Selasa, 12 Januari 2016

Dari Tupai ke Bajing dan Loncat ke Kotok

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak infosekitar Tupai, Bajing dan Kotok)
_____________________________________________________________________














____________________

Kata Pengantar
____________________

"......jatuh juga" adalah salah satu pribahasa populer Nusantara yang
tak perlu bukti apakah Tupai pernah Jatuh atau tidak.

Para kawan dimana-pun berada...!

Apakah Cle'an pernah melihat tupai jatuh...?
Apa perbedaan tupai yang melompat dengan tupai yang jatuh...?
Apakah menurut anda dan menurut Tupai terjatuh dan Melompat itu
berbeda...? Bagaimana kalau sama...? Itu-la dulu seputar Tupai ini.

Seputar Bajing...!

Maka kita mengenal istilah :

- Bajing Ireng
- Bajing Loncat
- Baji Gur

...dan...

- Bajing-an.

Bagaimana pula dengan istilah Batak yang namanya kotok...!

"Kotok itu termasuk Tupai atau Bajing...?" atau "Termasuk
Bajing atau bajingan"

Para kawan sekalain...!

Berikut info sekitar "Tupai" dan "Bajing" dan "Kotok".

Selamat menyimak...!

__________________________________________

Sekilas info tentang Tupai
__________________________________________











* Pemahaman Umum

Tupai adalah segolongan mamalia kecil yang mirip, dan kerap dikelirukan,
dengan bajing. Secara ilmiah, tupai tidak sama dan jauh kekerabatannya
dari keluarga bajing.

Tupai adalah pemangsa serangga, dan dahulu dimasukkan ke dalam bangsa
insektivora (pemakan serangga) bersama-sama dengan cerurut, sedangkan
bajing dan bajing terbang termasuk bangsa Rodentia (hewan pengerat)
bersama-sama dengan tikus.

Dalam bahasa Inggris, tupai disebut treeshrew, yang arti harfiahnya
cerurut pohon (tree pohon, shrew cerurut) meskipun tidak semuanya
hidup di pohon (arboreal).


* Klasifikasi












Tupai memiliki otak yang relatif besar. Rasio besar otak berbanding besar
tubuh pada tupai adalah yang terbesar pada makhluk hidup, bahkan mengalahkan
manusia.

Tupai pernah dipisahkan dari cerurut dan tikus bulan yang tetap berada dalam
bangsa Insectivora, dan dipindahkan ke dalam bangsa Primata yang beranggotakan
kukang, singapuar, monyet dan kera. Pemindahan ini karena kemiripan internal
tupai dengan bangsa monyet itu, sehingga dianggap sebagai golongan primata awal.

Namun menurut pendapat terbaru berdasarkan kajian kekerabatan molekuler
(molecular phylogeny), kini tupai digolongkan tersendiri ke dalam bangsa
Scandentia; yang bersama-sama dengan kubung (bangsa Dermoptera) dan bangsa
Primata di atas, menyusun kelompok hewan yang disebut Euarchonta. Gambaran
cabang-cabang kekerabatan tersebut adalah sebagai berikut:

Euarchontoglires
    |--Glires
    |    |--hewan pengerat (Rodentia), termasuk bajing.
    |    |--kelinci dan terwelu (Lagomorpha)
    \--Euarchonta
         |--tupai (Scandentia)
         \--N.N.
              |--kubung (Dermoptera)
              \--N.N.
                   |--Plesiadapiformes (telah punah)
                   \--primata (Primata)

* Ragam jenis









Scandentia terdiri dari dua suku yakni Tupaiidae dan Ptilocercidae.
Pendapat lain (misalnya Corbet dan Hill, 1992) menyebutkan bahwa bangsa
ini terdiri dari suku tunggal Tupaiidae, dengan dua anak suku: Tupaiinae
dan Ptilocercinae. Ptilocercidae berisikan satu marga dan satu spesies saja,
yakni tupai ekor-sikat Ptilocercus lowii. Sedangkan Tupaiidae memiliki
4 marga dan 19 spesies.

Pulau Kalimantan (Borneo) kemungkinan merupakan pusat keragaman jenis-jenis
tupai, mengingat sebelas (12 jika Palawan dimasukkan) dari 20 spesies tupai
di dunia dijumpai di sana. Rincian jenis dan penyebarannya adalah sebagai
berikut:

ORDO SCANDENTIA
Suku Tupaiidae
Genus Anathana
Tupai madras (Anathana ellioti). Menyebar di anak benua India.
Genus Dendrogale
Tupai ekor-kecil indochina (Dendrogale murina) Kamboja, Vietnam selatan,
Thailand timur.
Tupai ekor-kecil (Dendrogale melanura). Terbatas di Sarawak bagian utara.
Genus Tupaia
Tupai indochina (Tupaia belangeri). Assam, Bangladesh, Burma, Tiongkok selatan,
Thailand, Indochina, Hainan.

Tupai mentawai (Tupaia chrysogaster). Kepulauan Mentawai.
Tupai bergaris (Tupaia dorsalis). Borneo.
Tupai akar (Tupaia glis). Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa dan Borneo.
Tupai ramping (Tupaia gracilis). Borneo, Karimata, Bangka dan Belitung.
Tupai kekes (Tupaia javanica). Sumatra, Nias, Jawa dan Bali.
Tupai kaki-panjang (Tupaia longipes). Sarawak.
Tupai kecil (Tupaia minor). Semenanjung Malaya, Sumatra, Borneo,
dan beberapa pulau seperti Singkep dan Pulau Laut.

Tupai kalamian (Tupaia moellendorffi). Pulau Calamian, Filipina.
Tupai gunung (Tupaia montana). Terbatas di pegunungan di Sarawak.
Tupai nikobar (Tupaia nicobarica). Terbatas di Kepulauan Nikobar.
Tupai palawan (Tupaia palawanensis). Terbatas di Palawan, Filipina.
Tupai tercat (Tupaia picta). Terbatas di Sarawak.
Tupai indah (Tupaia splendidula). Borneo bagian selatan, Karimata, Natuna,
dan Pulau Laut.
Tupai tanah (Tupaia tana). Sumatra dan Borneo.
Genus Urogale
Tupai mindanao (Urogale evereti). Terbatas di Mindanao dan pulau-pulau
sekitarnya, Filipina.
Suku Ptilocercidae
Genus Ptilocercus
Tupai ekor-sikat, Ptilocercus lowii. Semenanjung Malaya, Sumatra,
Borneo dan pulau-pulau di sekitarnya.

* Peribahasa

Tupai kerap dijadikan ibarat dalam Peribahasa Indonesia, meski yang dimaksudkan
di situ biasanya adalah bajing. Misalnya:

Sepandai-pandai tupai meloncat, jatuh juga.
(Bagai) Mumbang ditebuk tupai.

* Tupai 







Tupai kekes adalah sejenis mamalia kecil yang termasuk keluarga tupai
(suku Tupaiidae. Di daerah yang berbahasa Sunda, hewan ini disebut
kekes (kékés). Nama ilmiahnya Tupaia javanica (Horsfield, 1822), dan
nama dalam bahasa Inggris Javan treeshrew.


* Pemerian












Tupai yang bertubuh kecil ramping. Panjang kepala dan tubuh sekitar 15 cm
atau kurang, ekor sekitar 18 cm (120% kepala dan tubuh).

Warna tubuh bagian atas mirip bajing kelapa (Callosciurus notatus) di
Jawa Barat. Kuning-coklat abu-abu, dengan bintik-bintik bulu kehitaman.
Di sekeliling mata dan di bahu terdapat warna kuning keputihan. Sisi
perut dan di bawah kaki kekuningan sampai keputihan.

Ekor panjang dan melebar, namun tidak menebal, coklat kuning dengan
bintik-bintik kehitaman.

Kebiasaan dengan banyak pohon kecil. Tupai kekes aktif pada siang hari
(diurnal), terutama di waktu pagi.

Sepintas, perilakunya serupa dan sukar dibedakan dari bajing kelapa.
Apalagi kedua jenis hewan ini memiliki ukuran tubuh yang hampir sama
dan relung ekologis (ecological niche) yang bertumpang tindih.

Agak pemalu, tupai kekes senang mencari makanan di pohon-pohon kecil
atau perdu yang terbuka atau setengah terbuka. Makanannya terutama
aneka serangga dan buah-buahan.

Mungkin juga memakan hewan-hewan kecil lainnya. Sering pula mengunjungi
pohon-pohon yang mati, untuk mencari serangga di balik kulit kayunya
yang mengering.

* Jenis yang berkerabat dan penyebaran









Tupai kekes ( Celemes ) menyebar terbatas di Jawa, Bali, Sumatra barat
(Kerinci), dan Pulau Nias.

Dua jenis lain yang mirip dan tumpang tindih dalam penyebaran, adalah:

Tupai akar (Tupaia glis). Berukuran sedikit lebih besar, cenderung
lebih merah, dan banyak turun ke tanah atau menjelajahi kayu tumbang.
Menyebar luas mulai dari Semenanjung Malaya di selatan Tanah Genting
Kra, Sumatra, Jawa, Borneo dan Palawan di Filipina, serta di pulau-
pulau kecil di sekitarnya.

Tupai kecil (Tupaia minor). Berukuran sedikit lebih kecil, ekor kurus
dan panjang, dengan ujung yang lebih gelap dari warna tubuh. Menyebar
di Semenanjung Malaya (termasuk di bagian Thailand), Sumatra, Borneo
dan beberapa pulau kecil di sekitarnya.

* Jenis yang bermiripan

Bajing kelapa (Callosciurus notatus) memiliki kepala yang lebih membulat,
dan terdapat garis keputihan di sisi tubuh bagian bawah di antara kaki
depan dan belakang. Di tangan, bajing kelapa memiliki gigi seri yang
‘tonggos’ panjang; sedangkan gigi tupai kecil-kecil dan meruncing
serupa gigi cerurut.
__________________________________

Sekilas info tentang Bajing
__________________________________


















* Pemahaman Umum

Bajing merah (Sciurus vulgaris) di Hofgarten di Düsseldorf.

Bajing adalah nama umum bagi sekelompok mamalia pengerat dari suku Sciuridae.
Kata yang berpadanan dalam bahasa Inggris adalah squirrel. Dalam ilmu biologi,
bajing tidak sama dengan tupai.

Kelompok ini adalah kelompok besar mamalia kecil, yang di Indonesia mencakup
jenis-jenis jelarang, bajing terbang dan bajing pohon pada umumnya. Juga
jenis-jenis bajing tanah, anjing prairi dan chipmunk. Dua golongan terakhir
ini tidak didapati di Indonesia.

* Ragam jenis dan penyebaran

Keluarga (familia) bajing, Sciuridae, terdiri dari 5 anak suku,
51 genus dan 278 spesies.

Moyang Sciuridae (semua fosil)
Hesperopetes
Kherem
Lagrivea
Oligosciurus
Plesiosciurus
Prospermophilus
Sciurion
Similisciurus
Sinotamias
Vulcanisciurus
Subfamili Ratufinae
Ratufa, (jelarang)
Subfamili Sciurillinae
Sciurillus
Subfamili Sciurinae
Suku Sciurini
Microsciurus
Rheithrosciurus, bajing-tanah ekor-tegak
Sciurus
Syntheosciurus
Tamiasciurus, bajing merah Nearktik
Suku Pteromyini bajing terbang
Aeretes, bajing-terbang Cina
Aeromys, bajing-terbang Sunda
Belomys
Biswamoyopterus, bajing-terbang Namdapha
Eoglaucomys
Eupetaurus, bajing-terbang wol Himalaya
Glaucomys
Hylopetes, bajing-terbang pipi-merah
Iomys, bajing-terbang ekor-merah
Petaurillus, bajing-terbang kerdil
Petaurista, bajing-terbang raksasa
Petinomys, bajing-terbang Asia Tenggara
Pteromys
Pteromyscus, bajing-terbang berbedak
Trogopterus, bajing-terbang Asia
Subfamili Callosciurinae, Indomalaya
Callosciurus, bajing Indomalaya
Dremomys, bajing hidung-panjang
Exilisciurus, bajing kerdil Kalimantan
Funambulus, bajing bergaris India
Glyphotes, bajing-kerdil Kalimantan
Hyosciurus, bajing moncong-panjang Sulawesi
Lariscus, bajing-tanah bergaris
Menetes, bajing-tanah Indocina
Nannosciurus, bajing kerdil Sunda
Prosciurillus, bajing kerdil Sulawesi
Rubrisciurus, bajing besar Sulawesi
Sundasciurus, bajing kepulauan Sunda
Tamiops, bajing bergaris Indomalaya
Subfamili Xerinae
Suku Xerini
Atlantoxerus
Spermophilopsis
Xerus
Suku Protoxerini
Epixerus
Funisciurus
Heliosciurus
Myosciurus
Paraxerus
Protoxerus
Suku Marmotini
Ammospermophilus
Cynomys
Marmota
Sciurotamias, bajing bukit, Cina.
Spermophilus
Tamias, chipmunk

* Bajing dalam bahasa

Bajing dikenal sebagai salah satu hama kelapa dan buah-buahan lainnya,
terutama jenis bajing kelapa (Callosciurus notatus). Oleh sebab itu,
perkataan ‘bajing’ kerap digunakan sebagai julukan pencuri dan penjahat,
misalnya bajingan dan bajing loncat.

Kata yang terakhir juga merupakan judul lagu populer berbahasa Sunda,
Bajing Luncat, yang dibawakan oleh penyanyi Upit Sarimanah pada akhir
tahun ‘60an.

* Bajing Kelapa











Bajing kelapa adalah sejenis mamalia kecil yang termasuk keluarga
bajing (Sciuridae). Secara umum, di banyak tempat di Indonesia,
hewan ini dikenal dengan nama bajing (saja) atau tupai (saja) dan
juga tupai kelapa. Dua nama yang akhir ini secara ilmiah tidak
tepat (lihat pada artikel tupai).

Hewan ini dalam bahasa Inggris disebut Plantain squirrel. Sementara
nama ilmiahnya adalah Callosciurus notatus.


* Pemerian

Mamalia kecil arboreal dengan ekor seperti sikat. Panjang kepala
dan tubuh (KT) 150-225 mm, dan ekornya 160-210 mm. Beratnya
antara 150-280 gram.

Sisi atas tubuh kecoklatan, dengan bintik-bintik halus kehitaman
dan kekuningan. Di sisi samping tubuh agak ke bawah, di antara
tungkai depan dan belakang, terdapat setrip berwarna bungalan
(pucat kekuningan) dan hitam. Pada beberapa anak jenis, setrip
ini agak pudar dan tak begitu mudah teramati di lapangan.

Sisi bawah tubuh (perut) jingga atau kemerahan, terang atau agak
gelap. Kebanyakan anak jenis dideskripsikan dengan memperhatikan
perbedaan-perbedaan pada warna rambut di bagian ini, yang bervariasi
mulai dari abu-abu sedikit jingga sampai coklat berangan gelap.

Ekor coklat kekuningan berbelang-belang hitam. Terdapat variasi
dengan ujung ekor berwarna kemerahan.

* Kebiasaan dan penyebaran









Bajing kelapa aktif di siang hari (diurnal). Seperti namanya, bajing
ini sering ditemukan berkeliaran di cabang dan ranting pohon, atau
melompat di antara pelepah daun di kebun-kebun kelapa dan juga kebun-
kebun lainnya. Ia melubangi dan memakan buah kelapa, yang muda
maupun yang tua, dan menjadi hama kebun yang cukup serius. Di samping
itu, bajing kelapa juga memakan berbagai buah-buahan, pucuk,
pepagan, dan aneka serangga yang ditemuinya. Dilaporkan pula bahwa
bajing ini kadang-kadang merusak kulit ranting karet untuk menjilati
getahnya.

Hewan ini merupakan salah satu jenis mamalia liar yang paling mudah
terlihat di kebun pekarangan, kebun campuran (wanatani), hutan
sekunder, hutan kota dan taman, serta beberapa jenis hutan di dekat
pantai. Bajing kelapa terutama menyebar luas di dataran rendah hingga
wilayah perbukitan. Hewan yang tinggal berdekatan dengan pemukiman
dapat menjadi terbiasa dengan manusia dan berani mendekati rumah,
bahkan mengambil makanan yang disodorkan manusia.

Di pagi dan sore hari, kerap terdengar bunyinya yang tajam bergema,
“ ..chek.. chek-cek-cek-cek-cek.. ”; atau bunyi tunggal nyaring
“ .. chwit !”, yang dikeluarkannya sambil menggerak-gerakkan ekornya.
Sarangnya sering ditemukan di lubang-lubang kayu atau di antara pelepah
daun palma, berupa bola dari ranting dan serat tumbuhan berlapis-lapis.
Bjing kelapa melahirkan anak hingga empat ekor, dan dapat beranak
kapan saja sepanjang tahun.

Bajing kelapa didapati mulai dari Semenanjung Malaya (termasuk di
wilayah Thailand), Sumatra, Borneo, Jawa, Bali dan Lombok, serta
pulau-pulau di sekitarnya.

* Jenis yang serupa

Di lapangan, bajing kelapa sangat mirip dan sering terkelirukan
dengan beberapa jenis hewan berikut:

Bajing hitam (C. nigrovittatus), di Thailand, Semenajung Malaya,
Sumatra dan Jawa. Perut berwarna abu-abu.

Bajing telinga-totol (C. adamsi), terbatas di Borneo. Memiliki bercak
pucat di belakang telinganya, berukuran sedikit lebih kecil (KT hingga
sekitar 183 mm).

Bajing-kerdil perut-merah (Glyphotes simus), terbatas di Borneo.
Serupa C. adamsi, hanya berukuran jauh lebih kecil (KT hingga 144 mm).
Bajing kelabu (C. orestes), terbatas di Borneo. Bercak pucat di
belakang telinga dan perut berwarna abu-abu.

Tupai kekes (Tupaia javanica), di Sumatra dan Jawa. Bentuk telinga
serupa telinga orang; tanpa setrip bungalan-hitam di pinggir perut,
dan memiliki bercak bungalan di pundaknya.

_______________________________________________

Sekilas info tentang Kotok Tanah Batak
_______________________________________________

photo 2..............................



























* Jenis

- Maka jelas Kotok dalam istilah Batak termasuk Tupai atau Bajing.
- Kedua-duanya ada di Tanah Batak dengan kemungkinan populasi
  lebih banyak sejenis bajing
- Bajing ini cukup sering terlihat dipingir-pinggir kampung atau
  Huta di tanah batak

photo 3.........................

















































- Bahkan beberapa bajing tersebut berani masuk rumah dengan tanpa
  mengetuk dan masuknya-pun dari jendela dapur.

* Musuh Utama Paragat































- Paragat atau par-Bogor atau penderes aren paling tidak suka pada
  yang namnya kotok ini, karena...karena...dan...karena...Karena apanya.
  lupa pula saya.

- Itu yang namnya garigit atau alat penampung air aren cukup sering
  dilobangin para kawanan kotok ini, guna mereka minum airnya.

Karena itu...!




























- Kotok ini juga cukup sering di buru atau ditembak para masyarakat
  sekitar Huta.

* Bahasa sehari-hari

- Dalam bahasa sehari-hari masyarakat batak, kotok ini juga sering
  diibaratkan bagi seseorang yang cukup lihai dalam suatu perjalanan
  atau cukup pintar dalam memanjat suatu pohon.

Hanya sanya...!

Kesan yang ditimbulkannya, lebih banyak kearah ejekan dari pada ke
ke arah pujian. Karena itu banyak masyarakat yang diibaratkan seperti
kotok menjadi marah.

"Pintar kali abang manjat, ngak manjat aku, ngak manjat pohon abang
selalu bisa. Dimana abang belajar...?" Kata seorang adik-e pada
abang anda-nya. Dan siabang tidak marah karena dianggap-nya pujian.

Beda halnya dengan orang batak...!


































"Masongon kotok da ho ate, pistarko manaek. Kotok noma ho gonanda...!"
kata seorang kawan pada kawannya yang cukup sering ditafsir si kawan
sebagai penghinaan, karena beliau disamakan dengan kotok. Titik.
___________________

Penutup
___________________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

Kiranya kita memperoleh gambaran tentang Tupai dan Bajing ini, apakah
dari segi pesamaannya ataupun dari segi perbedaannya.

Dan jika dihubungkan dengan "Kotok" maka pendapat penulis "kotok" itu
adalah Bajing dan bukan Tupai karena Tupai biasanya ada diwilayah
yang banyak pohon kelapa-nya, sedangkan Kelapa di Tanah batak menurut
hemat penulis paling banyak 7 batang.

Sedangkan Bajing atau Bajingan, menurut sumber yang tak layak di
percaya mengatakan, "Bajing atau Bajingan ditanah Batak tambah Tahun
tambah banyak" Katanya. Dan salah satu Marga batak yang paling
populer ke-bajingannya adalah Marga Si....

Selamat malam...!
____________________________________________________________________
Cat :

http://amzn.to/1VW0ktU
cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork cara membuat link pada gambar
cara membuat link pada gambar cara cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar