu-satunya situs peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau.
Candi yang bersifat Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama Buddha
pernah berkembang di kawasan ini.

Candi ini dibuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Berbeda
dengan candi yang ada di Jawa, yang dibuat dari batu andesit yang
diambil dari pegunungan. Bahan pembuat Candi Muara Takus, khususnya
tanah liat, diambil dari sebuah desa yang bernama Pongkai, terletak
kurang lebih 6 km di sebelah hilir situs Candi Muara Takus.

Nama Pongkai kemungkinan berasal dari Bahasa Tionghoa, Pong berati
lubang dan Kai berarti tanah, sehingga dapat bermaksud lubang tanah,
yang diakibatkan oleh penggalian dalam pembuatan Candi Muara Takus
tersebut.









Ket  :
Batu tulis dari Candi Bungsu di Muara Takus

Bekas lubang galian itu sekarang sudah tenggelam oleh genangan waduk
PLTA Koto Panjang. Namun dalam Bahasa Siam, kata Pongkai ini mirip
dengan Pangkali yang dapat berarti sungai, dan situs candi ini memang
terletak pada tepian sungai.

Bangunan utama di kompleks ini adalah sebuah stupa yang besar, berbentuk
menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil
batu pasir kuning. Di dalam situs Candi Muara Takus ini terdapat
bangunan candi yang disebut dengan Candi Tua, Candi Bungsu, Stupa
Mahligai serta Palangka. Selain bangunan tersebut di dalam komplek
candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat
pembakaran tulang manusia. Sementara di luar situs ini terdapat pula
bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum
dapat dipastikan jenis bangunannya.
___________________________________________________________

Sekilas Candi Muaro Jambi, kompleks percandian di Jambi
____________________________________________________________










Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi adalah sebuah kompleks
percandian agama Hindu-Buddha terluas di Indonesia yang kemungkinan
besar merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu.
Kompleks percandian ini terletak di Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten
Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, tepatnya di tepi Batang Hari, sekitar
26 kilometer arah timur Kota Jambi. Koordinat Selatan 01* 28'32"
Timur 103* 40'04". Candi tersebut diperkirakakn berasal dari abad
ke-11 M. Candi Muaro Jambi merupakan kompleks candi yang terbesar
dan yang paling terawat di pulau Sumatera. Dan sejak tahun 2009
Kompleks Candi Muaro Jambi telah dicalonkan ke UNESCO untuk menjadi
Situs Warisan Dunia.

* Penemuan dan pemugaran

Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun
1824 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang melakukan
pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Baru tahun
1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius
yang dipimpin R. Soekmono.

Berdasarkan aksara Jawa Kuno[butuh rujukan] pada beberapa lempeng
yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan
itu berkisar dari abad ke-9-12 Masehi.

Di situs ini baru sembilan bangunan yang telah dipugar,[1] dan
kesemuanya adalah bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut
adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua,
Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.

Dari sekian banyaknya penemuan yang ada, Junus Satrio Atmodjo
menyimpulkan daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat
bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia,
China, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi
agama mayoritas dengan diketemukannya lempeng-lempeng bertuliskan
"wajra" pada beberapa candi yang membentuk mandala.

* Struktur kompleks percandian

Kompleks percandian Muaro Jambi terletak pada tanggul alam kuno
Sungai Batanghari. Situs ini mempunyai luas 12 km persegi, panjang
lebih dari 7 kilometer serta luas sebesar 260 hektar yang membentang
searah dengan jalur sungai. Situs ini berisi 61 candi yang sebagian
besar masih berupa gundukan tanah (menapo) yang belum dikupas
(diokupasi).[1] Dalam kompleks percandian ini terdapat pula
beberapa bangunan berpengaruh agama Hindu.

Di dalam kompleks tersebut tidak hanya terdapat candi tetapi juga
ditemukan parit atau kanal kuno buatan manusia, kolam tempat
penammpungan air serta gundukan tanah yang di dalamnya terdapat
struktur bata kuno. Dalam kompleks tersebut minimal terdapat
85 buah menapo yang saat ini masih dimiliki oleh penduduk setempat.

Selain tinggalan yang berupa bangunan, dalam kompleks tersebut
juga ditemukan arca prajnaparamita, dwarapala, gajahsimha, umpak
batu, lumpang/lesung batu. Gong perunggu dengan tulisan Cina,
mantra Buddhis yang ditulis pada kertas emas, keramik asing,
tembikar, belanga besar dari perunggu, mata uang Cina, manik-
manik, bata-bata bertulis, bergambar dan bertanda, fragmen
pecahan arca batu, batu mulia serta fragmen besi dan perunggu.

Selain candi pada kompleks tersebut juga ditemukan gundukan tanah
(gunung kecil) yang juga buatan manusia. Oleh masyarakat setempat
gunung kecil tersebut disebut sebagai Bukit Sengalo atau Candi
Bukit Perak.
_________________________________________

Sekilas Candi Lesung Batu di Palembang
_________________________________________








Ket :
Patung makara di Candi Lesung Batu (foto diambil pada tahun 1877-1879)

Candi Lesung Batu adalah situs arkeologi yang terletak di
kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatra
Selatan, Indonesia.

Situs ini merupakan sebuah tinggalan budaya dari masa klasik
yaitu Hindhu-Budha di Indonesia. Candi tersebut terletak di
perkebunan karet milik masyarakat yang saat ini masih produktif.

Penelitian yang pernah dilakukan oleh Puslitarkenas, Balai
Arkeologi Palembang serta Suaka Peninggalan Purbakala Jambi
mengindikasikan bahwa candi dimaksud mempunyai latar belakang
agama Hindhu.

Kondisi Candi Lesung Batu saat ini masih berupa gundukan tanah
yang dibagian permukaannya terdapat sebaran bata kuno. Artefak
yang pernah ditemukan di candi ini antara lain berupa Yoni,
pecahan keramik asing, struktur bata yang saat ini kondisinya
sudah sangat rapuh. Perelitian yang pernah dilakukan menunjukkan
bahwa di sekitar candi tersebut juga ditemukan struktur bata
yang kemungkinan merupakan pagar pembatas. Guna pelestariannya,
saat sekarang candi dimaksud telah diberi seorang juru pelihara
yang mempunyai tugas pelestarian dan pengamannnya.
___________

Penutup
___________

Demikian infonya para kawan seklian. Kiranya dapat memperluas
wawasan keagamaan kita, khsusnya di bidang agama Budha dalam
hubungannya dengan candi-candinya di Pulau Sumatra.

Khusus mengenai Candi Bahal di Padang Lawas Angkola - Sumatra
Utara, tentu tak ada salahnya agar Pemda Padang Lawas mengusulkan
Candi Bahal tersebut sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Hal ini penting mengingat :

- Sejarah tak dapat berulang
- Sebagai tempat parawisata
- Salah satu bukti keberadaan tanah Batak Angkola
- Menghemat biaya Pengeluaran perawatan
- Dll

Lebih jelasnya...!










Situs Warisan Dunia UNESCO (bahasa Inggris: UNESCO’s World Heritage
Sites) adalah sebuah tempat khusus (misalnya, Taman Nasional, Hutan,
Pegunungan, Danau, Pulau, Gurun Pasir, Bangunan, Kompleks, Wilayah,
Pedesaan, dan Kota) yang telah dinominasikan untuk program Warisan
Dunia internasional yang dikelola UNESCO World Heritage Committee,
terdiri dari 21 kelompok (21 state parties) yang dipilih oleh Majelis
Umum (General Assembly) dalam kontrak 4 tahun. Sebuah Situs Warisan 
Dunia adalah suatu tempat Budaya dan Alam, serta benda yang berarti 
bagi umat manusia dan menjadi sebuah Warisan bagi generasi berikutnya.

Program ini bertujuan untuk mengkatalog, menamakan, dan melestarikan
tempat-tempat yang sangat penting agar menjadi warisan manusia dunia.

Tempat-tempat yang didaftarkan dapat memperoleh dana dari Dana 
Warisan Dunia di bawah syarat-syarat tertentu. Program ini diciptakan
melalui Pertemuani Mengenai Pemeliharaan Warisan Kebudayaan dan Alamiah
Dunia yang diikuti di oleh Konferensi Umum UNESCO pada 16 November 1972.

Para kawan...!

Selamat malam...!
_____________________________________________________________________________
Cat :



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar