Rabu, 22 Mei 2013

"SAYA ORANG INDONESIA (MENIKAHLAH DENGAN ORANG BATAK 2)

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Tanggapan pada blog Softly & Slowly dengan judul tulisan
Saya orang Indonesia ; Jangan Kawin dengan Orang Batak II)
Oleh : Rahmat Parlindungan Siregar
___________________________________________________________








Tio do tao toba jonokkon ni tutuk Parapat najarang do luluan
songon aturan ni adat Batak. Musik...!



kakakakakaka...kkk....horas Tao Toba, horas halak batak dan
horas juga ito penulis blog Softly & Slowly, apa kabar...?
Semoga kabar baik dan tetap sehat wal afiat. blog Softly &
Slowly i like it.

Para kawan...!

Jika kita mengunjungi alamat situs http://softlyslowly.wordpress. com/
batak/saya-orang-indonesia-jangan-kawin-dengan-orang-batak-iii/
maka kita akan menemukan tulisan dengan judul "Saya orang indonesia;
Jangan Kawin dengan orang Batak II".

Pernyatan ini menurut hemat penulis blog angkolafacebook bukanlah
pernyataan dari penulis blog Softly & Slowly tapi pernyataan dari
seseorang yang kebetulan pas dengan apa yang ada dipikiran penulis
blog Softly & Slowly.

Belia berkata, "Bulan July kemaren ada yang meninggalkan sebuah pesan
di topik: Jangan Kawin Dengan Orang Batak! Gee….gw baru baca komen-nya
hari ini, dan tiba-tiba merasa ~~kalau kata orang Sunda~~ peureussss
di hati. Pedih! Ga ada hubungan sama komen itu, cuma tiba-tiba aja
terlintas pikiran yang udah haunted lama di dasar otak gw.

Sudah beberapa tahun ini jika orang nanya sama gw: Mbak ini orang apa?
maka gw akan menjawab: saya orang indonesia. Sering-sering orang
nyangka gw becanda, lalu tersenyum dan memperkuat pertanyaannya:
Maksudnya, asalnya dari mana? Gw jelas tau maksud pertanyaannya,
gw hanya menghindar".

Para kawan...!

Mengacu pada pernyataan di atas jelas si penulis blog Softly & Slowly
"Menunjukkan Persetujuannya". Dan terhadap persetujuan ini saya
menangkap alasan si ito (penulis blog Softly & Slowly) mengatakan
untuk tidak kawin dengan orang batak, sbb :

1. Banyak asap rokok dan merasa terhina pada pesta pernikahan

"Berada di pesta pernikahan orang batak dan arisan orang batak ga
pernah membuat gw merasa nyaman. Selain asap rokok yang tidak
familiar dengan gw, dan benar-benar merupakan jenis polusi paling
nyebelin-ever buat gw, adat istiadat yang berlaku juga membuat gw
sering-sering merasa terhina daripada merasa belong-to". Kata ito
kita ini.

2. Kurang diperhitungkan pada kegiatan duka cita (Siluluton)

"Contoh yang paling gw inget adalah waktu bokap gw meninggal. Gw adalah
anak-nya. Anak-nya yang paling tua. Dan gw merasa dekettttt banget
sama bokap gw. Sedih hati-nya adalah, oleh banyaknya orang yang datang
berkunjung, gw ga merasa terhibur malah tambah sedih hingga gw pingsan
dan menangis melolong. Bukan kepergian bokap yang paling menyayat hati
gw, tapi kenyataan bahwa orang-orang yang datang itu ~~baca:orang batak~~
‘menendang’ gw dari berlama-lama memandang terakhir kalinya jenasah bokap,
dan menganggap bahwa mereka-lah yang paling patut untuk menghias peti
mati-nya dan duduk di sebelah jenasah my very own father!

Dalam upacara adat batak untuk melepas jenasah itu, gw samasekali ga
masuk itungan. Jangan-lah disuruh duduk di samping peti mati bokap gw,
berada di ruangan yang sama pun gw hampir-hampir ga boleh kalo gw ga
betereak permisi minta jalan..." tulis ito ini.

3. Tidak nyaman di acara arisan

"Sebisa mungkin hingga hari ini gw menghindar dari arisan orang batak.
Paling segen gw dengan acara-acara sedemikian. Tidak nyaman. Tidak
friendly. Tidak kepingin. Udah hampir empat-puluh taun usia gw, dan
sejauh ini belon pernah sekali-pun gw merasa bersahabat dengan
lingkungan tersebut. Belum pernah dalam acara apapun juga, pernikahan
atau kematian di keluarga gw, gw merasa di welcome or well-comfort
oleh orang-orang yang menganggap diri mereka pemangku adat batak.
Gw lebih merasa diinjek, dicela, dimaki dan ditendang..." sambung ito
ini pula.

4. Di suruh-suruh dan dipandangi pada acara pesta

"Contoh:  Adik gw menikah, memang gw adalah parhobas-nya. Namun, apa masuk
akal, seorang perempuan yang berdandan nyalon beberapa jam demi tampil
cantik di pernikahan adiknya, disuruh-suruh dan dipanggil-panggil oleh
pria-pria yang duduk santai merokok dan minum kopi dengan kata-kata
merendahkan seperti: “He, saya belum dapat minumannya!” atau “He,
disini belom dapat, bagaimana sih, masak yang sana terus yang dapat
sih *lalu memaki*”. Saya harus katakan bahwa belum satu kalipun seorang
pria batak yang saya temui dalam acara-acara sedemikian yang tidak
memandangi saya dengan tatapan kurang ajar, seolah-olah penampilan
saya adalah sebuah godaan untuk mereka! Wajar saya tidak suka acara-
acara dimana banyak orang batak berkumpul, karena ditatap sedemikian
hanya membuahkan dua reaksi: tersinggung dan mau marah" kata ito in
pula pada pria.

Sedangkan pada kaum wanitanya, beliau berkata :

"...Para wanita bertubuh subur dengan gelang dan perhiasan keroncong yang
seenaknya menyuruh-nyuruh saya: “Ambil cuci tangan! Bikin ini! Bawa itu!”
dan kemudian mencela dengan seenaknya: “Ah, bagaimana pulak yang satu ini,
kurang gesit!” Astaga! Padahal saya dikenal sebagai seorang fastmover.
Adik ipar saya dicela lebih pedas: “Hey, gemuk kali kau, nanti suamimu lari!”

5. Pembicara adat yang tidak disukai

"...Belakangan saya tahu juga para pembicara adat yang reseh luar biasa itu
ternyata dalam struktur kemasyarakatan bukanlah seorang manager yang cakap
atau direktur perusahaan yang kaya raya. On average, malahan, mereka
tergolong dalam kaum elit berprofesi tambal ban atau supir metromini.
Saya jadinya mengambil kesimpulan bahwa pantas saja mereka bersikap
tidak sopan kepada suhud atau si empunya pesta, karena dalam keseharian,
saya-lah yang lebih wajar bersikap arogan terhadap mereka. Pesta batak
satu-satunya wadah dimana mereka merasa equal dengan orang-orang
berpendidikan lebih tinggi dan berkarir lebih sukses. Nah lo". tulis ito
ini pula pada alinea lainnya.
___________________________________________________________

Tanggapan penulis blog angkolafacebook pada macam alasan
"Saya orang indonesia; Jangan Kawin dengan orang Batak II".
___________________________________________________________

Para kawan...! Musik untuk anda sebelum tulisan ini ditanggapi :



Ehem...ehem...ehem...!

Ito nauli lagu... namalo marbaju...ada apa...? Benarkah separah itu
rasa tidak sukanya pada suku batak...? Tidak adakah satu sudut
kehidupan sebagai sudut pandang ito untuk berkata, "Salut pada suku
batak" atau kalaupun tidak salut, tak adakah ito temukan sudut
untuk berkata, "Lumayan orang batak" atau berkata "Terimakasih tukang
tambal ban halak batak karenamu perjalanan saya menjadi lancar atau
terimkasih supir metro mini telah kau antar aku ketempat tujuanku".
Ah...ah...ah... mengapa tidak ito temukan sudut pandang itu...?

Ito salam hormat putra batak untukmu, mohon ijin saya tanggapi
tulisanya :

Tanggapan alasan 1 :

Pesta pernikahan adalah adalah satu bagian dari budaya ito.
Sepengetahuan saya tidak ada larangan merokok pada acara pesta,
bahkan terkesan di anjurkan dan ini sangat terasa pada  banyaknya
penawaran di antara para orang tua atau anakmuda dengan berkata,
"Indon sigaret. Namangidup ho lae...! "Ini rokok, apakah lae tidak
merokok" demkian terjemahan bebasnya ito.

Ito si denggan roha...! Secara umum rokok bagi orang batak bukanlah
rokok sebagai mana pengertian umum yaitu hanya sebagai penenangg pikiran,
tapi rokok bagi orang batak juga "Lambang pergaulan". Ya lambang
pergaulan ito...! karena itu bagi orang batak terkenallah istilah,
"Marisap ho asa godang pargaulanmu". Merokoklah agar luas pergaulanmu.
itu kata lainnya ito. Ini tidak berarti mereka tidak tahu bahwa
merokok juga dapat merusak kesehatan. Mereka tahu itu, para putri
batak lainnya juga tahu itu. Tapi umumnya mereka mengerti. Ya
mengerti...! Mengapa ito tidak...?

Oke...! Ito mungkin tidak suka mengerti pada orang lain (adaftasi)
tapi ito justru lebih suka orang lainlah yang mengerti ito (Aloflatis)
terhadap hal ini ito toh bisa berkata, "Uda atau uwa, jangan merokok
dong disini...!" Dan saya yakin mereka akan pindah tempat. Orang
batk itu punya hati nurani juga ito.

Mengenai ito merasa terhina di acara pesta, saya pikir pesta batak
itu di buat bukanlah untuk menghina. Tapi justru sebaliknya
mengangkat harkat dan drajat. Dan disebut pesta karena orang yang
terlibat didalamnya lebih dari satu orang bahkan cukup sering
ribuan orang,  sehingga cukup wajar jika ada satu dua orang pula
yang terlupa secara tidak sengaja.

Tanggapan alasan 2 :

Ito yang dalam usia 40 tahu-an...! Kegiatan duka cita dalam adat
batak, bukanlah kegiatan keluarga. Dan jika hanya kegiatan keluarga
maka urusan justru menjadi lebih rumit. Jarang sekali kematian
dalam keluarga halak batak hanya ditangani oleh anak-anaknya saja.
Dan nyaris semua arisan batak itu diciptakan untuk kemudahan dan
kelancaran jika terjadi kabar duka dalam keluarga.

Tata cara kematian dalam adat batak bukanlah tata cara bikin-bikinan,
telah ada aturan mainnya ito, dan semua ini erat hubungannya dengan
apa yang disebut "Dalihan na tolu".

Jika ito merasa keberatan dengan terbatasnya waktu, keberatan dengan
siapa yang menghias peti mati, toh semua itu juga dapat dimusyawarahkan.
"Ketahuilah ito...! Adat batak itu tidak diciptakan untuk memberatkan
atau menyusahkan, "Tapi akan menyusahkan jika pengetahuan kita
mengenai adat itu terlalu sedikit". Dan apapun yang sedikit akan
menjadi tidak efektif sebagai dasar kesimpulan yang besar (Istilah
jangan kawin sama orang batak adalah sesuatu yang besar-pen).







Tanggapan alasan 3 :

Hidup adalah pilihan ito, jika tidak merasa nyaman dalam arisan
yah tidak usah arisan. Tetapi ito, "Kenyaman hidup tidaklah
mutlak datang dari orang/anggota arisan, tapi kenyaman datang
dari hati yang bersih. Sudahkah hati kita bersih menerima kelebihan
dan kekurangan manusia lainnya...?







Tanggapan alasan  4 :

Tampil cantik dan berdandan rapi dari seorang kakak untuk menghadiri
pesta pernikahan adiknya adalah suatu kewajaran ito-ku. Bagaimana
mungkin ito bisa keberatan akan hal ini. Tidak inginkah itu disebut
sebagai seorang kakak yang baik...?

Tentang suruh-suruh, itu sudah ada kepantasannya ito-ku. Pria batak
itu bukanlah orang yang tak punya etika. Saya yakin mereka semua tahu
mana yang pantas disuruh dan tidak pantas.

O ya ito...! "Suruh" bagi orang batak itu tidak sama kuatnya dengan
keputusan pengadilan. Karena itu, itopun tetap boleh tidak melaksanakan
nya. Ito bilang, "Tak mau saya kenapa rupanya". Atau ito saja yang
menyuruh, toh tidak ada larangan. "Damaikan hatimu ito-ku...!"

Ito...! Setiap manusia punya hak dan kewajiban dalam kehidupan
bermasyarakat, mari sama pakai dengan semestinya. Jangan ito
tunjukkan bahwa hak itu lebih penting dari pada kewajiban, karena
banyak orang tidak suka.

Tanggapan alasan 5 :

Ito nauli basa...! Andai saja ito adalah salah seorang putri dari orang
yang orang tuanya tukang tambal ban atau yang orang tuanya supir
metro mini dan orang menulis untuk ito, seperti apa yang ito tulis,
bagaimanala perasaan ito itu...?


Ito...! Tuhan maha kuasa dan kuasa atas segalanya, "Jangan berkata
seperti itu". Penulis blog angkolafacebook berkeyakinan tidak satu
orangpun orang batak yang menyukai peryataan ito pada no. 5 ini.
"Tidak ada jaminan ito manajer itu lebih mulia, lebih baik dari pada
tukang tambal ban".

Oya ito...! Dalam urusan adat profesi / jabatan seseorang tidaklah
menjadi patokan dalam pelaksanaannya. Tapi patokannya "Dalihan
Na tolu". Andai ito mengerti akan hal ini, ito tidak perlu berkata
seperti itu.

Ada saatnya ito, tukang tambal ban sekalipun akan menjadi orang
yang paling dihormati dalam adat. Atau ada saatnya seorang
mentri sekalipun ada saatnya hanyalah jadi tukang masak di dapur
dalam pelaksanaan adat.

___________________________________________________________

Pendapat penulis blog angkolafacebook pada judul tulisan
"Saya orang indonesia; Jangan Kawin dengan orang Batak II" dan
cara berpikir manusia
________________________________________________________





















Para kawan...!

Seingat saya ada 3 cara manusia dalam menggunakan pikirannya yaitu

1. Cara Deduktif yaitu cara dengan melihat peristiwa-peristiwa umum
   untuk diambil kesimpulannya secara khusus. Hubungnnya dengan
   tulisan :
   - Suku batak adalah suku yang keras dan kasar (umum)
   - Si Rahmat Parlindungan Siregar adalah suku batak (khusus)
   - Kesimpulan ; Si Rahmat Parlindungan Siregar adalah orang
                  yang keras dan kasar.
   - Benarkah si Rahmat Parlindungan orang yang keras dan kasar
     karena dia suku batak...?

Kenyataan di lapangan, cara berpikir seperti ini tidak terlalu
diterima oleh masyarakat karena menimbulkan keraguan.

2. Cara Induktif yaitu cara dengan melihat peristiwa-peristiwa
   khusus untuk di ambil kesimpulannya secara umum.

   - Ito si penulis blog Softly & Slowly mengalami peristiwa
     yang tak enak dari suku batak pada saat pesta pernikahan
     dan arisan (khusus)
   - Si ito Krisdayanti boru Sunda adalah kekasihnya si Tigor
     Simbolon dan ingin melaksanakan pesta pernikahan bulan
     depan
   - Si ito Nur Aini  hari ini akan membeli gaun pengantinnya
     untuk dipakainya pada pesta pernihahannya dengan si
     Rahmat Parlindungan Siregar.

   - Kesimpulan : Si ito Krisdayanti dan si ito Nur Aini "Jangan
     mau menikah dengan orang batak karena si penulis blog
     Softly & Slowly mendapat perlakuan yang tak baik dari orang
     batak (tidak logis)
   - Apakah benar si Krisdayanti dan si Nur Aini akan pendapat
     perlakuan yang tidak baik, karena si penulis blog Softly &
     Slowly mengalami perlakuan yang tidak baik...?

Kenyataan di lapangan, cara berpikir seperti ini tidak terlalu
dipakai juga karena kurang  akurat dalam penarikan kesimpulannya.

Ini sama artinya dengan, "Tidak akurat ito yang mengalami beberapa
peristiwa tidak enak dengan orang batak mengambil kesimpulan untuk
berkata, "Jangan kawin dengan orang batak".

3. Logika

Cara berpikir inilah yang paling bagus digunakan. Dan terhadap
hal ini menulis tidak dapat bercomentar saat ini. Namun begitu
tulisan saya ini saya tulis berdasarkan cara berpikir logika (ada sebab
akibat) dan bukan berdasarkan cara berpikir Deduktif atau Induktif.
_________________________________________________________

Pendapat penulis blog angkolafacebook pada kepribadian dalam
hubungannya dengan tulisan
_________________________________________________________

1. Tidak ada dua orangpun manusia yang hidup dimuka bumi ini yang
punya kepribadian sama persis sekalipun kembar.

2. Dan sungguh tidak mungkin membuat pripadi semua orang agar
sesuai dengan kepribadian kita.

3. Kepribadian manusia itu terbentuk dari hasil pengajaran para
orang tua atau natua-tua. Dari hasil membaca atau mendengar
sesuatu dan dari hasil pengalaman seseorang.

4. Dalam hubungannya dengan tulisan dan apa yang di tulis, maka
pengajaran orang tua saya pada saya atau pengajaran orang tua
penulis blog  Softly & Slowly padanya, pendidikan dia atau
pendikan saya, pengalam dia atu pengalaman saya akan mempengaruhi
isi tulisan kami ini juga.

Karena itu jika ito ini menginginkan tulisannya, "Saya orang Indonesia ;
jangan kawin dengan orang batak". karena rasa tak suka, maka penulis
blog Angkola facebook justru menetapkan tulisan ini berjudul,
"Saya orang Indonesia ; Menikahlah dengan orang Batak". karena saya
orang Indonesia, suku batak dan suka Batak.

Adapun alasan-alasannya tentunya telah tergambar lewat uraian-uraian
di atas di samping  tulisan lainnya yang tersedia pada blog ini.
_________

Penutup
_________













Kalau dipikir-pikir hebat nian kehidupan ini ba. Bisa la pula
kebencian seseorang pada sekelompok kecil sub suku batak menyebabkan
seseorang berpikir suku tersebut adalah suku yang tak beres, "saya
orang Indonesia ; jangan kawin dengan orang batak" katanya.

Bagaimana pula, jika ada seseorang yang tidak suka dengan sekelompok
kecil orang Padang, lantas ketidak sukaannya ini disampaikannya pula
lewat blognya, "Saya orang Indonesia ; Jangan kawin sama orang Padang"
katanya pula. Ah.....

Bagaimana dengan orang Jawa, disampaikannya pula, "Saya orang  Indonesia ;
jangan kawin sama orang Jawa" katanya. Begitu juga dengan orang Manado,
"saya orang Indonesia ; Jangan kawin sama orang manado" tulisnya pula.

Macam mana itu para kawan...! Ah....hhh...pusing kepala saya ba. Mohon
maaf pada pembaca jika ada tulisan yang tidak berkenan. Modom hitale...!

Selamat borngin...! O tano batak....haholonganku...


__________________________________________________________________
Cat :
"SAYA ORANG INDONESIA (MENIKAHLAH DENGAN ORANG BATAK I)
tidak ditemukan penulis blog angkola facebook. Dan bagian ke III-nya belum saya baca.
*Tiga video di atas adalah sebagai pendukung tulisan

br />
PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

4 komentar:

  1. pecinta batak bermartabat22 September 2013 08.30

    Memang betul, Jangan menikah dengan orang batak, kecuali batak yang bermartabat, beradab, beretika, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk2nya seperti minum arak, mabuk, judi, kurang sopan-santun, iri dengki, terlalu membanggakan diri, suku, marga, mengkultuskan leluhur dsb. Bukan relatif tapi normatif sebagaimana yang bisa diterima masyarakat secara umum.

    Banyak orang batak sendiri yang mulai capek dengan kebiasaan2 buruk orang batak terutama yang hidup di kampung2 batak. Harus di akui itu..

    Horas !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horas juga...! Paten kali comentarnya pencinta batak bermartabat. Dan saya ingin menjawab : Setuju dan horas kembali...!

      Hapus
  2. Bah Horas Lae,,,
    Saya Juga Telah Me Review Judul Artikel itu,,,
    Cek disini Lae http://berandabatak.blogspot.com/2013/10/saya-orang-indonesiajangan-kawin-sama.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kutipan :"Bahkan ada Kecurigaan bahwa Pemilik dari Forum tersebut adalah Orang Malaysia...?!!!" Jawaban : Bisa jadi lae. Tulisan sudah saya baca dan Trims atas comentarnya. Horas...!

      Hapus