Jumat, 21 Februari 2014

Gaja Luppat : Mencari Naposo Bulung Marga Siregar utuk jadi korban pada upacara gajah Lumpat di Sipirok


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak kutipan info sekitar Upacara Gajah Lompat Pada Marga Siregar
Salak di Luat Sipirok sekaligus memberikan pendapat)
___________________________________________________________





















___________________

Pengantar Penulis
___________________

Berikut Pengantar kutipan yang memang penulis kutif pada pengantar
ini :

* Pengantar

Dalam kehidupan masyarakat tradisional, upacara dengan segala bentuk
dan cara-caranya memainkan peran vital dalam menjaga keutuhan dan
keharmonisan. Mengapa? Menurut Rene Girard, seorang antropolog
terkemuka dalam 30 tahun terakhir ini, upacara menjadi dasar bagi
terbentuk dan perkembangan masyarakat dengan segala nilai-nilainya.

Di dalam upacara, segala kekerasan yang mengakibatkan perpecahan 
dalam masyarakat dapat disalurkan kepada korban baik itu binatang 
maupun manusia. Dengan disalurkan, maka perpecahan dan pertikaian 
(realitas kekerasan) dapat ditiadakan sehingga perdamaian dan 
keharmonisan tercipta kembali. 

Akan tetapi, perdamaian yang tercipta itu rapuh, maka upacara tersebut
mesti dilakukan secara berkala. Inilah yang disebut Girrard sebagai
mekanisme Kambing Hitam.

Dengan memahami arti penting upacara secara demikian, penulis hendak
membahas Upacara Gajah Lompat yang diadakan oleh marga Siregar/Salak.

Karena itu, sebagai rujukannya, penulis menggunakan sumber dari buku
Tuanku Rao. Alasan utama adalah karena hanya di dalam buku ini penjelasan
secara rinci tentang upacara tersebut dapat ditemukan.

Akan tetapi, penggunaan sumber dari buku-buku lain tidak disingkirkan.
Akhirnya, sebagai penutup tulisan ini akan diperlihatkan arti penting
upacara ini bagi kebudayaan Indonesia.

* Kelanjutan pengantar penulis

Silakan diperlihat...!

Penulis blog ini juga Siregar Salak dari Sipirok dan ingin tahu arti
pentingnya bagi kebudayaan Indonesia.

Ehem...!

Selanjutnya postingan ini berisi kutipan sampai pada sub Judul
"Tanggapan penulis pada uraian kutipan"

Selamat menyimak...!
___________________

Kebudayaan Batak
___________________

Bagian ini pertama-tama akan dibuka dengan uraian asal-usul orang-orang
Batak. Lantas dilanjutkan dengan uraian singkat tentang sistem keagamaan
(religi) dan tata pemerintahannya yang dibahas satu per satu.

* Asal-usul Orang-orang Batak

Dari sudut etnologi, orang-orang Batak termasuk dalam ras proto-Melayu.
Sebelum memasuki pulau Sumatera, suku bangsa Batak menempati wilayah 
sekitar pegunungan Bukit Barisan di perbatasan Burma/Siam (Thailand) 
selama kurang lebih 3000 tahun (kira-kira 100 generasi).

Di wilayah ini mereka tinggal bersama dengan suku bangsa-suku bangsa
lainnya. Ciri umum suku bangsa ini adalah tinggal di tempat terpencil.
Artinya, menolak hubungan dengan dunia luar, terutama dengan orang-orang
dari pantai laut yang kerap membawa agama baru. Akan tetapi, kira-kira
tahun 1000 SM, suku bangsa Mongol dari utara mendesak ke arah selatan.

Desakan ini mengakibatkan suku bangsa Palae Mongoloid yang menempati
wilayah utara dari suku bangsa proto-Melayu mendesak suku bangsa ini.
Suku bangsa proto-Melayu terdesak sampai ke tepi laut, tepatnya sekitar
Teluk Martaban.

Di pemukiman yang baru ini, sedikit demi sedikit mereka dipengaruhi oleh
kebudayaan Hindu. Kontak dengan kebudayaan Hindu mengakibatkan suku 
bangsa proto-Melayu mengambil istilah-istilah budaya Hindu. Istilah-
istilah yang masuk ke dalam kebudayaan Batak sendiri antara lain seperti 
Debata, Singa, Batara, Mangaradja, dan lain-lain.

Karena berbagai alasan, mereka akhirnya menyeberangi lautan untuk
menemukan tempat pemukiman baru. Suku bangsa Batak yang ikut menyeberang
akhirnya sampat di pantai Barat Pulau Andalas (Pulau Sumatera) melalui 3
gelombang.

Dari gelombang ketiga inilah (kurang lebih 1300 Masehi, suku bangsa Batak
yang kita kenal sekarang ini, menduduki wilayah antara Aceh dan Minangkabau,
antara Samudera Hindia dan Selat Malaka. Orang-orang Batak ini kemudian 
mendirikan pemukimannya yang pertama di tepi Danau Toba, di kaki Gunung 
Pusuk Buhit dengan nama Siandjur Sagala Limbong Mulana. 
Demikianlah asal-usul orang-orang Batak.

______________________________

Sistem Keagamaan (Religi)
______________________________

Sistem keagamaan orang-orang Batak umumnya bertalian dengan asal-usul
mereka sendiri. Kesaksian mengenai hal ini dapat dilihat dalam pustaha
(buku kuno yang berisi silsilah orang-orang Batak dan yang berawal dari
dunia mahkluk halus). Mengapa demikian? Mereka yakin bahwa mereka 
(orang-orang Batak) merupakan keturunan dewa (descendants of god). 

Raja pertama, Si Radja Batak dikatakan  merupakan keturunan dari Puteri
Tapidonda yang turun dari Kayangan. Puteri ini disuruh oleh Debata Mulajadi
Nabulon, Dewa Tertinggi, untuk turun ke dunia tepat di Gunung Pusuk Buhit
supaya menjadi Ibu Suri dari suku bangsa Batak. Dari sini dapat dilihat
bahwa orang-orang Batak memiliki konsep mengenai adanya dewa-dewa yang
memerintah atas manusia.

Menurut keyakinan mereka, ada 5 dewata. Dewa pertama adalah Debata
Mulajadi Nabulon yang dipandang sebagai Pencipta. Selanjutnya dewa
tritunggal, yakni Batara Guru yang dipandang sebagai penjaga keadilan
dan tata tertib (hakim yang adil), Debata Sori (Soripada) yang dipandang
sebagai ahli pidato, dan Balabulan (Mangalabulan) yang dipandang sebagai
dewa yang kerap menjatuhkan manusia. Dewa  yang terakhir ini merupakan
dewa yang paling ditakuti. Dewa terakhir adalah Debata Asiasi yang
dilihat sebagai penyeimbang di antara ketiga dewa tritunggal tersebut.

Ketiga dewa tritungal ini (mungkin pengaruh gagasan dari agama Hindu
diciptakan oleh Debata Mulajadi Nabulon. Ketiga dewata tersebut
dipandang memiliki perwujudan manusia. Mereka merupakan nenek moyang
umat manusia. Dari keturunan mereka, yang perannya sangat penting adalah
Sideak Parujar, putri dari Batara Guru, yang menyebabkan terjadinya dunia
ini.

Di samping kepercayaan akan dewa-dewa ini, orang-orang Batak juga
meyakini adanya Naga Padoha (Raja Padoha), yaitu seekor naga. Asal-usulnya
tidak jelas, mungkin sudah ada sejak semula tanpa dijadikan oleh Mulajadi.
Di atas kepala naga ini ditambahkan 3 dewata, yaitu: Boru Saning Naga,
Boraspati ni Tano dan Pane na Bolon. Ketiga dewa ini menjelmakan diri
ke dalam kekuatan dan gejala-gejala alam.

Berkaitan dengan kepercayaan akan roh dan jiwa, orang-orang Batak
mengenal 3 konsep pemikiran. Pertama, Tondi yakni konsep mengenai
jiwa atau roh orang itu sendiri yang diterima seseorang pada waktu ia
masih di rahim ibunya dan menyertai dia selama perjalanan hidup ini.

Jika Tondi meninggalkan badan untuk sementara, orang itu sakit, jika
seterusnya orang itu mati. Kedua, Sahala yakni konsep mengenai jiwa
atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Bedanya dengan Tondi adalah
bahwa tidak semua orang mempunyai sahala dan jika mempunyai jumlah dan
kwalitasnya juga berbeda-beda.

Dalam pengertian sekarang Sahala adalah kata lain dari kewibaan,
keagungan, kemuliaan dan kedaulatan. Ketiga, Begu yakni roh orang
yang sudah mati, roh-roh alam dan roh-roh yang kerjanya menyusahkan
orang.

Berkaitan dengan dunia tempat dewa-dewa dan manusia, orang-orang Batak
membedakan tiga macam tempat yang disebut dengan banua. Pertama, Banua
Ginjang yang merupakan tempatnya para dewa. Banua ini dilambangkan
dengan warna putih. Kedua, Banua Tonga yang merupakan tempat tinggal
manusia dan dilambangkan dengan warna merah (warna darah). Ketiga,
Banua Toru yang merupakan tempat kegelapan abadi dan dilambangkan
dengan warna hitam. Ketiga warna ini merupakan warna suci dan digunakan
dalam ritual-ritual upacara juga sebagai warna rumah.

Secara umum, keyakinan religius orang-orang Batak merupakan campuran
dari kepercayaan keagamaan kepada Dewata, pemujaan yang bersifat animisme
terhadap roh orang yang sudah meninggal dan dinamisme. Dalam penerapannya,
batas-batas dari unsur-unsur tersebut tidak tampak jelas baik berlangsung
dalam kalangan orang biasa, pemimpin ataupun dalam praktik religius-magis.

___________________

Tata Pemerintahan
___________________

Bentuk pemerintahan suku bangsa Batak bergandengan dengan sistem kepercayaan
mereka sendiri. Sebagai keturunan dewa, orang-orang Batak di Sianjur Sagala
Limbong Mulana mengambil bentuk teokrasi. Artinya, kepala pemerintahan
sekaligus juga berperan sebagai kepala agama dan disebut sebagai Raja-Imam.

Raja-Imam memakai gelar, Halinu Ni Debata Mulajadi Nabolon yang artinya 
para dewa bersinar di atas bumi. Raja-Imam orang Batak yang pertama adalah
Si Radja Batak yang menggunakan gelar Sori Mangaradja (= Sri Maharaja).
Sebuah gelar yang dibawa dari pantai Burma. Pemerintahan raja-imam ini
berakhir pada masa dinasti Singamangaradja (terutama setelah Singamangaraja
XII).

Selama kurun waktu yang panjang, suku bangsa Batak terpecah menjadi
beberapa cabang marga. Perpecahan ini mengakibatkan suku bangsa Batak
tercerai-berai (tersebar) ke berbagai wilayah. Di wilayah-wilayah tertentu,
beberapa marga yang masih berdekatan secara kekerabatan atau yang tinggal
di daerah yang berdekatan satu sama lain biasanya mendirikan suatu
pemukiman yang disebut Bius.

Pemerintahannya karena itu disebut dengan tata pemerintahan Bius.
Bius berarti sekumpulan manusia tertentu atau penggabungan beberapa 
‘hordja’ (marga). Penggabungan ini berdasarkan perjanjian. Bius diperintah
oleh seorang raja-imam. Di dalam kerajaan Bius, ada pula yang dinamakan
‘huta’ (Sanskerta: Kuta, artinya benteng) atau kampung yang berciri
perbentengan (ada parit dan tembok)[24]. Huta ini juga diperintah oleh
seorang raja dan pemerintahannya memiliki otonomi sendiri. Hanya demi
persatuan Bius, jalannya pemerintahan biasanya langsung dari raja Bius
kepada raja Huta.

Hubungan antar-Bius bersifat horizontal sedangkan Bius dengan Huta
bersifat Vertikal. Pergantian raja dilakukan berdasarkan keturunan.
Dari seluruh struktur pemerintahan Batak ini, yang paling penting
adalah struktur patrilineal. Struktur ini tidak membatasi diri pada
lingkup hukum warisan saja, tetapi menyangkut pemerintahan dan pemilikian
tanah, perkawinan dan pemujaan arwah, penyelenggaraan peradilan, tempat
pemukiman dan penggarapan tanah.

Gereja Kristen bahkan terkena dampak dari penerapan struktur demikian.
Pola patrilineal ini dikepalai oleh seorang dari keturunan yang tertua
dan pada upacara-upacara keagamaan dalam Huta maupun Bius ia menempati
kedudukan berdasarkan alur kekerabatan (dari kampung-induk di Toba).

Pertemuan-pertemuan yang membahas suatu soal biasanya dipimpin oleh
Raja Bius sendiri atau raja Huta jika dilangsungkan di lingkungan Huta
dan keputusan yang diambil berdasarkan musyawarah.

Secara singkat dapat dilihat bahwa orang-orang Batak pada umumnya 
mengambil bentuk pemerintahan teokrasi namun dalam prakteknya 
(penerapannya) memberlakukan bentuk federal. Artinya tiap kerajaan
memiliki otonomi sendiri namun tetap berada dalam kekuasaaan dari
kerajaan yang lebih besar. Meskipun demikian, seringkali tata
pemerintahan orang-orang Batak tidak terlalu jelas. Ada campuran antara
organisasi formal dan adat-istiadat yang merupakan bagian dari
kehidupan masyarakat itu sendiri.

_______________________________

Munculnya Upacara Gajah Lompat
_______________________________

Sebagaimana telah dikatakan di atas, upacara Gajah Lompat merupakan
upacara yang dilaksanakan oleh marga Siregar-Salak. Asal-usul marga ini,
jika ditarik sampai kepada suku bangsa Batak pertama yang tinggal di
Sianjur Sagala Limbong Mulana, berasal dari keturunan Martua Radja Doli 
Sagala, Putra Bungsu dari Sri Baginda Sori Mangaradja LXVI. Sebagai
putra bungsu tentu amat sulit untuk menggantikan ayahnya menjadi raja.

Maka, ia bersama pasukannya pergi menyerang sebuah kampung di Pulau
Samosir sebelah timur. Nama kampung itu Lottung. Di kampung ini,
Martua Raja Doli Sagala, mendirikan pemukimannya yang baru dengan dia
sendiri sebagai rajanya. Dia mengubah nama keluarga Sagala menjadi
Lottung.

Dia memiliki tujuh orang anak yang akan menjadi ketujuh cabang marga,
antara lain: Situmorang, Sinaga, Nainggolan, Pandiangan, Simatupang,
Aritonang, dan Siregar.

Dari marga siregar inilah, Siregar-Salak berasal.

* Sebagai Fungsi Pemersatu

Sebelum sampai ke daerah Sipirok, marga Siregar sudah terpecah beberapa
kali yang diakibatkan oleh berbagai faktor. Sering faktor utama ini
berkaitan dengan persediaan sumber makanan di alam yang tidak seimbang
dengan pertambahan jumlah penduduk suatu marga.

Ini mengakibatkan sekumpulan marga (ikatan bius sekerabat) mesti berpencar
mencari sumber makanan yang cukup bagi keluarganya. Kedatangan marga
Siregar-Salak di Sipirok memang bukan berarti akan dengan mudah dapat
memperoleh sumber makanan yang baik.

Di daerah itu sudah ada beberapa marga yang berjumlah kecil. Karena 
berjumlah kecil, marga-marga ini tunduk kepada marga Siregar-Salak 
(yang dikatakan haus darah). Pendatang baru ini, marga Siregar-Salak,
mendirikan kampung yang bernama Rantai Omas di tepi sungai Aek Siguti.

Sebagai sebuah perkumpulan, marga ini diperintah oleh Raja Ompu Paltiradja 
Siregar. Tetapi di daerah ini pun, masalah yang sama yang mengakibatkan
perpecahan dan persebaran suku bangsa Batak terjadi lagi.

Untuk menghindari perang saudara, Ompu Paltidaja Siregar memberikan otonomi 
kepada Ompu Raja Sayurmatua untuk mendirikan kerajaan Parausorat, Ompu Raja 
Parlindungan untuk mendirikan kerajaan Baringintumburjati dan kepada Raja 
Pandebosi (Ompu Ni Hatunggal) untuk mendirikan kerajaan Sipirok Godang. 

Namun, pemberian otonomi demikian tidak menjamin tidak adanya perang
saudara. Maka, Ompu Paltiradja menciptakan simbol kesatuan yang bisa
diterima oleh semua orang di daerah Sipirok yang mengambil bentuk sebuah
upacara yang dinamakan Upacara Gajah Lompat di Dolok Pamelean.

Di tengah-tengah Luat Sipirok, daerah kekuasaan dari ketiga raja ini, terdapat
bukit kecil yang dijadikan Pusat Religiositas bagi penduduk Luat Sipirok.
Ompu Paltiradja menamakan bukit itu dengan nama Dolok Pamelean.

Di atas bukit itu ditanam sebuah pohon beringin yang diberi nama Bona
Ni Asar, artinya pohon yang darinya berasal hukum dan tata tertib.

Ompu Paltiradja kemudian menyatakan bahwa Dolok Pamelean bersama dengan
pohon Bona Ni Asar sebagai Gunung Pusuk Buhit untuk marga Siregar-Salak
karena itu menjadi tangga ke Banua Ginjang. Bersama dengan pernyataan
tersebut, Ompu Paltiradja menyatakan pula dirinya sebagai Datu Nahurnuk
sebagaimana Datu Nabolon di Sianjur Sagala Limbong Mulana.

Dengan ini dasar hukum dan tata tertib bagi persatuan dan kesatuan daerah
Sipirok ditetapkan di bukit tersebut. Selanjutnya, Ompu Paltiradja menetapkan
bahwa demi persatuan ini harus dibuatlah upacara dengan korban bukan hewan
tapi manusia. Mengapa manusia? Sebab penghormatan yang pantas kepada Debata
Mulajadi Nabolon adalah manusia.

Upacara diadakan sekali setahun, semacam Thanks Giving yang tentu saja
dilihat sebagai suatu bentuk (faktor) yang menyatukan.

Makna Manusia dalam Upacara Pengurbanan manusia dalam upacara ini jelas
bukan tanpa arti. Pemilihan manusia yang hendak dikorbankan pun mesti 
memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Pemilihan manusia dilakukan oleh
para Ahli Dukun yang terdiri dari 3 orang. Masing-masing mewakili tiap
kerajaan di Luat Sipirok.

Dikatakan, ‘Tidak pernah kurang calon-calon yang sukarela mau dikorbankan.
Sesuatu kehormatan yang terbesar untuk si korban sendiri, dan untuk
keluarga yang ditinggalkan’. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa
para calon yang banyak tersebut sangat bergairah dan bersemangat untuk
mengorbankan dirinya? Jawabannya terletak pada keyakinan bahwa arwah
(roh) dari si korban akan langsung masuk ke Banua Ginjang dan membawa
salam dari marga Siregar-Salak.

Si korban ‘tidak perlu lagi kembali ke Banua Tonga, tidak perlu lagi kembali
ke tanah garing (tandus, penulis) di Luat Sipirok banting tulang pacul-pacul
sawah tanpa air untuk irigasi’. Ada apa di surga? Gambaran surga (Banua Ginjang)
di sini sangat mentakjubkan.

Dikatakan bahwa surga ini merupakan tempat di mana si korban hidup dalam keadaan
bahagia, hanya mengendarai kuda saja mengikuti Debata Mulajadi Nabolon sendiri.

Bahkan di tempat ini, si korban dapat minum tuak secara gratis dan sepuas-puasnya
tanpa larangan apa pun juga. Dan ada banyak juga para wanita yang berparas
secantik dewi yang bebas untuk diambil. Cuma ‘sangat sulit mendapat tiket masuk.
Tidak ada tukang-tukang Tjatut Kartjis Banua Ginjang di Luat Sipirok. Tjuma ada
di Eropah sebelum Martin Luther (1517).

Persyaratan calon korban haruslah seorang Doli-Doli Naposo Bulung (anak laki-
laki berumur belasan tahun dan memiliki paras yang baik). Pemuda itu dihiasi
dengan daun-daun Waringin, daun-daun Sibiobio dan banyak lagi. Selama 7 hari 7
malam, pemuda calon korban itu dipuja dan dirajakan.

Ia disembah oleh 3 orang raja dari Luat Sipirok, ‘yang sementara recess tjakar-
tjakaran dan pukul-pukulan sesuai maksud dari Ompu Paltiradja’. Setelah tiba
harinya, pemuda itu yang dalam keadaan terhipnotis oleh mantra tiga orang Dukun
dan sedang memeluk batu Linggam yang berdiri tegak lurus di bawah pohon Waringin
Bona Ni Asar ditusuk dari belakang dengan Hudjur Panaluan (tombak pusaka) sampai
menembus jantungnya. Darahnya membasahi tanah di bawah pohon Bona Ni Asar.

Maksudnya, Debata Mulajadi Nabolon menjadikan tanah Luat Sipirok subur sehingga 
panen dapat berlimpah-limpah di tanah tandus Luat Sipirok. Selesai upacara ini,
diadakanlah pesta. Tujuannya adalah supaya rakyat jelata tidak menyadari bahwa
Luat Sipirok sebenarnya sedang menghadapi bahaya.

Jenazah korban lantas dinaikkan ke atas gajah yang sudah dicat putih, merah dan
hitam. Gajah itu pun diarak keliling Luat Sipirok oleh warganya dari Dolok
Pamelean sampai kembali ke Dolok Pamelean lagi. Walaupun tidak sampai 20 kilometer
diperlukan 3 hari untuk prosesi perarakan ini. Mengapa? Karena yang dipilih adalah
malam terang bulan supaya prosesi gajah sekaligus juga menjadi pasar malam yang
berpindah-pindah. Pasar malam ini berfungsi sebagai pasar jodoh pula bagi warganya.

Dalam prosesi, gajah tidak boleh menempuh jalan lurus. Mengapa? Supaya jenazah tidak
diikuti begu (roh jahat). Begu ini mesti diperdaya dengan tipu muslihat. Selama
arak-arakan gajah tersebut, ada juga warga yang ikut jadi korban tanpa ditusuk
dengan tombak pusaka tapi mati konyol terinjak oleh gajah itu.

Mengapa? Gajah yang terus-menerus dipaksa untuk berjalan bengkok-bengkok tentu
sering mengamuk. Karena mengamuk, gajah tersebut meloncat-loncat hingga menginjak
warga yang menonton jalannya prosesi ini. Mengapa bisa terinjak? Karena warga yang
melihat prosesi ini sangat banyak, bahkan sampai ribuan.

Itulah sebabnya, pengorbanan yang dimaksudkan oleh Ompu Paltiradja disebut warga
dengan nama Gajah Lompat. Warga yang mati terinjak tentu saja tidak boleh dibawa
ke Dolok Pamelean.

Setelah kematian Ompu Paltiradja, Ompu Radja Sayurmatua mengusulkan supaya gajah 
yang hidup itu diganti dengan gajah yang dibuat dari kayu. Pada tahun 1816, bersamaan
dengan masuknya Tentara Paderi (Usaha peng-Islaman ke dalam Mashab Hambali yang
datang dari Minagkabau), upacara gajah lompat dihapus.

Maka dengan berakhirnya Dolok Pamelean sebagai tangga ke Banua Ginjang, berakhir 
pula pengorbanan manusia di Luat Sipirok.

Sebagai Penyalur Hasrat Kekerasan (Kekuasaan) Sebagaimana telah diuraikan dengan
cukup mendetail mengenai pelaksanaan upacara Gajah Lompat, tujuan pertama diciptakannya
upacara ini berangkat dari adanya benih-benih perpecahan yang mengancam keutuhan
ketiga kerajaan di Luat Sipirok.

Keutuhan tersebut jelas perlu dipertahankan demi perdamaian dan keberlangsungan
masyarakat itu sendiri. Sekarang tinggal bagaimana caranya. Akhirnya ini ditemukan
dalam ritus atau lebih tepatnya sebuah praktik korban yang dikembangkan dari kurban
hewan kepada kurban manusia.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa ada peralihan demikian? Dari penjelasan
Girard dapat dimengerti bahwa kurban hewan dirasa tidak mampu lagi memberikan
kemiripan atas benih kekerasan yang terjadi.

Penyaluran kekerasan mesti mendapatkan kemiripannya dengan benih kekerasan yang
terjadi. Dengan kata lain, si kurban mesti identik dengan kekerasan yang ingin
disalurkan dan ini hanya dapat ditemukan dalam kurban manusia.

Manusia menjadi simbol perdamaian tetapi sekaligus juga memuat di dalamnya potensi
konflik yang menyebabkan kekerasan. Oleh karena itu, kekerasan kolektif sebagaimana
yang melanda ketiga kerajaan di Luat Sipirok mendapatkan penyalurannya.

Akibatnya memang adalah terciptanya keadaan damai itu kembali. Hal ini tampak jelas
sebagaimana yang diungkapkan dalam buku Tuanku Rao,“Selama 7 hari 7 malam, Pemuda
Tjalon Korban itu dipudja dan diradjakan. Disembah oleh 3 orang Feodal Lords of
the Siregar/Salak Clan yang sementara recess tjakar-tjakaran dan pukul-pukulan.
Sesuai dengan maksud dari very clever Ompu Paltiradja”.

Mengapa? “Supaya Rakyat Jelata tidakpun insyaf bahwa Negara sudah lama failliet,
bahwa situasi dalam negeri sudah bobrok”. Praktik korban ini diatur dan dikontrol
dengan ketentuan dan aturan ritus yang ketat dan keras. Dengan demikian, agresi
internal dikosongkan ke luar dan masyarakat dipulihkan dari kehancuran diri.

Akan tetapi, perdamaian yang tercipta melalui mekanisme demikian tidak kuat, alias
rapuh. Maka perlu ada perulangan terus. Dari sini, bisa dipahami jika pelaksanaan
Upacara Gajah Lompat dilaksanakan sekali setahun.

* Relevansi Bagi Kebudayaan Indonesia (Usul atau Kritik?)

Jika kita menerapkan pandangan modern terhadap pelaksanaan Upacara Gajah Lompat
tentu saja ini akan membawa kesulitan tersendiri. Pemahaman akan lebih baik jika
mengerti alur sejarah dan mengetahui latar belakang keyakinan marga Siregar-Salak
di Luat Sipirok. Harus diakui bahwa sebagian besar kebudayaan Indonesia dibangun
atas dasar keyakinan religius.

Namun, seringkali pula keyakinan religius atau agama malah menampakkan kekerasannya
yang paling brutal. Apakah wajah kebudayaan Indonesia yang mengakui diri masyarakat
agamis ini memang demikian? Tentu tidak. Kita tentu saja tidak ingin mengatakan
bahwa kekerasan merupakan inti agama sebagaimana penemuan Girard yang mencengangkan
banyak orang yakni bahwa agama diperlukan oleh masyarakat karena agama merupakan
lembaga penanganan kekerasan masyarakat.

Kita juga tentu saja tidak ingin mengorbankan pihak-pihak lain demi stabilitas
negara Kerangka kebudayaan nasional dengan demikian haruslah disusun tidak
berdasarkan orang-orang tertentu seperti ilmuwan sosial, politikus, dan lain-lain.
Pertanyaan kita adalah siapa yang menjadi subjek kebudayaan dalam arti sebenarnya?
Dengan kata lain siapa yang mesti menetapkan program tujuan bagi pengembangan
kebudayaan nasional? Bahwa fakta adanya pluralitas agama di Indonesia tidak bisa
disangkal.

Kekerasan sebagai kekerasan tidak bisa dibenarkan (baca: disucikan) atas
nama agama. Sebagai masyarakat yang berbudaya dan sekaligus memiliki keyakinan
akan Yang Suci dan sebagai bangsa Indonesia, kita mesti melihat kembali nilai-
nilai yang memungkinkan hidup bersama dari aneka nilai-nilai kebudayaan.
Pluralitas atau yang sering dilihat dan dipahami sebagai mayoritas tidak
menuntut uniformitas, tapi justru mengandaikan adanya kesamaan di antara
aneka budaya untuk dan demi kesatuan.

Dengan demikian, pertama-tama yang perlu direnungkan adalah vitalitas agama dalam
hidup bermasyarakat. Lebih khusus lagi, apa peran orang beriman, yang percaya
kepada Yang Suci? Hingga pada akhirnya, kita mesti bertanya pada diri sendiri yakni
apakah realitas manusia merupakan realitas kekerasan? Semua tanggapan terhadap
persoalan ini berimplikasi pada bentuk negara yang mana yang sesuai dengan realitas
Bangsa Indonesia, Demokrasi, Totaliter, Absolut, atau Federal.
________________________________________________________

Tanggapan penulis pada topik-topik utama uraian kutipan
________________________________________________________

Sebelum ditanggap mangidup majoba...!

Seru juga rupanya urusan, "Gaja Lompat" ataupun "Gaja Mangambur" atau
"Gaja namandege-dege" dari Luat Sipirok ini.

Siapapun anda yang menulis kisah ini, rasanya pantas untuk diucapkan
"Trimakasih...!" Sungguh informasi yang informatif, tabo dibaca dohot
porlu boto-on"

Sakalilagi mangopi hita...!


* Upacara Gajah Lompat

1. Memang tak ada ungkapan lisan dari parmarga Siregar di Sipirok, bahwa
Siregar yang di Bunga Bondar lebih hebat dari yang di Baringin/sekitarnya
dan Bagas nagonang sekitarnya.

2. Tapi, prilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari, pandangan mereka
dalam kehidupan sehari-hari sering menggambarkan hingga menimbulkan
tafsir, "Siregar yang satu lebih hebat dari siregar lainnya (Tapi bukan
berarti bermusuhan-pen)"

3. Penulis tidak tahu mengapa demikian, namun setelah membaca kutipan
diatas penulis punya gambaran, "Mungkin keadaan itu adalah gambaran
bahwa upacara gajah lumpat ini benar adanya" dan sisa-sisa kejadian
masa lampau itu tetap tergambar pada para generasinya secara turun
temurun.

Sungguh susah untuk mengatakan, "Bahwa Siregar Baringin dan sekitarnya
adalah kompak dengan Siregar Bunga Bondar atau Bagasnagodang".

Hadang hadang hadangan tuharangan
ingan ni bohal mangalap soban
siregar tu siregarpe bisado marsiogaran
tai anggo mate nanggo marsipadiaran

4. Upacara gajah lumpat sebagai salah satu bentuk rasa syukur atas
pertanian di Sipirok, sekaligus meminta gar tanah Sipirok lebih
subur biasa jadi hal yang dipercayaai para oppung-oppungta najoloi.

Begitupun, dari hasil pengamatan tanah Sipirok itu memang tambah
tahun tambah kurang subur dan ini sangat terasa pada jauhnya
perbedaa padi yang ditanam pake pupuk dengan tidak pake pupuk.

Kiranya tidak pula kita mengartikan ini sebagai "Suatu pertanda
bahwa parmarga Siregar Sipirok perlu kembali mengadakan upacara
gajah lumpat agar tanah Sipirok menjadi lebih subur".

Atau memang perlu...?

Jika perlu, naposo bulung darimana yang harus kita korbankan.
Maukah kalian naposo bulung Bagasnagodang dikorbankan agar
tanah Sipirok jadi subur. Atau kalian naposo bulung dari Bunga
bondar atau Parau. Mau jadi korbannya, biar kita bikin
upacaranya.

Kakakakakak...kkk...









4. Saran tuk parmarga Siregar Salak Sipirok :

Semoga kedepan Siregar dimanapun di Sipirok menjadi Siregar-Siregar
Salak yang kompak, "Jangan lihat upacara gajah lumpat sebagai upacara
betapa kerasnya Siregar sama Siregar di Sipirok, tapi lihatlah upacara
gajah lumpat masa lalu sebagai Simbol bahwa parmarga Siregar Salak
di Sipirok telah dipersatukan oleh Oppu Palti Radja Siregar. Dan
pentingnya persatuan telah mengorbankan anak-anak muda atau naposo-
naposo siregar pada masa yang telah berlalu.

* Hal Mulajadi Nabolon dan Banua Ginjang

1. Penulis pikir itu adalah kepercayaan para oppung-oppungta masa
lalu, sesuai dengan ajaran agama/animime pada masa itu. Setelah
masuk agama Kristen dan Islam ke Sipirok tentunya animisme ini pula
kita tinggalkan.

2. Bagi kita khususnya ummat Islam, pengetahuan tentang Mulajadi
Nabolon, Naga Poha, Manuk-manuk Hulambujati, banua tonga atau
banua ginjang, "Cukuplah kita buat sebagai pengetahuan budaya batak
masa lalu, yang memang perlu diketahui dan bukan untuk di ikuti".

* Relevansi Bagi Kebudayaan Indonesia (Usul atau Kritik?)

1. Penulis melihat lebih ke "Kritik...". Sungguh tak mungkin kita
memberi usul pada masyarakat Indonesia, "Agar mereka melakukan
kekerasan" Dan untuk mengatasi kekerasan ini maka masyarakat
Indonesia harus melakukan kekerasan juga".

Sesungguhnya, Pancasila dan UUD 45 itu telah melarang kekerasan ini,
hanya sanya masih banyak mungkin masyarakat yang tidak memahaminya.

2. Penulis pikir, agama hadir atau ada bukanlah untuk menciptakan
kekerasan. Tapi justru untuk menghindari kekerasan itu sendiri'.
Dalam praktek penegakannya memang ajaran agama banyak yang keras
tapi hasilnya penulis pikir, "Hampir cukup maksimal"

3. Dalam hubungannya dengan upacara "Gajah Luppat" di Sipirok, jika
saja tidak masuk agama Kristen atau Islam atau agama lainnya bukan
tidak mungkin, Sipirok yang sekarang ini hanyalah kota mati/huta
namate harana pandudukna inda dongbe atau adong mungkin hanya 7
halak, ima halak nagogogogo nai dengan kemungkinan memiliki 720
istri sada halak (Halak lahi lainna mahabis jadi korban gaja
lummpat-pen)

4. Peran orang beriman sesungguhnya sangat jelas, untuk mebuat
orang yang tak beriman jadi beriman atau untuk tetap dan terus
menerus mengajak ummat agar jadi beriman. Ciptakan kecucian dengan
menghindari kekerasan dalam hidup. Realitas manusia bukanlah kekerasan 
tapi kedamian hidup, kenyaman hidup, keindahan hidup yang secara
umum disingkat menjadi berbahagia di dunia.

5. Negara yang sesuai dengan realitas Indonesia sesungguhnya tetap
Demograsi, "Dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat". Kekerasan
yang terjadi, "Mungkin bukanlah pertanda bahwa negara ini sudah
tidak demograsi, tapi negara ini justru sudah demograsi karena
kekerasan itu ada".

Bagaimana...!

Setuju...?

Selamat malam para kawan...!























_____________________________________________________________
Cat : Kutipan cerita "Gaja Luppat" diatas telah penulis copy
kurang lebih setahun yang lalu dan sekarang lupa sumbernya.


PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar