Sabtu, 20 Juni 2015

Bedug : Pengertian, Fungsi, Sejarah, Terbesar dan Cara Pembuatan

#SELAMAT MALAM PARA KAUM MUSLIMIN MUSLIMAT SEKALIAN*
(Menyimak info sekitar Bedug dalam hubungannya dengan pengertian,
sejarah, fungsi atau kegunaan, bedug terbesar, dan cara pembuatannya)
________________________________________________________________












__________________

Kata Pengantar
__________________

Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabakatuh...!

Seperti kta ketahui, "Bedug sungguh dekat keberadaannya dengan ummmat
Islam khsusnya dengan ummat Islam Nusantara". Keberadaan ini tentu
tidak terjadi begitu saja. Ada sejarah yang panjang tentang bedug ini
dalam hubungannya dengan ummat Islam

Para kaum muslimin sekalian...!

Berikut info sekitar bedug, Selamat menyimak..."!
__________________________________

Sekilas infsekitar Bedug
__________________________________

Ket :
Bedug Gamelan, Kyai Rengga Manis

* Hal Pemahaman Umum

Bedug sebenarnya berasal dari India dan Cina. Berdasarkan legenda Cheng Ho
dari Cina, ketika Laksamana Cheng Ho datang ke Semarang, mereka disambut
baik oleh Raja Jawa pada masa itu. Kemudian, ketika Cheng Ho hendak pergi,
dan hendak memberikan hadiah, raja dari Semarang mengatakan bahwa dirinya
hanya ingin mendengarkan suara bedug dari masjid.

Sejak itulah, bedug kemudian menjadi bagian dari masjid, seperti di negara
Cina, Korea dan Jepang, yang memposisikan bedug di kuil-kuil sebagai alat
komunikasi ritual keagamaan.

Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengani
waktu salat atau sembahyang. Saat Orba berkuasa bedug pernah dikeluarkan
dari surau dan mesjid karena mengandung unsur-unsur non-Islam. Bedug
digantikan oleh pengeras suara. Hal itu dilakukan oleh kaum Islam modernis,
namun warga NU melakukan perlawanan sehingga sampai sekarang dapat terlihat
masih banyak masjid yang mempertahankan bedug.

* Hal Fungsi

1. Fungsi sosial:

bedug berfungsi sebagai alat komunikasi atau petanda kegiatan masyarakat,
mulai dari ibadah, petanda bahaya, hingga petanda berkumpulnya sebuah
komunitas.

2. Fungsi estetika:

bedug berfungsi dalam pengembangan dunia kreatif, konsep, dan budaya
material musikal.

* Hal Cara pembuatan Bedug

Pada awalnya, kambing atau sapi dikuliti. Kulit hewan yang biasa dibuat
sebagai bahan baku bedug antara lain kulit kambing, sapi, kerbau, dan
banteng. Kulit sapi putih memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan
dengan kulit sapi coklat. Sebab, kulit sapi putih lebih tebal daripada
kulit sapi coklat, sehingga bunyi yang dihasilkannya akan berbeda
disamping, keawetannya yang lebih rendah.

Kemudian, kulit tersebut direndam ke dalam air detergen sekitar 5-10 menit.
Jangan terlalu lama agar tidak rusak. Lalu, kulit dijemur dengan cara
dipanteng (digelar) supaya tidak mengerut. Setelah kering, diukur
diameter kayu yang sudah dicat dan akan dibuat bedug.

Seteleh selesai diukur, kulit tersebut dipasangkan pada kayu bonggol
kayu yang sudah disiapkan. Proses penyatuan kulit hewan dengan kayu
dilakukan dengan paku dan beberapa tali-temali.

* Hal Permainan (seni ngadulag)

Seni ngadulag berasal dari daerah Jawa Barat. Pada dasarnya, bedug memiliki
fungsi yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, tabuhan
bedug di tiap-tiap daerah memiliki perbedaan dengan daerah lainnya,
sehingga menjadikannya khas. Sehingga lahirlah sebuah istilah “Ngadulag”
yang menunjuk pada sebuah keterampilan menabuh bedug. Kini keterampilan
menabuh bedug telah menjadi bentuk seni yang mandiri yaitu seni Ngadulag
(permainan bedug).

Di daerah Bojonglopang, Sukabumi, seni ngadulag telah menjadi sebuah
kompetisi untuk mendapatkan penabuh bedug terbaik. Kompetisi terbagi
menjadi 2 kategori, yaitu keindahan dan ketahanan. Keindahan mengutamakan
irama dan ritme tabuhan bedug, sedangkan ketahanan mengutamakan daya tahan
menabuh atau seberapa lama kekuatan menabuh bedug. Kompetisi ini diikuti
oleh laki-laki dan perempuan.

Dari permainan inilah seni menabuh bedug mengalami perkembangan. Dahulu,
peralatan seni menabuh bedug hanya terdiri dari bedug, kohkol, dan
terompet. Tapi kini peralatannya pun mengalami perkembangan. Selain
yang telah disebutkan di atas, menabuh bedug kini juga dilengkapi
dengan alat-alat musik seperti gitar, keyboard, dan simbal.

* Hal Bedug Terbesar di Dunia




Bedug terbesar di dunia berada di dalam Masjid Darul Muttaqien, Purworejo.
Bedug ini merupakan karya besar umat Islam yang pembuatannya diperintahkan
oleh Adipati Tjokronagoro I, Bupati Purworejo pertama. dibuat pada tahun
1762 Jawa atau 1834 M. Dan diberi nama Kyai Begelan. Ukuran atau spesifikasi
bedug ini adalah : Panjang 292 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling
bagian belakang 564 cm, diameter bagian depan 194 cm, diameter bagian
belakang 180 cm. Bagian yang ditabuh dari bedug ini dibuat dari kulit
banteng. Bedug raksasa ini dirancang sebagai “sarana komunikasi” untuk
mengundang jamaah hingga terdengar sejauh-jauhnya lewat tabuhan bedug
sebagai tanda waktu salat menjelang adzan dikumandangkan.

* Hal Macam Macam Bedug















 ___________________________________________________

Sejarah Bedug dalam Macam tinjauan / Hubungan
___________________________________________________

* Hubungannya dengan Cina

Bedug senantiasa dikaitkan dengan media panggil peribadatan. Ada pendapat
tradisi bedug dikaitkan dengan budaya Cina. Adanya Bedug dikaitkan dengan
ekspedisi pasukan Cheng Ho abad ke-15. Laksamana utusan kekaisaran Ming
yang Muslim itu menginginkan suara bedug di masjid-masjid, seperti halnya
penggunaan alat serupa di kuil-kuil Budha di Cina. A

da pula pendapat bedug berasal dari tradisi drum Cina yang menyebar ke
Asia Timur, kemudian masuk Nusantara.

* Hubungannya dengan Nenek Moyang

Namun menurut Drs M Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang
yang melakukan studi bedug di Jawa bersama tim Sampoerna Hijau, pada masa
prasejarah, nenek moyang kita juga sudah mengenal nekara dan moko, sejenis
genderang dari perunggu. Pemakaiannya berhubungan dengan religi minta hujan.

Kata Bedug juga sudah disinggung dalam kidung Malat, sebuah karya sastra
berbentuk kidung. Susastra kidung berisi cerita-cerita panji. Umunya ditulis
pada zaman Mahapahit, dari kurun waktu abad ke 14-16 Masehi.

Dalam Kidung Malat dijelaskan, instrumen musik membrafaon bedug dibedakan
antara bedug besar yang diberi nama teg-teg dengan bedug ukuran biasa.

Bedug pada masa itu berfungsi sebagai alat komunikasi dan penanda waktu
seperti perang, bencana alam, atau hal mendesak lainnya. Dibunyikan pula
untuk menandai tibanya waktu. Maka ada istilah dalam bahasa Jawa:
wis wanci keteg. Artinya ”sudah waktu siang” yang diambil dari waktu
saat tegteg dibunyikan.

* Hubungannya dengan Belanda

Cornelis De Houtman dalam catatan perjalanannya D’eerste Boek menjadi
saksi keberadaan bedug yang sudah meluas pada abad ke-16. Ketika komandan
ekspedisi Belanda itu tiba di Banten, ia menggambarkan di setiap perempatan
jalan terdapat genderang yang digantung dan dibunyikan memakai tongkat pemukul
yang ditempatkan di sebelahnya. Fungsinya sebagai tanda bahaya dan penanda
waktu. Kesaksian ini jelas menunjuk pada bedug.

Kendati demikian, pengaruh Cina pun tidak dinafikan. Ditilik dari sisi
konstruksi, teknik pemasangan tali/pasak untuk merekatkan selaput getar
ke resonator pada bedug Jawa, mirip pada cara yang digunakan pada bedug
di Asia Timur seperti Jepang, Cina, atau Korea. Bukti lain terlihat pada
penampilan arca terakota yang ditemukan di situs Trowulan. Arca-arca
prajurit berwajah Mongoloid itu tampak menabuh tabang-tabang, sejenis
genderang yang terpengaruh budaya timur tengah. Kemungkinannya itulah
instrumen musik yang dimainkan orang-orang Cina Muslim di ibukota Majapahit.

* Hubungannya dengan India

Menariknya, tabang-tabang sebenarnya merupakan instrumen musik yang sudah
ada sejak masa Hindu-Budha. Di dalamnya ada pengaruh kuat dari India dan
budaya Semit beragama Islam. Namun diperkenalkan dan dimainkan oleh
masyarakat Cina Muslim.

Jadi, bedug bisa dikatakan contoh perwujudan akulturasi budaya waditra
(instrumen musik membrafon, di mana secara fisiografis terjadi perpaduan
antara waditra membrafon etnik Nusantara dengan wadistra sejenis dari luar
seperti India, Cina, dan Timur Tengah.

* Hubungannya dengan NU

Pada Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin Kalimanatan Selatan 1936 kembali
mengukuhkan penggunaan Beduk dan kentongan, bahwa pemakaian kedua alat
tersebut di masjid-masjid sangat diperlukan untuk memperbesar syiar Islam.
Dengan adanya keputusan itu serangan Islam modernis bisa dieliminir, dan
tradisi pemakaian beduk terus dipertahankan.

* Hubungannya dengan Orde baru

Pada masa orde baru ketika organisasi NU mulai ditekan sementara Islam
modernis mulai mendapat tempat, maka ”debedukisasi” dilakukan, sehingga
banyak beduk-beduk bersejarah yang hilang dan sebagian besar digudangkan.
Kemudian dikembangkan program speakerisasi, sehingga hampir tiap masjid yang
sudah dihilangkan beduknya diganti dengan memasang speaker di menara atau
di kubah.

Hanya dilingkungan masjid Nu dan kelompok Islam bermazhab seperti Perti,
Al Washliyah, Mathlaul Anwar dan sebagainya, atau mesjid yang belum diambil
oleh kelompok Islam modernis tetap memakai beduk. Hal itu menadji petanda
masjid yang dikelola oleh Islam bermazhab dengan Islam modernis yang tidak
bermazhab.
_____________________________

Penutup dan Pajang Photo
______________________________

Demikian infonya para kaum muslimin muslimat sekalian, semoga dapat
memperluas wawasan kita khususnya dibidang pengetahuan bedug.

Wassalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh...!
____________________________________________________________________________
Cat :


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar