Wednesday, September 19, 2012

" A-E-K "

#SELAMAT MALAM ANGKOLA#
(Melihat Aek sebagai sarana hidup, folosofi dan karya seni)
~Oleh Rahmat Parlindungan Siregar~ _____________________________________________________

Para kawan dimanapun berada...! Pada malam ini saya ingin
menurunkan status suatu pendapat pribadi tentang "AEK" atau "Air".

Tujuannya, disamping sebagai pengisi waktu senggang juga
sebagai pembelajaran pemahaman pribadi terhadap aek ini
dilihat dari macam persfektif kehidupan khususnya pada
tiga sisi tinjauan untuk  wilayah Angkola dan sekitarnya
yaitu :

1. Aek Sebagai Sarana vital kehidupan
2. Aek ni laut sebagai abstraksi masa anak-anak
3. Aek godang sebagai sarana bermain muda mudi
4. Aek sebagai filosofi
5. Aek Godang sebagai karya seni
____________________________________________

1. Aek Sebagai Sarana Kehidupan
____________________________________________

Sebagai sarana hidup, dimanapun kita berada aek
memang sesuatu yang sangat penting tak terkecuali
di Angkola yang wilayahnya pengunungan.

Untuk keperluan rumahtangga, bisa di bilang cukup
meskipun musim kemarau. Yang terkadang jadi masalah
adalah air untuk keperluan bersama, seperti untuk
sarana mandi dan air wudhu di mesjid-mesjid.
Terkadang terasa kurang, apalagi  disaat-saat
lebaran, dimana para perantau pulang kampung.

Yang sering menjadi masalah besar adalah air bagi
kepentingan pertanian. "Betapa sedihnya para petani
jika terjadi musim kemarau di Angkola. Apalagi pada
saat baru tanam padi. Kadang-kadang padinya tidak
tumbuh dan kalaupun tumbuh sungguh sangat menyedihkan"
Kata Siregar dalam salah satu statusnya di Kompas.

Terhadap hal ini, ingin rasanya mengulang kembali
apa yang sudah dibilang-bilangin oleh pemerintah,
lembaga kemasyarakatan, naposo nauli bulung dan
para mahasiswa, "Agar irigisi, bendungan ataupun
baronjong dibangun kembali di tempat-tempat yang
seharusnya. Dengan fokus pada bendungan yang telah
lupa au istilahnya, apanya...? Ughhh...mabulkas...
ya mabulkas astau mayup".

Okelah...! Semoga semua pihak mengerti akan hal ini,
akan pentingnya air bagi semua aspek kehidupan.
Botima.
________________________________________

2. Aek Laut dalam abstraksi masa anak-anak
________________________________________

Memahami Wilayah Batak secara umum, dan Angkola secara
khusus tentunya kita sepakat untuk disebut sebagai
wilayah pengunungan. Karena itu sejauh mana pun kita
memandang kalau bukan gunung yang terlihat, ya tor
stirif bukit. Kalaupun kita paksakan untuk melihat yang
lebih jauh, maka yang terlihat adalah langit.

Yah, gunung dan langit itulah yang dapat dilihat
halak hita sejauh manapun matanya memandang di huta
hatubuan sana kawan. Bagaimana dengan laut...?

Ehem...! Ketika penulis masih dakdanak/kecil pertanyaan
yang dapat dipastikan selalu terlontar dari kawan
sepermainan setiap melihat aek godang/sungai adalah
"Tudiama kehe ni aek godangon/kemana perginya air
sungai ini...?" dan kita selalu menjawab "Ke laut
begitupun anak lainya, semuanya menjawab kelaut
meskipun yang bertanya dan yang menjawab sama-sama
belum pernah melihat laut.

Para kawan...! Karena orang tua ataupun guru memberi
gambaran laut itu adalah suatu tempat yang sangat jauh
maka dibuatkanlah kapal-kapalan yang biasanya dari
daun bambu pinggir sungai untuk kemudian dihanyutkan
disungai tersebut agar sampai ke laut.

"Sakkkkkk...." Suara gemericik sungai dan seorang
kawan masa kecil berkata, "Mayup boho anggia kapal...!
paitte au da anggia di laut" katanya dalam suatu
gambaran abstraksisi laut. Ah...! suatu masa yang
indah dan tak mungkin terlupa.
____________________________________________

3. Aek godang Sebagai Sarana bermain muda-mudi
____________________________________________

Para kawan...! Jika dibanding secara umum jumlah sarana
bermain muda-mudi atau naposo nauli bulung ni huta
sekarang ini dengan masa yang telah berlalu tentulah
ada perbedaan meskipun tidak banyak.

Orang sekarang, bisa jadi "Aek Godang" bukan lagi sebagai
sara bermain, karena telah tergantikan oleh" Tangga marda
lan, sopo mangambur dan itik manggas yang sebagian orang
menyebutnya itik mamio atau bebek mamio atau bebek mio.

Para kawan...! Teringat tentang aek sebagai tempat bermain
semasa jadi naposo nauli bulung ni huta tempoe doloe, saya
teringat juga pada "Aek Sagala dan aek siguti".

Kedua tempat ini memang sudah pernah saya gunakan bersama
kawan-kawan sebagai tempat marmayam atau mangan-mangan.
Airnya cukup jernih dan pemandangan sekelingnyapun cukup
menyejukkan mata.

Aek godang yang paling berkesan bagi saya sebagai tempat
bermain adalah aek godang yang kalau kita ke arah Simangam
bat, aek nya ditemukan sehabis bunga bondar 10.

Aeknya bukan saja jernih tapi pemandangannya cukup memberi
kesan dalam ingatan sedangkan nama pemandangannya ... ah...
malupa muse au. Apanya.....egmmmm...lupa kawan. Tapi ada
yang bilang pemandangan/sejenis tor yang menjulang tinggi.
dan tor ini  katanya merupakan tangga kita kalu mau
kelangit.

Ah ...indahnya suatu masa, masa dimana naposo nauli bulung
ta di habiskan marmayam di aek godang.
___________________________

4. Aek sebagai filosofi
___________________________

"Aek godang aek ni laut, dosnirohadi sibaen nasaut"
ini salah satu yang saya ingat kawan mengenai aek
sebagai filosofi.

"Dos niroha" dipikiran saya sama saja dengan "paposmaroha"
dan paposmaroha, bagaimanapun akan si nonim pula dengan
"Sibaen nasaut" Artinya attong, hanya dengan mardosniroha/
marpaposnirohalah kita makanya tujuan kita tercapai.

"Ndang loja aek paihut-ihut rura" adalah pilosofi keduanya.
atau "Air tidak akan letih menuruni lembah" terjemahan
leksikalnya.

Makna  konotatifnya dipikiran saya kawan, jangalah bosan
untuk terus menerus menasehati anak-anak kita jika salah.

Lainnya ada juga umpasa :

"Aek sihurukhuruk tusila nian aek toba. Ndag adongbe
namarungut-ungut, masude hita marlas niroha.

"Aek dalan ni solu sian tur dalan ni hoda
gogo mambahen butong, tua sibahen mamora

Aek sipangolu dompak tu aek sigaol-gaol
leleng ma hamu mangolu Debata ma manghaol-haol.

Aek sihoruhoru di toru ni dolok Martimbang. Rap manimbung
ma hamu ia tu toru, rap mangangkat ia tu ginjang

Bona ni aek puli di dolok sitapongan
Sai tubu ma dihamu angka na uli,
jala sai dor ma nang pangomoan

___________________________

5. Aek Sebagai  Karya Seni
___________________________

"Horas pemirsa, behado kabarna...! Senang dan bahagia
sekali saya bisa ikut di dalam kesenian batak ini,
yang tentunya merupakan kebudayaan bangsa kita" Kata
Andi mariam matalata dalam suatu acara yang mungkin
pada masa lampau hanya dapat didengar oleh pemirsanya
lewat radio diwilayah Angkola.

Selanjutnya dilanjutkan, si ito Andi Mariam Matalata
pemilik suara lembut dari Sulawesi ini,  dengan
berucap:

"Untuk itu sengaja saya pilihkan sebuah lagu yang
sangat manis, tapi mungkin sudah lama tidak anda dengar,
"Aek Sarulla"

Para kawan pencinta seni musik Tapanuli...!

Pada saat saya dengar lagu ini, pikiran saya melayang
pada suatu masa, dimana seorang gadis Angkola yang
bisa saja boru Hutasuhut, sedangan sendirian mendengar
radio dikamarnya, sementara photo sang kekasih sedang
diselipkannya dibawah bantalnya.

Sedangkan mata indahnya sedang melihat langi-langit
kamar untuk kemudian menerawangkan pikirannya ke suatu
tempat yang samar tapi indah.

Pada saat penerawangan ini terjadi, radio disamping
tempat tertidurnya bersyair lewat lagu :

Aek Sarulla.... tu dia ho lao....
Tung ganjang ....ma antong dalan mi....
Sai paboa ....majolo tu au.....
Ni idam ditongan dalan i....

Para kawan...! Seperti saya uraikan  diatas, hampir
semua halak hitai meskipun tidak pernah melihat laut
pada masa lampau, tapi semua tahu bahwa aek godang itu
akan berakhir dilaut.

Laut adalah sebuah abstrasi jawaban, terhadap apa yang
dipertanyakan oleh sang pencipta lagu Aek Sarulla.
Seperti abstraknya suatu kerinduan dari seorang gadis
halak hita yang pacarnya merantau kesuatu tempat.

Sang gadis tidak tahu persis apa nama tempat perantauan
sang kekasih, begitupun pekerjaannya. Yang dia tahu, dia
rindu dan dia ingin mendengar cerita yang indah dari
sang kekasih, cerita tentang kesuksesan cerita tentang
keberhasilan

"Boan barita sian nadao....Patuduhon hinaulimi....
Sai paboa husiphon tu au...Aek Sarulla tudia ho lao..."

kata suara hati sang gadis kawan lewat syair lagunya
ciptaan S. Dis ini.

Para kawan...!

Apakah sang kekasih yang dirindukannya pulang, memang
pulang untuk menemuinya dan membawa berita keberhasilan
atau kesuksesan hingga cintanya menjadi tidak bertepuk
sebelah tangan...? Ah....sang pencipta lagu tidak
memberi gambaran kawan, tidak manyairkannya lagi.

____________________________________________________

Kesimpulan, Saran dan Sedikit pendapat penulis pada
aek sebagai karya seni
____________________________________________________

Melihat kenyataan hidup muda-mudi ni halak hita, saya
yakin cukup banyak yang pada saat tinggal dihuta men
janjikan sesuatu pada pacarnya yang juga halak hita
akan menemuinya kelak jika kehidupannya diperantauan
sudah lebihlayak.

Dan hal ini bukan tidak mungkin, telah menimbulkan harapan
bagi sebagian anak gadis untuk suatu saat memang benar-
benar datang menemuinya atau menjempunya untuk kemudian
memutuskan membentuk rumah tangga yang bahagia.

Kenyataan dilapangan, cukup banyak halak hitai  baik
yang merasa berhasil maupun tidak dengan mudahnya
melupakan janji tersebut tanpa perduli perasaan sang
mantan kekasihnya dikampung yang telah pernah dijanjikan.

Para perantau itu, dengan mudahnya mereka memilih boru
sileban (boru bukan halak hita) sebagai pasangan
hidupnya untuk kemudian mau tidak mau terpaksa juga
harus pulang kampung bersama anak atau istrinya
untuk kemudian ketemu lagi pada mantan kekasih yang
justru membuat sakit hati untuk yang ke sekian kalinya.

Para kawan...! Khusunya naposo bulung yang ingin
merobah kehidupannya lewat merantau. Jika saja boleh
saya mewakili suara gadis boru halak hita yang sekarang
ini ada di huta. Saya ingin berkata, "Kalau mau
merantau merantaulah, dan jangan janjikan akan menjem
put sang kekasih/pacar sangape gandak, karena
sungguh tak dapat ditebak kawan bagamana nasib dalam
dunia parjalangan ini.

"Dengan tidak menjanjikan, berarti anda telah menghin
dari rasa sakit hati boru halak hita. Dan memasrahkan
campur tangan tuhan pada perjalanan jodoh anda"

Para kawan...! Boru halak hita yang dihuta itu, bisa
jadi anggi niba, kakak niba iboto niba sangape boru
tulang niba yang seharusnya perasaannya kita jaga
bersama.

Para kawan...selamat malam....!
PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

No comments:

Post a Comment