Rabu, 08 Juli 2015

Kerusuhan Rasial terhadap Warga Tionghoa di Indonesia dari masa ke masa (Bab 3)

#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar gambaran Kerusuhan Rasial terhadap Warga
Tionghoa di Indonesia dari masa ke masa)
___________________________________________________________________

_________________

Kata Pengantar
_________________

Postingan ini adalah pendalaman dari Tulisan yang berjudul "Cina
dalam 7 bab Kehidupan Suka dan Duka di Indonesia". Adapun 2 linknya
sebagai berikut :

Bab 1 :
Tionghoa/Cina dalam 7 bab : Pengertian Tionghoa dan Pemahaman Umum, Link :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2015/07/tionghoacina-dalam-8-bab-pengertian.html

Bab 2 :
Sejarah Warha Tionghoa (Cina) dari Masa ke Masa di Indonesia, Link :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2015/07/sejarah-warga-tionghoa-cina-dari-masa.html

Selamat menyimak bab 3 ini...!
_____________________________________________________________

Bab 3 : Gambaran Kerusuhan Rasial terhadap Warga
Tionghoa di Indonesia dari masa ke masa
_____________________________________________________________


















Ket :
Ilustrasi Pembantaian
http://historychina-xe.blogspot.com/2012/03/sejarah-china-tionghoa-di-indonesia.html

Dapat dikata kerusuhan warrasial terhadap warga Cina di Indonsia
ini telah dimulai dari Tahun 1946 atau setahun setelah Indonesia
merdeka. Tapi...! Catatan-catat sejarah mengenai hal ini tidak
terlalu tersedia.

Karena itu...!

Gambaran kerusahan ini akan dimulai dari sejak tahun 1963

1. Bandung, 10 Mei 1963.
 Kerusuhan anti suku peranakan Tionghoa terbesar di Jawa Barat.
Awalnya, terjadi keributan di kampus Institut Teknologi Bandung
antara mahasiswa pribumi dan non-pribumi. Keributan berubah menjadi
kerusuhan yang menjalar ke mana-mana, bahkan ke kota-kota lain
seperti Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan Medan.

2. Desember, tahun 1966.
Sekolah- sekolah Tionghoa di Indonesia ditutup pada bulan Desember.

3. Jakarta, tahun 1967.
Koran- koran berbahasa Tionghoa ditutup oleh pemerintah.

4. April,
Gereja- gereja diserang di Aceh, berbarengan dengan demonstrasi
anti-Tionghoa di Jakarta.

5. Pekalongan, 31 Desember 1972.
Terjadi keributan antara orang-orang Arab dan peranakan Tionghoa.
Awalnya, perkelahian yang berujung terbunuhnya seorang pemuda
Tionghoa. Keributan terjadi saat acara pemakaman.

6. Palu, 27 Juni 1973. 
Sekelompok pemuda menghancurkan toko Tionghoa.
Kerusuhan muncul karena pemilik toko itu memakai kertas yang
bertuliskan huruf Arab sebagai pembungkus dagangan.

7. Bandung, 5 Agustus 1973.
Dimulai dari serempetan sebuah gerobak dengan mobil yang berbuntut
perkelahian. Kebetulan penumpang mobil orang-orang Tionghoa.
Akhirnya, kerusuhan meledak di mana-mana.

8. Jakarta, tahun 1978.
Pelarangan penggunaan karakter- karakter huruf Tionghoa di setiap
barang/ media cetak di Indonesia.

9. Ujungpandang, April 1980.
Suharti, seorang pembantu rumah-tangga meninggal mendadak. Kemudian
beredar desas-desus: Ia mati karena dianiaya majikannya seorang
Tionghoa. Kerusuhan rasial meledak. Ratusan rumah dan toko milik
suku peranakan Tionghoa dirusak.

10. Medan, 12 April 1980.
Sekelompok mahasiswa USU bersepeda motor keliling kota, sambil
memekikkan teriakan anti suku peranakan Tionghoa. Kerusuhan itu
bermula dari perkelahian.

11. Solo, 20 November 1980.
Kerusuhan melanda kota Solo dan merembet ke kota-kota lain di
Jawa Tengah. Bermula dari perkelahian pelajar Sekolah Guru Olahraga,
antara Pipit Supriyadi dan Kicak, seorang pemuda suku peranakan TiongHoa.
Perkelahian itu berubah menjadi perusakan dan pembakaran toko-toko milik
orang-orang TiongHoa.

12. Surabaya, September 1986.
Pembantu rumah tangga dianiaya oleh majikannya suku peranakan TiongHoa.
Kejadian itu memancing kemarahan masyarakat Surabaya. Mereka melempari
mobil dan toko-toko milik orang-orang TiongHoa.

14. Pekalongan, 24 November 1995.
Yoe Sing Yung, pedagang kelontong, menyobek kitab suci Alquran. Akibat
ulah penderita gangguan jiwa itu, masyarakat marah dan menghancurkan
toko-toko milik orang-orang Tiong Hoa.

14. Bandung, 14 Januari 1996.
Massa mengamuk seusai pertunjukan musik Iwan Fals. Mereka melempari
toko-toko milik orang-orang Tiong Hoa. Pemicunya, mereka kecewa tak
bisa masuk pertunjukan karena tak punya karcis.

15. Rengasdengklok, 30 Januari 1997.
Mula-mula ada seorang suku peranakan Tiong Hoa yang merasa terganggu
suara beduk Subuh. Percekcokan terjadi. Masyarakat mengamuk, menghancurkan
rumah dan toko TiongHoa.

16. Ujungpandang, 15 September 1997.
Benny Karre, seorang keturunan Tiong Hoa dan pengidap penyakit jiwa,
membacok seorang anak pribumi, kerusuhan meledak, toko-toko TiongHoa
dibakar dan dihancurkan.

17. Februari 1998.
Kraksaan, Donggala, Sumbawa, Flores, Jatiwangi, Losari, Gebang, Pamanukan,
Lombok, Rantauprapat, Aeknabara: Januari – Anti Tionghua.

18. Kerusuhan Mei 1998.
















Ket :
Kerusuhan Mei 1998
http://historychina-xe.blogspot.com/2012/03/sejarah-china-tionghoa-di-indonesia.html 

Salah satu contoh kerusuhan rasial yang paling dikenang masyarakat
Tionghoa Indonesia yaitu Kerusuhan Mei 1998. Pada kerusuhan ini banyak
toko-toko dan perusahaan-perusahaan dihancurkan oleh amuk massa —
terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan
terbesar terjadi di Jakarta, Bandung, dan Solo.

Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami
pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa
beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh.

Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa
yang terbunuh, terluka, mengalami pelecehan seksual, penderitaan fisik
dan batin serta banyak warga keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia.

Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil
tindakan apapun terhadap nama-nama besar yang dianggap provokator kerusuhan
Mei 1998. Bahkan pemerintah mengeluarkan pernyataan berkontradiksi
dengan fakta yang sebenarnya yang terjadi dengan mengatakan sama sekali
tidak ada pemerkosaan massal terhadap wanita keturunan Tionghoa disebabkan
tidak ada bukti-bukti konkret tentang pemerkosaan tersebut.

Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan
kontroversi sampai hari ini. Namun umumnya orang setuju bahwa peristiwa
ini merupakan sebuah lembaran hitam sejarah Indonesia, sementara beberapa
pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan
pembasmian orang-orang tersebut.

19. Tanggal 5-8 Mei 1998.
Medan, Belawan, Pulobrayan, Lubuk-Pakam, Perbaungan, Tebing-Tinggi,
Pematang-Siantar, Tanjungmorawa, Pantailabu, Galang, Pagarmerbau,
Beringin, Batangkuis, Percut Sei Tuan: Ketidakpuasan politik yang
berkembang jadi anti Tionghoa.

20. Jakarta, 13-14 Mei 1998.
Kemarahan massa akibat penembakan mahasiswa Universitas Trisakti yang
dikembangkan oleh kelompok politik tertentu jadi kerusuhan anti-Tionghoa.
Peristiwa ini merupakan persitiwa anti-Tionghoa paling besar sepanjang
sejarah Republik Indonesia. Sejumlah perempuan keturunan Tionghoa diperkosa.

21. Solo, 14 Mei 1998.
Ketidakpuasan politik yang kemudian digerakkan oleh kelompok politik
tertentu menjadi kerusuhan anti Tionghua.
____________________________

Penutup dan Renungan
____________________________

Demikian yang dapat penulis sampaikan lewat postingan ini para pembaca
angkolafacebook.blogspot sekalian. Semoga dapat menjadi bahan renungan
kita bersama untuk dapat lebih bersikap bijak dalam berurusan dengan
warga Tionghoa ini di tempat manapun kita berada.

Adapun stimuli atau pemancing renungannya sebagai berikut :

1. Jelas Agma Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku
dan berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal dan bukan saling
memusuhi. Iyakan...? Ada firmannya.

2. Kita tahu, kelahirannya dan kematiannya bukanlah ditentukan oleh
manusia itu sendiri, tapi sang penciptalah yang menentukannya. Karena
itu, jika saja bisa di minta, "Mungkin setiap kita ini akan meminta
kelahirannya ditempat mana dan dengan siapa ayah ibu dia maunya.

3. Bayangkan sendiri jika anda adalah warga Tionghoa itu. Warga yang
teraniaya itu, yang tak tahu menahu apa persoalan itu, tapi anda kena
dampak Negatifnya.

4. Pada intinya kita semua ummat ini berbuat dan bertindak demi
kelangsungan hidup itu sendiri. Dan jika kita melihat warga Cina
lebih mudah hidupnya dibandingkan diri kita sendiri itu bukanlah
suatu keajaiban dan bukanlah suatu tanda bahwa Tuhan tidak adil.
Fakta berkata, "Nyaris semua warga Cina di Nusantara ini adalah
pekerja Keras, pemakai prinsif-prinsif ekonomi juga bersedia
berkorban sebelum tujuannya tercapai.

"Sungguh banyak hal yang dapat dipelajari dari warga Tionghoa ini
jika anda atau kita smua mau mempelajarinya". Jangan kita musuhi
mereka hanya karena mereka lebih hebat dari kita" itu intinya.

Selamat malam...!
____________________________________________________________________
Cat :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar