Minggu, 04 Oktober 2015

8 Tokoh Pers Asal Padang - Sumatra Barat

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar 8 Tokoh Pers Nasinal Kelahiran Padang
Sumatra barat)
___________________________________________________________













__________________

Kata Pengantar
__________________

Untuk mendukung situs "Angkola Pers) tentu tak ada salahnya
sebagian dari isinya diposting juga di blog ini bukan...?

Nah...!

Berikut info sekitar 8 Tokoh Pers Nasoinal yang mungkin saja
anda para pembaca angkolafacebook.blogspot.com ingin
mengetahuinya.

Selamat menyimak...!
_________________

1.  Abdoel Rivai.
_________________

* Pemahaman Umum

Abdoel Rivai (lahir di Palembayan, Agam, Sumatera Barat, 13 Agustus 1871 –
meninggal di Bandung, Jawa Barat, 16 Oktober 1937 pada umur 66 tahun)
adalah dokter dan wartawan Indonesia.

Ia merupakan orang Indonesia pertama yang menerbitkan surat kabar
berbahasa Melayu dari Eropa. Rivai dianugerahi gelar sebagai Perintis
Pers Indonesia pada tahun 1974 oleh Pemerintah Indonesia.

* Kehidupan

Abdoel Rivai lahir dari pasangan Abdul Karim dan Siti Kemala Ria.
Ayahnya bekerja sebagai guru di sekolah Melayu. Rivai memiliki watak
yang keras, ulet, serta otak yang cemerlang.

Pada tahun 1886, di saat masih berusia 15 tahun dia diterima bersekolah
di STOVIA. Setamat dari STOVIA pada tahun 1894, ia ditugaskan menjadi
dokter di Medan.

Penghujung tahun 1899, Rivai melanjutkan pendidikan ke Belanda
sambil membantu berbagai surat kabar di Indonesia. Rivai merupakan
orang Hindia pertama yang bersekolah kedokteran di Belanda.

Pada awal abad ke-20 Rivai terlibat perdebatan dengan A.A Fokker,
pejabat Belanda yang mengklaim lebih fasih berbahasa Melayu ketimbang
orang Melayu sendiri.

Dalam perdebatan ini Fokker berang karena ada orang inlander yang
berani menantangnya. Akibat kegemilangannya dalam berdebat, Rivai
diperbolehkan sekolah di Utrecht.
Wartawan

Pada tahun 1900 Rivai memprakarsai surat kabar Pewarta Wolanda. Kendati
terbit dari Amsterdam, Pewarta Wolanda hadir dalam bahasa Melayu. Selain
mengurusi Pewarta Wolanda, Rivai sering mengirimkan tulisannya ke
berbagai media massa yang terbit di Belanda maupun Hindia.

Berkat ketajaman tulisannya, Rivai lebih dikenal sebagai seorang
wartawan dibanding dokter. Bersama Henri Constant Claude Clockener
Brousson, Rivai menerbitkan Bendera Wolanda pada 15 April 1901.
Juga bersama Brousson, ia mendirikan usaha penerbitan Bintang Hindia
pada Juli 1902.

Bintang Hindia dengan warna nasionalismenya beranjak redup saat
Rivai mengundurkan diri pada tahun 1907, hingga akhirnya pada tahun 1910
media yang pernah menggebrak dunia pers Belanda dan Hindia itu berakhir.

Ia juga membantu di Bintang Hinen West dan Alegemeen Handelsblad di
Amsterdam. Sewaktu mengadakan perjalanan ke berbagai negara di Eropa
dan Amerika pada kurun 1919-1921, ia mengirimkan karangannya ke
berbagai surat kabar di Indonesia.

* Aktivitas Politik

Setibanya dari Belanda pada tahun 1911, Rivai turut mendukung pembentukan
Indische Partij (IP) di Sumatra. Tahun 1913 IP dibubarkan karena dianggap
membahayakan pemerintah kolonial.

Mantan aktivisnya kemudian mendirikan Insulinde. Pada tahun 1918, ia
diangkat sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili Insulinde.
Ia kemudian menetap di Jakarta, sebagai pembantu utama surat kabar
Bintang Timur. Sementara itu surat kabar Pewarta Deli, Medan menyebutnya
Sebagai "Bapak dalam golongan Jurnalistik".
__________________

2. Abdullah Ahmad.
__________________

* Pemahaman Umum

Abdullah Ahmad (lahir di Padang Panjang, 1878 – meninggal di Padang,
1933 pada umur 55 tahun) adalah seorang ulama reformis yang turut
membidani lahirnya perguruan Sumatera Thawalib di Sumatera Barat.

Ia merupakan anak dari Haji Ahmad, ulama Minangkabau yang juga seorang
pedagang, dan seorang ibu yang berasal dari Bengkulu. Bersama Abdul
Karim Amrullah, ia menjadi orang Indonesia terawal yang memperoleh
gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, di Kairo, Mesir.

* Kehidupan

Abdullah menyelesaikan pendidikan dasarnya pada sebuah sekolah
pemerintah dan sedari kecil memperoleh pendidikan agama dari ayahnya.
Pada tahun 1895, Abdullah Ahmad pergi ke Mekkah dan kembali ke Indonesia
pada tahun 1899. Sekembalinya dari Mekkah, ia segera mengajar di P
adang Panjang sembari memberantas bid'ah dan tarekat.

Ia tertarik pula untuk menyebarkan pemikiran pembaruan melalui publikasi
dengan menjadi agen dari berbagai majalah pembaruan, seperti Al-Imam
di Singapura dan Al-Ittihad dari Kairo.

Pada tahun 1906, Abdullah Ahmad pindah ke Padang untuk menjadi guru,
menggantikan pamannya yang meninggal dunia. Di Padang, ia mengadakan
tabligh dan pertemuan tentang masalah agama dan mendirikan jamaah
Adabiyah beberapa tahun kemudian.

Di samping itu ia memberikan pengajian pada orang dewasa. Pengajiannya
dilakukan dua kali seminggu secara bergantian dari rumah ke rumah.

Tidak diperolehnya pendidikan yang sistematis oleh semua anak-anak pedagang
di Padang, menginspirasi Abdullah Ahmad membuka sekolah Adabiyah pada
tahun 1909. Abdullah Ahmad sangat aktif menulis, bahkan ia menjadi ketua
persatuan wartawan di Padang pada tahun 1914.

Ia mempunyai hubungan yang erat dengan pelajar-pelajar sekolah menengah
di Padang dan sekolah dokter di Jakarta, serta memberikan bantuan
dalam kegiatan Jong Sumatranen Bond.

Pengetahuannya tentang agama sangat mendalam dan diakui oleh ulama-
ulama Timur Tengah pada konferensi khilafat di Kairo tahun 1926.
Pengakuan itu dibuktikan dengan pemberian gelar kehormatan dalam
bidang agama sebagai doktor fid-din.
Ulama Wartawan

Abdullah Ahmad menjadi pendiri majalah Al-Munir yang terbit di Padang
pada tahun 1911 sampai 1916. Tahun 1913 dia mendirikan majalah berita
Al-Akhbar, dan pada tahun 1916 menjadi redaktur bidang agama majalah
Al-Islam yang diterbitkan Sarekat Islam di Surabaya.
Kategori:
____________________________

3.  Djamaluddin Adinegoro
______________________________























* Pemahaman Umum

Djamaluddin Adinegoro, terkadang dieja Adi Negoro gelar Datuak Maradjo
Sutan (lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904 –
meninggal di Jakarta, 8 Januari 1967 pada umur 62 tahun) adalah
sastrawan dan wartawan kawakan Indonesia.

Ia berpendidikan STOVIA (1918-1925) dan pernah memperdalam pengetahuan
mengenai jurnalistik, geografi, kartografi, dan geopolitik di Jerman
dan Belanda (1926-1930).

Nama aslinya sebenarnya bukan Adinegoro, melainkan Djamaluddin gelar
Datuk Maradjo Sutan.[1] Ia adalah adik sastrawan dan pejuang Muhammad
Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro
bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah,
sedangkan nama ibu Muhammad Yamin adalah Rohimah. Ia memiliki seorang
istri bernama Alidas yang berasal dari Sulit Air, X Koto Diatas, Solok,
Sumatera Barat.

* Masa muda

Adinegoro terpaksa memakai nama samaran karena ketika bersekolah di STOVIA
ia tidak diperbolehkan menulis. Padahal, pada saat itu keinginannya menulis
sangat tinggi. Maka digunakan nama samaran Adinegoro tersebut sebagai
identitasnya yang baru.

Ia pun bisa menyalurkan keinginannya untuk mempublikasikan tulisannya
tanpa diketahui orang bahwa Adinegoro itu adalah Djamaluddin gelar
Maradjo Sutan. Oleh karena itulah, nama Adinegoro sebagai sastrawan
lebih terkenal daripada nama aslinya, Djamaluddin.

Adinegoro sempat mengenyam pendidikan selama empat tahun di Berlin,
Jerman. Ia mendalami masalah jurnalistik di sana. Selain itu, ia
juga mempelajari kartografi, geografi, politik, dan geopolitik.

Tentu saja pengalaman belajar di Jerman itu sangat banyak menambah
pengetahuan dan wawasannya, terutama di bidang jurnalistik. Adinegoro
memang lebih dikenal sebagai wartawan daripada sastrawan.

Ia memulai kariernya sebagai wartawan di majalah Caya Hindia, sebagai
pembantu tetap. Setiap minggu ia menulis artikel tentang masalah luar
negeri di majalah tersebut. Ketika belajar di luar negeri (1926—1930),
ia nyambi menjadi wartawan bebas pada surat kabar Pewarta Deli (Medan),
Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Batavia).

Setelah kembali ke tanah air, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka
pada tahun 1931. Akan tetapi, ia tidak bertahan lama di sana, hanya
enam bulan. Sesudah itu, ia memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan
(1932—1942). Ia juga pernah memimpin Sumatra Shimbun selama dua tahun.
Kemudian, bersama Prof. Dr. Supomo, ia memimpin majalah Mimbar Indonesia
(1948—1950). Selanjutnya, ia memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia (1951).

Terakhir, ia bekerja di Kantor Berita Nasional (kemudian menjadi
LKBN Antara). Sampai akhir hayatnya Adinegoro mengabdi di kantor
berita tersebut.


Ia ikut mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta dan Fakultas
Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Ia juga pernah
menjadi Tjuo Sangi In (semacam Dewan Rakyat) yang dibentuk Jepang
(1942-1945), anggota Dewan Perancang Nasional, anggota MPRS, Ketua
Dewan Komisaris Penerbit Gunung Agung, dan Presiden Komisaris LKBN Antara.
Buku Adinegoro, Pelopor Jurnalistik Indonesia karya Soebagijo I.N.

* Karya
















Ket :
Adinegoro dalam perangko tahun 1996

Dua buah novel Adinegoro yang terkenal (keduanya dibuat pada tahun 1928),
yang membuat namanya sejajar dengan nama-nama novelis besar Indonesia
lainnya, adalah Asmara Jaya dan Darah Muda. Ajip Rosidi dalam buku
Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1982), mengatakan bahwa Adinegoro
merupakan pengarang Indonesia yang berani melangkah lebih jauh menentang
adat kuno yang berlaku dalam perkawinan. Dalam kedua romannya Adinegoro
bukan hanya menentang adat kuno tersebut, melainkan juga dengan berani
memenangkan pihak kaum muda yang menentang adat kuno itu yang dijalankan
oleh pihak kaum tua.

Di samping kedua novel itu, Adinegoro juga menulis novel lainnya, yaitu
Melawat ke Barat, yang merupakan kisah perjalanannya ke Eropa. Kisah
perjalanan ini diterbitkan pada tahun 1930.

Selain itu, ia juga terlibat dalam polemik kebudayaan yang terjadi
sekitar tahun 1935. Esainya, yang merupakan tanggapan polemik waktu i
tu, berjudul "Kritik atas Kritik" terhimpun dalam Polemik Kebudayaan
yang disunting oleh Achdiat K. Mihardja (1977). Dalam esainya itu,
Adinegoro beranggapan bahwa suatu kultur tidak dapat dipindah-pindahkan
karena pada tiap bangsa telah melekat tabiat dan pembawaan khas, yang
tak dapat ditiru oleh orang lain. Ia memberikan perbandingan yang
menyatakan bahwa suatu pohon rambutan tidak akan menghasilkan buah
mangga, dan demikian pun sebaliknya.

Pada tahun 1950, atas ajakan koleganya Mattheus van Randwijk, Adinegoro
membuat atlas pertama berbahasa Indonesia. Atlas tersebut dibuat dari
Amsterdam, Belanda bersama Adam Bachtiar dan Sutopo.

Dari mereka bertiga, terbitlah buku Atlas Semesta Dunia pada tahun 1952.
Inilah atlas pertama yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia sejak
Indonesia merdeka. Pada tahun yang sama setelah atlas itu muncul, mereka
juga menerbitkan Atlas Semesta Dunia untuk Sekolah Landjutan.

Pada tahun 1954, ia menerbitkan ensiklopedia pertama dalam bahasa Indonesia,
Ensiklopedi Umum Dalam Bahasa Indonesia.

* Buku























Ket :
Ensiklopedi Adinegoro.jpg

- Revolusi dan Kebudayaan (1954)
- Ensiklopedia Umum Dalam Bahasa Indonesia (1954),
- Ilmu Karang-mengarang
- Falsafah Ratu Dunia

* Novel

- Darah Muda. Batavia Centrum : Balai Pustaka. 1931
- Asmara Jaya. Batavia Centrum : Balai Pustaka. 1932.
- Melawat ke Barat'. Batavia Centrum : Balai Pustaka. 1987

* Cerita pendek

- Bayati es Kopyor. Varia. No. 278. Th. Ke-6. 1961, hlm. 3—4, 32.
- Etsuko. Varia. No. 278. Th. Ke-6. 1961. hlm. 2—3, 31
- Lukisan Rumah Kami. Djaja. No. 83. Th. Ke-2. 1963. hlm. 17—18.
- Nyanyian Bulan April. Varia. No. 293. Th. Ke-6. 1963. hlm. 2-3 dan 31—32.

* Penghargaan Adinegoro

Pada tahun 1974 Adinegoro dianugerahi gelar Perintis Press Indonesia.
Dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai badan tertinggi insan
press nasional, menyediakan tanda penghargaan tertinggi bagi karya
jurnalistik terbaik setiap tahunnya, yaitu Hadiah Adinegoro.

_________________________

4. Sukarni "Karni" Ilyas
_________________________



















* Pemahaman Umum

Sukarni "Karni" Ilyas (lahir di Balingka, Agam, Sumatera Barat,
25 September 1952; umur 63 tahun) adalah salah seorang tokoh jurnalis
dan pejuang hukum Indonesia. Karni merupakan wartawan yang cukup sukses,
dan banyak melahirkan liputan serta program-program unggulan.

Asal usul

Karni lahir dari orang tua asal Minangkabau, Ilyas Sutan Nagari
(ayah) dan Syamsinar (ibu). Kakeknya dari pihak ibu yang bernama
Datuk Basa (Angku Datuak), merupakan seorang pedagang kain partai
besar dan salah satu pendiri Diniyah School.Semasa SMP Karni
bersekolah di SMPN 5 Padang. Setelah menamatkan SMEA di Padang ia
melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Karier

Karni memulai kariernya sebagai wartawan harian Suara Karya pada
tahun 1972. Ia kemudian pindah ke Majalah Tempo tahun 1978 sampai
menduduki jabatan sebagai Redaktur Pelaksana. Kepiawaiannya dalam
bidang hukum membuat Karni ditugaskan untuk memimpin Majalah Forum
tahun 1991-1999. Tahun berikutnya Karni memegang posisi sebagai
Komisaris Majalah tersebut.

Ia memimpin Liputan 6 SCTV sejak tahun 1999-2005. Di televisi
ia menemukan dunia baru yang ternyata luar biasa baginya. Ia
terpacu ketika berhadapan dengan waktu tenggat berita yang bisa
muncul setiap saat. Dunia baru inilah yang membuatnya memiliki
jargon bahwa kekuatan televisi adalah kecepatan, kecepatan, dan
kecepatan. Dalam tempo hanya enam tahun, ia berhasil mengantarkan
Liputan 6 SCTV menjadi program berita terkemuka di Tanah Air.

Karni hijrah ke ANTV tahun 2005. Berkat tangan dinginnya, banyak
tayangan ekslusif lahir dari liputan dan ketajaman naluri
kewartawanannya. Tak jarang dalam liputan-liputan tersebut ia
sekaligus menjadi reporternya. Tahun 2007, ia dipercaya membenahi
TV One yang baru saja diambil alih Keluarga Bakrie. Pada stasiun
televisi ini namanya cukup berkibar, terutama setelah memandu acara
"Indonesia Lawyers Club". Di TV One,

Karni menjabat sebagai Direktur Pemberitaan atau Pemimpin Redaksi
News dan Sports. Pada tahun 2012, ia meraih Panasonic Gobel Awards,
untuk kategori "Life Time Achievement".

Bang One

Bang One yang kritis merupakan sosok karni yang digambarkan melalui
karikatur/kartun. Tokoh ini dilahirkan pada bulan Maret 2008, sesaat
setelah munculnya tvOne. Selama satu tahun karakter tersebut terselip
dalam program-program berita tvOne (Kabar Pagi, Siang, dan Malam)
dan mendapat apresiasi yang baik. Sebagai wartawan yang lugas dan
kritis, Bang One diberikan kesempatan untuk memandu sebuah acara
bincang-bincang interaktif berjudul Bang One Show. Dalam mewawancarai
seseorang, Bang One kerap mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah.

Organisasi

Karni aktif di berbagai organisasi wartawan. Ia juga menjadi Presiden
Jakarta Lawyer Club, Ketua Umum ATVSI (Asosiasi Televisi Swasta Indonesia),
serta Anggota Komisi Kepolisian Nasional.
__________________________

5. Petrus Kanisius Ojong
__________________________
















* Pemahaman Umum

Petrus Kanisius Ojong atau Auw Jong Peng Koen (lahir di Bukittinggi,
Sumatera Barat, Indonesia, 25 Juli 1920 – meninggal di Jakarta,
Indonesia, 31 Mei 1980 pada umur 59 tahun) adalah salah satu pendiri
Kelompok Kompas Gramedia (bersama Jakob Oetama). Ojong menjadi
jurnalis sejak awal usia 30-an. Ojong mempunyai enam anak, empat
di antaranya laki-laki. PK Ojong meninggal tahun 1980.


* Riwayat

Lahir di Bukittinggi, 25 Juli 1920, dengan nama Auw Jong Peng Koen.
Ayahnya, Auw Jong Pauw, sejak dini mengajarkannya untuk hemat, disiplin,
dan tekun. Auw Jong Pauw awalnya adalah petani di Pulau Quemoy (kini
wilayah Taiwan) yang kemudian merantau ke Sumatera Barat. Di kemudian
hari, Auw Jong Pauw menjadi juragan tembakau di Payakumbuh, dan
menghidupi keluarga besar 11 anak dari dua istri, istri pertama
Auw Jong Pauw meninggal setelah melahirkan anak ke-7.

Peng Koen (PK Ojong) adalah anak sulung dari istri kedua. Saat
Peng Koen kecil, jumlah mobil di Payakumbuh tak sampai sepuluh,
salah satunya milik ayahnya.

Semasa hidupnya, Ojong dikenal sebagai pribadi yang sederhana, jujur,
bertanggung jawab, dan pandai mengelola keuangan. Dia tidak suka
menyumbang untuk acara pesta yang menghamburkan uang, namun memberikan
donasi kepada yang membutuhkan bantuan. Selain itu, PK Ojong juga
seorang pekerja keras dan mengutamakan persatuan bangsa berdasarkan
Bhineka Tunggal Ika.
Pendidikan

Semasa bersekolah di Hollandsch Chineesche School (HCS, sekolah dasar
khusus warga Tionghoa) Payakumbuh, Ojong dikenal sebagai anak yang
disiplin dan serius. Pada masa itu, ia berkenalan dengan ajaran agama
Katolik. Beberapa waktu kemudian, dia masuk Katolik dan mendapat nama
baptis Andreas. Peng Koen kemudian sempat pindah ke HCS Padang, lalu
melanjutkan ke Hollandsche Chineesche Kweekschool.

Di Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK, sekolah guru), ia gemar
membaca koran dan majalah yang dilanggani perkumpulan penghuni asrama.
Di sini Auwjong Peng Koen mulai belajar menelaah cara penulisan dan
penyajian gagasan. Di sekolah guru setingkat SLTA ini, Peng Koen
terpilih sebagai ketua perkumpulan siswa. Ia bertugas menyediakan
bahan bacaan buat anggota serta menyelenggarakan pesta malam Tahun
Baru Imlek dan piknik akhir tahun. Ojong kemudian meneruskan studinya
di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, dan lulus pada tahun 1951.
Karier

Pada awalnya, PK Ojong bekerja sebagai guru di SD Budi Mulia di Mangga
Besar Jakarta.[3] Ojong mempelajari mengenai jurnalistik pada tahun 1946,
ketika dia bergabung dengan Star Weekly, sebuah mahalan untuk komunitas
Tionghoa-Indonesia.[2] Dia memulai kariernya sebagai kontributor dan
akhirnya menjadi redaktur pelaksana hingga Star Weekly dibubarkan
pemerintah karena ulasan luar negeri yang ditulis Ojong dinilai
mengkritik kebijakan pemerintah.[2][4] Antara tahun 1946-1951, Ojong
merupakan anggota redaksi surat kabar harian Keng Po dan mingguan
Star Weekly.

PK Ojong juga dikenal sebagai tokoh di beberapa organisasi seperti
anggota Badan Pimpinan Pusat Partai Katolik, bendahara Pengurus Pusat
Serikat Penerbit Surat Kabar, bendahara Yayasan Indonesia yang menerbitkan
majalah kebudayaan Horison, bendahara Lingkaran Seni Jakarta, anggota
Dewan Kurator lembaga Bantuan Hukum/Lembaga Pembela Umum Jaya, Ketua
Dewan Pembina Yayasan Tarumanegara (penyelenggara Universitas Tarumanegara),
dan koordinator Serikat Pers Katolik Internasional wilayah Indonesia,
serta pendiri dan direktur Kantor Berita Katolik Asia di Hongkong.

Pada tahun 1963, Ojong bersama dengan Jakob Oetama mendirikan majalah
Intisari, cikal bakal dari harian Kompas. Pada tahun 1965, mereka
mendirikan harian Kompas yang menjadi harian nasional Indonesia hingga
saat ini. Pada tahun 1970 hingga akhir hidupnya, PK Ojong merupakan
pimpinan umum dari PT Gramedia yang bergerak di bidang penerbitan.

PK Ojong wafat pada 31 Mei 1980. Untuk mengenang jasanya, patung Ojong
didirikan di halaman Bentara Budaya Jakarta, suatu lembaga nirlaba yang
bertujuan untuk pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia.

Buku

Cuplikan perjalanan hidup Petrus Kanisius Ojong, yang dibesut Helen
Ishwara dalam buku PK Ojong: Hidup Sederhana, Berpikir Mulia (2001)
terasa bak tuntunan bagi wartawan dalam membangun media cetak dengan
baik dan benar. Pengalamannya, berlatar belakang intrik politik Orde
Lama dan Orde Baru, begitu rinci.
___________________
6. H. Rosihan Anwar 
___________________
























* Pemahaman Umum

H. Rosihan Anwar (lahir di Kubang Nan Dua, Sirukam, Kabupaten Solok,
10 Mei 1922 – meninggal di Jakarta, 14 April 2011 pada umur 88 tahun)
adalah tokoh pers Indonesia, meski dirinya lebih tepat dikatakan sebagai
sejarawan, sastrawan, dan budayawan. Rosihan merupakan salah seorang
yang cukup aktif dalam menulis. Dia telah menulis sekitar 21 judul buku
dan mungkin ratusan artikel di hampir semua koran dan majalah utama
di Indonesia, serta di beberapa penerbitan asing.


* Latar belakang

Rosihan merupakan anak keempat dari sepuluh bersaudara, pasangan Anwar
Maharaja Sutan dan Siti Safiah. Ayahnya adalah seorang demang di Padang,
Pantai Barat Sumatera. Dia menyelesaikan sekolah rakyat (HIS) dan SMP
(MULO) di Padang. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke AMS di
Yogyakarta. Dari sana Rosihan mengikuti berbagai pelatihan di dalam
maupun luar negeri, termasuk di Universitas Yale dan School of
Journalism di Universitas Columbia, New York City, Amerika Serikat.
Kehidupan

Rosihan memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter Asia Raya pada
masa pendudukan Jepang tahun 1943 hingga menjadi pemimpin redaksi
Siasat (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961). Pada masa perjuangan,
ia pernah disekap oleh penjajah Belanda di Bukit Duri, Batavia (kini
Jakarta). Kemudian pada tahun 1961, koran Pedoman miliknya dibredel
penguasa.

Pada masa Orde Baru, ia menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan
Indonesia (1968-1974). Tahun 1973, Rosihan mendapatkan anugerah
Bintang Mahaputra III, bersama tokoh pers Jakob Oetama. Namun kurang
dari setahun setelah Presiden Soeharto mengalungkan bintang itu di
lehernya, koran Pedoman miliknya ditutup.

Pada 1950, bersama Usmar Ismail ia mendirikan Perusahaan Film Nasional
(Perfini). Dalam film pertamanya, Darah dan Doa, ia sekaligus menjadi
figuran. Dilanjutkan sebagai produser film Terimalah Laguku. Sejak
akhir 1981, ia mempromosikan film Indonesia di luar negeri dan tetap
menjadi kritikus film sampai akhir hayatnya. Pada tahun 2007,
Rosihan Anwar dan Herawati Diah, yang ikut mendirikan Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta pada 1946, mendapat penghargaan
'Life Time Achievement' atau 'Prestasi Sepanjang Hayat' dari PWI Pusat.

Rosihan Anwar meninggal dunia pada hari Kamis, 14 April 2011 pukul
08.15 WIB di Rumah Sakit Metropolitan Medika Center (MMC) Jakarta
dalam usia 89 tahun. Ia diduga terkena gangguan jantung dan
dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta Selatan.
Keluarga

Rosihan Anwar menikahi Siti Zuraida pada tahun 1947. Zuraida masih
terhitung sebagai kerabat Mohammad Husni Thamrin, pahlawan nasional
dari Betawi. Pasangan ini dikaruniai tiga anak dan sejumlah cucu.

Rosihan Anwar bersaudara, dikenal sebagai tokoh-tokoh masyarakat.
Dua adiknya, Junisaf Anwar dan Yozar Anwar, juga mengikuti jejaknya
sebagai wartawan. Junisaf pernah menjadi pemimpin redaksi Antara,
sedangkan Yozar terkenal sebagai pimpinan eksponen 1966.

Adiknya yang lain Roesman Anwar, meniti karier sebagai profesional dan
pernah menduduki jabatan direktur utama Pelni.[5] Kakaknya, Johnny Anwar,
adalah mantan kepala polisi Padang. Namanya diabadikan sebagai salah
satu nama jalan di kota tersebut.

* Pendidikan

- HIS, Padang (1935)
- MULO, Padang (1939)
- AMS-A II, Yogyakarta (1942)
- Drama Workshop, Universitas Yale, AS (1950)
- School of Journalism, Columbia University New York, AS (1954)

Karier

Reporter Asia Raya, (1943-1945)
Redaktur harian Merdeka, (1945-1946)
Pendiri/Pemred majalah Siasat (1947-1957)
Pendiri/Pemred harian Pedoman, (1948-1961)
Pendiri Perfini (1950)
Kolumnis Business News, (1963-2011)
Kolumnis Kompas, KAMI, AB (1966-1968)

Koresponden harian The Age, Melbourne, harian Hindustan Times
New Delhi, Kantor Berita World Forum Features, London, mingguan
Asian, Hong Kong (1967-1971)

Pemred harian Pedoman, (1968-1974)
Koresponden The Straits, Singapura dan New Straits Times, Kuala Lumpur (1976-1985)
Wartawan Freelance (1974-2011)
Kolumnis Asiaweek, Hong Kong (1976-2011)
Ketua Umum PWI Pusat (1970-1973)
Ketua Pembina PWI Pusat (1973-1978)
Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat (1983-2011)

Kegiatan Lain

Wakil Ketua Dewan Film Nasional (1978 -- 2011)
Anggota Dewan Pimpinan Harian YTKI (1976 -- 2011)
Committee Member AMIC, Singapore (1973 -- 2011)
Dosen tidak tetap Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1983 -- 2011)

Karya

Radio Masyarakat
Ke Barat dari Rumah, 1952
India dari Dekat, 1954
Dapat Panggilan Nabi Ibrahim, 1959
Islam dan Anda, 1962
Raja Kecil (novel), 1967
Ihwal Jurnalistik, 1974
Kisah-kisah zaman Revolusi, 1975
Profil Wartawan Indonesia, 1977
Kisah-kisah Jakarta setelah Proklamasi, 1977
Jakarta menjelang Clash ke-I, 1978
Menulis Dalam Air, autobiografi, SH, 1983
Musim Berganti, Grafitipers, 1985
Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia: Jilid 1-4, 2004-2010

Penghargaan

Bintang Mahaputra III (1974)
Anugerah Kesetiaan Berkarya sebagai Wartawan (2005)
Life Time Achievement (2007)

___________________________

7. Mochtar Lubis (Tokoh Pers)
___________________________



























Mochtar Lubis (lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922 –
meninggal di Jakarta, 2 Juli 2004 pada umur 82 tahun) adalah seorang
jurnalis dan pengarang ternama asal Indonesia.

Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan.
Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan
memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit.

Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya.
Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam
penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada
tahun 1966. Pemikirannya selama di penjara, ia tuangkan dalam buku
Catatan Subversif (1980).

Pernah menjadi Presiden Press Foundation of Asia, anggota Dewan
Pimpinan International Association for Cultural Freedom (organisasi
CIA), dan anggota World Futures Studies Federation.

Novelnya, Jalan Tak Ada Ujung (1952 diterjemahkan ke bahasa Inggris
oleh A.H. John menjadi A Road With No End, London, 1968), mendapat
Hadiah Sastra BMKN 1952; cerpennya Musim Gugur menggondol hadiah
majalah Kisah tahun 1953; kumpulan cerpennya Perempuan (1956)
mendapatkan Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-1956;

novelnya, Harimau! Harimau! (1975), meraih hadiah Yayasan Buku
Utama Departeman P & K; dan novelnya Maut dan Cinta (1977) meraih
Hadiah Sastra Yayasan Jaya Raya tahun 1979. Selain itu, Mochtar
juga menerima Anugerah Sastra Chairil Anwar (1992).

Bibliografi

- Tidak Ada Esok (novel, 1951)
- Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain (kumpulan cerpen, 1950)
- Teknik Mengarang (1951)
- Teknik Menulis Skenario Film (1952)
- Harta Karun (cerita anak, 1964)
- Tanah Gersang (novel, 1966)
-Senja di Jakarta (novel, 1970; diinggriskan Claire Holt dengan judul
 Twilight in Jakarta, 1963)

- Judar Bersaudara (cerita anak, 1971)
- Penyamun dalam Rimba (cerita anak, 1972)
- Harimau! Harimau! (novel, 1975)
- Manusia Indonesia (1977)
- Berkelana dalam Rimba (cerita anak, 1980)
- Kuli Kontrak (kumpulan cerpen, 1982)
- Bromocorah (kumpulan cerpen, 1983)

Karya jurnalistiknya:

- Perlawatan ke Amerika Serikat (1951)
- Perkenalan di Asia Tenggara (1951)
- Catatan Korea (1951)
- Indonesia di Mata Dunia (1955)

Mochtar Lubis juga menjadi editor:
- Pelangi: 70 Tahun Sutan Takdir Alisyahbana (1979)
- Bunga Rampai Korupsi (bersama James C. Scott, 1984)
- Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta
  kepada Presiden Soekarno (1986)

Terjemahannya:

-Tiga Cerita dari Negeri Dollar (kumpulan cerpen, John Steinbeck,
 Upton Sinclair, dan John Russel, 1950)

-Orang Kaya (novel F. Scott Fitgerald, 1950)
-Yakin (karya Irwin Shaw, 1950)
-Kisah-kisah dari Eropa (kumpulan cerpen, 1952)
-Cerita dari Tiongkok (terjemahan bersama Beb Vuyk dan S. Mundingsari, 1953)

Studi mengenai Mochtar Lubis:
- M.S. Hutagalung, Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis (1963)
  Henri Chambert-Loir, Mochtar Lubis, une vision de l'Indonésie
  Contemporaine (diseertasi, Paris, 1974)

- David T. Hill, Mochtar Lubis: Author, Editor, and Political Actor
  (disertasi, Canberra, 1989)

- David T. Hil, ‘Mochtar Lubis’, Inside Indonesia, Vol. 83,
  July-September 2005, p.23.
   
- David T. Hill, Journalism and Politics in Indonesia: A Critical
  Biography of Mochtar Lubis (1922-2004) as Editor and Author,
  (Routledge, London & New York, 2010).

Pers Indonesia dimulai Sejak dibentuknya Kantor berita ANTARA
didirikan tanggal 13 Desember 1937 sebagai kantor berita perjuangan
dalam rangka perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia, yang mencapai
puncaknya dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.
_________________

8. Rohana Kudus
_________________

























Rohana Kudus (lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat,
20 Desember 1884 – meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 pada umur
87 tahun) adalah wartawan Indonesia. Ia lahir dari ayahnya yang
bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam.

Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri
Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal
Chairil Anwar. Ia pun adalah sepupu H. Agus Salim. Rohana hidup pada
zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat
pendidikan yang baik sangat dibatasi. Ia adalah perdiri surat kabar
perempuan pertama di Indonesia.

* Latar belakang

Rohana adalah seorang perempuan yang mempunyai komitmen yang kuat
pada pendidikan terutama untuk kaum perempuan. Pada zamannya Rohana
termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa
diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat
pendidikan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan.

Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya
Rohana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan.

Walaupun Rohana tidak bisa mendapat pendidikan secara formal namun
ia rajin belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah Belanda
yang selalu membawakan Rohana bahan bacaan dari kantor. Keinginan
dan semangat belajarnya yang tinggi membuat Rohana cepat menguasai
materi yang diajarkan ayahnya. Dalam Umur yang masih sangat muda
Rohana sudah bisa menulis dan membaca, dan berbahasa Belanda.

Selain itu ia juga belajar abjad Arab, Latin, dan Arab-Melayu. Saat
ayahnya ditugaskan ke Alahan Panjang, Rohana bertetanga dengan pejabat
Belanda atasan ayahnya. Dari istri pejabat Belanda itu Rohana belajar
menyulam, menjahit, merenda, dan merajut yang merupakan keahlian
perempuan Belanda. Disini ia juga banyak membaca majalah terbitan
Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan
pendidikan di Eropa yang sangat digemari Rohana.
Pendidikan dan wirausaha

Berbekal semangat dan pengetahuan yang dimilikinya setelah kembali
ke kampung dan menikah pada usia 24 tahun dengan Abdul Kudus yang
berprofesi sebagai notaris. Rohana mendirikan sekolah keterampilan
khusus perempuan pada tanggal 11 Februari 1911 yang diberi nama
Sekolah Kerajinan Amai Setia. Di sekolah ini diajarkan berbagai
keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan,
tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda.

Banyak sekali rintangan yang dihadapi Rohana dalam mewujudkan cita-
citanya. Jatuh bangun memperjuangkan nasib kaum perempuan penuh
dengan benturan sosial menghadapi pemuka adat dan kebiasaan masyarakat
Koto Gadang, bahkan fitnahan yang tak kunjung menderanya seiring
dengan keinginannnya untuk memajukan kaum perempuan. Namun gejolak
sosial yang dihadapinya justru membuatnya tegar dan semakin yakin
dengan apa yang diperjuangkannya.

Selain berkiprah di sekolahnya, Rohana juga menjalin kerjasama
dengan pemerintah Belanda karena ia sering memesan peralatan dan
kebutuhan jahit-menjahit untuk kepentingan sekolahnya. Disamping
itu juga Rohana menjadi perantara untuk memasarkan hasil kerajinan
muridnya ke Eropa yang memang memenuhi syarat ekspor. Ini menjadikan
sekolah Rohana berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan
pinjam dan jual beli yang anggotanya semua perempuan yang pertama
di Minangkabau.

Banyak petinggi Belanda yang kagum atas kemampuan dan kiprah Rohana.
Selain menghasilkan berbagai kerajinan, Rohana juga menulis puisi dan
artikel serta fasih berbahasa Belanda. Tutur katanya setara dengan
orang yang berpendidikan tinggi, wawasannya juga luas. Kiprah Rohana
menjadi topik pembicaraan di Belanda. Berita perjuangannya ditulis
di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan
perempuan pertama di Sumatera Barat.

Keinginan untuk berbagi cerita tentang perjuangan memajukan
pendidikan kaum perempuan di kampungnya ditunjang kebiasaannya
menulis berujung dengan diterbitkannya surat kabar perempuan yang
diberi nama Sunting Melayu pada tanggal 10 Juli 1912. Sunting Melayu
merupakan surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang pemimpin
redaksi, redaktur dan penulisnya adalah perempuan.

Kisah sukses Rohana di sekolah kerajinan Amai Setia tak berlangsung
lama pada tanggal 22 Oktober 1916 seorang muridnya yang telah didiknya
hingga pintar menjatuhkannya dari jabatan Direktris dan Peningmeester
karena tuduhan penyelewengan penggunaan keuangan. Rohana harus menghadapi
beberapa kali persidangan yang diadakan di Bukittinggi didampingi suaminya,
seorang yang mengerti hukum dan dukungan seluruh keluarga. Setelah
beberapa kali persidangan tuduhan pada Rohana tidak terbukti, jabatan
di sekolah Amai Setia kembali diserahkan padanya, namun dengan halus
ditolaknya karena dia berniat pindah ke Bukittinggi.

Di Bukittinggi Rohana mendirikan sekolah dengan nama “Rohana School”.
Rohana mengelola sekolahnya sendiri tanpa minta bantuan siapa pun untuk
menghindari permasalahan yang tak diinginkan terulang kembali. Rohana
School sangat terkenal muritnya banyak, tidak hanya dari Bukittinggi
tapi juga dari daerah lain. Hal ini disebabkan Rohana sudah cukup
populer dengan hasil karyanya yang bermutu dan juga jabatannya sebagai
Pemimpin Redaksi Sunting Melayu membuat eksistensinya tidak diragukan.

Tak puas dengan ilmunya, di Bukittinggi Rohana memperkaya keterampilannya
dengan belajar membordir pada orang Cina dengan menggunakan mesin
jahit Singer. Karena jiwa bisnisnya juga kuat, selain belajar membordir
Rohana juga menjadi agen mesin jahit untuk murid-murid di sekolahnya
sendiri. Rohana adalah perempuan pertama di Bukittinggi yang menjadi
agen mesin jahit Singer yang sebelumnya hanya dikuasai orang Tionghoa.

Dengan kepandaian dan kepopulerannya Rohana mendapat tawaran mengajar
di sekolah Dharma Putra. Di sekolah ini muridnya tidak hanya perempuan
tapi ada juga laki-laki. Rohana diberi kepercayaan mengisi pelajaran
keterampilan menyulam dan merenda. Semua guru di sini adalah lulusan
sekolah guru kecuali Rohana yang tidak pernah menempuh pendidikan formal.

Namun Rohana tidak hanya pintar mengajar menjahit dan menyulam melainkan
juga mengajar mata pelajaran agama, budi pekerti, Bahasa Belanda, politik,
sastra, dan teknik menulis jurnalistik.

Rohana menghabiskan waktu sepanjang hidupnya dengan belajar dan mengajar.
Mengubah paradigma dan pandangan masyarakat Koto Gadang terhadap
pendidikan untuk kaum perempuan yang menuding perempuan tidak perlu
menandingi laki-laki dengan bersekolah segala. Namun dengan bijak
Rohana menjelaskan “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan
menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan
dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat
pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani
dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang
kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”.

Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Rohana tidak menuntut persamaan
hak perempuan dengan laki-laki namun lebih kepada pengukuhan fungsi
alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. Untuk dapat berfungsi
sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya juga butuh ilmu pengetahuan
dan keterampilan untuk itulah diperlukannya pendidikan untuk perempuan.
Pergerakan

Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi,
Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang
membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya
dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga
mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke
Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam
sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika
merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin
surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur
surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat
kabar Cahaya Sumatera. Perempuan yang wafat pada 17 Agustus 1972 itu
mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan
bagi kaum hawa yang diperjuangkannya.

Demikianlah Rohana Kudus menghabiskan 88 tahun umurnya dengan beragam
kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, jurnalistik, bisnis dan
bahkan politik. Kalau dicermati begitu banyak kiprah yang telah
diusung Rohana. Selama hidupnya ia menerima penghargaan sebagai
Wartawati Pertama Indonesia (1974), pada Hari Pers Nasional ke-3, 9
Februari 1987, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai
Perintis Pers Indonesia. Dan pada tahun 2008 pemerintah Indonesia
menganugerahkan Bintang Jasa Utama.
________________

Penutup
________________

Demikian infonya para kawan sekalian....!

Semoga dapat memperluas wawasan kita khsusnya di bidang Pers
Nasional.

Oya...!

Asal-usul tokoh pers (Kelahirang) ini dapat kita ketahui dari Daftar
Tokoh Pers Naional Wikipedia Bahasa Indonesia.

Hal ini juga telah ditulis oleh Kompasiana lewat link :
http://www.kompasiana.com/isra/6-dari-25-tokoh-pers-nasional-lahir-di-sumatera-barat_550dd278a33311b92dba7d2f
Pada tulisannya beliau mengatakan hanya 6 Tokoh Pers Kelahiran
Sumatra Barat, setelah penulis telusuri ternyata ada 8 orang.

Asumsi penulis pada penulisnya :

- Beliau mengira bahwa Bahwa Muctar Lubis tak mungkin lahir
  Padang Sumatra Barat, padahal bisa jasa.

- Beliau juga mungkin mengira tidak ada Tokoh Pers Wanita dari
  Sumatra Barat, padahal ada.

Para kawan dimanpun berada....!

Selamat malam...!

.....dan...

Musik Sumatra Barat untuk anda dari para generasi penerusnya
yang mungkin saja menjadi Tokoh Pers juga pada suatu masa.

Musik....!

____________________________________________________________________
Cat :

cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar