Rabu, 27 Juli 2016

Museum Asmat TMII dan Observasi Seni Rupa


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Museum Suku Asmat - TMII)
________________________________________________________








_________________

Kata Pengantar
_________________

"Atap berbentuk kerucut tiga setinggi 25 meter berbahan GRC
dan pada permukaannya diberi kesan daun rumbia. Di berbagai
bagian bangunan diberi ragam hias dengan warna khas Asmat,
yakni merah, putih, dan hitam"

Adalah gambaran dari Gedung Museum Asmat ini para kawan
sekalian di Taman Mini Indonesia Indah.

Berikut info kelengkapannya dalam dukungan animasi
Museum Asmat (TMII) - YouTube...dan...
Observasi Seni Rupa di Museum Asmat TMII Kelompok 3 Kelas
XII IPA 4 SMA 48 Jakarta #WeLoveAsmat


Selamat menyimak...!
_____________________________________________

Sekilas info tentang Museum Suku Asmat
_____________________________________________


















Perhatian besar orang-orang asing terhadap kekhasan seni
ukir Asmat yang mengagumkan ditanggapi Ibu Tien Soeharto
dengan meprakarsai mendirikan Museum Asmat.

Berada di atas lahan Taman Bunga Keong Emas dengan luas
bangunan 6.500 m², museum ini dapat dicapai melalui dua
pintu masuk: berjalan kaki melalui Taman Bunga Keong Emas
atau melewati jembatan Taman Aquarium Air Tawar.








Gedung museum mencontoh model rumah kariwari, yakni rumah
pemujaan suku Tobati-Enggros, penduduk asli di tepi Danau
Sentani, Papua, namun dikembangkan menjadi bangunan
berarsitektur modern. Gedung terdiri atas tiga bangunan
utama dan dua bangunan penghubung yang masing-masing
berbentuk segi delapan, diberi kesan rumah panggung.

Atap berbentuk kerucut tiga setinggi 25 meter berbahan GRC
dan pada permukaannya diberi kesan daun rumbia. Di berbagai
bagian bangunan diberi ragam hias dengan warna khas Asmat,
yakni merah, putih, dan hitam.









Ketiga bangunan utama digunakan untuk ruang pameran tetap
koleksi museum, sedangkan dua bangunan penghubung sebagian
dimanfaatkan untuk ruang pameran tetap dan sebagian lagi
untuk ruang administrasi, serta ruang pimpinan museum.

Benda-benda pameran berupa benda-benda budaya yang
mengandung nilai keperkasaan dan mencerminkan pandangan
hidup orang Asmat yang selalu berkait dengan nenek moyang.










Ikatan batin dengan nenek moyang itu diwujudkan dalam ukiran
perlambang di berbagai benda keseharian. Untuk memudahkan
pengunjung memahami kehidupan suku Asmat secara keseluruhan,
tata pameran disusun berdasar tema.







Tema pameran bangunan pertama berupa Manusia dan Lingkungannya,
memamerkan bermacam pakaian adat dan perhiasan, diorama mata
pencaharian hidup (menokok sagu), perahu arwah kendaraan roh
nenek moyang (wuramon), patung nenek moyang (mbis pole), dan
berbagai hiasan perlambang yang menceritakan gejala kehidupan.

Pameran pada bangunan kedua bertema Manusia dan Kebudayaannya,
memamerkan peralatan untuk membuat sagu, peralatan berburu,
senjata, benda budaya dan upacara, perkusi (tifa), alat musik
tiup dari bambu (fu), dan kapak batu (si).

Tema pameran pada bangunan ketiga adalah Manusia dan Hasil
Kreatifitasnya, memamerkan seni kontemporer yang merupakan
hasil pengembangan pola-pola rancangan seni tradisional.









Benda-benda yang dipamerkan berupa hasil seni modern orang
Asmat yang mengacu pada permintaan pasar tetapi masih berpijak
pada pola rancangan tradisional.

Di samping pameran tetap, Museum Asmat juga menyelenggarakan
kegiatan secara berkala dengan tema khusus, misalnya Gelar
Lomba Kreasi Tari Gerak Asmat dan Lomba Mewarnai Gambar Ragam
Hias Asmat.

_____________

Penutup
_____________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

...dan ...

Selamat malam...!









_________________________________________________________________
Cat :
Museum Asmat (TMII) - YouTube
Observasi Seni Rupa di Museum Asmat TMII Kelompok 3 Kelas XII IPA 4 SMA 48 Jakarta #WeLoveAsmat
https://www.youtube.com/watch?v=SZmF8qnXHGY


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar