Kamis, 16 Mei 2013

"HUBUNGAN SUKU KLUET DAN SUKU BATAK"

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menambah pengetahuan mengenai suku Kluet
dalam hubungannyadengan suku Batak)
Oleh : Rahmat Parlindungan dan Wendy Hutahean
____________________________________________________________



Para kawan...!

Seperti kita ketahui, salah satu program yang menangani Upload
Video dalam dunia maya ini adalah "Youttube". Dan dalam program
youtube kita mengenal yang namanya judul video, deskripsi, jempol
sebagai tanda rasa suka, jumlah tayangan, comentar dan langganan.

Khusus mengenai "Langganan" maka penulispun berlanganan upload
video pada yang namanya "Wendy Hutahean". Sampai saat ini beliau
telah mengupload video sebanyak 330.

Pada bulan ini beliau mengupload beberapa video dengan mempergunakan
judul "Klute". Pada saat menonton tayangan musiknya ada beberapa
istilah saya dengar sama dengan bahasa Batak. Dan persamaan ini
menyebabkan penulis untuk tahu lebih banyak mengenai "Klute"

Dan setelah mempelajarinya  maka penulispun menyusun tulisan ini
dengan mengatas namakan penulis sendiri dan Wendy Hutahean sebagai
pendukung tulisannya lewat video.

Berikut video pembuka tulisan :


Semoga memberi manfaat dan selamat menyimak :
________________________

Sekilas Mengenai Kluet
________________________

* Hal Sejarah :

Pada situs Serambi Indonesia di katakan (Linknya)  :

 Salah Satu Wilayah di Kluet
Sejauh ini, dalam sejarah yang berkembang
di masyarakat pesisir laut selatan disebutkan
bahwa orang-orang Bugis masuk ke daratan
Kluet, Aceh Selatan. Namun, hal ini tidak
banyak diketahui oleh orang-orang Aceh
ketika itu. Diperkirakan pada abat ke 17-18,
orang-orang Bugis masuk ke wilayah Kluet
melewati muara sungai
Asahan atau Gampông Pasie Kuala
Asahan (sekarang sungai tersebut
menjadi perbatasan antara Kemukiman
Asahan dengan Kemukiman Kuala
Bak U, Kecamatan Kluet Utara,
Aceh Selatan).
.................................

Jejak orang Bugis ini terdapat pada suatu tempat yang sekarang
disebut dengan Gampong Suak Bugeh (Kampung Bugis). Mereka menetap
dan beranak pinak di sana. Selama berada di daerah itu, mereka
bertani. Mereka menanam apa saja demi bertahan hidup, mulai dari
kelapa, nangka, padi, lada, dan sebagainya. Menurut Usman Adam,
peutuwa Gampông Suak Bugeh yang menceritakan hal ini, lada
merupakan tanaman yang paling dominan ditanam orang Bugis ketika
itu.

Sedangkan pada situs Kebudayaan Indonesia (Linknya)   dikatakan :

Kerajaan Laut Bangko sangat erat kaitannya dengan kajian sejarah
Kluet (Bukhari RA, dkk., 2008:11) seperti dilansir dmilano.wordpress.
com. Di Taman Nasional Gunung Leuseur, dahulu Lau Bangko yang dulunya
merupakan sebuah danau mini. Danau ini terletak di bagian barat,
yang berbatasan dengan Kecamatan Bakongan dan Kecamatan Kluet
Timur, saat ini.

Kerajaan Laut Bangko merupakan kerajaan yang megah pada zaman dahulu
kala. Raja yang terakhir yang sempat memimpin kerajaan tersebut,
menurut Bukhari, dkk (2008:12) bernama Malinda dengan permaisuri
Rindi. Namun akhirnya kerajaan ini tenggelam saat air bah melanda.

*Hal Wilayah :

Suku Kluet adalah sebuah suku yang
mendiami beberapa kecamatan di
kabupaten Aceh Selatan, yaitu
kecamatan Kluet Utara, Kluet Selatan,
Kluet Tengah, dan Kluet Timur.

* Hal Mata Pencaharian

Mata pencahariannya umumnya
adalah bertani, berladang dan berkebun.

*Hal Adat dan Budaya

Situs http://dmilano.wordpress.com/2011/03/27/suku-kluwat-dan-sejarahnya/
mengatakan :

Sebenarnya, Kluet memiliki adat dan budaya yang heterogen. Hal ini
karena wilayah tersebut didiami tiga suku: Kluwat, Aceh, dan Aneuk
Jamee. Tentu saja ini kekayaan tersendiri bagi masyarakat Kluet
jika mereka mau bersatu-padu.

Namun yang saya dengar dari masyarakat ternyata keberagaman kebudayaan
ini pula yang menyebabkan terjadi sedikit perpecahan di antara
masyarakat Kluet. Mereka yang berbahasa ibu bahasa Aceh seakan tidak
mau disebut sebagai orang kluwat. Sebaliknya, mereka yang berbahasa
ibu bahasa kluwat ada yang enggan disebut sebagai bagian dari suku
Aceh. Inilah yang terjadi saat ini. Tidak seperti zaman dahulu, semuanya
bersatu dalam bingkai kerajaan kecil, Chik Kilat Fajar.

Terlepas dari perpecahan internal itu, Kluet memiliki sejumlah adat
dan budaya yang masih lestari. Adat dan budaya itu bertunas dan tumbuh
dalam kearifan masyarakatnya secara umum. Adat istiadat tersebut terus
kontinyu turun temurun. Hal ini dapat dilihat pada prosesi perkawinan,
sunat rasul, kematian, pengobatan, dan sebagainya. Bahkan, karena
mata pencaharian masyarakat Kluet secara umum adalah bertani,
adat turun ke sawah pun dimiliki masyarakat di sana ( suku kluwat )
yang mirip pula seperti adat meublang dalam kearifan Aceh secara luas.


* Hal Tari (Tari Rampo)

Tari Rampo
Aceh Selatan sering juga disebut dengan
Kota Pala atau Negeri Pala,
dipengaruhi oleh berbagai unsur
adat budaya, seperti adat Aceh,
adat Kluet dan adat Anak Jamee.

Ketiga unsur adat budaya inilah yang
telah membentuk dan mempengaruhi
daur kehidupan masyarakat
di pesisir Aceh bahagian
selatan ini.

Rampo Selatan adalah sebuah tarian yang menggambarkan
kemajemukan kesenian di dalamnya.

Tari ini disatukan dalam bentuk penampilannya, meskipun gerak
kelompok penari yang satu dengan yang lainnya berbeda latar
belakang sejarah serta nilai budaya yang dimiliki oleh etnisnya,
tetapi dalam satu hentakan irama lagu kita harus bersatu. ***

Demikian kutipan dari situs SENI DAN BUDAYA Dinas Kebudayaan
Pariwisata Pemuda dan Olahraga Aceh Selatan dengan alamat
http://www.disbudparpora.acehselatankab.go.id/detailsenibudaya.php?no_tarian=519

_________________________________________

Hubungan Suku Kluet dengan Suku Batak
_________________________________________

Sedang situs Kebudayaan Indonesia mengatakan :

Para penduduk Kerajaan Laut Bangko kemudian mencari tempat tinggal
baru. Mereka menyebar ke Tanah Batak, dan sebagian ke Singkil.
Namun, sebagian ada yang masih tetap pada lokasi semula dengan
mencari dataran tinggi yang baru. Dari sini kemudian timbul
pendapat terjadinya kemiripan bahasa antara bahasa Kluwat
dengan bahasa Batak, bahasa Alas, bahasa Karo, dan bahasa
Singkil.

Adapun pada wikipedia dikatakan :

Suku Kluet mempergunakan bahasa Kluet yang termasuk dalam
kelompok bahasa-bahasa Batak. Bahasa Kluet terbagi atas 3
dialek yaitu Dialek Paya Dapur, Manggamat dan Lawe Sawah.

Bahasa Batak Alas-Kluet adalah sebuah bahasa yang dituturkan
di timurlaut Tapaktuan dan di sekitar Kutacane, Aceh. Pada
tahun 2000, jumlah penutur bahasa ini mencapai 195.000 jiwa.
Banyak orang menolak label "Batak" karena alasan konotasi
budayanya. Sementara itu, tidak diketahui pasti apakah
bahasa ini merupakan bahasa tunggal atau bukan.

Bahasa ini memiliki 3 dialek: dialek Alas, dialek Kluet,
dan dialek Singkil atau Kade-Kade. Dialek Alas mungkin
serupa dengan Bahasa Batak Karo, sementara dialek Kluet
dan Singkil cenderung dekat dengan Bahasa Pakpak.

Berikut video pendukungnya kawan. Kata anngun dan ende
akan ditemukan, sedangkan kata jabu dan lainnya akan
ditemukan pada video yang lainnya :

_________________________________

Kluet Tenggelan Dalam Sejarah
________________________________

Herman Rn, salah seorang putra Kluet lewat situs
http://yasirmaster.blogspot.com/2011/11/kluet-tenggelam-dalam-sejarah.html
mengatakan :

Gubernur Aceh Zaini Abdullah
mengunjungi suku kluet
Aceh Selatan dengan ibukota Tapaktuan
merupakan salah satu kota
sejarah di Provinsi Aceh. Banyak
situs budaya yang layak dijadikan
objek wisata islami di daerah itu.
Sayangnya, semua terkesan
‘tenggelam’ atau hilang seiring waktu.

Tak hanya objek wisata, sejumlah
suku, bahasa, termasuk wilayah
pun terkesan dilupakan. Sebut saja
di antaranya suku dan wilayah
Kluet. Suku Kluet merupakan satu di antara dua suku lainnya—Aceh
dan Aneuk Jamee—yang hidup di wilayah Aceh Selatan. Suku ini
umumnya terdapat di wilayah Kluet Utara, Kluet Timur,
Kluet Tengah, dan Kluet Selatan.

Menurut hemat penulis, dari hasil memperhatikan macam video youtube
Wendy Hutahean suku kluet itu masih sangat tertinggal dibanding
suku-suku lainnya, baik yang di Aceh maupun Sumatra Utara.

Dan untuk mengejar ketertinggalan ini,  khsusnya di bidang sumber daya
manusia, mun gkin bauk pula menyimak video nasehat ini khusunya
bagi para mudamudi suku kluet. Musik ... !

Hai anak bujang ngon ngudo-ngudo
kita sebangso dan seagamo
ketika aku beri nasehat
ulangmo kito lalei ngom resam
_________

Penutup
_________

Kesimpulan :

1. Suku Kluet jelas merupakan salah satu suku di Nusantara ini.

2. Keberadaan mereka masuk dalam wilayah Propinsi Aceh bagian
   Selatan yang dengan sendirinya dekat pada Sumatra Utara.

3. Menurut literatur Sejarah, suku ini berasal dari kerajaan Laut Bangko
dengan tetap tidak melupakan sejarah yang mengatakan ada juga yang
berasal dari Bugis Sulawesi. (Ini bisa dihubungkan juga dengan sejarah
marga Lubis dalam hubungannya dengan Namora Pande Bosi).

4. Hubungan mereka dekat dengan suku batak, satu disebabkan dengan
penyebaran penduduknya, satu lagi disebabkan persamaan bahasa dalam
beberapa suku kata (Termasuk salah satu pengelompokan Bahasa dalam
suku Batak)

Saran :

Kiranya pemerintah yang menaungi (AceH) suku Kluet ini kedepannya lebih
memperhatikan, khususnya dibidang pembangunan wilayah / jalan sehingga
roda perekonomian suku kluet ini lebih lancar.

Anak Kluet berangkat merantau
Khusus bagi para putra daerahnya,
yang mungkin sama juga dengan putra
daerah lainnya di wilayah Batak
atau Aceh, jika memilih perobahan hidup
denganan merantau, maka merantaulah
kawan. Kiranya segala keinginan dan
cita-cita kalian terkabul oleh Allah Swt,
sehinnga sedikit banyak dapat
pula nian hasil dari perantauan itu
untuk membangun kampungnya.
Semoga...!

Salam hormat putra Angkola pada kalian dan Horas Suku Kluet...!

____________________________________________________________
Cat :
*Image gambar dari macam tayangan video dan blog
*Sampai 26 Juni 2013 dilihat 40 kali.
br />
PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

2 komentar:

  1. Horas! Bayo Enggan... Rahmat Parlindungan Siregar...
    Saya sangat senang membaca tulisan di blog anda ini baya. Sangat kritis dan santun...
    Memang saya sangat tertarik mempelajari budaya dan saya perhatikan budaya suku Kluet (Keluwat) ini sangat dekat dengan budaya Batak, juga Angkola. Bisa dilihat dari bahasanya seperti Jabu, Lungun, Anggi, dll.
    Saya juga suka mendengarkan lagu-lagu Angkola seperti Kijom, Onang, Ungut, dll.
    Bolehlah kiranya saudara menulis tentang Wilayah Budaya Angkola dan Bahasanya mencakup mana saja batasnya. Karena setahu saya, wilayah Kabupaten Padang Lawas Utara juga berbahasa Angkola. Demikian pula wilayah Pahae Jae, Simangumban dan Purbatua di Kabupaten Tapanuli Utara juga berbahasa Angkola. Sama halnya penduduk Lumut, Badiri, Sibabangun, Sukabangun dan Pinangsori di Kabupaten Tapanuli Tengah.
    Ditunggu ya ulasannya...
    Horas... Horas... Horas...

    BalasHapus
  2. Horas juga lae Wendy Hutahean...! Trim's comentarnya. Dalam ajaran agama, "Tuhan menciptakan manusia ini bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal".
    Dalam prakteknya saya merasa, "Masing-masing orang merasa sukunyalah yang terbaik". Dan
    saya pikir begitulah seharusnya.

    Tapi ini tidak berarti, beliau tidak mengakui suku lainnya sebagai suku yang baik juga. Ia tetap mengakuinya. Dan hal ini sangat terasa, pada saat diterimanya satu atau dua bahasa / istilah dari suku lainnya untuk masuk dalam bahasa sukunya. Dan akibatnya, jalinan komunikasi / silaturrahmi antara suku itu menjadi lebih dekat. Tak terkecuali suku kluet itu Wendy.

    Mengenai sejauh mana batas penggunaan bahasa dengan batas wilayahnya, menurut hemat saya agak susah membatasi Wendy apa lagi di jaman sekarang ini. Hahahaha...orang Angkola juga banyak yang pakai bahasa Melayu, dan bahasa angkola/Mandailing bukan tidak mungkin pula dipakai orang melayu juga di wilayah Melayu seperti Kota Pinang, Batu Bara, dll.

    BalasHapus