Monday, April 24, 2017

Hidroponik sebagai Tanaman Tanpa Tanah


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Hidroponik sebagai Tanaman Tanpa Tanah)
_______________________________________________________________










_______________

Kata Pengantar
_______________

"Hidroponik merupakan bagian dari budidaya tanpa tanah. Banyak
budidaya tanpa tanah..." Demikian wikipedia mengatakan tentang
Hidroponik ini para kawan sekalian.

...dan...

Berikut info lengkapnya.

Selamat menyimak...!

________________________________________________________________

Sekilas info tentang Hidroponik sebagai Tanaman Tanpa Tanah
________________________________________________________________











* Pengertian

Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air
tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan
kebutuhan nutrisi bagi tanaman.

Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air
pada budidaya dengan tanah. Hidroponik menggunakan air yang lebih
efisien, jadi cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasokan
air yang terbatas.


* Etimologi








Hidroponik (Inggris: hydroponic) berasal dari kata Yunani yaitu hydro
yang berarti air dan ponos yang artinya daya. Hidroponik juga dikenal
sebagai soilless culture atau budidaya tanaman tanpa tanah.

Jadi hidroponik berarti budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan
tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilless.
Metode dasar

Dalam kajian bahasa, hidroponik berasal dari kata hydro yang berarti
air dan ponos yang berarti kerja. Jadi, hidroponik memiliki pengertian
secara bebas teknik bercocok tanam dengan menekankan pada pemenuhan
kebutuhan nutrisi bagi tanaman, atau dalam pengertian sehari-hari
bercocok tanam tanpa tanah.

Dari pengertian ini terlihat bahwa munculnya teknik bertanam
secara hidroponik diawali oleh semakin tingginya perhatian manusia
akan pentingnya kebutuhan pupuk bagi tanaman.

Di mana pun tumbuhnya sebuah tanaman akan tetap dapat tumbuh dengan
baik apabila nutrisi (unsur hara) yang dibutuhkan selalu tercukupi.

Dalam konteks ini fungsi dari tanah adalah untuk penyangga tanaman
dan air yang ada merupakan pelarut nutrisi, untuk kemudian bisa
diserap tanaman.

Pola pikir inilah yang akhirnya melahirkan teknik bertanam dengan
hidroponik, di mana yang ditekankan adalah pemenuhan kebutuhan nutrisi.

* Sejarah









Pada mulanya, kegiatan membudidayakan tanaman yang daratan tanpa
tanah ditulis pada buku Sylva Sylvarum oleh Francis Bacon dibuat
pada tahun 1627, dicetak setahun setelah kematiannya.

Teknik budidaya pada air menjadi penelitian yang populer setelah
itu. Pada tahun 1699, John Woodward menerbitkan percobaan budidaya
air dengan spearmint. Ia menemukan bahwa tanaman dalam sumber-sumber
air yang kurang murni tumbuh lebih baik dari tanaman dengan air murni.

Pada tahun 1842 telah disusun daftar sembilan elemen diyakini
penting untuk pertumbuhan tanaman, dan penemuan dari ahli botani
Jerman Julius von Sachs dan Wilhelm Knop, pada tahun-tahun 1859-1865,
memicu pengembangan teknik budidaya tanpa tanah.

Pertumbuhan tanaman darat tanpa tanah dengan larutan yang menekankan
pada pemenuhan kebutuhan nutrisi mineral bagi tanaman. Dengan
cepat menjadi standar penelitian dan teknik pembelajaran, dan
masih banyak digunakan saat ini. Sekarang,
Solution culture dianggap sebagai jenis hidroponik tanpa media tanam
inert, yang merupakan media tanam yang tidak menyediakan unsur hara.

Pada tahun 1929, William Frederick Gericke dari Universitas California
di Berkeley mulai mempromosikan secara terbuka tentang Solution culture
yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian.

Pada mulanya dia menyebutnya dengan istilah aquaculture (atau di
Indonesia disebut budidaya perairan), namun kemudian mengetahui
aquaculture telah diterapkan pada budidaya hewan air.

Gericke menciptakan sensasi dengan menumbuhkan tomat yang menjalar
setinggi duapuluh lima kaki, di halaman belakang rumahnya dengan
larutan nutrien mineral selain tanah.

Berdasarkan analogi dengan sebutan Yunani kuno pada budi daya perairan,
?e?p?????,ilmu budidaya bumi, Gericke menciptakan istilah hidroponik
pada tahun 1937 (meskipun ia menegaskan bahwa istilah ini disarankan
oleh WA Setchell, dari University of California) untuk budidaya
tanaman pada air (dari Yunani Kuno ?d??, air ;
dan p????, tenaga











Pada laporan Gericke, dia mengklaim bahwa hidroponik akan merevolusi
pertanian tanaman dan memicu sejumlah besar permintaan informasi lebih
lanjut. Pengajuan Gericke ditolak oleh pihak universitas tentang
penggunaan greenhouse dikampusnya untuk eksperimen karena skeptisme
orang-orang administrasi kampus. dan ketika pihak
Universitas berusaha memaksa dia untuk membeberkan resep nutrisi
pertama yang dikembangkan di rumah, ia meminta tempat untuk rumah
kaca dan saatnya untuk memperbaikinya menggunakan fasilitas penelitian
yang sesuai. Sementara akhirnya ia diberikan tempat untuk greenhouse,

Pihak Universitas menugaskan Hoagland dan Arnon untuk menyusun ulang
formula Gericke, pada tahun 1940, setelah meninggalkan jabatan
akademik di iklim yang tidak menguntungkan secara politik, dia
menerbitkan buku berjudul Complete Guide to Soil less Gardening.

Teknik hidroponik banyak dilakukan dalam skala kecil sebagai hobi di
kalangan masyarakat Indonesia. Pemilihan jenis tanaman yang akan
dibudidayakan untuk skala usaha komersial harus diperhatikan, karena
tidak semua hasil pertanian bernilai ekonomis. Jenis tanaman yang
mempunyai nilai ekonomi tinggi untuk dibudidayakan di hidroponik yaitu:

Paprika
Tomat
Timun Jepang
Melon
Terong Jepang
Selada

* Awal mula


Pada awalnya Gericke mendefinisikan pertumbuhan tanaman hidroponik
dengan larutan nutrien mineral. Hidroponik merupakan bagian dari
budidaya tanpa tanah. Banyak budidaya tanpa tanah namun dengan larutan
untuk hidroponik.

Peneliti NASA (National Aeronautics and Space Administration) memeriksa
bawang dan selada hidroponik disebelah kirinya dan lobak di depannya

Tanaman yang tidak ditumbuhkan dengan cara pada umumnya, akan dapat
untuk tumbuh menggunakan sistem lingkungan yang dapat dikendalikan
seperti hidroponik.

Tampaknya NASA juga memanfaatkan hidroponik pada program luar angkasanya.
Ray Wheeler, seorang ahli fisiologi tanaman di Laboratorium Space Center
Space Life Science, Kennedy, percaya bahwa hidroponik akan berkontribusi
membuat kemajuan dalam perjalanan luar angkasa. Dia menyebutnya sebagai
sistem bioregenerative life support.

* Macam-macam hidroponik










Static solution culture (kultur air statis)
Continuous-flow solution culture, contoh : NFT (Nutrient Film Technique),
DFT (Deep Flow Technique)

Aeroponics
Passive sub-irrigation
Ebb and flow atau flood and drain sub-irrigation
Run to waste
Deep water culture
Bubbleponics
Bioponic

* Static solution culture









Static solution culture memiliki pengertian budidaya hidroponik dengan air
statis yang mana airnya diam dan tidak mengalir, merupakan teknik hidroponik
yang akarnya secara terus-menerus akarnya tercelup air yang diletakkan
pada wadah berisi larutan nutrien.

Namun Di Indonesia, Static solution culture lebih dikenal dengan istilah
teknik apung (atau disebut rakit apung) dan sistem sumbu (atau disebut
wick system). Merupakan jenis paling sederhana dari semua jenis hidroponik.

Untuk ukuran wadah larutan dapat berbeda tergantung pada penggunaan dan
ukuran tanaman. Dalam skala kecil (skala rumah tangga maupun hobby
berskala kecil), hidroponik dapat dibuat dengan wadah yang biasanya
dipakai di dalam rumah seperti gelas, toples, ember, ataupun bak air.

Wadah bening dapat di bungkus dengan Aluminium foil, plastik, cat, atau
material lain yang menolak cahaya (membuat cahaya tidak bisa masuk)
agar tidak tumbuh lumut.

Penutup wadah air dilubangi dan diisi tanaman, disitu dapat diisi satu
atau beberapa netpot tanaman untuk setiap wadah air. Dalam teknik sumbu
sendiri setiap net pot diisi media tanam dan potongan kain yang menjulur
ke bawah yang berfungsi menyerap larutan ke akar tanaman melalui pipa-pipa
kapiler pada kain. Sedangkan dalam teknik apung dapat menggunakan lembaran
gabus yang dilubangi dan disisi pot-pot kecil yang diisi (media tanam)
untuk tanaman yang akarnya tercelup langsung pada wadah air.









Agar larutan nutrien dapat bersirkulasi secara merata, maka perlu diberi
blekutukan dengan mesin penggelembung udara atau disebut aerator (aerator
kecil bisa didapat di toko ikan) ataupun dengan penggunakan pompa air
yang biasa dipakai di aquarium. dalam skala komersial dapat menggunakan
pompa bertenaga medium (yang biasa dipakai untuk pancuran kolam dan taman).

Tanpa aerator pun masih bisa, namun jika tidak di beri aerator, akan
membuat larutan yang berada di bagian bawah menjadi tidak terserap
lantaran posisi akar berada di atas larutan yang tidak terserap
(lantaran air tidak bersirkulasi),
dan juga, akar-pun kurang mendapat asupan oksigen.

Larutan nutrien dapat diganti sesuai jadwal atau sesuai prosedur.
Setiap kali larutan berkurang hingga di bawah tingkat tertentu, maka
perlu menambahkan air atau larutan nutrisi segar sesuai dengan kebutuhan
masing-masing tanaman yang dinyatakan dengan satuan TDS (Total Solid
Dissolved) atau PPM (Part per Million) yang diperlukan.

Dalam budidaya teknik sumbu (wick system) memiliki kendala pada
penurunan volume larutan, untuk mencegah ketinggian larutan nutrien
turun di bawah akar ataupun sumbu, dapat digunakan keran dengan katup
pelampung bola (yang biasa dipakai di tandon) untuk menjaga ketinggian
larutan secara otomatis. Dalam budidaya larutan rakit apung, tanaman
ditempatkan dalam celah pada lembaran gabus / stereofoam yang
mengapung di atas permukaan larutan nutrisi. Dengan teknik apung,
ketinggian larutan tidak akan turun di bawah akar dan akarpun selalu
tercelup pada larutan nutrien.
Aeroponik

Aeroponik merupakan sistem yang akarnya secara berkala dibasahi
dengan butiran-butiran larutan nutrien yang halus (seperti kabut).

Metode ini tidak memerlukan media dan memerlukan tanaman yang tumbuh
dengan akar yang menggantung di udara atau pertumbuhan ruang yang
luas yang secara berkala, akar dibasahi dengan kabut halus dari
larutan nutrisi. Aerasi secara sempurna merupakan kelebihan utama
dari aeroponik.

Teknik aeroponik telah terbukti sukses secara komersial untuk
perkecambahan biji, produksi benih kentang, produksi tomat, dan
tanaman daun.










Karena penemu Richard Stoner mengkomersialkan teknologi aeroponik
pada tahun 1983, Aeroponik telah dilaksanakan sebagai alternatif
untuk sistem pengairan hidroponik secara intensif di seluruh dunia.

Kelebihan aeroponik yang lain yang berbeda dari hidroponik adalah
bahwa setiap jenis tanaman dapat tumbuh (dalam sistem aeroponik
yang benar), karena lingkungan mikro dari aeroponik benar-benar
dapat dikontrol. Keunggulan aeroponik adalah bahwa tanaman
aeroponik yang di jeda pembasahannya akan dapat menerima 100%
dari oksigen yang ada, dan karbon dioksida pada bagian akar,
batang, serta daun,[9] sehingga mempercepat pertumbuhan biomassa
dan mengurangi waktu perakaran.

Penelitian NASA menunjukan teknik aeroponik, bahwa tanaman dapat
mengalami peningkatan pertumbuhan sebesar 80% dalam massa berat
kering (mineral penting) dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh
pada hidroponik lain. Aeroponik menggunakan 65% air dari kebutuhan
air hidroponik. NASA juga menyimpulkan bahwa tanaman yang tumbuh
dengan aeroponik, membutuhkan ¼ nutrisi yang digunakan dibandingkan
dengan hidroponik lain [10]. Bercocok tanam dengan Aeroponik
menawarkan kemampuan petani untuk mengurangi penyebaran penyakit
dan patogen. Aeroponik juga banyak digunakan dalam penelitian
laboratorium fisiologi tanaman dan patologi tanaman. Teknik
aeroponik mendapat perhatian khusus oleh NASA karena kabut lebih
mudah untuk ditangani daripada menangani cairan di tempat
tanpa gravitasi.

Kelebihan lain dari aeroponik ini, kentang dapat dipanen tanpa
merusak jaringan akar pada tanaman sehingga sebuah tanaman dapat
dipanen berkali-kali dan dapat memilih umbi kentang yang siap panen.
Media tanam

Media tanam inert adalah media tanam yang tidak menyediakan unsur
hara. Pada umumnya media tanam inert berfungsi sebagai buffer dan
penyangga tanaman. Beberapa contoh di antaranya adalah:

Arang sekam
Spons
Expanded clay
Rockwool
Sabut (Coir)
Perlite
Batu apung (Pumice)
Vermiculite
Pasir
Kerikil
Serbuk kayu atau disebut serbuk gergaji

Keuntungan teknik hidroponik

Tidak membutuhkan tanah
Air akan terus bersirkulasi di dalam sistem dan bisa digunakan untuk
keperluan lain, misalnya dijadikan akuarium

Pengendalian nutrisi lebih sederhana sehingga nutrisi dapat diberikan
secara lebih efektif dan efisien

Relatif tidak menghasilkan polusi nutrisi ke lingkungan
Memberikan hasil yang lebih banyak
Mudah dalam memanen hasil
Steril dan bersih
Media tanam dapat digunakan berulang kali
Bebas dari tumbuhan pengganggu/gulma
Tanaman tumbuh lebih cepat

Untuk keperluan hiasan, pot dan tanaman akan relatif lebih
bersih. Sehingga untuk merancang interior ruangan dalam rumah
akan bisa lebih leluasa dalam menempatkan pot-pot hidroponik.
Bila tanaman yang digunakan adalah tanaman bunga, untuk bunga
tertentu bisa diatur warna yang dikehendaki, tergantung tingkat
keasaman dan basa larutan yang dipakai dalam pelarut nutrisinya.
________

Penutup
________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

...dan...

Selamat malam...!

_____________________________________________________________________
Cat :
INSTALASI HIDROPONIK NFT
Instalasi Hidroponik DFT Paralon PVC

No comments:

Post a Comment