Sunday, September 6, 2015

Suku Bugis (Sulawesi Selatan) : Masa Kolonialisme Belanda, Masa Kemerdekaan RI dan Macam Profesi (Bab 2)

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak antar info sekitar Suku Bugis Sulawesi Selatan dalam
hubungannya dengan Masa Kolonialisme Belanda dan Masa
Kemerdekaan RI pun dengan macam profesinya)
____________________________________________________________

___________________

Kata Pengantar
___________________

Postingan ini adalah pendalaman dari link :
http://angkolafacebook.blogspot.co.id/2015/09/suku-bugis-sulawesi-selatan-sejarah.html
yang mana penulis menguraikan mengenai Sejarah Suku Bugis
sampai pada masuknya Islam.

Untuk melengkapinya, maka tulisan bab 2 inipun di postingankan.
Selamat menyimak...!
________________________________________________________________

Sekilas Sejarah Suku Bugis - Sulawesi Selatan Dalam
Hubungannya dengan Masa Kolonialisme Belanda dan
Masa Kemerdekaan

________________________________________________________________

* Kolonialisme Belanda

Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara
Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran.
Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya
perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung
Palakka.

Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil Makassar
yang berhianat pada kerajaan Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin
didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa
Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu.

Perang yang dahsyat mengakibatkan banyaknya korban di pihak
Gowa & sekutunya. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya
Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa.

Pernikahan Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan
Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di
jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang
besar sampai kemudian pada tahun 1905-1906 setelah perlawanan
Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng
Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Makassar dan Bugis
baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda.

Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan
Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan
raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong
setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tapi hanya
sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia
Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga
berdirinya NKRI.

* Masa kemerdekaan

Para raja-raja di Nusantara mendapat desakan oleh pemerintahan
Orde Lama (Soekarno) untuk membubarkan kerajaan mereka dan
melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia
khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan.

Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan
kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi
seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan sehingga
semakin terkikis.

Sekarang generasi muda Makassar & Bugis adalah generasi yang
lebih banyak mengonsumsi budaya material sebagai akibat
modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde
Baru yang meminggirkan budaya mereka.

Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana pemekaran.
Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat.
Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara
banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun
sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit
akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi.

* Mata pencarian

Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur
dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai
petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang
Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi
birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

* Perompak

Sejak Perjanjian Bongaya yang menyebabkan jatuhnya Makassar
ke tangan kolonial Belanda, orang-orang Bugis dianggap sebagai
sekutu bebas pemerintahan Belanda yang berpusat di Batavia.
Jasa yang diberikan oleh Arung Palakka, seorang Bugis asal
Bone kepada pemerintah Belanda, menyebabkan diperolehnya
kebebasan bergerak lebih besar kepada masyarakat Bugis.
Namun kebebasan ini disalahagunakan Bugis untuk menjadi
perompak yang mengganggu jalur niaga Nusantara bagian timur.

Armada perompak Bugis merambah seluruh Kepulauan Indonesia.
Mereka bercokol di dekat Samarinda dan menolong sultan-sultan
Kalimantan di pantai barat dalam perang-perang internal mereka.
Perompak-perompak ini menyusup ke Kesultanan Johor dan mengancam
Belanda di benteng Malaka.[4]

* Serdadu bayaran

Selain sebagai perompak, karena jiwa merantau dan loyalitasnya
terhadap persahabatan orang-orang Bugis terkenal sebagai serdadu
bayaran. Orang-orang Bugis sebelum konflik terbuka dengan Belanda
mereka salah satu serdadu Belanda yang setia.

Mereka banyak membantu Belanda, yakni saat pengejaran Trunojoyo
di Jawa Timur, penaklukan pedalaman Minangkabau melawan pasukan
Paderi, serta membantu orang-orang Eropa ketika melawan Ayuthaya
di Thailand.

Orang-orang Bugis juga terlibat dalam perebutan kekuasaan
dan menjadi serdadu bayaran Kesultanan Johor, ketika terjadi
perebutan kekuasaan melawan para pengelana Minangkabau
pimpinan Raja Kecil.

* Bugis perantauan

Kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas,
dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei,
Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di
pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb
yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat
tanah asal nenek moyang mereka.

* Penyebab merantau

Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama
kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak
tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya
orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir.

Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan
kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat
diraih melalui kemerdekaan.

* Bugis di Kalimantan Timur

Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak
mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja, mereka
tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya
melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya
diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu
rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar
Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari
Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.

Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan
tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah
dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan
Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis
Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama di
dalam menghadapi musuh.

Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus
(daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan
di dalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak)
dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang
gunung-gunung (Gunung Selili).

* Bugis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia

Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad
ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki
jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut
serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah
Melayu.

Di sini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-
kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor &
selangor yang merupakan keturunan Luwu.
__________

Penutup
__________

Demikian infonya para kawan...!

Kiranya uraan mengenai Suku Bugis di angkolafaceboook.blogspot.
com ini dapat memperluas wawasan Nusantara kita khsusnya di
bidang suku.

Selamat malam...!
_____________________________________________________________________
Cat :

PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

No comments:

Post a Comment