Saturday, October 18, 2014

Letleti (Itu-itu juga) : Tuanku Rao = Pongki Nangolngolan Sinambela = Umar Khatab = Umar Batak = Wali Susuhunan = Panglima Perang Padri = Haji Tuanku Rao


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Mencari jawaban "Siapa Tuanku Rao" lewat buku "Tuanku Rao"
dalam hubungannya dengan Sisingamangaraja VIII, IX dan X
lewat ilustrasi Tanya Jawab dari macam marga poparan
"Toga Siregar")
__________________________________________________________









___________________

Kata Pengantar
___________________

Begini para kawan...!

Jika selama ini penulis angkolafacebook.blogspot.com menulis dan
memberi pendapat tentang macam hal yang tertulis di buku Tuanku
Rao Karangan Mangaraja Onggang Parlindungan dari hasil kutipan
macam website, maka kali ini, "Penulis membaca langsung bukunya"

Setelah membaca buku tersebut maka dengan sendirinya penulispun
punya pemahaman yang menjadi pengetahuan tentang Tuanku Rao.
Dan hal ini akan penulis tuangkan lewat postingan ini dalam
ilustrasi Diskusi antara poparan ni Toga Siregar di Lopo Kopi
"Alap Au Abang" Huta Muara, Sipirok - Tapsel.

Karena sifatnya ilustrasi, maka terilustrasi pulalah ada seorang
Marga Sinambela di Dapur Lopo Kopi tersebut yang secara
diam-diam mendengar hasil diskusi ini.

Para kawan dimanapun berada...!

Ingin tahukah anda bagaimana ceritanya cerita ini penulis
ceritakan...?

Jika ingin tahu maka tetaplah ditempat dan "Selamat menyimak...!"
_________________________________

Hal Asal usul Nama Tuanku Rao
_________________________________

Al kisah...!

Di suatu sore, mampirlah Ja Regar setelah pulang dari Padang
Sidimpuaan di suatu Lopo Kopi di Huta Muara, Sipirok Tapsel.

Belia mampir dengan tetap membawa buku kebanggannya yaitu Buku
Tuanku Rao. Pada saat melihat merek kode Kopi tersebut yang
bertuliskan Lopo Kopi "Alap Au Abang" Ja Regar ini sedikit
tersenyum karena dia mengira pemilik kode kopi tersebut adalah
seorang boru Regar yang ditinggal oleh suaminya.

Pada saat berpikir demikian tiba-tiba saja Ja Dongoran yang
ada di Lopo Kopi tersebut bertanya...?
























Ja Dongoran :

Bah hamu dei Regar...! Masuk hamu so minum kopi hita. Baen
hamubo sada nai kopi-i parlopo...!

Jadi Ja Regar...!
Siapa do sabotulna Tuanku Rao natiop-tiopmi...? Tak ada
pula gaMbar orangnnya saya tengok...!

Ja Regar :

Sabotulna pula yang kau inginkan jawabannya ya Ja Dongoran.
Okela...okela...okela...! Sabotul inila pula yang susah di
buktikan lewat sejarah tanpa ada barang bukti yang berupa
benda atau Harta Pusaka.

Begitupun kalau bukti hanya dalam bentuk data taulisan maka
dapat saya jawab lewat buku Tuanku Rao Juga karangan dari
Mangaraja Onggang Parlindungan Siregar.

Ja Silo :

Sudahlah Dongoran...! Jelaskanlah dulu sejelas-jelasnya karena
saya juga  bingung apakah dia itu orang Batak atau Orang Padang.

Ja Bauni :

Ya betul itu Ja Silo...! Namanya itu jelas mencerminkan nama
yangbersal dari Padang karena disana yang banyak tuan-tuan
dan rao-rao. Sedangkan dibatak yang banyak itu sutan-sutan,
baginda-baginda dan raja-raja.

Ja Dongoran :

Begini...begini...!

Tuanku Rao = Pongki Nangolngolan Sinambela = Umar Khatab =
Umar Batak = Wali Susuhunan = Panglima Perang Padri = Haji
Tuanku Rao

Ja Sormin :

Hebat...hebat...hebat...! Seven nama panggilan untuk satu orang.
Oke Regar...! Jelaskan bagaimana dia bisa disebut sebagai
Pongki Nangolngolan Sinambela.

Ja Regar :

Di suatu masa, masa Tanah Batak Utara dipinpin oleh Sisingamangaraja
ke IX (Sembilan) beliau punya keponakan yang dalam istilah hita di
sebut bere yang nama populernya Pongki Nangolngolan (Tidak dicantumkan
Marganya).

Meskipun ini keponakan Sisingamangaraja IX tapi yang membesarkannya
adalah Sisingamangaraja X (Seppulu) yang juga paman dari Pongki
Nangolngolan ini dan keberadaannya ada di Bakkara Tano Batak.

Entah karena apa, Pongki Nangolngolan ini di usianya yang sekitar
9 Tahun di ikat oleh Sisingamangaraja ke X pada sebatang kayu.
Kayu ini kemudian dikasihnya lagi pemberat berupa batu untuk
kemudian ditenggelamkan di Danau Toba.

Ja Lali :

Terus Regar...! Matila beliau itu ya...?

Ja Regar :

Tunggu dulu...! Kubaca dulu halaman 57 buku Tuanku Rao ini.
.................................................................
Nah...! Ternyata tidak mati Ja Lali. Beliau malah berhasil menyelamatkan
diri. Beliau itu sudah seperti Nabi musa kata buku iniba.

Ja Ritonga :

Kemanala si Pongki Nangolngolan ini lari ate...? Padahal dia masih
kecil. Apakah mungkin ke arah aceh, Barus atau ke arang Padang atau
Sumatra barat sekarang ini.

Ja Salak :

Kalau perkiraan sayabah ke Barus, karena kesitunya yang dekat dan
tak masuk daerah Tanah Batak. Lagi pula pada masa itu bisa jadi
Islam sudah masuk ke Barus. Macam mana do Regar...?

Ja Regar :

Salah kau Ja Ritonga...! Ternyata Pongki Nangolngolan ini lari ke
arah Padang atau Sumatra barat saat ini. Entah berapa lamala dia
diperjalanan dan naik apa ke Padang saya tidak tahu.

Namun setelah dia menjadi dewasa dan "mungkin" setelah dia dapat didikan
dari seorang Ulama Tano Padang pada akhirnya dia masuk Islam dengan
nama "Umar Khatab".

Cat :
Simak kisah Perjalanan Pongki Nangolngolan dari
Danau Toba sampai ke Padang lewat link .....(Menyusul....)

Ja Babiat :

O....ooooo...! Begitunya ceritanya menurut buku itu. Makanya si Pongki
Nagolngolan tersebut disebut juga si Umar Khatab ate Regar...?

Ja Regar :

Ya Babiat...!

Ja Sormin :

Kalau si Pongki Nangolngolan ini adalah bere dari Sisingamangaraja ke
IX dan X. Lantas ayahnya dia siapa Regar...?

Ja Regar :

Inila yang susah diketahui oleh si Pengumpul Data Buku Tuanku Rao.
Namun beliau memberi gambaran bahwa ibunya adalah putri Sisingamangaraja
ke IX.
___________________________

Hal Tuanku Rao Naik Haji
___________________________


Ja Pahu :

Kata kawan saya Ja Regar...! Tuanku Rao ini ternyata Haji Juga.
Bagaimana ini bisa diketahui...?

Ja Regar :

Jadi ja Pahu, begitulah tanah batak itu rupanya. Penuh dengan misteri.
Meski bukti kadang tidak ada tapi logika tetap dapat menerima karena
berlakunya hukum sebab akibat.

Ja Agian :

Maksudmu Regar...?

Di Singkil ternyata ada satu perkampungan dengan nama Perkampungan
Sinambela. Mereka bilang mereka adalah keturunan dari Sisingamangaraja
ke VIII dari Bakkara.

Sisingamangaraja ini juga dimakamkan di sana dan dalam catatan keluarga
mereka ada pemberitahuan disejenis kertas yang memberitahu bahwa Tuanku
Rao telah naik haji di Tahun 1227 H atau 1812 Masehi.

Ja Ri :

Hebat...hebat...hebat...! Hebat Tano Batak itu. Dan kalau begitu Regar,
logika saya berkata, Sisingamangaraja ke VIII yang jelas bermarga
Sinambela bisa jadi ayah dari si Pongkinangolngolan ini yang telah
diusir dari Bakkara oleh Sisingamangaraja ke IX dan X untuk kemudian
ibunya Sisingamangaraja ini menjadi permaisuri raja Sisingamangaraja
ke IX.

Tapi Regar...!

Mengapa si Pongki atau si Tuanku Rao ini jadi bere mereka.

Ja Regar :

Nah...! Bagimana kau ini. Kan Sisingamangaraja ke VIII menikah sama
putri Sisingamangaraja ke IX. Adapun siapa permasuri Sisingamangaraja
IX dan X tidak saya ketahui.

Ja Dongoran :

Kalau begitu ibu dan ayah si Pongki Nangolngolan ini sama-sama marga
sinambela dong Regar....!

Ja Regar :

Tak tau akuba...! Namun buku Tuanku rao mengatakan, "Ayah dari Tuanku
Rao adalah Gindo Porang Sinambela dan ibunya adalah Putri Gana
Sinambela.

Ja Agian :

Amangoe....! Pantasla pula para saudara kita dari Tapanuli Uatara tidak
terlalu mau bercerita tentang Sisingamangaraja VIII, IX, X dan IX.
Rupanya para raja ini semua "raja-raja bermasalah...!" Mereka hanya
senang kalau hanya bercerita tentang Sisingamangaraja XII. Jangan
begitula kawan.

Kawan...! Lae...ataupun dongan....! atapun ale-ale...! Jangan begitula.
"Dikehidupan ini kadang kita bisa menjadi baik karena kita tahunya
hal yang tidak baik". Iyakan Regar...?

Ja Regar :

Ya Agian...! Apa yang diperbuat Sisingamangaraja VIII, IX dan X jika
kita rasa tidak baik jangan ditiru. Begitu sajanya. Meskipun mereka
Raja.

Ja Datu :

"Raja Sisingamangaraja pe jolmado" Nimmu Regar...!

Ja Regar :

Olo...!

_______________________________________________________________________

Memahami Bagan (Hanya Gambaran) Sisingamanngaraja VII, VIII, IX, 
dan X dalam Hubungannya dengan Pongki Nangolngolan serta
menganalisa sekilas
_______________________________________________________________________

Para kawan...!

Ini bagan yang dapat saya tangkap dari Hasil membaca buku Tuanku
Rao tersebut :
















Cat :
Lewat bagan tersebut kiranya anda punya gambaran :

1. Mengapa Sisingamangaraja VIII di Usir Sisingamangaraja X
   dari Bakkara dari Tano Batak

2. Mengapa Pongginangolngolan di benamkan Sisingamangaraja ke X
   di Danau Toba

3. Mengapa Sisingamangaraja VIII masuk Islam di Singkil

4. Mengapa si Putri Gana Sinambela diambil Paksa dari Singkil

5. DLL

Cat :
Bagan ini adalah ringkasan jawaban dari Halaman 56 - 67 Buku
Tuanku Rao
___________________________________________________________

Munculnya Ja Nambela dari dapur Lopo Kopi Alap Au Abang
___________________________________________________________

Al kisah setelah mendengar semua isi diskusi dari Poparan Toga
Siregar ini, maka muncullah Ja Nambela dengan mata Merah dan
Pakkur Cap Buaya-nya sambil berkata :

Ja Nambela :

Saya sudah dengar diskusi kalian sejak dari awal sampai habis. Dan
sebenarnya sebelum kalian tahu saya sudah terlebih dahulu tahu karena
diceritakan orang tua saya.

Tapi tahukah kalian...!

Yang melakukan pernikahan semarga ditanah batak bukan hanya Sinambela
tapi juga Siregar. Jangan macam-macam kalian...! Kupakkuri nanti kalian
semua.

Tahu kalian...!

Sisingamangaraja adalah orang-orang yang paling dihormati di Tano Toba.
Karena itu biar sifat dan perbuatan mereka tidak baik, "Tapi jangan di
bilang-bilang". Bikin malu aja kalian...!

Ngomong kalian semua...!

Ja Dongoran :

Ngomong la kau Regar...! Sudah mangamuk Ja Nambela. Kejelekan opppung
mereka pula kau ceritakan. Minta maaf  kau Regar...!

Ja Regar :

Maafla kalau begitu Ja Nambela...! Akupun karena ngak taunya kau
ada di Dapur. Kau pula sembunyi kau, manala aku tau kau ada di situ.
Kalau tahu tentulah ngak kuceritakan.

Sekali lagi maaf-e Ja Nambela...!
Akupun kuceritakan cerita ini bukan berarti tidak hormat. Tapi namanya
pengetahuan diberitahula biar orang tau.

Ja Nambela :

Ya iyalah...! Akupun kucaritahulah kejelekannya marga Siregar ini biar
ku beritahu pula sama orang...!

Ja Regar :

Janganlah Ja nambela...! Malu kami nanti.

Ja Nambela :

Malu kalian situ...!

Ja Babiat :

Udala...! Udala...! Pigi mandi kau Nambela. Bau kali kau kurasaba...!
Pulang dari sawah, bukannya ke rumahmu dulu kau...! Malah ke lopo
ininya pula kau...!

Oya...!

"Jaga sholat-mu Nambela...!"

Ja Nambela :

Ialah...! Salamat sore kalau begitu...!

Ja Ritonga :

Sare...eeee.....eeeee....eeeeee.....!
____________

Penutup
____________

Demikian intisari sari "Buku Tuanku Rao" yang menjelaskan siapa Tuanku
Rao dalam buku Tuanku Rao halaman 56 - 59.

Semoga dapat memperluas wawasan kita bersama, khsusnya orang batak
Utara dan Selatan.

...dan....

Mari sama tutup postingan ini lewat lagu "O Tano Batak...!"

O  tano batak....
haholonganku....

Musik...!



Selamat malam...!
______________________________________________________________
Cat :
* Jika tulisan saya ini berputar-putar, lebih berputar-putar lagi
tulisan di buku Tuanku Rao itu. Iya Betulnyaba...!



PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork


No comments:

Post a Comment