Saturday, March 9, 2013

"MARBURU HIJE DI GUNUNG SIBUALBUALI - SIPIROK ANGKOLA"

< #SELAMAT MALAM SIPIROK ANGKOLA#
(Melihat cara berburu hije di  gunung Sibualbuali Sipirok Angkola)
__________________________________________________________

"Kung...kung...kung...kung" ninna. "Kung...kung" ninna muse.
Dan tiba-tiba, "Kaing...ggg". Asi songoni sora ni anjingi
narohakku, hape nai toko ni kapalai do kapala nai,
"Nagoar maho..." nina anggia.
Lalu sip attong anjingi. Hahahaha...

video

Para kawan...!

Rupanya pada saat itu, para pemburu hije dari Desa
Padang Bulan sedang berdiskusi, mangatur strategi tentang
kearah mana memburu hije, berapa orang yang harus ikut, siapa
yang menjaga sebelah utara dan barat, anjing yang mana harus
di ikutkan, dll yang berhubungan dengan pemburuan hije tersebut.

Kejadian ini berlangsung sekitar tahun 80'an, dimana penulis
pada saat itu terlibat langsung dalam perburuan hije on.
Yang lainnya terlibat adalah Falles Harianja dan Virgong Hts
keduanya adalah teman-teman para ayahanda selama
berkebun dulu di wilayah sekitar Aek Latong (Desa Huraba).
Naposo bulung dari Purbatua, dan desa Anturmangan juga
tidak ketinggaln.

Para kawan sebelum perburuan hije ini dimulai ada baiknya
kita mengenal dulu yang namanya Falles Harianja dan Virgong
Hst. Hal ini penulis rasa perlu diketahui mengingat pekerjaan
marburu bukanlah pekerjaan gampang, perlu keahlian khusus
apa lagi perburuan ini hanya mengandalkan anjing dan gupak.
Hahahaha...ya hanya anjing dan gupak senjata utamanya.
Serta beberapa ayat hapalan aso ulang lilu di harangani.
_________________________________

Virgong Hst dan Falles Harianja
_________________________________

Para dongan...!

Nama Virgong dan Falles tersebut sesungguhnya bukanlah nama
sebenarnya, nama itulah adalah nama panggilan dalam pertemanan
orang tua penulis. Dan ini tentunya tidak aneh karena halak hita
memang paling suka manggoari.


Keduanya adalah paragat di
wilayah Gn. Sibualbuali dan
nyaris semua orang yang
suka nongkrong di "pamasuanan"
mengenalnya.Tak terkecuali desa-
desa disekitar Aek Latong.

Nilai lebih si Bapak Virgong
ini yang dalam panggilan tutur
saya sebut "Tulang" adalah
kesabaran menjalani
hidupnya yang cukup tinggi,
disamping keahliannya
bersenandung ketika beliau
"Manggual bargot".

Ya...! manggual bargot, suatu pekerjaan yang terkesan mudah,
tapi tanpadiiringi hati yang tulus, maka pekerjaan tersebut bisa menjadi
sia-sia. (air niranya tidak mau keluar-pen). Dan sesunguhnya ini ada
benarnya jika kita melihat  cerita "asal muasal bargot". itu.

(Baca molo porlu anggia).

Mengenai senandung / lagu / pangidoan pada saat manggual tersebut.
saya tidak mengerti artinya dan lupa kata-katanya, tapi kesan
yang timbul pada saat manggual tersebut benar-benar menyentuh kalbu,
"bikin pilu hati ini" ima hata lainna. Maroros ate-ate hata parsuadaanna.

Tanah batak yang katanya tano sere itu, menjadi diragukan. Gambaran
yang timbul adalah kegersangan hidup dan kesedihan betapa
susahnya hidup di tanah batak. Ah...hangoluan. sudahlah marosros
ate-ate dibagasan, akka na hona begu dope.

Tak jauh beda dengan Falles ini, yang dalam panggilan tutur saya
sebut "Uwa" Beliau juga paragat yang punya ketangkasan khusus
dan mampu memainkan nada-nada dalam seruling.

Jika di dunia maya ini, kita sering mendengar "Seruling Batak,
seruling onang-onang dan ungut-ungut maka Uwa saya ini juga
mampu memainkannya. Pilu dan menyayat kalbu ketika suling ini
dimainkannya dulu pada saat "Manepek" di Gn. Sibualbuali.
Sekali lagi kawan...! Pilu dan menyayat kalbu ketika suling ini
dimainkannya dulu pada saat "Manepek" di Gn. Sibualbuali.

Dan hal yang tak saya lupakan sampai sekarang adalah ketika
keduanya dipadukan, si Tulang Virgong sedang manggual dan
bersenandung, sementara si Uwa ini mengikutinya dengan suara
seruling. Ah...rasa-rasanya kita seperti ingin menangis dan badan
terasa manyikur. Apalagi pada saat itu matahari sudah mulai
tenggelam dan suara daun bambu (bulu golap) berdesis seolah
memberi tanda hari telah petang di Gn. Sibualbuali.

Ilustrasi ijuk di
Pamasuanan (Purbatua)
Begitu juga suara pitcala
marsibalos-balosan
marsisahutsahutan
sementara dari kejauhan
terdengar suara sipatu
ceko sedang
manyeret didalan tanpa
kita ketahui siapa oranya,
karena ijuk
yang dipundaknya telah
menutupi seluruh bagian
kepalanya karena
beratnya beban yang harus dibawa.

Para kawan...! Keduanya memang telah tiada tapi kebaikan hatinya
masih tetap saya ingat. Nira yang terkadang saya minum di tanah
perantauan ini, cukup sering mengingatkan saya pada kedua
alamarhum. Semoga Tuhan tai, menempatkannya di tempat yang di
ridhoiNya. Amin ya robbal alamin.
__________________________________________________

Perburu Hije di Gn. Sibualbuali (Aek Latong dan sekitarnya)
__________________________________________________

Denah Marburu Hije
Para dongan...! Mengingat
peristiwa lampau, sungguh
sangat logis bagi saya jika di
Desa Padang Bulan memang
sering didapatkan
hije (Lebih dari 5 X seingat
penulis). Letaknya ternyata
cukup strategis bagi pemburu
hije untuk menggiring hije
buruan ini
masuk kedesa Padang bulan
(lihat denah).

Desa ini ternyata, berada diantara sungai/Aek Sagala dan Aek
godang Anturmangan dan pertemuan airnyapun berada dibelakang
desa Padang Bulan tersebut.

Ini artinya, jika kita berburu kegunung Sibualbuali (Aek Latong-
Pengkolan / natambang), hasil buruan tersebut dapat kita giring
untuk memasuki Desa Padang  Bulan dan kecil kemungkinan hije ini
melewati desa tersebut karena adanya kedua aek godang sebagai
penghalang.

Adapun sebelah selatannya dengan sendirinya dihindari hije ter
sebut karena ada jalan raya (suara motor akan memberitanda bagi
hije untuk tidak menyeberang).

Ditengah hutan kami hanya mengikuti jejak-jejak anjing buruan
kearah mana kami di bawa. Dan jika buruan sudah ditemukan maka
dengan sendirinya anjing tersebut akan memberikan kode gonggongan.

Dan jika sudah diberikan kode, maka kita tingal mengatur strategi
penghambatan jalannya hije. Begitupun...! Keseriusan penghambatan
ini akan kita lakukan jika sudah ada diantara pemburu yang memas
tikan bahwa yang dikejar anjing adalah hije.

Para dongan...! Tentunya kita
sepakat, "Bahwa anjing tak
dapat membedakan/bemberitahu
bahwa yang dikejarnya adalah
hije atau babi. Tapi terkadang,
anjing akan lebih garang karena
yang di kejarnya adalah hije
dan bukan babi (Babi dihitaan
kadang di
takuti anjing/babi rombongan -pen).

Setelah dipastikan, bahwa yang diburu memang benar-benar hije
maka para pemburupun akan berusaha sebisa mungkin menangkapnya
baik dengan senjata yang telah disiapkan. Dan jika penangkapan
gagal selama berburu, maka mereka berharap agar buruan ini
terus berlari ke arah desanya. Hingga penduduk desapun dapat
membantunya.

Dan hal ini, nyaris penduduk sudah mengetahuinya. Karena itu
jika petang telah tiba dan para pemburu belum pulang sementara
mereka mendengar suara gonggongan anjing yang terus menerus,
maka para pendudk desapun akan mulai menyiapkan peralatan
bantu/berburunya masing-masing dengan maksud dialah yang akan
mendapatkannya.

Para dongan...! Jika hije memang sudah masuk Desa Padang Bulan,
maka hije tersebutpun dapat dipastikan akan tertangkap. Karena
hijenya sudah kelelahan dan pendudukpun semakin banyak yang
mengkepungnya.

Dan singkat cerita, "Hije tersebutpun tertangkap" setelah si
boru tulang melemparkan gupaknya pada kepala hije tersebut
di pamasuan ni pinggan niai. Hahahaha....hijenya masuk dapur
kawan, dan dihabisi sama siborutulang lewat jurus, "Guha /
gupak habang". Dan...dan...dan...bagaimana aturan mainnya jika
hal seperti ini terjadi adalah sub judu berikutnya kawan.
____________________________

Ise nadapotan isia ulunai
____________________________

Si borutulang sedang berphoto
bersama hije tangkapannya
Sudah bukan rahasia lagi, isepe
nadapotan buruan hije ditanah
Batak maka sama beliaulah
kepala/ulu dari hije tersebut. Begitu
lah aturan main berburu ditetapkan
opputta najumumolo suhuti.

Karena itu kawan...! Maka buruan
hije tersebutpun dengan
sendirinya milik si borutulang,
meskipin beliau tidak ikut
dalam perburuan. Dan tak seorangpun dapat membantah.
Hahaha..."Selamat makan hije borutulang...".
____________________________________

Tanduk ni Hije di Desa Padang Bulan
____________________________________

Para dongan...! Karena memang demikian aturan mainnya, maka
desa Padang Bulan ini yang penduduknya kurang lebih 25 rumah
tangga pada masa itu cukup banyak yang punya hiasan ruang
tengah dengan tanduk ni hije. Dan tanduk ni hije ini tak
jarang pula mereka gunakan sebagai sangkotan ni kupia lobe
dan talokung. Hahahahahaha....hebat halak hita.

Jika tulisan ini kebetulan dibaca sama
halak Padang Bulan, maka saya
sebagai penulis angkolafacebook
blogspot.com menyampaikan
terimakasih atas adanya pengalam
hidup dari sana hingga tulisan ini
terlaksana.

Dan sebagai penutup pantun ini
untuk kita bersama :

Hipas ninna muda mardalan
tu namardalan palan-palan
Hije pe bisa do dapot di dalan
muda dapot paulak tu kehutanan

Mengapa rusa itu dipaulak ke kehutanan anak namboru....?
karena bisa jadi rusa itu sedang dilanda asmara boru tulang...!

Oh....begitunya...!

ya ...begitulah kira-kira.... musik...!





Sepasang rusa dilanda asmara
Mereka pergi berdua-dua
Menikmati udara berkasi-kasihan
Berbahagia lah mereka

Akan tetapi datang lah tiba-tiba
Seorang pemburu yang mengintai
Dia lalu menenbak rusa itu
Matilah si rusa betina, haa-haa...

Rusa jantan berlari masuk hutan
Kasihan kekeasih nya telah hilang
Akhirnya tak tertahan dia masuk jurang
Tamat lah owh, riwayatnya...

Horas...horas...horas...!
__________________________________________________
Cat :
* Info sekitar hije nusantara, hije sumatra utara, hije sibualbuali, dll
ada pada link :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2013/03/hije-gunung-sibualbuali.html

http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/149-Si-Baroar#

PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

No comments:

Post a Comment