Rabu, 30 November 2016

Kereta Api Rel Gigi dan Jalurnya di Indonesia


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Jalur Rel gigi)
__________________________________________________________












__________________

Kata Pengantar
__________________

Lewat link :
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2016/11/wisata-kereta-api-ambarawa-bersama.html
penulis mengurai mengenai "Kereta Api Ambarawa sebagai
Kereta Api Wisata yang menggunakan jalur gigi".

Untuk pendalaman infonya, maka postingan ini-pun berisi
mengenai Jalur Gigi tersebut dengan fokus pada ketersediaan
jalurnya di Inonesia

Selamat menyimak...!


___________________

Sekilas info Rel Gigi
___________________










* Pengertian

Jalur rel gigi (rack railway) ialah sistem rel pegunungan
(elevasi kemiringan hingga sekitar 6%, di mana rel biasa
elevasi kemiringan maksimum hanya 1%) dengan rel bergigi
khusus yang dinaiki di atas bantalan rel antara rel yang
terbentang. Kereta api dicocokkan dengan 1 roda gigi
atau lebih yang yang bertautan dengan rel para-para ini.
Ini memungkinkan lokomotif mengangkat KA melalui lereng
yang curam.


* Sistem

Sistem Riggenbach menggunakan rak tangga, membentuk plat
baja yang dihubungkan ruji bulat pada jarak yang beraturan.

Sistem Riggenbach merupakan sistem pertama yang ditemukan,
dan menderita masalah di mana rak tertentunya lebih rumit
dan mahal untuk dibangun daripada sistem lain.

Terkadang sistem ini dikenal sebagai sistem Marsh, karena
penemuan serempak oleh penemu Amerika, Syvester Marsh,
pembangun jalur rel Mount Washington.

Sistem Abt ditemukan oleh Roman Abt, insinyur lokomotif
Swiss yang mengerjakan jalur yang diperlengkapi dengan
sistem Riggenbach, sebagai sistem rak yang diperbaiki.

Rak Abt menonjolkan plat baja yang naik secara vertikal
dan sejajar dengan rel, dengan gigi rak yang dimesinkan
ke profil tepat padanya. Ini memakai gigi ujung sayap
lokomotif yang lebih lancar daripada sistem Riggenbach.
2 atau 3 set paralel plat rak Abt digunakan, dengan
sejumlah ujung sayap yang menggerakkan pada lokomotif
yang berhubungan, untuk memastikan bahwa 1 gigi ujung
sayap selalu digunakan dengan aman.









Sistem Strub mirip dengan Abt namun hanya menggunakan 1
baris plat rak yang lebih lebar. Merupakan sistem rak
termudah untuk dibiayai dan telah banyak terkenal.
Sistem Locher menggunakan gigi gir yang dipotong di
sisinya daripada di atas rel, digunakan oleh 2 roda gigi
di lokomotif. Sistem ini memungkinkan penggunaan pada
tanjakan daripada sistem lain, yang giginya bisa melompat
dari rak. Digunakan di jalur rel Gunung Pilatus.

Sistem menurun (sebenarnya bukan sistem rak/para-para)
menggunakan rel tengah yang timbul yang dipegang dengan
mekanisme pada mesin. Sebagian besar jalur rel gigi
menggunakan sistem Abt.

Beberapa sistem rel, dikenal sebagai 'rak dan adhesi',
hanya menggunakan jalan bergigi di titik tertinggi dan
di tempat lain berlaku seperti jalur rel biasa. Lainnya
hanya rak. Di tipe terakhir, umumnya roda lokomotif
free-wheeling dan meski rupanya tak menyumbang
pengendaraan kereta.

* Lokomotif gigi










Awalnya, hampir seluruh jalur rel gigi mendapat tenaga
dari lokomotif uap. Lokomotif uap perlu dimodifikasi
secara luas di lingkungan itu. Tak seperti lokomotif
diesel atau lokomotif listrik, lokomotif uap hanya
bekerja saat pembangkit tenaga listriknya (ketel, dalam
hal ini) agak rata. Ketel lokomotif membutuhkan air
untuk terus menutupi tabung ketel dan helai tungku,
khususnya lembar mahkota, atasan tungku dari logam.

Jika tak ditutupi dengan air, panas api akan melelehkannya
hingga meledak di bawah tekanan ketel, menimbulkan
kerusakan besar.

Pada sistem rak dengan kemiringan yang ekstrem, ketel,
tempat masinis dan superstruktur umum lokomotif
dimiringkan relatif ke depan ke roda, agar kurang lebih
horizontal saat di jalur rel menanjak. Sering lokomotif
itu tak berfungsi di jalur datar, dan begitu jalur
keseluruhan, termasuk bengkel pemeliharaan, harus
dibentangkan miring. Inilah salah satu alasan mengapa
jalur rel para-para di antara satu yang mesti dilistrikkan.

Pada jalur rel yang hanya rak (para-para) lokomotif
selalu mendorong gerbong untuk alasan keamanan sejak
lokomotif dicocokkan dengan rem yang amat kuat, sering
termasuk kaitan atau kelem yang menarik rel rak
dengan keras.









Beberapa lokomotif dicocokkan dengan rem otomatis
yang diterapkan jika kecepatannya terlalu tinggi dan
tak bisa dikendalikan lagi. Sering tiada coupler antara
lokomotif dan kereta sejak gaya berat akan selalu
menekan gerbong terhadap lokomotif. Eletrikal yang
mendapat kekuatan dari kendaraan sering memiliki
remrel elektromagnetik juga.

* Jalur rel gigi di Indonesia

Dewasa ini jalur rel gigi yang masih tersisa di Indonesia
adalah jalur kereta di Sumatera Barat seperti yang melewati
daerah kawasan wisata Lembah Anai.

Dahulu, jalur rel Ambarawa-Bedono merupakan bagian dari
jalur rel Kedungjati-Yogyakarta, yang kini sudah tak
dipakai lagi.

Di Ambarawa ada museum KA (yang juga berfungsi sebagai
stasiun) yang menyimpan loko-loko antik. Para turis
masih bisa bernostalgia jalur Ambarawa-Bedono dengan
kereta rel gigi yang masih beroperasi di sana.

* Dalam fiksi









Culdee Fell Mountain Railway ialah jalur rel gigi fiktif
di Kepulauan Sodor di The Railway Series oleh
Rev. W. Awdry. Operasinya, lokomotif dan sejarahnya
paling tidak di bagian hyang berdasarkan pada Snowdon
Mountain Railway.

___________

Penutup
___________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

...dan...

Kiranya jelas, bahwa jalur Rel Gigi ini masih ada di
Indonesia yaitu di Ambarawa Jawa Tengah dan Sumatra Barat.

Selamat malam...!










______________________________________________________________
Cat :
Rel Gigi dengan Kereta Api Wisata Singkarak yang masih tersisa di Sumatera Barat - YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=yR_urHPf-8g&t=25s
On The Spot ( Trans 7 ) - Fakta Unik Rel Kereta Bergerigi
Kereta Api Railway - ReL Gerigi Ambarawa - YouTube




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar