Monday, August 3, 2015

Masjid Tua Wafauwe Ambon Maluku dalam Sejarah dan Keajaiban (Bab 7)

#SELAMAT MALAM PARA KAUM MUSLIMIN MUSLIMAT#
(Menyimak info sekitar Masjid Tua Wapauwe - Ambon Maluku)
_______________________________________________________________












________________

Kata Pengantar
________________

Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh...!

Postingan ini adalah pendalaman dari link :

Bab 1 :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2015/07/ambon-dalam-7-bab-dan-bab-1-nya-budaya.html

Bab 2 :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2015/07/busana-tradisional-dan-makanan.html

Bab 3 :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2015/07/permasalahn-agama-sejarah-islam-di.html

Bab 4 :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2015/07/macam-daftar-dan-lirik-lagu-ambon-bab-4.html

Bab 5 :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2015/07/download-lagu-lagu-ambon-lama-dan-baru.html

Bab 6 :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2015/07/marboru-ambon-jujur-beta-cinta-holong.html

Bab 7 :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2015/08/masjid-tua-wafauwe-ambon-maluku-dalam.html



Ingin tahu lebih banyak mengenai keberadaan ummat Islam di
Maluku adalah alasan mengapa tulisan ini penulis postingkan.

...juga...!

Ingin tahu kira-kira bagaimana sejarah Masjid ini bisa
berpindah tempat hanya dalam satu malam. Juga ingin tahu,
bagaimana Masjid ii bisa dibangun sementara pada saat itu
dan mungkin sampai sekarangpun yang namnya semen sungguh
sangat susah memperolehnya di wilayah Timur Indonesia.

Bagimana dengan anda para kaummuslimin muslimat...?
APakah ingin tahu juga...?

Jika ingin tahu, maka tetaplah di postingan ini dan selamat
menyimak bersama lagu "Sajadah Panjang" dari Bimbo :

video

_______________________________________

Sekilas Masjid Tua Wapauwe
_______________________________________

* Hal Pemahaman Umum

Masjid Tua Wapauwe adalah masjid yang sangat bersejarah dan merupakan
masjid tertua di Maluku. Umurnya mencapai tujuh abad. Masjid ini
dibangun pada tahun 1414 Masehi. Masjid yang saat ini masih berdiri
dengan kokohnya, menjadi bukti sejarah Islam di Maluku pada masa lampau.




























Ket :
Masjid Tua Wapauwe (foto sekitar tahun 1900-1925).

Masjid Wapauwe berada di daerah yang mengandung banyak peninggalan
purbakala. Sekitar 150 meter dari masjid ke arah utara, di tepi jalan
raya terdapat sebuah gereja tua peninggalan Portugis dan Belanda yang
telah hancur akibat konflik agama yang meletus di Ambon pada tahun
1999 lalu.

Selain itu, 50 meter dari gereja ke utara, berdiri dengan kokoh sebuah
benteng tua "New Amsterdam". Benteng peninggalan Belanda yang mulanya
adalah loji Portugis ini, terletak di bibir pantai ini dan menjadi
saksi sejarah perlawanan para pejuang Tanah Hitu melalui Perang
Wawane (1634-1643) serta Perang Kapahaha (1643-1646).

Mulanya Masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di Lereng
Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam
Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara).

Kedatangan Perdana Jamilu ke tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, yakni
untuk menyebarkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan
Wawane yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, yang sebelumnya
sudah dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab.

Masjid ini mengalami perpindahan tempat akibat gangguan dari Belanda
yang menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada tahun 1580 setelah
Portugis pada tahun 1512. Sebelum pecahnya Perang Wawane tahun 1634,
Belanda sudah mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yang telah
menganut ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Merasa tidak aman dengan ulah Belanda, Masjid Wawane dipindahkan
pada tahun 1614 ke Kampung Tehala yang berjarak 6 km sebelah
timur Wawane.

Dan jika ada daun dari pepohonan di sekitar tempat itu gugur, secara
ajaib tak satupun daun yang jatuh diatasnya. Tempat kedua masjid ini
berada di suatu daratan dimana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan
atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Itulah
sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe,
artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.

Pada tahun 1646 Belanda akhirnya dapat menguasai seluruh Tanah Hitu.
Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda kemudian melakukan
proses penurunan penduduk dari daerah pegunungan tidak terkecuali
penduduk kelima negeri tadi.

Proses pemindahan lima negeri ini terjadi pada tahun 1664, dan
tahun itulah ditetapkan kemudian sebagai tahun berdirinya Negeri Kaitetu.

* Hal Peninggalan

Hal lainnya yang bernilai sejarah dari masjid tersebut yakni tersimpan
dengan baiknya Mushaf Alquran yang konon termasuk tertua di Indonesia.
Yang tertua adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yang selesai ditulis
(tangan) pada tahun 1550 dan tanpa iluminasi (hiasan pinggir). Sedangkan
Mushaf lainnya adalah Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada tahun
1590, dan juga tanpa iluminasi serta ditulis tangan pada kertas
produk Eropa.

Imam Muhammad Arikulapessy adalah imam pertama Masjid Wapauwe. Sedangkan
Nur Cahya adalah cucu Imam Muhammad Arikulapessy. Mushaf hasil kedua
orang ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal di Jakarta,
tahun 1991 dan 1995.

Selain Alquran, karya Nur Cahya lainnya adalah: Kitab Barzanzi atau
syair puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, sekumpulan naskah
khotbah seperti Naskah Khutbah Jumat Pertama Ramadhan 1661 M,
Kalender Islam tahun 1407 M, sebuah falaqiah (peninggalan) serta
manuskrip Islam lain yang sudah berumur ratusan tahun.

Kesemuanya peninggalan sejarah tadi, saat ini merupakan pusaka Marga
Hatuwe yang masih tersimpan dengan baik di rumah pusaka Hatuwe
yang dirawat oleh Abdul Rachim Hatuwe, Keturunan XII Imam Muhammad
Arikulapessy. Jarak antara rumah pusaka Hatuwe dengan Masjid Wapauwe
hanya 50 meter.

* Berpindah secara gaib

Menurut cerita rakyat setempat, dikisahkan ketika masyarakat Tehala,
Atetu dan Nukuhaly turun ke pesisir pantai dan bergabung menjadi
negeri Kaitetu, Masjid Wapauwe masih berada di dataran Tehala. Namun
pada suatu pagi, ketika masyarakat bangun dari tidurnya masjid
secara gaib telah berada di tengah-tengah pemukiman penduduk di
tanah Teon Samaiha, lengkap dengan segala kelengkapannya. "Menurut
kepercayaan kami (masyarakat Kaitetu) masjid ini berpindah secara
gaib. Karena menurut cerita orang tua-tua kami, saat masyarakat
bangun pagi ternyata masjid sudah ada," kata Ain Nukuhaly, warga
Kaitetu. Sementara itu, kondisi Mushaf Nur Cahya beserta manuskrip
tua lainnya tampak terawat meskipun sudah mengalami sedikit kerusakan
seperti berlobang kecil, sebagian seratnya terbuka dan tinta yang
pecah akibat udara lembap.

Menurut Rahman Hatuwe, ahli waris Mushaf Nur Cahya, kerusakan tersebut
akibat faktor kertasnya yang sudah tua, debu, kelembapan udara serta
insek (hewan) kertas. Dia menambahkan, pihaknya pernah mendapat
obat serbuk (tidak disebutkan namanya) untuk menjaga keawetan
manuskrip-manuskrip tua ini, hanya saja obat tersebut sudah habis.

"Alquran Nur Cahya ini masih jelas, dan waktu-waktu tertentu saya
masih sering membaca (ayat-ayat suci Alquran dari Mushaf ini)
seperti pada waktu Ramadhan," kata Rahman yang adalah keturunan
VIII Imam Muhammad Arikulapessy.

* Hal Konstruksi dan arsitektur

Masjid yang masih dipertahankan dalam arsitektur aslinya ini, berdiri
di atas sebidang tanah yang oleh warga setempat diberi nama Teon
Samaiha. Letaknya di antara pemukiman penduduk Kaitetu dalam bentuk
yang sangat sederhana. Konstruksinya berdinding gaba-gaba (pelepah
sagu yang kering) dan beratapkan daun rumbia tersebut, masih berfungsi
dengan baik sebagai tempat ber-salat Jumat maupun salat lima waktu,
kendati sudah ada masjid baru di desa itu.

Bangunan induk Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan
bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter.
Tipologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli
pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi. Meskipun kecil dan
sederhana, masjid ini mempunyai beberapa keunikan yang jarang dimiliki
masjid lainnya, yaitu konstruksi bangunan induk dirancang tanpa
memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.

* Hal Renovasi

Masjid ini direnovasi pertama kali oleh pendirinya, Jamilu pada
tahun 1464, tanpa mengubah bentuk aslinya. Meski pernah mengalami
dua kali pemindahan, bangunan inti masjid ini tetap asli. Bangunan
ini mengalami renovasi kedua kali pada tahun 1895 dengan penambahan
serambi di depan atau bagian timur masjid.

Masjid berkali-kali mengalami renovasi sekunder setelah masa
kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1959, atap masjid mulai
menggunakan semen PC yang sebelumnya masih berkerikil. Setelah
itu terjadi dua kali renovasi besar-besaran, yaitu pada Desember
1990-Januari 1991 dengan pergantian 12 buah tiang sebagai kolom
penunjang dan balok penopang atap. Pada tahun 1993 dilakukan
pergantian balok penadah kasau dan bumbungan, dengan tidak mengganti
empat buah tiang sebagai kolom utama.

Pada tahun 1997, atap masjid yang semula menggunakan seng diganti
dengan bahan (semula) dari nipah. Atap nipah diganti setiap lima
tahun sekali. Meski pernah direnovasi berkali-kali, masjid ini
tetap asli karena tidak mengubah bentuk inti masjid sama sekali.
Sehingga, dapat dikatakan bahwa masjid ini sebagai masjid tertua
di tanah air yang masih terpelihara keasliannya hingga kini.

Maret 2008 lalu, Masjid ini direnovasi kembali. Struktur atap
yang terbuat dari pelepah sagu diganti yang baru.

* Hal Aksesibilitas

Untuk mencapai Negeri Kaitetu dimana Masjid Tua Wapauwe berada, dari
pusat Kota Ambon bisa menggunakan transportasi darat dengan menempuh
waktu satu jam perjalanan. Bertolak dari Kota Ambon ke arah timur
menuju Negeri Passo. Di simpang tiga Passo membelok ke arah kiri
melintasi jembatan, menuju arah utara dan melewati pegunungan hijau
dengan jalan berbelok serta menanjak.

Sepanjang perjalanan, orang yang hendak menuju Masjid Wapauwe bisa
menikmati pemandangan alam pegunungan, dengan sisi jalan yang
kadang-kadang memperlihatkan jurang, tebing, atau hamparan tanaman
cengkeh dan pala hijau menyejukkan mata.

Sebelum mencapai Kaitetu, terlebih dahulu bertemu Negeri Hitu, yang
terletak sekitar 22 kilometer dari Ambon. Sebuah ruas jalan yang
menurun, mengantarkan kita memasuki Hitu. Pada ruas jalan tersebut
kita disuguhi panorama pesisir pantai Utara Pulau Ambon yang indah
dengan hamparan pohon kelapa dan bakau. Dari situ juga dapat melihat
dengan jelas Selat Seram dengan lautnya yang tenang.

Tiba di simpang empat Hitu, bagi yang membawa kendaraan harus
membelokkan kendaraan ke arah kiri, atau menuju arah barat menyusuri
pesisir Utara Jazirah Hitu. Baru setelah menempuh 12 kilometer
perjalanan dari situ, maka akan menemukan Negeri Kaitetu,
lokasi Masjid Wapauwe.

__________________________________

Tambahan Info (Wisata Religi)
__________________________________

Hingga saat ini, Masjid Wapauwe masih digunakan sebagai tempat ibadah.
Walaupun berada bukan di pusat kota dan sudah ada masjid baru di desa
tersebut, tapi jamaah Masjid Wapauwe terbilang banyak. Selain masyarakat
sekitar, banyak juga musafir yang jauh-jauh datang dengan sengaja untuk
melihat dan merasakan bagaimana rasanya salat di dalam masjid yang
terbuat dari sagu.

 Wisatawan yang datang selalu dimanjakan dengan keramahan masyarakat
Kaitetu. Kecintaan masyarakat sekitar terhadap Masjid Wapauwe juga
dibuktikan dengan merawatnya secara sungguh-sungguh. Bagi mereka,
masjid ini adalah peninggalan nenek moyang yang tak ternilai harganya.

 Tidak hanya eksterior, interior masjid juga masih sangat terawat. Di
dalamnya terdapat bedug tua berukuran sedang yang masih sangat terawat.
Yang paling menarik adalah adanya Al-Quran tulisan tangan yang sudah uzur.
Al-Quran tersebut masih bisa digunakan, hanya saja kertasnya sudah
mulai rapuh termakan usia.

Sepertinya setiap jengkal di Masjid Wapauwe adalah mukjizat. Semua
pesona masjid sayang sekali jika dibiarkan begitu saja. Tidak ada
salahnya untuk berwisata religi ke masjid penuh sejarah dan pesona
ini sambil beribadah.Gambar

Sumber :
https://fhixreesapulettehattoe.wordpress.com/tag/masjid-tertua-di-maluku/

__________

Penutup
__________

Demikian infonya para kaum muslimin muslimat sekalian...!
Dan khusus untuk anda masyarakat muslim Tanah Batak Angkola,
"kiranya postingan ini menyempurnakan" pengetahuan-pengetahuan
kita dibidang Ambon atau Maluku wilayah Timur Indonesia.

Wassalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh...!
_______________________________________________________________________
Cat :


__________________________ 

No comments:

Post a Comment