Thursday, September 25, 2014

Hari Tani Indonesia 2014 : 20 Tahapan Pertanian Tanah Batak


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Memberikan masukan pada Kementerian Pertanian / Departemen
Pertanian Indonesia dan Institut Pertanian Bogor tentang
cara bertani di Tanah Batak sebagai bahan masukan / analisa
di "Hari Tani Indonesia" 24 September 2014
_______________________________________________________________










_________________

Kata Pengantar
_________________



















Horas...horas...hora...!

Horas Kementerian Pertanian Indonesia...!
Horas Institut Pertanian Bogor...!
dan Horas Para Petani Indonesia
khususon Petani Tanah Batak...!

Mohon ijin di "Hari Tani Indonesia" ini, penulis angkolafacebook.
blogspot.com memberikan masukan pada Kementerian Pertanian /
Departemen Pertanian Indonesia dan Institut Pertanian Bogor tentang
cara bertani di Tanah Batak.

Dengan tujuan sebagai bahan masukan atau analisa mereka tentang
cara bertani kita. Apakah sudah cukup baik, baik, atau tidak baik
untuk menghasil padi yang berkualitas.

Masukan ini merupakan hasil pengalaman penulis selama jadi
petani ditanah batak bersama orang tua yaitu dari sejak lahir
sampai tahun 1987 (Tamat SMA merantau/perkembangan setelah
tahun-tahun berikutnya penulios tidak tahu persis).

Masukan ini akan penulis susun secara bertahap sesuai dengan
tahapan-tahapan dalam bertani yaitu dari sejak mencangkul
sampai Panen.

Untuk pengkayaan bahasanya, mereka para peneliti pertanian itu
sendiri apakah yang sudah bekerja atau masih sekolah/kuliah
penulis menggunakan Bahasa Batak Angkola.

Selamat menyimak...!

Oya...!

Penulis juga akan menarik kesimpulan tentang pertanian tanah
batak itu sendiri pada kehidupan bermasyarakatnya, berbudaya
dan berpemeritahan hingga tulisan ini terasa seperti "Sattapul
opat latcim" atau "sekali tebas empat terpotong".

Selamat menyimak muse, dengan sub judul pembuka "Mamakkur
saba" atau mencangkul sawah.
______________________________________

1. Mamakkur saba" atau mencangkul sawah
_____________________________________

Masyarakat Batak biasanya akan memulai mencangkul sawah ini setelah
sebulan masa panen. Mereka tidaklah langsung mencangkul seluruh
petak sawah, tapi terlebih dahulu mencangkul dengan nama "martobat"
yaitu mencangkul tanah sekitar semeter dari tanaman padi untuk
kemudian tanahnya diangkat ke atas pematang (Gadu).

juannya bukan saja untuk menghindari mengalirnya air sawah yang
ada di petak sawah keluar juga berguna untuk merendam batang
padi itu sendiri sehingga membusuk.

Hal lainnya, khsusnya untuk petak-petak sawah yang besar dengan
pematang padi yang besar juga dapat digunakan untuk memelihara
ikan mas.

Setelah hal ini berlangsung kurang lebih 1 sampai 4 bulan, maka
mencangkul sawah secara keseluruhan dimulai. Tanah dan batang padi
yang membusuk tersebut akan dibalikkan untuk kemudian di rendam
lagi seperti semula (Ditobatin/dikolamin).

Hal ini biasanya akan berlangsung selama 1 bulan, untuk kemudian
airnya dikeringkan lagi guna untuk melakukan penjajaran "Manjajar"
atau mencangkul tanah sawah tersebut (Cagkulan ke-dua) dengan
cara mencangkulnya lebih kecil-kecil (Cikal bakal seperti lumpur).

Pada saat yang hampir sama, 4 bulan setelah masa panen para
petani tanah batak biasanya akan menyiapkan lahan sawah
yang paling belakangnya (Jae/selatan) sebagai tempat menyamai
atau manyame bahasa batak Angkolanya.
____________________________________________

2. Manjajar (Mencangkul tanah lebih kecil)
____________________________________________




















Seperti ita ketahui, cangkulan pertama tanah pertanian besarnya tidak
lebi dari ukuran cangkulan itu sendiri yaitu sekitar 20-30 cm, maka
cangkulan keduanya (Manjajar) akan membuat tanah yang dicangkul
pertama itu sekitar 5-10 Cm.

Setelah ini selesai, petak sawah tersebut biasanya tidak lagi di
airi secara mendalam, tapi diairi sekitar 30 Cm, hingga panas
matahari dapat membantu penghancuran tanah.

Setelah ini berlangsung, selanjutnya para petani angkola akan
melaukukan yang namanya "Mangaratahon" yaitu suatu cara dimana
tanah diratakan sampai bisa diperkirakan air yang dipetak sawah
tersebut merata disetiap tempat/sudut.

Karena itu para petani juga cukup sering menggunakan alat bantu
yang disebut apaya...(Penulis lupa), tapi dia bentuknya tetap
seperti cangkul cuma alau alat ini terbuat dari kayu dan papan.
Papan tersebutlah yang digunakan untuk meratakan tanah sawah
tersebut.
_________________________________________

3. Manyame=Menyamai (Menanam bibit padi)
_________________________________________

Seperti kita ketahui, masa menyamai ini kurang lebih 2 bulan
dan di bulan pertamanya air harus selalu ada pada kolam
penyamaian tersebut.

Tidak ada ketentuan khsus dalam menyamai padi ini, tapi keahlian
sangat dibutuhkan untuk dapat merasakan apakah padi yang disamaikan
sudah merata atau belum.

Karena itu, pekerjaan ini meskipun terlihat mudah, tapi para
orang tualah yang biasanya melakukannya.

Musuh utma samai padi ini adalah tikus, karena itu hampir semua
tempat penyamaian padi di Angkola dikelilingi oleh plastik
guna menghindari hama tikus tersebut. Dan jika sudah waktunya
tiba maka masuklah pada tahap yang namnya "Mambubut" atau
mengambil hasil samaian padi untuk ditanam.
_______________________________________________

4. Mambubut (Mencabut saaian padi untuk ditanam)
_______________________________________________







Meskipun pekerjaan ini dapat dilakukan kaum pria, tapi di
tanah Batak pekerjaan mambubut ini biasanya dilakukan para
kaum wanita alias ibu-ibu.

Biasanya pada saat dicabut, samai atau same atau kolam samai
tersebut harus digenangi air, sehingga lebih mudah mencabutnya
pun "memaspasnya".

Memaspas ini sebenarnya suatu tindakan dimana samai setelah
dicabut dihentakkan dulu pada sebatang kayu yang besarnya
kurang lebih sepergelangan tangan manusia.

Tujuannya disamping untuk memimnimkan/mensedikitkan tanah
yang menempel pada akar samai tersebut juga lebih memudahkan
dalam membawanya kesemua petak sawah.

Yang seru dari pekerjaan ini adalah tercipratnya air tanah
samai kesegala arah, hingga tak jarang orang yang lagi
menyamai padi di Angkola orangnya tidak terlihat karena
tertutupi tanah tersebut (Matanya aja terlihat).
___________________________

5. Manyuan (menanam padi)
___________________________




















Aneh bin ajaib, "Masa mambubut ini dengan masa mangaratahon"
waktunya selalu bersamaan, sehingga tak jarang pula para
petani pada hari yang sama langsung menanam padi.

Sepengetahuan penulis tidak ada acara khusus dimasyarakat
Angkola yang dilaksanakan secara meramai-ramai pada saat
menanam padi ini. Umumnya hanya bersifat kekeluargaan.

Artinya, jika tiba masa manyuan maka keluarga yang satu
dengan keluarga yang lainnya akan saling memberitahu.
Karena itu tak jarang pula, pada saat mulai manyuan ini
pra anggota keluarga "Makan yang enak-enak".

Maksud penulis "Makan ayam". Ya...makan ayam dan bukan
telornya. Begitupun beberapa keluarga mengharuskan juga
ada telornya untuk dimasak sebagai tanda sekaligus
permintaan barokahnya (barokah dalam hati/tidak pala di
khobarkan/diadatkan-Batak Angkola Mayoritas muslim/tidak
pakai cara animisme-animisme).

Mengenai padi yang harus ditanam tidak ada ketentuan,
tergantung selera petani itu sendiri mau nanam padi jenis
apa, termasuk mau nanam "Sipulut" atau padi pulut/ketan.

Yang pasti pada masa penulis, "Hampir semua petani Angkola
menaman padi yang berusia 6 bulan". Begitupun ada juga
yang mencoba dengan usia 3 bulan, yang pada akhirnya
diketahui hasilnya tidak terlalu memuaskan.

Adapun jarak padi yang satu ke yang lainnya tidak ada
etentuan. Hal in sangat dipengaruhi oleh jenis padi
tersebut.

Padi siboto misalnya, karena batang padinya besar maka
jarak tanamnya jauh lebih lebar diandingkan si Kasumbo
atau silatihan.

Sawah yang telah selesai di tanaman, harus selalu berisi
air karena hanya dengan kondidi inila samai tersebut dapat
menyatu kembali dengan tanah. arena itu persoalan air ini
pun sangat penting dipertanian Angkola. Mengairi ini dalam
istilah Angkoladisebut, "Mambuat Aek".
______________________________

6. Mambuat aek (mengairi Sawah)
______________________________



















Para petani Nusantara...!

Ada 3 kesepakatan yang biasa dipakai para petani Angkola dalam
mengairi sawahnya, khsusnya setelah selesai masa menanam yaitu

1. Disepakati berdasarkan waktu
   Maksudnya para petani tersebut berbagi waktu, dari jam segini
   bagian si ini dari jam segono bagian si ono.

2. Disepakati berdasarkan pembagian air (Marbagi aek)
   Maksudnya para petani tersebut membagi setengah-setengah air
   yang mengalir tesebut jika ada dua orang. Begitupun kalau
   tiga orang di bagi tiga, dst.

3. Disepakati tak bersepakat
   Maksudnya tiada kesepakatan, siapa yang butuh silahkan ambil
   atau alirkan. an jika orang butuh maka dialirkannya juga.
   Kondisi seperti ini cuup sering membuat para petani adu mulut
   dan tak jarang pula sawahnya yang paling ujung/selatan tak
   kebagian.

   Karena itu, untuk mengatasi hal ini, cukup banyak juga para
   petani harus rela tengah malam kesawah untuk mengalirkan
   air kesawahnya.

Setelah masatanam ini berlangsung 1 bulan maka masuklah pada
tahapan berikutnya yang disebut dengan "Marbabo".
________________________________________________________

7. Marbabo 1 - 3 (Membersihkan sawah / tanaman padi dari rumput
________________________________________________________

Cara marbabo dari dulu sampai sekarang di tanah Batak Angkola
tetap demikian. Yaitu membersihkan rumput yang ada disekitar
tanaman padi dengan cara mencabutnya untuk kemudian membenam
kannya kembali dekat batang padi tersebut. Dan biasanya ini
dilakukan oleh para kaum ibu.

Marbabo ini dilakukan 3 kali dari sejak padi ditanam yaitu
sekitar bulan pertama kedua dan ketiga. Dibulan ketigannya
sampai ke empat biasanya para petani akan "Mambondarkon".

Adapun dibulan kesatunya setelah selesai di babo, para
petani biasanya kan "Manganapui" atau memberi pupuk.

Sedangkan di bulan keduanya atau dimarbabo keduanya para
petani juga akan melakukan yang namanya "Mangarimbasi".
_____________________________________

8. Manganapui 1 dan 2 (Memberi pupuk)
_____________________________________




















Karena secara umum di tanah Batak dari sejak menanam padi
sampai masa panen merupakan hasil kerjasama antara para
ibu-ibu dan bapak-bapak, maka manganapui ini merupakan
pekerjaan laki-laki.

Satu persatu tobat/kolam/petak sawah tersebut mereka
selesaikan dengan ketinggian air biasanya semata kaki.
Adapun pupuk yang diberikan tidak boleh kena pada batag
padiya tapi sekitar 3-5 Cm dari tanaman padi.

Adapun manganapui kedua, biasanya dilakukan setelah
selesai marbabo yang ketiganya. Cara pemupukan biasanya
tidak lagi dilakukan pada setiap batang padi, tapi pada
jarak antara padi yang satu dengan padi yang lainnya,
sehingga pupuk lebih hemat.

________________________________

9. Manyemprot (mencegah hama padi)
________________________________



















Padi memang tak bisa lepas dari hama. Karena itu di Angkola
manyemprot inipun cukup sering dilakukan dimasa-masa marbabo
1-3 ini.

Selain untuk mencegah hama padi beberpa petani Angkola juga
cukup sering menyemprot rumput dipematang sawahnya. Dan ini
dilakukan ketika mereka memutuskan untuk tidak lagi menanam
sesuatu di pematang sawah tersebut.


















___________________________________________

10. Mangarimbasi (Membersihkan pematang sawah)
___________________________________________

Selain berguna untuk membuat rumput-rumput yang di pematang
sawah tersebut jadi pupuk, juga berguna untuk menghindari
pematang sawah tersebut jadi sarang tikus.

Sawah yang selesai dirimbasi pun selesai di babo biasanya
akan terlihat indah. Karena bukan saja bersih juga tanaman
padi terlihat sangat menonjol.
________________

11. Mambondarkon
________________




yaitu membikin sejenis got kecil ditengah-tengah sawah
dengan tujuan agar sawah tersebut kering pada saat
dipanennya dan juga untuk menghindari di makan tikus
pun untuk lebih menguatkan batang padi hingga terhindar
dari yang namanya "Malapat". atau padinya roboh karena
tertiup angin yang kencang.


















_______________________________

12. Markobun / Mangarimbas
_______________________________

Sehabis mambodarkon ini, tak jarang pula para petani tanah
batak menggunakan waktunya untuk bercocok tanam di pematang-
pematang sawah tersebut sebelum masa panen tiba.

Tanaman yang biasanya mereka tanam adalah kacang panjang
cabe dan tomat. Masa panen tanaman ini biasanya akan
bersamaan dengan masa panen padi itu sendiri.
_________________________________________

13. Mamuro (Mengusir burung pemakan padi)
_________________________________________



















Di Angkola, megusir burung pipit memakan padi dapat dikatakan
tidak terlalu penting-penting kali. Karena meskipu jumlah burung
pemakan padinya banyak karena usia padi juga bersamaan maka
burung tersebutpun dengan sendirinya berpindah-pindah tempat.

Burung ini dalam istilah angkola disebit "Apporik" tapi ada
juga yang menyebutnya "Lobei" mungkin karena kepla burung
tersebut warnanya putih sedangkan bulunya merah kecoklat-
coklatan. Kepala putih inilah yang memberi kesan seperti lobe/
kupia lobe/kupia haji/putih.

Selain yang namnya "Apporik" sebagai pemakan padi ada juga
yang namnya "Kalettek". Burung ini bukan saja mau makan padi
tapi juga suka bersarang di batang padi tersebut. Biasanya
para petani pria sangat menyukai telor burung tersebut dan
begitu mereka temukan langsung "Diitcopnya" atau di telannya.

Mamuro ini biasanya dilakukan dibulan ke-5 dan 6 setelah
selesai masa menaman. Atau masa padi mulai menguning.
Dan jika masa menguning telah selesai maka masuklah yang
namanya masa "Mayanbi".
_________________

14. Manyabi (Panen)
_________________

































Manyabi adalah istilah bagi para petani Angkola yang hampir
sama maknanya dengan memotong padi. Adapun alat yang digunakan
namanya "Sasabi" karena itu apapun yang dipotong pakai sasabi
akan disebut juga dengan manyabi titi-titik.

Misalnya :

- Manyabi eme (memotong padi)
- Manyabi duhut-duhut (Memotong Rumput)
- Manyabi obuk (Memotong rambut) dan
- Manyabi-nyabi (Memotong-motong)

Manyabi ini biasanya dilakukan setelah masa tanam 6 bulan
dan ini biasanya ditandai dengan istilah "Mahugorsing" atau
sudah "Menguning". Artinya padi tersebut sudah siap untuk
di potong.

Adapun nama padi tersebut antara lain, sikasumbo, siboto,
sililitan dan ... (penulis lupa/kurang lebih 7 nama secara
umum).

Padi yang di potong tersebut kemudian akan dikumpulkan yang
dalamistilah Angkola di sebut "Dilunggukkon". Artinya hasil
padi yang dipotong ditumpukkan secara melingkar dengan diamerter
sekitar 3 - 5 meter.

Tujuannya untuk memudahkan para petani "Mandege" atau menginjak
atau memisahkan padi dengan batangnya.
________________________________________________

15. Mardege (Memisahkan padi dengan batangnya)
________________________________________________
Sudah pasti pekerjaan ini hanya dilakukan oleh kaum pria.
Padi yang sudah dilunggukkan seperti diceritakan diatas
akan diambil sedikit demi sedikit untuk kemudian
disekkan ditempat pardegeaan. Tempat ini biasanya dialasi
"bide" sejenis tikar, tapi terbuat dari anyaman rotan dan
tali goni sehingga cukup kuat meskipun harus diletakkan
ditanah yang lembab.

Posisi padi tersebut akan desesuaikan dengan kondisi
angin dan "Sigoloman" atau tempat pegagan tangan pada
saat mardege. Setelah tiga kali putaran padi tersebut
akan terpisah dengan batangnya.

Batang padi kemudian akan dibuang dan dikumpulkan di
sutu tempat yang tak jauh dari tempat pardegean tersebut.
Kegunaannya untuk memudahkan menutupi padi yang didege
tersebut jika hujan turun.

Dapat dikataan pekerjaan ini adalah pkerjaan terlelah
kedua yang harus dilakukan oleh petani, setelah mencangkul.
Tenaga akan sangat terkuras, hingga makanpun harus banyak
dan biasanya akan makan ditempat pardegeaan.

Dalam kondisi tertentu, mardege ini pada masa lampau
cukup sering dilakukan para petani Angkola di malam hari.
Bukan saja bermaksud untuk megejar target, tapi juga
akan terasa lebih nyaman/tidak panas.

Adapun alat penerang yang biasa digunakan adalam lampu
pitormak atau lampu tarokkeng bahasa batak Angkolanya.
Dimasa lampau pemandangan seperti ini akan sangat terlihat
indah jika kita menatapnya dari desa atau dari pinggir
jalan besar.
___________________________________________________

16. Mamurpur (Memisahkan padi dengan jerami padi)
___________________________________________________
































Angin merupakan hal yang utama dalam proses ini. Padi yang
selesai di "dege/injak" akan dimasukkan kesuatu tempat
yang dalam istilah Angkola disebut "Appang" tapi bisa juga
"belek" atau "Kaleng".

Appang yang berisi padi ini kemudian kita angkat keatas kepala
kita untuk kemudian kita tuangkan kebawah seiring dengan
datannya angin. Dan atas bantuan angin inilah padi dan appasnya
dapat dipisahkan.

Hal ini biasanya dilakukan ketika masih disawah / sebelum padi
dibawa kerumah. Begitupun beberpa keluarga ada juga yang mau
membawanya kerumah untuk kemudian di "Purpurnya". Dan hal ini
sangat mudah diketahui, karena berserakannya appas jerami
disekitar pekarangan rumah.


_______________

17. Manaru Eme
_______________



















Sudah menjadi kebiasaan manaru eme atau membawa padi kerumah
atau kelumbung padi keluarga dilakukan pada saat sore hari.
Padi ini biasanya akan dimasukkan pada tempatsejenis karung
dalam ukuran 3-5 kaleng (Alat ukur petani pada padi).

Isinya dengan sendirinya akan disesuaikan dengan kemampuan
orang yang membawa "Mamorsan" padi tersebut. Mereka yang punya
kekuatan maksimal akan mampu ebawa 5-6 kaleng padi. Begitupun
rata-rata hanya membawa 3-4 kaleng. Bahkan sawah/padi yang
letaknya jauh dari kampung hanya di bawa 2 kaleng saja untuk
menghindari seringnya mengaso diperjalanan.







Sering dengan membagusnya jalan-jalan di Angkola dan tersedia-
nya motor/mobil maka akhir-akhir ini para petani tidak lagi
harus selalu membawa padinya langsug ke rumah, tapi justru
akan membawa padinya kejalan raya terdekat untuk kemudian
di angkut sama mobil kerumahnya.

Pundak adalah andalan utama dari pekerjaan ini, karena itu
tak jarang para petani Angkola menjadi suka jalan merunduk
karena seringnya pundak digunakan untuk memundak.
______________________________________________

18. Manjomur = Menjemur (Mengeringkan padi)
______________________________________________


















Manjomur adalah salah satu alasan mengapa halaman-halaman
rumah di Angkola harus lebar. Bagi yang halamannya tidak
lebar dengan sendirinya dia akan menjemur padinya di jalan
jalan umum dan cukup sering dilalui kenderaan.

Padi yang dijemur dijalan umum ini biasanya akan lebih mudah
cepat kering tapi juga tak jarang ditemukan batu pada beras
setelah selesai digiling.

Kecederungannya pekerjaan ii dilakukan oleh kaum perempuan
untuk kemudian dilanjutkan kaum laki-laki ketika disiapkan
atau mau dibawa ke tempat penggilingan padi.
________________

19. Manggiling
_______________

Untuk sekarang ini dapat dikatakan gilingan padi di Agkola
sudah cukup banyak. Dapat dirata-ratakan setiap 3 kampung
tersedia gilingan padi.

Adapun disekitar tahun 80'an gilingan padi di Angkola dapat
dikatakan 1 gilingan padi untuk 20 kampung atau huta. Karena
itu pula kesabaran sangat dibutuhkan untuk menunggu giliran
padi kita yang harus digiling.

________________________________________

20. Manyurbu Durame (Membakar jerami)
________________________________________



















Ini adalah tahapan akhir dari para petani dalam satu
periode pertanian (6 bulan). Agar durame atau batang padi
tersebut mudah dibakar maka harus terlebih dahulu diserakkan.
Ini juga memberi manfaat untuk kesuburan tanah pertanian
itu sendiri.

Hal ini biasanya dilakukan setelah 2-4 minggu masa panen
selesai. Dan tak jarang ini dilakukan secara bersamaan
hingga asap yang mengepulpun cukup hitam terlihat.

Dan jika semua ini telah selesai maka akan kembali ketahapan
awal untuk kembali mencangkul atau mamakkkur.
___________

Lain-lain
___________

- Sepengetahuan penulis pertanian tanah batak dari tahun
  90-an sampai 2014 ini sudah mulai menggunakan alat-alat
  pertaian yang menggunakan mesin.

- Karena itu ada juga namanya "Marjetor" yang menurut sebagian
  orang telah menyebabkan petani tanah batak jadi "marpetor"
  karena tekor gara-gara penggunaan mesin tersebut.

- Selain bertani ditanah yang lembab.berapa petani batak jaman
  dahulu ada juga yang bertani di tanah kering/kebun yang mana
  padi dalam hal ini tidak lagi di samai, tapi di masukkan pada
  lobang-lobang yang telah dibuat pada jarak tertentu.

Macam berita link Hari Tani 2014 :

http://regional.kompas.com/read/2014/09/24/12474601/Peringati.Hari.Tani.Aktivis.GMNI.Ambon.Demo.di.Kantor.Gubernur



http://www.antarasumut.com/hari-tani-nasional/

















__________

Penutup
__________


Ini yang dapat penulis simpulkan dalam hubungannya dengan :

* Kehidupan Bermasyarakat

Dimasyarakat Angkola ada yang namanya "Marsiurupan" yaitu
suatu cara kerja dimana yang satu akan membantu yang lainnya
secara bersama-sama dan bergilir tak terkecuali dibidang
perkerjaan bertani. Tapi akhir-akhir ini yang mungkin karena
adanya perobahan sistem dan cara berpikir konsep ini sudah
tidak terlalu dilaksanakan.

* Kehidupan Persekolahan

Tak jarang para orang tua tanah batak mengatakan pada anaknya
agar lebih serius belajar karena menjadi petani itu sangat
capek. "Nalojaan doda namarsabai amang/cape kali yang bersawah
itu anakku" katanya.

Mengacu pada uraian-uraian tahapan diatas maka cukup logis
bahwa pekerjaan bertani itu memang sangat cape. Perlu waktu
6 bulan untuk mendapatkan hasil yang belum tentu cukup untuk
biaya petani itu sendiri selama 6 pula.

Karena itu sangat terasa pantas jika para pelajar-pelajar
masyarakat Bata menghargai pekerjaan orangtuanya ini.

video


* Kehidupan Berbudaya

Dahulunya masa menanam dan panen dimasyarakat batak selalu
ada kegiatan budayanya. Tapi belakangan ini sudah tidak lagi
dilaksanakan. Ada kesan hasil-hasil pertanian itu lebih
mereka percayakan pada alam itu sendiri. Dengan kata lain
sudah tidak ada tor-tor syukur meskipun panen leagi bagus.
Kehidupan beragama cukup berpengaruh juga pada cara bertani
di masyarakat Angkola.

* Kehidupan bernegara

Tak pala banyak cerita, "Anak kecilpun tahu bahwa Pemerintah
RI kurang memperhatikan kehidupan petani di Nusantara ini".
Hidup mereka pada umumnya dari tahun ketahun begitu-begitu
saja / tidak ada perobahan yang berarti.

Bahkan harga pupukpun tak dapat mereka atasi hingga biaya
pengeluaran pertanian itu lebih sedikit.

Sadisnya lagi banyak pula para pejabat pengelola pertanian
itu sendiri yang lupa diri bahwa beliau sesungguhnya
berasal dari anak petani juga.

Dan terhadap hal ini, penulis jadi berpikir dan berangan :

Andai penulis punya duit banyak, akan penulis bagikan uang
pada setiap petani Indonesia sebesar Rp. 500.000.000,-
Dan uang ini akan menjadi biaya hidup mereka selama 3 Tahun.

Dan selama ini pula. mereka tak perlu ke sawah, cukup tinggal
dirumah ngopi-ngopi sambil okkang-ongkang kaki. Jikapun
mereka tetap bertani cukup mereka tanam padi untuk kebutuhan
mereka sendiri.

Para kawan...!

Jika hal ini terjadi akan seperti apakah negara ini...?
Mungkinkah kita akan menjadi manusia kanibal, karena
sudah tidak ada yang mau dimakan.

Dan jika kita jadi kanibal, setujukah anda jika yang pertama
harus kita makan adalah para pejabat negara ini, para pengelola
negara ini yang sudah memberi kesan tidak punya rasa malu pada
setiap kesalahan yang mereka perbuat.

Akh...hhhh...Indonesiaku Nusantaraku...apapun yang terjadi
padamu kau tetap Indonesiaku, merah darahku, putih tulangku,
bersatu dalam semangatmu untuk selalu dapat "Berkebyar" dalam
semua sendi kehidupan, tak terkecuali pertanian itu sendiri.

Rawe-rawe rantas malang-malang putung, horas tondi madingin
pir tondi matogu, "Tetaplah maju Pertanian Tanah Batak Angkola".


Selamat malam dan horas...!





















___________________________________________________________
Cat : Peringatan Hari Tani tahun ini adalah yang ke-54


PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork


No comments:

Post a Comment